Disease Outbreak News
Wednesday, January 18, 2012
Wednesday, January 4, 2012
Yellow Fever in Senegal
1 December 2011 - The Ministry of Health in Senegal notified the WHO of three cases of yellow fever in Kédougou and Saraya Health districts, near the border with Mali and Guinea Conakry on 26 October 2011.
The index case was a 25 year-old female who developed symptoms of fever, headache and vomiting, with no history of yellow fever vaccination. She consulted the health military post of Kédougou on 23 July 2011. The case was detected as part of a surveillance project for dengue and chikungunya conducted in the region. The WHO reference laboratory for Yellow Fever at the Institut Pasteur in Dakar confirmed the case (IgM by ELISA test and Plaque Reduction Neutralization Test or PRNT) on 10 October 2011.
Two other cases - 29 year-old female and 3 year-old male - were reported on 10 and 11 August 2011. All three cases have fully recovered. An outbreak investigation team assessed the situation in the Kédougou and Saraya districts from 8 to 29 August 2011, where a total of 76 people (suspected cases and their contacts, including 10 deaths) were identified. Laboratory tests conducted showed no evidence of recent yellow fever infection among the 76 people. However, the tests (IgG) indicated that 20 of them had previously been exposed to yellow fever virus or yellow fever vaccine.
The health districts of Kédougou and Saraya benefited from a preventive mass vaccination campaign in December 2007, where the vaccination coverage was 94.9% and 94.8% respectively.
The Ministry of Health of Senegal plans to organize a vaccination campaign in mid-December 2011, targeting the non-vaccinated individuals aged nine months and above, excluding pregnant women in Kédougou, Saraya and Salémata health districts. The mass vaccination campaign aims to protect the susceptible population living in the area, which appears to have increased due to recent migration from neighboring countries. A total of 159,626 doses of vaccine from the GAVI-funded yellow fever emergency vaccine stockpile has been released by the International Coordinating Group on Yellow Fever Vaccine Provision (YF-ICG) for the campaign.
di
10:35
Diposkan oleh
Anonymous
Saturday, December 31, 2011
Penyakit-penyakit yang Masih Mengancam di 2012
Beberapa penyakit memang sudah ada yang diberantas atau tidak muncul lagi, namun penyakit tertentu masih mengancam manusia di tahun 2012. Berikut ini beberapa penyakit yang masih menjadi ancaman, seperti dikutip dari HuffingtonPost, Sabtu (31/12/2011) yaitu:
1. Penyakit infeksi
Penyakit infeksi merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi ancaman, penyakit ini bisa disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit. Terlebih di tahun 2012 diramalkan akan terjadi beberapa bencana alam yang bisa menjadi faktor risiko meningkatnya penularan penyakit infeksi seperti ISPA (Infeksi saluran pernapasan atas), diare, hepatitis A, difteri dan penyakit infeksi lainnya.
Dibeberapa negara penyakit infeksi sudah tidak menjadi masalah lagi, tapi di beberapa negara terutama negara berkembang penyakit ini masih menjadi momok tersendiri. Salah satu cara pencegahan yang cukup efektif adalah pola hidup sehat termasuk mencuci tangan pakai sabun.
2. Penyakit tidak menular
Saat ini angka kematian akibat penyakit tidak menular semakin meningkat, penyakit ini diderita dalam jangka waktu lama dan berkembang secara perlahan. Empat penyakit tidak menular yang utama adalah penyakit kardiovaskular (jantung dan stroke), kanker, penyakit pernapasan kronis (penyakit paru dan asma) serta diabetes.
3. Penyakit tuberkulosis
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman yang serius, karena banyaknya pasien yang mengalami resistensi atau kekebalan kuman TBC terhadap obat yang ada saat ini baik obat lini satu atau kedua. Selain itu penyebab lainnya adalah masih adanya kantong-kantong TBC yang belum terdeteksi.
Salah satu cara untuk mengatasi tuberkulosis adalah mengonsumsi obat secara teratur dan dibutuhkan kepatuhan dari si pasien, karena jika ia berhenti sendiri berisiko mengalami resistensi terhadap obat yang sudah ada.
4. HIV/AIDS
HIV/AIDS masih menjadi penyakit yang mengancam karena tingginya peningkatan kasus baru, serta masih adanya orang yang menutupi kondisi tersebut sehingga tidak mendapatkan pengobatan yang tepat.
5. Flu burung
Meski kasusnya pada manusia memang berkurang, namun penyakit ini masih mengancam karena bisa bermutasi sehingga jadi lebih mudah ditularkan atau justru menjadi lebih ganas. Mutasi flu burung ini ditemukan pada strain baru yang menyebar di China dan Vietnam. Badan Pangan Dunia PBB (FAO) mendesak untuk dilakukannya pengawasan yang lebih besar terhadap kemungkinan penyebaran kembali flu burung.
(ver/ir
di
14:19
Diposkan oleh
IBS
Penyakit menular masih jadi ancaman
Awal November lalu, sebuah sekolah di Depok, Jawa Barat, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) II Depok terpaksa diliburkan selama beberapa hari setelah wabah Hepatitis A telah menular kepada 90 orang, yaitu 89 siswa dan seorang guru sekolah tersebut.
Beberapa bulan sebelumnya, wabah Hepatitis A juga merebak di daerah Bandung, Sukabumi dan Tasikmalaya sehingga Kementerian Kesehatan mengumpulkan tim ahli untuk membahas penyakit tersebut dan memformulasikan kebijakan yang harus diambil.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa rapat dengan tim ahli itu juga akan digunakan untuk mengecek kondisi penyebaran penyakit Hepatitis A di berbagai wilayah selama beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes), Endang Rahayu Sedyaningsih, mengemukakan bahwa kemungkinan Hepatitis A menjadi wabah sangat besar mengingat virus penyebab penyakit tersebut dapat dengan mudah ditularkan lewat makanan yang disantap bersama-sama.
"Jadi, kalau ada satu terkena dan orang itu masuk ke kantor atau sekolah dan makan beramai-ramai, seperti sambal yang dicocol ramai-ramai, itu akan cepat menyebar (virusnya). Makanya kalau jajan lihat-lihat dulu," katanya usai menghadiri apel Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2011 di Gedung Kementerian Kesehatan Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ia menimpali, "Bagi yang tidak bisa bawa makanan dari rumah, kalau jajan carilah tempat bersih dan jangan lupa cuci tangan sebelum makan."
Menkes mengungkapkan bahwa wabah Hepatitis A memang sering terjadi karena penyebarannya yang mudah antara lain lewat makanan.
Untuk langkah pencegahan, Menkes kembali mengingatkan mengenai pentingnya higiene pribadi seperti menerapkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) yang antara lain dengan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan dan sebelum melakukan beberapa kegiatan lain.
Selain itu, disebut Menkes, tidak kalah pentingnya adalah sanitasi lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya atau menggunakan air bersih untuk memasak.
Untuk mencegah terjadinya wabah Hepatitis A di masa yang akan datang, Kementerian Kesehatan juga menurunkan tim untuk melakukan sosialisasi kepada kantin sekolah maupun kantin pabrik di wilayah-wilayah yang dinilai rawan mengenai langkah pencegahan penularan virus.
Penularan Hepatitis A umumnya terjadi pada pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, sanitasi yang buruk dan higienitas rendah dan seseorang yang terjangkit virus itu biasanya akan menunjukkan gejala demam, lemah lesu, anoreksia dan gangguan abdominal serta ikterus.
Flu burung
Wabah penyakit menular lainnya yang kembali muncul di tahun 2011 adalah flu burung dimana pada bulan Oktober, dua orang kakak beradik WA (10) dan NRA (5) dari Kabupaten Bangli, Bali, meninggal dunia di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar dan dipastikan kedua korban positif terjangkit flu burung (H5N1).
Kementerian Kesehatan disebut Menkes melakukan kerjasama erat dengan Kementerian Pertanian untuk mengatasi kemungkinan wabah flu burung yang fatal karena tingkat kematiannya yang masih tinggi, sekitar 70-80 persen.
Indonesia, juga disebut Menkes, belum bebas dari ancaman flu burung dan sebanyak 30 provinsi masih endemi flu burung di unggas dan hanya tiga provinsi yang belum dilaporkan terjangkit yaitu Kalimantan Barat, Gorontalo dan Maluku Utara.
Menkes mengingatkan bahwa virus flu burung memang masih ada pada unggas dan dapat berpindah ke manusia sehingga masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah pencegahan penularan seperti menjauhi unggas jika tidak penting, selalu mencuci tangan dengan sabun dan bagi anak-anak agar tidak bermain dengan bangkai ayam.
Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), juga dilaporkan ada sekira 1.000 ayam di tiga lokasi di Kabupaten Lombok Tengah mati mendadak dan dipastikan bahwa penyebab kematian adalah flu burung.
Kementerian Kesehatan tidak menerima laporan pasien manusia suspek flu burung di Lombok paska matinya ribuan ayam mendadak di kawasan itu namun tetap melakukan langkah pencegahan dan sosialisasi kepada masyarakat.
Selain itu, sebanyak 100 rumah sakit di seluruh Indonesia masih disiagakan untuk menangani flu burung yang tahun 2011 ini telah memakan korban 10 orang, jumlah yang sudah menurun dari tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai puluhan orang.
"Rumah sakit tetap disiagakan, upaya-upaya pencegahan juga telah dilakukan dengan baik. Masalahnya memang tingkat kematian untuk kasus flu burung ini masih tinggi," kata Tjandra Yoga Aditama.
Bahkan, sejak pertengahan Desember lalu, sebanyak sepuluh rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia akan memiliki ruang isolasi lengkap bagi penanganan pasien flu burung yang lokasinya tersebar dan dipilih dengan mempertimbangkan endemisitas daerah itu terhadap kasus tersebut.
Pembangunan ruang isolasi itu merupakan bantuan dari Uni Eropa melalui Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas untuk menyalurkan dana bantuan untuk Pengendalian flu burung di Indonesia melalui kerja sama dengan Kementerian Kesehatan.
Pada 2008, Kementerian Kesehatan mengusulkan pembangunan ruang isolasi di beberapa rumah sakit untuk penanggulangan penyakit yang sempat mewabah tidak hanya di Indonesia namun di negara-negara lainnya itu dan pembangunan kemudian disetujui di 10 Rumah Sakit rujukan flu burung.
Rumah sakit rujukan tersebut adalah RSUP Persahabatan; RSPI Sulianti Saroso; RSPAD Gatot Subroto; RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado; RSUD Dr. Soetomo, Surabaya; RSUD Dr. Moewardi, Solo; RSUD Ulin, Banjarmasin; RSUD Dr. Abdoel Moeloek, Lampung; RSUD Gunung Jati, Cirebon dan RSUD Tangerang.
Kasus flu burung pada manusia yang untuk pertama kali dilaporkan di Indonesia berasal dari Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, pada 2005 dan sejak itu kasus flu burung mulai dilaporkan dari berbagai provinsi lain dan saat ini sebanyak 53 kabupaten/kota di 13 provinsi di Indonesia telah melaporkan kasus flu burung pada manusia.
Kementerian Kesehatan mencatat dari tahun ke tahun jumlah kasus flu burung di Indonesia cenderung menurun, namun sampai dengan November 2011, terdapat 182 kasus flu burung positif dan 150 orang (82,42 persen) di antaranya meninggal dunia dengan tiga provinsi dengan kasus terbanyak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Wabah difteri
Kejadian Luar Biasa (KLB) lainnya yang menjadi perhatian nasional juga terjadi di Jawa Timur pada bulan Oktober lalu ketika wabah difteri menyerang 328 anak serta menewaskan 11 anak.
Kejadian ini mendapat perhatian khusus karena difteri merupakan penyakit yang bisa dicegah lewat imunisasi sewaktu bayi atau balita.
Terhadap kejadian itu, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan imunisasi untuk pencegahan difteri akan diperbaiki pasca wabah yang melanda beberapa kabupaten di Jawa Timur itu.
"Imunisasi kami perbaiki karena ada anak yang tidak mempan divaksin. Untuk anak berusia 7-15 tahun juga akan diberi vaksinasi tambahan," kata Menkes.
Gubernur Jawa Timur, Sukarwo, telah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah penyakit difteri yang melanda sejumlah kabupaten/kota dan meminta warga untuk waspada terhadap bakteri yang menjangkiti saluran pernapasan itu dan melakukan vaksinasi bagi anak-anak mereka.
Menkes juga berharap masyarakat dapat memahami pentingnya imunisasi dasar tersebut bagi pencegahan penyakit difteri karena ada gerakan anti-imunisasi yang muncul di beberapa tempat.
"Sekarang ada banyak orang yang tidakmau divaksinasi, padahal pencegahan difteri adalah lewat vaksinasi," kata Menkes dan berharap warga mau mendatangi Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan imunisasi dasar itu.
Untuk tindakan kuratif, Menkes menyebutkan, jika ditemukan pasien difteri, pasien tersebut akan dirawat di rumah sakit dan tiap orang yang mengalami kontak dengan pasien akan divaksinasi.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar vaksinasi masal di beberapa daerah penyebaran difteri terutama di 11 kabupaten/kota yaitu Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Blitar, Gresik dan Banyuwangi.
Untuk penanganan wabah tersebut, sebanyak Rp21 miliar dana dikucurkan yaitu dari Pemerintah pusat sebesar Rp13 miliar dan Pemerintah Provinsi Rp8 miliar untuk pembelian vaksin, surveilans, melakukan imunisasi masal dan biaya penyembuhan lainnya.
Menkes menyatakan keprihatinannya atas kejadian luar biasa (KLB) difteri di Jawa Timur tersebut dan kembali mengingatkan pentingnya imunisasi bagi bayi dan balita sebagai langkah pencegahan kasus serupa terulang.
"Imunisasi adalah program yang paling `cost effective` (biayanya paling kecil) untuk menekan morbiditas dan mortalitas penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri ini," ujar Menkes.
Ia melanjutkan bahwa jika program imunisasi rutin tidak berjalan dengan baik atau cakupannya masih cukup rendah, maka akan ada kantong-kantong daerah dimana anak-anaknya tidak diimunisasi sehingga suatu saat kemungkinan untuk muncul KLB menjadi lebih besar dibanding daerah yang telah diimunisasi lengkap.
"Jika jadi KLB, maka biayanya jadi mahal untuk penanganannya, ada ongkos ekstra untuk itu," ujar Menkes.
Ia menekankan bahwa sejak Indonesia melakukan imunisasi masal tahun 1956 telah terbukti aman dan melindungi penduduk dari kematian dan kecacatan.
Adapun Tjandra Yoga Aditama mengatakan, kegiatan imunisasi merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan yang merupakan salah satu bentuk kegiatan promotif preventif serta bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mencapai Milenium Development Goals (MDGs) khususnya untuk menurunkan angka kematian pada anak dan ibu.
Saat ini, Kementerian Kesehatan mencatat, imunisasi dasar di Indonesia meliputi 5 jenis yaitu, BCG, DPT Hb, Polio, Campak dan Hepatitis B dan pada tahun 2008, desa yang telah mencapai Universal Child Immunization (UCI) baru 68,3 persen dari 65.781 desa dan setelah program akselerasi dijalankan tahun 2010 mencapai 75,3 persen dari 75.990 desa.
"Walaupun semakin banyak desa yang telah mencapai UCI, tetapi masih ada desa yang merupakan kantong yang rentan terhadap penyakit," kata Tjandra.
Untuk kasus campak, Indonesia telah berhasil mereduksi penyakit campak dari lebih dari 180.000 kasus di tahun 1990 menjadi sekitar 20.000 kasus di tahun 2010, dan menurunkan angka kematiannya sebesar 90 persen.
Adapun untuk kasus polio, Indonesia sudah tidak ada lagi kasus dalam beberapa tahun terakhir, walau ancaman dari luar negeri disebut Tjandra masih tetap ada, yaitu beberapa negara di dunia masih melaporkan adanya virus polio liar.
Sebagai antisipasi bagi penyakit menular yang bisa dicegah lewat vaksinasi itu, sejak tahun 2009 Kementerian Kesehatan melakukan kampanye imunisasi tambahan dalam tiga tahap mulai 2009-2011 dimana tahap ketiga atau terakhir akan dilaksanakan di 17 propinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Lampung, Papua, serta seluruh provinsi di Kalimantan dan Sulawesi.
Kampanye tahun 2011 dimulai pada tanggal 18 Oktober 2011 dan berlangsung selama satu bulan yang akan memberikan imunisasi kepada seluruh Balita di 17 provinsi tersebut dengan jumlah anak yang harus mendapatkan campak (umur 9 bulan sampai dengan kurang 5 tahun) sebanyak 14 juta orang dan polio (umur 0 sampai kurang 5 tahun) sebanyak 16,5 juta orang.
Dengan banyaknya kasus wabah penyakit menular tersebut, Menkes menyatakan, sejak 2012 akan memprioritaskan upaya promotif preventif sebagai pencegahan antara lain dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengurangi jumlah korban.
Upaya promotif preventif memang merupakan tindakan yang lebih efektif daripada sekadar kuratif (penyembuhan) karena selain dapat mengurangi jumlah korban, tindakan preventif juga meningkatkan produktivitas masyarakat secara umum, tidak perlu terganggu dan menderita karena penyakit.
(T.A043)
di
13:18
Diposkan oleh
IBS
Thursday, November 17, 2011
302 jemaah meninggal karena ISPA
Demikian dikemukakan Kepala Bidang Kesehatan Panita Penyelenggara Ibadah Haji dr Mawari Edy di Jeddah, tadi malam. "Sebelum puncak haji, jemaah haji yang wafat didominasi penyakit jantung. Setelah puncak haji, mulai muncul jemaah wafat karena masalah pernapasan," kata Mawari.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) jemaah haji yang meninggal hingga pukul 12.00 waktu Arab Saudi (WAS) atau 16.00 WIB mencapai 302 orang. Kedua penyakit itu muncul berkaitan dengan aktivitas fisik berlebihan yang dilakukan para jemaah. Padahal di satu sisi, kondisi tubuh jemaah tidak mendukung.
"Utamanya, setelah puncak ibadah haji di Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), kondisi jemaah menurun seiring aktivitas fisik yang cukup padat. Namun, mereka terkadang memaksakan diri untuk mengerjakan ibadah sunah, seperti umroh sampai dua kali sehari," katanya.
Menurut Mawari, kondisi tubuh tetap membutuhkan pemulihan setelah melakukan aktivitas fisik, dan fakta ini yang kadang tidak disadari jemaah. Mereka tetap memaksakan diri beraktivitas di luar pemondokan. Akibatnya, kondisi tubuh mereka drop dan menuju titik kritis yang mengancam jiwa.
"Kami berharap jemaah bisa mengukur kemampuan diri, dan jangan banyak melakukan aktivitas di luar pemondokan," kata Mawari.
Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Mekkah dr Thafsin Alfarisi di Mekkah mengatakan, faktor kelelahan pasca pelaksanaan ibadah di Armina menjadi salah satu penyebab tingginya jemaah yang wafat. Kegiatan-kegiatan itu memang membutuhkan tenaga banyak. "Sebaiknya jemaah yang masuk golongan risiko tinggi (risti) mengurangi aktivitas di luar pemondokan, seperti memaksakan diri beribadah di Masjidil Haram," katanya.
Dia tidak melarang dan bisa memahami keinginan jemaah yang ingin beribadah di Masjidil Haram. Namun, hendaknya mereka juga bisa mengukur kemampuan fisiknya.
Sebanyak 302 anggota jemaah haji meninggal, didominasi jemaah dengan usia 60 tahun ke atas. Tercatat ada 216 anggota jemaah dalam kategori usia itu yang meninggal dunia. Untuk usia 50-59, sebanyak 70 anggota jemaah meninggal, usia 40-49 (13 orang), dan di bawah 40 tahun dua anggota jemaah.
di
08:45
Diposkan oleh
IBS
Wednesday, November 16, 2011
Awas...Makan Ramai-ramai Percepat Penularan Hepatitis A
di
15:44
Diposkan oleh
IBS
Monday, November 14, 2011
Pneumonia is the leading cause of death in children
di
11:32
Diposkan oleh
IBS
Wednesday, October 26, 2011
Orang Gemuk Tak Mempan Divaksin Flu
Temuan ini memberikan bukti yang menjelaskan sebuah fenomena yang baru disadari pertama kali pada wabah flu H1N1 2009, yaitu obesitas berhubungan dengan terganggunya respon kekebalan tubuh terhadap vaksinasi influenza pada manusia.
Para peneliti mempelajari pasien yang telah diberi vaksinasi influenza yang dilemahkan pada akhir 2009 di sebuah klinik University of North Carolina. Vaksin yang diberikan adalah vaksin untuk flu musim gugur dan musim dingin biasa.
Meskipun semua pasien mengembangkan antibodi terhadap virus flu sejak bulan pertama setelah vaksinasi, tingkat antibodi dalam darah menurun lebih cepat pada orang obesitas dari waktu ke waktu.
Sekitar 50 persen peserta penelitian dengan obesitas mengalami penurunan kadar antibodi empat kali lipat selama 12 bulan sejak sebulan pertama vaksinasi. Sedangkan peserta dengan berat badan sehat jumlahnya tidak sampai 25 persen.
"Hasil ini menunjukkan bahwa orang yang mengalami obesitas akan lebih mungkin mengalami penyakit flu setelah terpapar virus flu dibandingkan orang dengan berat badan sehat," kata Melinda Beck, Ph.D., profesor dan ketua asosiasi gizi di University of North Carolina Gillings School of Global Public Health.
"Kajian sebelumnya telah menunjukkan kemungkinan obesitas dapat mengganggu kemampuan tubuh melawan virus flu. Penemuan baru ini tampaknya memberikan alasan mengapa orang obesitas lebih rentan terhadap penyakit influenza selama pandemi virus flu H1N1 dibandingkan orang dengan berat badan yang sehat," kata Beck.
Kajian yang dirilis di situs resmi University of North Carolina School of Medicine, Rabu (26/10/2011) ini melaporkan bahwa kadar antibodi vaksin influenza menurun secara signifikan pada orang obesitas dibandingkan pada individu dengan berat badan yang sehat.
Terlebih lagi, respon sel darah putih yang paling penting dalam sistem kekebalan tubuh atau dikenal dengan sebutan sel T + CD8 mengalami kerusakan pada orang yang obesitas.
"Ketika vaksinasi gagal mencegah infeksi flu, maka pasien harus bergantung pada sel T + CD8 nya untuk membatasi penyebaran dan keparahan infeksi. Jika kadar antibodi tidak dipertahankan dari waktu ke waktu dan fungsi sel T + CD8 terganggu, orang-orang dengan obesitas akan memiliki risiko lebih besar jatuh sakit karena influenza," kata Patricia Sheridan, PhD, asisten profesor gizi University of North Carolina School of Medicine.
Pada tahun 2005 lalu, Beck dan rekan-rekannya melaporkan bahwa obesitas pada tikus mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi virus dan meningkatkan resiko kematian dibandingkan dengan tikus ramping dengan infeksi yang sama. Tingkat kematian pada tikus obesitas lebih tinggi, yaitu sebesar 25%. Sedangkan pada tikus ramping, tidak ada yang mati.
Pada tahun 2010, Beck dan timnya menunjukkan bahwa obesitas tampaknya membatasi kemampuan tikus mengembangkan kekebalan terhadap influenza. Dia menyarankan bahwa vaksinasi agaknya tidak efektif untuk orang obesitas dan kelebihan berat badan.
Sumber : detikhealth.com
di
16:04
Diposkan oleh
IBS
Wednesday, August 10, 2011
GUILLAIN BARRE SINDROM ( GBS)
Suatu ketika di Puskesmas (terjadi 30 tahun yang lalu), datang seorang laki-laki usia 37 tahun dengan keluhan kedua tungkai lemah dan semakin susah dibawa berjalan, tidak ada kesemutan. Makin lama semakin memberat dan setelah itu mengenai kedua lengan atas. Penderita lumpuh seluruh anggota gerak. Sebelumnya mendapat influenza kira-kira 2 minggu dengan keluhan waktu itu demam disertai nyeri seluruh sendi. Akhirnya penderita dirujuk ke RS kabupaten untuk dirawat.
Kasus lain, seorang wanita usia dewasa muda telah dirawat di RS sehari yang lalu dengan kelumpuhan seluruh anggota gerak, selang beberapa lama sesudahnya mengalami sesak nafas. Sebelum itu penderita mendapat diare yang tak kunjung baik, selanjutnya dirawat di perawatan intensif untuk dilakukan bantuan nafas. Saat itu RS belum punya alat bantu nafas (respirator) untuk memperbaiki pernafasan penderita. Untungnya dua hari kemudian penderita merasa lebih baik, pernafasan mulai teratur dan akhirnya dapat pulang ke rumah setelah nafas membaik. Penderita mulai dapat berjalan, walaupun masih tertatih-tatih. Penderita tertolong.
Kasus-kasus di atas memperlihatkan pada kita kalau keluhan lumpuh layuh dapat tertolong dengan pengelolaan biasa, serta keluhan seperti ini bukan hanya dialami oleh pasien polio tetapi dapat juga disebabkan oleh Guillain Barre Sindrom. Berbeda dengan polio yang disertai demam saat sakit dengan kelumpuhan hanya satu tungkai, setelah sembuh mengalami gejala sisa setelah penderita baik, sedangkan Guillain Barre Sindrom dapat sembuh sempurna tanpa gejala sisa, walaupun kadang-kadang kasus tertentu ada yang tidak tertolong.
Apa itu Guillain Barre Sindrom (GBS) ?
Merupakan kumpulan gejala kelemahan pada anggota gerak dan kadang-kadang dengan sedikit kesemutan pada lengan atau tungkai, disertai menurunnya refleks. Selain itu kelumpuhan dapat juga terjadi di otot-otot penggerak bola mata sehingga penderita melihat satu objek menjadi dua yang dapat disertai gangguan koordinasi anggota gerak.
Penyakit GBS, sudah ada sejak 1859. Nama Guillain Barre diambil dari dua Ilmuwan Perancis, Guillain dan Barré yang menemukan dua orang prajurit perang di tahun 1916 yang mengidap kelumpuhan kemudian sembuh setelah menerima perawatan medis. GBS termasuk penyakit langka dan terjadi hanya 1 atau 2 kasus per 100.000 di dunia tiap tahunnya.
Apa penyebabnya ?
GBS ini tadinya dianggap sebagai neuroalergi yang menghasilkan berbagai bahan berbahaya. Terdapat perkiraan bahwa kumpulan gejala ini terjadi karena menurunnya daya kekebalan tubuh sendiri (auto imun), yang biasanya didahului oleh infeksi virus atau kuman-kuman yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas dan diare yang melemahkan daya tahan tubuh (kekebalan) sehingga mengalami keluhan seperti kasus-kasus di atas. Sel sistem kekebalan menyerang sarung saraf (mielin) yang mengelilingi serabut saraf di seluruh saraf tepi.
Dapatkah GBS diobati ?
Dapat, angka kesembuhan terjadi sempurna (75-90 %) dengan cara pengobatan dan fisioterapi. Bagi kasus2 tertentu dilakukan penggantian plasma dengan maksud menghilangkan efek menurunnya kekebalan (auto imun). Terapi ini akan dapat menyembuhkan penderita, selain itu dapat juga dilakukan infus imunoglobulin . Pada sebagian kasus tidak jarang penderita secara bertahap dapat pulang setelah dirawat beberapa lama. Sedangkan pada kasus-kasus tertentu, ada yang membutuhkan bantuan alat nafas (respirator) dan pada kasus yang sangat berat dengan gangguan nafas ada yang tidak tertolong. Penyembuhan dimulai 2-4 minggu setelah progresivitasnya berhenti. Pengobatan medis dan perawatan yang baik sangat mempengaruhi hasilnya. Pada kebanyakan kasus terjadi perbaikan spontan. Kadang-kadang pengelolaaan menjadi sangat rumit dan melelahkan. Pada manula penyembuhan umumnya lebih lambat dibandingkan anak anak. Edukasi penderita dengan menerangkan pada keluarga mengenai penyakit ini dan cara pengobatan serta fisioterapi menyeluruh harus dilakukan.
RS Cipto Mangunkusumo saat ini sedang menangangi 2 kasus GBS yang sebelumnya sempat dirawat dr RS St. Carolus Jakarta dan RS Azra Bogor.
Dapatkah GBS dicegah ?
Salah satu jalan untuk mencegah SGB adalah dengan mempertinggi daya tahan tubuh saat tidak sakit dengan cara mengonsumsi protein hewani dari daging dan ikan, nabati dari tempe dan tahu disertai sayur dan buah, sehingga diharapkan kita jarang sakit influenza, karena daya tahan tubuh tinggi. Selain itu perlu juga menjaga kebersihan tubuh dengan mandi dan cuci tangan bila mau makan untuk menghindari infeksi kuman, virus atau bakteri yang menyebabkan diare
Bila ada gejala-gejala GBS, apa yang harus dilakukan ?
Jangan kaget, segera kosultasi dokter di Puskesmas. Kita tidak mengenal awalnya orang terkena serangan, tapi bila mendapat gejala seperti kasus di atas segera bawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit, agar dapat dilakukan pengobatan segera dan dapat mewaspadai serangan yang lebih hebat. Ingat, keadaan lumpuh layuh ini dapat disebabkan oleh Polio atau Guillain Barre Sindrom.
Bila kena GBS, apakah harus mengeluarkan biaya mahal ?
Tidak selalu demikian, ada penderita yang baik setelah mendapat pengobatan biasa, malah ada yang sembuh spontan dalam jangka waktu pendek. Tetapi memang pada kasus tertentu yang berat disertai gangguan nafas memerlukan infus zat kekebalan (imunoglobulin) yang mahal dan atau penggantian plasma darah untuk mempercepat perbaikan. Tentu setiap RS telah membuat aturan kapan harus diberikan cara-cara penanganan khusus diatas.
Sumber: http://www.depkes.go.id/
di
13:12
Diposkan oleh
ike a
Tuesday, July 26, 2011
2 Miliar Penduduk Dunia Telah Terinfeksi Hepatitis B
Dr Unggul menyatakan 97 persen bayi yang tertular virus hepatitis B akan menjadi pengidap seumur hidup. Dan pada umumnya penderita hepatitis B yang ada adalah sudah tertular dari bayi."Untuk itu, vaksinasi hepatitis B wajib diberikan pada bayi pada hari pertama kelahirannya," jelas Dr Unggul.
Virus hepatitis B sangat mudah menular, bahkan 100 kali lebih mudah dibandingkan virus HIV dan virus ini dapat bertahan hidup selama 1 minggu hingga berbulan-bulan di luar tubuh, serta alat-alat medis dan alat pemeriksaan gigi.
Mual, muntah, nafsu makan turun dan panas
Warna air seni coklat seperti teh
Bagian putih mata tampak kuning
Kulit seluruh tubuh tampak kuning
Warna tinja kuning.
Sebagian besar tanpa gejala nyata. Tapi keluhan umum seperti lemas, lekas capek, ngantuk, gangguan pencernaan, kembung, mual dan kurang nafsu makan.
Sumber:http://www.detikhealth.com/read/2011/07/25/173452/1689108/763/2-miliar-penduduk-dunia-telah-terinfeksi-hepatitis-b?l991101755
di
08:22
Diposkan oleh
IBS
Friday, June 17, 2011
Enam Anak Terinfeksi E. Coli di Prancis
di
09:04
Diposkan oleh
IBS
Wednesday, June 15, 2011
Bakteri E. Coli Terus Merenggut Nyawa, Bocah 2 Tahun Tewas di Jerman
di
11:40
Diposkan oleh
IBS
Tuesday, June 14, 2011
Cara Mudah Menghindari Bakteri E Coli
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof dr Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa E.Coli hidup di suhu 7 derajat celcius dan mati di suhu 70 derajat celcius. "Jadi jika bahan pangan dimasak dengan benar, bakteri akan mati," katanya.
di
11:54
Diposkan oleh
IBS
Friday, June 10, 2011
Sudah 30 Orang Tewas Akibat Wabah Bakteri E. Coli di Jerman
di
13:50
Diposkan oleh
IBS
Tuesday, June 7, 2011
Strain bakteri E. coli Eropa tidak ada di Indonesia
di
14:43
Diposkan oleh
IBS
Monday, June 6, 2011
Wabah E. Coli, Makanan Eropa Belum Dilarang
"Itu penyebabnya dari mana. Baru kami bisa melakukan pencegahan atau monitoring," ujar Mari di Kementerian Perekonomian, Jakarta, Senin 6 Juni 2011.Menurut dia, ada dua hal yang harus diawasi yaitu pertama, masalah makanan dan manusia. Kedua, masalah manusiawi karena penyakit ini menular.
"Kami kan belum tahu penyebabnya dari mana. Jadi, ini tentunya perlu dipahami. Ini lebih kepada wewenang Badan POM dan Kemenkes apa yang harus diperiksa. Kami harus tentukan dulu," tegas Mari.
di
14:32
Diposkan oleh
IBS
Sunday, June 5, 2011
Kemenkes Perintahkan Pelabuhan Cermati Penumpang dari Eropa yang Diare
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof dr Tjandra Yoga Aditama menuturkan, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran pada otoritas terkait untuk mencermati setiap kasus dengan gejala diare terutama yang disertai dengan gejala perdarahan.
"Khusus kepada kepala Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) diseluruh Indonesia, agar mencermati setiap penumpang khususnya dari negara-negara Eropa yang mengalami gejala tersebut di atas (diare, utamanya yang berdarah) dan segera mengkoordinasikan dengan imigrasi dan pengelola bandara serta melaporkan kepada Dirjen PP dan PL," kata Tjandra dalam siaran pers, Minggu (5/6/2011).
Tjandra menuturkan, surat edaran guna mengantisipasi masalah infeksi E.coli di Eropa yang antara lain menyebabkan HUS (haemolytic uraemic syndrome), ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi seluruh Indonesia dan seluruh Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Dalam surat edaran itu, diharapkan aparat Kesehatan setempat dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1. Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat luas tentang pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
2. Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat untuk membiasakan selalu mencuci tangan dengan sabunsetelah buang air besar/kecil dan sebelum menyentuhmakanan/minuman.
3. Mencuci sayuran dan buah buahan dengan air sampai benar-benar bersih, terutama sayuran dan buah-buahan yang dikonsumsi secara segar (tidak dimasak).
4. Mencermati setiap kasus dengan gejala diarrhea terutama yang disertai dengan gejala perdarahan.
5. Khusus kepada kepala Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) diseluruh Indonesia, agar mencermati setiap penumpang khususnya dari negara-negara Eropa yang mengalami gejala tersebut diatas dan segera mengkoordinasikan dengan imigrasi dan pengelola bandara serta melaporkan kepada Dirjen PP dan PL.
Sementara itu, menurut World Health Organization (WHO) langkah pencegahan EHEC dan HUS di Eropa kini adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan pola hidup bersih sehat, dengan selalu mencuci tangan setelah menggunakan toilet dan sebelum memegang makanan.
b. Pengamatan terhadap kasus diare berdarah yang disertai sakit perut, yang kasus itu ada riwayat perjalanan / atau kontak dengan orang yang datang dari Jerman Utara. Kasus ini harus segera berobat kesarana kesehatan.
Selanjutnya WHO merekomendasikan "WHO 5 key to safer food" -lima kunci untuk penanganan makanan yang aman- sebagai cara mengelola makanan dengan baik untuk menghindari infeksi saluran cerna termasuk EHEC ini, yaitu sebagai berikut:
a. Menjaga kebersihan bahan makanan
b. Memisahkan makanan mentah dengan makanan matang
c.Memasak hingga benar-benar matang
d. Menyimpan makanan pada suhu yang aman
e. Mencuci bahan baku makanan dengan air bersih
Sumber : detiknews.com
di
14:40
Diposkan oleh
IBS
Kolom Pak Dirjen P2PL : Bakteri E. coli Sebagian Besar Tak Berbahaya
Media massa di hari- hari ini memuat berita penyakit akibat bakteri Escherichia coli (E. coli). Bakteri ini dapat ditemui di usus manusia dan binatang berdarah panas. Sebagian besar strainnya tidaklah berbahaya, tetapi strain tertentu "enterohaemorrhagic E. coli (EHEC)" akan dapat menimbulkan penyakit berbahaya dan mematikan, seperti yang terjadi di Eropa sekarang ini.
Gejala yang timbul dapat berupa sakit perut seperti keram dan diare yang pada sebagian kasus bahkan dapat mengeluarkan diare berdarah (haemorrhagic colitis). Juga dapat timbul demam dan muntah.
Masa inkubasi berkisar antara tiga sampai delapan hari, rata-rata empat hari. Sebagian besar pasien dapat sembuh dalam 10 hari, tapi pada keadaan khusus ( yang kini juga terjadi pada sebagiab kasus di Eropa) maka penyakit dapat berlanjut menjadi gawat dan berat, seperti keadaan yang disebut dengan haemolytic uraemic syndrome (HUS).
HUS ini ditandai dengan kegalalan ginjal akut, anemia dan kekurangan trombosit ( acute renal failure, haemolytic anaemia and thrombocytopenia ) dan juga gangguan neurologis sampai stroke dan koma. Diperkirakan sampai sekitar 10 % pasien yang terinfeksi EHEC akan berlanjut menjadi HUS yang angka kematiannya berkisar antara 3 - 5 persen.
Peningkatan kasus mulai terjadi di Jerman pada pertengahan Mei 2011. Sampai 2 Juni 2011 Jerman menemukan 520 kasus haemolytic uraemic syndrome (HUS) (11 fatal) dan 1213 kasus "enterohaemorrhagic Escherichia coli" (EHEC) (6 fatal), artinya di Jerman totalnya ada 1733 kasus dan 17 kematian . Selain Jerman maka ada 11 negara lain (jadi total 12 negara) yang menemukan kasus ini dinegara mereka, yaitu Austria (HUS 0, EHEC 2), Czech Republic (0, 1), Denmark (7, 10), France (0, 6), Netherlands (4, 4), Norway (0, 1), Spain (1, 0), Sweden (15, 28), Switzerland (0, 2), United Kingdom (3, 4) dan United States of America (2, 0).
Direktorat Jenderal P2PL Kementerian Kesehatan RI terus memantau perkembangan yang ada di Eropa ini bersama WHO dan menyampaikan informasi dan kewaspadaan ke jajaran kesehatan di tanah air.
Sumber : sehatnews.com.kolom-pak-dirjen-p2pl
di
09:27
Diposkan oleh
IBS
Saturday, June 4, 2011
Infeksi E Coli Juga Ditemukan di AS
KOMPAS.com — Kasus infeksi akibat strain bakteri E coli mematikan juga ditemukan di Amerika Serikat. Sebanyak tiga orang dilaporkan mengidap penyakit yang disebabkan bakteri yang menewaskan 18 orang di Eropa tersebut.
Keterangan dari pejabat Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan, ketiga pasien yang terserang strain E coli tersebut belum lama ini bepergian ke Jerman. Mereka saat ini sedang dirawat di rumah sakit akibat mengidap hemolytic uremic syndrome (HUS), gangguan ginjal mematikan akibat komplikasi bakteri E coli. Sampel darah ketiga pasien itu masih dalam pemeriksaan di laboratorium CDC Atlanta, Georgia.
"Kami mempertimbangkan mereka kemungkinan menjadi bagian dari wabah yang berkembang di Eropa," ungkap Dr Robert Tauxe, Deputi Direktur Division of Foodborne, Bacterial and Mycotic Diseases CDC.
Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejauh ini tercatat ada 499 kasus HUS akibat merebaknya wabah E coli di Eropa. Angka kejadian HUS ini adalah yang tertinggi yang pernah terjadi di dunia, menurut Centers for Disease Control and Prevention.
"Sebagai perbandingan, ada 120 kasus HUS dalam kejadian terbesar wabah E coli di Jepang pada 1996," lanjut Tauxe.
Hingga kini para ahli belum dapat menjelaskan mengapa banyak kasus HUS bermunculan akibat strain bakteri yang diperkirakan CDC adalah strain O104:H4. Tauxe memperkirakan, strain ini memproduksi lebih banyak toksin ketimbang jenis lainnya.
Para dokter di Eropa dan Amerika Serikat tidak pernah lagi memberikan antibiotika kepada pasien yang terinfeksi E coli, sejak sejumlah penelitian menunjukkan bahwa langkah itu justru memperburuk kondisi pasien.
"Tampaknya antibiotika membuat bakteri meledak, dan racun yang berada di dalamnya keluar dan menimbulkan kerusakan," kata Dr Buddy Creech, asisten profesor penyakit menular di Vanderbilt University School of Medicine.
Menurutnya, hingga kini belum ada pengobatan khusus untuk mengatasi keganasan bakteri tersebut.
"Yang bisa kita lakukan adalah memberikan pasien obat mengatasi rasa sakit atau menempatkan mereka pada ventilator atau dialisis jika mereka membutuhkannya. Kita tidak bisa menangani masalah yang sebenarnya. Kita hanya bisa menunggu tubuh pulih dengan sendirinya. Yang bisa dilakukan hanya memonitor pasien dan berharap yang terbaik," ujar Dr Robert Steele, dokter anak dari St John’s Children’s Hospital di Springfield, Missouri.
Sumber : health.kompas.com
di
09:21
Diposkan oleh
IBS
Eropa Diserang Bakteri E Coli Mematikan
BERLIN - Bakteri E Coli saat ini terus mewabah di Eropa. Lebih dari 1.600 orang dikabarkan terinfeksi oleh bakteri ini, sebelumnya 18 dikabarkan tewas akibat bakteri ini. Jerman dianggap sebagai pusat dari bakteri ini.
Sumber :international.okezone.com
di
08:26
Diposkan oleh
IBS








