SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Friday, April 25, 2008

Simulasi Penularan Flu Burung Antar Manusia Digelar di Bali

25/04/2008 08:15 WIB

Departemen Kesehatan menggelar simulasi penanggulangan penularan virus flu burung (H5N1) di Bali. Skenario simulasi ini menggambarkan penanggulangan penyebaran virus yang terjadi dari unggas kepada manusia yang kemudian berkembang antar manusia, atau yang disebut episenter pandemi influenza.

"Dalam simulasi ini akan dilakukan beberapa kegiatan selama dilakukannya penanggulangan episenter, seperti surveilans untuk deteksi dini dan pelacakan kontak, rujukan ke rumah sakit, tata laksana kasus di Puskesmas dan RS, karantina rumah dan wilayah, rofilaksis masal, komunikasi risiko, pengamanan perimeter," kata Direktur P2ML Departemen Kesehatan RI Tjandra Yoga Aditama dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (25/4/2008).

Menurut Yoga, simulasi ini akan digelar 25-27 April 2008 di Kabupaten Jembrana, yang menurut skenario, menjadi tempat penularan antar manusia. Selain itu di Desa Dangin Tukadaya, Rumah Sakit Negara, di Kabupaten Jembrana, Rumah Sakit Tabanan, Rumah Sakit Sanglah, dan Bandara Internasional Ngurah Rai.

Simulasi ini dibagi dalam 3 hari. Simulasi pertama yang menggambarkan adanya dugaan penularan antar manusia/adanya sinyal epidemiologi yang kemudian bupati dan sektor terkait melakukan penanggulangan seperlunya.

Selanjutnya hasil virologis menunjukkan mutasi virus H5N1 menjadi virus yang menular antar manusia. Setelah WHO berkonsultasi dengan pemerintah Indonesia, diputuskan perubahan fase pandemi dunia dari fase 3 menjadi fase 4 (di Indonesia fase 4/5B karena episenter terjadi di Indonesia).

Pemerintah melakukan penanggulangan dan menetapkan karantina wilayah sampai dengan tidak ditemukan lagi kasus baru dalam waktu 2 minggu sejak kasus terakhir yang dalam simulasi ini terjadi.

Pelabuhan (darat, laut dan udara) melakukan kegiatan pengawasan lalu lintas orang an barang yang akan keluar dari daerah penanggulangan, dan kemudian akan dapat ditutup sesuai kebijakan pemerintah. ( mly / nrl )

Sumber : Melly Febrida - detikcom

Thursday, April 24, 2008

Severe Acute Watery Diarrhoea with V. cholerae positive cases in Viet Nam

22 April 2008 -- Between 5 March and 22 April the Ministry of Health of Viet Nam reported 2490 cases of severe acute watery diarrhoea including 377 that were positive for Vibrio cholerae , the bacterium causing cholera. The serotype has been identified as 01 Ogawa. No deaths have been reported, a fact that indicates that good case management is in place.

selengkapnya

Wednesday, April 23, 2008

KEGIATAN PENGENDALIAN RISIKO LINGKUNGAN

A. PEMASANGAN PERANGKAP TIKUS

Salah satu penyakit karantina yang pernah menjadi wabah di berbagai negara dan sampai saat ini dicegah masuk/keluar dari suatu negara penyakit pest. Penyakit pest adalah penyakit yang ditularkan oleh pinjal tikus dan masa inkubasi penyakit pest adalah enam hari.

Untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap masuk/keluarnya penyakit pest dari pelabuhan Belawan maka Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL) KKP Kelas II Medan secara rutin setiap bulan mengadakan pengawasan terhadap keberadaan tikus di gudang-gudang Pelabuhan Belawan dengan cara pemasangan perangkap tikus. Namun sejak enam bulan terakhir pemasangan perangkap tikus kurang mendapatkan hasil karena setiap kali dilakukan pemasangan perangkap tikus sampai keesokan hari ketika perangkap diambil, perangkap masih tetap terbuka dan umpan yang biasa digunakan yaitu ikan asin masih tetap utuh.

Pada minggu pertama dan kedua April 2008 Seksi PRL Kantor Kesehatan Pelabuhan Medan di Belawan melaksanakan uji umpan yang paling disenangi tikus. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui umpan apakah yang paling disukai, umpan yang digunakan dalam kegiatan kali ini terdiri dari :
- ikan asin
- kelapa
- jagung
- apel

Dari empat macam umpan yang digunakan dalam pemasangan perangkap tikus ini ternyata perangkap yang berisi umpan kelapa yang dimasuki tikus.
Tikus yang tertangkap dibawa ke Laboratorium PRL, diberi formalin lalu dilakukan identifikasi.

Setelah melakukan pengukuran dan penimbangan tikus serta melihat tanda-tanda pada tubuh tikus maka hasil identifikasi ternyata jenis tikus adalah Rattus-rattus diardii, jenis kelamin betina. Dari penyisiran terhadap tubuh tikus tidak ditemukan pinjal.
Untuk rencana selanjutnya maka kegiatan pemasangan perangkap tikus di Pelabuhan Belawan ini akan menggunakan berbagai jenis umpan akan dilakukan kajian yang lebih komprehensif sehingga dapat diketahui apakah tikus Rattus-rattus diardii lebih menyukai umpan kelapa atau tikus jenis Norway lebih menyukai umpan yang jenis lain.
Disamping pemasangan perangkap dilakukan juga peracunan tikus agar populasinya dapat diturunkan seminimal mungkin sehinnga dapat memutus mata rantai penularan pest di Pelabuhan Belawan.


B. PENGAWASAN AIR BERSIH DIPELABUHAN/BANDARA

Seksi Pengendalaian Risiko Lingkungan (PRL) Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Medan pada tanggal 11 April 2008 melaksanakan pengawasan terhadap sumber air bersih dan pipa distribusi penyaluran air untuk kebutuhan kapal dan pekantoran di Pelabuhan Belawan.

Pengawasan Air Bersih (PAB) di Pelabuhan merupakan kegiatan rutin Seksi PRL disamping kegiatan lain seperti pengendalian vector, pengawasan limbah, sanitasi rumah makan dsb.

Tujuan pengawasan terhadap sumber air bersih dan pipa distribusi penyaluran air adalah pengendalian terhadap risiko kemungklinan masuknya kontaminan zat kimia/biologi maupun pencemaran lainnya yang dapat menimbulkan water borne disease.

Dengan pengawasan rutin ini diharapkan terjadi pemutusan mata rantai penularan penyakit yang ditularkan melalui air bersih

Wednesday, April 16, 2008

Seputar ICV Palsu : Departemen Kesehatan Klarifikasi Berita Tuduhan AMPHURI Tidak Benar

15 Apr 2008

Departemen Kesehatan membantah pernyataan Baluki Ahmad, Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) yang menyatakan Departemen Kesehatan menggunakan aparat kepolisian sehingga 600 orang gagal Umrah yang dimuat di berbagai media, tidak ada dasarnya. Oleh karena itu Departemen Kesehatan menyayangkan pernyataan tersebut dan meminta AMPHURI tidak asal tuduh tetapi melakukan pemeriksaan dimana sampai terjadi penggunaan kartu sertifikat vaksinasi meningitis (International Certificate of Vaccination/ICV) atau kartu kuning palsu.

Penyakit Meningitis adalah penyakit radang otak akut yang disebabkan oleh kuman Neiseria Meningities yang ditularkan dari orang ke orang dengan cara Droplet. Berdasarkan data WHO, telah terjadi kasus peningkatan kejadian Meningitis meninggal di daerah endemis di Sabah Sahara.

Oleh karena itu, untuk melindungi jamah haji atau umroh dari kemungkinan tertulari dan menulari meningitis kepada orang lain, maka para jamah tersebut diberikan vaksinasi Meningitis. Sebagai bukti telah mendapatkan vaksinnasi Meningitis, maka kepada yang bersangkutan diberikan kartu kuning/ICV yang dikeluarkan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) setempat.

Peraturan yang mewajibkan jamaah haji atau umroh mendapatkan vaksinasi meningitis adalah International Health Regulation 2005, Nota Diplomatik No. 211/94/71/577 melalui Kedutaan Kerajaan Saudi Arabia di Jakarta tanggal 1 Juni 2006 berisi tentang persyaratan kesehatan yang harus dipenuhi bagi pendatang untuk haji dan umroh pada musim haji 1427 H, dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 131/Menkes/Per/III/1984 tentang Pengawasan Kesehatan Perjalanan Umroh. Peraturan-peraturan ini telah berulang kali disosialisasikan kepada para penyelenggara haji dan umroh. Dalam pelaksanaan sosialisasi, ditemukan ICV yang bermasalah. Pihak KKP membantu memberikan ICV yang sah sesuai peraturan yang berlaku untuk memperlancar dan mengamankan jamaah umroh dalam menjalankan ibadah.

Penyalahgunaan kartu kuning/ICV (International Certivicate Vaccination) oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, diduga telah lama terjadi. Atas keluhan Pejabat KKP Bandara Soekarno-Hatta dalam berbagai kesempatan rapat koordinasi yang dipimpin Administrator Pelabuhan, pihak Kepolisian Bandara berdasarkan surat B.633/IV/2008/Resto.BHS perihal Sosialisasi Sertifikat Vaksinasi Jamaah Umroh melakukan operasi justicia penertiban ICV dibantu oleh petugas KKP Bandara Soekarno-Hatta.

Dalam melaksanakan operasi penertiban ICV bermasalah oleh pihak berwajib, telah terjadi keterlambatan/pembatalan keberangkatan jamaah umroh. Hal ini disebabkan, petugas lapangan biro perjalanan umroh menghilang dengan membawa dokumen perjalanan jamaah, sehingga jamaah tidak ada yang membimbing dan mengarahkan. Baru esok harinya petugas lapangan tersebut kembali.

Depkes mengimbau kepada pihak yang terkait dengan perjalanan haji atau umroh untuk bekerja sama dengan baik dan terkoordinasi dalam melaksanakan peraturan yang berlaku, khususnya di bidang kesehatan. Dengan demikian, jamaah haji/umroh dan masyarakat internasional dapat terhindar dari berbagai penyakit menular yang berbahaya dan dapat melaksanakan ibadah dengan tenang, aman dan lancar.

Dengan ketidaknyamanan yang telah terjadi selama ini, Depkes menyatakan permohonan maaf dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran tugas ini. Departemen Kesehatan senantiasa berupaya mencari jalan keluar untuk memperlancar penyelenggaraan haji dan umroh sesuai dengan tugas dan wewenang sesuai denga peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sumber : Depkes Online

FLU BURUNG : Enam Kecamatan di Kota Bekasi Endemi

Rabu, 16 April 2008 | 01:37 WIB

Bekasi, Kompas - Sebanyak enam dari 12 kecamatan di Kota Bekasi, Jawa Barat, diwaspadai sebagai daerah endemi flu burung. Sepanjang Januari sampai Maret lalu, flu burung sudah merenggut nyawa dua penderitanya, termasuk seorang anak perempuan berusia 12 tahun.

Korban yang meninggal itu adalah Zah, dan disusul YF (16), warga Kelurahan Kayuringinjaya, Bekasi Selatan. YF meninggal di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, 15 Januari lalu. YF adalah korban kelima yang dinyatakan positif flu burung dan meninggal sejak kasus flu burung merebak di Kota Bekasi mulai 2005.

Dalam kurun hampir empat bulan ini, petugas Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Perekonomian Rakyat dan Koperasi Kota Bekasi sudah memusnahkan lebih dari 200 unggas, meliputi ayam, bebek, mentok, dan burung, di tiga kecamatan, yakni Bekasi Selatan, Mustikajaya, dan Rawalumbu.

Menurut Kepala Dinas Perekonomian Rakyat dan Koperasi Kota Bekasi Noviar Hermansyah yang didampingi Kepala Bidang Kesmavet Edi Kadarusman, Selasa (15/4), pihaknya telah memberikan vaksin flu burung yang menjangkau hampir 1,2 juta unggas di Kota Bekasi sejak kali pertama dilakukan 2006.

Jakarta memperketat

Untuk mencegah penyebaran dan penularan virus flu burung pada manusia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperketat razia unggas ternak di permukiman. Semua unggas ternak akan dipusatkan di penampungan Rawa Kepiting, Jakarta Timur, yang akan selesai dibangun tahun ini.

Menurut Kepala Dinas Peternakan DKI Edy Setiarto, Selasa, unggas ternak di permukiman yang dibiarkan liar diduga menjadi salah satu penyebab utama penularan virus flu burung. (cok/eca)

Sumber : Kompas Online

11 Kecamatan di Jakarta Rawan Flu Burung

Selasa, 15 April 2008 20:04 WIB

JAKARTA--MI: Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta menyatakan 11 kecamatan di Jakarta rawan flu burung. Di lokasi-lokasi itu petugas masih menemukan banyak unggas yang berkeliaran di kawasan permukiman.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Edy Setiarto di Balai Kota, Selasa (15/4). Ke-11 Kecamatan itu adalah Pesanggrahan dan Kebayoran Lama di Jaksel, Cakung, Pulo Gadung, Matraman, dan Duren Sawit (Jaktim), Cengkareng dan Kalideres (Jakbar), Johar Baru dan Senen (Jakpus) dan Cilincing (Jakut).

Edy mengklaim, kondisi saat ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. "Tahun 2007, jumlah kecamatan yang teridentifikasi rawan flu burung mencapai 19," ujarnya.

Sepanjang tahun ini, Pemprov DKI sudah memusnahkan 30.938 unggas. Tahun 2007, jumlah unggas yang dimusnahkan mencapai 78.471 ekor. Sementara unggas yang disertifikasi tahun ini mencapai 50.215 ekor, tahun lalu 68.484 ekor.

Untuk menekan penyebaran virus flu burung, Pemprov DKI akan memusatkan lokasi pemotongan dan penampungan unggas di enam lokasi rumah pemotongan unggas (RPU), yaitu di Rawa Kepiting, Cakung, dan Pulo Gadung di Jaktim, Srengseng (Jakbar), Jagakarsa (Jaksel) dan Marunda (Jakut).

RPU di Srengseng sudah beroperasi, sementara RPU Rawa Kepiting, Cakung dan Pulo Gadung masih dalam pembangunan. Sedangkan RPU Jagakarsa dan Marunda dalam proses pembebasan lahan.

Saat ini masih terdapat 219 tempat penampungan unggas dan 1.153 tempat pemotongan unggas yang tersebar di seluruh Jakarta. (BT/OL-06)

Sumber : Media Indonesia

Friday, April 11, 2008

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) in Brazil

10 April 2008 -- As of 28 March, 2008, the Brazilian health authorities have reported a national total of 120 570 cases of dengue including 647 dengue haemorrhagic fever (DHF) cases, with 48 deaths.

On 2 April 2008, the State of Rio de Janeiro reported 57 010 cases of dengue fever (DF) including 67 confirmed deaths and 58 deaths currently under investigation. Rio de Janeiro, where DEN-3 has been the predominant circulating serotype for the past 5 years since the major DEN-3 epidemic in 2002, is now experiencing the renewed circulation of DEN-2. This has led to an increase in severe dengue cases in children and about 50% of the deaths, so far, have been children of 0-13 years of age.

The Ministry of Health (MoH) is working closely with the Rio de Janeiro branch of the Centro de Informações Estratégicas em Vigilância em Saúde (CIEVS) to implement the required control measures and identify priority areas for intervention. The MoH has already mobilized health professionals to the federal hospitals of Rio de Janeiro to support patient management activities, including clinical case management and laboratory diagnosis.

Additionally public health and emergency services professionals have been recruited to assist community-based interventions. Vector control activities were implemented throughout the State and especially in the Municipality of Rio. The Fire Department, military, and health inspectors of Funasa (Fundacao Nacional de Saude, MoH) are assisting in these activities.

http://www.who.int/csr/don/2008_04_10/en/index.html

Thursday, April 10, 2008

Empat bulan pertama 2008 : 16 Kasus Positif Flu Burung dengan 13 orang Meninggal


Hingga Berakhirnya tahun 2007, Secara kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia masih mencapai 116 orang, 94 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematiannya (Case Fatality Rate = CFR) 81,03%.

Demikian data yang dirilis Pusat Komunikasi Publik dari Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI per 25 Desember 2007.

Dalam tahun 2008 serangan sporadis Flu Burung di Indonesia masih tetap berlangsung. Update terakhir WHO dalam websitenya http://www.who.int/ pertanggal 8 April 2008, Secara kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia telah mencapai 132 orang, 107 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematiannya (Case Fatality Rate = CFR) 81,06%.

Wednesday, April 9, 2008

Kapal Pesiar TS. Maxim Gorkiy Merapat di Pelabuhan Belawan

Kapal Merapat disambut dengan tari-tarian


Proses Kekarantinaan berupa pemberian ijin Karantina Kesehatan (Free Pratique) dilaksanakan oleh Musa Tarigan, SKM., H. Zulfan Anshary Nasution dan Uli Hasibuan, SE dari KKP Kelas II Medan

Kapal Pesiar TS. Maxim Gorkiy berbobot GT 24.220 yang diawaki 340 O rang Crew dan 35 Orang Staf, membawa Penumpang sebanyak 420 Orang telah merapat di dermaga Terminal Penumpang Pelabuhan BELAWAN pada jam 08.00 WIB. Kedatangan Kapal pesiar ini disambut para Stake Holder terkait antara lain: Komunitas Pelabuhan Laut yaitu CIQ (Custom, Imigration & Quarantine), Adpel, PT. Pelindo, Kapolres KP3 Belawan. Disamping itu terlihat juga beberapa Petugas Instansi lainnya seperti : Dinas Pariwisata Kota Medan dan Agen Pariwisata.
Para tamu sebanyak 420 orang tersebut berasal dari beberapa negara Eropa, dan sebelum turun mereka disambut dengan tari-tarian Melayu.
Direncanakan para turis tersebut akan berangkat sore ini menuju Phuket Thailand. Untuk mengisi acara di sumatera Utara, rombongan akan diarahkan ke berbagai objek-objek wisata di Kota Medan dan Berastagi (Desa Lingga Kabupaten Karo).

Menkes: Sampel Virus Flu Burung akan Diteliti Sendiri

08/04/2008 19:40 WIB


Surabaya - Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menolak mengirimkan sampel virus flu burung ke luar negeri. Virus-virus ini akan diteliti sendiri dengan membangun laboratorium standar internasional.

Menkes khawatir jika sampel virus dikirim ke luar negeri, bisa menjadi bumerang dan dipergunakan untuk senjata biologi.

"Kalau saya kirim untuk menjadi senjata biologi gimana," kata Menkes saat bedah buku miliknya yang berjudul "Saatnya Dunia Berubah. Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung" di Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Selasa (8/4/2008).

Fadilah Supari mengatakan dirinya menolak permintaan lembaga kesehatan dunia untuk mengirim sampel virus flu burung dari Indonesia, karena menurutnya virus di Indonesia dengan negara lain berbeda. Dan dia tidak peduli dengan pandangan orang lain dengan sikap tegas dirinya tersebut.

Akibat sikap beraninya ini, menteri lulusan UGM ini mengungkapkan dirinya 'diancam' kalau laboratorium milik Indonesia tidak sesuai dengan standar internasional.

"Saya tidak menyandera virus. Tapi akan kita teliti sendiri. Kita akan bangun laboratorium yang standar internasional," ungkapnya.

Dokter ahli jantung ini menjelaskan, virus yang dikirim ke luar negeri bisa saja digunakan untuk senjata biologi. Awalnya virus untuk membuat vaksin. Namun pada suatu saat ditemukan Sequencing DNA.

"Saya dapat informasi itu dari majalah yang diberitakan koran Singapura pada tahun 2006. Baca buku saya dong," ujarnya dengan nada tertawa. ( bdh / mly )

Sumber : Irawulan – detikcom

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/08/time/194004/idnews/920443/idkanal/10

Flu Burung : Riset Tak Terkoordinasi dengan Baik

Rabu, 9 April 2008 | 01:05 WIB

Jakarta, Kompas - Riset soal flu burung atau avian influenza pada unggas dan manusia hingga saat ini tidak terkoordinasi dengan baik. Setiap institusi atau lembaga penelitian melakukan riset sendiri-sendiri tanpa koordinasi sehingga kurang optimal manfaat penelitiannya.

Selain kurang koordinasi, kucuran dana juga sangat terbatas sehingga sejumlah peneliti menjalin kerja sama dengan lembaga penelitian di luar negeri. Padahal, hasil penelitian yang aplikatif sudah sangat mendesak di tengah merebaknya virus flu burung atau H5N1 yang telah menyebabkan meninggalnya 107 orang Indonesia. Jumlah kematian ini terbesar di seluruh dunia.

”Forum komunikasi peneliti H5N1 pada manusia dan unggas perlu dibentuk untuk saling tukar informasi. Ini untuk mewujudkan kemandirian riset,” kata Koordinator Unit Penyakit Berpotensi Wabah dan Hepatitis Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David Handojo Muljono di Jakarta, Selasa (8/4).

Secara terpisah Ketua Panel Ahli Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Amin Soebandrio mengakui, selama ini para peneliti flu burung pada unggas dan manusia tidak berinteraksi. ”Sejak awal pengembangan riset terbentur kendala terbatasnya fasilitas, terutama terbatasnya laboratorium BSL-3 (biological safety level-3),” ujarnya. BSL-3 adalah laboratorium dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi untuk penelitian virus-virus yang sangat berbahaya.

Menurut Amin, komunikasi antara peneliti flu burung pada manusia dan unggas diperlukan untuk mengetahui sejauh mana perubahan genetik virus itu. Pada sejumlah kasus ternyata genetik dari virus AI pada unggas berbeda dengan manusia.

”Kami sampai pada kesimpulan, virus flu burung baru bisa menular pada manusia jika terjadi perubahan atau mutasi gen,” kata Amin.

Mengingat pentingnya jejaring antarpeneliti, lanjut Amin, sejak akhir tahun lalu Komnas FBPI mengoordinasi pertemuan antarpeneliti flu burung pada unggas dan manusia untuk berbagi informasi secara berkala ataupun jika ada kasus.

Dilaporkan ke Depkes

Menurut David Handojo, berdasarkan nota kesepahaman dengan Departemen Kesehatan, Lembaga Eijkman berfungsi mengonfirmasi diagnosis infeksi virus H5N1 pada manusia untuk menganalisis adanya mutasi dan tanda-tanda aneh pada sampel virus lewat pengurutan DNA.

”Lembaga ini juga mengkaji risiko penilaian infeksi virus H5N1 dengan karakterisasi virus dan mengkaji risiko dari resistensi virus terhadap berbagai obat antivirus,” ujarnya.

Seluruh hasil riset itu dilaporkan ke Departemen Kesehatan sebagai dasar pengambilan kebijakan pengendalian flu burung pada manusia. Untuk mendukung kegiatan riset, pemerintah mendanai pembangunan laboratorium dengan tingkat keamanan biologis (BSL)-3, termasuk biaya pemeliharaannya.

Ratusan isolat virus AI

Secara terpisah Elly Siregar, Koordinator Unit Pengendalian Penyakit Avian Influenza Pusat Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian mengatakan, sejak merebaknya kasus avian influensa (AI) pada tahun 2004, peneliti di Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian telah melakukan pemantauan dan pengumpulan isolat virus yang ditemukan di empat sektor peternakan unggas di Indonesia. Hingga saat ini telah ada ratusan isolat virus AI yang dapat dikumpulkan dari peternakan skala rumah tangga hingga industri besar.

Program tersebut dilaksanakan Departemen Pertanian bekerja sama dengan laboratorium referensi milik International Office of Epizootics (IOE) yang berpusat di Geelong, Australia, dan Jaringan Pakar Flu Unggas Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Di tingkat nasional Departemen Pertanian melibatkan peneliti dari Balai Pengujian dan Penyidikan Veteriner di bawah Balai Besar Penelitian Veteriner yang berjumlah tujuh di seluruh Indonesia.

Pemetaan virus secara genetik juga dilakukan di Balai Besar Penelitian Veteriner dalam jumlah terbatas. Kerja sama dengan Laboratorium referensi IOE diperlukan untuk mempercepat pekerjaan atau tugas melakukan antigenik dan pemetaan genetik serta challenge test (uji tantang).

Sementara itu, terbatasnya dana penelitian menyebabkan peneliti menjalin kerja sama dengan lembaga penelitian di luar negeri. Seperti dilakukan peneliti Ines Irene Atmosukarto dari Pusat Penelitian Bioteknologi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mengembangkan penelitian vaksin flu burung atas pembiayaan sebuah perusahaan bioteknologi Australia.

”Saya ada peluang untuk pengembangan vaksin flu burung dengan menggabungkan teknologi dari Australia dan Indonesia. Untuk penelitiannya di Australia karena di Indonesia tidak ada yang mendanai,” kata Ines Irene. Menurut Ines, riset vaksin flu burung di Canberra sekarang dijadwalkan akan berakhir pada akhir tahun 2008.

Secara terpisah Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Jan Sopaheluwakan menyatakan, pengalihan riset vaksin atau antivirus burung ke luar negeri memang menjadi persoalan rumit. Penelitian seperti itu tidak bisa semata-mata dilihat dari sudut nasionalisme harus dilakukan di Tanah Air.

Otoritas kuat

Ketua Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia (GPPI) Anton J Supit menegaskan, lemahnya implementasi penanganan penanggulangan flu burung karena tidak adanya otoritas yang kuat untuk menjalankan perencanaan yang telah dibuat. Akibatnya, berbagai program penanggulangan flu burung tidak berjalan.

Menurut Anton Supit, pemerintah telah membentuk komnas penanggulangan AI. Namun, kewenangan komnas ini amat dibatasi sehingga hanya bisa membuat perencanaan dan imbauan.

”Padahal dalam penanganan penyebaran virus flu burung harus melalui kerja lintasdepartemen. Akhirnya koordinasi tidak berjalan, apalagi dalam era otonomi daerah seperti sekarang,” katanya.

Oleh karena itu, kata Anton Supit, pemerintah harus memperkuat peran Komnas FBPI. Kewenangan harus diberikan penuh kepada lembaga ini untuk mengendalikan flu burung. Pejabat di departemen-departemen terkait serta di daerah harus tunduk dan patuh pada lembaga ini. (EVY/NAW/YUN/MAS)

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.09.01055014&channel=2&mn=154&idx=154

Tuesday, April 8, 2008

Masalah Flu Burung : Otonomi Daerah Turut Hambat Penanggulangan

Otonomi Daerah Turut Hambat Penanggulangan

Selasa, 8 April 2008 | 00:31 WIB

Jakarta, Kompas - Upaya menanggulangi penyebaran virus flu burung terhambat oleh banyak faktor, termasuk otonomi daerah atau otda. Sejumlah kepala daerah beranggapan flu burung merupakan masalah nasional sehingga sumber dana untuk upaya penanggulangan mestinya dari pemerintah pusat.

”Tidak semua pemerintah daerah mematuhi aturan dan program pengendalian flu burung yang sudah digariskan pemerintah pusat,” kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, seusai memberi ceramah soal virus flu burung di Kampus FISIP Universitas Indonesia, Senin (7/4).

Secara terpisah, Direktur Kesehatan Hewan Departemen Pertanian Musny Suatmodjo mengatakan, sejumlah daerah menganggap flu burung merupakan persoalan nasional sehingga mereka kurang serius menanganinya. ”Harus diakui, diperlukan pemimpin yang kuat dalam penanggulangan flu burung agar bisa dikurangi penyebarannya,” kata Musny.

Menurut dia, pemerintah pusat tidak bisa memaksa karena wilayah, unggas, peternak, dan vaksinasi semuanya sudah diserahkan ke daerah.

Ditanya apakah mungkin memaksa daerah dengan memberikan sanksi dalam bentuk pemotongan anggaran pertanian bagi daerah yang tidak mau menjalankan. Musny mengatakan, hal tersebut sulit dilakukan karena menyangkut kewenangan instansi lain.

Sementara itu, Ketua Umum Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don Utoyo mengatakan, upaya penanggulangan flu burung, dari sisi peraturan, sudah bagus. Misalnya saja ada pengaturan cara beternak yang baik, pola biosecurity, dan pengaturan lalu lintas unggas.

”Tetapi, dalam implementasinya kurang. Berbagai aturan yang dibuat tidak dijalankan dengan baik,” kata Don Utoyo.

Para pelaku usaha di perunggasan sudah berulang kali meminta kepada pemerintah agar flu burung mendapat prioritas penanganan secara cerdik. ”Namun, oleh pihak terkait (Departemen Pertanian) kurang dilakukan,” katanya.

Don Utoyo mencontohkan, dalam soal disinveksi massal, misalnya, hanya dilakukan secara sporadis. Vaksinasi juga tidak dilakukan secara tepat guna karena belum ada peta jenis virus di setiap wilayah. Pemerintah juga tidak bisa memberikan rekomendasi karena tidak punya virus maping.

”Akibatnya, vaksin yang digunakan bermacam-macam. Sekarang ini bahkan ada lebih dari 20 vaksin yang ada. Padahal belum tentu cocok dengan virus di lapangan,” katanya.

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengakui pengendalian penyakit flu burung di Indonesia belum berjalan optimal, terutama penanganan pada unggas sebagai sumber penularan virus itu. ”Manusia adalah korban terakhir penyebaran flu burung,” ujarnya.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Nyoman Kandun menambahkan rendahnya pemahaman masyarakat pada gejala dini penyakit flu burung turut memicu tingginya tingkat kematian karena penyakit ini. ”Ada pasien yang menganggap seperti terkena penyakit panas biasa,”ujarnya. (MAS/EVY/NAW)

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.08.00312061&channel=2&mn=154&idx=154

Monday, April 7, 2008

Melindungi Kesehatan Masyarakat Dari Dampak Perubahan Iklim

Depkes OL, 07 Apr 2008

Perubahan iklim merupakan tantangan yang paling serius saat ini. Dampak perubahan iklim sudah ada didepan mata kita. Bukti ini terlihat dari munculnya fenomena peningkatan suhu global, ketidakpastian musim, kekeringan yang berkepanjangan, permukaan es kutub utara yang semakin tipis dan kebakaran hutan. Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan Dr.dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) pada seminar Sehari "Protecting Health From Climate Change" yang dibacakan Dirjen P2PL Depkes dr. I. Nyoman Kandun, MPH di Jakarta 7 April 2008.
Seminar diselenggarakan dalam memperingati Hari Kesehatan Sedunia ke-60 tanggal 7 April 2008. Tema yang dipilih adalah “Protecting Health from Climate Change”. Sedangkan Indonesia menetapkan tema “Perlingan Kesehatan dari Perubahan Iklim”.
Perubahan suhu yang ekstrim berhubungan dengan kematian dan kejadian kesakitan seperti heatstroke, frozenbyte, sun-burn, dan stres. Perubahan suhu, kelembaban dan kecepatan angin juga dapat meningkatkan populasi, memperpanjang umur dam memperluas penyebaran vektor sehingga berdampak terhadap peningkatan kasus penyakit menular seperti : malaria, dengue yellow fever, schistosomiasis, filariasis dan pes, ujar Menkes.
Menkes menambahkan, perubahan iklim menyebabkan terjadinya bencana banjir, tsunami, kekeringan, badai, tanah longsor dsb, sehingga mempengaruhi keterbatasan air bersih, kebutuhan sanitasi dasar, ketersediaan pangan yang akan menimbulkan masalah gizi dan menyebabklan rentan terhadap penyakit seperti water birne diseases dan food borne diseases.
Perubahan iklim juga mempengaruhi radiasi ultraviolet dan pencemaran udara yang dapat menimbulkan reaksi alergis dan infeksi karena debu dan bahan kimia yang terjadi sebagai pengaruh cuaca atau polusi udara seperti penyakit-penyakit saluran pernafasan. Berbagai penyakit diduga berkaitan dengan perubahan cuaca antala lain stroke, meningitis, katarak dan lain-lain, ujar Menkes.
Dampak perubahan iklim dapat dilihat dari batas musim hujan dan kemarau yang tidak lagi pasti. Suhu udara samakin panas, kemarau sering menjadi sangat panjang dan lamanya curah hujan menimbulkan banjir serta longsor. Gejolak alam yang dikenal dengan perubahan iklim ini mempengaruhi daya dukung alam terhadap kelangsungan hidup manusia.
Banjir meningkatkan risiko penyebaran leptospirosis, diare, kolera. Namun masalah perubahan iklim tidak sekadar banjir. Kenaikan suhu udara (di Indonesia mencapai 1°C di tahun 1998) menyebabkan masa inkubasi vekyor semakin pendek sehingga nyamuk malaria dan demam berdarah dapat berkembang biak lebih cepat. Jika tahun 1998 di Jawa-Bali terdapat 18 kasus Malaria per 100.000 penduduk, maka tahun 2000 meningkat menjadi 48 per 100.000 penduduk. Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) juga meningkat setiap tahunnya, meski persentase kasus yang meninggal dapat terus diperkecil dengan penanganan medis.
Perubahan alam juga mempengaruhi pola perilaku dan perkembangan hewan yang berdampak pada peningkatan kasus penyakit yang penyebarannya terjadi melalui hewan. Suhu, kelembaban dan kecepatan angin dapat meningkatkan populasi, memperpanjang umur, dan memperluas penyebaran hewan pembawa penyakit. Sebagai contoh, daerah hidup nyamuk meluas ke dataran yang lebih tinggi. Musim kemarau panjang menyebabkan tikus hutan berpindah ke pemukiman, sehingga meningkatkan kemungkinan penyebaran pes.
Perubahan iklim juga mengganggu ketersediaan pangan. Peningkatan permukaan air laut karena melelehnya es di kutub, merusak ekosistem hutan bakau, menyebabkan intrusi air laut ke daratan sehingga air tawar semakin sulit didapat, serta mempersempit daratan yang digunakan untuk sektor pertanian. Air tawar semakin sulit diperoleh, dan kesulitan memperoleh air bersih menambah masalah dalam memerangi penyakit yang berhubungan dengan sanitasi.
Pemanasan air laut serta makin seringnya terjadi badai laut mempengaruhi sektor perikanan sebagai salah satu sumber pangan. Keterbatasan bahan pangan juga diakibatkan rusaknya siklus tanaman dan panen, selain kemarau panjang, banjir, dan longsor. Keterbatasan pangan tentunya menyumbang pada asupan gizi, kemudian kesehatan dan produktivitas penduduk. Upaya manusia membuka hutan untuk bertani, malah menyumbang pada perubahan iklim, karena hutan berfungsi menyerap gas rumah kaca (GRK) dan mengubahnya menjadi O2.
GRK adalah gas yang menghadang dan menyerap gelombang cahaya yang seharusnya memantul ke angkasa luar, menyebabkan radiasi matahari terperangkap di atmosfer bumi, dan meningkatkan suhu bumi. Tiga GRK utama adalah Karbondioksida (CO2), Dinitroksida (N2O), dan Metana (CH4). CO2 dan N2O terutama dihasilkan oleh pembakaran minyak bumi, gas dan batubara, serta kebakaran hutan yang diperlukan bagi energi listrik, menggerakkan transportasi dan industri. Polusi CO2 dan N2O sendiri sebenarnya telah memperburuk daya dukung lingkungan terhadap kesehatan, menimbulkan gangguan kesehatan dari gangguan pernafasan hingga stroke, bahkan kanker.
Metana adalah hasil proses pada sawah tergenang, pupuk, serta pengolahan sisa pertanian. Kotoran ternak, bahkan hembusan nafas ternak secara alami juga melepaskan Metana ke udara. Metana juga dilepaskan dari proses alami sampah, dan CO2 dihasilkan pembakaran sampah.
Melindungi diri dari perubahan iklim dibagi atas upaya mitigasi (minimalisasi penyebab dan dampak) dan adaptasi (menanggulangi risiko kesehatan), yang seringkali tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hemat adalah salah satu kuncinya. Reduksi pembakaran bahan bakar fosil dengan menghemat pemakaian listrik dan kendaraan bermotor. Hemat bahan pangan memperkecil produksi metan. Minimalisasi limbah dapat dilakukan dengan penghematan penggunaan kertas, plastik, dan melakukan daur ulang. Pemisahan sampah organik dan non-organik adalah hal yang mudah dilakukan namun sulit dimasyarakatkan. Ada baiknya kini mulai dimasyarakatkan.
Demi paru-paru kita, hijaukan lingkungan dengan pepohonan, jaga hutan, dan hentikan pembakaran hutan. Gunakan kelambu, hindari gigitan nyamuk. Cermati celah-celah dimana nyamuk bisa berkembang biak, bersihkan bersama dengan membersihkan lingkungan. Membersihkan lingkungan dapat memperkecil kemungkinan berkembang biaknya serangga dan hewan yang dapat menyebarkan penyakit. Ajak semua saudara dan tetangga bekerja bakti. Ajak semua untuk melindungi diri dari perubahan iklim.
Dalam Workshop akan disajikan 5 topik kaitannya dengan perubahan iklin, yaitu : Dampak perubahan iklim pada tataran global, regional, nasional dan masyarakat akan disampaika pembicaraan dari WHO Perwakilan Indonesia. Kesehatan dan perubahan iklim di Indonesia akan disampaikan Dirjen PP&PL. Peningkatan Kepedulian dan Pemahaman masyatakat terhadap dampak dari perubahan iklim akan disampaikan Erna Witoelar. Tantangan Pemenuhan Gizi Masyarakat akibat Perubahan Iklim akan disampaikan oleh Dirjen Ketahanan Pangan Deptan dan Skema jangka panjang dan jangka menengah antisipasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat. Akan disampaikan pembicara dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan.

Kebijakan Mengatasi Flu Burung Tidak Jalan

Korban Terus Bertambah, Wilayah Sebaran Meluas

Senin, 7 April 2008 | 08:49 WIB

Jakarta, Kompas - Berbagai kebijakan pemerintah untuk menanggulangi penyebaran virus flu burung atau H5N1 tidak berjalan di tingkat operasional. Akibatnya, korban meninggal terus berjatuhan, bahkan Indonesia menempati urutan pertama korban flu burung yang paling banyak di dunia, setidaknya 107 orang meninggal.

China dan Vietnam, dua negara yang lebih dahulu terjangkit virus flu burung atau avian influenza (AI) pada tahun 2003, kini bahkan relatif bisa mengendalikan penyebaran virus tersebut. Jumlah korban terinfeksi dan meninggal di bawah Indonesia.

Sebaliknya, di Indonesia, korban terinfeksi dan meninggal terus bertambah, termasuk terjadinya kasus baru pada pekan ini di Padang (Sumatera Barat), Depok (Jawa Barat), dan Tegal (Jawa Tengah).

”Sejumlah kebijakan pemerintah tidak serius dilaksanakan,” kata anggota Panel Ahli Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI), Mangku Sitepu.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, misalnya, telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 5 tahun 2007 tentang Pengendalian Unggas. Pergub itu melarang pemeliharaan unggas ternak di permukiman dan mewajibkan sertifikasi unggas hias. Diharuskan pula melakukan relokasi tempat peternakan dan pemotongan unggas serta mengatur lalu lintas unggas hias dari daerah lain.

Namun, hingga Minggu (6/4), kebijakan itu tak berjalan. Masih banyak unggas yang berkeliaran di permukiman dan masih marak usaha pemotongan unggas di permukiman padat penduduk. Razia dari petugas kelurahan dan dinas peternakan juga tidak dilakukan secara berkelanjutan.

Relokasi tempat peternakan dan pemotongan unggas ternak di Rawa Kepiting, Jakarta Timur, misalnya, belum berjalan.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo memperkirakan, relokasi seluruh peternakan dan tempat pemotongan unggas akan selesai 2010 sesuai amanat pergub. Selain masalah pembangunan lokasi penampungan unggas yang baru, masalah yang muncul adalah sosialisasi pada masyarakat.

Tidak serius

Mangku Sitepu menyatakan, merebaknya kasus flu burung disebabkan pemerintah kurang memfokuskan pengendalian penyakit ini pada unggas sebagai sumber penularan. Hal ini ditandai dengan belum optimalnya pencegahan penularan AI antarunggas serta lemahnya pengawasan lalu lintas perdagangan unggas.

Ketua Pelaksana Harian Komnas FBPI Bayu Krisnamurthi menyatakan, merebaknya kembali kasus flu burung di sejumlah tempat perlu diwaspadai. ”Jika dilihat beberapa tahun terakhir ini, siklus peningkatan kasus flu burung dalam setahun hampir serupa. Kasus meningkat pada Januari hingga akhir Maret, mulai turun pada April,” kata Bayu.

Sejauh ini, lanjut Bayu, pengendalian AI terhambat oleh terbatasnya pengetahuan tentang flu burung, terutama karakter virus, model penularan virus antarunggas, dan faktor utama penyebab seseorang terinfeksi flu burung. ”Departemen Pertanian juga masih mencari vaksin mana yang paling cocok untuk unggas,” ujarnya.

Selain itu, sampai sekarang belum terbentuk sistem nasional yang menyeluruh mengenai pengendalian penyakit yang bersumber pada binatang (zoonosis).

Belum dimusnahkan

Dari Kota Depok dilaporkan, Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il belum memutuskan untuk memusnahkan unggas di lingkungan tempat tinggal Mulyanti, pasien suspek flu burung yang meninggal dunia, Minggu malam. Langkah itu baru akan dipikirkan setelah adanya hasil tes laboratorium terakhir di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, yang dijadwalkan akan keluar Senin ini.

”Kami masih menunggu sampai besok (Senin), setelah hasil tes yang ketiga diketahui,” kata Nur Mahmudi seusai melayat ke rumah duka.

Dari Padang dilaporkan, dua pasien terduga flu burung, masing-masing Etriani (29) dan Afifa (2), yang tengah dirawat di RSUP Dr M Djamil, Padang, masih menunggu satu hasil pemeriksaan paru-paru untuk memastikan keduanya terinfeksi virus flu burung atau tidak.

Sebelumnya, satu anak balita bernama Alifa Qonza (21 bulan) sudah dinyatakan positif terinfeksi virus flu burung. Hingga kini korban masih dirawat di ruang isolasi RSUP Dr M Djamil. Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat Rosnini Savitri, Minggu, mengatakan, tim medis di rumah sakit masih terus memantau perkembangan ketiga pasien tersebut. (ECA/EVY/MUK/THY/ART/WIE)

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.07.08490317&channel=2&mn=154&idx=154

Saturday, April 5, 2008

Lakukan Vaksinasi Demam Kuning Sebelum ke Brasilia

Jakarta, Depkes OL : 04 Apr 2008

Penyakit Demam kuning merupakan wabah yang mematikan di Brasilia. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Brasilia masih termasuk di dalam negara endemis penyakit ini. Sejak awal Januari 2008, di Brasilia tercatat 24 kasus Yellow Fever (Demam Kuning), 3 diantaranya meninggal dunia.

Pemerintah Brasilia mengimbau kepada siapa saja yang yang akan berkunjung ke Brasilia agar diimunisasi Demam Kuning, minimal 10 hari sebelum melakukan perjalanan yang dibuktikan dengan Sertifikat Internasional Vaksinasi demam kuning. Demikian Nota Teknis Kementerian Kesehatan Brasilia yang disampaikan kepada Misi Diplomatik dan Perwakilan Organisasi Internasional di Brasilia, termasuk Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Pemberian vaksinasi Demam Kuning dianjurkan bagi semua penduduk dan semua orang yang akan berkunjung ke Brasilia yang berusia lebih dari 6 bulan. Vaksinasi ini tidak dianjurkan bagi anak yang berusia kurang dari 6 bulan dan orang dengan sistem kekebalan tubuh bermasalah akibat penyakit seperti neoplasty, AIDS, atau infeksi karena HIV. Sedangkan untuk wanita hamil harus mendapat ijin dokter.

Sejak tahun 2003, Pemerintah Brasilia telah menerapkan pengawasan terhadap wabah penyakit yang disebarkan oleh hewan, termasuk Demam Kuning . Caranya dengan melakukan deteksi secara cepat dan tepat pada kera yang mati dalam kondisi mencurigakan. Dengan strategi ini ditambah pengidentifikasian daerah rawan penyebaran virus serta vaksinasi rutin kepada masyarakat setempat, telah berhasil menurunkan 91% kasus Demam kuning antara tahun 2003 – 2007.

Kewaspadaan dan vaksinasi telah ditingkatkan dan dilakukan khususnya pada masyarakat di daerah negara-negara bagian yang berisiko terkena Demam Kuning . Namun kemungkinan terjangkit penyakit ini dapat terjadi pada orang yang tidak tinggal di daerah endemis termasuk wisatawan asing dan mereka yang berkunjung ke hutan-hutan di Brasilia. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan setempat menganjurkan vaksinasi Demam kuning bagi seluruh penduduk termasuk wisatawan asing khususnya yang akan berkunjung ke negera bagian dan distrik di wilayah Utara dan Barat Daya Brasilia, distrik di negara bagian Maranhãodan Minas Gerais, distrik di Selatan negara bagian Piaui, Barat dan Selatan negara bagian Bahia, Utara Negara Bagian Espirito Santo, Barat Laut Negara Bagian São Paulo dan seluruh distrik di Barat Negara Bagian Paranã, Santa Catarina dan Rio Grande do Sul.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3071

Thursday, April 3, 2008

Waspadai Flu Burung

Jakarta, 31 Mar 2008

Masyarakat harus awas dan tetap diingatkan terhadap adanya unggas yang bebas berkeliaran di sekitar rumah atau di lingkungan yang dikunjungi. Unggas perlu dikandangkan serta di jaga kebersihan kandangnya. Jika tampak unggas yang sakit atau mati, hindari kontak dan segera laporkan pada petugas peternakan atau kepala desa setempat. Jika ada warga yang menampakkan gejala seperti gejala influenza (demam, suhu tubuh tinggi, batuk) apalagi jika di lingkungan sekitar terdapat unggas, segera periksakan diri ke rumah sakit pemerintah setempat. Jangan luput terangkan adanya unggas yang sakit atau mati kepada petugas kesehatan yang memberikan pelayanan. Upaya waspada dan tanggap masyarakat menjadi kunci penanggulangan Flu Burung pada manusia.

AGY (L, 15) warga Kampung Cimerta, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat menampakkan gejala demam dan sesak nafas sejak 19 Maret 2008, sebelum akhirnya dibawa ke RSUD Subang, 22 Maret 2008. Diketahui terdapat 3 ekor ayam mati di lingkungannya. AGY kemudian dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung tanggal 26 Maret 2007 dalam keadaan tidak sadar, dan meninggal hari itu juga. Dari hasil pemeriksaan laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), AGY dinyatakan positif terinfeksi virus H5N1. Hasil ini dikuatkan oleh pemeriksaan laboratorium Lembaga Eijkman, Jakarta.

Sementara itu, di bagian lain propinsi Jawa Barat, ZAH (P, 12) warga Harapan Baru, Kota Bekasi Barat juga menampakkan gejala demam dan batuk sejak 19 Maret 2008. ZAH baru dibawa ke RS Penyakit Infeksi Suliati Saroso Jakarta pada tanggal 27 Maret 2008 dan meninggal pada tanggal 28 Maret 2008. Oleh kedua laboratorium yang sama, ZAH juga dinyatakan positif terinfeksi H5N1, virus Flu Burung.

Di Bukit Tinggi ALQ (P, 1 tahun) positif flu burung adalah warga Lembah Ngarai Sianok. Selain demam, batuk, pilek dan sesak napas, ALQ juga mengalami diare. Gejala awal mulai tampak pada tanggal 17 Maret 2008 dan ALQ dibawa ke RSUP Stroke Bukittinggi (22/03/08) sebelum dirawat di RS M. Djamil Padang tanggal 24 Maret 2008. Masih dirawat di rumah sakit tersebut, kondisi AQL kini stabil tanpa ventilator.

Tim Departemen Kesehatan yang merupakan tim terpadu dengan Deptan telah turun ke lapangan untuk melakukan investigasi lanjut terhadap riwayat kontak dan penyakit kasus-kasus Flu Burung tersebut. Puskesmas dan rumah sakit harus lebih awas terhadap pasien dengan gejala serupa influenza, dan masyarakat juga diminta untuk tanggap membawa anggota keluarga yang menampakkan gejala influenza ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat, apalagi bila ada unggas mati mendadak disekitar rumahnya.

Hingga saat ini, penyakit Flu Burung masih merupakan penyakit yang ditularkan dari unggas kepada manusia. Memutus kontak dengan unggas serta pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, hingga kini adalah upaya yang perlu ditingkatkan terus di masyarakat sendiri untuk mencegah dirinya dari terinfeksi virus H5N1. Upayakan selalu mencuci tangan dan kaki dengan air dan sabun setiap beraktivitas dan habis keluar rumah. Pesan ini perlu diberikan dan dicontohkan orang tua pada anak-anak, yang lebih kerap berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah. Sampaikan pada anak-anak untuk tidak bermain dengan unggas, apalagi memengang bangkai unggas.

Jaga juga kebersihan peralatan masak dan makan dengan mencuci peralatan tersebut dengan air dan sabun. Unggas yang sehat aman dikonsumsi jika dibersihkan dan dimasak sampai matang. Selain itu, bagi masyarakat umum, pisahkan unggas dari manusia. Pisahkan unggas baru dari unggas lama, setidaknya selama 2 minggu. Bagi mereka yang memelihara unggas, jaga kebersihan kandang unggas dengan cara mencucinya menggunakan desinfektan atau pemutih pakaian.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 5223002, 52907421 atau e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3065

Thursday, March 27, 2008

Penyebaran virus HIV /AIDS : Sudah 200 Ribu Orang Terkena Virus Mematikan itu

Penyebaran virus HIV/AIDS kini sangat mengkhawatirkan, karena sudah menyebar di 33 provinsi di Indonesia. Paling dominan penularannya melalui hubungan seks bebas dan narkoba suntik, terutama di wilayah Pulau Jawa. "Penanganan HIV/AIDS oleh pemerintah pusat sudah banyak dan sangat responsif. Tapi pemerintah daerah belum menunjukkan komitmennya secara maksimal," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Dr Nafsiah Mboi di Serang, Banten, Jumat (14/3).

Ditemui di sela-sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) KPA se-Indonesia di Serang, Banten, Nafsiah mengatakan, hingga saat ini diperkirakan lebih dari 200 ribu orang di Indonesia terkena virus mematikan tersebut. Sekitar tahun 2006 saja sudah ada 193 ribu orang penderita HIV/AID atau orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Uniknya, sebagian diantaranya masih belum mengetahui kalau dirinya sudah terkena penyakit tersebut.

Penderita HIV/AIDS, menimpa kalangan remaja berusia 20 sampai 29 tahun. Sedangkan penularannya paling dominan melalui narkoba yang menggunakan jarum suntik dan seks bebas. Bahkan, kecenderungan ke depan penyebaran virus tersebut akan terus bertambah, terutama pada kaum laki-laki yang melakukan seks bebas atau berganti-ganti pasangan.

Dalam upaya pencegahan penularan melalui narkoba suntik, kata Nafisah, ada beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jatim, Yogyakarta, Bali, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara sudah melakukan pelayanan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) --- memberikan Metadon sejenis narkoba sintesis kelas dua dengan sekali suntik dalam sehari, namun tidak menyebabkan kecanduan. Tujuannya untuk melakukan terapi bertahap bagi pengguna narkoba suntik tersebut.

Ketua Kordinator Wilayah KPA Jawa-Bali, Inang Winarso mengatakan, dari 220 ribu orang pengguna narkoba suntik, 46 ribu orang diantaranya sudah masuk dalam program pencegahan melalui PTRM. Seperti di Jawa Barat, dari 80 persen penderita HIV/ AIDS yang menggunkan narkoba suntik, sudah menurun menjadi 20 persen.

Di Provinsi Banten, kata Winarso, ada sekitar 6.950 orang tekena virus HIV, namun baru sekitar 1000 orang yang terungkap. Dengan demikian, masih ada 5.500 orang yang belum diketahui termasuk ribuan yang menggunakan narkoba suntik. Sedangkan di seluruh Indonesia, ada 24 titik lokasi untuk program PTRM. Paling banyak berada di DKI Jakarta, 11 lokasi, Jawa Barat tiga dan di Banten belum ada. (ANT/BEC)

Sumber : http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.03.15.00134131&channel=1&mn=2&idx=97

Virus Flu Burung Terancam Resisten di Indonesia

27/03/2008 11:22 WIB

Gede Suardana - detikcom

Badung - Oseltamivir atau tamiflu merupakan obat flu burung yang selama ini digunakan baik di Indonesia maupun negara-negara lain. Namun tamiflu ini sudah resisten di Vietnam dan Hongkong. Di Indonesia, virus flu burung terancam resisten terhadap obat ini.

"Di Indonesia kita identifikasi adanya perubahan. Dari sudut molekular kalau kita teliti memang ada sedikit perubahan dari aslinya. Hingga itu mengarah kepada kemungkinan adanya resisten," kata Deputi Bidang Pengembangan Sistem Iptek Nasional Kementerian Negara Riset dan Teknologi Amin Soebandrio.

Hal itu disampaikan dia dalam pertemuan tahunan soal flu burung ke-enam di Hotel Wastin Nusa Dua, Badung, Bali, Kamis (27/3/2008).

Menurut Amin, resisten terjadi karena penggunaan tamiflu yang banyak sekali dan dosisnya yang kurang. Karenanya, tidak bisa membunuh virus malah menjadikan virusnya terlatih sehingga tambah kuat.

"Untuk itu harus kita cegah. Penggunaan tamiflu harus kita kontrol," ujarnya.

Amin mengatakan, ditemukan juga beberapa perubahan genetik ke mutasi. Dari uji coba obatnya belum ada bukti resisten. Tetapi dilihat dari rangkaian genetiknya virus H5N1 sudah mengarah pada kemungkinan terjadinya resistennya. ( ziz / nvt )

Sumber :

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/27/time/112256/idnews/914180/idkanal/10

Angka Putus Berobat Penderita Penyakit menular Tuberkulosis Masih Tinggi

Kamis, 27 Maret 2008 | 00:51 WIB

Jakarta, Kompas - Strategi DOTS—pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung—pada penderita tuberkulosis belum banyak diterapkan di berbagai rumah sakit di Tanah Air. Akibatnya, secara nasional angka putus berobat pasien TB di rumah sakit mencapai 40 persen. Padahal, pengobatan yang tidak tuntas meningkatkan risiko resistensi kuman itu.

Menurut Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid W Husain dalam sambutan tertulis pada peresmian ruang TB DOTS anak RS Persahabatan, Selasa (26/3) di Jakarta, baru 30 persen rumah sakit di Indonesia menerapkan DOTS.

RS Persahabatan menerapkan strategi itu dan setiap tahun melayani sekira 3.000 penderita baru TB. Menurut Ketua Tim DOTS RS Persahabatan Erlina Burhan, semula angka putus berobat di RS itu 36 persen. Setelah strategi DOTS diterapkan, angka itu menjadi 3,9 persen. Hal ini tercapai melalui diskusi kelompok dengan penderita dan keluarganya, serta membangun jejaring kerja dengan puskesmas.

Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka kasus TB di Indonesia berada di urutan ketiga tertinggi di dunia setelah India dan China, dengan jumlah penderita sekira 539.000 dan meninggal 101.000 per tahun. Indonesia, China, dan India memberi kontribusi 50 persen dari seluruh kasus TB di dunia. Pihak WHO menyatakan, strategi DOTS sebagai intervensi kesehatan paling efektif dengan melakukan integrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar.

”Permasalahan yang memengaruhi pelaksanaan strategi pengendalian TB saat ini antara lain meningkatnya jumlah warga miskin, komitmen politik dan pendanaan tidak memadai, pelayanan kurang terakses masyarakat,” kata Direktur Bina Penunjang Medik Depkes Abdul Rival.

Ini diperparah oleh meningkatnya kasus HIV/AIDS, koinfeksi TB, serta kekebalan ganda kuman penyakit itu terhadap obat anti-TB (multidrug resistance).

Terpantau 41 persen

Sementara itu, Dinas Kesehatan Lampung memastikan 4.522 orang (41 persen) dari perkiraan total 11.174 penderita TB ditemukan dan disembuhkan. Kini Dinas Kesehatan Lampung menargetkan menemukan 11.000 penderita dan membantu menekan penyebaran TB dan membantu menyembuhkan tahun ini.

Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Lampung Elvi Suryati, Rabu, mengatakan, rendahnya temuan akibat rendahnya kepedulian masyarakat mengawasi dan mengobati penderita TB.

Menurut Elvi, upaya menemukan khususnya penderita basil tahan asam (BTA) positif yang bisa menularkan kuman mycrobacterium tuberculosis lewat dahak harus terus dilakukan. Berdasar perhitungan jumlah penderita TB per 100.000 penduduk, jumlah penderita di Lampung lebih besar daripada nasional.

Di Lampung, setiap 100.000 penduduk ditemukan 160 penderita BTA positif. Secara nasional ditemukan 107 penderita BTA positif. (EVY/HLN)

Sumber : http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.27.00511460&channel=2&mn=156&idx=156

Wednesday, March 26, 2008

Seputar penderita penyakit menular mengikuti shalat berjamaah

Stabat Rabu, 26 Maret 2008 00:55 WIB
Sebaiknya Lakukan Pendekatan Persuasif PDF Cetak E-mail


Sejumlah ustadz, Selasa (25/3) memberikan tanggapan seputar perlu tidaknya penderita penyakit menular, seperti penyakit tuberkulosis (TB), mengikuti shalat berjamaah. Tanggapan mereka bervariasi antara tidak adanya larangan dalam Al Quran dan Hadis dengan upaya mencegah penularan.

Ustadz HM Sofyan LC, MA, salah seorang Dosen IAIN Medan mengatakan, penderita penyakit menular boleh saja mengikuti shalat berjamaah meskipun ada anjuran dari dokter bahwa yang bersangkutan tidak boleh berada di keramaian.

Larangan bagi penderita penyakit menular untuk melakukan shalat berjamaah tidak ada dalam Al Quran maupun Hadist Rasul, sebab permasalahan di atas sama dengan ibadah haji, dimana setiap orang boleh melaksanakannya asal memiliki kemampuan. Namun penderita harus memahami kondisi dan situasi.

Secara terpisah Ustadz Ramsah AR dari Langkat, berbicara tentang perlunya penderita penyakit menular dikarantina. Hadist Bukhari Muslim menyebutkan, orang yang menderita suatu penyakit menular harus menghindari keramaian untuk mencegah penularan.

Dengan kata lain, pada zaman Rasul dahulu, seseorang yang dimaksud harus dikarantina sesuai waktu ditentukan. Kesimpulannya, shalat berjamaah perlu dihindarkan sebagai upaya mencegah penularan. Dikatakan, secara umum orang yang menderita penyakit menular, apalagi sudah ada surat keterangan dari dokter, sebaiknya dipastikan tidak keluar rumah.

Upaya persuasif
Sekretaris MUI Deli Serdang, H. Akhiruddin, LC, menyatakan terlalu dini melarang penderita penyakit menular, dalam hal ini penyakit TBC, untuk mengikuti shalat berjamaah. Yang harus dipastikan adalah sedahsyat apa penularan TBC lewat pernafasan, ujarnya.

Akhiruddin mengharapkan, sebaiknya para insan kesehatan segera memberikan obat yang dapat meminimalisasi penularan lewat pernafasan. Sehingga tidak terkesan bahwa penderita TBC diposisikan sebagai orang pinggiran dalam rangka pemenuhan hak ibadah shalatnya dalam berjamaah maupun ibadah primadona.

"Berikan alat yang dapat mengurangi penularan lewat pernafasan," kata Akhiruddin seraya menambahkan, sungguh sangat tidak etis bila ada pelarangan shalat berjamaah sebelum ada upaya-upaya medis secara maksimal dilakukan.

Jika segala upaya optimal sudah dilakukan, namun tidak juga dapat meminimalisasi penularan lewat pernafasan, bukan berarti keinginannya mengikuti shalat berjamaah langsung dilarang, tapi perlu pengkondisian fisikologi bagi para penderita sehingga mereka siap untuk menerima kondisi ini.

Tujuannya, agar penderita TBC tahu akan kondisi kesehatan mereka yang bisa menularkan bagi saudara-saudaranya, sehingga para penderita merespon firman Allah SWT dalam Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 195: "Dan janganlah kamu lemparkan dirimu dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah suka orang yang berbuat baik". Dan mereka juga mendengar nasehat Nabi dalam Haditsnya: "Sekali-kali kamu adalah orang yang bermanfa'at bagi manusia lain". (HR. Muslim).

Perlu pendekatan persuasif kepada mereka (penderita TBC), sehingga secara moral mereka menentukan diri mereka sendiri sehingga muncul kesadaran dalam memahami yang akhirnya mereka rela dan ikhlas memposisikan diri mereka sendiri.

Pelarangan secara total akan terkesan tidak manusiawi, kata Akhiruddin. Siapa yang ingin menderita TBC? Siapa yang ingin dan suka menularkan penyakit? "Sungguh tidak adil bila mereka dikebiri hak ibadah shalat berjamaahnya."

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2008 menyebutkan jumlah kematian akibat penyakit ini mencapai 88.113 orang. Tahun lalu di Sumut tercatat 13219 penderita TB dan 264 orang diantaranya meninggal dunia.

Data diatas kemudian menimbulkan pertanyaan bagi orang awam apakah penderita penyakit menular yang mematikan, seperti TB dan flu burung, perlu mengikuti shalat berjamaah karena berpotensi menularkan penyakitnya pada jamaah yang sehat.

Dalam hubungan ini, seperti dimuat kemarin, Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti MA, menjawab pertanyaan Waspada menegaskan, Komisi Fatwa MUI belum bisa mengeluarkan fatwa tentang larangan bagi penderita penyakit menular untuk mengikuti shalat berjamaah sebelum dilakukan penelitian lebih dulu tentang proses dan dampak dari penyakit bisa menular pada orang lain.

Ramlan mengharapkan, dokter ahli menjelaskan secara rinci proses penyebarannya dan bagaimana dampak serta tingkat kematian akibat TB sehingga dapat diketahui sejauh mana tingkat kedaruratannya.

Di dalam literatur Islam memang tidak ada dinyatakan bahwa orang sakit atau terkena TB dilarang ikut shalat berjamaah, kata Dr H. Ramli Wahid MA, anggota Komisi Fatwa MUI. Prinsipnya, tambah Ramli, penderita TB boleh ikut shalat berjamaah sepanjang tidak ada larangan dokter ahli. Namun demikian, sebaiknya yang bersangkutan menghindari diri dari jamaah agar tidak menular kepada orang lain (a38/a01/a06)

Sumber :

http://www.waspada.co.id/Berita/Sumut/Sebaiknya-Lakukan-Pendekatan-Persuasif.html


Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN