SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Sunday, April 26, 2009

Flu Babi Meksiko Ancam Dunia

25/04/2009 - 18:59

Mexico City - Flu babi yang menewaskan puluhan orang di Meksiko kini menjadi perhatian utama karena bisa berkembang menjadi wabah flu global. Pemerintah minta warga meninggalkan kebiasaan cium pipi. Serangan virus baru ini memang mencemaskan, memaksa pemerintah Meksiko menutup sementara sekolah, museum, perpustakaan, dan gedung bioskop. Sedangkan di AS, virus ini diduga telah menjangkiti delapan orang di Texas dan California. Belum terdengar kabar ada korban tewas AS akibat terjangkit virus ini. Virus ini merupakan gabungan dari materi genetik babi, unggas, dan manusia. Gabungan materi ini belum pernah ditemukan sebelumnya oleh para peneliti dunia."Kami sangat prihatin," kata Thomas Ibrahim, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). "Virus ini telah menyebar dari manusia ke manusia."Merebaknya virus ini membuat Meksiko dalam posisi siaga. Lebih dari 1.000 orang telah terjangkit virus ini. Warga kota diperintahkan menggunakan masker wajah. Pejabat berwenang telah memerintahkan penutupan sejumlah tempat umum di seperempat wilayah negara.

Presiden Meksiko, Felipe Calderon mengatakan bahwa pemerintah membutuhkan bantuan internasional dalam membuat laboratorium untuk mengetahui jenis virus yang telah menyerang warga di negaranya.
"Kami sedang melakukan segala sesuatu yang diperlukan," kata Calderon, usai rapat kabinet untuk merespon masalah kesehatan ini. "Kami memahami bahwa ini masalah serius," tambahnya.WHO menggelar rapat panel ahli untuk mempertimbangkan apakah masalah ini merupakan penyakit menular yang cukup serius, atau cuma sekadar mengeluarkan peringatan perjalanan wisata. "Mungkin sudah terlambat untuk mencegah masalah ini meluas," kata seorang ahli penyakit flu burung dari AS.Ia mengatakan, flu burung saja dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. "Jika ini adalah pertanda awal dari sebuah penyakit menular, maka virus ini akan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia," kata Dr Michael Osterholm dari University of Minnesota.

Di Mexico City saja, ratusan ribu wisatawan datang dan pergi setiap hari. "Anda harus percaya bahwa transmisi virus ini sudah berkembang," kata Osterholm.
Tidak ada vaksin yang secara khusus bisa melindungi manusia terhadap flu babi ini. Belum pula diketahui berapa banyak dosis vaksin flu biasa bisa melindungi manusia dari risiko kematian. "Vaksin flu yang secara genetis cocok untuk melawan virus flu babi saat ini sedang dibuat oleh Pusat Pengawas Penyakit di AS," kata Dr Richard Besser. Pejabat berwenang Meksiko mendesak masyarakat untuk menjauhi rumah sakit, kecuali memiliki alasan darurat medis, sebab rumah sakit merupakan pusat penyebaran virus flu babi ini. Pemerintah juga meminta warga untuk mulai meninggalkan adat kebiasan mencium pipi. Sementara itu, pengawasan arus lalu-lintas manusia di Bandara Meksiko juga diawasi sangat ketat. Jika seseorang melintasi bandara dalam keadaan flu, maka polisi setempat akan memintai pertanggungjawaban. Delapan korban yang kembali ke AS mengalami gejala seperti flu biasa, seperti demam, batuk, dan sakit tenggorokan, meskipun beberapa di antara mereka juga muntah-muntah dan diare.

Pejabat kesehatan AS mengumumkan kepada wisatawan agar meningkatkan kehati-hatian dan lebih sering mencuci tangan, serta menghindari berbicara dengan orang Meksiko.
Menteri Kesehatan Meksiko Jose Angel Kordoba mengatakan 68 orang telah meninggal akibat flu, dan sebanyak 20 orang dipastikan tewas akibat flu babi. "Setidaknya saat ini sebanyak 1.004 orang di seluruh Meksiko diduga sakit flu babi," katanya.

Penyebaran wabah secara geografis juga menjadi perhatian WHO. Sebanyak 13 dari 20 kematian orang terjadi di Mexico City, empat orang di San Luis Potosi, dua orang di Baja California, dan satu lagi di dekat perbatasan negara bagian Oazaca.
Para ilmuwan telah lama mengkhawatirkan bahwa virus flu ini menjadi pandemi yang mematikan di seluruh dunia. Sebuah virus baru dapat berkembang secara berbeda ketika menjangkiti babi, orang, atau burung. Perkembangbiakan vitus ini dapat menyebar dengan cepat karena orang secara alami tidak memiliki pertahanan tubuh untuk mencegahnya. Para ahli flu tidak takut dengan serangan penyakit tersebut terakhir kalinya. "Kami telah melihat flu babi pada manusia selama beberapa tahun. Dalam banyak kasus, itu berasal dari kontak langsung dengan babi. Namun kali ini kelihatannya berbeda," kata Dr Arnold Monto, seorang ahli flu dari University of Michigan. "Saya pikir kami harus berhati-hati. Kami harus memberi perhatian lebih terhadap perkembangan baru virus ini," katanya. Dua obat flu, Tamiflu dan Relenza, tampaknya efektif terhadap virus ini. Roche, produsen Tamiflu, mengatakan perusahaan tersebut siap menusplai persediaan obat jika diminta.

Kedua obat-obatan itu harus dikonsumsi sejak awal, atau beberapa hari sejak seseorang mengalami gejala, agar bisa efektif.
Kordoba mengatakan, Meksiko memiliki persediaan Tamiflu yang cukup untuk merawat satu juta orang. Penggunaan obat itu diserahkan kepada dokter. [L1]

Sumber
: Ediya MoraliaINILAH.COM,

Saturday, April 25, 2009

Depkes Gelar Simulasi Tangani Penyebaran Flu Burung

Sabtu, 25/04/2009 09:16 WIB

Rachmadin Ismail - detikNews
Makassar - Penularan penyakit flu burung selama ini baru melalui binatang. Bagaimana jika penularan sudah terjadi antar manusia dalam sebuah lingkungan perkotaan
Departemen Kesehatan (Depkes) memberikan informasi tentang hal itu lewat simulasi penanggulangan penyebaran virus flu burung di kota Makassar, Sulawesi Selatan.
"Kita berharap lewat kegiatan ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara pencegahan episenter pandemi influenza," kata Dirjen Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Tjandra Yoga di Makassar, Sabtu (25/4/2009).
Pandemi terjadi jika penularan flu burung sudah terjadi antar manusia secara meluas dan berkelanjutan. Kekhawatiran ini berpotensi terjadi di Indonesia, apalagi beberapa kasus penularan antar manusia di lingkungan keluarga sudah terjadi.
"Virus ini telah menimbulkan kecemasan pada dunia dan kita belum tahu kapan ini akan terjadi," tambahnya.
Simulasi yang menghabiskan anggaran sebesar hampir Rp 4 miliar ini dibantu oleh badan kesehatan PBB WHO dan CDC Atlanta. Pelaksanaan di Makassar merupakan kegiatan lanjutan setelah tahun lalu digelar di Jembrana, Bali.
Acara yang akan digelar selama 2 hari ini akan melibatkan 900 personel. Selain cara penanganan, panitia juga akan melakukan karantina rumah dan wilayah untuk mencegah perluasan virus lebih lanjut.

(mad/anw)

Influenza-Like Illness in the United States and Mexico

24 April 2009 -- The United States Government has reported seven confirmed human cases of Swine Influenza A/H1N1 in the USA (five in California and two in Texas) and nine suspect cases. All seven confirmed cases had mild Influenza-Like Illness (ILI), with only one requiring brief hospitalization. No deaths have been reported.

The Government of Mexico has reported three separate events. In the Federal District of Mexico, surveillance began picking up cases of ILI starting 18 March. The number of cases has risen steadily through April and as of 23 April there are now more than 854 cases of pneumonia from the capital. Of those, 59 have died. In San Luis Potosi, in central Mexico, 24 cases of ILI, with three deaths, have been reported. And from Mexicali, near the border with the United States, four cases of ILI, with no deaths, have been reported.

Of the Mexican cases, 18 have been laboratory confirmed in Canada as Swine Influenza A/H1N1, while 12 of those are genetically identical to the Swine Influenza A/H1N1 viruses from California.

The majority of these cases have occurred in otherwise healthy young adults. Influenza normally affects the very young and the very old, but these age groups have not been heavily affected in Mexico.

Because there are human cases associated with an animal influenza virus, and because of the geographical spread of multiple community outbreaks, plus the somewhat unusual age groups affected, these events are of high concern.

The Swine Influenza A/H1N1 viruses characterized in this outbreak have not been previously detected in pigs or humans. The viruses so far characterized have been sensitive to oseltamivir, but resistant to both amantadine and rimantadine.

The World Health Organization has been in constant contact with the health authorities in the United States, Mexico and Canada in order to better understand the risk which these ILI events pose. WHO (and PAHO) is sending missions of experts to Mexico to work with health authorities there. It is helping its Member States to increase field epidemiology activities, laboratory diagnosis and clinical management. Moreover, WHO's partners in the Global Alert and Response Network have been alerted and are ready to assist as requested by the Member States.

WHO acknowledges the United States and Mexico for their proactive reporting and their collaboration with WHO and will continue to work with Member States to further characterize the outbreak.

Source

Meningococcal disease in Chad

From 29 December 2008 to 5 April, the Ministry of Health of Chad reported 922 suspected cases of meningococcal disease including 105 deaths (case-fatality rate: 11.4%). So far, three districts have crossed the epidemic threshold, including a district in the capital, N'Djamena, while five districts are on alert.

Thirty three specimens of cerebral spinal fluid have been found positive for Neisseria meningitidis serogroup W135 and 30 specimens for Neisseria meningitidis serogroup A, by latex, culture and PCR, suggesting that both serogroups are responsible for the epidemic.

The International Coordinating Group (ICG) on Vaccine Provision for Epidemic Meningitis Control has provided 164,000 doses of trivalent ACW vaccine for a mass vaccination campaign in affected areas of Dourbali, Goundi and Pala district. Additionally, 704 300 doses of trivalent vaccine have been released this week, which will be used for an immunization campaign in the capital, planned to start next week.

WHO, UNICEF, Médecins sans Frontières and the International Federation of Red Cross (IFRC) are working with the Ministry of Health, Chad to implement vaccination campaigns as well as other emergency control measures, including case management and surveillance in neighbouring districts.

Source

Thursday, April 23, 2009

Khitan Cegah Kena HIV

Sydney - Kabar baik bagi pria-pria yang telah dikhitan. Para ahli sepakat khitan terbukti efektif menekan penularan HIV. Jika dilakukan di seluruh dunia, 2 juta infeksi baru HIV bisa dicegah.


"Dua penelitian terakhir malah berhenti lebih awal, karena menunjukkan keefektifan yang tinggi tentang khitan dibanding kelompok kontrol yang menolak dikhitan," jelas peneliti dari Universitas Illinois, Amerika Serikat, Richard Bailey, dalam Konferensi Masyarakat AIDS Internasional di Sydney, Australia.

Kesimpulan tersebut didapat setelah 3 penelitian yang diadakan di Afrika. Semua penelitian membuktikan keefektifan khitan untuk mencegah penularan HIV. Khitan bisa
menurunkan resiko penularan HIV hingga 60 %.

Jika khitan ini dilakukan di seluruh dunia, maka bisa mencegah 2 juta infeksi baru HIV dan 3 ratus ribu kematian di sub-Sahara Afrika selama 10 tahun.

Bailey dalam konferensi itu juga mengajak pemimpin negara berkembang untuk mempromosikan khitan kepada warga laki-lakinya. Namun dia menyadari bahwa itu tidak mudah, karena khitan bukan hanya praktik medis sederhana. Khitan telah identik dengan budaya, agama, dan kepercayaan tertentu.

"Untuk itu tidak mudah bagi menteri kesehatan atau politisi untuk menyebarkan perlunya khitan di negara yang tidak punya tradisi itu," kata Bailey.

Namun jika promosi pentingnya khitan ini tidak dimulai dari sekarang, akan lebih berbahaya untuk jangka panjang, karena semakin banyak yang akan terinfeksi HIV.

"
Waktu yang tepat adalah sekarang,"

Sumber

World Malaria Day , 25 April 2009

Approximately half of the world's population is at risk of malaria, particularly those living in lower-income countries. It infects more than 500 million people per year and kills more than 1 million. The burden of malaria is heaviest in sub-Saharan Africa but the disease also afflicts Asia, Latin America, the Middle East and even parts of Europe.
World Malaria Day - which was instituted by the World Health Assembly at its 60th session in May 2007 - is a day for recognizing the global effort to provide effective control of malaria. It is an opportunity:
for countries in the affected regions to learn from each other's experiences and support each other's efforts;
for new donors to join a global partnership against malaria;
for research and academic institutions to flag their scientific advances to both experts and general public; and
for international partners, companies and foundations to showcase their efforts and reflect on how to scale up what has worked.
The theme of this year's World Malaria Day is "Counting Malaria Out". The Roll Back Malaria Partnership - which includes WHO - is kicking off a campaign to engage partners in a comprehensive effort to count and quantify the progress and impact of the fight against malaria.
Sumber : http://www.who.int/mediacentre/events/annual/malaria/en/index.html

STANDAR PROFESI SANITARIAN

Profesionalisme tenaga sanitarian/kesehatan lingkungan ditunjukkan dengan perilaku tenaga sanitarian/kesehatan lingkungan yang memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan standar pelayanan, mandiri, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, serta senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Dalam era globalisasi, tuntutan mutu pelayanan kesehatan lingkungan tidak dapat dielakkan lagi. Peraturan perundang-undangan sudah mulai diarahkan kepada kesiapan seluruh profesi kesehatan dalam menyongsong era pasar bebas tersebut. Sanitarian/ahli kesehatan lingkungan harus mampu bersaing dengan profesi sanitarian/ahli kesehatan lingkungan dari negara lain. Untuk itu diperlukan adanya standar profesi sanitarian/ahli kesehatan lingkungan sebagai pedoman standarisasi bagi profesi sanitarian/ahli kesehatan lingkungan.

Sanitarian/Ahli Kesehatan Lingkungan adalah tenaga profesional di bidang kesehatan lingkungan yang memberikan perhatian terhadap aspek kesehatan lingkungan air, udara, tanah, makanan dan vector penyakit pada kawasan perumahan, tempat-tempat umum, tempat kerja, industri, transportasi dan matra.


Selengkapnya

Ratusan Ribu Obat dan Makanan Dimusnahkan BPOM Riau



Sky Images

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Provinsi Riau, Kamis, memusnahkan sebanyak 102.319 obat-obatan dan makanan yang mengandung zat kimia berbahaya yang terdiri dari 500 jenis. Kepala BBPOM Provinsi Riau, Erna Tara, mengatakan seratusan ribu obat berbahaya tersebut merupakan hasil operasi razia selama tiga bulan terakhir."Obat dan makanan berbahaya tanpa izin edar itu dikumpulkan dari berbagai pasar dan supermarket di Riau," katanya.Ia merinci, sejumlah produk tanpa izin dan mengandung zat kimia berbahaya itu di antaranya obat keras daftar G di toko yang tidak berwenang sebanyak 17 ribu kotak, obat kosmetik tanpa izin edar sebanyak 12 ribu kotak, dan puluhan ribu kotak pangan yang dipastikan mengandung melamin."Obat dan makanan berbahaya itu dijual bebas di sejumlah pasar dan supermarket di Kota Pekanbaru, dan kabupaten/kota lainnya di Riau," katanya.Ia menyatakan, sebagian obat dan makanan sitaan yang dimusnahkan itu diketahui merupakan barang impor dari sejumlah negara asing seperti China dan Malaysia. "Obat dan makanan tersebut tidak memiliki izin edar di Indonesia dan disinyalir kuat mengandung zat kimia berbahaya," katanya.Untuk pemusnahan seluruh obat dan makanan sitaan itu dilakukan dengan cara membakar di tempat pembuangan akhir (TPA) di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru.
dan.makanan.dimusnahkan.bpom.riau

Wednesday, April 22, 2009

Bocah Penderita HIV AIDS Jalani Perawatan di RSU Pirngadi Medan

Khairul Ikhwan - detikNews

Medan - Seorang bocah berusia lima tahun, diketahui menderita AIDS. Korban yang tertular dari kedua orangtuanya, hingga Rabu (22/4/2009) dirawat di Rumah Sakit Umum Pirngadi, Jl. HM Yamin, Medan.Bocah tersebut, sebut saja namanya Ucok, kini dirawat secara intensif di RSU Pirngadi. Tubuhnya terlihat kurus dan kondisinya lemas. Ucok dirujuk ke rumah sakit tersebut sejak empat hari lalu, Jumat (17/4/2009), diantar EL Hutauruk, salah seorang keluarga.
Abang kandung sang bocah, Aples Decuari (10) mengatakan, karena penyakit yang diderita adiknya, dia dan keluarga sempat diusir dari kampungnya di Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara (Sumut). Akibatnya dia terpaksa putus sekolah."Biarlah aku putus sekolah untuk bisa jaga adikku di rumah sakit. Di kampung pun, kami sudah diusir orang," kata Aples di rumah sakit.Humas RSU Pirngadi Medan Susyanto menjelaskan, Ucok terjangkit virus HIV AIDS sejak masih dalam kandungan. Penyakit tersebut ditularkan ibunya yang telah meninggal dunia akibat terserang penyakit yang sama."Dari pemeriksaan, pasien tertular sejak dalam kandungan ibunya. Namun baru diketahui setelah pasien berusia lima tahun," kata Susyanto.Dikatakan Susyanto, RSU. Pirngadi Medan akan merawat Bukit Bahagia dan tidak merujuk ke rumah sakit lain."Sejauh ini yang bisa kita lakukan sebatas memberi asupan gizi. Kita berharap dengan gizi baik, imunitas tubuhnya membaik karena virus HIV AIDS menyerang kekebalan tubuh penderitanya," terang Susyanto(rul/djo)

Avian influenza - situation in Egypt - update 12

21 April 2009 -- The Ministry of Health of Egypt has reported two new confirmed human cases of avian influenza.

The first case is a 25-year old pregnant female from El Marg District, Cairo Governorate. Her symptoms began on 6 April and she was hospitalized at Ain Shams University hospital on 11 April where she was started on oseltamivir on 16 April. She is in a critical condition. Investigations into the source of her infection indicated close contact with sick poultry prior to becoming ill.

The second case is 18-month old female from Kellin District, Kafr Elsheikh Governorate. Her symptoms began on 15 April and she was hospitalized at Kafr Elsheikh Fever Hospital on 18 April where she was started on oseltamivir on the same day of hospitalization. Her condition is stable. Investigations into the source of infection indicated close contact with dead and sick poultry prior to becoming ill.

For both cases, infection with H5N1 avian influenza was confirmed by the Egyptian Central Public Health Laboratory and subsequently confirmed by the U.S. Naval Medical Research Unit No. 3 (NAMRU-3).

Of the 66 cases confirmed to date in Egypt, 23 have been fatal.

Source : http://www.who.int/csr/don/2009_04_21/en/index.html

“FLU SINGAPURA” Bukan Penyakit Berbahaya, dan Dapat Dicegah

Di dunia kedokteran tidak ada istilah "Flu Singapura" , ini adalah Penyakit Tangan Kaki dan Mulut (PTKM) atau Hand Foot Mouth Disease (HFMD) yang disebabkan oleh virus.

Penyakit ini sering ditemui pada anak dan bayi, bukan merupakan penyakit baru. Masa inkubasinya 3-7 hari. PTKM menular melalui kontak langsung cairan hidung dan tenggorok, saliva, cairan dari blister atau tinja pasien. Masa penularan terbesar adalah pada minggu pertama sakit.
Pada dasarnya penyakit ini bukan merupakan penyakit yang berat, pengobatan hanya simtomatik dan mengkonsumsi makanan yang cukup protein dan kalori. Dapat sembuh dalam 7-10 hari. Hal itu dikemukakan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P, MARS, menanggapi maraknya pemberitaan penyakit ini di media massa. Masyarakat dihimbau untuk bersikap waspada. Tidak ada pencegahan khusus untuk PTKM, risiko tertular dapat diturunkan dengan menjalankan Pola Hidup Bersih dan Sehat, ujar Prof. dr. Tjandra Yoga. Masyarakat dapat melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan dengan meningkatkan kebersihan perorangan, seperti cuci tangan dengan sabun, menutup mulut dan hidung bila batuk dan bersin. Selain itu, tidak menggunakan secara bersama-sama alat-alat rumah tangga seperti cangkir, sendok, garpu. dan alat kebersihan pribadi yaitu handuk, lap muka, sikat gigi dan pakaian, terutama sepatu dan kaus kaki. Prof. Tjandra menambahkan, penyakit PTKM memiliki tanda-tanda seperti demam, kemerahan dan pelepuhan di telapak kaki, tangan dan kulit bagian dalam rongga mulut, tidak nafsu makan, lesu dan nyeri tenggorok. Satu-dua hari setelah demam, timbul keluhan nyeri di mulut dimulai dari melepuh sampai kemudian dapat menjadi berlendir. Keadaan tersebut dapat terjadi di lidah, gusi dan bagian dalam mulut lain. Bila ditemukan tanda-tanda yang membahayakan penderita, seperti gejala neurologi, muntah berulang, sesak nafas, dan halusinasi, pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit terdekat. Secara umum, kalau anak demam selama 2-3 hari juga sebaiknya dikonsultasikan ke petugas kesehatan terdekat, kata Prof. Tjandra Yoga Penyebab PTKM umumnya adalah enterovirus (EV), termasuk oxsackievirus A16, EV 71 dan echovirus. Namun sangat jarang PTKM disebabkan oleh EV 71. Adapun PTKM yang diakibatkan oleh EV71 juga dapat menyebabkan meningitis dan bahkan encephalitis, seperti yang terjadi di Malaysia pada tahun 1997, Taiwan di tahun 1998 dan China tahun 2008.
Sumber

Friday, April 17, 2009

FLU SINGAPURA - HFMD - KTM

"Flu Singapura" sebenarnya adalah penyakit yang didunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM )

Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil ), Genus Enterovirus ( non Polio ). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus.

Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. Berbagai enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit.

EPIDEMIOLOGI:

Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum/?biasa? pada kelompok masyarakat yang ?crowded? dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ).

Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur (oro-oro), tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (?carrier?) seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Masa Inkubasi 2 ? 5 hari.

GAMBARAN KLINIK :

Mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (pharingitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti ?flu? pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus di mulut seperti sariawan ( lidah, gusi, pipi sebelah dalam ) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan.

Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki.

Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini membaik sendiri dalam 7-10 hari.

Bila ada muntah, diare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat. Pada bayi/anak-anak muda yang timbul gejala berat , harus dirujuk kerumah sakit sebagai berikut :

o Hiperpireksia ( suhu lebih dari 39 der. C).

o Demam tidak turun-turun (?Prolonged Fever?)

o Tachicardia.

o Tachypneu

o Malas makan, muntah atau diare dengan dehidrasi.

o Lethargi

o Nyeri pada leher,lengan dan kaki.

o Serta kejang-kejang.

Komplikasi penyakit ini adalah :

o Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)

o Encephalitis ( bulbar )

o Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis

o Paralisis akut flaksid (?Polio-like illness? )

Satu kelompok dengan penyakit ini adalah :

1. Vesicular stomatitis dengan exanthem (KTM) - Cox A 16, EV 71 (Penyakit ini)

2. Vesicular Pharyngitis (Herpangina) - EV 70

3. Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10

LABORATORIUM :

Sampel ( Spesimen ) dapat diambil dari tinja, usap rektal, cairan serebrospinal dan usap/swab ulcus di mulut/tenggorokan, vesikel di kulit spesimen atau biopsi otak.

Spesimen dibawa dengan ?Hank?s Virus Transport?. Isolasi virus dencara biakan sel dengan suckling mouse inoculation.

Setelah dilakukan ?Tissue Culture?, kemudian dapat diidentifikasi strainnya dengan antisera tertentu / IPA, CT, PCR dll. Dapat dilakukan pemeriksaan antibodi untuk melihat peningkatan titer.

Diagnosa Laboratorium adalah sebagai berikut :

1. Deteksi Virus :

o Immuno histochemistry (in situ)

o Imunofluoresensi antibodi (indirek)

o Isolasi dan identifikasi virus.

Pada sel Vero ; RD ; L20B

Uji netralisasi terhadap intersekting pools

Antisera (SCHMIDT pools) atau EV-71 (Nagoya) antiserum.

2. Deteksi RNA :

RT-PCR

Primer : 5? CTACTTTGGGTGTCCGTGTT 3?

5? GGGAACTTCGATTACCATCC 3?

Partial DNA sekuensing (PCR Product)

3. Serodiagnosis :

Serokonversi paired sera dengan uji serum netralisasi terhadap virus EV-71 (BrCr, Nagoya) pada sel Vero.

Uji ELISA sedang dikembangkan.

Sebenarnya secara klinis sudah cukup untuk mendiagnosis KTM, hanya kita dapat mengatahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.

TATALAKSANA :

o Istirahat yang cukup

o Pengobatan spesifik tidak ada.

o Dapat diberikan :

Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus

Extracorporeal membrane oxygenation.

Pengobatan simptomatik :

Antiseptik didaerah mulut

Analgesik misal parasetamol

Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam

Pengobatan suportif lainnya ( gizi dll )

Penyakit ini adalah ?self limiting diseases? ( berobat jalan ) yang sembuh dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut diatas.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT:

Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit adalah dengan menghilangkan ?Overcrowding?, kebersihan (Higiene dan Sanitasi). Lingkungan dan perorangan misal cuci tangan, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi.

Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan.

Di Rumah sakit ? Universal Precaution? harus dilaksanakan.

Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (Imunisasi)

UPAYA PEMERINTAH DALAM HAL INI :

Meningkatkan survailans epidemiologi (perlu definisi klinik)

Memberikan penyuluhan tentang cara-cara penularan dan pencegahan KTM untuk memotong rantai penularan.

Memberikan penyuluhan tentang tamda-tanda dan gejala KTM

Menjaga kebersihan perorangan.

Bila anak tidak dirawat, harus istirahat di rumah karena :

o Daya tahan tubuh menurun.

o Tidak menularkan kebalita lainnya.

Menyiapkan sarana kesehatan tentang tatalaksana KTM termasuk pelaksanaan 'Universal Precaution' nya.


Hand-Foot-Mouth Disease (HFMD)


Etiologi : Coxsackievirus A 16

Cara Penularan : Droplets

Masa Inkubasi : 4 ? 6 Hari


Manifestasi Klinis :

Masa prodromal ditandai dengan panas subfebris, anoreksia, malaise dan nyeri tenggorokan yang timbul 1 ? 2 hari sebelum timbul enantem. Enantem adalah manifestasi yang paling sering pada HFMD. Lesi dimulai dengan vesikel yang cepat menjadi ulkus dengan dasar eritem, ukuran 4-8 mm yang kemudian menjadi krusta, terdapat pada mukosa bukal dan lidah serta dapat menyebar sampai palatum uvula dan pilar anterior tonsil. Eksantema tampak sebagai vesiko pustul berwarna putih keabu-abuan, berukuran 3-7 mm terdapat pada lengan dan kaki, pada permukaan dorsal atau lateral, pada anak sering juga terdapat di bokong. Lesi dapat berulang beberapa minggu setelah infeksi, jarang menjadibula dan biasanya asimptomatik, dapat terjadi rasa gatal atau nyeri pada lesi. Lesi menghilang tanpa bekas.

Diagnosis :

Manifestasi klinis dan isolasi virus dengan preparat Tzank.

Diagnosis Banding : Varisela, herpes

Terapi : Simptomatis

"Flu Singapura" sebenarnya adalah penyakit yang didunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM )

Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil ), Genus Enterovirus ( non Polio ). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus.

Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. Berbagai enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit.

EPIDEMIOLOGI:

Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum/?biasa? pada kelompok masyarakat yang ?crowded? dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ). Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur (oro-oro), tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (?carrier?) seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Masa Inkubasi 2 ? 5 hari.

GAMBARAN KLINIK :

Mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (pharingitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti ?flu? pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus dumulut seperti sariawan ( lidah, gusi, pipi sebelah dalam ) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan.

Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki.

Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini membaik sendiri dalam 7-10 hari.

Bila ada muntah, diare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat. Pada bayi/anak-anak muda yang timbul gejala berat , harus dirujuk kerumah sakit sebagai berikut :

o Hiperpireksia ( suhu lebih dari 39 der. C).

o Demam tidak turun-turun (?Prolonged Fever?)

o Tachicardia.

o Tachypneu

o Malas makan, muntah atau diare dengan dehidrasi.

o Lethargi

o Nyeri pada leher,lengan dan kaki.

o Serta kejang-kejang.

Komplikasi penyakit ini adalah :

o Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)

o Encephalitis ( bulbar )

o Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis

o Paralisis akut flaksid (?Polio-like illness? )

Satu kelompok dengan penyakit ini adalah :

1. Vesicular stomatitis dengan exanthem (KTM) - Cox A 16, EV 71 (Penyakit ini)

2. Vesicular Pharyngitis (Herpangina) - EV 70

3. Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10

LABORATORIUM :

Sampel ( Spesimen ) dapat diambil dari tinja, usap rektal, cairan serebrospinal dan usap/swab ulcus di mulut/tenggorokan, vesikel di kulit spesimen atau biopsi otak.

Spesimen dibawa dengan ?Hank?s Virus Transport?. Isolasi virus dencara biakan sel dengan suckling mouse inoculation.

Setelah dilakukan ?Tissue Culture?, kemudian dapat diidentifikasi strainnya dengan antisera tertentu / IPA, CT, PCR dll. Dapat dilakukan pemeriksaan antibodi untuk melihat peningkatan titer.

Diagnosa Laboratorium adalah sebagai berikut :

1. Deteksi Virus :

o Immuno histochemistry (in situ)

o Imunofluoresensi antibodi (indirek)

o Isolasi dan identifikasi virus.

Pada sel Vero ; RD ; L20B

Uji netralisasi terhadap intersekting pools

Antisera (SCHMIDT pools) atau EV-71 (Nagoya) antiserum.

2. Deteksi RNA :

RT-PCR

Primer : 5? CTACTTTGGGTGTCCGTGTT 3?

5? GGGAACTTCGATTACCATCC 3?

Partial DNA sekuensing (PCR Product)

3. Serodiagnosis :

Serokonversi paired sera dengan uji serum netralisasi terhadap virus EV-71 (BrCr, Nagoya) pada sel Vero.

Uji ELISA sedang dikembangkan.

Sebenarnya secara klinis sudah cukup untuk mendiagnosis KTM, hanya kita dapat mengatahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.

TATALAKSANA :

o Istirahat yang cukup

o Pengobatan spesifik tidak ada.

o Dapat diberikan :

Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus

Extracorporeal membrane oxygenation.

Pengobatan simptomatik :

Antiseptik didaerah mulut Analgesik misal parasetamol Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam Pengobatan suportif lainnya ( gizi dll )

Penyakit ini adalah ?self limiting diseases? ( berobat jalan ) yang sembuh dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut diatas.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT:

Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit adalah dengan menghilangkan ?Overcrowding?, kebersihan (Higiene dan Sanitasi). Lingkungan dan perorangan misal cuci tangan, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi.

Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan.

Di Rumah sakit ? Universal Precaution? harus dilaksanakan.

Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (Imunisasi)

UPAYA PEMERINTAH DALAM HAL INI :

Meningkatkan survailans epidemiologi (perlu definisi klinik)

Memberikan penyuluhan tentang cara-cara penularan dan pencegahan KTM untuk memotong rantai penularan.

Memberikan penyuluhan tentang tamda-tanda dan gejala KTM

Menjaga kebersihan perorangan.

Bila anak tidak dirawat, harus istirahat di rumah karena :

o Daya tahan tubuh menurun.

o Tidak menularkan kebalita lainnya.

Menyiapkan sarana kesehatan tentang tatalaksana KTM termasuk pelaksanaan ?Universal Precaution?nya.

Hand-Foot-Mouth Disease (HFMD)

Etiologi : Coxsackievirus A 16

Cara Penularan : Droplets

Masa Inkubasi : 4 ? 6 Hari

Manifestasi Klinis :

Masa prodromal ditandai dengan panas subfebris, anoreksia, malaise dan nyeri tenggorokan yang timbul 1 ? 2 hari sebelum timbul enantem. Enantem adalah manifestasi yang paling sering pada HFMD. Lesi dimulai dengan vesikel yang cepat menjadi ulkus dengan dasar eritem, ukuran 4-8 mm yang kemudian menjadi krusta, terdapat pada mukosa bukal dan lidah serta dapat menyebar sampai palatum uvula dan pilar anterior tonsil. Eksantema tampak sebagai vesiko pustul berwarna putih keabu-abuan, berukuran 3-7 mm terdapat pada lengan dan kaki, pada permukaan dorsal atau lateral, pada anak sering juga terdapat di bokong. Lesi dapat berulang beberapa minggu setelah infeksi, jarang menjadibula dan biasanya asimptomatik, dapat terjadi rasa gatal atau nyeri pada lesi. Lesi menghilang tanpa bekas.

Diagnosis :

Manifestasi klinis dan isolasi virus dengan preparat Tzank.

Diagnosis Banding : Varisela, herpes

Terapi : Simptomatis

Sumber Foto : Dr Widodo Judarwanto SpA

Sumber : http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=44

Thursday, April 16, 2009

New hope for anti-bird-flu drug

SCIENTISTS in Hong Kong and the United States have identified a synthetic compound that appears to be able to stop the replication of influenza viruses, including the deadly H5N1 bird flu virus.

The search for such new "inhibitors" has grown more urgent in recent years as drugs like oseltamivir have become largely ineffective against certain flu strains, including the H1N1 seasonal flu virus. Experts now question how well and how long the drug would stand up against the H5N1 strain should it unleash a pandemic.

Researchers in Hong Kong and the US screened some 230,000 compounds that were catalogued with the US National Cancer Institute and found 20 that could potentially restrict the proliferation of the H5N1 virus.

The experts told a news conference yesterday that one of the compounds, called compound 1, showed promise.

"We have found a compound that is different from oseltamivir but which acts in the same way," said Leo Poon, a microbiologist at the University of Hong Kong.

"An analogy would be like we have a door with a keyhole, but the hole has changed, and the key, in this case oseltamivir, can't lock the door anymore. But we have discovered another keyhole and another key which can lock the door."

Their finding was published in the latest issue of the Journal of Medicinal Chemistry.

In their experiment, the researchers infected separate batches of cultured human cells with seasonal flu virus and H5N1 and found that compound 1 prevented the replication of both types of viruses effectively.

Many advanced countries stock up on oseltamivir and zanamivir, two varieties of the same class of drugs that stops the H5N1 virus from multiplying.

But the US Centers for Disease Control and Prevention found that 98 percent of all flu samples from the H1N1 strain were resistant to oseltamivir, which is manufactured by Roche AG and marketed under the brand Tamiflu.

Source : http://birdflubreakingnews.com/templates/birdflu/window.php?url=http%3A%2F%2Fnews.google.com%2Fnews%2Furl%3Fsa%3DT%26ct%3Dus%2F0-0%26fd%3DR%26url%3Dhttp%253A%2F%2Fwww.shanghaidaily.com%2Fsp%2Farticle%2F2009%2F200904%2F20090416%2Farticle_397863.htm%26cid%3D1334165853%26ei%3DGmXmSfncPIqegwOMhaGQBw%26usg%3DAFQjCNFMGRyblsg6LTD5dF7vfcqgCMzTWA

Wednesday, April 15, 2009

Tularkan HIV pada Mantan Pacar, Bintang Pop Jerman Ditangkap


Benaissa (kiri) (Reuters)


Jakarta - Seorang bintang pop Jerman ditangkap polisi. Penyanyi terkenal Jerman itu dituduh menularkan virus HIV pada mantan kekasihnya.

Kepolisian Jerman menangkap Nadja Benaissa tepat sebelum dia tampil dalam sebuah konser di Frankfurt. Album-album wanita berusia 26 tahun itu telah terjual lebih dari lima juta copy.

Benaissa yang telah memiliki seorang anak itu, ditangkap setelah satu dari tiga pria yang pernah berhubungan seks dengannya pada 2004 dan 2006, dinyatakan positif HIV. Jika terbukti bersalah, Benaissa bisa diancam hukuman penjara maksimum 10 tahun.

Kepolisian menduga, pria tersebut terjangkit HIV sebagai akibat keterlibatan seksualnya dengan Benaissa. Harian Inggris, Daily Telegraph, Rabu (15/4/2009) memberitakan, penyanyi itu tidak mengatakan pada pria-pria yang telah berhubungan seks dengannya bahwa dia positif HIV. Hubungan seks itu juga terjadi tanpa menggunakan kondom.

Benaissa ditangkap pada Sabtu, 11 April lalu. Hakim memutuskan untuk terus menahannya di penjara sembari menunggu proses pengadilan. Sebab ada kemungkinan dia mengulangi lagi perbuatannya.

Benaissa mulai dikenal publik setelah mengikuti acara Popstars, ajang menjadi bintang di Jerman. Diyakini publik sebelum ini tidak mengetahui kalau dia mengidap HIV.

Menurur media Jerman, Deutsche Welle, Benaissa memiliki seorang anak perempuan yang lahir pada tahun 1999. Tidak jelas siapa ayah sang anak. (ita/iy) Rita Uli Hutapea - detikNews

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/04/15/105003/1115672/10/tularkan-hiv-pada-mantan-pacar,-bintang-pop-jerman-ditangkap

Wednesday, April 1, 2009

Ebola Reston in pigs and humans in the Philippines - update

31 March 2009 -- On 16 February 2009, the Government of Philippines announced that a slaughterhouse worker who has daily contact with pigs tested positive for antibodies against the Ebola Reston virus.

This brings to six, out of a total of 141 people, who have tested positive for Ebola Reston antibodies in the Philippines since testing began in December 2008. All six people who were antibody positive reported occupational exposure to pigs.

The Philippine Department of Health has said that all six people who tested positive appear to be in good health. Pig-to-human transmission is believed to be the most likely source of infection.

To date, since the first human to develop antibodies against Ebola Reston was reported in 1989, no significant human illness has been reported in association with Ebola Reston infection. However only a very small number of humans with Ebola Reston antibodies have ever been detected, and all were healthy adult males. The threat to human health is likely to be low for healthy adults but is unknown for all other population groups, such as immuno-compromised persons, persons with underlying medical conditions, pregnant women and children. More studies are needed to better understand the public health implications of Ebola Reston in humans and efforts should be made to reduce the risk of human infection.

Ebola Reston virus species belongs to the Ebola genus in the Filovirus family, a genus that comprises other Ebola species that are known to be highly pathogenic for humans. All members of the Filovirus family are only handled in laboratories with the highest level of biosecurity.

Recent cases in the Philippines mark the first time that Ebola Reston has been found in pigs, and the first time that suspected transmission from pigs to humans has occurred.

Source : http://www.who.int/csr/don/2009_03_31/en/index.html

Monday, March 30, 2009

TURUT BERDUKA CITA

Keluarga Besar KKP Kelas I Medan turut berduka cita atas meninggal Bapak Muhammad Supari (Suami Ibu Menteri Kesehatan RI, Ibu Dr. dr. Hj. Siti Fadillah Supari, Sp.JP(K), pada tgl 28 Maret 2009 (Tutup Usia 66 Tahun). Semoga amal ibadah Beliau diterima disisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan, Amin.

Sunday, March 29, 2009

Meningococcal Disease: situation in the African Meningitis Belt

During the first 11 weeks of 2009 (January 1- March 15), a total of 24 868 suspected cases, including 1 513 deaths (1), have been reported to WHO by countries of the meningitis belt. More than 85% of the cases have occurred in one epidemic foci, encompassing Northern Nigeria and Niger (see below) and are characterized by the predominance of Neisseria meningitidis (Nm) serogroup A.

Niger

The Ministry of Health of Niger has reported 4 513 suspected cases of meningococcal disease including 169 deaths (case-fatality rate of 3.7%) from January 1 to March 15 2009. So far 20 of Niger's 42 districts have crossed the alert or the epidemic threshold. In the last week alone, 1 071 suspected cases including 30 deaths (case-fatality rate of 2.8%) have been reported, with 10 districts crossing the epidemic threshold, and 10 the alert threshold.

Cerebrospinal fluid specimens tested by PCR and/or culture positive have confirmed the large predominance of Neisseria meningitidis serogroup A.

Nigeria

The Ministry of Health of Nigeria has reported 17 462 suspected cases of meningococcal disease, including 960 deaths, (case-fatality-rate of 5.5% from January 1 to March 15). In the last week alone, 4 164 suspected cases with 171 deaths were reported, with 66 Local Government Area's (LGAs) having crossed the epidemic threshold while 30 had crossed the alert threshold. Cases originate from 16 Northern states, with states of the North East (Bauchi, Gombe and Yobe) being the most affected in the final week of the period. As in the preceding weeks, Katsina and Jigawa states are seriously affected as well.

Cerebrospinal fluid specimens have tested positive for Neisseria meningitidis serogroup A by latex test and/or culture. Mass vaccination has been implemented by the Federal Ministry of the Health, with the support of Médecins sans Frontières, UNICEF and WHO. Although vaccination strategy across the states varies, WHO has made recommendations to standardize vaccine strategy and the rational use of vaccine.

WHO support

WHO is supporting the Nigerian Federal and National Ministry of Health to strengthen disease surveillance, laboratory diagnosis, case management and in defining adapted vaccination strategies. Technical experts from WHO have been supporting the Federal Ministry of Health in Nigeria since mid February 2009.

The International Coordinating Group on Vaccine Provision for Epidemic Meningitis Control (ICG) have released 2.3 million doses of polysaccharide vaccines to Nigeria and 1.9 million doses of vaccine to Niger. (ICG partners include WHO, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, United Nations Children Fund, Médecins sans Frontières). The stockpile of the ICG for this epidemic season was set at 12.97 million doses. The emergency stockpile has been established with the support of Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI) and EU Humanitarian Aid Office (ECHO). (1) Data for week 11 for Burkina Faso, Niger and Nigeria only. However other countries are reporting less than 50 cases a week so far.

(1) Data for week 11 for Burkina Faso, Niger and Nigeria only. However other countries are reporting less than 50 cases a week so far.

Source : http://www.who.int/csr/don/2009_03_25/en/index.html

Tuesday, March 24, 2009

Cholera in Zimbabwe

23 March 2009 -- In Zimbabwe, the situation with the current cholera outbreak is improving. In the week ending 14 March 2009, 2 076 cases were reported. While this number is still high, it compares to 3 812 cases in the immediately-preceding week and over 8000 cases per week at the beginning of February. The weekly Case Fatality Rate has also decreased from its peak of near 6% in January and, while still too high, stood at 2.3% for the week ending 14 March. While data collection and verification remain a challenge throughout the country with the effect that weekly statistics are not always accurate or complete, the overall trend over the last 2 months is of a decreasing number of cases and deaths.

Moreover, the Case Fatality Rate in Cholera Treatment facilities has decreased to 0.8% in the week of 1-7 March, the last week for which accurate statistics of this measure exist. This is below the acceptable level of 1%. The percentage of deaths occurring in the community, outside of Cholera Treatment facilities, remains high but has declined to 33% from 62%.

As of 17 March, 91 164 cases with 4 037 deaths had been reported since the beginning of the current outbreak in August 2008.

Cases have decreased in all provinces. On the other hand, cases reported are increasing again in and around the capital, Harare. The risk of the outbreak restarting in those areas of the country is real. The need to remain vigilant and to continue and reinforce the control measures already in place is paramount.

The World Health Organization and its Global Outbreak Alert and Response Network (GOARN) partners have a sizeable team working out of the national Cholera Command and Control Centre ("C4") in Harare. The objective of the cholera control measures in the coming days is to extend the operations of the C4 to Regional and District level. GOARN partners working with the Ministry of Health of the Government of Zimbabwe and WHO include the International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh; Burnet Institute in Australia; the London School of Hygiene and Tropical Medicine and Health Protection Agency in the UK; US Centers for Disease Control and Prevention; and the National Board of Health and Welfare, Sweden. Nongovernmental organizations such as Médecins sans Frontières, the Red Cross and others have been key in treating patients across the country at a time when many health facilities were not fully functional.

Sorce : http://www.who.int/csr/don/2009_03_23/en/index.html

Monday, March 23, 2009

Menkes : Imunisasi Hanya 4

Oleh : Aprizal Rahmatullah - detikNews


 

Jakarta - Banyaknya jenis vaksinasi bagi balita (bayi lima tahun) membuat masyarakat bingung. Untuk mengatasi hal ini, Departemen Kesehatan telah menentukan hanya ada empat imunisasi dasar yang wajib dilakukan.


 

"Yaitu BCG, Polio, DPT, dan Campak," kata Menteri Kesehatan Fadillah Supari usai acara Revitalisasi Program Bantuan Alat Kesehatan Balloon dan Stent Bagi Masyarakat, di RS Harapan Kita, Jl S. Parman, Slipi, Jakarta Barat, Senin (23/3/2009).


 

Siti menjelaskan, keempat vaksinasi tersebut sudah teruji dari segi ilmu pengetahuan sehingga dibutuhkan bagi setiap manusia. Sedangkan vaksin jenis lainnya belum bisa dikategorikan suatu kebutuhan/keharusan.


 

"Kalau yang lain belum ada eviden casenya. Jadi tergantung apakah perlu diberikan, harus diteliti dulu," terangnya.


 

Siti berjanji akan meninjau lebih lanjut mengenai jenis-jenis Imunisasi yang dibutuhkan. Menurut informasi yang dihimpun detikcom, terdapat belasan jenis vaksin yang beredar dilapangan. Selain keempat vaksin yang disebut pemerintah ada juga vaksin hepatitis B, pnemonia, vaksin infeksi telinga. (ape/aan)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/03/23/142703/1103757/10/menkes-:-imunisasi-hanya-4

Waspada Flu Burung

Flu Burung

A. PENGERTIAN

Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit ini antara lain avian influenza.

B. DEFINISI KASUS

1. Kasus Suspek

Kasus suspek adalah seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (temp > 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau ber-ingus serta dengan salah satu keadaan;

  • seminggu terakhir mengunjungi petemakan yang sedang berjangkit klb flu burung
  • kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan
  • bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung

2. Kasus "Probable"

Kasus "probable" adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan;

  • bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1), misal : Test HI yang menggunakan antigen H5N1
  • dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonialgagal pernafasan/ meninggal
  • terbukti tidak terdapat penyebab lain

3. Kasus Konfirmasi

Kasus konfirmasi adalah kasus suspek atau "probable" didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium;

  • Kultur virus influenza H5N1 positip
  • PCR influenza (H5) positip
  • Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali
C. GEJALA KLINIS

Gejala klinis yang ditemui seperti gejala flu pada umumnya, yaitu; demam, sakit tenggorokan. batuk, ber-ingus, nyeri otot, sakit kepala, lemas. Dalam waktu singkat penyakit ini dapat menjadi lebih berat berupa peradangan di paru-paru (pneumonia), dan apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik dapat menyebabkan kematian.

D. ETIOLOGI DAN SIFAT

Etiologi penyakit ini adalah virus influenza. Adapun sifat virus ini, yaitu; dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C.

Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit.

Dikenal beberapa tipe Virus influenza, yaitu; tipe A, tipe B dan tipe C. Virus Inluenza tipe A terdiri dari beberapa strain, yaitu; H1N 1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2 dan lain-lain.

Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Viru, strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hal ini terlihat dari basil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus Influenza A (H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu Burung tidak menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia.

E. MASA INKUBASI

Masa inkubasi virus influenza bervariasi antara 1 – 7 hari.

F. SUMBER DAN CARA PENULARAN

Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi diantara populasi unggas satu pertenakan, bahkan dapat menyebar dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Sedangkan penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang Flu Burung. Adapun orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas.

Hal lain, belum ada bukti terjadi penularan dari manusia ke manusia. Disamping itu, belum bukti adanya penularan pada manusia melalui daging unggas yang dikonsumsi.

G. UPAYA PENCEGAHAN

Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan tindakan sebagai berikut :

  • Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata renang)
  • Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus ditatalaksana dengan baik ( ditanam / dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya.
  • Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan
  • Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan
  • Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu 80°C selama 1 menit, sedangkan telur unggas perlu dipanaskan pada suhu 64°C selama 5 menit.
  • Melaksanakan kebersihan lingkungan.
  • Melakukan kebersihan diri.

Sumber : http://www.pppl.depkes.go.id/Wc8858268df7e2.htm

Saturday, March 21, 2009

Flu Burung Berjangkit Kembali

Sabtu, 21 Maret 2009 | 04:07 WIB

Pekanbaru, Kompas - Setelah sempat mereda pada tahun 2008, kasus flu burung kembali muncul di Provinsi Riau. Kali ini di Desa Dundangan, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Riau, ditemukan sampel ayam yang dinyatakan positif tertular virus flu burung.

"Berdasarkan laporan masyarakat, ada ayam yang mati mendadak bersamaan sebanyak 21 ekor pada tanggal 17 Maret kemarin. Petugas kami langsung ke lapangan dan mengambil sampel dua ekor ayam yang mati. Berdasarkan analisis di laboratorium Pekanbaru, ayam yang mati itu positif tertular virus flu burung," ujar HM Zubir Umar, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan, yang dihubungi hari Jumat (20/3).

Zubir mengatakan, sejak penemuan kasus itu, pihaknya lewat tim Participation Disease Surveilance Respon (tim reaksi cepat untuk merespons laporan masyarakat) yang dipimpin oleh drh Mukhlis langsung memberitahukan masyarakat setempat untuk mengambil tindakan terhadap ayam-ayam di daerah itu. Mulai hari Jumat ini masyarakat sudah bersedia untuk memusnahkan unggas peliharaannya sendiri.

"Di Desa Dundangan, ayam masyarakat tidak dipelihara di kandang. Ayam-ayam bebas berkeliaran di mana saja. Kalau hari telah gelap, ayam-ayam itu tidur di pohon-pohon. Kami agak kesulitan melakukan pemusnahan sendiri tanpa bantuan masyarakat. Kami meminta agar unggas yang berada dalam radius 100 meter dari temuan ayam mati kemarin dapat dimusnahkan. Untungnya masyarakat setempat sadar dengan bahaya penyakit flu burung yang dapat menyebabkan kematian pada manusia," ujar Zubir.

Penemuan virus flu burung di Pelalawan pada kuartal pertama tahun 2009 ini, menurut Zubir, adalah yang pertama. Pada tahun 2008, Pelalawan relatif bersih dari flu burung.

Pada 2007 kasus flu burung ditemukan di Kecamatan Bandar Seikijang dan Pangkalan Kuras. Ketika itu sempat ditemukan demam pada seseorang yang diduga tertular virus flu burung, tetapi ketika dites di rumah sakit hasilnya negatif. (SAH)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/21/04072647/flu.burung.berjangkit.kembali.

Tuesday, March 17, 2009

Petunjuk Teknis Tata Naskah Dinas dan Tata Kearsipan Dinamis Dirjen PP & PL Depkes RI

Bahwa untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pokok Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dalam bidang pengelolaan naskah dinas dan kearsipan diperlukan suatu acuan yang dapat dipergunakan oleh seluruh aparatur di Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Berikut ini adalah Petunjuk Teknis Tata Naskah Dinas dan Tata Kearsipan Dinamis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan.

Download Tata Naskah Dinas

Monday, March 16, 2009

Migrasi Unggas Liar Picu Penyebaran H5N1

Flu Burung Juga Ditemukan di Jerman


 

Jakarta, Kompas - Senin, 16 Maret 2009 | 04:01 WIB

Penularan flu burung pada unggas liar di sejumlah negara di dunia terus merebak. Penyebaran virus itu diduga melalui perpindahan tempat atau migrasi burung-burung liar lintas negara. Untuk itu, surveilans aktif mengenai pola migrasi unggas liar perlu digalakkan.

Pemerintah Jerman baru-baru ini menginformasikan kepada Komisi Uni Eropa (UE) mengenai terjadinya outbreak virus flu burung (H5N1). Ini merupakan kasus pertama penularan flu burung pada unggas di UE tahun ini. Outbreak ini ditemukan pada bebek liar yang berada dekat daerah Starnberg di negara bagian Bavaria, Jerman.

"Kasus penularan flu burung pada unggas liar telah beberapa kali terjadi di Eropa," kata Ketua Panel Ahli Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Prof Amien Soebandrio, Sabtu (14/3) di Jakarta. Migrasi burung liar dari kutub utara ke Eropa diduga memicu penyebaran virus itu ke sejumlah negara di Eropa.

Penanganan baik

Temuan tersebut disebabkan negara-negara di Eropa telah menerapkan surveilans aktif secara berkala pada unggas liar maupun unggas di peternakan. Jadi, surveilans tersebut tidak hanya dilakukan setelah ditemukan kasus unggas positif terinfeksi flu burung. "Dengan penanganan yang baik, sampai kini belum ada laporan penularan flu burung dari unggas ke manusia di Eropa," ujar Amien menambahkan.

Dalam pedoman internasional Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang merupakan hasil kesepakatan para pakar dunia bidang veteriner antara lain diatur pencegahan kontak unggas liar dengan unggas di peternakan.

"Bila unggas liar menulari flu burung ke unggas di peternakan, kemungkinan penularan virus itu ke manusia makin tinggi, baik di peternakan maupun di pasar unggas," ujarnya.

Indonesia saat ini terlibat dalam survei global untuk mempelajari pola-pola migrasi unggas liar. Dengan mengetahui pola migrasi itu, asal virus bisa diketahui bila terjadi penularan flu burung pada unggas dan manusia.

"Galur virus di tiap negara berbeda-beda. Jadi, vaksin yang digunakan akan sesuai dengan strain virus sehingga lebih efektif," kata Amien.

Pemantauan aktif

Temuan bebek liar yang terinfeksi flu burung di Jerman merupakan bagian dari program pemantauan atau surveilans aktif UE terhadap penyebaran flu burung di antara burung-burung liar. Jadi, bukan merupakan penyebaran virus. Pemegang otoritas kesehatan hewan Jerman memperkirakan tidak terjadi peningkatan ancaman dari flu burung seiring temuan kasus itu.

"Ini merupakan temuan individual di antara burung-burung liar yang dihitung secara berkala," kata juru bicara The Friedrich Loeffler Institute, lembaga nasional Pemerintah Jerman yang menangani penyakit pada hewan, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters. Sejauh ini, lembaga itu menilai secara keseluruhan ancaman penularan flu burung dari burung liar masih pada level rendah.

Keterlibatan burung terhadap penyebaran virus tersebut hanya pada level kecil dan itu diketahui setelah diuji oleh The Friedrich Loeffler Institute sebagai bagian dari program pemeriksaan nasional pada 5 Maret lalu. Meski burung liar terinfeksi virus, burung itu tidak menunjukkan gejala sakit sehingga dianggap sebagai pembawa virus.

Infeksi virus itu tidak terlihat secara aktif sehingga hewan-hewan yang terinfeksi tidak menjadi sakit. Temuan kasus bebek liar yang terinfeksi flu burung baru- baru ini itu tidak mengubah penilaian risiko secara keseluruhan.

Zona karantina

Kasus outbreak terakhir flu burung pada unggas di UE dideteksi pada Oktober 2008 di negara bagian Saxony, Jerman bagian timur. Dalam kasus temuan flu burung pada bebek liar di Starnberg tahun ini, otoritas setempat memutuskan tidak menerapkan zona karantina di sekeliling wilayah di mana burung yang terinfeksi flu burung.

Tindakan tersebut disetujui Komisi UE karena Jerman dinilai menerapkan upaya perlindungan untuk memastikan virus itu tidak menyebar. Menurut pejabat UE, berdasarkan hasil penilaian risiko, Jerman terus melakukan surveilans aktif di area terkontrol dan di sekeliling tempat ditemukan kasus positif flu burung. Tindakan ini dilakukan untuk menghitung burung liar yang bermigrasi pada Januari 2009.

Ditemukan di Hongkong

Secara terpisah, otoritas Hongkong menemukan kasus ayam yang mati karena terinfeksi virus flu burung.

Pemerintah Hongkong menyatakan, hasil tes laboratorium telah mengonfirmasikan bahwa ayam yang ditemukan membusuk dan mengambang di laut selama sekitar 10 hari ternyata positif terinfeksi virus mematikan H5N1.

Otoritas Hongkong juga mengumumkan pada 6 Maret 2008 seekor bangkai ayam yang ditemukan di lokasi yang sama juga terinfeksi H5N1.

Padahal, tidak ada peternakan ayam dalam batas 3 kilometer dari lokasi ditemukannya ayam mati itu. Para peternak sudah diperingatkan agar meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap kemungkinan penyebaran virus flu burung tersebut.

Hongkong dilaporkan sebagai tempat pertama kali ditemukannya kasus flu burung di dunia yang menjangkiti manusia pada 1997 ketika enam orang meninggal dunia. Bersamaan dengan itu, sejumlah unggas dari berbagai wilayah di Hongkong setelah dites ternyata positif H5N1.

Pada Desember 2008 Otoritas Hongkong menemukan virus H5N1 pada seekor ayam di sebuah peternakan di Hongkong dan segera memusnahkan lebih dari 90.000 unggas. (EVY/AFP/LOK)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/16/04013374/migrasi.unggas.liar.picu.penyebaran.h5n1

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN