SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Tuesday, June 1, 2010

PENYAKIT YANG BARU MUNCUL ANCAMAN MASA MENDATANG

Penyakit menular yang baru muncul (PMBM) atau emerging infectious diseases (EID), mempunyai potensi menimbulkan wabah, kerugian ekonomi dan kekacauan sosial yang hebat. Ancaman tersebut sekitar 70% berasal dari penyakit hewan seperti SARS, NIPAH, Flu Burung dan lain-lain. Hal ini diperberat karena bangsa Indonesia, juga menghadapi penyakit menular bersumber binatang lainnya seperti Malaria, Demam berdarah, Filariasis (kaki gajah), Rabies dan penyakit menular langsung seperti Diare, Kecacingan, Kusta dll.

Hal itu disampaikan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH ketika membuka Rakernas Gerakan Nasional Peternak Sehat Ternak Sehat (PSTS) yang diselenggarakan Himpunan Masyarakat Peternak Unggas Lokal Indonesia ( HIMPULI), di Bogor (25/5). Raker diikuti sekitar 200 anggota HIMPULI dan dihadiri Menteri Pertanian, Ir. H. Suswono, MMA.


Menurut Menkes, Kesehatan merupakan hak azasi setiap insan Indonesia dan pemenuhannya merupakan tanggung jawab negara untuk mencapai masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan, yang pelaksanaannya dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh unsur masyarakat.

“Seluruh masyarakat termasuk peternak unggas, perlu dilindungi dari berbagai penyakit terutama penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pandemi. Demikian pula kecelakaan di tempat kerja yang dapat timbul akibat proses kerja, alat kerja, lingkungan kerja, cara kerja yang tidak aman dan gaya hidup yang tidak sehat”, ujar Menkes.

Oleh karena itu upaya pelayanan kesehatan masyarakat, upaya penyehatan lingkungan yang telah ada di masyarakat dan upaya kesehatan terhadap ternak masyarakat yang merupakan sumber pendapatan keluarga dan ketahanan keluarga perlu dipadukan dan didorong dengan pendekatan upaya pemberdayaan masyarakat (self reliance approach), kata dr. Endang Rahayu.

Menurut Menkes, pengembangan Desa Siaga dengan kegiatan “Peternak Sehat Ternak Sehat” merupakan model upaya strategis terobosan kegiatan keterpaduan kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan dan kesehatan ternak di Desa sesuai dengan kebutuhan masyakat melalui pendekatan pemberdayaan masyakat dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat dan bantuan pemerintah.

Berkaitan dengan hal itu, Menkes menyambut baik Gerakan Peternak Sehat Ternak Sehat (GPSTS) yang merupakan kerja sama antara Kementerian Kesehatan, Kemeterian Pertanian dan HIMPULI serta sektor lainnya. ”GPSTS merupakan terobosan baru yang harus terus diperluas cakupannya ke seluruh Indonesia. Gerakan ini juga merupakan pelaksanaan konsep Satu Kesehatan untuk Indonesia sebagai bagian dari One World One Health “, ujar Menkes.

Tujuan Gerakan Nasional Peternak Sehat Ternak Sehat yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatnya produktivitas ternak. Dengan tujuan khusus mewujudkan peternakan unggas yang sehat sesuai dengan cara beternak unggas yang baik (Good Farming Practices/GFP) dan memenuhi syarat kesehatan masyarakat. Juga mewujudkan lingkungan pemukiman yang sehat, serta terselenggaranya penanganan produk hewan yang higienis.

Menurut Menkes, PSTS merupakan gerakan promosi kesehatan, kebersihan perorangan dan PHBS; deteksi dini dan respon cepat pada penyakit yang dapat menimbulkan wabah; pemberdayaan masyarakat peternak di bidang kesehatan dan UKBM; penyehatan lingkungan serta penyelamatan aspek biologis (Biosafety) dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatnya produktivitas ternak.

Menkes menyebutkan, dari 231,83 juta jiwa penduduk Indonesia (BPS, 2009), 45.24% (104,87 juta jiwa) adalah pekerja. Sebagian besar bekerja di sektor pertanian (46%), perdagangan (19%), industri (12%) dan lain lain. Sektor pertanian terdiri dari petani, nelayan, peternak dan sebagainya. Pekerja yang bergerak disektor peternakan unggas (ayam, itik dan lain-lain) menca pai 5 juta terdiri dari peternak unggas formal dan non formal yang tersebar di desa-desa.

“Kita ketahui, unggas air termasuk itik/bebek merupakan “carrier” dan sumber penularan Flu Burung pada unggas dan manusia,” terang Menkes.

Menurut hasil penyelidikan epidemiologi, faktor risiko penularan flu burung kepada manusia 47,% disebabkan karena kontak langsung dengan unggas mati mendadak. 41% karena kontak dengan lingkungan tercemar. 2% disebabkan karena pupuk dan 10 % belum diketahui. Hal ini disebabkan karena kurang pengetahuan, kesadaran masyarakat dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), adanya pemeliharaan unggas yang dilepas dihalaman rumah (back yard farming) atau pengandangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti kandang di dalam rumah, menempel pada rumah atau dilingkungan pemukiman masyarakat.

Di dunia saat ini, selain beredar virus influenza musiman, bersirkulasi pula virus Influenza A Baru (H1N1) yang pernah menimbulkan pandemi tahun 2009 dan virus H5N1 yang terdapat di Mesir, China, Vietnam dan Indonesia.

“WHO dan masyarakat dunia mengkhawatirkan kemungkinan lahirnya virus influenza baru dari hasil perubahan genetik maupun melalui percampuran genetik dari 2 virus atau lebih (reassortment). Virus ini kemungkinan dapat menimbulkan wabah di banyak negara di dunia (pandemi),” papar Menkes.

Sumber : www.depkes.go.id

Friday, May 21, 2010

Ratusan Mikroba Tubuh Diidentifikasi

Kompas.com - Para ilmuwan berhasil melakukan pengkodean (decode) 178 jenis mikroba yang hidup di dalam tubuh manusia. Seperti diketahui, tubuh kita merupakan "rumah" bagi jutaan jenis mikroba. Dalam saluran cerna saja terdapat bakteri yang jumlahnya 100 kali lebih banyak di banding organisme di bagian tubuh lain.
Identifikasi terhadap mikoorganisme dalam tubuh merupakan langkah awal untuk mengetahui bagaimana populasi bakteri yang tinggal di kulit, mulut, pencernaan, bisa menyebabkan penyakit. Para ilmuwan berencana untuk mengidentifikasi genome 900 bakteri dan virus.
Hasil riset ini disebut sebagai "referensi perpustakaan" untuk mengurai berbagai hal yang belum terungkap, mengingat ada banyak flora dalam tubuh yang belum diidentifikasi. Sebagian jenis mikroba berperan penting untuk tubuh, seperti membantu proses pencernaan dan sistem imun. Namun, tak sedikit yang menyebabkan penyakit.
Proyek penelitian yang dilakukan selama lima tahun ini bertujuan memetakan jenis mikroba, gen, dan kerja mereka di tubuh. "Kami akan melanjutkan studi ini untuk mengetahui secara spesifik dampak mikroba terhadap penyakit," kata Dr.Karen Nelson, dari US Venter Institute, salah satu peneliti.
Para ahli menanggapi positif hasil riset ini. "Sel-sel mikroba ini jumlahnya melebih sel kita dengan perbandingan 10 banding 1, dan mereka memiliki jumlah gen 100 kali lebih banyak. Karena itu dengan memahami mikroba ini dalam level genetik, kita bisa mengumpulkan referensi karena mereka berpengaruh pada berbagai aspek kesehatan," kata Dr Julian Parkhil, peneliti dari Inggris.

Friday, May 14, 2010

WHO Ingatkan Hati-hati ke Afrika Selatan

Jenewa (ANTARA News) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu 12/5/2010, menyarankan para pelancong ke Afrika Selatan agar berhati-hati terhadap gigitan serangga dan kontak dengan daging mentah, setelah wabah demam Lembah Rift menewaskan 18 orang.
"WHO tak menyatakan pembatasan perjalanan internasional ke atau dari Afrika Selatan," kata lembaga itu di dalam satu pernyataan yang disiarkan di jejaringnya seperti dilaporkan AFP."Namun, WHO menyarankan pelancong ke Afrika Selatan, terutama mereka yang bermaksud mengunjungi pertanian dan/atau tempat pertandingan, menghindari kontak dengan darah atau jaringan hewan, menghindari meminum air yang belum dimasak atau memakan daging yang belum dimasak atau memakan daging mentah," katanya.
"Semua pelancong melalui udara mesti melakukan tindakan pencegahan terhadap gigitan nyamuk dan serangan lain penghisap darah," katanya.
Demam Lembah Rift (RVF) adalah penyakit virus pada hewan ternak seperti sapi, kambing dan unta, tapi juga dapat menyerang manusia melalui kontak langsung dan tak langsung dengan organ atau darah hewan yang tertular."Penularan pada manusia juga bisa disebabkan oleh gigitan nyamuk yang tertular," kata WHO.
Saran perjalanan tersebut disiarkan hanya beberapa pekan sebelum pertandingan sepak bola Piala Dunia, ketika ribuan pendukung klub sepak bola diperkirakan mengunjungi Afrika Selatan.
Kebanyakan kasus penyakit itu pada manusia, yang lazim terjadi di Afrika utara dan timur, ringan, demikian catatan WHO. Tetapi kasus tersebut telah mematikan pada rata-rata kurang dari satu persen kasus, dengan suatu bentuk pendarahan yang lebih parah.
Pernyataan tersebut mengatakan pemerintah Afrika Selatan telah mengkonfirmasi 186 kasus demam virus itu pada manusia sampai 10 Mei, termasuk 18 kematian, di lima provinsi: Free State, Eastern, Western dan Northern Cape, serta North West Province.
Belum ada penjelasan kapan wabah itu mulai terjadi.WHO menyatakan dugaan kasus pertama pada seorang wisatawan Jerman, yang jatuh sakit pada 7 April, setelah ia mengunjungi tempat pertaningan dan daerah pedesaan, telah dikesampingkan oleh pemeriksaan laboratorium.
"Profesional medis perjalanan dan layanan medis perjalanan mesti menyadari situasi RVF saat ini di Afrika Selatan agar dapat memberi saran dan perawatan yang sesuai," kata badan kesehatan PBB itu.
Sumber : http://m.antaranews.com

Tuesday, May 11, 2010

Harapan Baru Pengembangan Vaksin AIDS

Senin, 10 Mei 2010 10:42 WIB


NEWYORK, KOMPAS.com - Para ilmuwan di Amerika Serikat mengklaim bahwa mereka telah mulai memahami suatu mekanisme perlindungan alami yang dimiliki tubuh seseorang terhadap HIV. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini menjadi kabar baik, karena dapat memberi petunjuk baru bagi terciptanya sejenis vaksin AIDS yang efektif di masa depan.
Menurut hasil riset, ada beberapa individu yang tubuhnya menunjukkan respon sangat lambat ketika terinfeksi sehingga membuat sel-sel darah putihnya lebih tangguh dalah melawan virus. Temuan ini berkaitan dengan elite controller yakni sekelompok pasien yang terinfeksi HIV, tetapi perkembangan penyakitnya hingga menjadi AIDS sangat lambat, atau bahkan tidak mengidapnya sama sekali.
Pada akhir 1990-an, terungkap bahwa para pasien ini - sekitar satu dari 200 orang terinfeksi HIV - memiliki gen yang spesifik yang disebut HLA B57. Para ahli dipimpin oleh Professor Arup Chakraborty dan Professor Bruce Walker, menemukan bahwa gen ini menyebabkan tubuh menghasilkan sel-sel T potensial - sejenis sel darah putih yang dapat melawan infeksi.
Sel ini bukan hanya membantu pasien dalam menghambat perkembangan virus, tetapi juga membuat rentan terhadap penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh dapat menjadi aktif dengan sendirinya. Para peneliti dari MIT dan Harvard ini yakin, vaksin ini akan terwujud dalam satu satu dekade mendatang.

Monday, May 3, 2010

Virus Purba yang Terjebak Dalam Es

New York, Pernahkah terpikir kenapa pemanasan global membuat banyak penyakit kian bermunculan? Salah satu yang ditemukan peneliti adalah karena virus purba yang terjebak dalam es yang ada di kutub selama jutaan tahun mulai bergerak setelah es mencair.
Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Bowling Green State University, Syracuse University dan State University of New York yang dilakukan pada tahun 2004 memunculkan dugaan baru efek dari mencairnya es di kutub atau gletser.Seperti dilansir dari MedicalHypotheses, Minggu (2/5/2010) peneliti menduga virus yang terjebak di gunung-gunung es, kutub atau gletser selama jutaan tahun bisa mencair jika pemanasan global berlanjut.
Virus purba itu awet di dalam es karena proses pembekuan meningkatkan daya tahannya. Setidaknya ada seratus triliun mikroorganisme berupa bakteri, virus, jamur dan mikroba yang terperangkap di gunung-gunung es. Virus polio, influenza, cacar dan calcivirus (virus yang bikin diare) adalah virus-virus yan bisa bertahan lama dalam es.
Profesor William T Stamer yang merupakan salah satu tim peneliti dari Syracuse University mengatakan mikroorganisme bergerak melalui angin. Mikroba dapat keluar dari atmosfer atau masuk ke dalam kabut, hujan es atau salju yang kemudian bisa jatuh ke dalam danau, sungai, lautan, tanah atau gletser. Ketika mikroba itu masuk ke dalam lingkungan es seperti gletser atau daerah bersalju, mikroba mampu bertahan dalam pembekuan selama jutaan tahun.
Begitu terjadi lelehan es, virus purba ini akan terbebas dan bergerak mengikuti aliran air es tersebut. Yang ditakutkan peneliti, saat virus purba ini bertemu dengan virus yang hidup di zaman moderen akan mengalami mutasi atau genom daur ulang.
Seperti contoh virus influenza yang merebak beberapa tahun belakangan ternyata sudah ada sejak lama. Kasus merebaknya virus flu H1N1 (flu babi) ditemukan tahun 1918 yang mengakibatkan kematian hingga jutaan orang."Hilangnya virus influenza kemudian muncul lagi membuat dugaan virus itu bertahan hidup di dalam es yang menunggu pembebasan ketika es mencair lalu timbul lagi," kata Profesor William T Stamer.
Namun penelitian tersebut masih perlu pembuktian lebih lanjut. Seperti dikatakan ahli virus David Onions dari Glasgow University yang dilansir dari Independent. David ragu virus purba yang lama terkubur masih memiliki vitalitas atau kemampuan yang kuat dan berbahaya.
"Beberapa kelompok virus memang bisa bertahan lama dalam es, tapi apakah virus itu akan menular atau berbahaya itu pertanyaan lain," kata David.
Yang jelas peneliti mengingatkan dampak pemanasan global yang membuat es-es mencair memang menjadi ancaman bagi kehidupan manusia.

Friday, April 30, 2010

7TH INTERNATIONAL MINISTERIAL CONFERENCE DI HANOI BAHAS KESEHATAN MANUSIA, HEWAN DAN LINGKUNGAN

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama mewakili Menteri Kesehatan menghadiri pertemuan 7th International Ministerial Conference on “Animal and Pandemic Influenza: The Way Forward”, di Hanoi, Vietnam tanggal 20-21 April 2010. Pertemuan dibuka Deputi Perdana Menteri Vietnam. Dari Asean, selain dari Indonesia juga hadir Menteri Kesehatan Vietnam, Brunei, Laos dan Myanmar. Delegasi RI (Delri) terdiri dari Kementerian Kesehatan diwakili Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dirjen Peternakan dan Deputi 3 Menko Kesra.

Saat pra pertemuan teknis pejabat tinggi, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian menyampaikan presentasi mewakili delegasi RI. Pertemuan ini antara lain membahas pengalaman Indonesia dalam menanggulangi penyakit Flu Burung (H5N1) berguna bagi penanganan berbagai penyakit/ pandemic yang akan datang. Momentum ini perlu terus dijaga, demikian juga political commitment dan pendanaan. Juga pentingnya kerjasama intersektoral, keterlibatan sektor swasta dan kerjasama antar negara serta penggunaan istilah One Health sebagai pengganti One World One Health (OWOH) yang meliputi 3 sektor yaitu Human Health, Animal Health and Environmental Health.

Di sela-sela pertemuan, dr. Thandra Yoga Aditama melakukan pertemuan dengan CAREID –Canada untuk menjajagi kemungkinan kerjasama dalam bentuk pendampingan teknis dan pelatihan di bidang surveilans dan outbreak response, kesiapan menghadapi pandemic dan jejaring kerja laboratorium. Kegiatan ini dilakukan di lima Negara Asean yaitu Indonesia, Laos, Kamboja, Vietnam dan Filipina.

Menurut dr. Tjandra Yoga, pembicaran lebih lanjut dengan CAREID-Canada akan dilanjutkan di Kedutaan Besar Canada di Jakarta, meliputi aspek kerjasamadan materi yang mungkin dicakup oleh Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemkes RI.

Sumber : www.depkes.go.id

Wednesday, April 28, 2010

Setahun Epidemi H1N1 : Pelajaran Berharga dari Flu Babi

Setahun lalu, dunia dihebohkan dengan epidemi virus H1N1 atau yang lebih dikenal dengan flu babi. Setahun perjalanannya, apakah dunia mendapatkan pelajaran?

Setahun lalu, Kepala Pengawasan Flu di Pusat Kendali dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Lyn Finelli, mengumpulkan timnya dan mengatakan agar mereka bersiap menghadapi yang terburuk.

Finelly berkata, epidemi flu sedang terbentuk yang disebabkan oleh virus yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya. Ia menyebutkan, petugas kesehatan di Meksiko sudah mulai tertular.

“Kami semua ketakutan, karena mengetahui dengan pasti seperti apa dampak virus mematikan lainnya seperti SARS dan Ebola. Ketika petugas kesehatan juga jatuh sakit, maka kita akan tahu seperti apa penularan dan berbahanya sebuah virus,” paparnya, kemarin.

Setahun berlalu, sejak para ahli melacak keberadaan virus H1N1. Penyakit ini sudah mencapai titik tertingginya dan telah turun sejak itu. CDC dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengatasinya, sejak mulai menyebar dari Meksiko, ke Amerika dan bahkan menyebrang ke Eropa.

“Rencana dan persiapan memang sempurna, hingga virus memodifikasi dirinya dan beradaptasi dengan kondisi baru,” kata plt Direkrut CDC Richard Besser. Hal ini diamini Kepala Persiapan Flu CDC, Stephen Redd, yang mencontohkan penyebaran flu burung (H5N1).

Virus itu terbentuk pertama di Hong Kong pada 1997. Kemudian menyebar melalui burung ke Mesir, Indonesia dan Vietnam. Pandemi H1N1 berasal dari babi dan tak ada yang mengetahui secara persis bagaimana terbentuknya, serta secara cepat menyebar dari manusia ke manusia di Meksiko.

H1N1 sekian lama menyebar dari babi ke babi, namun berevolusi selama 10 tahun hingga akhirnya menjangkiti seorang yang dekat dengan peternakan babi di negara itu. Tak ada yang tahu bagaimana evolusi virus itu terjadi, maupun lokasinya.

WHO sempat menaikkan status kewaspadaan virus H1N1 ke level 5 atau setingkat di bawah level tertinggi (epidemi). Flu babi langsung menjadi sebuah berita besar.

Hingga Selasa (27/4), berdasarkan penghitungan situs flucount.org, terdapat 1.483.520 kasus H1N1 dengan 25.174 kematian. Negara yang paling banyak mencatatkan kasus flu babi adalah Jerman dengan 222.006 kasus. Kemudian Portugal, 166.922 kasus dan China, 120.940 kasus.

Lalu apakah dunia sudah belajar dari kasus H1N1 sepanjang tahun lalu? Ada beberapa yang bisa dipetik. Seperti penggunaan warning yang harus lebih diwaspadai lagi.

Jika tidak tepat sasaran, malah menebarkan kepanikan ke seluruh dunia yang sama sekali tak ada gunanya. Keputusan WHO bisa dibilang sedikit berlebihan, meski tujuannya untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Namun begitu, ada baiknya bereaksi berlebihan ketimbang kurang siaga. Seperti para ahli yang menyadari sifat virus yang sulit ditebak, mereka langsung mempersiapkan vaksin H1N1. Sehingga potensi mematikan pada virus itu berkurang.

Demikian pula sikap pemerintah yang agak sedikit pelit terhadap vaksin. Ketika rakyat yang panik menjerit minta vaksin kepada pemerintah, tak ada yang memperolehnya jika tak benar-benar terdesak. Hal ini sangat baik untuk manajemen stok dan mengendalikan rakyat.

Merebaknya flu babi juga membuat masyarakat waspada dengan perawatan binatang yang menjadi asal-usulnya. Manfaatnya terlihat, karena jumlah virus yang berkembang biak juga menurun.

Terpenting, semua menyadari bahwa pemerintah tak bisa melakukan ini sendiri. Peran serta rakyat sangat penting untuk mencegah terjadinya pandemi. Terutama di masa seperti ini, ketika musim panas tiba dan siklus flu segera dimulai. [mdr]

Sumber : INILAH.COM

Malaria Jadi Ancaman Terbesar Bagi Masyarakat Indonesia

Gorontalo (ANTARA News) - Penyakit malaria menjadi ancaman terbesar bagi masyarakat yang ada di negara-negara tropis termasuk Indonesia.
Dalam sambutannya yang disampaikan oleh Wali kota Gorontalo, Adhan Dambea, Menteri kesehatan mengatakan, ancaman malaria sangat berpengaruh pada tingginya angka kesakitan dan bahkan kematian bayi, anak balita, ibu hamil.
"Menurut laporan dari WHO, penderita malaria di dunia yang tercatat sampai dengan tahun 2007 berjumlah 500 juta, dan yang meninggal tercatat sebanyak 1 juta penduduk, data ini menunjukkan kepada kita bahwa malaria merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat," ujarnya, Selasa.
Dia menjelaskan, penyakit malaria adalah suatu penyakit menular yang banyak diderita oleh penduduk di daerah tropis dan subtropis. Penyakit tersebut semula banyak ditemukan di daerah rawa-rawa dan dikira disebabkan oleh udara rawa yang buruk.
"Penularan penyakit malaria dari orang yang sakit kepada orang sehat, sebagian besar melalui gigitan nyamuk. Bibit penyakit malaria dalam darah manusia dapat terhisap oleh nyamuk, berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, dan ditularkan kembali kepada orang sehat yang digigit nyamuk tersebut," jelasnya.
Dia menambahkan, pada tanggal 25 April 2007 silam, seluruh anggota WHO menyatakan komitmennya untuk memberantas malaria sampai titik eliminasi."Oleh karena itu, tanggal tersebut dijadikan tonggak sejarah, dan ditetapkan sebagai hari peringatan malaria sedunia," tambahnya.
Dia menghimbau kepada semua pelaku pembangunan harus mendukung dan berperan aktif. Serta peran masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatan, merupakan unsur penting yang selalu harus dilibatkan dalam eliminasi malaria.
http://www.antaranews.com/berita/1272405005/malaria-jadi-ancaman-terbesar-bagi-masyarakat-indonesia

Benarkah Virus Demam Berdarah Bermutasi?

Jakarta, 27/4/2010

Belakangan ini muncul kabar-kabar lewat email dan SMS yang menyebutkan penyakit Demam berdarah dengue (DBD) mengalami mutasi yang ditandai dengan tidak munculnya gejala-gejala seperti biasa. Benarkah virus DBD bermutasi? Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengeu yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Virus dengeu memiliki empat serotype (klasifikasi virus), yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Keempat serotype dengue ditemukan di Indonesia, DENV-2 dan DENV-3 merupakan serotype yang dominan.
"Virus memang memiliki kemungkinan bermutasi, biasanya yang paling sering adalah virus influenza. Tapi untuk mengetahui mutasi virus dengeu, perlu juga dilihat dari genotype-nya," ujar Dr Tri Yunus Miko, M.Sc yang juga dosen epidemologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia saat dihubungi detikHealth, Selasa (27/4/2010).
Sayangnya, menurut Dr Tri, kurangnya penelitian mengenai genotype di Indonesia membuat publik kekurangan informasi dan belum bisa menentukan apakah virus itu benar-benar bermutasi.
Dr Tri sendiri hanya menanggapi enteng isu yang menyebutkan bahwa mutasi virus DBD tidak menampakkan gejala umum DB, yaitu tidak ada demam tinggi, tidak ada bintik-bintik merah, penderita hanya merasa sedikit meriang dan batuk-batuk, sehingga hampir tiap penderita menganggapnya sebagai flu biasa.
Menurutnya, gejala-gejala seperti itu adalah gejala yang disebabkan oleh virus dengeu DENV-1, dan bukan karena virus tersebut mengalami mutasi. Penderita DBD mengalami gejala seperti timbulnya bintik-bintik merah atau demam tinggi adalah karena orang tersebut terinfeksi ulang virus dengeu dengan seritype yang berbeda.
Komplikasi DBD;
Nah, untuk kasus-kasus tertentu, DBD bisa sangat mematikan bahkan dengan waktu yang sangat singkat. Misalnya DBD yang menyerang penderita diabetes atau ginjal."Pada kondisi tertentu demam berdarah bisa tidak tertolong lagi seperti mengalami pendarahan yang banyak, trombosit semakin turun serta mengalami shock (pembuluh darah yang mengempes)," ujar dr Kasim Rasjidi, SpPD-KKV, DTM&H, MCMT, MHA, SpJP, FIHA saat dihubungi detikHealth.
dr Kasim menuturkan jika pasien memiliki penyakit diabetes maka kondisinya bisa memburuk saat terkena DBD. Karena tubuh penderita diabetes sudah terinfeksi maka ketika terkena DBD akan memicu gula darah meningkat.Akibatnya cairan dalam tubuh bisa tertarik keluar sehingga tubuh semakin kekurangan cairan. Cairan dalam tubuh yang semakin menurun bisa mengakibatkan turunnya jumlah trombosit.
Maka itu dia menyarankan jika seseorang sudah merasa badannya tidak enak sebaiknya segera minum air putih yang banyak usahakan 2 liter air per hari yang harus dikonsumsi terpenuhi.Bagi orang yang memiliki riwayat penyakit diabetes atau ginjal, sebaiknya asupan air lebih banyak dibandingkan dengan orang yang normal. Karena jumlah cairan yang terpenuhi dapat mencegah terjadinya penurunan trombosit serta bisa dijadikan sebagai pertolongan pertama.
DBD yang menyerang penderita diabetes atau ginjal memang akan jauh lebih buruk dibandingkan dengan DBD yang menyerang orang normal. Hal inilah yang mungkin memicu adanya isu bahwa virus yang menyebab DBD telah mengalami mutasi, karena masa inkubasinya lebih cepat daripada DBD pada umumnya.

Tuesday, March 30, 2010

Hari Kesehatan Sedunia Bertema "Urbanisasi dan Kesehatan"

Jakarta (ANTARA News) - Hari Kesehatan Sedunia (HKS) yang diperingati setiap tanggal 7 April akan bertemakan "Urbanisasi dan Kesehatan" karena urbanisasi sangat besar pengaruhnya baik terhadap kesehatan global maupun kesehatan individu.
Siaran pers Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa, menyebutkan, di Indonesia tema ini akan disubtemakan menjadi "Kota Sehat, Warga Sehat" dengan slogan "1.000 Kota, 1.000 Kehidupan".
Sub Tema "Kota Sehat, Warga Sehat" dipilih karena kebijakan kota sehat telah berjalan di Indonesia, tetapi masih ditemukan kendala yaitu penyediaan air minum dan sanitasi lingkungan. Untuk mengatasinya, diperlukan komitmen dari semua pemangku kepentingan dan komponen masyarakat untuk mewujudkan kota sehat yang sekaligus berdampak pada peningkatan kesehatan warganya.
Slogan 1.000 Kota mempunyai makna suatu ajakan atau motivasi agar lebih dari 1.000 kota berikut pimpinan/penentu kebijakan berpartisipasi dalam kegiatan peringatan HKS ke-62. Sedangkan 1.000 Kehidupan mempunyai makna adanya penggerak/pahlawan yang melakukan aktivitas meningkatkan kesehatan di lingkungan kehidupannya.
Peringatan HKS ke-62 di Indonesia di tingkat Nasional, acara puncaknya akan diselenggarakan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, yang akan dihadiri antara lain oleh para menteri dan perwakilan WHO.
Sementara di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota peringatan HKS ke-62 diperingati dengan berbagai kegiatan, misalnya pemberlakuan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor di jalan-jalan utama, perluasan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah, pelayanan kesehatan, tempat kerja dan tempat umum lainnya seperti restoran dan tempat ibadah.

Pembentukan Komnas Zoonosis Disepakati

JAKARTA--MI: Dalam Rakor yang membahas tindak lanjut Komnas Flu Burung dan Pengendalian Influenza (FBPI), Selasa (23/3), Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono beserta peserta rapat lainnya menyetujui adanya pembentukan Komnas Zoonosis untuk memperluas kerja Komnas FBPI yang masa tugasnya berakhir beberapa waktu lalu.
"Saya setuju jika ini diteruskan, dan semua juga menyepakatinya. Penyakit-penyakit yang berasal dari binatang seperti unggas, tikus, dan kelelawar sangat berbahaya, apalagi jika sudah menyangkut manusia. Komnas Zoonosis menangani masalah yang berkaitan dengan penyakit-penyakit yang berasal dari binatang, baik antar binatang maupun dari binatang ke manusia," ujar Agung Laksono.
Komnas Zoonosis yang nantinya akan diketuai oleh Menko Kesra bertugas melakukan pengendalian yang bersifat kordinasi. Misalnya, ada bencana yang berkaitan dengan zoonosis, maka Komnas Zoonosis yang akan bergerak. Selain itu, Komnas Zoonosis juga bertugas untuk melakukan pencegahan, pengendalian dan promosi.
"Melalui promosi, kita bisa memberikan informasi mengenai bagaimana cara mencegah penyakit zoonosis, misalnya saja dengan mencuci tangan sebelum makan dan bagaimana cara hidup sehat," tambah Agung. Komnas Zoonosis penting dibentuk sebagai usaha untuk mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh zoonosis.
Hal ini juga diungkapkan oleh Ketua Pelaksana FBPI Bayu Krisna Mukti. "Kuncinya adalah pengendalian dan pencegahan. Untuk pencegahan, masyarakat harus memiliki pengetahuan yang cukup, paling tidak mereka tahu bagaimana cara menjaga kebersihan," kata Bayu.
Menurutnya, dampak dari penyakit yang berasal dari hewan unggas, tikus, dan kelelawar tidak hanya pada kesehatan dan kematian, tetapi juga pada perekonomian dan pertanian. "Seperti kasus rabies di Bali, itu memengaruhi jumlah wisatawan yang datang ke Bali," ujarnya.
Sumber :http://www.mediaindonesia.com/read/

TBC Tewaskan 1,3 Juta Jiwa per Tahun

JAKARTA--MI: Pemerintah Indonesia bersama US Agency for International Development (USAID) bergabung bersama mitra lokal dan internasional, Rabu (24/3), memperingati Hari TBC Sedunia.
Di seluruh dunia, menurut siaran pers Kedubes AS, di Jakarta, Rabu, kematian yang diakibatkan oleh penyakit tuberculosis (TBC) telah menurun sejak 1990. Tapi, penyakit ini masih terus menelan korban lebih dari 1,3 juta nyawa setiap tahunnya.
Tahun 2010, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) menjadikan inovasi sebagai tema global dalam memperingati Hari TBC Sedunia. Tema ini mengajak perlunya memanfaatkan ide-ide dan metode baru untuk melanjutkan perang melawan TBC secara efektif.
"Meskipun pengobatan telah hadir lebih dari setengah abad lalu, TBC tetap menjadi salah satu dari penyebab penderitaan manusia dan terus mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan puluhan ribu warga Indonesia," kata Direktur USAID Indonesia Walter North.
Indonesia berada di urutan ketiga di dunia dengan 535.000 kasus TBC. Sejak tahun 2000, program pengendalian TBC di Indonesia telah berhasil mencapai target global mengidentifikasi dan merawat setidaknya 70 persen dari jumlah kasus yang diperkirakan.
Pada saat itu, USAID telah memberikan bantuan sebesar US$1 miliar untuk program-progam TBC di seluruh dunia. Pemerintah AS berkomitmen untuk berkerja sama dengan Indonesia untuk memerangi penyakit menular ini.
Di Indonesia, USAID mendukung program TBCAP (Tuberculosis Control Assistance Program) yang memfokuskan diri untuk melakukan diagnosa, perawatan, serta peringatan tentang kasus-kasus TBC secara tepat dan dini sesuai dengan garis-garis besar nasional dan rekomendasi WHO.
Program tersebut memperkuat komitmen dalam pengendalian TBC dan menjamin pengoperasian lokal yang berkelanjutan dari program nasional tersebut dengan cara melibatkan penyedia-penyedia pelayanan kesehatan serta peningkatan pada pelayanan dari klinik-klinik dan laboratorium-laboratorium TBC.

Thursday, March 18, 2010

Peningkatan Suhu Udara Picu Sebaran Penyakit Tropis

YOGYAKARTA--MI: Peningkatan suhu udara dunia berperan dalam penyebaran penyakit tropis dan vektor penyakit seperti diare, kaki gajah (filaria), lepra, demam berdarah dengue, malaria, flu, tuberkulosis, hepatitis, dan penyakit jamur.
"Penyakit-penyakit itu dijumpai terutama di negara-negara miskin dan terpinggirkan," kata pakar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Abu Tholib di sela simposium Ilmu Kedokteran Molekuler Daerah Tropis di Yogyakarta, Rabu (17/3).
Ia mengatakan, tuberkulosis merupakan penyakit tropis yang masih tinggi angka kejadiannya di dalam negeri, bahkan tertinggi ketiga di dunia yang masih menjadi masalah bagi para pakar kesehatan. "Permasalahan itu di antaranya beberapa penyakit tuberkulosis resisten terhadap obat yang biasa digunakan selama ini. Tuberkulosis yang resisten itu muncul sudah cukup lama dan obatnya masih terbatas karena harganya cukup mahal," jelasnya.
Selain tuberkulosis, penyakit demam berdarah dengue juga masih menjadi ancaman kematian, karena dalam kurun 50 tahun terakhir belum ditemukan vaksinnya. Demam berdarah dengue cukup ruwet, semula menyerang anak-anak tetapi juga menyerang usia dewasa. "Demam berdarah dengue belum ada vaksin dan obatnya. Selama ini hanya diantisipasi shock-nya, sedangkan virusnya sendiri diatasi oleh tubuh pasien," katanya.
Ketua panitia simposium Tri Wibawa mengatakan, dalam 30 tahun terakhir tingkat kejadian kasus demam berdarah dengue meningkat hingga 50 kali lipat. Menurut dia, saat ini terdapat 1.400 macam obat yang terdaftar pada otoritas-otoritas obat dan kesehatan dunia. "Namun demikian, proporsi obat untuk penyakit tropis kurang dari satu persen dari jumlah seluruh obat yang ada di dunia," katanya.
Sumber: http://www.mediaindonesia.com

Thursday, March 11, 2010

Penyakit Zoonosis Kian Jadi Perhatian

ATLANTA, KOMPAS - Penyakit infeksi zoonosis semakin mendapat perhatian dunia. Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat, misalnya, belakangan memfokuskan berbagai penyelidikan mereka terhadap penyakit zoonosis atau penyakit infeksi yang menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Henry Walke selaku Kepala Program Kantor Koordinasi dan Pengembangan Kesehatan Dunia dan Kesehatan Masyarakat pada Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS mengatakan, Selasa (9/3/2010), sekitar 60 persen penyakit infeksi yang baru muncul merupakan penyakit zoonosis.

Dia mengatakan, penyakit zoonosis semakin menjadi ancaman, terutama di negara berpopulasi besar, beragam, dan mempunyai keragaman satwa, termasuk satwa liar.

Sejumlah faktor pemicu penularan penyakit, antara lain, adalah perubahan lingkungan hidup yang menyebabkan semakin dekat jarak hewan dengan manusia. Faktor lainnya ialah domestikasi hewan, termasuk untuk hewan eksotik. Akibatnya, penyakit yang tadinya berdiam di hewan berpindah ke manusia. Sejumlah kasus seperti terjadinya flu burung, rabies, dan ebola merupakan contoh yang menyebabkan berbagai masalah serius dan terjadi di sejumlah negara.

”Sebagian besar penyelidikan penyakit yang dilakukan CDC kemudian mengarah ke kasus zoonosis,” ujar Henry dalam kegiatan Crisis and Risk Emergency Communication di Atlanta, Selasa.

Untuk pengendalian berbagai penyakit tersebut dibutuhkan infrastruktur kesehatan publik yang baik, antara lain perangkat surveilans atau pemantauan penyakit. CDC sendiri memberikan bantuan teknis berdasarkan permintaan dari negara yang bersangkutan. Bantuan yang diberikan biasanya merupakan bantuan teknis dan tenaga ahli spesifik untuk penyakit tertentu.

Semakin giat

Direktur Global Disease Detection Operations Center CDC Ray Arthur mengatakan, program pendeteksian dan investigasi penyakit semakin giat dilakukan, terutama setelah munculnya kasus SARS di berbagai belahan dunia. Lewat pendeteksian itu, semakin banyak patogen baru yang ditemukan, yakni setidaknya lima patogen baru tahun 2003 hingga menjadi sekitar 30 patogen baru sampai dengan tahun 2008.

Director Division of Viral and Rickettsial Disease National Center for Zoonotic Vector-Borne and Enteric Disease CDC Steve Monroe mengatakan, patogen itu tidak selalu baru sama sekali. Dapat terjadi selama ini patogen sudah ada, tetapi tidak dikenali. Hal itu karena patogen terisolasi di tubuh hewan atau para penderitanya terpencil.

”Umumnya, patogen baru diketahui kemudian setelah terjadi peningkatan kasus di populasi,” ujarnya.

Untuk menemukan patogen baru tersebut, mereka membangun sistem, salah satunya ialah pengumpulan berita dari ribuan media di seluruh dunia. Media skrining tersebut menjadi peringatan awal adanya penyakit.

Jika kasus dinilai cukup signifikan, diturunkan tim guna menyelidiki kasus tersebut. CDC mempunyai sekitar 18 perwakilan di seluruh dunia. Di beberapa negara mereka sedang menyelidiki virus polio liar, HIV, dan flu burung (H5N1).

Ray menambahkan, tantangan dalam menangani penyakit-penyakit yang bersifat global, antara lain, adalah ketidakmampuan pihak berwenang di lokasi kejadian untuk mendeteksi dengan tepat. Selain itu, para pemimpin juga enggan melaporkan kasus yang dialaminya kepada komunitas global.

Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2010/03/11/08050189/Penyakit.Zoonosis.Kian.Jadi.Perhatian

Thursday, March 4, 2010

BPOM akan Terapkan Sistem Pengawasan Keamanan Pangan

JAKARTA--MI: Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) akan menerapkan sistem pengawasan keamanan pangan yang akan terintegrasi dengan sembilan negara ASEAN lainnya. Sistem ini akan dilakukan secara online melibatkan beberapa kementerian terkait.
Hal itu dikemukakan Kepala BPOM Kustantinah usai menjadi keynote speaker dalam seminar Food Safety yang digelar pemerintah Uni Eropa di Jakarta, Selasa (2/3). "Kita akan memberlakukan standar keamanan pangan internasional. Dalam sistem itu kita kasih warning, jika ditemukan sesuatu dalam produk makanan dari negara tertentu. Peringatan dari sistem ini akan diberikan secara G to G (government to government).
Nanti dia (pemerintah) yang action," paparnya kepada Media Indonesia. Instansi yang digandeng BPOM cukup banyak, antara lain Kementerian Pertanian, Kementerian Perikanan dan Kelautan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan.
Standar keamanan pangan akan diidentifikasi mulai dari pembibitan di lahan pertanian maupun perkebunan, hingga produk itu dihidangkan di atas meja makan. Khususnya terhadap penggunaan zat kimia seperti boraks, formalin, dan zat pewarna. Negara di Asia Tenggara yang sudah siap menerapkan sistem keamanan pangan tersebut antara lain Vietnam, Malaysia dan Thailand.
Di Indonesia, menurut Kustantinah, sistem tersebut baru dikembangkan di tingkat internal BPOM. Nantinya setelah siap, sistem keamanan pangan itu akan dihubungan dengan sistem serupa di sembilan negara di kawasan Asia Tenggara, baru ke negara-negara lain.
"Targetnya kapan, belum tahu. Makin cepat lebih bagus," ucapnya. Terkait pengamanan pasar domestik setelah ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) direalisasikan per 1 Januari 2010, Kustantinah mengaku sistem tersebut belum siap. "Terkait ACFTA, kita tidak bisa men-develop semuanya dulu. Sistem pengawasan yang sekarang masih peringatan dini. Yang akan kita kembangkan ini kan sistem pengawasannya dengan 30 perwakilan kita di daerah," paparnya.
Sumber : www.mediaindonesia.com

Sunday, February 21, 2010

Prof. Tjandra Yoga Aditama Terpilih Menjadi Ketua Pertemuan Regional Ketiga International Health Regulations

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp(K), MARS, DTM&H, DTCE, Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan yang juga merupakan International Health Regulations (IHR) focal points for Indonesia terpilih menjadi ketua/chair person pada 3rd Regional Meeting of National IHR Focal Points tanggal (15/02/2010) di Dhaka, Bangladesh.

IHR merupakan instrumen hukum internasional yang mengikat 194 negara di seluruh dunia, termasuk semua negara anggota WHO. Tujuannya adalah untuk membantu masyarakat internasional mencegah dan merespon terhadap risiko kesehatan masyarakat akut yang memiliki potensi untuk melintas batas dan mengancam orang di seluruh dunia.

IHR yang mulai berlaku pada tanggal 15 Juni 2007, mensyaratkan negara-negara untuk melaporkan wabah penyakit tertentu dan peristiwa kesehatan publik ke WHO. Dibentuk berdasarkan pengalaman unik WHO dalam surveilans penyakit global, kewaspadaan dan tanggapan, IHR menentukan hak dan kewajiban negara-negara untuk melaporkan peristiwa kesehatan publik, dan menetapkan sejumlah prosedur yang harus diikuti WHO dalam bekerja untuk menegakkan keamanan kesehatan publik global .

Menurut Prof. Tjandra, IHR mengatur secara umum pencegahan penyebaran penyakit secara internasional. Pada 5 Juni 2007 IHR (2005) sudah diundangkan oleh WHO dan dalam waktu 5 tahun negara-negara dapat melakukan capacity strengthening untuk melaksanakannya.

Kegiatan dalam IHR antara lain dilakukan melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), dimana Indonesia memiliki 48 KKP dengan lebih dari 2000 pegawai. Kegiatan lainnya adalah surveiilans dan rapid response. Surveillans adalah pengamatan terus menerus tentang data berbagai penyakit menular yang telah dijalankan di Indonesia melalui District Surveillance Officer (DSO), disamping juga melalui sistem pencatatan dan pelaporan yang ada. Rapid response menunjukkan upaya yang dilakukan segera setelah ada dugaan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), antara lain dengan pengiriman Team Gerak Cepat – TGC (Rapid Response Team-RRT), baik dari kabupaten yang mungkin didukung oleh TGC provinsi dan bahkan TGC pemerintah pusat maupun organisasi internasional seperti WHO misalnya, ujar Prof. Tjandra

Selain itu, untuk peraturan perundang-undangan Indonesia memiliki UU Wabah 1984 dan sekarang sedang disiapkan draft terakhir UU Karantina. Untuk kerjasama dalam pelaksanaan IHR maka Kementerian Kesejatan bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertanian, Badan POM, Badan Pengawas Tenaga Nuklir dan lain-lain. Kegiatan penting lain dalam IHR meliputi pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis penyakit menular, kegiatan komunikasi rIsiko, pengorganisasian, pemberdayaan sumber daya manusia dan penganggaran, ujar Prof. Tjandra.

Sumber : www.depkes.go.id

Tuesday, February 9, 2010

Indonesia Terima Bantuan 3,5 Juta Dosin Vaksin H1N1

Selasa, 09 Februari 2010 16:40 WIB

JAKARTA--MI: Bantuan vaksin influenza A H1N1 dari lembaga kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), dipastikan bakal tiba pada tahun ini di Tanah Air. Diperkirakan, Indonesia akan menerima 3,5 juta dosis vaksin.
Jumlah itu dinilai terlalu sedikit jika dibandingkan dengan total populasi penduduk. "Bantuan sudah dalam proses berjalan. Mungkin bulan ini tiba. Saya kurang paham waktu pastinnya. Yang jelas, dalam waktu dekat di tahun ini," imbuh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Tjandra Yoga Aditama usai seminar bertajuk Preparing Indonesia for Influenza Pandemic Preparedness Selasa (9/2), di Jakarta.
Lantaran dosis yang diberikan sangat terbatas, Kemenkes memutuskan prioritas pemberian diberikan pada tenaga medis kesehatan serta petugas layanan umum. Sisanya baru diberikan pada penduduk yang hidup dengan risiko tinggi virus influenza A H1N1.
Terkait dengan besaran dosis bantuan, Tjandra mengaku tidak paham kriteria hitungan WHO. "Namanya saja bantuan, ya terserah yang memberi," komentarnya. Indonesia terus berupaya membuat vaksin influenza secara mandiri di perusahaan farmasi Biofarma.
Kampanye massal vaksinasi influenza A H1N1 sejatinya telah digencarkan terlebih dahulu di sejumlah negara seperti China, Australia, Amerika Serikat, dan sebagian negara Eropa. Idealnya, setiap penduduk mendapat vaksinasi agar kebal dari virus. Individu yang telah mendapat vaksin dipastikan secara medis lebih kuat dalam menghadapi fase pandemi gelombang kedua dan ketiga.
Tidak semua negara memiliki industri yang mampu membuat vaksin influenza A H1N1. Satu perusahaan farmasi, GlaxoSmithKline, produksi vaksinnya saja telah dipanjar oleh 22 negara lantaran terbatasnya jumlah vaksin dan sebaran penyakit ini yang makin meluas. Terakhir, total dosis yang dipesan mencapai 440 juta dosis dengan perkiraan nilai transaksi Rp35 triliun. Beberapa perusahaan lain yang mengklaim bisa membuat vaksin adalah Sanovi-Aventis, Baxter, AstraZeneka, dan Novartis.
Sumber : Media Indonesia Online

Wednesday, January 27, 2010

WHO Dukung Inisiatif RI untuk mendirikan WHO Collaborative Centre di Indonesia

“Saya mendukung inisiatif RI untuk mendirikan WHO Collaborating Centre Influenza di Indonesia, dan akan memberikan bantuan untuk mewujudkan inisiatif tersebut” demikian ditegaskan oleh Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Dr. Margaret Chan, dalam pertemuannya dengan Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH di sela-sela Sidang Executive Board ke-126 WHO di Jenewa,Swiss, tanggal 18 Januari 2010.

Dukungan Dirjen WHO tersebut memiliki arti penting dalam upaya Indonesia agar negara-negara berkembang juga memiliki kapasitas yang memadai untuk mendiagnosa dan melakukan risk assesment (penilaian resiko) terhadap penyakit berpotensi pandemi seperti H5N1 dan H1N1.

Dirjen WHO juga mendukung pembentukan WHO Collaborating Centre untuk Disaster Management di Indonesia. Saat ini telah dibentuk 9 Pusat Disaster Management (Regional Pusat Penanggulangan Krisis), yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara, dan 2 Sub Regional di Sumatera Barat dan Papua. Dirjen WHO memuji kapasitas Indonesia dalam manajemen bencana sehingga dapat menjadi pusat pelatihan bagi negara-negara lain.

Pertemuan bilateral antara Menkes RI dengan Dirjen WHO tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan di hari pertama Sidang ke-126 Executive Board WHO yang akan berlangsung hingga tanggal 23 Januari 2010. Selain pertemuan dengan Dirjen WHO, Menkes RI juga telah menyelenggarakan pertemuan bilateral dengan Menteri Kesehatan India dan Brunei Darussalam dalam rangka membicarakan upaya-upaya memperkuat kerjasama kesehatan bilateral.

Executive Board merupakan badan eksekutif WHO yang beranggotakan 34 negara anggota WHO, termasuk Indonesia . Menkes RI telah berhasil terpilih sebagai salah satu Wakil Ketua bersama dengan Korea Selatan , Oman dan Paraguay . Sidang EB-WHO yang saat ini dipimpin oleh Uganda dimandatkan untuk menyusun keputusan dan kebijakan yang akan dibahas dan ditetapkan oleh World Health Assembly (WHA), serta memberikan arahan kepada Dirjen WHO dalam melaksanakan keputusan-keputusan WHA.

Dalam Sidang ke-126 EB-WHO ini, selain terus memperjuangkan kelanjutan pembentukan Framework Virus Sharing dan Benefits Sharing, Indonesia juga berinisiatif untuk mengajukan rancangan resolusi mengenai “the Improvement of Health through Safe and Environmentally Sound Waste Management”. Pengajuan rancangan resolusi tersebut merupakan upaya Indonesia untuk menindaklanjuti keputusan “Bali Declaration on Waste Management for Human Health and Livelihood” yang disepakati pada Sidang ke-9 COP to the Basel Convention di Bali, bulan Juni 2008.

Sumber : www.depkes.go.id

Tuesday, January 26, 2010

Usul Indonesia Akan Dibahas Sidang Kesehatan Dunia

Jakarta (ANTARA News) - Rancangan resolusi penanganan limbah yang disampaikan Indonesia pada pertemuan Badan Eksekutif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu di Swiss akan dibahas dalam Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA) Mei mendatang, demikian Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih di Jakarta, Senin.
"Ternyata banyak anggota `Executive Board` yang mendukung, baik dari negara maju maupun berkembang. Draf resolusi akan dibahas di WHA," kata Endang Rahayu.
Pemerintah mengajukan usul resolusi perbaikan kesehatan melalui pengelolaan lingkungan dan limbah secara baik untuk menindaklanjuti Pertemuan Para Pihak the Basel Convention di Bali yang membahas penanganan limbah berbahaya. Usul resolusi itu, menurut Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Hubungan Kerja sama Internasional dan Kelembagaan Makarim Wibisono, berisi permintaan agar Direktur Jenderal WHO melakukan kerjasama dengan organisasi terkait dalam mencegaha munculnya masalah kesehatan akibat limbah berbahaya.
Menurut pemerintah, masalah itu semestinya dipadukan dengan pengelolaan lingkungan.Organisasi internasional yang mengurusi masalah kesehatan global seperti WHO juga harus menjadikan upaya pengelolaan lingkungan dan limbah secara baik sebagai bagian dari program kesehatan yang dijalankannya.
Menteri Kesehatan menjelaskan, Badan Eksekutif WHO juga menyepakati usul Indonesia tentang penguatan komitmen politik serta kerjasama antarnegara dalam mendukung pencapaian target Tujuan Pembangunan Millenium untuk menurunkan kematian ibu dan bayi serta penurunan jumlah penderita tuberkulosis, malaria dan HIV/AIDS.
Badan Eksekutif WHO beranggotakan 34 negara di mana Indonesia menjadi anggota sejak tahun 2007 dan akan berakhir pada 2010.
Badan Eksekutif WHO bertemu untuk menyusun keputusan dan kebijakan yang akan dibahas pada WHA serta memberi arahan kepada Direktur Jenderal WHO untuk melaksanakan keputusan-keputusan WHA.
Sumber : Antara Online

Wednesday, January 20, 2010

WHO says A/H1N1 pandemic real, not fake

GENEVA, Jan. 2010 -- The World Health Organization (WHO)on Thursday rejected allegations that the A/H1N1 pandemic is "fake", stressing that it has not overplayed the risks of this new influenza.

"The world is going through a real pandemic. The description of it as fake is both wrong and irresponsible," said Dr. Keiji Fukuda, the U.N. agency's top pandemic expert, at a telephone press conference.

Fukuda stressed that the WHO has been balanced in providing information to the public about the pandemic, and it "has not underplayed or overplayed the risks of the pandemic."

"The WHO has reached out to all parties who could help to reduce the harms of the pandemic. We did take very great care to make sure that its advice received and not unduely influenced by commercial or non-public health interests," he said.

So far about 13,000 people worldwide has been killed directly by the H1N1 flu virus, which first emerged in April, 2009 in North America, but this is only the laboratory-confirmed number, and the real number could be much higher, said Fukuda.

Source : www.chinaview.cn

Thursday, January 7, 2010

Dua Bahan Kimia yang Paling Berbahaya

Washington, Ada dua bahan kimia yang paling berbahaya bagi tubuh. Dua bahan kimia ini mewarnai kehidupan sehari-hari manusia. Namun sedikit saja terkena paparannya kesehatan jadi taruhannya.
Dalam National Report on Human Exposure to Environmental Chemicals disebutkan bahwa bisphenol A dan C8, bahan kimia yang biasa digunakan dalam pembuatan botol plastik dan teflon adalah dua jenis bahan kimia yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia diantara semua jenis bahan kimia yang ada.
Dari 212 bahan kimia yang dianalisis Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dua bahan kimia tersebut terbukti merugikan kesehatan bahkan dalam dosis rendah sekalipun. Kedua bahan tersebut bisa mempengaruhi organ-organ vital pada manusia dan menyebabkan penyakit jantung, kanker hingga impotensi.
Bisphenol A atau lebih dikenal dengan BPA baru-baru ini memang marak diberitakan sebagai bahan pencemar dan perusak tubuh manusia. Padahal penggunaan bahan kimia ini banyak dipakai dalam proses pembuatan botol susu bayi, tempat minum dan bentuk plastik lainnya.Scott Belcher, profesor pharmacology and cell biophysics dari University of Cincinnati telah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk meneliti efek BPA pada tubuh manusia.
Dana sebesar 8,6 juta dolar AS pun dikeluarkan untuk melakukan proyek tersebut demi membuktikan efek negatifnya pada manusia."Kami telah melakukan tes pada seluruh populasi manusia di Amerika dan hasilnya lebih dari 90 persen orang memiliki unsur kimia BPA dalam urinnya, baik dalam dosis rendah, sedang maupun tinggi.
Hal ini merupakan ancaman yang membahayakan kesehatan manusia," kata Belcher seperti dikutip dari Thirdage, Kamis (7/1/2010).Selain BPA, bahan lainnya yang sangat berbahaya dan harus diwaspadai adalah C8. Bahkan The US Environmental Protection Agency telah memberi label karsinogenik pada bahan tersebut.
Bahan kimia C8 banyak terdapat pada teflon dan bisa masuk ke tubuh manusia lewat makanan dan akhirnya pembuluh darah."Banyak yang mengira karena dosis yang masuk ke tubuh manusia rendah, jadi tidak apa-apa dan dan aman. Tapi sebenarnya dosis kecil itu sangat memungkinkan merusak tubuh. Itu karena bahan kimia akan mempengaruhi sistem hormon dan sistem hormon bisa bekerja meskipun dalam dosis yang rendah sekalipun," kata Dr Anila Jacob dari the Environmental Working Group.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pastikan selalu agar barang-barang yang dipakai sehari-hari mengandung label aman dipakai atau termasuk kategori food grade terutama untuk barang yang berhubungan langsung dengan makanan dan minuman.

Sumber : www.detikhealth.com Nurul Ulfah -

Tuesday, January 5, 2010

Flu Babi Tewaskan 12.220 Orang di Seluruh Dunia

ISLAMABAD-MI: Sedikitnya 12.220 orang di seluruh dunia meninggal akibat flu A(H1N1) yang juga dikenal sebagai flu babi, namun wabah ini tampaknya mulai menurun.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dilansir (3/1) mengatakan, daerah-daerah yang paling aktif tertular virus itu pada saat ini adalah di Eropa Tengah dan Eropa Timur, dengan titik pusat dalam beberapa pekan terakhir ini di Georgia, Montenegro dan Ukraina. Bagian-bagian lain di Eropa Timur dan Eropa Selatan, meliputi dari Yunani, Bulgaria, Serbia, Ukraina dan wilayah Ural Rusia, juga diserang infeksi pernafasan, dan itu juga termasuk flu musiman yang sedang menyebar luas.
Meski belakangan ini fokus diberikan kepada H1N1, yang mulai diketahui April, WHO memperkirakan bahwa flu musiman juga menyebabkan tewasnya 250.000-300.000 orang di seluruh dunia, setiap tahun.
Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan, mengatakan bahwa wabah H1N1 - yang berusaha ditaklukkan secara luas dengan kampanye vaksinasi - mungkin tidak akan bisa ditundukkan sampai 2011, dan untuk itu diperlukan tetap waspada terhadap virus tersebut.
Di Asia, terutama di China, Jepang dan Taiwan, penularan juga tampaknya makin menurun, kata WHO.

Sunday, January 3, 2010

528 kasus HIV/AIDS di RSUP HAM selama 2009


Warta - Medan
WASPADA ONLINE

MEDAN - Sepanjang tahun 2009, terdapat 528 kasus HIV/AIDS di Klinik Pusyansus VCT (Voluntary Counselling Test) RSUP H Adam Malik. Dibanding tahun 2008 yang berjumlah 403 kasus, tahun 2009 ini jauh lebih tinggi kasus HIV/AIDS ditemukan.

Berdasarkan data yang diperoleh Waspada di Klinik VCT RSUP HAM, jumlah pria lebih tinggi angka penderita HIV/AIDS-nya yang mencapai 407 orang, dibandingkan wanita yang hanya berkisar 121 orang.

Koordinator Pusyansus VCT RSUP HAM, Rahmat Nur Kurniawan, tadi malam, memperkirakan jumlah kasus baru HIV/AIDS setiap tahunnya akan meningkat. Banyak terkuaknya kasus HIV/AIDS sekarang ini muncul, katanya, karena keberhasilan klinik-klinik VCT menemukan kasus HIV.

“Karena VCT didirikan agar bisa menemukan kasus HIV sebanyak mungkin, sehingga kesadaran masyarakat resiko tinggi untuk memeriksakan diri sejak dini meningkat. Karena ada klinik-klinik VCT inilah kasus HIV banyak ditemukan, Tapi, jumlah estimasi masih jauh lebih besar daripada jumlah kasus HIV yang ditemukan,” ujarnya.

Dituturkan, bahwa pihak klinik VCT masih mengalami hambatan-hambatan dalam menangani pasien HIV/AIDS yang terutama diluar kota. Hal ini disebabkan oleh jarak dan ekonomi si pasien.

“Banyak pasien kita orang miskin, jadi setelah keluar dari ruang rawat inap di RS ini, mereka tak mengontrol lagi. Disinilah sebenarnya peran LSM mendampingi para ODHA agar mau terus berhubungan dengan tim VCT. Untuk para lay support harus meningkatkan kuantitas dan kualitasnya, dan selalu berkoordinasi dengan tim VCT,” katanya.

Menanggapi meningkatnya kasus HIV/AIDS itu, anggota DPD RI asal Sumut, Parlindungan Purba, mengatakan, meningkatnya kasus HIV/AIDS ini merupakan pertanda bencana kemanusiaan.

Sebab, semua orang bisa tertular HIV/AIDS tanpa memandang usia dan ekonomi. Meningkatnya kasus ini, lanjutnya, juga karena belum antusiasnya pihak-pihak terkait membahas masalah ini.

”Klinik-klinik VCT yang berdiri di RS pemerintah itu hanya melakukan pemeriksaan, tapi upaya pencegahan tak banyak dilakukan di sana. Untuk itu kuncinya ada pada lingkungan keluarga. Memberikan informasi tentang bahaya HIV/AIDS serta penyebab-penyebabnya kepada anggota keluarga. Ulama dan pendeta juga berperan dalam membentuk mentalnya. Jadi tak hanya peran pemerintah,” katanya.
(dat04/waspada)

Thursday, December 31, 2009

Flu Babi, Virus Paling Heboh di 2009

Jakarta, Tahun 2009 menorehkan catatan kesehatan paling heboh sejagat karena munculnya virus H1N1 atau flu babi. Penetapan pandemi flu babi oleh WHO sempat membingungkan dan membuat kepanikan di seluruh dunia. Pandemi virus H1N1 terjadi di 200 negara dengan menelan korban jiwa sepanjang 2009 lebih dari 11.500 orang.
Meskipun virus ini kalah ganas dibandingkan virus H5N1 (flu burung) tapi korban yang meningal lebih banyak karena kondisi tubuh pasien yang terkena flu babi umumnya menderita penyakit lain.Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat (CDC) mendeteksi adanya kasus flu babi pada bulan April 2009.
Dalam beberapa waktu virus H1N1 ini telah menjadi pandemi yang luas dan membuat kepanikan di sebagian besar negara bagian Amerika serta beberapa negara lain di dunia. Masker wajah dan cairan pembersih tangan habis terjual di hampir semua toko.
Berdasarkan data dari CDC, virus H1N1 ini tidak seperti virus flu musiman. Karena virus ini bisa menyebabkan kematian jika didukung oleh adanya faktor risiko lain, seperti kegemukan, adanya infeksi kedua dari bakteri atau memiliki penyakit yang dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Virus H1N1 ini lebih banyak menyerang anak-anak dan orang dewasa muda.
Seperti dikutip dari CNN, Kamis (31/12/2009) beberapa negara sempat membuat peraturan sebagai upaya pencegahan terhadap meluasnya penyebaran virus H1N1 di negaranya. Seperti Meksiko memrintahkan semua sekolah dan kantor-kantor yang tidak terlalu penting untuk meliburkan karyawannya.
Sedangkan pemerintah Mesir memerintahkan agar semua babi disembelih, walaupun mengonsumsi daging babi tidak akan menyebarkan virus H1N1. Di beberapa negara bahkan sudah memasang alat detektor suhu tubuh di setiap bandara untuk mendeteksi orang asing yang masuk dengan suhu tubuh di atas 38,5 derajat celsius. Ini juga berlaku di Indonesia yakni di bandara Soekarno-Hatta dan bandara Ngurah Rai, Bali.Pada bulan Juni 2009, organisasi kesehatan dunia (WHO) mengeluarkan penyataan waspada dengan tingkat tertinggi. Hal ini didasarkan pada virus H1N1 yang telah menyebar ke beberapa negara di dunia dan dianggap sebagai pandemi global.
Suatu penyakit disebut mengalami pandemi global jika terjadi hampir di seluruh negara di dunia dan merupakan jenis penyakit terbaru sehingga tubuh manusia belum memiliki daya tahan untuk melawannya.
Tapi kepanikan yang terjadi ini sempat mereda setelah badan kesehatan menentukan bahwa virus H1N1 tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan virus flu biasa. Banyaknya orang yang meninggal akibat memiliki faktor risiko lain yang dapat memperberat penyakitnya. Diperkirakan sekitar 95 persen pasien virus H1N1 bisa sembuh dengan sendirinya.
Virus H1N1 baru dinyatakan masuk ke Indonesia pada bulan Juni 2009, setelah 2 orang pasien dinyatakan terinfeksi virus H1N1. Kedua pasien tersebut dirawat di RSPI Sulianti Saroso dan RS Sanglah Denpasar, Bali.
Saat ini telah dibuat vaksin untuk mencegah penyebaran virus H1N1, WHO sendiri mengungkapkan bahwa persediaan vaksin ini masih berlebih dan ada kemungkinan bisa diberikan ke beberapa negara berkembang. Selain itu, salah satu cara pencegahan virus H1N1 yang paling efektif adalah dengan melakukan pola hidup sehat serta rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun.
Tapi kepala organisasi kesehatan dunia (WHO) memperingatkan seluruh dunia bahwa pandemi ini belum berakhir, karena virus H1N1 masih bisa bermutasi. Ditambahkannya masih terlalu cepat dan dini untuk mengatakan bahwa pandemi virus influenza ini telah benar-benar berakhir. Karena para ahli masih harus terus memantau pandemi ini selama 6 sampai 12 bulan ke depan untuk melihat apakah virus ini bisa bermutasi menjadi jenis (strain) yang lebih berbahaya atau tidak.
Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth

Wednesday, December 30, 2009

WHO: Pendemi Flu Babi Belum Tamat, Virus Bisa Bermutasi

Jakarta, Pandemi virus H1N1 (swine flu) yang terjadi di tahun 2009 telah menimbulkan banyak korban. Tapi kepala organisasi kesehatan dunia (WHO) memperingatkan seluruh dunia bahwa pandemi ini belum berakhir, karena virus H1N1 masih bisa bermutasi.

Direktur WHO Dr Margaret Chan mengungkapkan sampai saat ini masih menjadi hal yang penting untuk tetap berjaga-jaga terhadap virus H1N1, meskipun tanda-tanda puncak dari penyakit ini berada di Amerika Utara dan negara bagian Eropa.

"Virus H1N1 ini masih aktif di beberapa negara termasuk India dan Mesir. Diperkirakan lebih dari 11.500 orang meninggal dan 200 negara terkena pandemi flu babi," ujar Dr Chan, seperti dikutip dari BBC, Rabu (30/12/2009).

Ditambahkannya masih terlalu cepat dan dini untuk mengatakan bahwa pandemi virus influenza ini telah benar-benar berakhir. Karena para ahli masih harus terus memantau pandemi ini selama 6 sampai 12 bulan ke depan untuk melihat apakah virus ini bisa bermutasi menjadi jenis (strain) yang lebih berbahaya atau tidak.

Diperlukan waktu setidaknya 2 tahun untuk mengetahui apakah pandemi ini sudah benar-benar berakhir atau tidak. "Kami akan terus mengawasi virus ini dengan lebih tajam seperti mata elang, meskipun kami beruntung karena pandemi yang terjadi sudah lebih ringan dibandingkan dengan apa yang kami perkirakan," ungkapnya.

Jutaan orang diyakini telah benar-benar pulih setelah tertular virus H1N1 dengan menunjukkan beberapa gejala, dan juga permintaan vaksinasi flu babi di beberapa negara Eropa sudah lebih rendah dari sebelumnya. Kini WHO akan menyelidiki apakah vaksin yang berlebih ini bisa dikirim ke negara-negara berkembang.

Dr Chan mengatakan meskipun saat ini beberapa negara telah siap untuk menghadapi wabah penyakit yang terjadi secara global, tapi orang-orang masih harus waspada terhadap bahaya dari virus H5N1 (flu burung).

"Virus flu burung ini jika bermutasi bisa bersifat lebih toksik (beracun) serta mematikan daripada flu babi, tapi banyak negara yang tidak siap dengan adanya wabah virus ini. Lebih tepatnya dunia belum siap untuk menghadapi pandemi yang disebabkan oleh virus H5N1 (flu burung)," ungkap Dr Chan.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth (ver/ir)

WHO chief: A/H1N1 pandemic still going on

GENEVA, Dec. 29 (Xinhua) -- The A/H1N1 pandemic is still continuing and it's too early to declare a victory over the disease, World Health Organization Director-General Margaret Chan said Tuesday.

"It is too soon to say that we have passed the peak of the H1N1flu pandemic on a worldwide scale... Winter is still long," Chan told the Swiss newspaper Le Temps in an interview.

Although the pandemic has reached its peak in some nations in the northern hemisphere, such as the United States and Canada, that is not the case with all countries, she said.

"I think we must remain prudent and observe the evolution of the pandemic in the course of the next six to 12 months before crying victory," she added.

At least 11,516 people worldwide have been killed by the A/H1N1influenza since the disease first emerged in April, the WHO said last week.

The reported number of fatal cases probably has been underestimated because many deaths were never tested or recognized as influenza related, the WHO said.

Inilah Prioritas Pembangunan Sektor Kesehatan 2010-2014

JAKARTA, KOMPAS.com — Pembangunan sektor kesehatan tahun 2010-2014 diprioritaskan pada peningkatan kesehatan ibu, bayi, dan balita; perbaikan status gizi; pengendalian penyakit menular dan tak menular; serta penyehatan lingkungan.
"Salah satu program yang jadi prioritas pembangunan kesehatan adalah revitalisasi posyandu," ucap Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (29/12/2009).
Hari ini, ibu negara Ani Yudhoyono didampingi Menkes mengunjungi Posyandu Matahari II RW 10, Kelurahan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Dalam kunjungan, ibu negara memberikan arahan kepada kader posyandu.
Selain prioritas di atas, prioritas pembangunan kesehatan lain yaitu pengembangan sumber daya manusia, peningkatan ketersediaan, keterjangkauan dan pemerataan mutu obat, serta pengawasan obat dan makanan.

Selain itu, ada pula pengembangan sistem Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). "Penanggulangan bencana dan krisis kesehatan," ucap Menkes.Perkembangan posyandu, menurut Menkes, menunjukkan peningkatan.
'Jumlah posyandu di seluruh Indonesia pada tahun 2004 sekitar 232.000 unit atau naik menjadi 267.000 unit pada tahun 2007. Jumlah balita yang ditimbang meningkat dari 43 persen menjadi 75 persen.
"Angka kematian ibu turun menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup," paparnya.
Sumber : Antara Online

Wednesday, December 23, 2009

Gawat, Virus Flu Burung di Indonesia Sudah Bermutasi

Jakarta, Virus Avian Influenza H5N1 (flu burung) telah ada di di Indonesia lebih dari lima tahun. Belum selesai penanganannya, sudah muncul virus baru H1N1 (flu babi) yang menimbulkan pandemik.

Alhasil, Avian Influenza mulai terlupakan. Padahal tanpa banyak orang tahu, telah terjadi mutasi pada virus flu burung di Indonesia. Menariknya adalah virus yang mengalami mutasi berasal dari unggas yang rutin diberi vaksin.

Dengan adanya mutasi ini ditakutkan efek dan penanganannya harus berbeda lagi pada manusia. Penanganan vaksin sebelumnya sudah terbukti tidak mempan lagi pada unggas.

Hal tersebut dipaparkan oleh drh. Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, MSi dalam sidang disertasinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ketika ditemui detikhealth, Selasa (22/12/2009), di FKUI Salemba Jakarta.

Menurut dokter hewan yang meraih gelar doktornya dengan IPK 3,97 tersebut, jika Indonesia masih menggunakan strategi vaksin lama untuk menangani flu burung maka harus ada evaluasi dan up date vaksin tersebut secara rutin minimal setiap 2 tahun sekali.

"Kebijakan pemerintah harus dievaluasi terutama di sektor peternakan karena dari sektor itulah virus berasal dan bermutasi," kata doktor kelahiran Banyuwangi 1972. Indi saat ini bekerja sebagai peneliti muda di Departemen Virologi Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor.

Dalam studinya, Indi mengisolasi 20 virus Avian Influenza (AI) subtipe H5N1 asal unggas yang berasal dari tahun 2003 hingga 2008, baik yang sudah divaksin maupun yang belum divaksin.

Hasil isolasi tersebut menunjukkan bahwa unggas yang divaksin justru mengalami mutasi sekitar 6-7 persen setiap tahunnya. Studi yang dilakukan Dr Indi juga menunjukkan 62,58 persen virus AI asal Indonesia mengalami mutasi pada proteinnya.

Virus-virus AI yang muncul pada tahun 2007-2008 pun diketahui lebih resisten terhadap amantadin dibanding virus pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan vaksin yang ada di Indonesia selama ini kurang tepat.

"Kebijakan pemerintah Indonesia yang menggunakan vaksin isolat lokal kemudian beralih menjadi H5N2 dalam menanggulangi AI pada unggas sebaiknya dikaji ulang," kritik doktor yang pernah mendapatkan penghargaan dari Microbiology Indonesia Society sebagai The 2nd Best Paper Award 2009.

Penggunaan vaksinasi sebagai salah satu dari sembilan strategi pengendalian penyakit flu burung di sektor peternakan ternyata menghadapi berbagai kendala. Konsekuensinya adalah risiko munculnya virus baru karena tekanan imunologis akibat vaksinasi.

Diharapkan dengan adanya studi ini, pemerintah bisa lebih perhatian lagi terhadap monitoring dan update vaksin Avian Influenza. Karena jika terus bermutasi kemungkinan akan menghasilkan virus yang lebih ganas dan menelan korban jiwa yang tidak sedikit.

"Para pengambil kebijakan di atas sebaiknya mendengarkan ilmuwan dan jangan banyak bermain politik saja. Saya tahu jatuh bangunnya istri saya dalam menyelesaikan studi ini. Tapi saya bangga karena istri saya bisa memberi sesuatu yang sangat bermanfaat untuk Indonesia," kata sang suami yang merupakan sarjana peternakan, Sutanto Arso Birowo, SPt.

Indi yang juga seorang ibu dari satu orang anak ini mendapatkan hadiah gelar doktornya tepat di hari ibu. Prestasi yang ia capai menandakan bahwa seorang ibu selain bisa mengurus suami dan anak-anaknya, juga bisa menyumbangkan ilmunya untuk kemajuan bangsa dan negara.(fah/ir)

Sumber : Nurul Ulfah - detikHealth

Monday, December 21, 2009

WHO says pandemic not over yet, monitoring to continue

GENEVA, Dec. (Xinhua) -- The A/H1N1 pandemic was not over yet and it remained uncertain how the situation would evolve in the next few months, the World Health Orgnization (WHO) warned on Thursday.

"At this time we believe it is still too early to say that the pandemic is over. We are monitoring the situation carefully," said Dr Keiji Fukuda, the WHO's special adviser on pandemic influenza.

Addressing a telephone press conference, Fukuda said high levels of pandemic activity or infections were still continuing in many different countries, including France, Switzerland, Russia and Kazakstan.

He said the pandemic activity had clearly peaked and was on the way down in North America and some parts of Europe, but the peaking had occurred "extraordinarily early".

It remained unknown whether a new wave of infections would occur in the later winter or early spring months, he said.

"The pandemic is really a global event. The WHO will continue to monitor the situation in all parts of the world," Fukuda said.

He added that the WHO would continue to provide all possible support to countries that were particularly vulnerable in the face of pandemic infections.

Source : www.chinaview.cn

 

Tuesday, December 15, 2009

Yankes Haji Alami Kemajuan yang Signifikan

14 Dec 2009
Sampai hari ke – 52 (12/12/09) pelayanan kesehatan ibadah haji, mengalami kemajuan yang signifikan. Kemajuan itu dapat dilihat menurunnya kematian jemaah haji dan menurunnya kejadian luar biasa (KLB). Jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat sebanyak 251 orang atau turun 39,81% pada periode yang sama dibandingkan tahun lalu sebanyak 417 orang. Kasus kejadian luar biasa (KLB) penyakit juga menurun dari 8 kasus pada tahun lalu menjadi 1 kasus pada tahun ini.

Sampai hari ke – 52 (12/12/09) pelayanan kesehatan ibadah haji, mengalami kemajuan yang signifikan. Kemajuan itu dapat dilihat menurunnya kematian jemaah haji dan menurunnya kejadian luar biasa (KLB). Jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat sebanyak 251 orang atau turun 39,81% pada periode yang sama dibandingkan tahun lalu sebanyak 417 orang. Kasus kejadian luar biasa (KLB) penyakit juga menurun dari 8 kasus pada tahun lalu menjadi 1 kasus pada tahun ini.

Hal itu disampaikan Sesjen Depkes yang juga Ketua Tim Wasdal Yankes Haji 1430 H/2009, dr Sjafii Ahmad, MPH, tentang perkembangan penyelenggaraan pelayanan kesehatan haji sampai hari ke-52 tanggal 12 Desember 2009.

Menurut indikator WHO, menurunnya kematian dan KLB dalam situasi matra seperti dalam penyelenggaraan ibadah haji menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan dalam pelayanan kesehatan haji.

Membaiknya indikator kesehatan, tambah Sesjen Depkes tidak terlepas dari kerja sama dan kerja keras semua pihak yang terkait dalam penyelenggaraan ibadah haji mulai dari Puskesmas, Pemkab/Kota, Pemprov, petugas di embarkasi/debarkasi, petugas Kloter maupun non Kloter, Departemen Agama, Deplu serta Pemerintah Arab Saudi.

Selain itu, juga kerja sama antar jemaah dengan petugas kesehatan di lapangan mulai sebelum keberangkatan, dalam perjalanan, selama di Arab Saudi sampai kepulangan jemaah ke tanah air.

Dari data itu, tercatat 195 orang jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Makkah, 26 orang di Madinah, 12 orang di Mina, 12 orang di Jeddah, 3 orang di Arafah dan 3 orang di perjalanan. Dari jumlah itu, 140 orang jamaah yang meninggal adalah pria dan 111 orang wanita.

Para jamaah haji yang wafat ini, 82 orang di sejumlah Rumah Sakit Arab Saudi, 66 orang di pemondokan, 57 orang meninggal dunia di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), 18 orang di perjalanan, 12 orang di sektor BPHI, 8 orang di mesjid, 7 orang di bandara dan satu orang di pesawat.


Jenis Kelamin

Berdasarkan Usia

Penyebab Kematian

Laki-2 : 140

Wanita : 111

<>

40 – 49 : 25

50 – 59 : 50

> 60 : 174

1. Penyakit sistem sirkulasi

156

2. Penyakit sistem pernapasan

80

3. Penyakit gangguan mental dan perilaku

5

4. Penyakit infeksi dan parasit

2

5. Penyakit sistem syaraf

2

6. Penyakit sistem genitourinaty

2

7. Penyakit sistem otot dan jaringan

1

8. Penyakit sistem pencernaan

1

9. Endokrin nutrisi dan mental

1

10. Penyakit darah dan organ pembuluh darah

1


Sumber : www.depkes.go.id

Friday, December 11, 2009

Flu Babi Tewaskan Puluhan Ribu Orang di AS

CHICAGO--MI: Wabah flu babi telah menewaskan 10 ribu orang Amerika, termasuk 1.100 anak kecil dan 7.500 orang dewasa. Penyakit ini menyerang dari dari enam orang di Amerika Serikat sejak muncul April lalu.

"Apa yang telah kami saksikan selama berbulan-bulan ialah ini adalah flu yang jauh lebih berat bagi orang yang lebih muda," kata Dr. Thosmas Frieden, Direktur Pusat Pencegahan dan Pemantauan Penyakit AS (CDC), Kamis (10/12).

Ia memperkirakan antara April dan November, terdapat hampir 50 juta kasus influenza H1N1 di Amerika Serikat, kebanyakan pada orang dewasa muda dan anak-anak. Ada lebih dari dua kali lipat perkiraan CDC pada November mengenai 22 juta orang Amerika.

Frieden mengatakan lebih dari 200 ribu orang Amerika telah dirawat di rumah sakit. "15 persen dari seluruh orang di negeri ini telah tertular influenza H1N1, atau sekitar satu dalam enam orang. Itu masih membuat kebanyakan orang masih tak tertular dan tetap rentan terhadap influenza H1N1," katanya.

Ia mengatakan pasokan vaksin H1N1 terus bertambah. 85 juta dosis vaksin telah tersedia untuk dibagikan sejauh ini, sementara 12 juta dosis lagi ditambahkan pekan ini. Jumlah itu naik dari 73 juta dolsis satu pekan lalu, tapi masih kurang jauh daripada yang telah diharapkan sampai pekan ini.

Meskipun begitu, Frieden mengatakan pasokan vaksin telah cukup tersedia sehingga negara bagian mulai dapat membagikan vaksin tersebut kepada masyarakat umum. Ia mendesak masyarakat agar tidak merasa puas dan tetap meminta vaksin, meskipun ada laporan bahwa gelombang influenza H1N1 saat mulai reda.

"Ini tetap menjadi jendela kesempatan yang baik untuk diberi vaksin," katanya. "Vaksinasi tetap menjadi tindakan yang paling penting yang dapat anda lakukan untuk melindungi diri anda dan keluarga anda dari influenza H1N1," jelasnya. (Ant/OL-06)

Sumber : Media Indonesia OL

Thursday, December 10, 2009

Kematian Jemaah Haji Turun 35,77 %

Sampai hari ke – 46 (7/12/09) penyelenggaraan ibadah haji, jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat (meninggal dunia ) sebanyak 210 orang. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun tahun 2008 atau musim haji 1429 hijriah, angkanya menurun 35,77 % , yaitu dari 327 orang. Menurunnya angka kematian jemaah haji merupakan indikator semakin baiknya pelayanan kesehatan.

Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari laporan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Departemen Agama Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Makkah, Senin (7/12/2009) pukul 10.00 Waktu Arab Saudi.

Dari data itu, tercatat 163 orang jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Makkah, 23 orang di Madinah, 12 orang di Mina, 7 orang di Jeddah, 3 orang di Arafah dan 2 orang di perjalanan. Dari jumlah itu, 119 orang jamaah yang meninggal adalah pria dan 91 orang wanita. Berdasarkan umur, kurang 40 tahun 1 orang, usia 40-49 tahun 21 orang, usia 50-59 tahun 43 orang dan usia diatas usia 60 tahun 145 orang.

Para jamaah haji yang wafat ini, 68 orang di sejumlah Rumah Sakit Arab Saudi, 53 orang di pemondokan, 48 orang meninggal dunia di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), 17 orang di perjalanan, 9 orang di sektor BPHI, 8 orang di mesjid, 6 orang di bandara dan satu orang di pesawat.

Penyebab kematian terbanyak adalah penyakit Infeksi dan parasit, disusul penyakit neoplasma, penyakit darah dan organ pembuluh darah, penyakit endokrin nutrisi dan penyakit gangguan mental dan perilaku.

Tahun ini jumlah jemaah haji Indonesia mencapai 209.819 orang. Dari jumlah itu, sudah 31.295 jemaah haji Indonesia pulang ke tanah air.

Sumber : http://www.depkes.go.id


WHO: Rokok Membunuh 5 Juta Orang Tiap Tahun

KOMPAS.com — Sudah jelas tembakau bukan sahabat kita. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pernyataannya, Rabu(09/12/2009), menyatakan, setiap tahunnya 5 juta orang meninggal akibat rokok. Angka ini akan terus bertambah bila pemimpin negara belum punya kemauan melindungi rakyatnya dari bahaya rokok.

Dalam laporan terbaru mengenai penggunaan dan pengendalian tembakau, PBB mengatakan, hampir 95 persen dari populasi global tidak terlindungi oleh Undang-Undang Pelarangan Rokok. WHO juga menyebutkan, lebih dari 600.000 perokok pasif meninggal tiap tahunnya.

Laporan tersebut menyebutkan berbagai strategi yang bisa diambil oleh pembuat kebijakan di tiap negara untuk menekan jumlah perokok, misalnya meregulasi produksi, promosi, dan pemasaran rokok serta meningkatkan pajak produk rokok. Langkah-langkah itu termasuk dalam enam paket strategi yang dikeluarkan WHO tahun lalu, tetapi kurang dari 10 persen dari populasi dunia yang terlindungi dari bahaya rokok.

"Masyarakat butuh tindakan lebih, bukan hanya diberi tahu bahwa rokok berbahaya untuk kesehatan. Mereka butuh implentasi nyata dari WHO Framework Convention yang dilakukan oleh pemerintahnya masing-masing," kata Douglas Bettcher, Direktur WHO Tobacco-Free Initiative.

Saat ini tembakau adalah penyebab utama kematian yang dapat dicegah di dunia. WHO memperkirakan bila masih banyak negara yang tidak mengambil tindakan drastis, 8 miliar orang akan mati karena penyakit-penyakit yang berkaitan dengan tembakau pada 2030, terutama penduduk dari negara berkembang.

Sumber : http://kesehatan.kompas.com/

Logam Berat Picu Gangguan Mental

KOMPAS.com - Akumulasi logam berat dalam tubuh manusia akan menimbulkan berbagai dampak yang membahayakan kesehatan, salah satunya adalah depresi dan serangan panik (panic disorder).

Para ahli menganalisa informasi dari hasil survei National Health and Nutrition Examination, Amerika Serikat tahun 1997-2004, yang melibatkan 1.987 orang dewasa berusia 20-39 tahun. Dari seluruh responden, 6,7 persen menderita depresi mayor, sebanyak 2,2 persen memiliki gejala serangan panik, dan 2,4 persen mengalami gejala kecemasan. Setelah diteliti, jumlah logam berat dalam darah mereka mencapai 1,61 mikrogram per desiliter.

Sebanyak 20 persen dari responden yang memiliki kadar timbal atau logam berat cukup tinggi (2,11 mikrogram per desiliter) risikonya mengalami depresi dua kali lebih tinggi. Mereka juga lima kali berisiko menderita serangan panik dibanding dengan responden yang kadar timbalnya lebih rendah (0,7 mikrogram per desiliter).

"Pencemaran logam berat mungkin berkontribusi pada terjadinya gangguan mental, bahkan meski kadar pencemarannya masih tergolong rendah atau tidak berisiko," kata Maryse F.Bouchard peneliti dari Universitas Monteral dan Harvard School of Public Health. Para ahli menduga, logam berat mungkin menimbulkan gangguan pada otak yang menimbulkan gangguan mental.

Sebelumnya berbagai penelitian telah mengingatkan bahaya logam berat bagi kesehatan, di antaranya adalah kerapuhan tulang, rusaknya kelenjar reproduksi, kanker, kerusakan otak, serta keracunan akut pada sistem saraf pusat.

Udara yang tercemar juga akan menyebabkan penyakit saluran pernapasan akut, hipertensi, terganggunya fungsi ginjal, menurunnya kecerdasan anak, serta risiko keguguran pada ibu hamil.

  • Sumber : http://kesehatan.kompas.com/healthconcerns

Thursday, December 3, 2009

China reports fast rise of A/H1N1 flu deaths

BEIJING, Dec. 2 (Xinhua) -- The Chinese mainland saw a faster increase of deaths from the A/H1N1 influenza in the past weeks, according to the Ministry of Health.

A total of 74 deaths were reported in the week from Nov. 23 to 29, said a notice issued on the ministry's website Wednesday. Reported deaths in the previous two weeks were 28 and 51 respectively.

About 91 percent of all the flu cases reported last week were of the A/H1N1 strain, compared with 89.8 percent in the previous week, the notice said.

The ministry advised the public to keep warm in the cold weather, wash hands frequently and keep rooms ventilated.

As of Monday, more than 27 million people nationwide had been inoculated with China-made A/H1N1 vaccine, according to the ministry.

Four deaths had been reported after vaccination and three had been confirmed irrelevant to the vaccines, while cause of the other is not clear yet, the ministry said.

Source : www.chinaview.cn

Monday, November 30, 2009

WHO: Korban Flu H1N1 Sudah 7.826 Orang

Jenewa (ANTARA News/Xinhua-OANA) - Sedikitnya 7.826 orang di seluruh dunia tewas karena influenza A/H1N1 sejak virus flu baru itu ditemukan April lalu, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pembaruan data terakhirnya Jumat.
Dari semua korban tewas itu, 5.360 orang terjadi Amerika, 738 di Asia Timur Laut dan paling tidak 650 orang di Eropa.Tiga kawasan WHO lainnya, yakni Pasifik Barat, Laut Tengah Timur dan Afrika masing-masing dilaporkan 644, 330 dan 104 orang menemui ajal karena virus yang juga dikenal sebagai flu babi itu.
WHO, yang mengumumkan flu A/H1N1 sebagai wabah pada Juni lalu, mengatakan bahwa sejauh ini lebih dari 207 negara dan kawasan luar negeri atau masyarakat telah melaporkan kasus yang telah dikonfirmasikan laboratorium , mencapai total lebih dari 622.482 jiwa.
Namun kasus ini masih dianggap jauh lebih rendah dibanding jumlah kasus yang sebenarnya terjadi, karena banyak negara berhenti melakukan pengujian dan pelaporan kasus perorangan di negerinya.
Pada saat ini, aktivitas wabah masih tinggi terutama di sebagian besar negara di belahan bumi utara, namun mulai rendah di belahan bumi selatan, kata WHO.
Namun ada tanda-tanda bahwa aktivitas penyakit itu memuncak di Amerika Serikat, dan jumlahnya terbatas di negara-negara Eropa. "Tapi secara keseluruhan hingga kini, pihaknya masih terlalu dini untuk mengatakan apakah kita menyaksikan puncak aktivitas virus itu di belahan bumi utara," menurut Dr. Keiji Fukuda, pakar flu terkenal WHO.
"Kami perkirakan aktivitas virus itu terus berlanjut setidaknya beberapa pekan di belahan bumi utara, sebelum kita saksikan penurunannya," kata Fukuda kepada para wartawan Kamis lalu.

Anjing Juga Terserang Flu Babi

Beijing - Flu babi ternyata tidak hanya menjangkiti manusia maupun babi. Anjing pun ternyata dapat terserang penyakit mematikan tersebut.

"Virus flu babi 99 persen identik terdeteksi pada dua anjing yang juga beredar pada tubuh manusia," demikan berita yang dilansir oleh news.com.au seperti dikutip dari kantor berita AFP, Senin (30/11/2009).

Menurut Informasi yang diperoleh dari petugas peternakan di Beijing China, anjing tersebut terkena virus setelah sebelumnya melakukan kontak dengan manusia yang terjangkit virus flu babi. Kemudian anjing yang terkena virus flu babi tersebut menularkan pada anjing yang berada di dekatnya.

"Anjing juga dapat membuat anjing yang ada di dekatnya terjangkit virus flu babi setelah dia terkena virus flu babi," terang seorang petugas kesehatan di China.

Sepuluh hari sebelumnya, dikabarkan empat ekor babi di Propinsi Heilongjiang, China didiagnosa terkena virus flu babi. Selain itu di sejumlah negara di benua Amerika juga melaporkan adanya hewan yang terjangkit virus flu babi.

Seperti di kawasan, Iowa Amerika Serikat seorang kucing dikabarkan terkena virus flu babi. Kejadian ini merupakan hal baru yang ada didunia, dimana virus flu babi menjangkiti populitas hewan sejenis kucing.

Sumber : http://m.detik.com

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN