SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Monday, October 12, 2009

Menkes: Indonesia berkomitmen turunkan angka kematian

MEDAN - 11/10/2009

Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari, mengatakan, Indonesia berkomitmen menurunkan angka kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara penyakit campak hingga 90 persen pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2000.
“Karenanya, dilaksanakan beberapa upaya meliputi imunisasi rutin campak pada bayi usia 9 bulan dan imunisasi campak dosis kedua pada anak SD serta melakukan imunisasi tambahan untuk menghilangkan akumulasi kelompok rentan,” katanya melalui Dirjen Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Chandra Yoga Aditama.
Disebutkan, cakupan imunisasi rutin secara nasional telah mencapai terget namun belum merata di seluruh wilayah Indonesia termasuk Sumut. Penyakit campak masih menjadi salah satu penyebab utama kematian bayi dan balita di Indonesia, untuk itu perlu upaya meningkatkan tingkat kekebalan terhadap penyakit campak melalui pemberian imunisasi campak tambahan pada balita.
Gubsu, Syamsul Arifin, atas nama Pemprovsu menyambut gembira atas bantuan yang diberikan oleh WHO dan UNICEF dalam rangka kampanye campak dan polio tambahan. Campak, kata Gubsu, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan mudah menular pada anak-anak yang rentan serta berpotensi menyebabkan kejadian luar biasa (wabah) sehingga dapat mengancam kesehatan bagi bayi dan balita.
“Penyakit campak dapat menular dengan cepat dari satu anak ke anak yang lain dan dapat mengakibatkan panas, batuk, sesak nafas, sariawan, diare dan bahkan dapat mengakibatkan kebutaan dan kematian,”ujarnya.
Kampanye imunisasi campak dan polio tambahan akan dilaksanakan di 33 kabupaten/kota di Sumut masing-masing di 417 kecamatan, 5.815 desa dan 16.585 Posyandu.
Sumber : waspada OL

A/H1N1 flu cases increase dramatically in Spain

MADRID, Oct. (Xinhua) --

The number of A/H1N1 flu cases in Spain rose sharply between Sept. 27 and Oct. 3 to an estimated 40,564 cases, the Spanish Ministry of Health announced.

This weekly figure was a dramatic increase of 9,242 from the previous week's 31,322 cases. Meanwhile, the infection rate had climbed sharply from the previous 77.88 cases per 100,000 inhabitants to 94.72 cases per 100,000 inhabitants, the ministry added.

There had been 43 deaths to date as a result of the A/H1N1 flu virus; the last victim was a 46 year-old woman in Malaga.

However, nearly all of those who died also had other health problems. The mortality rate stands at 0.17 per 1,000 cases.

Friday, October 9, 2009

Penyakit Aneh Serang Perempuan Zambia

Jumat, 9 Oktober 2009 | 11:36 WIB

LUSAKA, KOMPAS.com - Penyakit aneh yang hanya menyerang persendian kaum perempuan dan membuat mereka tak bisa berdiri tanpa bantuan dijumpai di Provinsi Luapula, Zambia

Penyakit aneh, yang disebut "dwarf", itu telah menyebar di daerah Chembe di Provinsi Luapula dan hanya menyerang perempuan dan anak perempuan, sehingga mereka tak bisa berdiri tanpa bantuan. Teleshi Lewando, seorang pegawai di Pusat Kesehatan setempat, mengatakan kepada anggota parlemen dari daerah tersebut, Mwansa Mbulakulima, yang sedang berkunjung, bahwa penyakit itu "tidak serius" dan semua pasien dapat disembuhkan setelah tiga hari.

Ia mengatakan penyakit tersebut pertama kali menyebar di sekolah menegah Kabunda. Sejumlah siswi di sekolah itu telah menderita penyakit tersebut. Semua orang yang terserang hanya diberikan obat Panadol.

Tetapi anggota parlemen itu mengatakan meskipun penyakit tersebut tidak serius, para ahli kesehatan perlu menyelidiki mengapa penyakit itu hanya menyerang anak perempuan dan kaum perempuan. "Ya, kita telah diberitahu bahwa penyakit ini -dwarf- tidak serius, tapi kemudian kita tak boleh terlena karena jaminan itu, malah kami mesti bekerja keras untuk menemukan kebenaran mengenai penyakit tersebut," kata Mbulakulima kepada para pekerja kesehatan.

Sumber : ANT http://m.kompas.com

Wednesday, October 7, 2009

Vaksin Influenza A-H1N1 Dinyatakan Aman

Rabu, 7 Oktober 2009 09:33 WIB

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (6/10), mengulang pernyataannya bahwa vaksin influenza A-H1N1 merupakan alat yang terbaik untuk menghadapi pandemi. Efek samping, seperti otot yang kram atau sakit kepala, memang terjadi pada beberapa kasus, tetapi sebaiknya setiap orang memiliki akses pada vaksin tersebut.
Kampanye massal vaksinasi mencegah influenza A-H1N1 saat ini berlangsung di China dan Australia, dan akan segera dimulai di AS dan sebagian negara di Eropa. Hal ini diungkapkan juru bicara WHO, Gregory Hartl. Tentang keengganan sejumlah orang untuk divaksinasi, Hartl hanya menegaskan, ”Saya berharap setiap orang yang berkesempatan mendapatkan vaksin tersebut benar-benar bisa mendapatkannya.”
Pihak PBB menyatakan bulan Juni lalu bahwa virus A-H1N1 menyebabkan pandemi influenza dan sejumlah perusahaan telah berkolaborasi membuat vaksin. GlaxoSmithKline mendapat pesanan vaksin dari 22 negara lagi pada dua bulan terakhir sehingga total dosis yang dipesan telah mencapai 440 juta dan nilainya sekitar 3,5 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 35 triliun. Perusahaan lain adalah Sanofi-Aventis, Novartis, Baxter, AstraZeneca, dan CSL.

Tuesday, October 6, 2009

Militer Korsel : Korut Miliki 13 Jenis Senjata Biologi

Seoul, (ANTARA News).

Korea Utara (Korut) diperkirakan memiliki 13 jenis virus dan kuman yang dapat digunakan untuk 5.000 ton senjata kimia, kata Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel), Senin (5/10/2009).

Dalam sebuah laporan kepada parlemen, kementerian itu mengatakan Korut, yang komunis, adalah salah satu negara yang memiliki cadangan terbesar senjata kimia dan biologi dunia, sebagaimana dikutip dari AFP.

Daftar penyakit yang dapat ditimbulkan senjata biologi itu meliputi kolera, sakit kuning, cacar, tipus, demam dan disentri.

Kementerian itu memperkirakan cadangan senjata kimia tetangganya itu berjumlah antara 2.500 dan 5.000 ton.

Pernyataan bahwa Korut memiliki senjata kimia dan biologi itu, selain senjata nuklir dan konvensionalnya, bukan hal baru. Tetapi laporan Senin itu memberikan lebih terperinci tentang apa yang disebut senjata biologi itu.

Kelompok Krisis Internasional dalam sebuah laporan Juni menyatakan kemampuan nuklir Pyongyang adalah ancaman paling besar, tetapi juga negara itu memiliki cadangan senjata kimia besar dan program senjata biologi.

Senjata kimia dapat disebarkan melalui bom meriam atau rudal yang dapat menimbulkan korban besar di Korsel, kata badan pemikir yang berpangkalan di Brussels.

Cadangan itu meliputi antara 2.500 dan 5.000 ton gas mostar, phosgene (gas beracun yang tidak berwarna), zat darah, sarin, tabun dan zat syaraf dan yang dapat disebarkan melalui artileri jarak jauh, rudal, pesawat terbang dan kapal angkatan laut, katanya.

Korut dan Korsel secara teknis masih dalam perang karena konflik mereka tahun 1953-1955 diakhiri hanya dengan gencatan senjata dan bukan dengan perjanjian perdamaian.

Militer Korsel, yang berkekuatan 655.000 personil dan didukung 28.500 tentara AS, menghadapi Angkatan Bersenjata Korut --yang memiliki 1,2 juta tentara.

Sumber : Antara OL

Friday, October 2, 2009

Flu A-H1N1, Korban Tewas karena Infeksi Bakteri

KOMPAS.com -

Infeksi bakteri banyak ditemukan pada korban tewas akibat virus A-H1N1 di Amerika Serikat, diduga hal tersebut yang menyebabkan korban tewas. Para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menganalisa contoh jaringan paru dari 77 korban tewas akibat H1N1 antara bulan Mei hingga Agustus tahun ini.
Peneliti menemukan terjadinya infeksi tambahan pada 22 korban (sekitar 29 persen), termasuk 10 yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae atau pnemokokus. Tujuh korban mengalami infeksi Staphylococcus aureus, enam terinfeksi Streptococcus pyogenes, dan dua terinfeksi Streptoccoccus mitis dan satu orang terinfeksi Haemophilus influenzae.
Infeksi ganda bakter patogen adalah faktor utama pada empat kasus kematian. Dari seluruh korban tewas, mereka dirawat selama 1-25 hari dengan rata-rata selama enam hari. Pada 41 korban, infeksi virus H1N1 baru dikonfirmasi sebelum kematian, sedangkan 36 lainnya setelah kematian.
Hasil riset ini sekaligus menyoroti pentingnya vaksin untuk mencegah infeksi pnemokokus. "Bagi mereka yang beresiko tinggi terkena komplikasi influenza diharapkan untuk menanyakan pada petugas kesehatan untuk mendapatkan vaksin pnemokukus saat divaksin influenza," kata Dr.Matthew Moore, ahli epidemiologi dari CDC.
Pnemokokus merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumokukus). Bakteri ini bisa menginfeksi anak-anak maupun dewasa. Bayi baru lahir hingga usia dua tahun sangat rentan terserang pneumokokus.
Sumber : healthdaynews http://m.kompas.com

Thursday, October 1, 2009

Menkes: Gempa Padang Lebih Parah dari Gempa Yogya

Jakarta - 1 O2tober 2009

Kerusakan gempa di Padang, Sumatera Barat, jauh lebih parah dibandingkan gempa yang pernah mengguncang Yogyakarta. Departemen Kesehatan menganggarkan puluhan miliar rupiah untuk bantuan."Gempa di Padang kerusakannya lebih parah dibanding gempa Yogya tapi masih di bawah tsunami Aceh. Jumlah korban mungkin bisa mirip Yogya tapi belum bisa kita hitung. Kita sudah anggarkan puluhan miliar untuk bantuan," kata Menkes Siti Fadilah Supari sebelum bertolak ke Padang dari Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis (1/10/2009).
Siti Fadilah menjelaskan bantuan tersebut akan berupa obat-obatan dan fasilitas rumah sakit darurat. Depkes juga akan membuat crisis center di titik-titik pusat kerusakan gempa. "Peralatan medis di Padang lumayan masih bisa digunakan. Karena Padang adalah salah satu tepat krisis gempa untuk area Sumatra, jadi masih lengkap," katanya.
Siti Fadilah menyatakan, Depkes telah mengirim lebih dari 100 orang tenaga medis ke Padang. "Nanti sore ada tambahan lagi dari Makassar," katanya.(nal/nrl) .

Novel H1N1 Influenza and Respiratory Protection for Health Care Workers

By : Kenneth I. Shine, M.D., Bonnie Rogers, Dr.P.H., R.N., and Lewis R. Goldfrank, M.D.


Your hospital has been seeing a large number of patients with influenza-like symptoms, many of whom turn out to be infected with the novel H1N1 influenza A virus. You have been asked to consult on the case of a 28-year-old woman who is in an isolation room because of an influenza-like presentation and shortness of breath. You put on a gown, carefully clean your hands with hand soap or an alcoholic gel, pull on gloves, and reach for a mask. Guidelines from the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) recommend the use of an N95 filtering facepiece respirator. Some states and many professional groups have suggested that a standard surgical mask is satisfactory in this situation, except when a clinician is performing high-risk procedures, such as airway suctioning, in which case the N95 is still recommended. What should the hospital and its infection-control officer provide when you reach into the box for a respiratory protective device? What should be available to others who will enter this room, including nurses, respiratory technicians, cleaners, and food servers?

Next

Wednesday, September 30, 2009

Australia Mulai Vaksinasi Massal Flu Babi

Brisbane, (ANTARA News) -

Langkah Australia menangani pandemi Flu A H1N1 yang telah menewaskan 180 orang di negara itu, Rabu, memasuki era baru dengan dimulainya program vaksinasi massal kepada para warga yang dianggap rentan terhadap serangan flu babi ini.
Program vaksinasi massal yang menurut laporan media setempat diberikan secara gratis kepada setiap warga Australia berusia 10 tahun ke atas itu dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari hasil uji coba pemakaian vaksin Flu A H1N1 produksi perusahaan bioteknologi, CSL, kepada 240 orang warga di Adelaide, 22 Juli lalu.
Menurut Kementerian Kesehatan Australia, tujuh sasaran utama program vaksinasi Flu A H1N1 adalah ibu hamil, pengasuh bayi berusia enam bulan, dan warga yang menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung, asma, paru-paru, kanker, diabetes, gagal ginjal, dan penyakit yang berhubungan dengan syaraf. Selain itu, yang termasuk kelompok rentan adalah warga Australia yang menderita obesitas akut, warga pribumi, petugas kesehatan, dan pekerja sosial di masyarakat.
Berdasarkan data terkini Kementerian Kesehatan Australia, sejak flu babi dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai ancaman serius April lalu, total jumlah kasus terkonfirmasi Flu A H1N1 di Australia tercatat 36.605 orang. Sebanyak 180 orang di antaranya meninggal dunia. Dari 180 orang korban meninggal dunia, itu sebanyak empat orang di antaranya adalah ibu hamil dan 24 orang lainnya merupakan warga pribumi Australia.
Mereka tersebar di delapan negara bagian dan teritori yang ada di negara benua berpenduduk lebih dari 21 juta jiwa itu.Kementerian Kesehatan Australia mencatat New South Wales sebagai negara bagian dengan angka kematian flu babi yang tertinggi, yakni 49 orang, disusul Queensland (40), Australia Barat (26), Australia Selatan (26), Victoria (24), Tasmania (7), Northern Territory (6) dan Australian Capital Territory (2).
Sumber : Antara OL

7 Juta Penduduk Indonesia Terinfeksi Hepatitis C

JAKARTA, KOMPAS.com -29 Sep. 2009


Jumlah penduduk Indonesia yang terkena virus hepatitis C mencapai 6-7 juta orang yang tersebar di 21 provinsi. Mayoritas penderita adalah laki-laki dalam usia produktif.
Demikian menurut data yang dipublikasikan Pendataan Hepatitis C Nasional yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dan PT Roche Indonesia. Infeksi virus hepatitis C merupakan satu dari 10 penyebab kematian terbesar.
Dalam jangka panjang, infeksi virus ini bisa berlanjut menjadi sirosis dan berakhir sebagai kanker hati. Kenyataan di lapangan menunjukkan sebaran penularan dan besaran jumlah penderita infeksi virus hepatitis C belum diketahui secara pasti. Data yang dihimpun dalam Progam Pendataan Hepatitis C pun belum menunjukkan prevalensi sesungguhnya.
"Data ini memang belum menggambarkan permasalah dasar karena hanya mengukur positif rate berdasarkan pemeriksaan laboratorium," kata dr.Andi Muhadir, MPH, Direktorat Sepim Kesma, Departemen Kesehatan.
Program pendataan yang berjalan sejak tahun 2007 ini melibatkan 21 provinsi yang terdiri dari 123 unit pelapor, yakni rumah sakit swasta dan pemerintah yang dipilih, laboratorium, serta unit transfusi darah PMI. Setiap unit pelapor wajib mengumpulkan data setiap kali ada pasien yang dinyatakan positif terinfeksi hepatitis C berdasarkan pemeriksaan tes anti HCV.
Seluruh pelaporan berbasis internet sehingga data lebih akurat dan dapat langsung terintregasi ke dalam data nasional. "Yang terpenting hanya jumlah datanya tapi bagaimana menyikapi data tersebut lewat tindakan bersifat preventif," kata Andi.
Senada dengan Andi, Dr. Unggul Budihusodo, SpPD-KGEH, ketua perhimpunan peneliti hati Indonesia, mengatakan pencegahan memang cara terbaik untuk menanggulangi hepatitis C. Terlebih penyakit ini tergolong dalam silent disease yang seringkali tanpa gejala.
"Kebanyakan pasien tak sadar dalam dirinya sudah ada virus hepatitis C. Mereka baru berobat setelah penyakitnya menahun dan sudah menjadi kronis," ujarnya. Apalagi hepatitis C yang kronik dan sudah menjadi sirosis umumnya sulit disembuhkan dan banyak menyebabkan kematian.
Sumber : http://m.kompas.com

Tuesday, September 29, 2009

Indonesia to produce A/H1N1 flu vaccine

JAKARTA, Sept. 28 (Xinhua) --
Indonesia is to produce vaccine to stop the further spread of the A/H1N1 viruses that have killed 10 people and infected more than 1,000 others in the country, a senior official of the Health Ministry said here on Monday.

The plan comes after the United Nations recently asked major vaccine producer firms in the world, including Indonesia's drug maker Biofarma, to produce the vaccine, Director General of Disease Control and Environmental Health of the ministry Tjandra Yoga Aditama said.

"As the World Health Organization (WHO) has said that the world could only produce 3 billion doses of the flu vaccine out of 5 billion doses expectation. So, we will produce the vaccine," Yoga told Xinhua at his office when asked whether Indonesia will produce the A/H1N1 flu vaccine.

But, it had not been determined yet the amount of the vaccines to be produced by Biofarma and whether Indonesia would join other countries move to donate the vaccine to under developed countries, he said, adding "Let's wait until two months after the preparation process is completed, then all will be clear, such as the amount of the vaccine to be produced, whether they are only for us or to be given to other countries."
The director said that the development of the A/H1N1 influenza virus has often unpredictable, but his ministry would keep closely to watch it.

Monday, September 28, 2009

WHO Minta Masyarakat Waspadai Munculnya Resistensi Obat

Senin, 28 September 2009 10:10 WIB


Jenewa, Jumat - Penggunaan obat antivirus untuk influenza A-H1N1 sejak dini sangat membantu penanganan penyakit itu, tetapi para tenaga kesehatan harus waspada dan berhati-hati agar tidak terjadi resistensi obat.Demikian terungkap dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia untuk PBB (WHO), pekan lalu.
Resistensi terhadap antivirus H1N1 mulai dilaporkan terjadi secara sporadis. Namun, diduga kasus resistensi belum meluas. Monitoring global WHO mendeteksi 28 virus resistan sejauh ini. Di masing-masing kasus, virus menjadi resistan pada oseltamivir, tetapi tidak zanamivir.
Tenaga kesehatan di berbagai negara semakin berpengalaman dalam menggunakan obat seperti oseltavimir yang diproduksi sebagai Tamiflu oleh Roche Holding dan Gilead Sciences serta zanamivir, obat hirup produksi Relenza oleh GlaxoSmithKline. Para pekerja kesehatan, berdasarkan pengalaman, mengetahui bahwa pemberian secara dini obat-obat tersebut pada pasien yang diduga terkena influenza A- H1N1 atau mempunyai gejala awal penyakit tersebut mengurangi risiko dan komplikasi.
Kualitas kesehatan pasien dengan penyakit yang parah juga meningkat. Pengalaman-pengalaman di lapangan tersebut kemudian mengabaikan pentingnya menjaga efektivitas obat.Obat seringkali diberikan kepada pasien dengan kondisi tubuh baik dan gejala ringan yang diduga influenza A-H1N1. Padahal, pasien berkondisi tubuh baik yang datang dengan gejala ringan itu sebetulnya dapat pulih tanpa pengobatan.
Adapun anak-anak, wanita hamil, dan pasien dengan penyakit tertentu, seperti asma, diabetes, dan persoalan kekebalan tubuh, berpotensi penyakitnya menjadi semakin parah atau berujung kematian.Risiko resistensi obat terutama tinggi terhadap orang berkekebalan tubuh lemah, yang sebelumnya pernah ditangani dengan menggunakan oseltamivir atau orang yang menggunakan antivirus sebagai prophylactic atau terapi pencegahan.
WHO mengimbau petugas kesehatan perlu menginvestigasi apakah telah terjadi resistensi. Jika terjadi resistensi, perlu diteliti sejauh mana resistensi terhadap obat itu telah menyebar. Untuk negara berkembangKoordinator Penanganan Kemunculan Variasi Flu Baru WHO, Dr David Nabarro, mengatakan, sejumlah negara maju setuju membagi vaksin influenza A-H1N1 mereka kepada negara berkembang.
Negara-negara berkembang sangat rentan terhadap influenza A-H1N1 karena tingginya angka penderita malaria, HIV/AIDS, dan tuberkulosis.Produsen obat hanya dapat membuat vaksin A-H1N1 bagi separuh penduduk dunia per tahunnya. Dengan demikian, setiap negara harus membuat pilihan mengenai siapa penduduk yang akan mendapatkan vaksin itu.
Sebuah laporan hasil pertemuan di New York, Amerika Serikat, yang dipimpin Direktur Jenderal WHO Margaret Chan, menyebutkan, 85 negara berkembang akan benar-benar bergantung kepada donasi vaksin itu.Negara-negara berkembang tersebut membutuhkan 1,48 miliar dollar AS per tahun untuk menghadapi pandemi H1N1, beberapa tahun ke depan. Sebagian besar dana itu akan digunakan untuk vaksin dan obat.
Sumber : Kompas OL

Friday, September 25, 2009

Pandemic (H1N1) 2009 - update 66

Weekly update

In the temperate regions* of the northern hemisphere, influenza activity remains widely variable. In North America, the United States is reporting increases in influenza-like-illness activity above the seasonal baseline, most notably in the southern, southeastern, and parts of the northeastern United States.

In Canada, influenza activity remains low. In Europe and Central Asia influenza activity remains low overall, except in France, which is reporting increases in influenza-like-illness activity (for week 37) above the seasonal epidemic threshold. Geographically localized influenza activity is being reported in several countries (Austria, Georgia, Ireland, Luxembourg, Norway, Portugal, the Czech Republic, Cyprus, and Israel). In Japan, influenza activity remains stably increased above the seasonal epidemic threshold with the most notable increases being reported on the southern island of Okinawa.

In the tropical regions of the Americas and Asia, influenza transmission remains active. Geographically regional to widespread influenza activity continues to be reported throughout much of South and Southeast Asia, with increasing trends in respiratory diseases being reported in India and Bangladesh. Geographically regional to widespread influenza activity continues to be reported for the tropical regions of Central and South America without a consistent pattern in the trend of respiratory diseases (continued increases are being reported in Bolivia and Venezuela).

In the temperate regions* of the southern hemisphere, influenza activity continues to decrease or has returned to the seasonal baseline in most countries. In Australia, later affected areas are also now reporting declining levels of influenza-like-illness. In South Africa, influenza activity appears to have recently passed over the second peak (the first peak was due to seasonal influenza A (H3N2) and second peak was due to pandemic (H1N1) 2009).

WHO Collaborating Centres and other laboratories continue to report sporadic isolates of oseltamivir resistant influenza virus. Twenty six such virus isolates have now been described from around the world, all of which carry the same H275Y mutation that confers resistance to the antiviral oseltamivir but not to the antiviral zanamivir. Of these, 12 have been associated with post-exposure prophylaxis, five with long term oseltamivir treatment in patients with immunosuppression. Worldwide, over 10,000 clinical samples and isolates of the pandemic (H1N1) 2009 virus have been tested and found to be sensitive to oseltamivir. WHO will continue to monitor the situation closely in collaboration with its partners.

Pandemic (H1N1) influenza virus continues to be the predominant circulating influenza virus, both in the northern and southern hemisphere. See below for detailed laboratory surveillance update.

*Countries in temperate regions are defined as those north of the Tropic of Cancer or south of the Tropic of Capricorn, while countries in tropical regions are defined as those between these two latitudes.

Source : http://www.who.int/csr/don/2009_09_18/en/index.html



Thursday, September 24, 2009

Kematian Pertama di AS Akibat Virus West Nile

Kamis, 24 September 2009 12:08 WIB


San Francisco (ANTARA News) - Seorang perempuan yang berusia 71 tahun diduga menjadi orang pertama di negara bagian Washington, AS, yang meninggal akibat virus West Nile tahun ini, demikian laporan media lokal, Rabu, seperti dilaporkan Xinhua.
Perempuan itu, yang berasal dari kota Sunnyside, meninggal Sabtu lalu, dan suaminya mengatakan beberapa dokter memberi tahu dia bahwa istrinya adalah korban virus West Nile, kata Yakima Herald-Republic, surat kabar negara bagian Washington, dalam satu laporan.
Pemeriksaan awal memperlihatkan perempuan tersebut mungkin telah terinfeksi virus West Nile, tapi beberapa pejabat kesehatan mengatakan banyak contoh telah dikirim ke laboratorium U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan hasil akhir masih ditunggu.
Jika dikonfirmasi, itu akan menjadi kematian pertama pada manusia akibat virus West Nile di negara bagian Washington dan kesembilan di Amerika Serikat tahun ini.
Keterangan yang disiarkan di laman CDC menyatakan sebanyak delapan orang di engara bagian Idaho, Indiana, Mississippi, New Mexico, Teksas, dan Wyoming, AS, meninggal akibat virus West Nile sepanjang tahun ini.
Virus West Nile biasanya disebarkan ke manusia oleh nyamuk yang menghisap darah burung yang terinfeksi, dan menimbulkan gejala seperti sakit kepala, demam tinggi, tengkuk kaku, pingsan, pelupa, gemetar, sawan, otot lemah, lumpuh dan koma.
Meskipun virus tersebut takkan membuat sakit sebagian besar orang yang terinfeksi, virus itu dapat mengakibatkan kematian dalam kasus langka, kata beberapa ahli kesehatan.

Sumber : Antara OL

Semprot Hidung untuk Flu A-H1N1

ATLANTA, KOMPAS.com
Dosis-dosis pertama vaksin penangkal flu A-H1N1 kemungkinan besar tersedia dalam bentuk semprotan hidung. Demikian disampaikan pejabat kesehatan setempat di Atlanta. Pemerintah Atlanta mernyebutkan, vaksin ini akan tersedia awal Oktober, dengan perkiraan dosis mencapai 3,4 juta.
Saat ini, semprotan ini disetujui untuk dipakai mereka yang yang sehat usia 2 hingga 49 tahun, jelas Dr. Jay Butler, salah satu pejabat Centers for Disease Control and Prevention.
Semprotan hidung yang disebut FluMist, tidak direkomendasikan untuk mereka yang menderita flu A-H1N1 parah dengan komplikasi, termasuk wanita hamil, anak-anak di bawah 2 tahun, penderita asma dan penyakit pernapasan kronis lain.
Semprotan hidung ini memang baru digunakan di Amerika Serikat dan bermanfaat untuk melemahkan strain virus bakal dibagikan ke 90.000 tempat, termasuk sekolah dan klinik se-AS.
Pemerintah sendiri telah memesan sekitar 195 juta dosis dan akan memesan lagi bila tidak mencukupi kebutuhannya. Tentu, ini merupakan kabar bagus kalau vaksin ini segera disebar luaskan, jelas Butler.
FluMist didesain memang untuk anak-anak, tetapi juga efektif untuk orang dewasa. Wakil Direktur CDC Divis Influenza Dr. Daniel Jernigan mengatakan bahwa tidak ada perbedaan berarti soal efek kerjanya untuk usia-usia tersebut. "Lebih baik ada vaksi daripada tidak, bukan?" tambahnya.Kurang dari 100 juta warga Amerika menderita flu tiap tahun dan kemungkinan dengan adanya wabah A-H1N1 situasi ini akan makin merepotkan.
Sekitar 21 negara bagian sekarang dilaporkan sudah terserang flu ini.Meski tidak seganas flu biasa, tapi mudah menyerang terutama pada anak-anak muda. Karena, kasus flu musiman biasa sudah mencapai 200.000 yang masuk rumah sakit dan menyebabkan kematian sampai 36.000.
Sumber : Kompas OL

Sunday, September 13, 2009

Wabah Kolera Hajar Afghanistan

Kabul - Wabah penyakit kolera merebak sekurangnya di sepuluh provinsi di Afghanistan, Kementerian Kesehatan setempat mengumumkan hari ini (13/9/2009), dikutip detikcom dari Algemeen Dagblad dari ANP.

Tercatat sudah 650 kasus korban penyakit sangat menular itu, termasuk di ibukota Kabul, namun sejauh ini wabah kolera masih terkendali dan belum ada laporan korban tewas.

Pemerintah Afghanistan mengatakan bahwa saat ini sejumlah personel tambahan dan obat-obatan sudah dikirim ke wilayah-wilayah yang dilanda kolera.

Kolera akan muncul dan cepat menyebar jika higiene dan sanitasi sangat buruk. Wabah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae itu juga pernah melanda Indonesia di akhir 70-an, termasuk Jawa Tengah dan menelan banyak korban tewas.

Eddi Santosa - detikNews (es/es)

Thursday, September 10, 2009

At least 2,837 die from H1N1 flu: WHO

GENEVA, Sept. (Xinhua) -- The A/H1N1 pandemic has killed at least 2,837 people worldwide since the new flu virus first emerged in April, the World Health Organization (WHO) said Friday.

Of all the deaths, 2,234 occurred in the Americas, followed by the West Pacific region, with 279 deaths. The other four WHO regional offices, South-East Asia, Europe, East Mediterranean and Africa reported 188, 104, 21 and 11 deaths respectively.

The WHO's recorded number of lab confirmed A/H1N1 cases worldwide is more than 254,206, but it actually understates the real number of cases as countries are no longer required to test and report individual cases, the U.N. agency said.

The A/H1N1 virus continues to be the predominant circulating virus of influenza, both in the northern and southern hemisphere, but there are still no signs that the virus has mutated into a more virulent or lethal form, the agency said.

Although the virus can cause severe and fatal illness, also in young and healthy people, the number of such cases remains small, the WHO has said.

Thursday, September 3, 2009

Tambahan 14 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1, 2 orang meninggal

03 Sep 2009


Badan Litbangkes Depkes tanggal 2 September 2009 melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 14 kasus baru, 2 orang diantaranya meninggal dunia, seorang anak dari DKI Jakarta dan 1 orang perempuan dari Yogyakarta, keduanya mempunyai faktor risiko yang mendasari dan juga pneumonia, hasil laboratorium juga menunjukkan H1N1(+). Dengan demikian secara kumulatif, total kasus sampai saat ini 1.097 orang di 25 provinsi dan 10 kematian, kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Ditambahkan, “data kasus influenza A H1N1 di negara tetangga kita menunjukkan Thailand memiliki 14.976 kasus dengan 119 kematian, Singapura 16 kematian, Malaysia 64 kematian dan Australia ada 35.095 kasus dengan 155 kematian", ujar Prof. Tjandra Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.
Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.
Sumber : Depkes OL

Wednesday, September 2, 2009

Virus H1N1 Kalahkan Virus Flu Lain

Rabu, 2 September 2009 11:30 WIB

KOMPAS.com - Kekhawatiran akan terjadinya "koalisi" virus A-H1N1 dengan virus influenza strain lainnya ternyata tidak terbukti. Riset terkini membuktikan, bila virus H1N1 dimasukkan dalam ruangan yang berisi strain virus influenza lain, mereka tidak akan bergabung menjadi virus baru karena virus H1N1 akan mengambil alih dominasi.
Demikian hasil riset terbaru yang dilaporkan para peneliti dari Universitas Maryland, AS. Dalam penelitiannya para peneliti menginfeksi hewan sejenis musang dengan virus H1N1. Meski tidak terjadi koalisi virus, tapi hewan yang terinfeksi dua jenis virus flu tersebut mengalami gejala yang parah dan lebih mudah menularkan virus, atau yang oleh para peneliti disebut sebagai virus H1N1 2009.
Dari hasil penelitian ini, tak heran bila kini virus H1N1 menjadi strain virus influenza yang paling dominan di dunia. Para peneliti juga tak terlalu khawatir lagi virus yang bergabung dan bermutasi menjadi virus baru yang lebih ganas. Kini yang jadi perhatian para ahli adalah bagaimana virus H1N1 ini dengan cepatnya menyebar ke berbagai negara."Hasil studi ini menunjukkan bagaimana virus H1N1 2009 mengungguli virus influenza lainnya dan menjadi lebih mudah menular.
Meski penelitian ini masih awal, namun menegaskan perlunya vaksinasi virus flu segera," kata Dr Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease, AS.Meski tidak terbukti adanya koalisi virus influenza, namun Kepala Laboratorium Flu Burung Universitas Airlangga, Surabaya, CA Nidom, mengatakan yang perlu dikhawatirkan adalah koalisi antara virus flu A-H1N1 dengan virus H5N1. Bila terjadi koalisi dua virus itu, dikhawatirkan muncul virus baru yang sangat ganas dan mudah menular. Karena itu Nidom berpendapat pemerintah seharusnya mulai melakukan pemetaan daerah mana yang memungkinkan terjadi koalisi kedua virus itu (Kompas, 17 Juli 2009).
Sumber : Kompas OL

Penularan A-H1N1 pada Unggas

Selasa, 1 September 2009 13:44 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Penularan virus flu A-H1N1 dilaporkan terjadi pada unggas serta babi di beberapa negara di dunia. Penyebaran virus pada hewan ini dikhawatirkan akan menimbulkan koalisi virus sehingga menjadi lebih ganas dan tingkat penyebaran sangat cepat.
Menurut CA Nidom, peneliti senior Laboratorium Flu Burung Universitas Airlangga, di Surabaya, Jawa Timur, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (31/8), apabila hewan yang terjangkit H1N1 ternyata juga terinfeksi virus lain, bisa terjadi koalisi virus.Meski belum dilaporkan adanya penyebaran virus H1N1 pada unggas dan babi, di Indonesia berpotensi terjadi penularan virus itu pada hewan karena banyak peternakan berada di permukiman penduduk dan sanitasi buruk. Atas dasar itu, pemerintah perlu segera menerapkan surveillance total untuk semua jenis virus, baik H5N1 maupun H1N1, terhadap manusia ataupun unggas. ”Meski sudah sembuh, virus flu A-H1N1 masih berada di dalam tubuh pasien,” katanya.
Seperti diberitakan AFP, virus H1N1 baru-baru ini ditemukan pada kalkun di dua peternakan di dekat Pelabuhan Valparaiso, Cile. Penularan terjadi dari pekerja peternakan ke unggas. Atas dasar itu, PBB menyatakan, peternakan unggas di mana pun di seluruh penjuru dunia juga bisa terinfeksi virus itu. Sejauh ini belum ada kasus H5N1 pada unggas di Cile.Pejabat Cile menetapkan karantina dan membolehkan unggas terinfeksi disembuhkan. ”Unggas sakit telah pulih, aman diproduksi, proses bisa berlanjut,” kata Juan Lubroth, petugas veteriner dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).Kanada, Argentina, dan Australia juga melaporkan penyebaran virus influenza A-H1N1 dari pekerja peternakan ke babi.
”Di Asia Tenggara banyak virus H5N1 bersirkulasi di peternakan. Masuknya virus H1N1 pada populasi ini menjadi perhatian serius,” kata Dr Lubroth.Adapun produsen obat Sinovac akan menjual vaksin flu A-H1N1, yang bekerja hanya dengan satu dosis, 30 persen lebih sedikit dosisnya daripada vaksin produksi sejumlah perusahaan farmasi dari Barat. Hasil uji coba oleh Sinovac menunjukkan, dosis tunggal vaksin ini efektif melawan virus A-H1N1. ”Vaksin produksi perusahaan farmasi Barat akan dijual seharga 30 dollar AS, kami bisa menjual 30 persen lebih murah,” kata Direktur Sinovac Weidong Yin kepada harian bisnis elEconomista.
Sumber : Kompas OL

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN