SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Saturday, May 17, 2008

Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare, Meningitis, dan Keracunan Pangan di Papua


Permasalahan kesehatan akibat Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare, KLB Meningitis dan KLB Keracunan pangan di Provinsi Papua dan upaya penanggulangannya, berdasarkan informasi dari Dinkes Provinsi Papua sampai dengan tanggal 13 Mei 2008 pukul 15.00 WIB sebagai berikut :

Kronologis

Pada tanggal 1 April s.d 5 Mei 2008 terjadi KLB Diare, KLB Meningitis dan KLB keracunan pangan di 4 Kabupaten dalam provinsi Papua, yaitu Kab. Nabire, Kab. Jayapura, Kab. Paniai dan Kab. Keerom. KLB Meningitis terjadi pada tanggal 1 April s.d 5 Mei 2008 di Desa Bilogai ilaga Kab. Paniai. KLB Diare terjadi pada tanggal 21 s/d 28 April 2008 di Desa Monameni Kab Nabire, sedangkan tanggal 3 Mei di Distrik Arso Kota Kab. Keerom. KLB keracunan pangan terjadi pada tanggal 30 April s/d 1 Mei 2008 di Distrik Namblong Kab. Jayapura yang diduga akibat memakan daging babi.


Kejadian tersebut menyebabkan korban meninggal dunia sebanyak 38 orang dan jumlah total korban sebanyak 337 orang. Rinciannya sebagai mana terlihat pada tabel berikut :

Sumber data: http://www.depkes.go.id


Upaya yang telah dilakukan

  1. Evakuasi korban
  2. Melakukan pelayanan kesehatan di Puskesmas, Pustu, dan Rumah Sakit.
  3. Melakukan investigasi ke lokasi kejadian
  4. Memerikasakan sampel makanan pada kasus KLB keracunan Pangan di Kab. Jayapura ke Labkesda. Hingga saat ini masih menunggu hasilnya.

Pengendalian Flu Burung Tersendat

Petugas Kesehatan Kurang Peka Gejala Flu Burung
Sabtu, 17 Mei 2008 | 00:44 WIB

Implementasi program pemberantasan flu burung di Tanah Air masih belum berjalan dengan baik. Jika tidak segera dibenahi, kasus penularan flu burung pada unggas maupun manusia akan terus bermunculan secara sporadis di berbagai daerah.

”Pengendalian flu burung di Indonesia kurang berjalan,” kata Ketua Panel Ahli Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Amin Soebandrio, Jumat (16/5), di Jakarta.

Koordinasi saat ini antara Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan dinilai membaik dibandingkan dengan sebelumnya. ”Sistem pemberantasan flu burung, termasuk program- programnya, juga dirancang dengan baik,” ujarnya.

Sumber penularan

Saat ini justru prinsip utama penanggulangan flu burung, yaitu pengendalian sumber penularan, belum dikerjakan. Merebaknya kasus flu burung di Jakarta menunjukkan restrukturisasi perunggasan belum berjalan. Masih banyak peternakan unggas di perkampungan. Gubernur DKI Jakarta telah menginstruksikan pelarangan memelihara unggas di kawasan permukiman.

Menurut Anggota Fraksi PKS DPRD, Selamat Nurdin, percepatan relokasi unggas dari rencana 2010 menjadi 2009 mutlak perlu karena korban flu burung terus berjatuhan. Di Jakarta 33 orang terpapar flu burung, 28 di antaranya meninggal dunia.

Di Tangerang, salah satu titik rawan flu burung, struktur perunggasan sektor tiga dan empat (peternakan rakyat) belum dibenahi. ”Kerjakan dulu restrukturisasi perunggasan agar kasus flu burung tidak terus muncul sporadis,” kata Amin.

Selama ini pemerintah sebatas melakukan sosialisasi bahaya flu burung dan pelarangan memelihara unggas di kawasan permukiman namun tak diikuti pemantauan implementasi program dan penegakan hukum. Kesadaran masyarakat soa pencegahan flu burung masih minim.

Kepala Subdinas Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta Adnan Ahmad menyatakan, restrukturisasi perunggasan sudah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir. Di Jakarta, tinggal ratusan unggas yang ada di daerah permukiman.

”Sosialisasi terus dilakukan secara langsung maupun lewat media massa. Mestinya setiap warga di Jakarta sudah tahu akan bahaya flu burung, tetapi belum semua orang mau mengikuti apa yang dikampanyekan,” kata Adnan. Petugas menangkapi unggas di permukiman, tetapi sebagian pemilik langsung menggantinya.

Amin menyayangkan lambannya penanganan medis pasien sebagaimana terjadi pada kasus AI di Gandaria, Jakarta Selatan. Karena petugas kesehatan terlambat mendiagnosis flu burung dan tidak segera melapor ke dinas peternakan setempat, sumber penularannya sulit diketahui.

Hingga saat ini banyak petugas kesehatan belum peka pada gejala penyakit flu burung karena kasus penularan pada manusia sedikit. ”Jika ditemukan kasus flu burung pada manusia, harus segera diinformasikan ke masyarakat dan instansi terkait agar bisa segera ditangani,” ujarnya. (EVY)

Sumber : Kompas

Friday, May 16, 2008

Sudah 43 Anak Tewas Akibat Virus EV71 di China

16/05/2008 15:49 WIB


Beijing - Korban jiwa akibat virus enterovirus 71 alias EV71 di China terus melonjak. Sejauh ini total korban tewas telah mencapai 43 anak.

Korban terakhir adalah seorang bayi berempuan berusia 22 bulan dari Provinsi Jiangxi. Bayi malang itu meninggal pada Kamis, 15 Mei waktu setempat di rumah sakit.

Demikian disampaikan pejabat-pejabat kesehatan kepada kantor berita resmi China, Xinhua, Jumat (16/5/2008).

Virus EV71 bisa menyebabkan penyakit mulut, kaki dan tangan. Sejauh ini penyakit itu telah menjangkiti lebih dari 24.934 anak di 7 provinsi China plus ibukota Beijing.

Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah setelah Kementerian Kesehatan China pekan lalu memerintahkan fasilitas-fasilitas kesehatan untuk melaporkan setiap kasus baru.

Virus EV71 menyebar melalui kontak dengan air liur atau kotoran pasien yang terinfeksi. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka yang masih lemah.

Serangan virus ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Juni dan Juli mendatang. ( ita / nrl )

Sumber : Detikcom

Flu Burung : Virus Mematikan Itu Masih "Bergelayut" di Kota Jakarta

Jumat, 16 Mei 2008 | 00:44 WIB

Satu per satu wartawan meninggalkan rumah duka itu. Suasana menjadi lebih lengang. Sejumlah anggota keluarga tampak lebih santai. Mahmud (56), yang sebelumnya sempat agak marah karena terus-menerus ditanyai wartawan sebuah stasiun televisi, kini tampak lebih tenang.

”Kita semua, kan, sedang sedih. Capek rasanya kalau diwawancarai terus. Apalagi Bapak, masih enggak percaya dua anaknya meninggal selang 10 hari saja,” tutur Anwar Sanusi (20), kakak dari Is (15) dan Ar (14).

Is dan Ar, anak kelima dan keenam pasangan Mahmud dan Siti Aisyah (50), meninggal setelah sakit mendadak. Keduanya diduga terinfeksi virus avian influenza. Ar meninggal di rumahnya di RT 012 RW 01 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Minggu (4/5) pagi. Sementara itu, kakaknya, Is—yang selalu menunggui Ar saat sakit—meninggal di RS Persahabatan, Rabu (14/5) pagi.

Positif AI

Sejauh ini, hanya Is yang dikonfirmasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta positif mengidap flu burung. Hal itu setelah contoh darah Is diperiksa melalui metode polymerase chain reaction (PCR) di laboratorium pusat Departemen Kesehatan di Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Sementara itu, Ar tidak sempat diperiksa karena almarhum enggan dirawat inap di rumah sakit. Oleh karena itu, sakitnya Ar tidak sempat terlaporkan dan tidak sempat menjalani pemeriksaan. Pihak keluarga pun menolak makam Ar dibongkar.

Meski demikian, Is dan Ar mengalami gejala serupa. Demam, paru-paru terasa panas, dan batuk. ”Sakitnya itu benar- benar mendadak, lalu meninggal,” kata Anwar.

Lokasi tempat tinggal keluarga Mahmud ini hanya sekitar 1 kilometer dari kawasan elite Pondok Indah. Sekitar 4 meter dari rumah keluarga Mahmud ini mengalir kali kecil Krukut. Di sepanjang kali itulah berderet rumah-rumah petak, yang rata- rata memiliki tiga bilik. Secara umum, perkampungan ini relatif bersih kendati padat dan pengap. Tidak tercium bau comberan, tak tampak pula sampah yang berceceran. Kualitas air tanah pun masih bagus.

Unggas negatif AI

Seperti umumnya warga perkampungan di Jakarta, sejumlah warga memelihara unggas, seperti ayam kampung, burung dara, itik, angsa, dan entok. Padahal, jenis-jenis unggas tersebut, juga burung puyuh, merupakan unggas yang dilarang dipelihara di DKI Jakarta, sejak virus AI merebak.

Namun, menurut Eko Henri Wicaksono, Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Suku Dinas Peternakan Jakarta Selatan, dari pemeriksaan terhadap 54 sampel darah unggas yang hidup di sekitar tempat tinggal keluarga Mahmud tak satu unggas pun yang positif AI.

”Tak satu unggas pun yang tampak sakit dan hasil lab pun negatif. Meski begitu, semuanya didepopulasi (dimusnahkan), lalu dikembalikan kepada pemiliknya untuk dikonsumsi,” kata Eko.

Eko mengatakan, kasus AI di Gandaria Utara itu sejauh ini tidak menampakkan korelasi antara korban dan unggas yang ada di sekitar tempat tinggalnya. ”Ini tanda tanya besar. Selama ini kaitan korelasi itu hanya sebatas menduga-duga, dan tidak bisa terkonfirmasi oleh hasil lab?” ujar Eko.

Meski masih dibayangi tanda tanya, program pemusnahan unggas terus berlangsung. Menurut Seksi Pengawasan dan Penertiban Suku Dinas Peternakan Jakarta Selatan Nurhasan Ma’ud, di Kebayoran Baru sejauh ini sebanyak 230 ayam kampung, 192 burung dara, dan 8 entok telah dimusnahkan. Unggas yang dimusnahkan itu semuanya dikonsumsi warga.

Warga yang memiliki unggas, selain yang terlarang, dapat memperoleh cairan desinfektan glutanol secara gratis di kantor suku dinas peternakan setempat. Cairan yang mengandung 32 persen glutaraldehyde itu dapat digunakan untuk membersihkan kandang. (Sarie Febriane)

Sumber : Kompas.com

Tuesday, May 13, 2008

FLU BURUNG : Penggunaan Disinfektan untuk Matikan Virus

Selasa, 13 Mei 2008 | 00:28 WIB

Jakarta, Kompas - Serangan virus flu burung H5N1 telah tersebar luas di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Untuk itu, pencegahan penyebaran virus itu perlu dilakukan dengan disinfektan yang bisa mematikan virus flu burung di lingkungan peternakan, rumah sakit, dan permukiman.

”Hingga saat ini belum ditemukan terapi pasti dan efektif mengatasi penyakit flu burung karena virus itu mudah bereplikasi. Jadi, upaya pencegahan lebih efektif dibanding mengobati,” kata ahli patologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), Agus Setiyono, Senin (12/5), di Jakarta.

Pengendalian dan pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan mencuci peralatan dan menyemprot tempat yang berisiko terkontaminasi virus H5N1 dengan desinfektan, zat kimia yang membunuh dan menghambat multiplikasi mikroorganisme, yaitu bakteri, protozoa, fungi, dan virus. ”Pemberian vaksin pada unggas saja tidak cukup, desinfektasi juga berperan penting dalam mencegah penyebaran flu burung,” kata Agus.

Desinfektan yang baik harus berspektrum luas terhadap mikroorganisme, efeknya cepat, tidak meninggalkan mikroorganisme resisten, tidak menyisakan residu, tidak mewarnai atau korosiva, tidak merusak kulit, dan toksisitas rendah.

Syarat lain adalah setelah dicuci tidak beresidu, dapat bekerja seperti sabun, mudah dipakai, dan ekonomis atau harganya terjangkau masyarakat. Salah satu golongan desinfektan yang dinyatakan mampu secara efektif mematikan virus flu burung adalah detergen kationik. ”Desinfektan bisa digunakan sebelum vaksinasi pada unggas,” ujarnya.

Desinfektan jenis detergen kationik mampu merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaan dan melarutkan membran phospholipida. Desinfektan ini juga memengaruhi permeabilitas membran sehingga isi sel lepas dan sel jadi rusak, serta secara aktif mematikan jamur, bakteri, dan virus, termasuk flu burung.

Hasil pengujian efektivitas detergen kationik terhadap virus flu burung di Unit Pelayanan Mikrobiologik Medik Terpadu Fakultas Kedokteran Hewan IPB menunjukkan, detergen kationik mampu menginaktivasi virus H5N1 pada konsentrasi seratus persen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan isolat virus flu burung dari Tasikmalaya tahun 2005. (EVY)

Sumber : Kompas Cetak

Monday, May 12, 2008

Ditemukan Disinfektan Flu Burung


Ramadhian Fadillah - detikcom

Jakarta - Zat amonium kuartener selama ini dikenal sebagai salah satu bahan baku deterjen. Namun bahan disinfektan ini terbukti mampu membunuh berbagai jenis virus termasuk virus flu burung H5N1.

Pengujian amonium kuartener sebagai disinfektan virus flu burung dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Hewan IPB dalam riset 2008. Mereka menguji amonium kuartener dengan virus H5N1 yang ditemukan dalam kasus yang terjadi di Tasikmalaya 2005.

"Amonium kuartener punya kelebihan, rendah toksin (racun) dan cepat membunuh virus," kata Kepala Dinas Kesehatan Hewan Pusat Studi Hewan Tropika IPB, Agus Setiyono, dalam diskusi di Hotel Ciputra, Jl S Parman, Jakarta, Senin (12/5/2008).

Virus yang dicampur amonium kuartener disuntikan ke dalam embrio telur ayam. Setelah 48 jam, embrio telur mati, namun bukan karena virus flu burung, melainkan karena disinfektan telah bekerja mematikan virus flu burung.

Menurut Agus, dalam konsentrat tinggi, amonium dapat mematikan embrio. Namun jika digunakan dalam bentuk semprot, itu tidak berbahaya bagi manusia dan hewan.

"Kalau disemprotkan itu justru bagus sebagai disinfektan," pungkasnya. IPB, lanjut Agus, terus mengembangkan penelitian mengenai manfaat penggunaan amonium kuartener ini. ( fay / ana )

Sumber : Detiknews.com

Saturday, May 10, 2008

Virus EV-71 : Empat Lagi Korban Tewas

Sabtu, 10 Mei 2008 | 00:22 WIB

Beijing, Jumat - Sebuah strain virus penyakit tangan, kuku, dan mulut (Enterovirus 71 atau EV-71) telah menewaskan empat anak lagi di China. Total jumlah korban tewas dalam pekan-pekan terakhir menjadi 34 anak di bawah usia 1 tahun.

Demikian diberitakan media Pemerintah China, Jumat (9/5). Pemerintah China memuji seorang dokter yang memberi tahu pemerintah mengenai wabah virus itu. Dari empat anak yang tewas, seorang bayi perempuan berusia delapan bulan dan bocah laki-laki berusia satu setengah tahun tinggal di Provinsi Guangdong, China selatan, serta dua korban lain tinggal di Bozhou, Provinsi Anhui, China timur, yang merupakan titik utama wabah virus tersebut.

Semula ada dugaan bahwa virus EV-71 sudah ditemukan Indonesia, tetapi ternyata dugaan itu keliru. Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Akmal Taher, Jumat malam, menyatakan, ada dua pasien yang dirawat di RSCM dengan gejala menyerupai infeksi EV-71. Namun, setelah diperiksa secara medis, kedua pasien tersebut dinyatakan tidak terserang EV-71.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Departemen Kesehatan Tjandra Yoga menyatakan, sesungguhnya kasus penyakit tangan, kaki, dan mulut sudah terjadi di Tanah Air sejak beberapa tahun silam, tetapi penyebabnya bukan virus EV-71. Penderitanya juga hanya mengalami gejala ringan dan segera sembuh.

Guru besar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Amin Soebandrio, mengemukakan, kasus infeksi Enterovirus di Indonesia telah ditemukan tahun 2006, tetapi jenis virusnya bukan EV-71, melainkan Enterovirus coxsackie (A-16). Jika terserangan EV-71, gejalanya menyerupai flu, demam, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.

Gejala yang khas adalah bercak merah pada telapak tangan, telapak kaki, dan mulut, dengan gelembung-gelembung berisi cairan. Penularan terjadi jika ada kontak langsung dengan penderita, terutama jika mengenai cairan dari bercak merah pasien. ”EV-71 banyak menyerang anak-anak karena daya tahan tubuhnya rendah,” ujarnya.

Pada penderita yang terserang EV-71, lanjut Amin, bisa terjadi infeksi berat pada selaput otak dan jaringan otak hingga mengakibatkan kematian. Sejauh ini, pengobatan pada pasien yang terinfeksi EV-71 dilakukan dengan menurunkan demam dan memberi banyak cairan tubuh agar tidak mengalami dehidrasi.

Keadaan yang lebih parah

Penyakit tangan, kuku, dan mulut merupakan penyakit masa kanak-kanak yang umum terjadi. Akan tetapi, berjangkitnya penyakit tangan, kuku, dan mulut kali ini dihubungkan dengan wabah EV-71.

Virus ini bisa menyebabkan keadaan yang lebih parah dengan simtom demam tinggi, kelumpuhan, dan meningitis. Belum ada vaksin bagi penyakit ini. Biasanya penderita yang terkena EV-71 pulih dalam seminggu sampai 10 hari jika badannya cukup kuat. Namun, kasus-kasus yang melibatkan EV-71 biasanya menyebabkan gejala-gejala yang lebih parah jika tubuh korban dalam kondisi lemah.

Para pejabat-pejabat China telah mengatakan, penyakit karena virus EV-71 itu tidak akan memengaruhi Olimpiade Beijing pada bulan Agustus. Sampai Kamis malam, jumlah kasus yang dilaporkan di seluruh China melonjak menjadi 24.932 orang, naik 25 persen dari 19.962 kasus yang dilaporkan sehari sebelumnya. Kasus-kasus telah bermunculan sampai di Provinsi Jilin di timur laut serta kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai.

Para ahli kesehatan memperkirakan jumlah kasus akan meningkat. Kementerian Kesehatan pekan ini telah mengharuskan petugas kesehatan untuk melaporkan kasus penyakit itu di wilayahnya dalam 24 jam. Penyakit itu diperkirakan akan memuncak pada bulan-bulan panas, Juni dan Juli.

Media pemerintah hari Jumat memuji seorang dokter di kota Fuyang di Provinsi Anhui yang menghubungi para ahli setelah dokter perempuan itu, dr Liu Xiaolin, dibuat bingung oleh kematian beberapa anak yang menurut sejawat-sejawatnya hanya karena menderita flu parah. (EVY/REUTERS/AP/AFP/DI/LOK)

Sumber : Kompas Cetak

Penyakit Misterius : 280 Orang Dikarantina di Kereta Api


GETTY IMAGES/CHINA PHOTOS

Ilustrasi: Orang terjebak di dalam kereta api.

Sabtu, 10 Mei 2008 | 10:00 WIB

TORONTO, SABTU - Seorang tewas dan sekitar 280 orang dikarantina di sebuah kereta api Kanada, Jumat (9/5), akibat penyakit misterius dengan gejala-gejala seperti flu berat.
Jurubicara kepolisian Marc Depatie mengatakan kepada televisi CTV, tujuh penumpang yang berada di kereta-api VIA Rail di kawasan Gunung Rocky, Jasper, Alberta, jatuh sakit, dan seorang wanita yang berusia 60 tahun meninggal. Seorang penumpang lain diangkut dengan pesawat terbang untuk dirawat di rumah sakit.

"Satu orang dipastikan telah meninggal. Kami menunggu para petugas dengan pakaian pelindung... datang ke lokasi kejadian dan naik kereta-api itu untuk menetapkan penyebab pasti mengenai apa yang telah terjadi," katanya.

"Tujuh orang menunjukkan gejala-gejala flu atau kondisi seperti flu. Selain itu, tidak ada lagi orang di kereta-api itu yang kami ketahui mengalami gangguan medis," tambah jurubicara itu.

Para pejabat mengatakan, KA tujuan Toronto itu dikarantina di Foleyet, kawasan yang jarang penduduk di Ontario utara, dan tidak seorang pun diizinkan masuk, kecuali petugas darurat.

"Saat ini kami juga bergerak aktif untuk menjaga lokasi itu sehingga tidak ada ancaman lebih lanjut pada keselamatan masyarakat, dan karena itu lah aparat-aparat kami ditempatkan seperti itu," kata Depatie kepada televisi CP-24.

KA VIA Rail trans-Kanada terkenal bagi para wisatawan, banyak dari mereka naik kereta-api itu di Vancouver, British Columbia atau Jasper, untuk melakukan perjalanan menakjubkan melewati kawasan Gunung Rocky.

Sejumlah pejabat mengatakan, mereka tidak mengetahui penyebab penyakit itu, namun ahli mikrobiologi Donald Low di Mount Sinai Hospital Toronto mengatakan kepada CTV, ia mencurigai influenza.

"Ini jelas-jelas menunjuk pada sesuatu seperti influenza... Mungkin ini kejadian sangat akut, sejumlah individu sakit dengan gangguan pernapasan," kata Low, yang memainkan peranan penting dalam pengendalian wabah SARS (Sindrom Pernapasan Akut Parah) di Toronto pada 2003.

"Kami tidak berbicara tentang SARS, kami tidak berbicara tentang avian influenza... Kami melihat hal seperti ini terjadi di kapal-kapal pesiar dan keadaan-keadaan lain dimana anda melihat banyak orang berkumpul dalam batas-batas berdekatan," katanya.


SAS Sumber : Antara
Dikutip dari Kompas Online

Bagaimana Enterovirus Sebabkan Penyakit

Enterovirus dikabarkan sudah sampai ke Indonesia. Virus yang diduga berasal dari Cina ini sudah menewaskan sekitar 26 anak-anak. Bagaimana penyebarannya?

"Enterovirus masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran cerna, berkembang biak di mulut tenggorok dan banyak dijumpai di dalam feses pasien," kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Depkes Dr Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan yang diterima detikcom, Sabtu (10/5/2008).

Tjandra menjelaskan, setelah masuk ke mulut, virus akan memperbanyak diri di saluran pencernaan dan saluran pernafasan. Setelah terjadi virus dalam sirkulasi darah, infeksi akan menyebar dan mengenai jaringan dan beberapa organ.

"Sehingga menyebabkan bervariasi penyakit," jelasnya.

Meski demikian, lanjut dia, infeksi yang diakibatkan enterovirus ini tidak menyebabkan gejala yang khas. Bahkan virus ini berdampak berbeda di tubuh manusia.

"Tidak ada gejala khas, namun demam selalu ditemukan. Seringkali juga kemerahan dan melepuh di tangan, kaki, dan mulut. Pada bayi kecil gejala dapat mirip sepsis bakterial," jelasnya.

Tjandra memaparkan, enterovirus ini memiliki 4 kelompok spesies, yakni poliovirus (terdiri dari 3 serotipe), coxsackie virus (grup A, 23 serotipe dan grup B, 6 serotipe), echovirus (31serotipe) dan enterovirus (4 serotipe).

Saat ini, belum ada pengobatan spesifik untuk infeksi enterovirus ini. Pengobatan hanya ditujukan untukmenurunkan demam, mengurangi rasa nyeri pada mulut," pungkasnya.

( ary / ary )

Sumber : Arry Anggadha - detikcom

Monday, May 5, 2008

EV-71 is Enteroviruses - Non Polio

Non-polio enteroviruses are common and distributed worldwide. Although infection often has no symptoms and goes unnoticed, these viruses are also associated with occasional outbreaks in which a larger-than-usual number of patients develop clinical disease, sometimes with fatal consequences.

Clinical syndromes

Replication of the enterovirus begins in the gastrointestinal or respiratory tract and once the virus is present in the blood stream, infection may affect various tissues and organs, causing a variety of diseases. The majority of infections are symptomless or mild in nature, the most common effect being a non-specific illness, with fever. Other manifestations include exanthems (rashes), herpangina (vesicular eruption and inflammation of the throat), acute respiratory disease, conjunctivitis, aseptic meningitis, encephalitis (inflammation of the brain), myopericarditis (inflammation of the heart tissue), and, occasionally, paralytic diseases. Many enteroviruses are associated with specific syndromes: for example, the viruses within the Human enterovirus B species more commonly cause meningitis or myopericarditis and those within the Human enterovirus A species more commonly cause hand-foot-mouth disease (rash especially on the palms and soles with vesicular eruption and inflammation of the mouth).

Diagnosis

Clinically, it is difficult to distinguish the specific cause of most enteroviral infections. Diagnostic testing for non-polio enteroviruses requires specialized laboratory facilities. Diagnosis is made by detecting virus in throat or faecal samples or, more convincingly, from specimens collected from the affected part of the body, for example, cerebrospinal fluid (CSF), biopsy material, and skin lesions. A four-fold rise in the level of neutralizing antibody in specimens collected during the acute and convalescent phases of illness provides the best evidence for a recent infection.

Epidemiology

Enteroviruses infecting humans are found worldwide and humans are the only known natural hosts. Young children are most susceptible to infection. In less developed areas, children may become infected during early infancy while in more socio-economically advanced areas, first infection may not occur until adolescence. Males more often develop clinically-recognizable diseases than females. Transmission is usually by the faeco-oral or by the respiratory route when there is an associated respiratory illness. The virus may be excreted in the stool for many weeks. Enteroviruses have been detected in water, soil, vegetables and shellfish and may possibly be transmitted in the community by contact with contaminated food or water.

The epidemiological pattern varies by geographical region and climate, but the incidence of infection is higher in the summer and autumn months in temperate climates while remaining prevalent year-round in tropical climates. Outbreaks of hand-foot-mouth disease associated with enterovirus infection have previously been reported from Taiwan, China (1998), and from Malaysia (1997). Outbreaks of aseptic meningitis associated with enterovirus infection have previously been reported from the Gaza Strip (1997) and Cyprus (1996).

Treatment

No specific antiviral agent is available for therapy of enterovirus infection. Treatment focuses on management of complications (for example, meningitis, abnormal cardiac rhythms, and heart failure). Intravenous administration of immune globulin may have a use in preventing severe disease in immunocompromised individuals or those with life-threatening disease.

Prevention and control

Transmission of enterovirus infections is increased by poor hygiene and overcrowded living conditions. Improved sanitation and general hygiene are important preventive measures. Measures that can be taken to avoid getting infected with enteroviruses include frequent handwashing, especially after diaper changes or going to the toilet; disinfection of contaminated surfaces with bleach (20 ml/litre of water); and washing soiled articles of clothing. The viruses are resistant to many disinfectants so it is important to use chlorinated (bleach) or iodized disinfectants. During recognised epidemics, it may be advised to close certain institutions such as schools or child care facilities in order to reduce transmission especially among young children. It is not necessary to restrict travel or trade.

For more information contact:

WHO Media centre
Telephone: +41 22 791 2222
E-mail: mediainquiries@who.int

Enterovirus in China

As of April 29 a total of 1884 cases including 20 deaths of hand, foot and mouth disease (HFMD) due to enterovirus (EV-71) have been reported among infants and young children. The 20 deaths are in Fuyang city in Anhui Province, China.

All fatal cases died of serious complications such as neurogenic pulmonary oedema due to EV-71 infection. The overall case fatality rate has decreased from 11% during March 10-31 to 0.2% during April 17-29.

The number of hospitalised cases has gradually increased since the end of March with a sharp increase in the number of cases since April 19.

Public health experts predict that the number of cases will continue to increase and will peak around June-July. Retrospective case investigation has revealed that sporadic cases had occurred since the beginning of March. Cases have been reported from all over Fuyang city.

Testing for a variety of respiratory diseases of the initial cases did not reveal any conclusive results. Subsequently, additional testing and several expert consultations were conducted at the national level. On April 23, EV-71 was confirmed. Health authorities informed WHO and Hong Kong SAR Department of Health and the Province of Taiwan's Department of Health immediately on these results.

Chinese health authorities have put in place targeted prevention and control measures in Fuyang city and Anhui Province, including enhanced surveillance, training of health care workers at all levels in treatment, prevention and control, strengthening of environmental health management, and the supervision and monitoring of drinking water quality. A public awareness campaign is ongoing, stressing the need for good personal hygiene, mostly by hand washing.

Non-polio enteroviruses are common and distributed worldwide. Although infection often has no symptoms and goes unnoticed, these viruses are also associated with occasional outbreaks in which a larger-than-usual number of patients develop clinical disease, sometimes with fatal consequences. No specific anti-viral therapy is available and treatment focuses on prevention of complications. As there is no vaccine for this virus, control measures during outbreaks are focused on classical hygiene measures including frequent hand-washing and disinfection of soiled clothing and surfaces. In certain situations, it may be advisable to close child-care facilities and schools to reduce the intensity of transmission. It is not necessary to restrict travel or trade.

Currently many countries in the Western Pacific region have implemented heightened surveillance for hand, foot and mouth disease and for severe complications in children.

Sumber : WHO Online 1 May 2008

Cina Perintah Siaga Nasional untuk Tanggulangi Wabah Virus EV71


Pemerintah Cina hari Sabtu mengeluarkan perintah siaga nasional untuk menanggulangi wabah virus yang telah menewaskan lebih dari 20 anak-anak dan menunjukkan tanda-tanda menyebar.

Pengumuman dikeluarkan setelah pihak berwajib mengatakan, seorang anak lelaki berumur satu setengah tahun yang meninggal dunia di Cina selatan hari Jumat, mungkin mengidap virus usus yang telah menewaskan 22 anak-anak di provinsi timur Anhui.

Organisasi Kesehatan Sedunia hari Jumat mengatakan, penguasa Cina telah mengambil langkah-langkah untuk menanggulangi penyebaran virus itu, yang disebut Enterovirus 71 atau EV71 di provinsi Anhui.

Badan dunia itu mengatakan, para penguasa lokal telah meningkatkan pemantauan air minum dan memberikan pelatihan tambahan untuk para petugas kesehatan.

Kantor berita Xinhua mengatakan, penyidikan sedang dilakukan mengenai kemungkinan munculnya virus EV71 di provinsi Guangdon.

Sumber : Voice of America

Virus EV-71 Bakal Merebak Ditemukan Di Vietnam, Singapura

Hanoi, Senin, 05 Mei 2008 01:08 WIB

Dunia kini mengkhawatirkan merebaknya wabah Enterovirus 71 atau EV-71, virus yang menyerang anak-anak, menyebabkan sakit pada tangan, kaki dan mulut serta kelumpuhan. Selain di China, virus ini ditemukan di Vietnam dan Singapura.

Dari Provinsi Anhui, China Tengah dilaporkan, Minggu (4/5), korbannya sudah 24 anak meninggal dunia dan lebih dari 4.500 anak terjangkit. Di Vietnam dan Singapura terjadi peningkatan tajam kasus EV-71.

Merebaknya wabah tersebut membuat para pejabat kesehatan China pada akhir pekan kemarin, mengeluarkan perintah siaga nasional, terutama di Fuyang, di mana 22 anak meninggal dunia.

Pada Minggu, kantor berita resmi Xinhua mengatakan virus itu telah merenggut dua jiwa anak lainnya di Provinsi Guangdong, China Selatan. "Banyaknya korban jiwa merupakan suatu hal yang luar biasa dan itulah yang menarik perhatian kami," kata Peter Cordingley, jurubicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kantor daerah Pasifik Barat. "Dengan kata lain, wabah itu telah lewat di bawah radar."

Penyakit tangan, kaki dan mulut adalah sejenis penyakit pada anak dan dapat menular melalui air liur, tinja, ingus dan lendir dari hidung atau kerongkongan. Beberapa tanda penyakit tersebut meliputi deman, kulit bagai terbakar dan rasa sakit di dalam tenggorokan, mulut, kaki dan ibu jari.

Hingga kini, belum ada vaksin atau pengobatan spesifik, namun sebagian besar anak-anak yang terjangkit penyakit tersebut ada yang dengan cepat bisa disembuhkan. EV-71 dapat menyebabkan bentuk sakit yang lebih serius dan menyebabkan lumpuh, bahkan kematian.

Penyakit itu, yang tidak ada hubungan dengan penyakit kaki dan mulut yang melanda ternak, kini mulai mencemaskan sejumlah negara tetangga China. Para pakar mencemaskan bahwa versi yang lebih mematikan dari virus itu akan merebak ke berbagai negara lainnya. Vietnam dan Singapura keduanya baru-baru ini telah melihat peningkatan tajam berbagai kasus penyakit, termasuk EV-71.

"Beberapa anak meninggal dunia akibat penyakit itu setiap bulannya di rumah sakit," kata Dr. Nguyen Quang Vinh di RS Anak No. 1 di Ho Chi Minh City, di selatan Vietnam. "Anak-anak itu meninggal dunia bukan karena mereka dilarikan ke rumah sakit terlambat, tetapi karena perkembangan penyakit mereka demikian cepat dan menyerang otak dan jantung."

Jumlah kasus yang dilaporkan tahun ini di Vietnam tidak tersedia, namun media pemerintah melaporkan bahwa sebagian rumah sakit anak melihat adanya peningkatan sampai tujuh kali lipat dari tahun lalu. Infeksi juga terus meningkat di Singapura, yang dilaporkan lebih dari 9.000 kasus tahun ini, dengan EV-71 ditemukan dalam 25 persen sampel tes.

Belum ada kematian yang dilaporkan di negara kota yang kaya itu, namun pemerintah telah memerintahkan 11 taman pendidikan pra sekolah dan pusat perawatan bayi ditutup, demikian menurut Web site Kementerian Kesehatan.

Pekan lalu, WHO mengeluarkan peringatan bahwa wabah akan terus merebak di China selama beberapa bulan karena virus itu cepat berkembang dalam cuaca panas. Penularan penyakit itu di China diketahui pada saat negeri itu menjelang pelaksanaan Olimpiade Musim Panas.

Kecurigaan terus berkembang bahwa pemerintah China berusaha menutup-nutupi sebagaimana meledaknya situasi darurat pada 2003, ketika wilayah China disusupi gejala penyakit gangguan pernafasan akut (SARS), yang merenggut hampir 800 jiwa di seluruh dunia.

Kementerian Kesehatan China mengingatkan WHO bahwa pihaknya telah berusaha untuk mengenali penyakit tersebut yang mulai menyebar di Provinsi Anhui pada Maret lalu. WHO melaporkan, satu penyebaran enterovirus terjadi di Taiwan tahun 1998, yang menginfeksi lebih dari 300.000 anak dengan sakit tangan, kaki dan mulut dan menewaskan sekurang-kurangnya 55 anak. (m07/ap) Berita terkait

Sumber : Waspada Online

Friday, May 2, 2008

Permasalahan Kewenangan Pengawasan OMKA di Pintu Masuk

Setelah lepas dari instansi Induknya DEPKES, badan POM bagaikan seorang anak “durhaka”, sehingga MOU tentang Pengawasan Impor dan Ekspor Obat, Obat Tradisional, Kosmetik, Produk Komplemen/ Suplemen Makanan, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dan Makanan yang dibuat bersama Dirjen Bea & Cukai pun tidak dilaporkan ke Menkes.

Yang lebih ironisnya, Badan POM melalui surat Sekretaris Utama Badan POM nomor HK.04.232.1094 tanggal 20 Juli 2004, disebut bahwa “tidak ada lagi unit di bawah departemen kesehatan dengan tugas pokok dan fungsi pengawasan makanan” sehingga Dirjen Bea & Cukai mengeluarkan Surat Edaran bernada sama bernomor S-1153/BC.2/2004 tentang Pengawasan Import Obat dan Makanan. Mereka melupakan PP nomor 72 tahun 1998 tentang Pengamanan sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang memberikan hak pada Menkes untuk melakukan pengawasan terhadap komoditas yang mereka sebut dalam MOU tersebut.

Dengan kondisi diatas maka pengawasan Kelauar Masuknya OMKA (Obat Makanan, Kosmetika dan Alat Kesehatan) melalui Pintu Masuk Pelabuhan Laut dan Bandar Udara menjadi lemah. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap merebaknya produk - produk OMKA illegal di Kota-kota besar di Indonesia. Kantor Kesehatan Pelabuhan yang diberi wewenang oleh Menteri Kesehatan untuk mengawasi OMKA di pintu Masuk melalui Kepmenkes 265 tahun 2004 nyaris tak berdaya dengan kebijakan kedua institusi yang bersepakat melahirkan MOU tersebut.

Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan RI melakukan peninjauan UPT Depkes di Medan.

Medan, 01 May 2008

Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan RI Dr. Sjafii Ahmad, MPH melakukan peninjauan UPT Depkes di Medan.


Dalam rangka penataan kelembagaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Depkes untuk mengoptimalkan kinerja organisasi, Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan RI Dr. Sjafii Ahmad, MPH melakukan peninjauan ke beberapa UPT Depkes di Medan.

Sekjen memulai peninjauannya di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Kelas I Medan yang berlokasi di Jl. Wahid Hasyim, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan Kantor Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) yang lokasinya bersebelahan dengan Kantor BTKL Kelas I Medan. Mengahiri peninjauan ini, Sekjen Depkes RI yang didampingi para pejabat-pejabat kesehatan di Medan selanjutnya melakukan peninjauan ke Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Medan yang berlokasi di Jl. Veteran 219 Belawan.

Thursday, May 1, 2008

Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/(H5N1) Reported to WHO / 30 April 2008

30 April 2008 -- The Ministry of Health of Indonesia has announced a new case of human infection of H5N1 avian influenza. A 3-year-old male from Wonogiri District, Central Java Province developed symptoms on 14 April, was hospitalized on 21 April and died on 23 April. Investigations into the source of his infection indicate exposure to sick and dead poultry.

Of the 133 cases confirmed to date in Indonesia, 108 have been fatal.

Source : WHO

Hati-hati dengan Ayam Mati

30 Apr 2008

Sampai saat ini sumber penularan virus Flu Burung (H5N1) masih dari unggas ke manusia. Buktinya MS (L, 3 th) sebelum dinyatakan positif Flu Burung berdasarkan pemeriksaan laboratorium Badan Litbangkes dan Lembaga Eijkman, Jakarta, juga kontak dengan ayam mati. Diketahui 10 ekor ayam mati mendadak di sekitar tempat tinggalnya.

MS warga Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah mulai sakit dengan gejala sesak nafas sejak 17 April 2008. Tanggal 23 April 2008 yang bersangkutan dibawa ke RS Muwardi Solo, namun jiwanya tidak tertolong dan meninggal pada hari yang sama.

Berdasarkan laporan Posko Flu Burung Ditjen P2PL, Tim Depkes dan Deptan telah turun ke lokasi untuk melakukan investigasi lanjut terhadap riwayat kontak.

Oleh karena itu, masyarakat harus waspada terhadap unggas yang berkeliaran di sekitar rumah atau di lingkungan yang dikunjungi. Unggas perlu dikandangkan serta dijaga kebersihan kandangnya. Jika tampak unggas yang sakit atau mati, hindari kontak dan segera laporkan pada petugas peternakan atau kepala desa setempat. Jika ada warga yang menampakkan gejala seperti gejala influenza (demam, suhu tubuh tinggi, batuk) apalagi jika di lingkungan sekitar terdapat unggas, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Untuk menghindari tertular virus Flu Burung perlu diperhatikan:

o ·Jangan sentuh ayam, bebek, dan unggas yang sakit atau mati,

o ·Cuci pakai sabun, tangan dan peralatan masak anda,

o ·Pisahkan unggas dari manusia,

o ·Periksakan ke Puskesmas jika ada gejala flu & demam setelah berdekatan dengan unggas,

o ·Gunakan sarung tangan, penutup mulut dan hidung saat memegang unggas,

o ·Jangan memakan unggas yang sakit atau mati,

o ·Sembelih, bakar, kubur unggas yang sakit atau mati,

o ·Jangan biarkan anak-anak bermain dengan unggas.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52960661, 52907421 atau e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Launching pemeriksaan osteoporosis di KKP Kelas II Medan

Dalam rangka penanganan penyakit tidak menular ( PTM ), KKP kelas II Medan melakukan pemeriksaan Osteoporosis yang sasarannya Instansi terkait, pengguna jasa dan masyarakat Pelabuhan . Acara launching pemeriksaan osteoporosis ini diselenggarakan tanggal 28 – 30 April 2008 di Poliklinik KKP Kelas II Medan.

Acara dimulai dari pembacaan tertib acara yang di bacakan oleh staf UKP, Rakhmad Kurnia Putra Parinduri. Pada kesempatan pertama kata sambutan diberikan oleh Kepala Seksi UKP, Musa Tarigan, SKM, Kemudian disusul kata sambutan dan sekaligus pembukaan acara oleh Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Medan, dr.H.Syahril Aritonang, MHA.

Ringkasan sambutan yang di sampaikan kepala KKP antara lain pada saat ini KKP kelas II Medan sedang berbenah diri, yang mana KKP tidak hanya sekedar melakukan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit menular potensial wabah saja, tetapi juga berperan aktif dalam penanggulangan penyakit tidak menular (PTM).

Pada Hari Pemeriksaan, antusiasme pasien bukan hanya dari masyarakat pelabuhan saja, tetapi dari berbagai instansi terkait dan pengguna jasa di wilayah Pelabuhan Belawan. Pada kesempatan itu, Dokter KKP juga memberikan penjelasan kepada pasien bagaimana pencegahan dan pengobatan yang harus mereka lakukan apabila belum ataupun sudah terkena Osteoperosis.

Data kunjungan pasien Mulai tanggal 28 s/d 30 April 2008 adalah sebagai berikut :

  • Kunjungan tanggal 28 April 2008 : 28 orang
  • Kunjungan tanggal 29 April 2008 : 41 orang
  • Kunjungan tanggal 30 April 2008 : 24 orang

Spanduk Acara



Acara dibuka oleh pembawa acara, Sdr.Rahmad Kurnia P, Staff Seksi UKP



Kata sambutan dari Ka.KKP Kelas II Medan, dr.H.Syahril Aritonang, MHA



Antrian Pasien yang akan diperiksa


Petugas KKP, Sdri. Hj. Ns. Sri Wahyuni, S.Kep, tampak sedang memeriksa pasien

Ka.KKP Kelas II Medan, dr.H.Syahril Aritonang, MHA ikut memeriksakan diri

Grafik hasil pemeriksaan yang ditunjukkan
pada layar monitor alat pemeriksaan osteoporosis

Wednesday, April 30, 2008

Mali: 6 million vaccinated against yellow fever

Almost 6 million people in Mali were vaccinated against yellow fever in a large vaccination campaign this week. About 6 000 health-care providers and 2 000 volunteers were engaged to reach and vaccinate people at risk of contracting yellow fever across southern Mali.

This is the largest mass vaccination campaign ever undertaken. And, thanks to the support of the GAVI Alliance, it is the first to be conducted at such a scale in one of Africa’s largest and most under-developed countries.

Several partners worked together to make the campaign a success. It was organized by the Malian Ministry of Health with technical support from WHO and other organizations. While UNICEF provided logistics support, the Malian Red Cross and many local organizations took care of social outreach efforts. The vaccines and equipment were funded with part of the US$ 63 million donated by GAVI Alliance for yellow fever vaccination across west and central Africa.

Source : WHO Online

Beijing : 20 Anak Meninggal Akibat Virus EV71 di China

Serangan virus kian ganas saja. Di China, sedikitnya 20 anak telah meninggal akibat virus enterovirus 71 atau EV71. Virus itu mulai menyebar di Fuyang, Provinsi Anhui pada awal Maret lalu. Namun pemerintah China baru mempublikasikannya pada Minggu, 27 April lalu.

Masyarakat China pun dilanda keresahan. Namun pejabat-pejabat kesehatan China mengatak tak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai virus tersebut. Menurut mereka, situasi ini tidak sama dengan wabah SARS pada tahun 2003.

"Anda tidak bisa menyamakan EV71 dan SARS. SARS merupakan penyakit menular baru dan setiap orang bisa terinfeksi. SARS juga sangat mematikan," kata Yang Weizhong, wakil kepala lembaga Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China.

Korban tewas akibat EV71 kebanyakan anak-anak di bawah usia 2 tahun. EV71 menyebar melalui kontak dengan kotoran yang terinfeksi virus. Virus ini bisa menyebabkan demam tinggi, kelumpuhan dan pembengkakan otak.

Yang mengimbau masyarakat untuk sering-sering mencuci tangan dan memakan makanan yang dimasak dengan benar. "Ini penyakit musiman, tapi juga bisa dicegah," tuturnya seperti diberitakan Telegraph, Rabu (30/4/2008).

Yang juga membantah tudingan bahwa pemerintah menutup-nutupi kasus ini. Menurutnya, alasan penundaan publikasi kasus ini adalah karena tim medis sedang berupaya memastikan jenis penyakit.

Menurut WHO, tak ada vaksin atau obat antivirus untuk mencegah atau mengatasi virus EV71 ini. Pengobatan hanya difokuskan untuk menangani komplikasi yang ditimbulkan virus, yang bisa meliputi meningitis dan gagal jantung. ( ita / nrl )

Sumber : Rita Uli Hutapea - detikcom

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN