Disease Outbreak News
Tuesday, March 4, 2008
Sunday, March 2, 2008
Bapak dan Anak di Solo Diduga Terkena Flu Burung
Minggu, 2 Maret 2008 | 02:01 WIB
Solo, Kompas - S (38) dan anaknya, IFH (9), warga Dusun Kedungampel, Desa Kedungampel, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dinyatakan terduga (suspect) flu burung. Sejak Sabtu (1/3), mereka dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Dr Moewardi, Solo, Jateng.
Ketua Tim Medik Penanganan Flu Burung RSUD Dr Moewardi, dr Reviono SpP, mengungkapkan, S dan IFH merupakan pasien rujukan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten. Dari hasil pemeriksaan, saturasi oksigen mereka masih bagus, 99-100 persen, dan kadar leukosit normal.
Meski demikian, mereka tetap dinyatakan terduga flu burung karena ada riwayat kontak dengan unggas mati mendadak. Hasil rontgen pun menunjukkan adanya pneumonia, meskipun minimal. ”Menurut informasi dari Klaten, hasil tes unggas mati, positif flu burung,” katanya.
Kamis lalu, di Dusun Krajan, Desa Banding, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jateng, juga ditemukan kasus flu burung, menyusul mati mendadaknya sejumlah ayam milik warga. Karena itu, kemarin, sebanyak 542 ayam dan 379 butir telur ayam milik warga Dusun Krajan dimusnahkan secara massal oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang.
Koordinator Tim Pengendali Flu Burung Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang, Rovinus Goa, mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan penyebab penyebaran virus flu burung di Krajan. ”Saat musim hujan, temuan unggas yang terkena virus ini biasanya memang meningkat,” ujarnya.
Wakil Bupati Semarang Siti Ambar Fathonah menyatakan, pemilik ayam yang ayamnya dimusnahkan secara massal itu akan diberi ganti rugi. ”Warga pasti akan mendapat ganti rugi. Tapi membutuhkan waktu karena perlu proses administrasi,” katanya.
Tanggal 23 Februari lalu, di Tegal, Jateng, juga ditemukan kasus serupa. Saat itu, ayam kampung milik warga juga mati mendadak. Setelah dilakukan uji cepat diketahui ayam yang mati itu terjangkit flu burung.
Kontak
Istri S, Sugiyatmi, menuturkan, dua dari tiga ayam peliharaannya mati mendadak sekitar lima hari lalu. Di sekitar tempat tinggal mereka, sejak sepekan lalu, terjadi kematian ayam mendadak. ”Suami saya kemudian batuk pilek dan panas sekitar tiga hari lalu. Sempat ke mantri hari Jumat. Anak saya kemarin ikut panas. Saya kira cuma masuk angin, karena yang batuk pilek lebih dulu sebenarnya saya,” ungkap Sugiyatmi, yang menunggui kedua pasien tersebut di rumah sakit.
Awal Februari, Alif Tri Anggoro Putro (17), pasien flu burung asal Kedungringin, Soko, Miri, Sragen, Jateng, juga dinyatakan positif flu burung. Alif meninggal 10 Februari di RS Dr Moewardi setelah dirawat satu hari. (eki/gal)
Sumber berita : http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.02.02011588&channel=2&mn=154&idx=154
di
09:43
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Tim RS Persahabatan Kembali Berhasil Mengobati 2 Pasien Flu Burung Hingga Sembuh
Jakarta, 01 Mar 2008.
Tim dokter RS Persahabatan kembali berhasil merawat dan mengobati hingga sembuh Sania dan anaknya (Dewi Nurmiati) dari penyakit Flu Burung. Kedua pasien ibu dan anak tersebut dirawat selama kurang lebih satu bulan. Kemarin, tanggal 28 Februari 2008, dinyatakan telah sembuh total dan mereka diijinkan pulang setelah hasil pemeriksaan laboratorium 3 hari berturut-turut negatif H5N1. Selama dalam perawatan di ruang isolasi flu burung, kedua pasien dirawat dan dimonitor dengan ketat. Semua biaya pengobatan pasien Flu Burung, ditanggung pemerintah (Depkes).
Ini merupakan keberhasilan kali ke empat dan kelima pasien positif Flu Burung yang dirawat dan diobati sampai sembuh di RS itu, setelah sebelumnya M. Arif warga Tangerang dan Indah warga Menteng Jakarta, juga dinyatakan sembuh.
Kepulangan Sania dan anaknya diantar langsung oleh Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung RS Persahabatan dr. Mukhtar Ikhsan, MARS ke rumahnya Jl. Peta Barat No. 3 Kampung Godang, Kalideres, Jakarta Barat menggunakan mobil dinas RS Persahabatan, kendati pihak keluarga dan rombongan pengajiannya sudah berada di RS itu untuk menjemputnya.
Maksud Tim RS Persahabatan mengantarkan pasien positif Flu Burung yang telah sembuh ke rumahnya adalah untuk memberikan penjelasan sekaligus penyuluhan kepada keluarga dan masyarakat sekitar bahwa virus Fu Burung ini tidak menular dari manusia ke menusia. Sampai saat ini penularannya masih dari unggas ke manusia. Selain itu penyakit Flu Burung dapat dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.
dr. Mukhtar Ikhsan, MARS, menyatakan pencegahan penyakit Flu burung yang paling murah dan efektif adalah menjaga pola hidup sehat seperti sering mencuci tangan dengan sabun/deterjen setelah melakukan aktifitas, memasak makanan yang berasal dari ayam/unggas sampai matang. Hal ini penting karena virus flu burung akan mati dengan air sabun/deterjen dan/atau dipanasi sampai mendidih (dengan suhu 100° C). Selain itu masyarakat diminta tidak memelihara unggas/ayam di pemukiman. Masyarakat juga dminta menjaga daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi dan menjaga kebersihan rumah.
Sementara di rumah Sania, telah berkumpul sanak saudara, tetangga dengan perasaan suka cita. Bahkan pada malam harinya diadakan acara syukuran. Juga hadir di rumah Sania, staf Dinas Kesehatan Jakarta Barat, dokter Puskesmas dan Lurah Kalideres.
Kepada staf Pusat Komunikasi Publik Depkes, Lurah Kalideres, Dadang Sugiarto, SE, menyatakan bahwa pihak Kelurahan Kalideres telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar unggas tidak boleh ada di pemukiman. Unggas yang masih ada diminta untuk dijual. Selain itu setiap hari Jumat dilakukan sweeping unggas di pemukiman penduduk di wilayah kerjanya.
Rumah Sania merupakan pemukiman yang sangat padat penduduk dengan kondisi lingkungan yang buruk, cahaya matahari kurang, serta sirkulasi udara yang buruk. Di samping padat, di perumahan itu juga banyak warga yang memelihara ayam terlihat dari banyaknya kandang ayam yang kosong karena telah dimusnahkan. Begitu juga rumah orangtua Sania di Kampung Cagak, Tangerang, bertetangga dengan pengepul entog dan banyak kandang ayam yang sudah dimusnahkan. Sebelum sakit, Sania (ibu rumah tangga, 38 th) diketahui berkunjung ke rumah orangtuanya di Kampung Cagak, Semanan, Tangerang. Ia mulai sakit tanggal 24 Januari dengan gejala batuk, demam, pilek dan sakit tenggorokan. Keluhan yang juga dirasakan adalah nyeri saat menelan dan nyeri sendi. Sania tanggal 26 Januari berobat ke RS HM Husni Thamrin Tangerang dan tanggal 29 Januari dirujuk ke RS Usada Insani. Tanggal 1 Februari dirujuk ke RS Persahabatan, Jakarta karena sakitnya makin berat. Kemudian langsung dirawat di ruang isolasi flu burung dengan pemberian oksigen sungkup. Kondisi semakin memburuk dan pada tanggal 2 Februari jam 06.00 WIB diputuskan dipasang ventilator (alat bantu pernapasan). Hasil pemeriksaan PCR H5N1 positif. Tanggal 7 Februari jam 13.45 WIB keadaannya membaik dan ventilator dilepas, diganti dengan oksigen sungkup. Tanggal 15 Februari kondisinya semakin membaik dengan hasil PCR H5N1 negatif selama 3 hari berturut-turut dan kemudian pasien dipindah ke ruang rawat biasa. Tanggal 28 Februari 2008, pasien diantarkan pulang.
Sedangkan anaknya (Dewi Nurmiati, 14th) mulai mengeluh sakit dan batuk tanggal 2 Februari 2008. Pada tanggal 8 Februari jam 12.00 WIB tiba di RS Persahabatan. Pada pemeriksaan fisis saat masuk rumah sakit, Dewi berada dalam keadaan sakit berat. Pasien langsung dirawat di ruang isolasi flu burung dengan pemberian oksigen sungkup, kondisi semakin memburuk pada tanggal 10 Februari jam 10.30 WIB diputuskan untuk dipasang ventilator. Hasil PCR H5N1 positif. Tanggal 18 Februari jam 14.30 WIB keadaanya membaik dan ventilator dilepas, diganti dengan oksigen sungkup. Hasil PCR H5N1 negatif selama 3 hari berturut-turut, dan kemudian pasien dipindah ke ruang rawat biasa. Tanggal 28 Februari 2008, pasien diantar pulang.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-522 3002, 5296 0661 atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.
Sumber : http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3004
di
08:52
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Monday, February 18, 2008
Lagi-lagi Tertular Flu Burung

18 Feb 2008
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2997
Jauhkan anak-anak dari sumber penularan Flu Burung. Sampai saat ini sumber penularan virus H5N1 masih dari unggas ke manusia. Kali ini, Han (L, 3 th), Balita warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan yang terjangkit. Dari hasil penyelidikan Tim Gerak Cepat Depkes diketahui bahwa di sekitar tempat tinggalnya terdapat 5 – 6 tempat pengepul dan pemotongan ayam yang sumbernya berasal dari berbagai daerah seperti Bekasi, Tangerang, Ciamis, Karawang, dan Tasik.
Han (L, 3 tahun) mulai sakit tanggal 5 Februari 2008 dengan gejala demam, batuk, dan sesak napas. Tanggal 6 Februari Han dibawa orang tuanya berobat ke RS Fatmawati. Empat hari kemudian ia dibawa ke RS Muhammadiyah. Karena panas tidak turun-turun, batuk dan sesak, maka kemudian dirujuk ke RS Husada Insani tanggal 15 Februari. Setelah dirawat selama 2 jam di ruang ICU RS Husada Insani, Han dirujuk ke RS Persahabatan namun jiwanya tidak tertolong.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel usap tenggorok dan darah Han, Badan Litbangkes dan Lembaga Eijkman Jakarta, kemarin (17/03/08) dinyatakan positif terinfeksi Flu Burung. Tim investigasi dari Departemen Peternakan dan Departemen Kesehatan telah melakukan investigasi ke lapangan.
APP Positif Flu Burung Setelah Kontak Unggas Mati
15 Feb 2008
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2995
APP dinyatakan positif flu burung berdasarkan pemeriksaan laboratorium Badan Litbangkes dan Lembaga Eijkman Jakarta. APP (L, 16 tahun) warga Kedung Ringin, Sragen, Jawa Tengah mulai sakit tanggal 3 Februari 2008 dengan gejala demam, sesak napas, batuk dan berobat ke Bidan Desa Soka. Tanggal 7 Februari berobat ke RS Brayat Minulyo Solo, kemudian dirujuk ke RS dr. Moewardi Solo tanggal 9 Februari. APP meninggal tanggal 10 Februari 2008.
Sebelum sakit, 5 ekor ayam APP dan tetangganya mati dan APP sempat menyembelih sisa ayam yang sakit.
Sumber penularan Flu Burung masih berasal dari unggas. Oleh karenanya, masyarakat sebaiknya tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak. Masyarakat harus membiasakan hidup bersih dan sehat agar terhindar dari virus Flu Burung.
di
18:08
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Friday, February 15, 2008
Flu Burung Terus Berjangkit
Kamis, 14 Pebruari 2008 23:49 WIB
Flu Burung Terus Berjangkit
Medan, WASPADA Online
Demikian pendapat konsultan penyakit tropik dan infeksi yang juga Kadis Kesehatan Kota Medan dr. Umar Zein, DTM&H, SpPD-KPTI, Rabu (13/2) malam, menanggapi munculnya kasus suspect flu burung pada manusia di Tebing Tinggi.
Menurut Umar Zein, kasus flu burung yang terjadi di Indonesia erat kaitannya antara kepadatan unggas dengan kepadatan penduduk.
Artinya, jika suatu daerah memiliki kepadatan unggas dan kepadatan penduduk yang cukup tinggi maka akan berpeluang terhadap berjangkitnya flu burung. Kondisi ini bisa terjadi karena virus flu burung menular melalui udara.
Selain itu, lanjutnya, penyakit flu burung tergolong misterius karena sejumlah kasus terjadi pada manusia, tidak ditemukan sumber penularannya. Akibatnya, tidak diketahui jenis unggas yang menularkan virus dan lokasi penularan virus flu burung.
Contohnya, kasus flu burung di Kabupaten Karo menyebabkan enam orang dalam satu keluarga meninggal. Dalam kasus tersebut, tercatat ada tujuh orang yang dinyatakan positif terjangkit flu burung dan seorang di antaranya berhasil disembuhkan.
"Yang paling mengejutkan yakni enam penderita flu burung tersebut meninggal dunia meski
telah diberikan obat tamiflu secara teratur. Sebaliknya, seorang penderita lagi yang menolak diberikan obat tamiflu, ternyata bisa sembuh," ujarnya.
Fakta lain yang mendukung flu burung tergolong penyakit misterius tidak ditemukannya sumber penularan flu burung pada manusia di Kabupaten Karo.
"Lihat saja, kendati ada tujuh warga Kabupaten Karo yang dinyatakan positif terjangkit flu burung, namun tidak ada satu pun unggas di daerah ditemukan terjangkit virus flu burung," ujarnya.
Sedangkan di Medan dan beberapa daerah lain ditemukan adanya unggas yang positif terjangkit flu burung, namun tidak ditemukan kasus flu burung pada manusia.
Kondisi misterius ini memunculkan berbagai dugaan diantaranya warga Kabupaten Karo terjangkit flu burung saat mengunjungi daerah lain atau kasus flu burung di Kabupaten Karo bersumber dari unggas liar.
Soal seorang penderita flu burung yang enggan minum obat tamiflu namun tetap bisa bertahan hidup, kemungkinan daya tahan tubuhnya lebih kuat dibanding enam penderita flu burung lainnya, kata Umar Zein. (m26) (ags)
Sumber : http://www.waspada.co.id/Berita/Medan/Flu-Burung-Terus-Berjangkit.html
di
08:04
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Thursday, February 14, 2008
DN Positif Flu Burung
DN dinyatalakan positif flu burung berdasarkan pemeriksaan laboratorium Badan Litbangkes dan Lembaga Eijkman Jakarta. DN (P, 14 tahun) warga Jln. Peta Barat Kp. Gondang Kec. Kalideres, Jakarta Barat mulai mengeluh sakit dan batuk tanggal 2 Februari 2008. Tanggal 8 Februari dibawa ke RS Cengkareng, kemudian dirujuk ke RS Persahabatan dan sampai saat ini masih dirawat.
Faktor resiko sebelum sakit DN pergi ke rumah neneknya pengepul unggas di Semanan dan ada entok mati.
Sumber penularan Flu Burung masih berasal dari unggas. Oleh karenanya, masyarakat sebaiknya tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak. Masyarakat harus membiasakan hidup bersih dan sehat agar terhindar dari virus Flu Burung.
Langkah-langkah antisipasi menghindari terjangkit virus Flu Burung dapat dilakukan dengan tidak menyentuh ayam, bebek, dan unggas lain yang sakit atau mati. Biasakan mencuci pakai sabun tangan dan peralatan masak, pisahkan unggas dari manusia. Bila ada gejala flu dan demam setelah berdekatan dengan unggas, segera periksakan ke Puskesmas.
Gunakan sarung tangan, penutup mulut dan hidung saat memegang unggas, jangan memakan unggas yang sakit atau mati, sembelih, bakar, kubur unggas yang sakit atau mati, dan jangan biarkan anak-anak bermain dengan unggas. Jika demam tampak atau dirasa setelah berhubungan dengan unggas segera periksa ke dokter atau RS.
Dengan demikian sampai dengan tanggal 11 Februari 2008, jumlah kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 127 kasus, 103 diantaranya meninggal. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) kasus Flu Burung mencapai 81,10%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 12 Februari 2008.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2993
di
10:00
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Tuesday, February 12, 2008
RSUP Adam Malik Medan Rawat Bocah Suspect Flu Burung
RSUP Adam Malik Medan Rawat Bocah Suspect Flu Burung
Khairul Ikhwan - detikcom
Medan - Kasus flu burung terjadi lagi di Sumatera Utara (Sumut). Seorang anak berusia 10 tahun terpaksa dirawat di Rumah Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Medan karena diduga suspect flu burung.
Khairul, 10 tahun, penduduk Jl. Abdul Hamid, Desa Sungai Sigiling, Kec. Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, saat ini dirawat intensif di ruang khusus suspect flu burung RS. Adam Malik Medan, Jl. Bungalaw, Medan.
Humas RS. Adam Malik Medan Sinar Ginting mengatakan, sejak di bawa ke RS Adam Malik, Senin (11/2/2008) pagi, kondisi putra pasangan Enden dan Ani ini mulai membaik.
"Secara umum kesehatan pasien semakin membaik. Kita telah memeriksa sampel darah, semuanya normal," kata Ginting, Selasa (12/2/2008).
Namun menurut Ginting, untuk memastikan darah Khairul, pihaknya RS Adam Malik telah mengirim sampel darah ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Puslitbangkes) Departemen Kesehatan di Jakarta.
"Kita masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan hasil sampel darah pasien. Bila hasil laboratorium menunjukkan sampel darah baik, pasien akan diperbolehkan pulang," kata Ginting.
Sementara ibu Khairul, Ani mengatakan, anaknya mengalami demam tinggi setelah kontak dengan empat ekor ayam mereka yang mati secara tiba-tiba pada Sabtu lalu (9/2/2008).
"Saya sempat memberinya obat demam beli dari kios. Tapi demamnya tetap tinggi," kata Ani.
Karena menduga demam biasa, Ani membolehkan Khairul pergi ke sekolah pada Senin kamarin. Namun menjelang siang, Khairul pulang diantar oleh gurunya karena demam tinggi. Kemudian Ani melapor ke Kepala Desa
setempat dan Luruh. Pihak Dinas Kesehatan Kecamatan Padang Hilir kemudian datang dan memeriksa sample ayam dan menyatakan ayam tersebut positif terjangkit flu burung.
( rul / djo )
Sumber : http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/12/time/160232/idnews/892751/idkanal/10
di
17:21
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Friday, February 8, 2008
Yellow fever in Brazil
WHO OL, 5 February 2008
This outbreak of yellow fever follows an epizootic outbreak in monkeys that started in April 2007 and has since spread to 80 municipalities. An increase in the number of epizootic events was observed between December 2007 and January 2008, reaching more than 23 new municipalities in that period.
Brazil has suspended exports of yellow fever vaccine from Bio-Manguinhos, one of three WHO pre-qualified manufacturers of yellow fever vaccine, based in Brazil, in order to meet the needs of the country to respond to this outbreak.
On 18 January, the Brazilian Ministry of Health submitted a request to borrow an additional 4 million doses of vaccine from the global emergency stockpile managed by the International Coordinating Group on Vaccine Provision for Yellow Fever Control (YF-ICG), in order to complete the required levels of yellow fever vaccines stocks held nationally to enable an emergency vaccination campaign.
The campaign which targets approx 7 million people, in the most affected states will be carried out in early February. Due to the coordinated efforts between the ICG and United Nations Children's Fund (UNICEF) Supply Division, the 4 millions doses arrived in Brazil in early February.
The yellow fever emergency stockpile is financed by the GAVI Alliance and managed by the YF-ICG. The YF-ICG is composed of representatives from UNICEF, Médecins sans Frontières (MSF), the International Federation of Red Cross (IFRC), and the World Health Organization, who acts as its secretariat.
http://www.who.int/csr/don/2008_02_07/en/index.html
di
11:41
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
TURUT BERDUKA CITA
Orang tua dari Dr. Tunggul Sihombing, MHA
(Kabag PI Ditjen PP & PL Depkes RI)
di
11:37
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Thursday, January 31, 2008
Kasus Flu Burung di Indonesia Sampai Dengan 3 Februari 2008
Depkes OL, 04 Feb 2008
Langkah-langkah antisipasi menghindari terjangkit virus Flu Burung dapat dilakukan dengan tidak menyentuh ayam, bebek, dan unggas lain yang sakit atau mati. Biasakan mencuci pakai sabun tangan dan peralatan masak, pisahkan unggas dari manusia. Bila ada gejala flu dan demam setelah berdekatan dengan unggas, segera periksakan ke Puskesmas. Gunakan sarung tangan, penutup mulut dan hidung saat memegang unggas, jangan memakan unggas yang sakit atau mati, sembelih, bakar, kubur unggas yang sakit atau mati, dan jangan biarkan anak-anak bermain dengan unggas. Jika demam tampak atau dirasa setelah berhubungan dengan unggas segera periksa ke dokter atau RS.
Dua kasus terakhir adalah Su dari Kota Tangerang, Propinsi Banten dan Sa dari Jakarta Barat, Propinsi DKI Jakarta. Keduanya dinyatakan positif terinfeksi H5N1 berdasarkan pemeriksaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.
Su (P, 29 th) ibu rumah tangga warga Kel. Gondrong, Kec. Cipondoh, Kota Tangerang mulai sakit tanggal 22 Januari dengan gejala batuk, demam dan sesak napas. Tanggal 28 Januari 2008 masuk RS Usada Insani dan sehari kemudian (29/1) dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta Timur. Pasien meninggal dunia tanggal 2 Februari 2008 pukul 19.30 WIB. Tetangga di sekitar tempat tinggal Su ditemukan memelihara ayam namun belum diketahui apakah ayam tersebut terinfeksi H5N1.
Kasus berikutnya, Sa (P, 38 th), asal Kampung Gondang, Kel. Kali Deres, Jakarta Barat, mulai sakit tanggal 24 Januari 2008 dengan gejala batuk, demam, pilek dan sakit tenggorokan. Tanggl 26 Januari, masuk RS MH. Thamrin Tangerang dan tanggal 29 Januari mulai dirawat di RS Usada Insani. Tanggal 1 Februari 2008 Sa dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta dan masih dirawat dengan menggunakan ventilator. Satu 1 minggu sebelumnya, ia berkunjung ke rumah orang tuanya di Kampung Cagak yang bertetangga dengan pengumpul entog. Sampai dengan tanggal 3 Februari 2008, jumlah kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 126 kasus, 103 diantaranya meninggal. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) kasus Flu Burung mencapai 81,7%.
di
16:53
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Data Kasus Flu Burung pada Manusia di Indonesia 30 Januari 2008
Nas (L, 32 th), warga Perumahan Medistrania, Desa Sukamulya, Kec. Cikupa, Kab. Tangerang, Banten, korban positif Flu Burung, meninggal dunia, Selasa, 29 Januari 2008. Nas dinyatakan positif terinfeksi virus H5N1 berdasarkan pemeriksaan Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta, tanggal 28 Januari 2008. Dengan meninggalnya Nas, jumlah korban meninggal akibat Flu Burung mencapai 101 orang dari 124 kasus. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 81,4%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 30 Januari 2008.
Nas (L, 32 th) yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang pecel ayam, mulai sakit tanggal 17 Januari 2008 dengan gejala sakit kepala, nyeri perut, sesak napas dan demam. Tanggal 24 Januari, Nas masuk RS Bakti Asih Tangerang, lalu dua hari kemudian (26/01) dirujuk ke RS Persahabatan. Salah satu tetangga yang tinggal sejauh 500 meter dari rumah Nas memelihara 12 ekor burung dara.
Banten merupakan propinsi ketiga terbanyak dalam kasus Flu Burung, setelah Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.
di
16:53
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Wednesday, January 30, 2008
Flu Burung Hingga Akhir Januari 2008, 124 Kasus Positif dengan 100 kematian
Sejak ditemukan kasus pertama pada pertengahan bulan Juli 2005, jumlah kasus Flu Burung di Indonesia hingga tanggal 28 Januari 2008 mencapai 124 orang, 100 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 80.6%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 28 Januari 2008.
Nas (L, 32 th), pedagang pecel ayam warga Perumahan Medistrania, Desa Sukamulya, Kec. Cikupa, Kab. Tangerang, Banten mulai sakit tanggal 17 Januari 2008 dengan gejala sakit kepala, nyeri perut, sesak napas dan demam. Tanggal 24 Januari, Nas masuk RS Bakti Asih Tangerang, lalu dua hari kemudian (26/01) dirujuk ke RS Persahabatan. Kini Nas masih dirawat di ruang ICU. Salah satu tetangga yang tinggal sejauh 500 meter dari rumah Nas memlihara 12 ekor burung dara.
MIY (L, 9,5 th), pelajar warga Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat mulai sakit tanggal 16 Januari 2008 dengan gejala sakit berat, sesak nafas berat, dan panas sampai 37,80C. Setelah berobat ke RS Sentra Medika Cimanggis, tanggal 23 Januari 2008 dirujuk ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPISS) tanggal 27 Januari 2008. Hingga saat ini faktor penyebab penularan masih dalam penyelidikan.
Res (P, 31 th), warga Duren Sawit, Jakarta Timur, mulai demam tanggal 18 Januari 2008. Masuk RS Harum tanggal 22 Januari 2008 dengan keluhan batuk. Empat hari kemudian (26/1/2008) ia dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta Timur dengan keluhan panas, batuk serta sakit kepala. Hingga kini RF masih dirawat dengan menggunakan ventilator. Berdasarkan penyelidikan ditemukan beberapa hal yang mungkin merupakan sumber penularan (faktor risiko), yaitu adanya tempat pemeliharaan ayam 100 meter dari rumahnya dan tempat penyembelihan ayam 500 meter dari rumahnya. Selain itu, pada tanggal 15 Januari 2008, RF pernah pergi ke pasar unggas.
Vir (P, 23 th), warga Pulogebang Jakarta Timur mulai sakit tanggal 19 Januari 2008 dengan keluhan demam dan sesak nafas. Tanggal 24 Januari ia dirawat di RS Ananda Bekasi dan dirujuk ke RSPI-SS dua hari kemudian (26/01), meninggal tanggal 27 Januari 2008. Hingga saat ini kemungkinan sumber penularan Vir masih dalam penyelidikan.Sumber penularan Flu Burung masih berasal dari unggas. Oleh karenanya, masyarakat sebaiknya tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak.
di
08:21
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Tuesday, January 22, 2008
Kasus Flu Burung Positif ke-120

GR, Pasien Flu Burung Asal Banten Meninggal Dunia
GR (L, 30 TH), warga Tangerang, Propinsi Banten yang dinyatakan positif terinfeksi virus Flu Burung (H5N1), berdasarkan pemeriksaan RT-PCR (Real Time Polymerase Chain Reaction) Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta (22/01/08), akhirnya meninggal dunia tanggal 24 Januari 2008 pukul 06.30 WIB di RS Persahabatan Jakarta. Dengan demikian, secara kumulatif total kasus positif Flu Burung di Indonesia mencapai 120 orang, 98 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) 81,6%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 24 Januari 2008.
Dengan bertambahnya kasus Flu Burung pada manusia, Pemerintah Daerah perlu lebih tanggap terhadap unggas-unggas yang sakit dan mati mendadak dan segera melakukan tindak lanjut pengendalian dan pencegahan penularan. Penelitian atau investigasi harus juga disosialisasikan untuk mendapat kerja sama masyarakat.
S (L, 8 th), warga Jl. Petir Utama I/64 Rt.003/05 Kel. Petir, Cipondoh, Tangerang, Propinsi Banten, dinyatakan positif terinfeksi virus Flu Burung, H5N1, berdasarkan pemeriksaan RT – PCR (Real Time Polimerase Chain Reaction) Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, tanggal 18 Januari 2008. Dengan demikian, total jumlah kasus positif Flu Burung di Indonesia mencapai 119 orang, 97 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) 81.5 %.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 18 Januari 2008.
S (L, 8 th) warga Tangerang, Provinsi Banten, mulai sakit tanggal 7 Januari 2008 dengan gejala panas, batuk, sesak nafas, dan sakit tenggorokan. Masuk Rumah Sakit Umum Cengkareng tanggal 16 Januari 2008 dan tanggal 17 Januari 2008 dirujuk ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso Jakarta. S (L, 8 th) meninggal dunia di RSPI Sulianti Saroso tanggal 18 Januari 2008 pukul 04.00 WIB. Mengenai faktor risiko, tetangganya memiliki tempat usaha pemotongan ayam.
di
13:18
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Tuesday, January 15, 2008
LAPORAN PENGAMANAN KESEHATAN HAJI MES 2007
pengamanan-kesehatan-haji-2007.pdf
di
15:11
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 116 orang
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2953
di
08:54
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Main Hakim Sendiri Berpotensi Menularkan AIDS
Medan, WASPADA Online
di
08:20
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Sunday, November 25, 2007
Sudah 87 Sertifikat Hapus Serangga bagi Pesawat yang beroperasi di bandara Polonia Medan
Pada Periode April s/d Mei 2007
1. Pesawat Adam Air sebanyak 24 Sertifikat
2. Pesawat Kartika Air 1 Sertifikat
3. Pesawat Lion Air sebanyak 14 Sertifikat
Jumlah 39 Sertifikat Hapus Serangga.
Periode Nopember s/d Desember 2007
1. Pesawat Adam Air sebanyak 22 Sertifikat
2. Pesawat Kartika Air 1 Sertifikat
3. Pesawat Lion Air sebanyak 14 Sertifikat
4. Pesawat Air Asia sebanyak 10 Sertifikat
5. Pesawat Garuda Indonesia Airways 1 Sertifikat (Pesawat Haji)
Jumlah 48 Sertifikat Hapus Serangga.
Jumlah Total Sertifikat yang telah diterbitkan 87 Sertifikat Hapus Serangga
KKP Kelas II Medan sangat berharap kesamaan persepsi dan langkah dari teman-teman KKP yang memiliki Bandar Udara Internasional se Indonesia. (Medan sering ditanya ”apakah medan bukan Indonesia?”)
Bagi Kawan-kawan Pegawai KKP se Indonesia, Jika anda Membutuhkan rekaman dokumen perjalanan panjang menegakkan Pasal 14 Undang-undang no. 2 tahun 1962 tentang Karantina Udara, silahkan email kami dengan alamat karsemedan@yahoo.com
di
12:34
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Friday, November 23, 2007
Pesawat Garuda Pengangkut Jamaah Haji Embarkasi MES di Desinseksi.
Instruksi Kementerian Kesehatan Arab Saudi.
Pada tanggal 7 Nopember 2007, Pemerintah Arab Saudi melalui kementerian kesehatannya dalam website resmi pemerintah telah mengumumkan bahwa : ”Pesawat, kapal laut dan angkutan lainnya yang datang dari negara tertentu harus juga membawa sertifikat yang membuktikan mereka telah menjalani desinseksi (hapus serangga) sebelum memasuki wilayah Arab Saudi” (Aircraft, ships and other modes of transport coming from such countries should also carry certificates proving that they have been disinfected before entering Saudi territory)
Foto - foto diatas merupakan dokumentasi kegitan Pelaksanaan Desinseksi terhadap pesawat yang segera akan digunakan Kloter 7 MES.
di
09:08
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Thursday, November 22, 2007
Ministry Takes Steps to Upgrade Health Care for Pilgrims
The Ministry of Health will establish computer links between hospitals and pharmacies in the holy cities of Makkah and Madinah during the upcoming Haj season to help doctors ascertain the availability of drugs and medicines at pharmacies, the ministry announced yesterday.
“Such a network would help hospitals coordinate with pharmacies to find the availability of drugs and medicines so that doctors can prescribe them without any problems,” Dr. Ridah M. Khaleel, consultant to the Ministry of Health and head of the ministry’s Haj Committee, said in a statement to Arab News.
He added that such arrangements are being made to ensure that pilgrims are provided with appropriate health care services during their stay in the Kingdom.
The ministry will also deploy this year more health officials at the Haj Terminal in Jeddah’s King Abdul Aziz International Airport to look after the health interests of pilgrims.
“Officials will be deployed in the six arrival lounges to monitor the health condition of pilgrims through surveillance cameras installed at the airport. They will also meet and assist pilgrims facing health problems,” said Khaleel.
The ministry has purchased three new ambulances at a cost of SR120,000 to add to its present fleet at the airport. “These vehicles will be used to transport sick pilgrims, if any, to the nearest hospital from the airport,” he added.
Meanwhile, Saudi diplomatic missions abroad have been instructed to issue Haj visas only to pilgrims that have vaccination certificates against meningitis and, depending on the country, other diseases such as yellow fever.
Pilgrims coming from countries where yellow fever is endemic should carry with them valid certificates showing that they have been vaccinated against the illness, said the official.
Pilgrims should get vaccinated against meningitis at least 10 days before arriving in the Kingdom.
Domestic pilgrims, residents of Makkah and Madinah and workers on assignments related to Haj, should also take meningitis vaccination.
A single meningitis shot has a three-year validity period.
The Health Ministry also advises pilgrims, particularly the aged and those with respiratory diseases, diabetes, and kidney, liver and heart complaints, to get vaccinated against influenza.
Pilgrims suffering from chronic ailments such as diabetes, hypertension, renal disorders and cardiac problems are advised to consult family doctors prior to leaving for Haj and to also bring with them adequate medication and medical reports of their health condition in case of an emergency.
As part of its health education program, the ministry will distribute 1.7 million pamphlets in 10 languages to pilgrims. Pamphlets are being printed in several languages, including English, Arabic, French, Urdu, Bahasa, Persian, Russian, Turkish, Mandarin Chinese and Bengali.
Meanwhile, the Ministry of Haj has announced that the first day of arrival of foreign pilgrims at King Abdul Aziz International Airport in Jeddah and Prince Muhammad ibn Abdul Aziz International Airport in Madinah has been fixed for Saturday, Nov. 11.
Pilgrims will continue to arrive at both the airports until Dec. 14. The last date for pilgrims who arrive in Makkah first to travel to Madinah will be Dec. 5 by bus and Dec. 12 by air.
The final date for pilgrims to come from Madinah to Makkah by bus will be Dec. 15 and by air via Jeddah will be Dec.16.
The closing date for departing pilgrims has been fixed for Jan. 24.
http://www.arabnews.com/?page=1§ion=0&article=103276&d=7&m=11&y=2007
di
11:20
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
Ministry Takes Measures to Ensure a Healthy Haj
Ministry Takes Measures to Ensure a Healthy Haj
While there are no new specific requirements, the Haj Ministry has embarked on an effort to reiterate via Saudi Arabia’s foreign missions the importance of health considerations among the guests of God.
First and foremost, pilgrims should take proper health measures to prevent the spread of communicable infections, to get orientated about the health challenges of the Haj and should inform authorities of any significant health problems upon entry to the Kingdom.
Khaled Al-Marghalani, general supervisor for communications and health awareness at the ministry, told Arab News yesterday that the Saudi government is stepping up efforts to ensure pilgrims adhere to these guidelines.
“The Ministry of Health has sent out circulars through the Ministry of Foreign Affairs to all Saudi foreign missions to adhere to the guidelines strictly when visas are issued at their ends,” he said.
About two million pilgrims come here for the Haj through visas issued by Saudi embassies and consulates. All of these pilgrims convene in the weeks prior to the six-day pilgrimage, creating major challenges in crowd control and safety in the world’s largest annual assembly of people.
Al-Marghalani pointed out that some of the diseases are imported into the country due to lack of preventive measures taken by the foreign pilgrims and their governments.
The Foreign Ministry had advised its missions to request overseas Haj travel operators to organize orientation programs to educate the pilgrims on basic health rules to be followed during their stay in the holy cities.
Al-Marghalani said the ministry has instructed the pilgrims to produce vaccination certificates against yellow fever, meningitis, polio and influenza depending on the countries of origin. Vaccinations against meningitis, which are valid for three years, have been made compulsory on all pilgrims since it can easily spread among crowds through droplets of saliva.
Al-Marghalani said that his ministry has installed cameras and has instructed immigration officers to monitor any suspected cases of infected pilgrims entering the Kingdom through all ports of entry.
http://www.arabnews.com/?page=1§ion=0&article=82712&d=25&m=5&y=2006
di
11:04
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet













