SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Saturday, November 28, 2009

Mutasi Virus Flu Babi Menyebar Luas

PARIS--MI: Pejabat Kementerian Kesehatan Prancis menyatakan mutasi virus flu babi menyebar di Eropa. Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kenaikan kematian akibat penyakit itu lebih dari 1.000 dalam satu pekan.

Dua pasien yang terinfeksi virus yang bermutasi yang baru-baru ini juga dideteksi di Norwegia telah meninggal di Prancis, kata Lembaga Pengawasan Kesehatan pemerintah (InVS) dalam satu pernyataan.

"Mutasi ini dapat meningkatkan kemampuan virus tersebut guna mempengaruhi saluran pernafasan dan, terutama, jaringan paru-paru," demikian antara lain isi pernyataan itu. "... Salah seorang pasien ini, mutasi ini disertai oleh mutasi lain yang diketahui memberi perlawanan terhadap oseltamivir," katanya.

Pernyataan tersebut merujuk kepada obat utama yang kini digunakan untuk mengobati flu babi A/H1N1, dengan menggunakan nama Tamiflu.

Kasus tersebut adalah rangkaian pertama virus yang tahan obat yang ditemukan di Prancis di antara 1.200 rangkaian yang telah dianalisis para ahli di Paris, kata InVS, yang menambahkan, "Keefektifan vaksin yang tersedia saat ini tidak dipertanyakan."

Kedua pasien itu tak berkaitan dan telah dirawat di dua kota berbeda di Prancis, katanya.

WHO menyatakan korban tewas telah mencapai sedikitnya 7.836 di seluruh dunia sejak virus flu babi A/H1N1 pertama kali ditemukan pada April.

Jumlah kematian yang dilaporkan ke lembaga kesehatan PBB tersebut memperlihatkan kenaikan tajam di Amerika, tempat 5.360 kematian kini telah dicatat dibandingkan sebanyak 4.806 satu pekan sebelumnya.

Namun Eropa juga melaporkan peningkatan dengan sedikitnya 650 kematian, kenaikan 300 kematian atau 85 persen dari data yang dikirim satu pekan sebelumnya.

"Pertanyaannya ialah apakah mutasi ini kembali menunjukkan bahwa ada perubahan mendasar yang sedang berlangsung pada virus itu --apakah terjadi perubahan menuju kondisi yang lebih buruk dalam hal parahnya penyakit tersebut," kata Keiji Fukuda, penasihat khusus WHO mengenai wabah influenza.

"Jawabannya saat ini ialah kami tidak yakin," kata Fukuda, menyusul tersiarnya laporan dari China, Jepang, Norwegia, Ukraina dan Amerika Serikat.

Namun ia menyatakan mutasi biasa terjadi pada virus influenza. "Jika setiap mutasi dilaporkan, maka itu akan seperti melaporkan perubahan cuaca," katanya.

"Apa yang sedang kami upayakan ketika kami melihat laporan mengenai mutasi ialah mengidentifikasi apakah mutasi ini mengarah kepada beberapa jenis perubahan dalam gambaran klinik --apakah semua itu mengakibatkan penyakit yang lebih atau kurang parah?"

"Kami juga sedang berusaha melihat apakah virus ini meningkat di luar sana karena itu akan menunjukkan perubahan epidemiologi," katanya.

China, Kamis (26/11) menyatakan negara tersebut telah menemukan delapan orang yang terserang versi virus babi yang bermutasi, sementara Norwegia pekan sebelumnya, menyatakan negara itu telah mendeteksi satu kasus.

Fukuda juga mengatakan lembaga kesehatan PBB tersebut juga sedang meneliti kasus tahan terhadap Tamiflu yang dilaporkan di Inggris dan Amerika Serikat, tapi menyatakan semua itu berkaitan dengan orang yang sudah menjalani pengobatan karena penyakit lain atau yang memang memiliki
masalah kesehatan.

Oleh karena itu, badan kesehatan tersebut mempertahankan penilaiannya bahwa Tamiflu, yang dihasilkan oleh pembuat obat Swiss, Roche, tetap "efektif" sebagai obat bagi flu babi, tapi "kami memang harus berhati-hati pada orang yang sangat rentan ini".

Sumber : MediaIndonesia.com Online

Wednesday, November 25, 2009

25 Juta Meninggal akibat HIV, 60 Juta Terinfeksi

GENEVA, KOMPAS.com — Hingga saat ini, setidaknya 60 juta orang terinfeksi HIV dan 25 juta meninggal akibat kasus yang berkaitan dengan virus mematikan ini, demikian disampaikan UNAIDS dalam paparan data terbarunya, Selasa kemarin, (24/11).

Ketika program pencegahan telah membantu menekan tingkat infeksi sebesar 17 persen selama lebih dari delapan tahun, total penderita HIV terus bertambah pada 2008. Pada akhir 2008, sebanyak 33,4 juta jiwa atau lebih dari 20 persen orang menderita penyakit ini jika dibandingkan dengan tahun 2000.

"Penambahan populasi penderita HIV yang terus meningkat menggambarkan efek kombinasi dari tingginya infeksi HIV baru dan dampak dari terapi ARV," ujar UNAIDS dalam laporan tahunannya.

Sub-Sahara Afrika tetap merupakan daerah yang paling terpengaruh karena menjadi rumah bagi 67 persen atau 22,4 juta dari yang saat ini hidup dengan virus HIV. Sementara itu, di Asia Selatan dan Tenggara, ada 3,8 juta orang sudah terinfeksi, tambah UNAIDS. Angka perbandingan Eropa Timur dan Asia Tengah adalah 1,5 juta.

UNAIDS mencermati, di wilayah-wilayah ini epidemi sedang mengalami "transisi yang signifikan". Walau epidemi di Asia masih terkonsentrasi di antara kelompok berisiko tinggi, seperti pekerja seks, pengguna narkoba, dan kaum homoseks, kini mulai berekspansi ke kelompok populasi risiko rendah.

Di Eropa Timur dan Asia Tengah, epidemi ditandai terutama oleh penularan melalui pengguna narkoba. Namun, kini mulai bergeser ke penularan lewat hubungan seksual yang signifikan.

Sumber : Kompas.com Online

Penyakit Tuberkolosis Masih Jadi Ancaman

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih terus menjadi ancaman di Indonesia. Sekitar 80.000 orang terancam meninggal setiap tahunnya karena penyakit tersebut.

Kepala Seksi Standarisasi dan Kemitraan Subdit Tuberkulosis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Nadia, mengatakan, Selasa (24/11), jumlah penderita baru tuberkulosis (Tb) dalam satu tahun berdasarkan survei tahun 2004 sekitar 538.000 orang.

Angkanya diperkirakan tidak jauh berbeda dari tahun ke tahun karena tuberkulosis (Tb) sangat mudah menular dan jumlah penduduk terus meningkat, ujarnya di sela acara Workshop Nasional tentang Hak dan Kewajiban Pasien Tb.

Terlebih lagi dengan terus bertambahnya jumlah kasus HIV/AIDS. Dalam kondisi tubuh rentan, tuberkulosis menjadi ancaman utama bagi orang dengan HIV/AIDS. Sebagian besar dari mereka kemudian juga menderita tuberkulosis.

Ketua Umum Perkumpulan Pasien dan Masyarakat Peduli Tuberkulosis Indonesia (PAMALI), Retnowati WD Tuti mengatakan, stigma merupakan kendala dalam advokasi pemberantasan tuberkulosis. Penderita tuberkulosis takut dan malu sehingga enggan berobat. Apalagi orang dengan HIV/AIDS yang kemudian menderita tuberkulosis. Beban penyakit maupun stigma yang mereka tanggung lebih berat.

Sumber : Kompas.com Online

Tuesday, November 24, 2009

WHO: 33,4 Juta Orang Terinfeksi Virus AIDS

Hong Kong (ANTARA News/Reuters) - Diperkirakan 33,4 juta orang di seluruh dunia terinfeksi virus AIDS, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Program Gabungan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang HIV/AIDS (UNAIDS).

Angka itu berarti meningkat dari 33 juta orang yang terinfeksi AIDS pada 2007.

Namun laporan tersebut menambahkan, bahwa penambahan itu berasal dari orang-orang yang hidupnya bertahan agak lama karena mendapatkan obat-obat HIV.

"Jumlah kematian berkaitan dengan AIDS juga menurun lebih dari 10 persen dibanding lima tahun lalu, pada saat banyak orang bisa memperpanjang hidupnya dengan pengobatan," katanya.

Sumber : Antara Online

Sunday, November 22, 2009

Empat Jamaah Haji Tewas Akibat Flu Babi

Jakarta - Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyebutkan empat orang jemaah haji telah meninggal karena virus H1N1 (flu babi), hanya beberapa hari sebelum puncak haji yaitu wukuf di Arafah.

Empat jamaah haji itu adalah dua pria warga negara India dan Sudan, dua lainnya adalah wanita warga negara Maroko dan Nigeria. Tiga di antara mereka berusia di atas 75 tahun dan satu orang wanita berusia 17 tahun.

"Mereka tidak mendapatkan vaksin (flu babi)," ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan Khaled al-Marghlani seperti dilansir AFP, Minggu (22/11/2009).

Diperkirakan 2,5 juta orang muslim melakukan ibadah haji tahun ini, menjadikan peristiwa ini sebagai kumpulan manusia paling besar pasca merebaknya flu babi April lalu. Kematian jemaah haji ini adalah yang pertama kalinya di Makkah dan Madinah sejak pecahnya isu flu babi.

Sebelumnya Pemerintah Saudi menyatakan ada sekitar 20 kasus suspect flu H1N1 (flu babi) pada calon jamaah haji (calhaj) dari seluruh dunia.

Sumber : Detikcom Online

Saturday, November 21, 2009

20 Kasus Flu H1N1, Calhaj Indonesia Bebas Virus

Jakarta - Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyatakan ada sekitar 20 kasus suspect flu H1N1 (flu babi) pada calon jamaah haji (calhaj) di seluruh dunia. Namun Calhaj Indonesia tak termasuk di dalamnya.

"Calon jamaah haji Indonesia tidak terkena virus H1N1 tersebut," Ketua Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) dr Barita Sitompul, Sabtu (20/11/2009).

Namun menurut Barita, memang ada tiga calhaj Indonesia yang diduga terjangkit virus H1N1. Hal itu diketahui saat ketiganya tertangkap kamera pemindai panas tubuh di bandara debarkasi (Jeddah dan Madinah).

"Namun setelah diobservasi di Rumah Sakit King Saud Jeddah, ketiganya dinyatakan negatif," kata Barita.

Ketiga calhaj itu, lanjut Barita, hanya mengalami influensa karena kelelahan akibat panjangnya penerbangan dari tanah air menuju tanah suci.

Menteri Kesehatan Arab Saudi Dr Abdullah Al-Rabeeah seperti yang dilansir Arabnews.com mengatakan, ada dua belas orang dari 20 susfect flu H1N1 yang masih dirawat.

"Selebihnya masih diobservasi," kata Dr Abdullah Al-Rabeeah, Jum'at (19/11/2009).

Abdullah menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi kemungkinan merebaknya wabah flu H1N1, dirnya telah menunjuk 80 konsultan.

Abdullah pun menjamin akan menyediakan 1,5 juta dosis vaksin H1N1 bagi calon jamaah haji. Abdullah pun kini tengah menyiapkan layanan kesehatan bagi calhaj.

"Kami akan lakukan tindakan antisipasi (precautionary action) untuk melindungi calhaj dari berbagai penyakit termasuk flu babi," katanya.

Saat ini Laboratorium Robotic, Kognitif dan Biometic (BCR) telah dioperasikan di Mina dan Mekkah untuk mendeteksi virus flu H1N1. Pihaknya juga telah membangun 14 Rumah Sakit di Mekkah dengan kapasitas 2.782 tempat tidur, termasuk 244 tempat tidur di ruang perawatan intensif dan 287 di ruang rawat darurat.

Tidak hanya itu, ada 35 pusat kesehatan permanen di Mekkah, sembilan pusat kesehatan selama musim haji di ruas jalan bebas hambatan Mekkah-Madinah, dan empat lagi di kawasan Masjidil Haram.

28 pusat kesehatan akan dioperasikan Mina, 46 di Padang Arafah dan 6 di Muzdalifah. Sebelumnya, pemerintah Arab Saudi melansir setidaknya ada 62 orang tewas di Arab Saudi akibat terinfeksi virus H1N1 dari sekitar 7.000 orang yang terduga terinfeksi, namun 95 persen diantara mereka dilaporkan sembuh total.

(zal/gus)

Sumber : M. Rizal Maslan - detikNews

Friday, November 20, 2009

Saudi Temukan 20 Kasus Flu Babi pada Jemaah Haji

Jakarta (ANTARA News) - Duapuluh kasus flu babi (H1N1) dilaporkan telah ditemukan di kalangan jemaah calon haji dari seluruh penjuru dunia yang berdatangan di tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima sejak Oktober lalu, kata Menteri Kesehatan Arab Saudi Dr. Abdullah Al-Rabeeah seperti dikutip Arabnews.com, Jumat.

"Dua belas orang diantara mereka masih dirawat, selebihnya masih diobservasi," terangnya.

Menkes Arab itu tak menyebutkan asal kebangsaan pasien, namun ketika dikonfirmasi Ketua Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) dr. Barita Sitompul, dia memastikan tidak ada seorang pun calon haji Indonesia yang terbukti mengidap virus H1N1.

Dia mengaku, memang ada tiga calon haji Indonesia yang tertangkap kamera pemindai panas tubuh yang dipasang di bandara debarkasi (Jeddah dan Madinah), namun setelah diobservasi di Rumah Sakit King Saud Jeddah yang dirujuk untuk menangani kasus-kasus H1N1, ketiganya dinyatakan negatif dari infeksi penyakit pandemi itu.

Ketiganya, lanjut dr. Barita, hanya terkena influenza karena kelelahan akibat panjangnya penerbangan dari Tanah Air menuju Tanah Suci.

Menkes Arab itu selanjutnya mengatakan, untuk mengantisipasi kemugkinan merebaknya wabah flu babi khususnya pada saat musim haji, dia telah menunjuk 80 konsultan untuk menangani pusat kesehatan intensif yang dikelola pakar-pakar pengawasan penyakit menular Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Ia juga menjamin tersedianya l,5 juta dosis vaksin H1N1 diperuntukkan bagi jemaah calon haji, dan sehari sebelumnya pihaknya melakukan koordinasi guna membahas persiapan layanan kesehatan yang akan diberikan pada calon haji.

"Kami akan melakukan tindakan antisipasi (precautionary action) untuk melindungi calon haji dari berbagai penyakit termasuk flu babi," tandasnya seraya menambahkan, sebuah laboratorium Robotic, Cognitif dan Biometic (BCR) telah dioperasikan di Mina dan Mekah untuk mendeteksi virus flu babi.

Kementerian Kesehatan Arab, lanjutnya, juga telah membangun 14 Rumah Sakit di Mekah berkapasitas 2.782 tempat tidur, termasuk 244 tempat tidur di ruang perawatan intensif dan 287 di ruang rawat darurat.

Selain itu masih ada 35 pusat kesehatan permanen di Mekah, sembilan pusat kesehatan selama musim haji di ruas jalan bebas hambatan Mekah - Madinah dan empat lagi di kawasan Masjidl Haram.

Dua puluh delapan pusat kesehatan akan dioperasikan di Mina, 46 di Padang Arafah dan enam di Muzdalifah. Lebih 2,5 juta ummat Islam sedunia diperkirakan akan "tumplek" pada acara rangkaian puncak ritual ibadah haji (Wukuf di Padang Arafah dan melontar jumrah di Mina mulai 9 - 12 Zulhijah (26-30 November).

Kementerian Arab Saudi merekrut 10.000 tenaga kesehatan termasuk 100 dokter, 60 di antaranya dokter ahli penyakit menular dari manca negara dan 147 perawat untuk menangani unit layanan darurat dan intensif di pusat-pusat kesehatan selama musim haji 1430H.

Sebanyak 62 orang tewas di Arab Saudi akibat terinfeksi virus H1N1 dari sekitar 7.000 orang yang terduga terinfeksi, namun 95 persen diantara mereka dilaporkan sembuh total.

Sumber : Antara Online

Tuesday, November 17, 2009

Vaksin H1N1 Diproduksi Tahun Depan

Selasa, 17 November 2009 | 07:33 WIB
SURABAYA, KOMPAS.com - Avian Influenza Research Centre Bio Safety Level-3 Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, meluncurkan bakal vaksin H1N1 dan H5N1, Senin (16/11) di Surabaya. Vaksin H1N1 akan mulai diproduksi November 2010 oleh PT Bio Farma.

Pada acara peluncuran, Rektor Unair Prof Fasich menyerahkan bakal vaksin (seed vaccine) H1N1 dan H5N1 kepada Wakil Presiden Boediono, yang menyerahkannya kepada Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan meneruskannya kepada Direktur Utama PT Bio Farma Iskandar.

Menurut Iskandar, bakal vaksin H1N1 akan diuji klinis (clinical trial) pada manusia pada Maret 2010. Produksi dan distribusi vaksin H1N1 dilakukan November 2010 untuk 20 juta dosis vaksin atau sepersepuluh jumlah penduduk Indonesia.

Karena jumlah produksi terbatas, kata Endang, vaksin diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap avian influenza (AI), seperti perawat dan petugas laboratorium.

Vaksin H5N1 akan diproduksi sesuai kebijakan pemerintah. Jika terjadi pandemi dan pemerintah meminta produksi vaksin H5N1, PT Bio Farma akan memproduksi karena teknologi untuk produksi kedua vaksin itu sama.

Kepala Laboratorium Avian Influenza Tropical Disease Center (TDC) Unair Chaerul Anwar Nidom menjelaskan, jika terjadi mutasi virus H1N1 atau H5N1, strain virus yang digunakan sebagai bakal vaksin akan diganti. ”Keterbukaan informasi atas kejadian infeksi avian influenza sangat diperlukan,” kata Nidom.

Iskandar mengatakan, nilai proyek pengembangan laboratorium dan fasilitas produksi vaksin H1N1 dan H5N1 di Kampus C Unair, Mulyorejo, Surabaya, sekitar Rp 1,3 triliun. Fasilitas produksi berkapasitas 20 juta vaksin per tahun. Proyek dilaksanakan empat tahun, 2008-2011.

Nidom menambahkan, penelitian virus H5N1 untuk dijadikan vaksin sudah dilakukan sejak 2006. Untuk uji tantang (pengujian calon vaksin pada hewan) H5N1 menunggu sampel virus dari Departemen Kesehatan sampai 13 Agustus 2009. Saat itu TDC Unair mendapat enam tipe virus H5N1.

Penelitian H1N1 lebih mudah karena TDC Unair bisa mendapat banyak sampel virus dari klinik. Setelah diuji tantang, bakal vaksin siap diuji klinis dan mulai diproduksi massal.

Penelitian virus AI dan bakal vaksinnya dilakukan di laboratorium seluas 224 meter persegi bernama Avian Influenza Research Centre Bio Safety Level-3 (BSL-3). Selain terbesar di Asia, kata Nidom, laboratorium ini unik karena ada ruang uji coba pada 30 monyet (Maccaca fascicularis). Penelitian di laboratorium sangat komprehensif.

Peluncuran bakal vaksin ini, menurut Boediono, adalah wujud kemandirian Indonesia. Sebagai warga dunia, Indonesia harus aktif menangani serangan penyakit menular yang sangat cepat menyebar. Apalagi, sebagai negara tropis, Indonesia sangat rentan sebagai tempat berbiak strain dan mutasi virus baru.

Karena di garis depan peperangan melawan penyakit menular, lanjutnya, Indonesia punya kesempatan menguasai teknologinya. Karena itu, Indonesia sebaiknya tak menggantungkan diri pada laboratorium di luar negeri. ”Indonesia juga berkewajiban membagi pengetahuan kepada dunia sebab wabah penyakit menular adalah masalah dunia, tetapi dalam kerangka saling menguntungkan,” katanya.

Sumber : http//www.compas.com/

Monday, November 16, 2009

Penderita HIV/AIDS Tahun 2010 Capai 130.000 Orang

Bandarlampung (ANTARA News) - Jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh kabupaten/kota di Indonesia pada 2010 diperkirakan mencapai 93 ribu sampai 130 ribu orang.

Menurut "National Trainer Care, Support and Treatment IMAI-HIV/AIDS", dr Ronald Jonathan MSc, pada seminar dua hari "Global Diseases 2nd Continuing Professional Development" di Bandarlampung, Sabtu dan Minggu, angka itu diperoleh berdasarkan perkiraan pengaduan penderita terinfeksi HIV/AIDS ke sejumlah rumah sakit, yang berjumlah tidak lebih dari sepersepuluh korban terinfeksi keseluruhan.

"Perkiraan saya, jumlah kasus terinfeksi HIV/AIDS hingga 2010 akan mencapai antara 93 ribu hingga 130 ribu kasus, dan prinsip fenomena gunung es yang berlaku mengatakan, jumlah penderita HIV/AIDS yang tampak hanyalah 5-10 persen dari jumlah keseluruhan," katanya.

Sementara itu, dia menambahkan, jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia sejak 1980-an hingga September 2009 yang terdata oleh Departemen Kesehatan mencapai 18.442 penderita, dengan perbandingan jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebesar tiga berbanding satu.

"Sudah ada pergeseran pola penyebaran, kini penyeberan terbesar terjadi lewat hubungan seks, bukan lagi penggunaan jarum suntik," ujarnya.

Dia menerangkan, hampir 50 persen dari penyebaran virus HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual,dan melalui jarum suntik (pada pengguna narkoba) mencapai 40,7 persen berdasarkan riset terhadap jumlah total penderita.

Sementara itu, penyebaran virus HIV/AIDS pada gay, waria dan transgender hanya mencapai 3-4 persen dari jumlah total penderita.

Rentan usia tertinggi penderita HIV/AIDS hingga saat ini masih tetap berada pada usia produktif yaitu 20-39 tahun.

Khusus untuk Provinsi Lampung, jumlah penderita HIV/AIDS di provinsi itu mencapai 188 penderita, dengan 42 orang penderita yang meninggal.

"Untuk jumlah penderita HIV/AIDS, Lampung berada pada posisi 17 dari 33 provinsi, artinya jumlah penderita di provinsi itu masih cukup banyak," kata dia.

Dia mengingatkan, penyadaran dan pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS perlu terus ditingkatkan, agar jumlah mereka dapat diminimalkan.

"Minimal kita dapat memberikan konseling dan bimbingan terhadap mereka tentang pentingnya kesadaran untuk mau berobat secara teratur, dan menyebarkan hal itu kepada penderita lainnya," kata dia.

Khusus untuk konseling, dia mengingatkan kepada pendamping agar membicarakan langsung hal-hal tersebut dengan penderita, bukan dengan keluarganya.

"Saya ingatkan ada pola konseling yang salah, yaitu mengajak bicara keluarga penderita, karena nanti urusannya akan lebih repot, lebih baik anda langsung berbicara dengan penderita," katanya.

Sumber : Antara OL

Friday, November 13, 2009

WHO Akan Terima Jutaan Vaksin Flu Babi

PBB, New York (ANTARA News) - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi kesehatan dunia, WHO, akan menerima sumbangan 50 juta dosis vaksin flu babi (H1N1) dari GlaxoSmithKline, salah satu raksasa perusahaan obat-obatan.

Menurut keterangan yang dilansir Markas Besar PBB di New York, Selasa waktu setempat, vaksin sumbangan itu akan disebarkan ke 95 negara berkembang yang ada dalam daftar WHO.

Namun dalam keterangan itu tidak dicantumkan negara-negara mana saja yang masuk dalam daftar 95 negara yang bisa memperoleh vaksin sumbangan GlaxoSmithKline.

Berdasarkan perjanjian antara WHO dengan pihak GlaxoSmithKline, WHO akan menerima pengiriman pertama vaksin tersebut akhir November 2009.

WHO, menurut PBB, berupaya mengamankan cukup banyak vaksin guna memenuhi kebutuhan 10 persen populasi di negara-negara berkembang.

Pekan lalu, WHO memperingatkan bahwa dunia belum mengalami puncak musim flu, yang akan terjadi antara Januari dan Februari diman pada bulan-bulan ini kasus flu babi mungkin akan bertambah.

Badan dunia itu juga menekankan bahwa kendati ada kekhawatiran tentang efek samping, vaksin tersebut masih menjadi alat terbaik dan tersedia untuk memerangi virus flu babi.

Hingga 1 November, flu babi telah menewaskan 6.000 manusia di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, sudah lebih dari 482.000 kasus flu babi yang ditemukan dan dipastikan harus diperiksa laboratorium.

Sumber : Antara On line

Thursday, November 12, 2009

Peringati Hari Kesehatan Nasional ke-45, Menkes Serukan Sinergi untuk Menyehatkan Lingkungan

12 Nov 2009


Menteri Kesehatan RI dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH. mengajak seluruh jajaran kesehatan, masyarakat, sektor usaha dan komponen bangsa untuk saling bersinergi dalam meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan. Hal ini disampaikan Menkes dalam pidatonya di hadapan seluruh jajaran Departemen Kesehatan pada apel Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45 (12/11), yang pada tahun ini mengusung tema ”Lingkungan Sehat Rakyat Sehat”.

Menurut Menkes, kesehatan lingkungan yang ditandai dengan ketersediaan dan akses air bersih, akses sanitasi, pengendalian polusi udara dan perilaku hidup bersih dan sehat, masih menjadi tantangan yang cukup besar di bidang kesehatan. Padahal kesehatan lingkungan berkaitan erat dengan kesehatan ibu dan anak, status gizi masyarakat serta pencegahan penyakit menular, yang merupakan penentu status kesehatan masyarakat dan berdampak pada kualitas bangsa.

Mengutip hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 yang dilakukan Depkes, Menkes mengatakan bahwa 24,8% rumah tangga masih tidak menggunakan fasilitas buang air besar, dan 32,5% tidak memiliki saluran pembuangan air limbah. Sementara yang cukup positif adalah 57,7% rumah tangga di Indonesia memiliki akses air bersih dan 63,3% rumah tangga memiliki akses sanitasi yang baik.

”Dalam momentum peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45 tahun 2009 ini, kita harus berupaya secara terus-menerus untuk melakukan peningkatan dan perbaikan dalam meningkatkan lingkungan sehat seperti yang sudah ditargetkan dalam program 100 hari bidang kesehatan. Salah satu indikator kinerja Depkes yaitu pada Januari 2010 harus mencapai sarana air minum sebanyak 1.379 lokasi dan peningkatan sanitasi di 61 lokasi. Sedangkan indikator kinerja pada tahun 2014 bidang kesehatan lingkungan yaitu tercapainya program air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan peningkatan sanitasi dasar berkualitas baik untuk 75% penduduk. Dengan demikian, penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan karena lingkungan yang tidak sehat seperti diare, ISPA, TBC, malaria, frambusia, demam berdarah dan flu burung diharapkan akan menurun.” kata Menkes.

Menkes menambahkan, upaya peningkatan kualitas dan kesehatan lingkungan mencakup penyediaan kebutuhan akan ketersediaan air minum dan sanitasi; peningkatan perilaku higienis; pengembangan kabupaten/kota sehat; pengendalian bahan berbahaya dan logam berat; penanganan limbah rumah tangga, industri dan institusi pelayanan kesehatan, seperti Rumah Sakit dan Puskesmas serta penanganan kedaruratan lingkungan dalam situasi bencana. Upaya-upaya tersebut dan upaya membuat rakyat sehat, lanjut Menkes, tidak mungkin dilaksanakan oleh bidang kesehatan secara sendirian dan untuk itu memerlukan dukungan dan sinergi dari masyarakat, jajaran kesehatan, sektor swasta dan dunia usaha, serta berbagai komponen bangsa.

Bagi masyarakat luas, Menkes menyerukan pentingnya perilaku sehat. Menkes menyampaikan bahwa lingkungan sehat merupakan cermin perilaku sehat, yang menunjukkan kemandirian masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatannya, yang dengan dukungan pelayanan kesehatan yang bermutu dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal.

Bagi jajaran kesehatan, Menkes menghimbau agar setiap jajaran kesehatan di lapangan memiliki prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat. ”Kita perlu mengembangkan paradigma baru di jajaran kesehatan, jika masyarakat sebelumnya ditempatkan sebagai obyek pelayanan kesehatan, saat ini mereka harus didorong dan diberdayakan untuk mampu sebagai subyek dan mampu secara mandiri dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan kesehatan yang berkesinambungan. Jajaran kesehatan juga diharapkan dapat mengembangkan berbagai prakarsa dalam membangun lingkungan sehat dengan melibatkan masyarakat seperti kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan pengembangan wilayah/kawasan sehat.”

Bagi masyarakat, sektor swasta dan dunia usaha, Menkes menekankan perlunya kemitraan dalam mencegah dan menyelesaikan masalah kesehatan disamping keterlibatan provider kesehatan dan lintas sektor. Berbagai komponen bangsa diharapkan dapat membentuk aliansi-aliansi gerakan masyarakat sehat untuk berperan aktif dalam mencegah dan mengatasi berbagai masalah kesehatan, dan siap menjadi barisan terdepan sebagai modal kekuatan bangsa untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta menjadikan kualitas bangsa yang bermartabat.

Usai memimpin apel, Menkes meluncurkan Aksi Simpati Kebersihan Lingkungan di lima wilayah DKI Jakarta yang ditandai dengan pelepasan mobil pelayanan kesehatan. Selain itu, Hari Kesehatan Nasional ke-45 tahun 2009 dirayakan dengan berbagai acara hingga bulan Desember 2009 meliputi pemberian penghargaan atas pengabdian PNS di lingkungan Depkes RI, institus/perorangan yang berjasa di bidang kesehatan tingkat nasional, penyerahan secara simbolis Kartu Jamkesmas bagi Panti Jompo dan Panti Asuhan, penghargaan kompetisi jurnalistik, penghargaan lomba perpustakaan kesehatan, pameran foto, penyerahan mobil unit promosi kesehatan ke seluruh Indonesia, pameran pembangunan kesehatan, pemeriksaan kualitas air bagi masyarakat di 10 regional, dan berbagai acara yang dilaksanakan di tingkat daerah mulai dari provinsi hingga kabupaten/kota.

Sumber: http://www.depkes.go.id

Biofarma Bangun Pabrik Vaksin Flu

Kamis, 12 November 2009

BANDUNG, KOMPAS.com — Sebagai upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi pandemik flu burung dan influenza A-H1N1, Departemen Kesehatan menunjuk PT Biofarma (Persero) untuk memproduksi vaksin bagi kedua virus tersebut. Rencananya, pembangunan fasilitas fisik dalam proyek itu dimulai pada 16 November 2009.

Selain pembangunan pabrik vaksin, PT Biofarma juga akan membangun fasilitas peternakan ayam steril seluas 5.145 meter persegi di kawasan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Fasilitas tersebut akan menghasilkan telur steril sebagai media penanaman bibit virus flu burung yang akan dijadikan vaksin.

Presiden Direktur PT Biofarma Iskandar mengatakan, pemerintah menganggarkan Rp 1,3 triliun untuk pembangunan dua fasilitas fisik dan riset tersebut. Proyek yang dicanangkan tahun 2008 itu ditargetkan selesai dalam empat tahun.

”Untuk pembangunan fisiknya ditargetkan rampung November 2010,” katanya seusai bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Rabu (11/11) di Bandung.

Iskandar menjelaskan, pembangunan fasilitas produksi vaksin tersebut didasari atas kebutuhan vaksin flu di dunia yang saat ini masih tinggi. Kapasitas produksi vaksin flu di dunia masih sekitar 300 juta dosis per tahun dan terkonsentrasi di Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Jepang. Jika timbul pandemi, produksi vaksin hanya mampu mencukupi 10 persen kebutuhan dunia.

Hingga saat ini tidak ada satu pun produsen di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang memproduksi vaksin flu sendiri. Negara-negara di kawasan ini terancam tidak memiliki vaksin ketika timbul pandemi flu.

Padahal Indonesia termasuk rawan pandemik flu burung. Data Biofarma menyebutkan, sejak kasus flu burung di Indonesia dilaporkan pertama kali tahun 2005 hingga sekarang tercatat ada 141 kasus dengan angka kematian 115 kasus (81,6 persen).

Pembangunan pabrik vaksin flu di Indonesia diharapkan bisa memperbesar cadangan vaksin flu dunia. Kapasitas produksi vaksin flu Biofarma ditargetkan 20 juta dosis vaksin per tahun.

Gubernur Jawa Barat meminta PT Biofarma agar berkomitmen dengan mendahulukan cadangan vaksin flu bagi warga Jawa Barat. Sepanjang tahun 2009 di Jawa Barat tercatat ada 99 kasus influenza A-H1N1, yakni tertinggi nomor empat dari total 25 daerah di Indonesia yang terjangkiti flu tersebut.

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2009/11/12/07472617/Biofarma.Bangun.Pabrik.Vaksin.Flu


Wednesday, November 11, 2009

Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus Di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang

Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H saat membuka Seminar dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia 2009, 5 November 2009 di Jakarta.

Prof. Tjandra Yoga mengatakan berdasarkan hasil Riskesdas 2007 prevalensi nasional DM berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk usia >15 tahun diperkotaan 5,7%. Prevalensi nasional Obesitas umum pada penduduk usia ≥ 15 tahun sebesar 10.3% dan sebanyak 12 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional, prevalensi nasional Obesitas sentral pada penduduk Usia ≥ 15 tahun sebesar 18,8 % dan sebanyak 17 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional. Sedangkan prevalensi TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) pada penduduk usia >15 tahun di perkotaan adalah 10.2% dan sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi diatas prevalensi nasional. Prevalensi kurang makan buah dan sayur sebesar 93,6%, dan prevalensi kurang aktifitas fisik pada penduduk >10 tahun sebesar 48,2%. Disebutkan pula bahwa prevalensi merokok setiap hari pada penduduk >10 tahun sebesar 23,7% dan prevalensi minum beralkohol dalam satu bulan terakhir adalah 4,6%.

Dalam sambutannya Prof. Tjandra Yoga menjelaskan, Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin.Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini membutuhkan perhatian dan perawatan medis dalam waktu lama baik untuk mencegah komplikasi maupun perawatan sakit.

Diabetes Melitus terdiri dari dua tipe yaitu tipe pertama DM yang disebabkan keturunan dan tipe kedua disebabkan life style atau gaya hidup. Secara umum, hampir 80 % prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2. Ini berarti gaya hidup/life style yang tidak sehat menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi DM. Bila dicermati, penduduk dengan obes mempunyai risiko terkena DM lebih besar dari penduduk yang tidak obes.

WHO merekomendasikan bahwa strategi yang efektif perlu dilakukan secara terintegrasi, berbasis masyarakat melalui kerjasama lintas program dan lintas sektor termasuk swasta. Dengan demikian pengembangan kemitraan dengan berbagai unsur di masyarakat dan lintas sektor yang terkait dengan DM di setiap wilayah merupakan kegiatan yang penting dilakukan. Oleh karena itu, pemahaman faktor risiko DM sangat penting diketahui, dimengerti dan dapat dikendalikan oleh para pemegang program, pendidik, edukator maupun kader kesehatan di masyarakat sekitarnya.

Tujuan program pengendalian DM di Indonesia adalah terselenggaranya pengendalian faktor risiko untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan DM. Pengendalian DM lebih diprioritaskan pada pencegahan dini melalui upaya pencegahan faktor risiko DM yaitu upaya promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif, jelas Prof. Tjandra Yoga.

Prof. Tjandra Yoga menambahkan bahwa pada Sidang Umum Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dalam press release tanggal 20 Desember 2006 telah mengeluarkan Resolusi Nomor 61/225 yang mendeklarasikan bahwa epidemic Diabetes Melitus merupakan ancaman global dan serius sebagai salah satu penyakit tidak menular yang menitik-beratkan pada pencegahan dan pelayanan diabetes di seluruh dunia. Sidang ini juga menetapkan tanggal 14 Nopember sebagai Hari Diabetes Se-Dunia (World Diabetes Day) yang dimulai tahun 2007. .

Oleh karena itu, program Pengendalian Diabetes Melitus dilaksanakan dengan prioritas upaya preventif dan promotif, dengan tidak mengabaikan upaya kuratif. Serta dilaksanakan secara terintegrasi dan menyeluruh antara Pemerintah, Masyarakat dan Swasta (LP, LS, Profesi, LSM, Perguruan Tinggi).

Sedangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575 tahun 2005, telah dibentuk Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular yang mempunyai tugas pokok memandirikan masyarakat untuk hidup sehat melalui pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular, khususnya penyakit DM yang mempunyai faktor risiko bersama.

Sumber : Depkes RI On Line

Jumlah Kasus AIDS Menjadi 8 Kali Lipat dalam Kurun 5 Tahun

Rabu, 11 November 2009

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus AIDS meningkat selama lima tahun terakhir. Jumlah kasus menjadi delapan kali lipat, yakni dari 2.684 kasus pada tahun 2004 menjadi 17.699 kasus pada pertengahan 2009.

Penanganan HIV/AIDS bagian dari program 100 hari Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih untuk pengendalian penyakit menular, yang dipaparkan dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR yang berlangsung 9 dan 10 November 2009.

Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan penurunan daya tahan tubuh seseorang yang disebabkan human immuno deficiency virus (HIV). Rasio penderita antara laki-laki dan perempuan adalah tiga berbanding satu. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang mengakibatkan menurunnya, bahkan, hilangnya daya tahan tubuh.

Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang mengalami epidemi HIV/AIDS dengan prevalensi meningkat tajam. Sejumlah upaya dilakukan, tetapi belum menunjukkan penurunan. Proporsi kasus tertinggi pada kelompok umur produktif 20-29 tahun (50,07 persen) dan 30-39 tahun. Kasus AIDS terbanyak di Jawa Barat, DKI Jakarta, Papua, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Kepulauan Riau.

Menkes Endang mengatakan, penanggulangan HIV/AIDS memerhatikan nilai-nilai agama dan budaya serta norma kemasyarakatan. Selain itu, terdapat upaya terpadu peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan perawatan berdasarkan fakta ilmiah, serta dukungan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Selain itu, disiapkan reagent HIV untuk pengamanan darah (950.000 tes), surveilans (200.000 tes), dan diagnostik (1 juta tes). Saat ini jumlah layanan voluntary, counseling, and testing telah tersebar di 190 rumah sakit, 14 rumah sakit jiwa, 119 puskesmas, 115 lembaga swadaya masyarakat, dan 30 lembaga pemasyarakatan.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Adhitama mengatakan bahwa kesulitan menahan laju peningkatan penularan HIV/AIDS, antara lain, karena terkait berbagai faktor, seperti perilaku, keyakinan, norma, budaya, dan masalah sosial. Untuk menahan laju penularan, dibutuhkan peran masyarakat secara luas.

Dalam paparan di DPR, disebutkan upaya pencegahan yang efektif memutuskan rantai penularan HIV pada kelompok berisiko tertentu, antara lain, dengan promosi alat atau jarum suntik steril serta terapi rumatan metadon. Lainnya ialah promosi kondom terutama di lokalisasi.

”Untuk persoalan di hilir atau bagi orang dengan HIV/AIDS dengan penyediaan ARV,” ujar Tjandra. Untuk ODHA, telah ada penyediaan antiretroviral (ARV) secara berkesinambungan. Dalam program 100 hari, disediakan ARV untuk 16.000 ODHA.

Sementara itu, di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebanyak 34 kasus HIV/AIDS ditemukan selama dua tahun terakhir. Dua di antaranya balita berusia dua tahun dan dua bulan. Kedua balita tersebut positif mengidap HIV karena tertular ibunya.

Berdasarkan data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Tegal, dari 34 pengidap HIV/AIDS, 13 orang meninggal dunia, sementara tujuh lain hingga saat ini masih mendapatkan terapi ARV.

Petugas Penyuluh HIV/AIDS PKBI Kabupaten Tegal, Panji Adi, mengatakan, kasus-kasus HIV/AIDS tersebut ditemukan dari hasil voluntary, counseling, and testing.

Sumber : Kompas OL


Tuesday, November 10, 2009

Pemerintah Siapkan Rancangan Jaminan Kesehatan Semesta

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan rancangan sistem jaminan kesehatan semesta yang akan mencakup seluruh populasi.

"Kami sedang membuat `roadmap` Jaminan Kesehatan Semesta 2014," katanya saat melakukan rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin, yang dipimpin Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning Proletariati.

Dalam rapat dengar pendapat yang dihadiri 46 anggota komisi itu Endang mengatakan, penyusunan rancangan sistem jaminan kesehatan semesta ditargetkan selesai dalam 100 hari kerja pertamanya.

"Sekarang masih meminta masukan dari para ahli dari universitas dan organisasi profesi terkait untuk menyusun ini," katanya.

Dia sebelumnya mengatakan, Jamkesmas secara bertahap akan dikelola menggunakan sistem asuransi kesehatan.

Asuransi kesehatan, katanya, akan menjangkau seluruh populasi, tidak hanya masyarakat miskin saja.

"Premi masyarakat miskin tetap ditanggung pemerintah, yang bekerja (ditanggung) oleh perusahaan, yang mampu bayar sendiri," katanya.

Anggota Komisi IX dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Surya Chandra Surapaty mengatakan, pemerintah harus menyelenggarakan jaminan kesehatan dengan sistem yang sesuai dengan undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional.

Menurut undang-undang, ia menjelaskan, pengelolaan jaminan kesehatan nasional harus dilakukan oleh badan nirlaba. Lembaga yang dibentuk oleh pemerintah tersebut, kata dia, sekaligus berfungsi sebagai pengelola dana wali amanah.

Kerangka itu sebenarnya sudah diatur dalam undang-undang sistem jaminan sosial nasional, namun hingga kini belum bisa dilaksanakan karena Dewan Jaminan Sosial Nasional belum menyelesaikan pembuatan peraturan pendukungnya, yakni undang-undang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Peraturan lain yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan SJSN seperti peraturan pemerintah tentang penerima bantuan iuran dan peraturan pemerintah tentang jaminan kesehatan juga belum selesai.

Menurut undang-undang, semua peraturan pendukung pelaksanaan SJSN seharusnya selesai akhir Oktober 2009 dan SJSN sudah bisa dilaksanakan November 2009.

Sumber : Antara OL

Friday, November 6, 2009

Presiden Minta Paradigma Sektor Kesehatan Diubah

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, paradigma pelayanan kesehatan bagi masyarakat diubah dari upaya pengobatan menjadi pencegahan.

"Kita ingin ubah paradigma dari pengobatan gratis menjadi sehat gratis. Jadi peran Puskesmas, Posyandu, pekan imunisasi, KB dan pemberantasan penyakit akan ditingkatkan. Tidak menunggu jatuh sakit baru diobati, tapi meningkatkan kesehatan masyarakat," kata Presiden usai Sidang Kabinet di Kantor Presiden Jakarta, Kamis.

Meski perubahan paradigma tersebut dilakukan, Presiden mengatakan pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang sakit akan terus dilakukan termasuk bantuan bagi masyarakat miskin.

"Tentu ada kantong-kantong daerah rawan penyakit seperti demam berdarah, Tuberkolosis dan HIV yang tetap diperhatikan. Sehat itu gratis dalam arti bagi tidak mampu dan sangat miskin kita dorong agar sehat," katanya.

Di bidang pendidikan, Presiden menegaskan pada 100 hari mendatang akan dirumuskan mekanisme "link and match" antara dunia pendidikan dengan dunia kerja sehingga lulusan lembaga pendidikan formal siap kerja dan tidak kesulitan mendapatkan pekerjaan.

"Target 100 hari adalah cegah `missed match`, banyak di berbagai provinsi yang dihasilkan perguruan tinggi lulusannya tidak klop dengan pasar tenaga kerja. Ini tidak boleh terjadi, dalam 100 hari kita rumuskan mekanismenya," paparnya.

Sektor penanggulangan bencana, dalam 100 hari mendatang Presiden meminta agar telah dibentuk semacam pasukan atau tenaga yang siaga setiap waktu di kirim bila bencana terjadi.

Pasukan atau tim tersebut terdiri dari medis, PMI, ahli komunikasi, TNI dan Polri. Tim itu akan didukung oleh angkutan udara seperti Hercules dan jenis lainnya untuk segera melakukan langkah tanggap darurat segera setelah bencana terjadi.

"Saya ingin dalam 100 hari bukan hanya standard prosedur saja, bukan hanya siapa yang siaga tapi betul betul sudah berjalan. Satu di barat, di timur dan bahkan bencana sering di negeri kita mulai 2011 penambahan pesawat angkut Hercules dan sejenis serta helikopter untuk angkut logistik," kata Kepala Negara.

Sumber : Antara On Line

Wednesday, November 4, 2009

Pneumonia Pembunuh Anak Nomor Satu di Dunia

Bandung (ANTARA News) -
Pneumonia adalah pembunuh anak nomor satu yang terlupakan dan angka kematian anak umur dibawah lima tahun (balita) akibat penyakit itu lebih tinggi dibandingkan total kematian karena AIDS, malaria dan campak."WHO mencatat sekitar seperlima kematian balita disebabkan oleh pneumonia, penyakit ini ialah pembunuh anak nomor wahid yang dilupakan atau major forgotten killer of children," kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Lingkungan Depkes, Tjandra Yoga Aditaman pada Peringatan Hari Pneumonia Dunia di Gedung FK Unpad Bandung, Senin.
Hingga saat ini pneumonia atau radang paru akut merupakan penyabab kematian utama pada balita.Setiap tahunnya, kata Tjandra, lebih dari 2 juta balita meninggal dunia karena penyakit pneumonia dan ini merupakan seperlima bagian dari 9 juta anak balita yang meninggal dunia setiap tahunnya."Angka kematian karena pneumonia melebihi angka kematian akibat AIDS, campak, malaria atau gabungan ketiganya. Di WHO saja belum ada ruang khusus pneumonia. Makanya pneumonia disebut pembunuh anak no wahid yang dilupakan," katanya.
Oleh karena itu, terhitung mulai 2 November 2009 ini, Badan Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan hari ini sebagai World Pneumonia Day (Hari Pneumonia Dunia) di seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, kata Tjandra, peringatan Hari Pneumonia Dunia dilakukan dengan menggelar seminar nasional dengan tajuk "Figth Pneumonia-Save a Child", yang diperuntukkan bagi 340 tenaga kesehatan dari seluruh Indonesia.
Dalam acara tersebut, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Badriul Hegar SpAK, menyatakan, tujuan dari pencanangan Hari Pneunomia Sedunia ialah untuk menumbuhkan kesadaran semua pihak baik pemerintah dan masyarakat tentang pneumonia."Pneumonia, merupakan masalah kesehatan masyarakat, khususnya balita yang memerlukan perhatian bersama dari semua pihak supaya angka kesakitan dan kematiannya dapat menurun," kata Dr Badriul.
Menurutnya, perlu penanganan yang komprehensif untuk memberantas penyakit pneumonia yang meliputi aspek perlindungan, pencegahan dan terapi.Pneumonia ialah penyakit radang infeksi akut yang menganai paru. Pneumonia disebabkan oleh kuman (mikroba, jasad renik) yang masuk ke dalam baru, berbiak, dan menimbulkan kerusakan jaringan paru.
Sumber : Antara OL

Inilah Program 100 Hari Menkes

JAKARTA, KOMPAS.com —

Di sela-sela kunjungannya ke RS Hasan Sadikin dan RS Paru-paru HA Rotinsuli, Bandung, Senin (2/11), Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyebutkan empat program dalam program 100 harinya.
Keempat program itu adalah:1. Pemenuhan hak setiap individu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan program jaminan kesehatan masyarakat dan sebagainya.2. Peningkatan kesehatan masyarakat melalui percepatan dan pencapaian target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), yaitu mengurangi angka kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan, dan sebagainya.3. Pencegahan dan penularan menyakit menular dan akibat bencana.4. Pemerataan dan distribusi tenaga kesehatan di daerah terpencil, kepulauan, perbatasan, dan daerah tertinggal.
Mengenai program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Menkes mengatakan bahwa pihaknya akan berusaha memberikan jaminan kesehatan kepada orang-orang miskin yang tidak terdaftar, seperti gelandangan."Hal yang menjadi problem dalam Jamkesmas adalah orang-orang yang tidak terdaftar. Dalam 100 hari ke depan, akan dibagikan kartu kepada orang-orang gelandangan, orang-orang di panti, sehingga mereka dapat jaminan untuk berobat," katanya.Selain itu, Depkes juga akan berusaha membayarkan tunggakan pembayaran Jamkesmas.
"Untuk program MDGs juga ada program sweeping balita gizi buruk. Kita punya data dari Riset Kesehatan Dasar, daerah mana saja yang ada kasus gizi buruk dan kita akan fokuskan ke daerah tersebut, dan kemudian kita rujuk ke posyandu untuk mendapatkan makanan tambahan agar gizinya tercukupi," kata Menkes.
Menkes mengatakan, pihaknya akan membentuk sebuah komite yang akan menentukan kebijakan proteksi terhadap semua sampel spesimen dan strain suatu penyakit hasil penelitian di Indonesia. "Saya akan membentuk suatu komite atau komisi nasional yang terdiri dari pakar spesialis anak, pakar spesialis dalam, virulogi, serta pakar-pakar dari universitas dan dari Depkes," kata Endang.
"Komite itu akan menjadi semacam dewan pertimbangan untuk membahas dan memutuskan tawaran penelitian yang besar-besar, bermanfaat atau tidak untuk Indonesia, apa keuntungannya untuk Indonesia, apa saja yang boleh dilakukan oleh pihak asing," katanya.Depkes juga akan membentuk komite material transfer agreement (MTA) yang memutuskan, apakah spesimen atau strain virus/bakteri hasil suatu penelitian bisa keluar dari Indonesia atau tidak. "Selain itu, ada komite MTA. Jadi, penelitian yang sudah disetujui oleh komisi nasional tersebut, kita akan lihat, apa perlu spesimen itu keluar. Sedapat mungkin, spesimen tidak keluar dari Indonesia," kata Menkes.
Sumber: Kompas OL

Tuesday, November 3, 2009

2 Vaksin Belum Masuk Program Nasional

Selasa, 3 November 2009 07:53 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Dua vaksin bagi penderita radang paru-paru akut yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia agar diberikan kepada anak di negara berkembang belum dimasukkan dalam program nasional imunisasi di Indonesia. Kedua vaksin itu bisa mencegah kematian 1.075.000 anak per tahun akibat radang paru-paru akut.”Dua vaksin itu adalah Haemophilus Influenzae tipe b atau Hib dan Pneumococcus atau PCV,” kata Kepala Subbagian Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Cissy Kartasasmita dalam Simposium Hari Pneumonia Sedunia bertema ”Fight Pneumonia-Save a Child” di Fakultas Kedokteran Unpad, Bandung, Senin (2/11).
Cissy mengatakan, baru dua vaksin masuk program vaksinasi nasional Indonesia, yaitu campak dan pertusis. Padahal, radang paru-paru akut menyebabkan kematian 2 juta anak di dunia.Dikatakan, vaksin campak efektif meminimalkan terjadinya radang paru-paru akut, demikian juga vaksin pertusis. Menurunkan jumlah penderita campak dan pertusis berarti bisa meminimalkan kematian akibat radang paru-paru akut. Namun, tahun 2004 dilaporkan 30 juta-40 juta anak terserang campak dan 295.000-390.000 anak per tahun meninggal karena pertusis. Saat ini harga kedua vaksin itu, menurut Cissy, masih mahal.
Di negara berkembang, Hib menyelamatkan 2 juta-3 juta anak per tahun. Di negara maju, penggunaannya 92 persen, negara berkembang 42 persen, dan negara belum berkembang 8 persen.Penelitian di Gambia menyebutkan, pemberian PCV 9 menurunkan radang paru-paru akut hingga 35 persen dan jumlah kematian turun 16 persen.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan, radang paru-paru akut adalah salah satu penyakit yang kerap dilupakan karena tak menyebabkan banyak kematian seperti AIDS atau flu burung. Fenomena itu, menurut Yoga, sangat disayangkan karena akan menyebabkan radang paru-paru akut menjadi pembunuh utama bayi dan anak di dunia. (CHE)
Sumber : Kompas on line

Wednesday, October 21, 2009

Kasus Babi Terkena Flu H1N1 Ditemukan di AS

(ANTARA/Ahmad Subaidi) Washington (ANTARA News) -

Menteri Pertanian AS Tom Vilsack, Senin, mengumumkan National Veterinary Services Laboratories di U.S. Department of Agriculture (USDA) telah mengkonfirmasi keberadaan virus wabah influenza H1N1 pada sampel babi yang dikumpulkan di Minnesota State Fair dan diajukan oleh University of Minnesota.
"Kami sepenuhnya melibatkan mitra dagang kami guna mengingatkan mereka bahwa beberapa organisasi internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, telah menyatakan tak ada dasar ilmiah untuk membatasi perdagangan daging babi dan produk babi," kata Vilsack dalam satu pernyataan. "Orang tak dapat terinfeksi flu ini karena makan daging babi atau produk daging babi. Daging babi aman dimakan.
"Hasil sequens mengenai "hemagglutinin", "neuraminidase" dan "gen matriks" dari pengucilan virus tersebut cocok dengan wabah yang dilaporkan 2009 sequens virus flu babi H1N1.
Sampel yang dikumpulkan di Minnesota State Fair 2009 adalah bagian dari kesepakatan proyek penelitian kerja sama University of Iowa dan University of Minnesota, yang didanai oleh U.S. Centers for Disease Control and Prevention yang mendokumentasikan virus influenza di tempat manusia dan babi berinteraksi seperti pasar.
Infeksi babi di pasar tak menunjukkan infeksi ternak komersial karena tayangan memperlihatkan babi berada di bagian terpisah dari industri babi yang tak secara khusus menjadi tempat interaksi manusia atau hewan ternak.
USDA terus mengingatkan produsen babi di AS mengenai perlunya kesehatan yang baik, keamanan biologi dan tindakan lain yang akan menegah penularan dan penyebaran virus influenza pada ternak mereka serta mendorong mereka agar ikut dalam program pengawasan virus influenza babi oleh USDA.
Sumber : Antara OL

Monday, October 19, 2009

Penderita TB di Indonesia Peringkat Ketiga Dunia

Makassar 19/10/2009 (ANTARA News) -

Jumlah penderita Tuberculosis (TB) di Indonesia masih berada pada urutan tertinggi ketiga di dunia, yang pada umumnya disebabkan kurang diperhatikannya faktor kebersihan.

"Indonesia urutan ketiga setelah India dan China yang terbanyak angka penderita TB-nya. Penyebab utama tingginya penderita TB di Indonesia karena kebersihan kurang terjaga," kata Head of Corporate Research Novartis, Paul Herrling di Makassar, Minggu.

Menurut dia, dari hasil penelitian yang dilakukan mitra kerja Novartis di Indonesia diketahui, faktor kebersihan menjadi penyebab utama seseorang terjangkit bakteri penyebab TB.

"Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan, sempit, jorok dan kurang pencahayaan akan menjadi pemicu bakteri TB berkembang dan menjangkiti orang yang lemah kekebalan tubuhnya," katanya.

Selain faktor kebersihan yang dapat menyebabkan seseorang menderita TB, lanjutnya, gaya hidup juga dapat menjadi pemicu penyakit menular ini.

Sebagai gambaran, penderita TB juga banyak di Rusia, karena mayoritas penduduknya gemar meminum vodka, sehingga mempengaruhi berat badan dan pada akhirnya menjadi pemicu orang menderita TB.

Berkaitan dengan hal tersebut, lanjutnya, pihaknya memilih Indonesia sebagai lokasi lembaga penelitian TB yang dilaksanakan Novartis-Eijkman-Hasanuddin Clinical Research Initiative (NEHCRI) di Makassar.

"NEHCRI resmi beroperasi di Makassar pada 2007 lalu, karena sebelumnya kami sudah menimbang bahwa lokasi ini sangat representatif," ujar Herrling.

Alasannya, dalam Kawasan Tamalarena Makassar, selain terdapat kampus Universitas Hasanuddin, juga terdapat Rumah Sakit Regional Wahidin, sehingga sangat tepat jika di tengah kawasan itu dibangun lembaga penelitian yang dilengkapi dengan laboratorium yang canggih.

Sumber : ANTARA OL

Thursday, October 15, 2009

Hari Cuci Tangan Sedunia, Cuci Tangan Yuk!

Jakarta - Mungkin hanya segilintir orang yang tahu bahwa 15 Oktober yang jatuh hari ini, diperingati sebagai Hari Cuci Tangan Sedunia (HCTS). Ketidaktahuan dimaklumi, sebab pada 2009 ini HCTS baru diperingati untuk kedua kalinya.
HCTS, tentunya pakai sabun, adalah kampenye global yang dicanangkan oleh PBB dengan peserta lebih dari 70 negara di dunia sebagai upaya untuk menurunkan tingkat kematian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup manusia.
Serangkaian kegiatan pun digelar untuk memperingati HCTS. Antara lain seperti yang akan dilakukan Departemen Kesehatan (Depkes). Dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (15/10/2009) Dirjen PPPL Depkes secara resmi akan melepas sekitar 500 anak SD untuk kegiatan aksi 'Langit Cerah' dalam rangka sosialisasi cuci tangan pakai sabun.
Dalam peringatan HCTS kali ini, Depkes mengambil tema 'Cuci Tangan Pakai Sabun, Cegah Penyebaran Flu Baru H1N1'. Kampanye Depkes ini akan mangambil tempat di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakpus, pukul 07.30 WIB.
Sebuah perusahaan penghasil produk sabun cuci tangan pun tak mau melewatkan kesempatan ini. Perusahaan itu akan mengadakan aksi cuci tangan serentak di 9 Kota besar di Indonesia pada pukul 10.00 WIB. 9 Kota itu adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Banjarmasin, Ambon, dan Jayapura.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, seperti yang disampaikan USAID, menyatakan kematian balita dan anak-anak Indonesia terbesar adalah akibat diare dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Nah, menurut penelitian, perilaku kecil seperti mencuci tangan dengan sabun dapat berdampak besar mengurangi angka kematian yang terkait dengan penyakit diare hingga hampir 50 persen. Makanya sedari sekarang, biasakan cuci tangan. Cuci tangan yuk!(lrn/ddt)
Sumber : http://m.detik.com

Reducing childhood deaths from diarrhoea

14 OCTOBER 2009 NEW YORK GENEVA --

Global campaigns to fight diarrhoea - the second deadliest illness for children – must be re-energized to prevent the deaths of millions in the developing world, UNICEF and WHO said today as they released a new report on the disease.

“It is a tragedy that diarrhoea, which is little more than an inconvenience in the developed world, kills an estimated 1. 5 million children each year,” said UNICEF Executive Director, Ann M. Veneman. "Inexpensive and effective treatments for diarrhoea exist, but in developing countries only 39 per cent of children with diarrhoea receive the recommended treatment.”

The report, Diarrhoea: why children are still dying and what can be done, lays out a seven-point plan that includes a treatment package to reduce childhood diarrhoea deaths and a prevention strategy to ensure long-term results. The seven specific points are:
1. Fluid replacement to prevent dehydration;
2. Zinc treatment;
3. Rotavirus and measles vaccinations;
4. Promotion of early and exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation;
5. Promotion of hand washing with soap;
6. Improved water supply quantity and quality, including treatment and safe storage of
household water; and
7. Community-wide sanitation promotion.

Dr Margaret Chan, Director-General of WHO, said: "We know where children are dying of diarrhoea. We know what must be done to prevent those deaths. We must work with governments and partners to put this seven-point plan into action."
Source : www.who.int

Wednesday, October 14, 2009

Study: cell phone users at higher risk of brain tumor

BEIJING, Oct. 14 (Xinhuanet) --
Cell phone users might take more risks to come down with brain tumors, according to media reports Wednesday quoting latest research from U.S.

In earlier research, scientists did find a weak link between cell phone and brain tumors, whereas there was no clear indication of what risk the cell phone users were taking.

"We cannot make any definitive conclusions about this," said Dr. Deepa Subramaniam, director of the Brain Tumor Center at Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center in Washington, D.C.

"But this study, in addition to all the previous studies, continues to leave lingering doubt as to the potential for increased risk. So, one more time, after all these years, we don't have a clear-cut answer."

However, Joel Moskowitz, the study's senior author, said that "clearly there is risk." He's director of the Center for Family and Community Health at the University of California, Berkeley, School of Public Health.

"I would not allow children to use a cell phone, or I at least would require them to use a separate headset," Moskowitz said.

"It seems fairly derelict of us as a society or as a planet to just disseminate this technology to the extent that we have without doing a whole lot more research of the potential harms and how to protect against those harms. Clearly, we need to learn a whole lot more about this technology."

Researchers found that using a mobile phone for a decade or longer resulted in an 18 percent increased risk of brain tumor likely to appear on the side where the phone was used, Moskowitz said.

Moskowitz however believed that there's also potential harm to other areas of the body -- the genitals, for example -- when the phone is carried in a pocket.

With so many people worldwide using cell phones, even a small risk could translate into many illnesses and deaths, he stressed.

"We need to do a whole lot more research because the stakes are really high and there seems to be suggestive evidence that you better be careful about this, especially in children, who have developing tissue and smaller brain and skull sizes," Moskowitz warned.

Last year, the U.S. Food and Drug Administration appealed for more research into the risks posed by long-term cell phone use, rather than the more commonly studied short-term risks. It urged that such research focuses on the health of children, pregnant women and fetuses as well
as workers subject to high occupational exposure.
Source : www.chinaview.cn

Monday, October 12, 2009

Menkes: Indonesia berkomitmen turunkan angka kematian

MEDAN - 11/10/2009

Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari, mengatakan, Indonesia berkomitmen menurunkan angka kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara penyakit campak hingga 90 persen pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2000.
“Karenanya, dilaksanakan beberapa upaya meliputi imunisasi rutin campak pada bayi usia 9 bulan dan imunisasi campak dosis kedua pada anak SD serta melakukan imunisasi tambahan untuk menghilangkan akumulasi kelompok rentan,” katanya melalui Dirjen Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Chandra Yoga Aditama.
Disebutkan, cakupan imunisasi rutin secara nasional telah mencapai terget namun belum merata di seluruh wilayah Indonesia termasuk Sumut. Penyakit campak masih menjadi salah satu penyebab utama kematian bayi dan balita di Indonesia, untuk itu perlu upaya meningkatkan tingkat kekebalan terhadap penyakit campak melalui pemberian imunisasi campak tambahan pada balita.
Gubsu, Syamsul Arifin, atas nama Pemprovsu menyambut gembira atas bantuan yang diberikan oleh WHO dan UNICEF dalam rangka kampanye campak dan polio tambahan. Campak, kata Gubsu, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan mudah menular pada anak-anak yang rentan serta berpotensi menyebabkan kejadian luar biasa (wabah) sehingga dapat mengancam kesehatan bagi bayi dan balita.
“Penyakit campak dapat menular dengan cepat dari satu anak ke anak yang lain dan dapat mengakibatkan panas, batuk, sesak nafas, sariawan, diare dan bahkan dapat mengakibatkan kebutaan dan kematian,”ujarnya.
Kampanye imunisasi campak dan polio tambahan akan dilaksanakan di 33 kabupaten/kota di Sumut masing-masing di 417 kecamatan, 5.815 desa dan 16.585 Posyandu.
Sumber : waspada OL

A/H1N1 flu cases increase dramatically in Spain

MADRID, Oct. (Xinhua) --

The number of A/H1N1 flu cases in Spain rose sharply between Sept. 27 and Oct. 3 to an estimated 40,564 cases, the Spanish Ministry of Health announced.

This weekly figure was a dramatic increase of 9,242 from the previous week's 31,322 cases. Meanwhile, the infection rate had climbed sharply from the previous 77.88 cases per 100,000 inhabitants to 94.72 cases per 100,000 inhabitants, the ministry added.

There had been 43 deaths to date as a result of the A/H1N1 flu virus; the last victim was a 46 year-old woman in Malaga.

However, nearly all of those who died also had other health problems. The mortality rate stands at 0.17 per 1,000 cases.

Friday, October 9, 2009

Penyakit Aneh Serang Perempuan Zambia

Jumat, 9 Oktober 2009 | 11:36 WIB

LUSAKA, KOMPAS.com - Penyakit aneh yang hanya menyerang persendian kaum perempuan dan membuat mereka tak bisa berdiri tanpa bantuan dijumpai di Provinsi Luapula, Zambia

Penyakit aneh, yang disebut "dwarf", itu telah menyebar di daerah Chembe di Provinsi Luapula dan hanya menyerang perempuan dan anak perempuan, sehingga mereka tak bisa berdiri tanpa bantuan. Teleshi Lewando, seorang pegawai di Pusat Kesehatan setempat, mengatakan kepada anggota parlemen dari daerah tersebut, Mwansa Mbulakulima, yang sedang berkunjung, bahwa penyakit itu "tidak serius" dan semua pasien dapat disembuhkan setelah tiga hari.

Ia mengatakan penyakit tersebut pertama kali menyebar di sekolah menegah Kabunda. Sejumlah siswi di sekolah itu telah menderita penyakit tersebut. Semua orang yang terserang hanya diberikan obat Panadol.

Tetapi anggota parlemen itu mengatakan meskipun penyakit tersebut tidak serius, para ahli kesehatan perlu menyelidiki mengapa penyakit itu hanya menyerang anak perempuan dan kaum perempuan. "Ya, kita telah diberitahu bahwa penyakit ini -dwarf- tidak serius, tapi kemudian kita tak boleh terlena karena jaminan itu, malah kami mesti bekerja keras untuk menemukan kebenaran mengenai penyakit tersebut," kata Mbulakulima kepada para pekerja kesehatan.

Sumber : ANT http://m.kompas.com

Wednesday, October 7, 2009

Vaksin Influenza A-H1N1 Dinyatakan Aman

Rabu, 7 Oktober 2009 09:33 WIB

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (6/10), mengulang pernyataannya bahwa vaksin influenza A-H1N1 merupakan alat yang terbaik untuk menghadapi pandemi. Efek samping, seperti otot yang kram atau sakit kepala, memang terjadi pada beberapa kasus, tetapi sebaiknya setiap orang memiliki akses pada vaksin tersebut.
Kampanye massal vaksinasi mencegah influenza A-H1N1 saat ini berlangsung di China dan Australia, dan akan segera dimulai di AS dan sebagian negara di Eropa. Hal ini diungkapkan juru bicara WHO, Gregory Hartl. Tentang keengganan sejumlah orang untuk divaksinasi, Hartl hanya menegaskan, ”Saya berharap setiap orang yang berkesempatan mendapatkan vaksin tersebut benar-benar bisa mendapatkannya.”
Pihak PBB menyatakan bulan Juni lalu bahwa virus A-H1N1 menyebabkan pandemi influenza dan sejumlah perusahaan telah berkolaborasi membuat vaksin. GlaxoSmithKline mendapat pesanan vaksin dari 22 negara lagi pada dua bulan terakhir sehingga total dosis yang dipesan telah mencapai 440 juta dan nilainya sekitar 3,5 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 35 triliun. Perusahaan lain adalah Sanofi-Aventis, Novartis, Baxter, AstraZeneca, dan CSL.

Tuesday, October 6, 2009

Militer Korsel : Korut Miliki 13 Jenis Senjata Biologi

Seoul, (ANTARA News).

Korea Utara (Korut) diperkirakan memiliki 13 jenis virus dan kuman yang dapat digunakan untuk 5.000 ton senjata kimia, kata Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel), Senin (5/10/2009).

Dalam sebuah laporan kepada parlemen, kementerian itu mengatakan Korut, yang komunis, adalah salah satu negara yang memiliki cadangan terbesar senjata kimia dan biologi dunia, sebagaimana dikutip dari AFP.

Daftar penyakit yang dapat ditimbulkan senjata biologi itu meliputi kolera, sakit kuning, cacar, tipus, demam dan disentri.

Kementerian itu memperkirakan cadangan senjata kimia tetangganya itu berjumlah antara 2.500 dan 5.000 ton.

Pernyataan bahwa Korut memiliki senjata kimia dan biologi itu, selain senjata nuklir dan konvensionalnya, bukan hal baru. Tetapi laporan Senin itu memberikan lebih terperinci tentang apa yang disebut senjata biologi itu.

Kelompok Krisis Internasional dalam sebuah laporan Juni menyatakan kemampuan nuklir Pyongyang adalah ancaman paling besar, tetapi juga negara itu memiliki cadangan senjata kimia besar dan program senjata biologi.

Senjata kimia dapat disebarkan melalui bom meriam atau rudal yang dapat menimbulkan korban besar di Korsel, kata badan pemikir yang berpangkalan di Brussels.

Cadangan itu meliputi antara 2.500 dan 5.000 ton gas mostar, phosgene (gas beracun yang tidak berwarna), zat darah, sarin, tabun dan zat syaraf dan yang dapat disebarkan melalui artileri jarak jauh, rudal, pesawat terbang dan kapal angkatan laut, katanya.

Korut dan Korsel secara teknis masih dalam perang karena konflik mereka tahun 1953-1955 diakhiri hanya dengan gencatan senjata dan bukan dengan perjanjian perdamaian.

Militer Korsel, yang berkekuatan 655.000 personil dan didukung 28.500 tentara AS, menghadapi Angkatan Bersenjata Korut --yang memiliki 1,2 juta tentara.

Sumber : Antara OL

Friday, October 2, 2009

Flu A-H1N1, Korban Tewas karena Infeksi Bakteri

KOMPAS.com -

Infeksi bakteri banyak ditemukan pada korban tewas akibat virus A-H1N1 di Amerika Serikat, diduga hal tersebut yang menyebabkan korban tewas. Para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menganalisa contoh jaringan paru dari 77 korban tewas akibat H1N1 antara bulan Mei hingga Agustus tahun ini.
Peneliti menemukan terjadinya infeksi tambahan pada 22 korban (sekitar 29 persen), termasuk 10 yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae atau pnemokokus. Tujuh korban mengalami infeksi Staphylococcus aureus, enam terinfeksi Streptococcus pyogenes, dan dua terinfeksi Streptoccoccus mitis dan satu orang terinfeksi Haemophilus influenzae.
Infeksi ganda bakter patogen adalah faktor utama pada empat kasus kematian. Dari seluruh korban tewas, mereka dirawat selama 1-25 hari dengan rata-rata selama enam hari. Pada 41 korban, infeksi virus H1N1 baru dikonfirmasi sebelum kematian, sedangkan 36 lainnya setelah kematian.
Hasil riset ini sekaligus menyoroti pentingnya vaksin untuk mencegah infeksi pnemokokus. "Bagi mereka yang beresiko tinggi terkena komplikasi influenza diharapkan untuk menanyakan pada petugas kesehatan untuk mendapatkan vaksin pnemokukus saat divaksin influenza," kata Dr.Matthew Moore, ahli epidemiologi dari CDC.
Pnemokokus merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumokukus). Bakteri ini bisa menginfeksi anak-anak maupun dewasa. Bayi baru lahir hingga usia dua tahun sangat rentan terserang pneumokokus.
Sumber : healthdaynews http://m.kompas.com

Thursday, October 1, 2009

Menkes: Gempa Padang Lebih Parah dari Gempa Yogya

Jakarta - 1 O2tober 2009

Kerusakan gempa di Padang, Sumatera Barat, jauh lebih parah dibandingkan gempa yang pernah mengguncang Yogyakarta. Departemen Kesehatan menganggarkan puluhan miliar rupiah untuk bantuan."Gempa di Padang kerusakannya lebih parah dibanding gempa Yogya tapi masih di bawah tsunami Aceh. Jumlah korban mungkin bisa mirip Yogya tapi belum bisa kita hitung. Kita sudah anggarkan puluhan miliar untuk bantuan," kata Menkes Siti Fadilah Supari sebelum bertolak ke Padang dari Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis (1/10/2009).
Siti Fadilah menjelaskan bantuan tersebut akan berupa obat-obatan dan fasilitas rumah sakit darurat. Depkes juga akan membuat crisis center di titik-titik pusat kerusakan gempa. "Peralatan medis di Padang lumayan masih bisa digunakan. Karena Padang adalah salah satu tepat krisis gempa untuk area Sumatra, jadi masih lengkap," katanya.
Siti Fadilah menyatakan, Depkes telah mengirim lebih dari 100 orang tenaga medis ke Padang. "Nanti sore ada tambahan lagi dari Makassar," katanya.(nal/nrl) .

Novel H1N1 Influenza and Respiratory Protection for Health Care Workers

By : Kenneth I. Shine, M.D., Bonnie Rogers, Dr.P.H., R.N., and Lewis R. Goldfrank, M.D.


Your hospital has been seeing a large number of patients with influenza-like symptoms, many of whom turn out to be infected with the novel H1N1 influenza A virus. You have been asked to consult on the case of a 28-year-old woman who is in an isolation room because of an influenza-like presentation and shortness of breath. You put on a gown, carefully clean your hands with hand soap or an alcoholic gel, pull on gloves, and reach for a mask. Guidelines from the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) recommend the use of an N95 filtering facepiece respirator. Some states and many professional groups have suggested that a standard surgical mask is satisfactory in this situation, except when a clinician is performing high-risk procedures, such as airway suctioning, in which case the N95 is still recommended. What should the hospital and its infection-control officer provide when you reach into the box for a respiratory protective device? What should be available to others who will enter this room, including nurses, respiratory technicians, cleaners, and food servers?

Next

Wednesday, September 30, 2009

Australia Mulai Vaksinasi Massal Flu Babi

Brisbane, (ANTARA News) -

Langkah Australia menangani pandemi Flu A H1N1 yang telah menewaskan 180 orang di negara itu, Rabu, memasuki era baru dengan dimulainya program vaksinasi massal kepada para warga yang dianggap rentan terhadap serangan flu babi ini.
Program vaksinasi massal yang menurut laporan media setempat diberikan secara gratis kepada setiap warga Australia berusia 10 tahun ke atas itu dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari hasil uji coba pemakaian vaksin Flu A H1N1 produksi perusahaan bioteknologi, CSL, kepada 240 orang warga di Adelaide, 22 Juli lalu.
Menurut Kementerian Kesehatan Australia, tujuh sasaran utama program vaksinasi Flu A H1N1 adalah ibu hamil, pengasuh bayi berusia enam bulan, dan warga yang menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung, asma, paru-paru, kanker, diabetes, gagal ginjal, dan penyakit yang berhubungan dengan syaraf. Selain itu, yang termasuk kelompok rentan adalah warga Australia yang menderita obesitas akut, warga pribumi, petugas kesehatan, dan pekerja sosial di masyarakat.
Berdasarkan data terkini Kementerian Kesehatan Australia, sejak flu babi dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai ancaman serius April lalu, total jumlah kasus terkonfirmasi Flu A H1N1 di Australia tercatat 36.605 orang. Sebanyak 180 orang di antaranya meninggal dunia. Dari 180 orang korban meninggal dunia, itu sebanyak empat orang di antaranya adalah ibu hamil dan 24 orang lainnya merupakan warga pribumi Australia.
Mereka tersebar di delapan negara bagian dan teritori yang ada di negara benua berpenduduk lebih dari 21 juta jiwa itu.Kementerian Kesehatan Australia mencatat New South Wales sebagai negara bagian dengan angka kematian flu babi yang tertinggi, yakni 49 orang, disusul Queensland (40), Australia Barat (26), Australia Selatan (26), Victoria (24), Tasmania (7), Northern Territory (6) dan Australian Capital Territory (2).
Sumber : Antara OL

7 Juta Penduduk Indonesia Terinfeksi Hepatitis C

JAKARTA, KOMPAS.com -29 Sep. 2009


Jumlah penduduk Indonesia yang terkena virus hepatitis C mencapai 6-7 juta orang yang tersebar di 21 provinsi. Mayoritas penderita adalah laki-laki dalam usia produktif.
Demikian menurut data yang dipublikasikan Pendataan Hepatitis C Nasional yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dan PT Roche Indonesia. Infeksi virus hepatitis C merupakan satu dari 10 penyebab kematian terbesar.
Dalam jangka panjang, infeksi virus ini bisa berlanjut menjadi sirosis dan berakhir sebagai kanker hati. Kenyataan di lapangan menunjukkan sebaran penularan dan besaran jumlah penderita infeksi virus hepatitis C belum diketahui secara pasti. Data yang dihimpun dalam Progam Pendataan Hepatitis C pun belum menunjukkan prevalensi sesungguhnya.
"Data ini memang belum menggambarkan permasalah dasar karena hanya mengukur positif rate berdasarkan pemeriksaan laboratorium," kata dr.Andi Muhadir, MPH, Direktorat Sepim Kesma, Departemen Kesehatan.
Program pendataan yang berjalan sejak tahun 2007 ini melibatkan 21 provinsi yang terdiri dari 123 unit pelapor, yakni rumah sakit swasta dan pemerintah yang dipilih, laboratorium, serta unit transfusi darah PMI. Setiap unit pelapor wajib mengumpulkan data setiap kali ada pasien yang dinyatakan positif terinfeksi hepatitis C berdasarkan pemeriksaan tes anti HCV.
Seluruh pelaporan berbasis internet sehingga data lebih akurat dan dapat langsung terintregasi ke dalam data nasional. "Yang terpenting hanya jumlah datanya tapi bagaimana menyikapi data tersebut lewat tindakan bersifat preventif," kata Andi.
Senada dengan Andi, Dr. Unggul Budihusodo, SpPD-KGEH, ketua perhimpunan peneliti hati Indonesia, mengatakan pencegahan memang cara terbaik untuk menanggulangi hepatitis C. Terlebih penyakit ini tergolong dalam silent disease yang seringkali tanpa gejala.
"Kebanyakan pasien tak sadar dalam dirinya sudah ada virus hepatitis C. Mereka baru berobat setelah penyakitnya menahun dan sudah menjadi kronis," ujarnya. Apalagi hepatitis C yang kronik dan sudah menjadi sirosis umumnya sulit disembuhkan dan banyak menyebabkan kematian.
Sumber : http://m.kompas.com

Tuesday, September 29, 2009

Indonesia to produce A/H1N1 flu vaccine

JAKARTA, Sept. 28 (Xinhua) --
Indonesia is to produce vaccine to stop the further spread of the A/H1N1 viruses that have killed 10 people and infected more than 1,000 others in the country, a senior official of the Health Ministry said here on Monday.

The plan comes after the United Nations recently asked major vaccine producer firms in the world, including Indonesia's drug maker Biofarma, to produce the vaccine, Director General of Disease Control and Environmental Health of the ministry Tjandra Yoga Aditama said.

"As the World Health Organization (WHO) has said that the world could only produce 3 billion doses of the flu vaccine out of 5 billion doses expectation. So, we will produce the vaccine," Yoga told Xinhua at his office when asked whether Indonesia will produce the A/H1N1 flu vaccine.

But, it had not been determined yet the amount of the vaccines to be produced by Biofarma and whether Indonesia would join other countries move to donate the vaccine to under developed countries, he said, adding "Let's wait until two months after the preparation process is completed, then all will be clear, such as the amount of the vaccine to be produced, whether they are only for us or to be given to other countries."
The director said that the development of the A/H1N1 influenza virus has often unpredictable, but his ministry would keep closely to watch it.

Monday, September 28, 2009

WHO Minta Masyarakat Waspadai Munculnya Resistensi Obat

Senin, 28 September 2009 10:10 WIB


Jenewa, Jumat - Penggunaan obat antivirus untuk influenza A-H1N1 sejak dini sangat membantu penanganan penyakit itu, tetapi para tenaga kesehatan harus waspada dan berhati-hati agar tidak terjadi resistensi obat.Demikian terungkap dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia untuk PBB (WHO), pekan lalu.
Resistensi terhadap antivirus H1N1 mulai dilaporkan terjadi secara sporadis. Namun, diduga kasus resistensi belum meluas. Monitoring global WHO mendeteksi 28 virus resistan sejauh ini. Di masing-masing kasus, virus menjadi resistan pada oseltamivir, tetapi tidak zanamivir.
Tenaga kesehatan di berbagai negara semakin berpengalaman dalam menggunakan obat seperti oseltavimir yang diproduksi sebagai Tamiflu oleh Roche Holding dan Gilead Sciences serta zanamivir, obat hirup produksi Relenza oleh GlaxoSmithKline. Para pekerja kesehatan, berdasarkan pengalaman, mengetahui bahwa pemberian secara dini obat-obat tersebut pada pasien yang diduga terkena influenza A- H1N1 atau mempunyai gejala awal penyakit tersebut mengurangi risiko dan komplikasi.
Kualitas kesehatan pasien dengan penyakit yang parah juga meningkat. Pengalaman-pengalaman di lapangan tersebut kemudian mengabaikan pentingnya menjaga efektivitas obat.Obat seringkali diberikan kepada pasien dengan kondisi tubuh baik dan gejala ringan yang diduga influenza A-H1N1. Padahal, pasien berkondisi tubuh baik yang datang dengan gejala ringan itu sebetulnya dapat pulih tanpa pengobatan.
Adapun anak-anak, wanita hamil, dan pasien dengan penyakit tertentu, seperti asma, diabetes, dan persoalan kekebalan tubuh, berpotensi penyakitnya menjadi semakin parah atau berujung kematian.Risiko resistensi obat terutama tinggi terhadap orang berkekebalan tubuh lemah, yang sebelumnya pernah ditangani dengan menggunakan oseltamivir atau orang yang menggunakan antivirus sebagai prophylactic atau terapi pencegahan.
WHO mengimbau petugas kesehatan perlu menginvestigasi apakah telah terjadi resistensi. Jika terjadi resistensi, perlu diteliti sejauh mana resistensi terhadap obat itu telah menyebar. Untuk negara berkembangKoordinator Penanganan Kemunculan Variasi Flu Baru WHO, Dr David Nabarro, mengatakan, sejumlah negara maju setuju membagi vaksin influenza A-H1N1 mereka kepada negara berkembang.
Negara-negara berkembang sangat rentan terhadap influenza A-H1N1 karena tingginya angka penderita malaria, HIV/AIDS, dan tuberkulosis.Produsen obat hanya dapat membuat vaksin A-H1N1 bagi separuh penduduk dunia per tahunnya. Dengan demikian, setiap negara harus membuat pilihan mengenai siapa penduduk yang akan mendapatkan vaksin itu.
Sebuah laporan hasil pertemuan di New York, Amerika Serikat, yang dipimpin Direktur Jenderal WHO Margaret Chan, menyebutkan, 85 negara berkembang akan benar-benar bergantung kepada donasi vaksin itu.Negara-negara berkembang tersebut membutuhkan 1,48 miliar dollar AS per tahun untuk menghadapi pandemi H1N1, beberapa tahun ke depan. Sebagian besar dana itu akan digunakan untuk vaksin dan obat.
Sumber : Kompas OL

Friday, September 25, 2009

Pandemic (H1N1) 2009 - update 66

Weekly update

In the temperate regions* of the northern hemisphere, influenza activity remains widely variable. In North America, the United States is reporting increases in influenza-like-illness activity above the seasonal baseline, most notably in the southern, southeastern, and parts of the northeastern United States.

In Canada, influenza activity remains low. In Europe and Central Asia influenza activity remains low overall, except in France, which is reporting increases in influenza-like-illness activity (for week 37) above the seasonal epidemic threshold. Geographically localized influenza activity is being reported in several countries (Austria, Georgia, Ireland, Luxembourg, Norway, Portugal, the Czech Republic, Cyprus, and Israel). In Japan, influenza activity remains stably increased above the seasonal epidemic threshold with the most notable increases being reported on the southern island of Okinawa.

In the tropical regions of the Americas and Asia, influenza transmission remains active. Geographically regional to widespread influenza activity continues to be reported throughout much of South and Southeast Asia, with increasing trends in respiratory diseases being reported in India and Bangladesh. Geographically regional to widespread influenza activity continues to be reported for the tropical regions of Central and South America without a consistent pattern in the trend of respiratory diseases (continued increases are being reported in Bolivia and Venezuela).

In the temperate regions* of the southern hemisphere, influenza activity continues to decrease or has returned to the seasonal baseline in most countries. In Australia, later affected areas are also now reporting declining levels of influenza-like-illness. In South Africa, influenza activity appears to have recently passed over the second peak (the first peak was due to seasonal influenza A (H3N2) and second peak was due to pandemic (H1N1) 2009).

WHO Collaborating Centres and other laboratories continue to report sporadic isolates of oseltamivir resistant influenza virus. Twenty six such virus isolates have now been described from around the world, all of which carry the same H275Y mutation that confers resistance to the antiviral oseltamivir but not to the antiviral zanamivir. Of these, 12 have been associated with post-exposure prophylaxis, five with long term oseltamivir treatment in patients with immunosuppression. Worldwide, over 10,000 clinical samples and isolates of the pandemic (H1N1) 2009 virus have been tested and found to be sensitive to oseltamivir. WHO will continue to monitor the situation closely in collaboration with its partners.

Pandemic (H1N1) influenza virus continues to be the predominant circulating influenza virus, both in the northern and southern hemisphere. See below for detailed laboratory surveillance update.

*Countries in temperate regions are defined as those north of the Tropic of Cancer or south of the Tropic of Capricorn, while countries in tropical regions are defined as those between these two latitudes.

Source : http://www.who.int/csr/don/2009_09_18/en/index.html



Thursday, September 24, 2009

Kematian Pertama di AS Akibat Virus West Nile

Kamis, 24 September 2009 12:08 WIB


San Francisco (ANTARA News) - Seorang perempuan yang berusia 71 tahun diduga menjadi orang pertama di negara bagian Washington, AS, yang meninggal akibat virus West Nile tahun ini, demikian laporan media lokal, Rabu, seperti dilaporkan Xinhua.
Perempuan itu, yang berasal dari kota Sunnyside, meninggal Sabtu lalu, dan suaminya mengatakan beberapa dokter memberi tahu dia bahwa istrinya adalah korban virus West Nile, kata Yakima Herald-Republic, surat kabar negara bagian Washington, dalam satu laporan.
Pemeriksaan awal memperlihatkan perempuan tersebut mungkin telah terinfeksi virus West Nile, tapi beberapa pejabat kesehatan mengatakan banyak contoh telah dikirim ke laboratorium U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan hasil akhir masih ditunggu.
Jika dikonfirmasi, itu akan menjadi kematian pertama pada manusia akibat virus West Nile di negara bagian Washington dan kesembilan di Amerika Serikat tahun ini.
Keterangan yang disiarkan di laman CDC menyatakan sebanyak delapan orang di engara bagian Idaho, Indiana, Mississippi, New Mexico, Teksas, dan Wyoming, AS, meninggal akibat virus West Nile sepanjang tahun ini.
Virus West Nile biasanya disebarkan ke manusia oleh nyamuk yang menghisap darah burung yang terinfeksi, dan menimbulkan gejala seperti sakit kepala, demam tinggi, tengkuk kaku, pingsan, pelupa, gemetar, sawan, otot lemah, lumpuh dan koma.
Meskipun virus tersebut takkan membuat sakit sebagian besar orang yang terinfeksi, virus itu dapat mengakibatkan kematian dalam kasus langka, kata beberapa ahli kesehatan.

Sumber : Antara OL

Semprot Hidung untuk Flu A-H1N1

ATLANTA, KOMPAS.com
Dosis-dosis pertama vaksin penangkal flu A-H1N1 kemungkinan besar tersedia dalam bentuk semprotan hidung. Demikian disampaikan pejabat kesehatan setempat di Atlanta. Pemerintah Atlanta mernyebutkan, vaksin ini akan tersedia awal Oktober, dengan perkiraan dosis mencapai 3,4 juta.
Saat ini, semprotan ini disetujui untuk dipakai mereka yang yang sehat usia 2 hingga 49 tahun, jelas Dr. Jay Butler, salah satu pejabat Centers for Disease Control and Prevention.
Semprotan hidung yang disebut FluMist, tidak direkomendasikan untuk mereka yang menderita flu A-H1N1 parah dengan komplikasi, termasuk wanita hamil, anak-anak di bawah 2 tahun, penderita asma dan penyakit pernapasan kronis lain.
Semprotan hidung ini memang baru digunakan di Amerika Serikat dan bermanfaat untuk melemahkan strain virus bakal dibagikan ke 90.000 tempat, termasuk sekolah dan klinik se-AS.
Pemerintah sendiri telah memesan sekitar 195 juta dosis dan akan memesan lagi bila tidak mencukupi kebutuhannya. Tentu, ini merupakan kabar bagus kalau vaksin ini segera disebar luaskan, jelas Butler.
FluMist didesain memang untuk anak-anak, tetapi juga efektif untuk orang dewasa. Wakil Direktur CDC Divis Influenza Dr. Daniel Jernigan mengatakan bahwa tidak ada perbedaan berarti soal efek kerjanya untuk usia-usia tersebut. "Lebih baik ada vaksi daripada tidak, bukan?" tambahnya.Kurang dari 100 juta warga Amerika menderita flu tiap tahun dan kemungkinan dengan adanya wabah A-H1N1 situasi ini akan makin merepotkan.
Sekitar 21 negara bagian sekarang dilaporkan sudah terserang flu ini.Meski tidak seganas flu biasa, tapi mudah menyerang terutama pada anak-anak muda. Karena, kasus flu musiman biasa sudah mencapai 200.000 yang masuk rumah sakit dan menyebabkan kematian sampai 36.000.
Sumber : Kompas OL

Sunday, September 13, 2009

Wabah Kolera Hajar Afghanistan

Kabul - Wabah penyakit kolera merebak sekurangnya di sepuluh provinsi di Afghanistan, Kementerian Kesehatan setempat mengumumkan hari ini (13/9/2009), dikutip detikcom dari Algemeen Dagblad dari ANP.

Tercatat sudah 650 kasus korban penyakit sangat menular itu, termasuk di ibukota Kabul, namun sejauh ini wabah kolera masih terkendali dan belum ada laporan korban tewas.

Pemerintah Afghanistan mengatakan bahwa saat ini sejumlah personel tambahan dan obat-obatan sudah dikirim ke wilayah-wilayah yang dilanda kolera.

Kolera akan muncul dan cepat menyebar jika higiene dan sanitasi sangat buruk. Wabah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae itu juga pernah melanda Indonesia di akhir 70-an, termasuk Jawa Tengah dan menelan banyak korban tewas.

Eddi Santosa - detikNews (es/es)

Thursday, September 10, 2009

At least 2,837 die from H1N1 flu: WHO

GENEVA, Sept. (Xinhua) -- The A/H1N1 pandemic has killed at least 2,837 people worldwide since the new flu virus first emerged in April, the World Health Organization (WHO) said Friday.

Of all the deaths, 2,234 occurred in the Americas, followed by the West Pacific region, with 279 deaths. The other four WHO regional offices, South-East Asia, Europe, East Mediterranean and Africa reported 188, 104, 21 and 11 deaths respectively.

The WHO's recorded number of lab confirmed A/H1N1 cases worldwide is more than 254,206, but it actually understates the real number of cases as countries are no longer required to test and report individual cases, the U.N. agency said.

The A/H1N1 virus continues to be the predominant circulating virus of influenza, both in the northern and southern hemisphere, but there are still no signs that the virus has mutated into a more virulent or lethal form, the agency said.

Although the virus can cause severe and fatal illness, also in young and healthy people, the number of such cases remains small, the WHO has said.

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN