SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Friday, February 8, 2008

Yellow fever in Brazil

WHO OL, 5 February 2008

As of 1 February, the Ministry of Health, Brazil has reported a total of 48 cases of yellow fever including 13 deaths. Twenty three of these cases have been laboratory confirmed. The laboratory confirmed cases were reported from the three states of Goias, Distrito Federal and Mato Grosso do Sol. The first confirmed case was on 17 Dec 2007. Twenty one confirmed cases had never been vaccinated for yellow fever and the other 2 were last vaccinated over 20 years ago.
This outbreak of yellow fever follows an epizootic outbreak in monkeys that started in April 2007 and has since spread to 80 municipalities. An increase in the number of epizootic events was observed between December 2007 and January 2008, reaching more than 23 new municipalities in that period.
Brazil has suspended exports of yellow fever vaccine from Bio-Manguinhos, one of three WHO pre-qualified manufacturers of yellow fever vaccine, based in Brazil, in order to meet the needs of the country to respond to this outbreak.
On 18 January, the Brazilian Ministry of Health submitted a request to borrow an additional 4 million doses of vaccine from the global emergency stockpile managed by the International Coordinating Group on Vaccine Provision for Yellow Fever Control (YF-ICG), in order to complete the required levels of yellow fever vaccines stocks held nationally to enable an emergency vaccination campaign.
The campaign which targets approx 7 million people, in the most affected states will be carried out in early February. Due to the coordinated efforts between the ICG and United Nations Children's Fund (UNICEF) Supply Division, the 4 millions doses arrived in Brazil in early February.
The yellow fever emergency stockpile is financed by the GAVI Alliance and managed by the YF-ICG. The YF-ICG is composed of representatives from UNICEF, Médecins sans Frontières (MSF), the International Federation of Red Cross (IFRC), and the World Health Organization, who acts as its secretariat.

http://www.who.int/csr/don/2008_02_07/en/index.html


TURUT BERDUKA CITA

KELUARGA BESAR KANTOR KESEHATAN PELABUHAN Kelas II Medan TURUT BERDUKA CITA ATAS BERPULANGNYA OMPUNG TOTA ASI DOLI
Orang tua dari Dr. Tunggul Sihombing, MHA
(Kabag PI Ditjen PP & PL Depkes RI)

Thursday, January 31, 2008

Kasus Flu Burung di Indonesia Sampai Dengan 3 Februari 2008


Masyarakat Perlu Waspada Flu Burung.

Depkes OL, 04 Feb 2008
Sumber penularan Flu Burung masih berasal dari unggas. Oleh karenanya, masyarakat sebaiknya tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak. Masyarakat harus membiasakan hidup bersih dan sehat agar terhindar dari virus Flu Burung.
Langkah-langkah antisipasi menghindari terjangkit virus Flu Burung dapat dilakukan dengan tidak menyentuh ayam, bebek, dan unggas lain yang sakit atau mati. Biasakan mencuci pakai sabun tangan dan peralatan masak, pisahkan unggas dari manusia. Bila ada gejala flu dan demam setelah berdekatan dengan unggas, segera periksakan ke Puskesmas. Gunakan sarung tangan, penutup mulut dan hidung saat memegang unggas, jangan memakan unggas yang sakit atau mati, sembelih, bakar, kubur unggas yang sakit atau mati, dan jangan biarkan anak-anak bermain dengan unggas. Jika demam tampak atau dirasa setelah berhubungan dengan unggas segera periksa ke dokter atau RS.
Dua kasus terakhir adalah Su dari Kota Tangerang, Propinsi Banten dan Sa dari Jakarta Barat, Propinsi DKI Jakarta. Keduanya dinyatakan positif terinfeksi H5N1 berdasarkan pemeriksaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.
Su (P, 29 th) ibu rumah tangga warga Kel. Gondrong, Kec. Cipondoh, Kota Tangerang mulai sakit tanggal 22 Januari dengan gejala batuk, demam dan sesak napas. Tanggal 28 Januari 2008 masuk RS Usada Insani dan sehari kemudian (29/1) dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta Timur. Pasien meninggal dunia tanggal 2 Februari 2008 pukul 19.30 WIB. Tetangga di sekitar tempat tinggal Su ditemukan memelihara ayam namun belum diketahui apakah ayam tersebut terinfeksi H5N1.
Kasus berikutnya, Sa (P, 38 th), asal Kampung Gondang, Kel. Kali Deres, Jakarta Barat, mulai sakit tanggal 24 Januari 2008 dengan gejala batuk, demam, pilek dan sakit tenggorokan. Tanggl 26 Januari, masuk RS MH. Thamrin Tangerang dan tanggal 29 Januari mulai dirawat di RS Usada Insani. Tanggal 1 Februari 2008 Sa dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta dan masih dirawat dengan menggunakan ventilator. Satu 1 minggu sebelumnya, ia berkunjung ke rumah orang tuanya di Kampung Cagak yang bertetangga dengan pengumpul entog. Sampai dengan tanggal 3 Februari 2008, jumlah kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 126 kasus, 103 diantaranya meninggal. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) kasus Flu Burung mencapai 81,7%.

Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 4 Februari 2008. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.


Data Kasus Flu Burung pada Manusia di Indonesia 30 Januari 2008


NAS, Pasien Flu Burung di Banten Meninggal Dunia

Depkes OL, 31 Jan 2008
Nas (L, 32 th), warga Perumahan Medistrania, Desa Sukamulya, Kec. Cikupa, Kab. Tangerang, Banten, korban positif Flu Burung, meninggal dunia, Selasa, 29 Januari 2008. Nas dinyatakan positif terinfeksi virus H5N1 berdasarkan pemeriksaan Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta, tanggal 28 Januari 2008. Dengan meninggalnya Nas, jumlah korban meninggal akibat Flu Burung mencapai 101 orang dari 124 kasus. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 81,4%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 30 Januari 2008.
Nas (L, 32 th) yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang pecel ayam, mulai sakit tanggal 17 Januari 2008 dengan gejala sakit kepala, nyeri perut, sesak napas dan demam. Tanggal 24 Januari, Nas masuk RS Bakti Asih Tangerang, lalu dua hari kemudian (26/01) dirujuk ke RS Persahabatan. Salah satu tetangga yang tinggal sejauh 500 meter dari rumah Nas memelihara 12 ekor burung dara.
Banten merupakan propinsi ketiga terbanyak dalam kasus Flu Burung, setelah Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Wednesday, January 30, 2008

Flu Burung Hingga Akhir Januari 2008, 124 Kasus Positif dengan 100 kematian


Memasuki pekan terakhir bulan Januari 2008, korban positif Flu Burung bertambah 4 kasus, berdasarkan pemeriksaan RT – PCR (Real Time Polimerase Chain Reaction) Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Keempat korban tersebut adalah Nas dari Kab. Tangerang Propinsi Banten, MIY dari Depok Propinsi Jawa Barat, serta Res dan Vir dari Jakarta Timur, Propinsi DKI Jakarta.
Sejak ditemukan kasus pertama pada pertengahan bulan Juli 2005, jumlah kasus Flu Burung di Indonesia hingga tanggal 28 Januari 2008 mencapai 124 orang, 100 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 80.6%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 28 Januari 2008.
Nas (L, 32 th), pedagang pecel ayam warga Perumahan Medistrania, Desa Sukamulya, Kec. Cikupa, Kab. Tangerang, Banten mulai sakit tanggal 17 Januari 2008 dengan gejala sakit kepala, nyeri perut, sesak napas dan demam. Tanggal 24 Januari, Nas masuk RS Bakti Asih Tangerang, lalu dua hari kemudian (26/01) dirujuk ke RS Persahabatan. Kini Nas masih dirawat di ruang ICU. Salah satu tetangga yang tinggal sejauh 500 meter dari rumah Nas memlihara 12 ekor burung dara.
MIY (L, 9,5 th), pelajar warga Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat mulai sakit tanggal 16 Januari 2008 dengan gejala sakit berat, sesak nafas berat, dan panas sampai 37,80C. Setelah berobat ke RS Sentra Medika Cimanggis, tanggal 23 Januari 2008 dirujuk ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPISS) tanggal 27 Januari 2008. Hingga saat ini faktor penyebab penularan masih dalam penyelidikan.
Res (P, 31 th), warga Duren Sawit, Jakarta Timur, mulai demam tanggal 18 Januari 2008. Masuk RS Harum tanggal 22 Januari 2008 dengan keluhan batuk. Empat hari kemudian (26/1/2008) ia dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta Timur dengan keluhan panas, batuk serta sakit kepala. Hingga kini RF masih dirawat dengan menggunakan ventilator. Berdasarkan penyelidikan ditemukan beberapa hal yang mungkin merupakan sumber penularan (faktor risiko), yaitu adanya tempat pemeliharaan ayam 100 meter dari rumahnya dan tempat penyembelihan ayam 500 meter dari rumahnya. Selain itu, pada tanggal 15 Januari 2008, RF pernah pergi ke pasar unggas.
Vir (P, 23 th), warga Pulogebang Jakarta Timur mulai sakit tanggal 19 Januari 2008 dengan keluhan demam dan sesak nafas. Tanggal 24 Januari ia dirawat di RS Ananda Bekasi dan dirujuk ke RSPI-SS dua hari kemudian (26/01), meninggal tanggal 27 Januari 2008. Hingga saat ini kemungkinan sumber penularan Vir masih dalam penyelidikan.Sumber penularan Flu Burung masih berasal dari unggas. Oleh karenanya, masyarakat sebaiknya tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tuesday, January 22, 2008

Kasus Flu Burung Positif ke-120


GR, Pasien Flu Burung Asal Banten Meninggal Dunia

Depkes Online, 25 Jan 2008
GR (L, 30 TH), warga Tangerang, Propinsi Banten yang dinyatakan positif terinfeksi virus Flu Burung (H5N1), berdasarkan pemeriksaan RT-PCR (Real Time Polymerase Chain Reaction) Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta (22/01/08), akhirnya meninggal dunia tanggal 24 Januari 2008 pukul 06.30 WIB di RS Persahabatan Jakarta. Dengan demikian, secara kumulatif total kasus positif Flu Burung di Indonesia mencapai 120 orang, 98 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) 81,6%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 24 Januari 2008.
Dengan bertambahnya kasus Flu Burung pada manusia, Pemerintah Daerah perlu lebih tanggap terhadap unggas-unggas yang sakit dan mati mendadak dan segera melakukan tindak lanjut pengendalian dan pencegahan penularan. Penelitian atau investigasi harus juga disosialisasikan untuk mendapat kerja sama masyarakat.



Kasus Flu Burung Positif ke-119

S (L, 8 th), warga Jl. Petir Utama I/64 Rt.003/05 Kel. Petir, Cipondoh, Tangerang, Propinsi Banten, dinyatakan positif terinfeksi virus Flu Burung, H5N1, berdasarkan pemeriksaan RT – PCR (Real Time Polimerase Chain Reaction) Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, tanggal 18 Januari 2008. Dengan demikian, total jumlah kasus positif Flu Burung di Indonesia mencapai 119 orang, 97 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) 81.5 %.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 18 Januari 2008.
S (L, 8 th) warga Tangerang, Provinsi Banten, mulai sakit tanggal 7 Januari 2008 dengan gejala panas, batuk, sesak nafas, dan sakit tenggorokan. Masuk Rumah Sakit Umum Cengkareng tanggal 16 Januari 2008 dan tanggal 17 Januari 2008 dirujuk ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso Jakarta. S (L, 8 th) meninggal dunia di RSPI Sulianti Saroso tanggal 18 Januari 2008 pukul 04.00 WIB. Mengenai faktor risiko, tetangganya memiliki tempat usaha pemotongan ayam.

Tuesday, January 15, 2008

LAPORAN PENGAMANAN KESEHATAN HAJI MES 2007

Ibadah haji merupakan Rukun Islam yang ke 5 (lima), dengan demikian merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah yang mampu (istitho’ah). Ibadah haji mempunyai kekhususan dibandingkan dengan ibadah lainnya, karena haji hanya dapat dilakukan pada waktu dan tempat tertentu yaitu ditanah suci Makkah, Madinah, Arafah, Mina ( Arab Saudi ).
KKP Kelas II Medan dalam melaksanakan salah satu TUPOKSI nya, setiap penyelenggaraan haji selalu berperan aktif untuk mengamankan kesehatan para jamaah yang akan diberangkatkan. untuk lebih jelasnya, silahkan klik :

pengamanan-kesehatan-haji-2007.pdf

Kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 116 orang




Hingga Berakhirnya tahun 2007, Secara kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 116 orang, 94 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematiannya (Case Fatality Rate = CFR) 81%.Demikian data terbaru yang diperoleh Pusat Komunikasi Publik dari Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI, 25 Desember 2007.


http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2953


Main Hakim Sendiri Berpotensi Menularkan AIDS


Medan, WASPADA Online
Tindakan main hakim sendiri yang dilakukan masyarakat terhadap pelaku kejahatan yang secara kebetulan juga mengidap HIV/AIDS, akan berpotensi terjadi penularan virus mematikan itu.Demikian pendapat dikemukakan Kadis Kesehatan Kota Medan dr. Umar Zein, DTM&H, SpPD-KPTI kepada Waspada di Medan, Selasa (27/11), menanggapi kasus tertangkapnya seorang pria yang mengaku pengidap HIV/AIDS saat melakukan aksi perampokan.Menurut Umar Zein, virus AIDS sangat potensial di dalam darah, sperma dan cairan vagina. Jika pengidap HIV/AIDS dihajar massa hingga mengeluarkan darah dan tanpa disadari terdapat luka kecil atau erosi kulit pada tangan orang-orang yang menganiayanya, maka penularan HIV/AIDS tersebut bisa saja terjadi."Jika tangan yang mengalami luka atau erosi kulit terkena darah pengidap HIV/AIDS, maka akan berpotensi terjadi penularan HIV/AIDS," ujar Umar Zein.Seperti diberitakan sebelumnya, seorang pria mengaku pengidap HIV/AIDS melakukan aksi perampokan di Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, Senin (26/11) siang. Tersangka berinisial IS, 22, berhasil ditangkap massa dan digiring ke Pos Satpam RSU Dr. Pirngadi Medan (RSPM) untuk diinterogasi. Tersangka IS dalam kondisi sakau , mengaku nekad melakukan aksi perampokan untuk membeli narkoba. Bukan kriminalDi tempat terpisah, Fachnita Fachruddin dari kelompok pendamping Galatea berpendapat, orang yang kecanduan narkoba kemudian melakukan tindak kejahatan untuk mendapatkan narkoba bisa dikatakan bukan sebagai pelaku kriminal.Pasalnya, kata Fachnita, orang itu melakukan tindak kejahatan atas dorongan sifat kecanduan dari narkoba tersebut. Sementara itu, Kadis Kesehatan Sumut dr. Hj. Fatni Sulani, DTM&H, MSi menegaskan, tindak kejahatan yang dilakukan pengidap HIV/AIDS bukan menjadi tanggung jawab kelompok pendamping.Menurut Fatni, keberadaan kelompok pendamping untuk membantu dan memberikan dukungan kepada para pengidap HIV/AIDS. Jika pengidap HIV/AIDS melakukan tindak kejahatan, maka sudah menjadi tanggung jawab individu. (m26) (ags)

Sunday, November 25, 2007

Sudah 87 Sertifikat Hapus Serangga bagi Pesawat yang beroperasi di bandara Polonia Medan

Hingga saat ini, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Medan telah menerbitkan 87 Sertifikat Hapus Serangga bagi Pesawat yang beroperasi di bandara Polonia Medan dengan rincian sbb:
Pada Periode April s/d Mei 2007

1. Pesawat Adam Air sebanyak 24 Sertifikat
2. Pesawat Kartika Air 1 Sertifikat
3. Pesawat Lion Air sebanyak 14 Sertifikat
Jumlah 39 Sertifikat Hapus Serangga.

Periode Nopember s/d Desember 2007

1. Pesawat Adam Air sebanyak 22 Sertifikat
2. Pesawat Kartika Air 1 Sertifikat
3. Pesawat Lion Air sebanyak 14 Sertifikat
4. Pesawat Air Asia sebanyak 10 Sertifikat
5. Pesawat Garuda Indonesia Airways 1 Sertifikat (Pesawat Haji)
Jumlah 48 Sertifikat Hapus Serangga.

Jumlah Total Sertifikat yang telah diterbitkan 87 Sertifikat Hapus Serangga

KKP Kelas II Medan sangat berharap kesamaan persepsi dan langkah dari teman-teman KKP yang memiliki Bandar Udara Internasional se Indonesia. (Medan sering ditanya ”apakah medan bukan Indonesia?”)

Bagi Kawan-kawan Pegawai KKP se Indonesia, Jika anda Membutuhkan rekaman dokumen perjalanan panjang menegakkan Pasal 14 Undang-undang no. 2 tahun 1962 tentang Karantina Udara, silahkan email kami dengan alamat karsemedan@yahoo.com

Friday, November 23, 2007

Pesawat Garuda Pengangkut Jamaah Haji Embarkasi MES di Desinseksi.

Sebagai garda terdepan dalam upaya cegah tangkal keluar masuknya Penyakit yang tergolong Penyakit Karantina dan Penyakit Menular Potensial Wabah serta Penyakit yang tergolong PHEIC di Provinsi Sumatera Utara, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Medan telah melaksanakan Pengawasan Kesehatan Alat Angkut yang keluar Masuk di Bandar Udara Polonia Medan. Pada tanggal 23 Nopember 2007 jam 05.00 WIB yang bertepatan dengan masa pelaksanaan haji tahun 1428 H / 2007-2008 M telah melaksanakan tindakan kekarantinaan berupa Hapus Serangga (Desinseksi) terhadap pesawat garuda dengan No.Penerbangan GA 3107 No. Register TF-AMJ dengan menggunakan Permetrin Aerosol Spray.
Selanjutnya KKP Kelas II Medan Menerbitkan Sertifikat Hapus Serangga Sebagai mana diperintahkan dalam Pasal 14 Undang-undang nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara.

Instruksi Kementerian Kesehatan Arab Saudi.

Pada tanggal 7 Nopember 2007, Pemerintah Arab Saudi melalui kementerian kesehatannya dalam website resmi pemerintah telah mengumumkan bahwa : ”Pesawat, kapal laut dan angkutan lainnya yang datang dari negara tertentu harus juga membawa sertifikat yang membuktikan mereka telah menjalani desinseksi (hapus serangga) sebelum memasuki wilayah Arab Saudi” (Aircraft, ships and other modes of transport coming from such countries should also carry certificates proving that they have been disinfected before entering Saudi territory)
http://www.arabnews.com/?page=1&section=0&article=103276&d=7&m=11&y=2007
Foto - foto diatas merupakan dokumentasi kegitan Pelaksanaan Desinseksi terhadap pesawat yang segera akan digunakan Kloter 7 MES.

Thursday, November 22, 2007

Ministry Takes Steps to Upgrade Health Care for Pilgrims

Mohammed Rasooldeen, Arab News RIYADH, 7 November 2007

The Ministry of Health will establish computer links between hospitals and pharmacies in the holy cities of Makkah and Madinah during the upcoming Haj season to help doctors ascertain the availability of drugs and medicines at pharmacies, the ministry announced yesterday.
“Such a network would help hospitals coordinate with pharmacies to find the availability of drugs and medicines so that doctors can prescribe them without any problems,” Dr. Ridah M. Khaleel, consultant to the Ministry of Health and head of the ministry’s Haj Committee, said in a statement to Arab News.
He added that such arrangements are being made to ensure that pilgrims are provided with appropriate health care services during their stay in the Kingdom.
The ministry will also deploy this year more health officials at the Haj Terminal in Jeddah’s King Abdul Aziz International Airport to look after the health interests of pilgrims.
“Officials will be deployed in the six arrival lounges to monitor the health condition of pilgrims through surveillance cameras installed at the airport. They will also meet and assist pilgrims facing health problems,” said Khaleel.
The ministry has purchased three new ambulances at a cost of SR120,000 to add to its present fleet at the airport. “These vehicles will be used to transport sick pilgrims, if any, to the nearest hospital from the airport,” he added.
Meanwhile, Saudi diplomatic missions abroad have been instructed to issue Haj visas only to pilgrims that have vaccination certificates against meningitis and, depending on the country, other diseases such as yellow fever.
Pilgrims coming from countries where yellow fever is endemic should carry with them valid certificates showing that they have been vaccinated against the illness, said the official.
Aircraft, ships and other modes of transport coming from such countries should also carry certificates proving that they have been disinfected before entering Saudi territory.
Pilgrims should get vaccinated against meningitis at least 10 days before arriving in the Kingdom.
Domestic pilgrims, residents of Makkah and Madinah and workers on assignments related to Haj, should also take meningitis vaccination.
A single meningitis shot has a three-year validity period.
The Health Ministry also advises pilgrims, particularly the aged and those with respiratory diseases, diabetes, and kidney, liver and heart complaints, to get vaccinated against influenza.
Pilgrims suffering from chronic ailments such as diabetes, hypertension, renal disorders and cardiac problems are advised to consult family doctors prior to leaving for Haj and to also bring with them adequate medication and medical reports of their health condition in case of an emergency.
As part of its health education program, the ministry will distribute 1.7 million pamphlets in 10 languages to pilgrims. Pamphlets are being printed in several languages, including English, Arabic, French, Urdu, Bahasa, Persian, Russian, Turkish, Mandarin Chinese and Bengali.
Meanwhile, the Ministry of Haj has announced that the first day of arrival of foreign pilgrims at King Abdul Aziz International Airport in Jeddah and Prince Muhammad ibn Abdul Aziz International Airport in Madinah has been fixed for Saturday, Nov. 11.
Pilgrims will continue to arrive at both the airports until Dec. 14. The last date for pilgrims who arrive in Makkah first to travel to Madinah will be Dec. 5 by bus and Dec. 12 by air.
The final date for pilgrims to come from Madinah to Makkah by bus will be Dec. 15 and by air via Jeddah will be Dec.16.
The closing date for departing pilgrims has been fixed for Jan. 24.

http://www.arabnews.com/?page=1&section=0&article=103276&d=7&m=11&y=2007

Ministry Takes Measures to Ensure a Healthy Haj

Ministry Takes Measures to Ensure a Healthy Haj

Mohammed Rasooldeen & Ali Al-Zahrani, Arab News RIYADH, 25 May 2006
The Kingdom has instructed all its overseas missions to emphasize the health guidelines while issuing Haj visas for foreign pilgrims, a Haj Ministry spokesman announced yesterday.
While there are no new specific requirements, the Haj Ministry has embarked on an effort to reiterate via Saudi Arabia’s foreign missions the importance of health considerations among the guests of God.
First and foremost, pilgrims should take proper health measures to prevent the spread of communicable infections, to get orientated about the health challenges of the Haj and should inform authorities of any significant health problems upon entry to the Kingdom.
Khaled Al-Marghalani, general supervisor for communications and health awareness at the ministry, told Arab News yesterday that the Saudi government is stepping up efforts to ensure pilgrims adhere to these guidelines.
“The Ministry of Health has sent out circulars through the Ministry of Foreign Affairs to all Saudi foreign missions to adhere to the guidelines strictly when visas are issued at their ends,” he said.
About two million pilgrims come here for the Haj through visas issued by Saudi embassies and consulates. All of these pilgrims convene in the weeks prior to the six-day pilgrimage, creating major challenges in crowd control and safety in the world’s largest annual assembly of people.
Al-Marghalani pointed out that some of the diseases are imported into the country due to lack of preventive measures taken by the foreign pilgrims and their governments.
The Foreign Ministry had advised its missions to request overseas Haj travel operators to organize orientation programs to educate the pilgrims on basic health rules to be followed during their stay in the holy cities.
Al-Marghalani said the ministry has instructed the pilgrims to produce vaccination certificates against yellow fever, meningitis, polio and influenza depending on the countries of origin. Vaccinations against meningitis, which are valid for three years, have been made compulsory on all pilgrims since it can easily spread among crowds through droplets of saliva.
Al-Marghalani said that his ministry has installed cameras and has instructed immigration officers to monitor any suspected cases of infected pilgrims entering the Kingdom through all ports of entry.

http://www.arabnews.com/?page=1&section=0&article=82712&d=25&m=5&y=2006

Tuesday, November 6, 2007

SISTEM REGISTRASI KAPAL DALAM RANGKA SURVEILANS

Dalam rangka peningkatan Survelans Epidemiologi terhadap Alat Angkut Laut, terhitung sejak Agustus 2007 Seksi Karantina & SE KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II MEDAN telah menggunakan software Sitem Registrasi berbasis Data Base MS Acces terhadap kedatangan dan keberangkatan Kapal di Pelabuhan Laut Belawan.

Bagi teman-teman KKP dimana saja berada, mohon masukan tentang software ini. Jika berminat silahkan sampaikan kepada kami Tim IT Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Medan. Software ini berbasis MS Acces yang dikembangkan dan dibangun oleh seorang Mahasiswi FKM USU yang melaksanakan PKL tahun lalu.





Penderita Flu Burung Ke-113 Dari Riau



Penderita Flu Burung Ke-113 Dari Riau
Jakarta (Depkes OL), 12 Nov 2007
Kasus Flu Burung bertambah lagi setelah MN (L, 31 th) warga Simpang Garoga, Kecamatan Duri, Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau setelah hasil pemeriksaan Laboratorium Badan Litbangkes Depkes dan laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman membuktikan Mn positif terjangkit H5N1. Dari Riau, kini telah terdapat 6 kasus positif Flu Burung, 5 orang diantaranya meninggal dunia. Total kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 113 orang, 91 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematiannya (Case Fatality Rate = CFR ) sebesar 79,46%.
Demikian data dari Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI. MN mulai sakit 31 Oktober 2007 dan dirawat di RS Permatahati Duri, 3 November 2007. Karena kondisinya terus memburuk, tanggal 6 November dirujuk ke RS Arifin Achmad tetapi meninggal hari itu juga. Jenazah dimakamkan di Deli Serdang Sumatera Utara. Kemungkinan kontak dengan unggas masih dalam penyelidikan.
Sumber penularan Flu Burung umumnya masih berasal dari unggas. Karena itu masyarakat diimbau tidak memelihara unggas atau memisahkan unggasnya dari pemukiman.

Sumber :
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2905

ES, Kasus Flu Burung Asal Tangerang, Meninggal Dunia
Jakarta (Depkes OL), 07 Nov 2007

ES (P, 30 th) warga Jl. Rasuna Said RT 04/06 Cipete, Kec. Pinang, Kab. Tangerang, Propinsi Banten yang dinyatakan telah positif Flu Burung (H5N1), meninggal Sabtu, 3 November 2007 pukul 13.30 WIB, di RS Persahabatan.
Dengan demikian, di Propinsi Banten terdapat 18 kasus positif flu burung, 15 orang diantaranya meninggal dunia. Secara kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 112 orang, 90 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematiannya (Case Fatality Rate = CFR ) 80,35%.
Demikian data terbaru yang diperoleh Pusat Komunikasi Publik dari Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI, 3 November 2007.

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2892

Saudi Gunakan Kamera Pengintai Pantau Kesehatan Jamaah Haji

Kamis, 08 November 2007 09:32 WIB
* Yang Berpenyakit Kuning Harus Bawa Sertifikat
Arab Saudi, WASPADA Online.
Kementerian Kesehatan Arab Saudi segera membuat hubungan komputer antara rumah sakit-rumah sakit dan farmasi di kota-kota suci Makkah dan Madinah selama musim haji mendatang guna membantu para dokter mendapatkan dengan segera obatan yang diperlukannya dari farmasi, demikian menurut pengumuman kementerian itu."Jaringan kerja semacam itu akan membantu rumah sakit berkoordinasi derngan farmasi untuk mengetahui kesiapan obat-obatan supaya para dokter dapat mengeluarkan resepnya tanpa kesulitan, kata Dr. Ridah M. Khaleel, konsultan Kementerian Kesehatan dan kepala Komite Haji Kementerian Kesehatan dalam pernyataannya kepada Arab News Selasa (6/11). Dia menambahkan kerjasama seperti itu perlu untuk menjamin para jamaah diberikan pelayanan kesehatan yang tepat selama mereka berada di Kerajaan Arab Saudi. Kementerian itu tahun ini juga mengerahkan lebih banyak lagi petugas kesehatan di Terminal Haji di Bandara Internasional King Abdul Aziz untuk memperhatikan kondisi kesehatan para jamaah."Para petugas akan dikerahkan di enam pintu kedatangan guna memantau kondisi kesehatan para jamaah melalui kamera pengintai yang dipasang di bandara. Mereka juga akan menemui dan membantu para jamaah yang menghadapi problem kesehatan," kata Khaleel. Kementerian Kesehatan telah membeli tiga ambulan baru untuk menambah armada yang telah ada di bandara. "Kendaraan itu akan digunakan untuk mengangkut para jamaah yang sakit , jika ada, ke rumah sakit terdekat dari bandaram," katanya menambahkan. Visa hanya untuk jamaah.
Sementara itu, misi diplomatik Arab Saudi di luar negeri telah diinstruksikan untuk mengeluarkan visa hanya untuk jamaah haji yang telah memiliki sertifikat vansinasi penyakit meningitis atau tergantung pada negara yang rawan penyakit lain seperti penyakit kuning. Para jamaah yang datang dari negara di mana penyakit kuning menjadi wabah maka mereka harus membawa serta sertifikat yang menunjukkan bahwa mereka telah menjalani vaksinasi terhadap penyakit tersebut, kata seorang pejabat.
Pesawat, kapal laut dan angkutan lainnya yang datang dari negara tertentu harus juga membawa sertifikat yang membuktikan mereka telah menjalani perawatan anti-hama penyakit sebelum memasuki wilayah Arab Saudi.
Para jamaah harus mendapatkan vaksinasi terhadap meningitis sekurang-kurangnya 10 hari sebelum tiba di Arab Saudi.Para jamaah domestik, penduduk Makkah dan Madinah serta para pekerja yang ditugaskan ikut menangani haji juga harus mendapatkan vaksinasi anti-meningitis. Suntikan anti-meningitis berlaku selama tiga tahun.
Kementerian kesehatan juga menasehatkan para jamaah, terutama yang berusia lanjut dan yang memiliki penyakit sesak nafas, diabetes dan ginjal serta keluhan jantung, harus mendapatkan vaksinasi melawan influenza. Para jamaah yang mengalami penyakit kronis seperti diabetes, darah tinggi dan prolem jantung dianjutkan untuk berkonsultasi dengan dokter keluarga sebelum berangkat menunaikan ibadah haji dan juga dianjurkan membawa obat-obatan secukupnya serta laporan medis mengenai kondisi kesehatan mereka dalam hal terjadi keadaan darurat. Sebagai bagian dari program pendidikan kesehatan, kementerian kesehatan akan membagi-bagikan 1,7 juta selebaran dalam 10 bahasa jamaah. Selebaran itu dicetak dalam beberapa bahasa, termasuk Inggris, Arab, Perancis, Urdu, Bahasa Melayu, Persia, Rusia, Turki, Mandarin dan Benggali.Bandara King Abdul Aziz di Jeddah dan Bandara Internasional Prince Muhammad bin Abdul Aziz di Madinah telah disiapkan untuk menyambut kedatangan calon jamaah haji pertama sekitar 11 November.
Para jamaah akan terus berdatangan di kedua bandara itu sampai 14 Desember. Hari terakhir pemulangan para jamaah ditetapkan 24 Januari. (arabnews/m07)

Sumber : http://www.waspada.co.id/Berita/Luar-Negeri/Saudi-Gunakan-Kamera-Pengintai-Pantau-Kesehatan-Jamaah-Haji.html

Tuesday, October 9, 2007

IR Penderita Flu Burung Akhirnya Meninggal Dunia

IR Penderita Flu Burung Asal Tangerang, Banten Akhirnya Meninggal Dunia
22 Oct 2007

Ir (L, 12 tahun), warga Kampung Ceger, Sepatan, Tangerang, Banten yang dinyatakan positif Flu Burung, Rabu 10 Oktober 2007, berdasarkan pemeriksaan PCR realtime dan gelbased Laboratorium Badan Litbangkes Depkes, akhirnya meninggal dunia di RS. Persahabatan tanggal 13 Oktober 2007 pk. 7.30 WIB.
Dengan demikian, secara kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 109 orang, 88 orang diantaranya meninggal dunia dengan angka kematian (Case Fatality Rate = CFR ) 80,73%. Saat ini di Propinsi Banten terdapat 15 kasus positif flu burung, 13 orang diantaranya meninggal dunia.

Sumber : http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2867

Satu Lagi Kasus Flu Burung di Tangerang, Banten
11 Oct 2007
Satu lagi kasus positif flu burung ditemukan di Tangerang, Banten. Ir (L, 12 tahun), warga Kampung Ceger, Sepatan, Tangerang, Jawa Barat dinyatakan positif Flu Burung, Rabu 10 Oktober 2007, berdasarkan pemeriksaan PCR realtime dan gelbased. Ir mulai sakit tanggal 3 Oktober 2007dan saat ini masih dirawat di RS Persahabatan setelah sebelumnya berobat di RS Tangerang. Sebelum sakit, Ir sempat kontak dengan ayam yang positif Flu Burung. Dengan demikian, secara kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 109 orang, 87 orang diantaranya meninggal dunia dengan angka kematian (Case Fatality Rate = CFR ) 79,87%. Saat ini di Propinsi Banten terdapat 15 kasus positif flu burung, 12 orang diantaranya meninggal dunia.
Untuk mencegah dan melindungi diri agar tidak tertular Flu Burung, masyarakat diminta :
Jangan sentuh unggas yang sakit atau mati. Jika terlanjur, cepat-cepat cuci tangan pakai sabun dan laporkan ke Kepala Desa.
Cuci pakai sabun tangan dan juga peralatan masak Anda sebelum makan atau memasak. Masak ayam dan telur ayam sampai matang.
Pisahkan unggas dari manusia. Dan juga pisahkan unggas baru dari unggas lama selama 2 minggu
Periksakan diri ke dokter, Puskesmas atau rumah sakit jika mengalami gejala flu dan demam setelah berdekatan dengan unggas.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2866

Tujuh Warga Labuhan Deli Suspect Flu Burung

Medan, WASPADA Online

Tujuh Warga Labuhan Deli Suspect Flu Burung

Tujuh warga Kecamatan Labuhan Deli yang dicurigai suspect flu burung masuk ruang isolasi gedung flu burung RSUP H Adam Malik Medan menjalani perawatan intensif, Sabtu (6/10) malam. Sebelumnya juga diketahui seorang warga Percut Sei Tuan dicurigai suspect flu burung menjalani perawatan di rumah sakit itu.Informasi yang dihimpun Waspada, Minggu (7/10), ketujuh warga tersebut berinisial MR, 34, SY, 3, SK, 43, ID, 4, SN, 23, SM, 52, dan WT, 36 yang semuanya warga salah satu dusun di Kec. Labuhan Deli, Kab. Deli Serdang. Dari semua warga yang dicurigai suspect flu burung mengalami demam antara 36-38 derajat celcius.Menurut keterangan dari salah seorang perawat jaga, ketika pasien tersebut masuk ke RSUP HAM dalam kondisi lemah mengalami demam mencapai 36, 5 derajat celcius, filek, batuk dan sesak nafas serta tidak ada selera makan. Bahkan, seorang di antaranya mengalami demam tingggi mencapai 38 derajat celcius. Dari keterangan keluarga, berawalnya demam tersebut ketika didapati ternak unggas jenis ayam sekitarnya mati mendadak beberapa hari lalu. Ketika itu warga tersebut sempat memegang ayam yang mati mendadak itu. Dari hasil pemeriksaan tim Dinas Peternakan, ayam yang mati di sekitar tersebut positif terjangkit virus flu burung.Direktur RSUP HAM drg Armand P Daulay, M.Kes melalui Humas Sinar Ginting ketika dikonfirmasi membenarkan adanya tujuh warga Kec. Labuhan Deli mendapat perawatan intensif di ruang isolasi gedung flu burung karena dicurigai suspect flu burung. Namun, sejauh ini belum diketahui apakah warga tersebut positif terjangkit flu burung dan menunggu hasil sample darah yang sudah diambil. (h10)
Sumber :
Selasa, 09 Oktober 2007 10:37 WIB

7 Sampel Darah Suspect Flu Burung Dikirim Ke Jakarta

Medan, WASPADA Online
Sampel darah dan cairan tenggorokan milik tujuh pasien suspect flu burung asal Dusun 6, Desa Telaga 7, Kec. Labuhan Deli, Kabupaten Deliserdang telah dikirim ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan laboratorium Depkes RI."Sampel darah dan cairan tenggorokannya sudah dikirim ke Puslitbangkes Depkes RI, Sabtu (6/10) dan menjalani pemeriksaan di laboratorium mulai Senin (8/10). Kita upayakan sebelum lebaran, hasilnya sudah diketahui," kata Kasubdin Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Sumut dr Surya Dharma kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (8/10).Mengenai kondisi tujuh korban, Surya mengatakan mereka masih menjalani perawatan di RSUP H Adam Malik Medan sejak Jumat (5/10) malam. Surya menambahkan, Dinas Kesehatan Sumut menurunkan tim gerak cepat ke 10 kabupaten/kota yang dinyatakan pernah menjadi tempat penyebaran flu burung. Hal ini dilakukan setelah tujuh warga Dusun 6, Desa Telaga 7,Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deliserdang dan seorang penduduk Jln Al Rido Pasar VIII, Tembung, Kabupaten Deliserdang, dinyatakan menderita suspect flu burung."Tim ini sudah dilatih oleh tenaga profesional untuk penanganan flu burung terutama pada manusianya yang menjadi korban. Selanjutnya tim tersebut akan bekerja di 10 Kabupaten/Kota," ujar Surya. Menurut Surya, 10 kabupaten/kota yang menjadi sasaran tim gerak cepat itu adalah, Langkat, Deliserdang, Medan, Karo, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Asahan, Serdang Bedagai dan Tapanuli Tengah. "10 Kabupaten/kota ini juga mendapat bantuan dari WHO. Sementara daerah lainnya masih di bawah koordinasi agar tidak terjadi penyebaran flu burung," tambahnya.Selama periode Januari - awal Oktober 2007, jumlah kasus suspect flu burung di Sumut mencapai 21 orang dan seorang di antaranya penduduk Lau Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang positif dan meninggal. "Kita terus melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang bahaya flu burung kepada masyarakat," ujar Surya.Seperti diberitakan, virus Avian Influenza (AI) kembali menyerang warga Kabupaten Deliserdang. Akibatnya 7 orang penduduk Dusun 6 Desa Telaga 7 Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deliserdang dilarikan ke RSUP H Adam Malik Medan, Jumat (5/10) malam sekitar pukul 23:00.Ketujuh pasien suspect flu burung itu yakni MR, 7, Su, 3, Suk, 52, S, 43, Hen, 15, Sur, 23, dan Wa, 46, telah menjalani perawatan intensif di gedung Isolasi Flu Burung RSUP H Adam Malik Medan. Sebelumnya, seorang pria berinsial, F, 42, penduduk Jln Al Rido Pasar VIII, Tembung, Kabupaten Deliserdang, Jumat (5/10) pagi sekira pukul 05:30 juga dilarikan ke RSUP H. Adam Malik karena menderita suspect flu burung. (m26)

Monday, October 8, 2007

Pandemi dalam Sejarah

Pandemi pertama yang tercatat dalam sejarah terjadi ketika tahun 430 sebelum Masehi. Ketika perang Peloponnesia antara dua kota utama Yunani kuno, Athena dan Sparta. Strategi yang diterapkan oleh Pericles, pimpinan dan penggagas utama keagungan Athena, dengan bertahan di dalam tembok kota untuk menghadapi kepungan pasukan Sparta yang memiliki kekuatan lebih besar tampaknya membawa hasil yang memuaskan. Namun apa yang terjadi justru diluar perkiraan siapapun. Penduduk Athena justru harus menghadapi maut dikarenakan wabah penyakit yang selama empat tahun kemudian menyebabkan kematian sepertiga warga dan militernya (bbcindonesia.com-08/11/2005). Lebih lanjut dijelaskan oleh Thucydides, ahli sejarah Yunani, dengan detail tentang gejala-gejala penyakit misterius itu. Warga yang sehat tiba-tiba diserang penyakit, yang dimulai dengan rasa panas seperti terbakar di kepala. Kemudian terjadi radang sampai merah membara di mata dan organ bagian dalam seperti tenggorokan atau lidah. Radang itu sampai berdarah dan mengeluarkan bau busuk yang tidak alami. Tetapi itu baru permulaan saja, pasien kemudian menderita bersin dan batuk, diikuti dengan diare, muntah-muntah dan sekujur tubuh kejang. Kulit penderita menjadi pucat dan penuhi benjolan serta bisul. Tenggorokan terasa seperti terbakar dan penderita terus menerus merasa haus. Kebanyakan warga Athena yang terserang penyakit ini meninggal dunia pada hari ketujuh atau kedelapan. Tetapi ketika penyakit bergerak ke bagian pencernaan tubuh, yang ditandai dengan luka lambung dan diare yang parah ditambah dengan daya tahan tubuh yang rentan, kebanyakan orang saat itu yang mengalami ini juga meninggal. Hanya sedikit orang yang selamat, tetapi sering kali mereka pun kehilangan jari tangan, jari kaki, alat vital atau pengelihatan mereka. Itulah gambaran tentang pandemi pertama di dunia yang tercatat dalam sejarah.
Selanjutnya pandemi kembali melanda pada abad kedua Masehi di kerajaan Romawi ketika tahun 165 M pasukan Romawi pulang dari di Timur membawa penyakit yang diyakini banyak ahli sebagai penyakit cacar. Wabah ini menewaskan sekitar lima juta orang. Wabah kedua merebak antara tahun 251 dan 266 Masehi, dan pada masa terburuk wabah itu dikatakan menewaskan 5.000 warga Romawi setiap harinya.
Pandemi berikutnya adalah penyakit yang pada awalnya disebut wabah Justinian. Seperti diketahui lebih lanjut dalam sejarah, penyakit yang ternyata dibawa oleh kutu dari tikus itu sebenarnya adalah pandemi penyakit pes pertama yang menelan korban jiwa besar. Dari tahun 541 sampai 542 Masehi, wabah itu membunuh 40%penduduk Konstantinopel. Sejarawan Bizantium, Procopius mengklaim bahwa pada puncaknya wabah penyakit pes itu menelan korban jiwa 10.000 orang per hari. Penyakit ini kemudian menyebar ke seluruh kawasan timur Laut Tengah dan menewaskan seperempat penduduk kawasan tersebut. Wabah besar kedua yang terjadi pada tahun 588 Masehi menyebar lebih jauh lagi sampai ke Perancis dan menyebabkan korban jiwa akibat penyakit pes di Eropa mencapai sekitar 25 juta orang. Sebutan yang lebih terkenal untuk penyakit pes ini adalah black death (maut hitam) dikarenakan kulit korban yang terkena penyakit ini menghitam karena pecahnya pembuluh darah di bawah kulit. Penyakit ini kembali menyerang daratan Eropa dan Mediterrania dari 1347 hingga1351. Masa itu adalah awal dari siklus berkepanjangan serangannya yang berlanjut hingga awal abad ke-18. Serangan besar terakhir yang tercatat adalah yang terjadi di Marseille pada1722 (Osheim, 2005).
Kolera adalah pandemi berikutnya yang menakutkan umat manusia.
Meskipun hingga sekarang di beberapa daerah termasuk Indonesia masih dapat di temui, penyakit yang pertama kalinya disebutkan oleh seorang dokter berkebangsaan Portugis, Garcia de Orta pada abad 16 M namun penyakit ini mencapai puncaknya pada tahun 1816. kolera ini muncul juga di India dan menyebar masuk Rusia dan Eropa Timur hingga Amerika Utara.
Memasuki abad 20 pandemi yang terjadi adalah pandemi influenza.
Dalam abad lalu tercatat tiga pandemi flu. Yang pertama dan terburuk adalah flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918 di tiga lokasi yang saling berjauhan: Brest di Perancis; Boston di Amerika Serikat; dan Freetown di Sierra Leone. Penyakit itu memiliki tingkat kematian tinggi dan yang mengherankan orang berusia 20 sampai 40 tahun yang jatuh menjadi korban dan bukan mereka yang tua renta. Penyakit flu juga mampu bergerak dengan sangat cepat dengan membunuh 25 juta orang dalam waktu enam bulan. Seperlima warga dunia terinfeksi. Sampai hari ini, asal jenis flu manusia itu belum pernah ditemukan tetapi penelitian baru yang dilakukan oleh Institut Penyakit Menular pada Angkatan Bersenjata Amerika Serikat mengisyaratkan bahwa kemungkinan besar penyakit influenza berasal dari burung. Influenza kemudian menghilang hampir sama cepatnya, namun setelah menewaskan sekitar 40 juta orang. Jumlah ini lebih besar dari korban jiwa dalam Perang Dunia Pertama yang berakhir pada waktu yang hampir bersamaan hingga kemudian dunia kembali menemukan panyakit flu burung di Hongkong pada tahun 1997. Flu burung tidak dikenal menyerang manusia sampai ditemukan kasus di Hongkong ini menyerang 18 orang dan menewaskan enam diantaranya. Kematian diakibatkan radang paru-paru dan gangguan pernafasan, gagal ginjal dan komplikasi lainnya. Gejala timbulnya penyakit ini sama dengan influwnza biasa yaitu demam, batuk dan sebagainya. Walaupun manusia punya kekebalan terhadap virus influenza namun pada kasus flu burung ini tubuh kita belum terbiasa dengan varietas virus yang baru ini (King, 2005). Ilmuwan mengidentifikasikan variasi jenis dari virus influenza berdasarkan dua protein kunci yang ditemukan di permukaan tubuhnya. Dua jenis tersebut adalah hemagglutin (H) dan neuraminidase (N). Terdapat 15 subtipe utama dari protein jenis H dan 9 jenis dari protein jenis N. Virus yang ditemukan di Hongkong disebut H5N1 karena protein kunci yang ditemukan di permukaan tubuhnya dalah dari subtype H5 dan N1. Beberapa unggas di Eropa dan bagian timur Amerika Serikat mengalami wabah dari jenis H7 yang dipercaya kurang berbahaya bagi manusia (King, 2005).
Bank Dunia mendesak para pembuat kebijakan di seluruh dunia agar menjadikan ancaman pandemi flu burung global prioritas utama mereka. Organisasi itu mengatakan, pihaknya sangat khawatir akan dampak ekonomi yang dapat ditimbulkan oleh pandemi global, dan menyerukan agar segala cara dilakukan guna membatasi penyebaran flu burung pada sumbernya, sehingga mengecilkan resiko pandemi di kalangan manusia. Pernyataan tersebut dikeluarkan dalam sebuah laporan mengenai prakiraan ekonomi di Asia Timur, yang menurut Bank Dunia sudah menderita dampak ekonomi utama dari penyebaran virus H5N1 di kalangan unggas. Industri unggas paling menderita secara ekonomi sejauh ini. Pemusnahan unggas telah menyebabkan pasokan ayam dan unggas lain turun 15-20% di negara yang paling parah terkena yaitu Vietnam dan Thailand. Pengusaha ternak dan pedagang ayam menderita kerugian besar karenanya.
Dalam masalah kesehatan, kekhawatiran terbesar adalah virus ini bisa berkembang sehingga menular dari manusia ke manusia. Ini tentu saja akan menimbulkan konsekuensi serius karena akan sangat berpengaruh pada industri seperti turisme dan perhubungan. Seorang pejabat tinggi PBB memperingatkan, mungkin akan terjadi wabah baru influenza setiap saat, yang mungkin menewaskan 150 juta orang (bbcindonesia.com-30/09/2005).
Tamiflu, Roche dan TRIPs
Sementara wabah semakin menjalar, beberapa negara berkembang mengatakan mereka terpaksa keluar dari persaingan untuk membeli tamiflu, satu diantara segelintir obat yang dianggap efektif melawan virus flu burung H5N1, karena mereka tidak mampu membeli. Produsen Tamiflu, Roche, mendapat tekanan besar untuk memproduksi lebih banyak obat dan membolehkan perusahaan-perusahaan obat lainnya meniru obat itu dengan biaya lebih murah. Roche mengatakan pihaknya akan berbicara dengan pemerintah berbagai negara dan perusahaan obat lain untuk memberi mereka izin membuat Tamiflu (bbcindonesia.com-18/10/2005). Hal seperti ini dapat terjadi diakibatkan diterapkannya perluasan perlindungan paten dalam TRIPs (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) untuk produk obat-obatan. Melalui mekanisme kesepakatan WTO paten ini menghambat kemungkinan produsen obat lokal untuk memproduksi obat generik dan obat penyelamat hidup (life saving drugs). Sebelum ditetapkan TRIPs, produsen lokal diperbolehkan memproduksi obat-obatan sejenis dengan proses yang berbeda karena proses pembuatannya tidak termasuk dipatenkan.Karena itulah dilakukan tekanan terus menerus untuk merubah ketetapan ini karena nyawa manusia yang jadi taruhannya. Negara-negara Afrika dan kelompok masyarakat sipil termasuk yang paling gencar melancarkan kampanye tentang dampak TRIPs ini terhadap akses obat-obatan bagi orang miskin. Pada akhirnya negara-negara maju mengijinkan impor pararel dan lisensi wajib bagi obat-obatan.Lisensi wajib adalah penggunaan obyek paten tanpa ijin dari pemegang haknya ketika keadaan darurat seperti ketika pandemi menyerang dan bencana alam. Impor pararel adalah pembelian langsung dari pihak ketiga di negara lain bukan dari produsen karena terkadang produsen memberlakukan harga yang berbeda untuk negara yang berbeda. Dengan kedua mekanisme yang ada ini diharapkan dapat diterima obat dengan harga yang lebih terjangkau dan dunia dapat lebih siap siaga menghadapi pandemi seperti flu burung yang saat ini masih mengancam (Jhamtani, 2005).
Kepustakaan.
  1. Jhamtani, Hira.2005.”WTO dan Penjajahan Kembali Dunia Ketiga” Insist Pers. Yogyakarta.
  2. King, Christopher. "Avian Flu." Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.
  3. Osheim, Duane J. "Black Death." Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.

Thursday, September 27, 2007

Bagaimana Kesiapan Provinsi Sumatera Utara bila Pandemi terjadi ????

MENGAPA AVIAN INFLUENZA MENJADI PERHATIAN DUNIA ???


  • Penyakit menular seperti Demam Berdarah, TBC, Malaria,Diare, dan HIV/AIDS à angka kesakitan dan angka kematiannya jauh lebih besar daripada Flu Burung (AI), namun tak mempunyai potensi menimbulkan pandemi.
  • Flu Burung berpotensi menimbulkan pandemi Influenza.

AKIBAT YANG DITIMBULKAN PANDEMI INFLUENZA:



1.ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN TINGGI

2. KELUMPUHAN PELAYANAN KESEHATAN

3. KEKACAUAN KEAMANAN DAN SOSIAL

4. KERUGIAN BESAR DALAM BIDANG EKONOMI ( PERDAGANGAN, PARIWISATA DLL) ==> Kerugian ekonomi akibat SARS $ 50 M ; Kerugian ekonomi akibat Flu Burung sekitar $ 800 M



FAKTOR PENENTU PANDEMI



  1. Timbulnya virus baru yang semua orang tidak kebal

  2. Virus tersebut mampu berkembang biak pada manusia dan menyebabkan penyakit

  3. Virus tersebut dapat ditularkan dari manusia ke manusia secara efisien

Provinsi Sumatera Utara bila Pandemi terjadi ????


Provinsi Sumatera Utara dengan Topografi Pantai, Dataran Rendah dan Pegunungan dengan luas wilayah 710.680 km2 berpenduduk 12.580.697 jiwa. Fasilitas Kesehatan 170 Rumah Sakit dan 411 Puskesmas.

Kabupaten / Kota yang telah tertular AI ada 10 yaitu : Binjai, Deli Serdang, Karo, Medan, Simalungun, Sedang Bedagai, Padangsidimpuan, Langkat, Asahan dan Tarutung

KASUS SUSPEK FLU BURUNG DI PROPINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2005-2007 adalah 44 Kasus hasil Laboratorium 36 Negatif (-) 8 Positif (+) meninggal 7 Kasus; Yaitu :



  • Tahun 2005 Jumlah Kasus 9 dengan hasil Laboratorium Negatif (-);

  • Tahun 2006 Jumlah Kasus 22 dengan hasil Laboratorium 15 Negatif (-) 7 Positif (+) meninggal 6 Kasus;

  • Tahun 2007 Jumlah Kasus 13 dengan hasil Laboratorium 12 Negatif (-) 1 Positif (+) meninggal 1 Kasus;

Berap Ruang ICU tersedia ? berapa ventilator yang telah tersedia ? dsb..... dsb.......

Sebagai bahan Renungan bagi kita, silahkan Klik pada Gambar.

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN