SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Saturday, November 22, 2008

DBD, Tifus, dan Leptospirosis Memuncak Bulan Februari

Penulis : Iwan Kurniawan dan Eriez M Rizal

BANDUNG--MI: Selama musim penghujan, penyakit yang paling banyak menyerang masyarakat yaitu demam berdarah dengue (DBD), malaria, tifus (tifoid), diare serta leptospirosis. Penyebarannya akan mulai memuncak pada bulan Februari mendatang.

Hal tersebut dikatakan dr Khie Chen Lie, spesialis penyakit dalam infeksi tropis Rumah Sakit (RS) Cipto Mangunkusumo, seusai simposium First Bandung Infection Diseases, di Bandung, Jawa Barat, Jumat (21/11). "Masyarakat harus mengenali betul karena semua gejala utamanya hampir sama yaitu demam. Sehingga masuk dalam infeksi penyakit daerah tropis," ujarnya.

Ia menjelaskan infeksi DBD dan malaria biasanya tertular melalui udara, sedangkan diare, tifoid dan leptospirosis melalui air kotor. Kelima infeksi penyakit tersebut dapat mengakibatkan kematian. "Jadi, semuanya masih menjadi masalah di lingkungan kita. Terutama penyakit yang berhubungan dengan banjir sekarang ini yakni diare dan leptospirosis yang mulai meningkat. Setelah curah hujan mulai berkurang akan muncul nyamuk aides. Bila tidak dibersihkan genangan air, kasus-kasus DBD pun juga meningkat," jelasnya.

Ia mengatakan untuk mencegah wabah-wabahnya, kebersihan lingkungan perlu sekali diperhatikan. Tidak hanya pemerintah, namun juga masyarakat yang berada di lingkungannya masing-masing. "Kadang-kadang terdapat genangan di pot-pot bunga dan kaleng-kaleng bekas. Bila terlihat, segeralah dibalikan biar tidak bersarang," paparnya.

Melalui kegiatan pencegahan di masing-masing lingkungan, ucapnya, pembasmian penyakit itu dapat diminimalkan. "Dengan demikian, semaksimalnya dicegah agar tidak mewabah," gumamnya. Menurutnya, wabah DBD yang tersebar di Indonesia per tahunnya mencapai 5.000 hingga 10.000 pasien. Dan, kematiannya masih 1%. "Cukup besar yaitu 800 lebih pasien, sehingga penanganannya belum tertanggulangi," jelasnya.

Sedangkan penyakit diare, tifoid dan leptospirosis, katanya, sekitar di bawah 1%. Biasanya penyebarannya di kota-kota besar, di antaranya Bandung, Jakarta, Surabaya dan Medan. "Kuncinya untuk penyakit ini yaitu mengenali gejala sehingga tidak terlambat. Sebisanya pasien (penderita) langsung dibawah ke puskesmas atau RS terdekat untuk mendapatkan pengobatan cairan," cetusnya.

Selain itu, ia mengatakan wabah penyakit yang terjadi di musim penghujan lebih tinggi menyerang kepada anak-anak. Ketahanan daya tahan tubuh yang tidak kebal, menjadi gampang terkena. "Kemampuan mengeluh anak-anak berbeda dengan orang dewasa, sehingga ia tidak mengobrolkan derita yang dialami itu kepada orang tuanya. Dari data yang ada juga menunjukan anak-anak sangat rentan. Jadi, ketika panasnya turun akan menjadi fase-fase shok, sehingga perlu diwaspadai melalui pengecekan darah,"  jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan daerah endemik tertinggi penyebaran malaria di Indonesia hampir menyeluruh. "Bisa saja di daerah pantai, rawa dan pebukitan. Untuk malaria, daerah Papua hingga Nusa Tenggara cukup tinggi penyebaran malaria tropika. Sedangkan di Sumatera dan Kalimantan lebih didominasi malaria anafeles," tandasnya.

Menanggapi program Indonesia Sehat 2020, Khie menilai program tersebut masih perlu ditingkatkan. "Saya kira program itu belum berhasil. Untuk itu, pengetahan dan perhatian kepada masyarakat harus ditingkatkan. Namun penyakit menular sangat susah dibasmi, meski di negara maju yang bersih sekalipun, tetap tidak bisa dihilangkan," pungkasnya.

Sementara itu, spesialis penyakit dalam RS Hasan Sadikin Bandung dr Backti Alisjahbana menilai penyebaran kelima penyakit itu masih menjadi langganan musim penghujan. "Untuk itu, bila terkena demam tinggi, segeralah dirujuk dan dites darahnya. Karena penyakit-penyakit ini cukup tinggi tingkat kematiannya," katanya. (IK/EM/OL-03)

17 PasienTerduga Flu Burung di Makassar Dinyatakan Negatif

Jumat, 21 2008 22:54 WIB

Penulis : Lina Herlina

MAKASSAR--MI: 17 pasien terduga flu burung yang dirawat di Rumah Sakit Regional Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan, dinyatakan tidak terjangkit virus H5N1. Itu berdasakan hasil pemeriksaan laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Departemen Kesehatan yang menyatakan sampel darah dan specimen lendir semua pasien dinyatakan negatif.

Menurut juru bicara tim penanggulangan flu burung RS Regional Dr Wahidin Sudirohusodo Khalid Saleh, Jumat (21/11), hasil pemeriksaan dari sampel darah dan lendir pasien suspect ini diterima pihak Rumah Sakit Wahidin dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Kamis (20/11). Setelah menerima hasil laboratorium tersebut,   lima dari 17 pasien terduga flu burung tersebut dipulangkan karena kondisinya sudah membaik. Mereka adalah Annisa, 6, Firdaus, 6, Hasnawati, 34, Rahmawati, 2 dan Fauzi Ibnu Hajar, 3 bulan.

Selebihnya belum dipulangkan karena masih menunggu keputusan pemulangan dari dokter yang menanganinya  dari awal, karena menunggu kondisinysa lebih membaik. Mereka adalah Nur Awalia, 3,6, Nur Fadillah, 4 bulan, Salman, 6, Irwan, 6, Saleha, 2, Rohani, 60, Ilham, 2, Alif, 3, Desi, 5, Eki Reskiani, 5 bulan, Hartati, 26, Nuraeni, 31.

Pasien yang semuanya berasal dari Jalan Pate'ne, Kampung Tangki Jangang, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanayya, Makassar, Sulawesi Selatan. Sempat dirawat intensif selama 10 hari di ruang isolasi sejak dilarikan ke Rumah Sakit sejak 12 November lalu karena merasakan gejala awal flu burung yakni demam tinggi, sesak nafas dan flu yang didahului matinya secara tiba-tiba puluhan ekor unggas di kampung warga yang ternyata positif flu burung.

"Karena para pasien dinyatakan aman berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, mereka sudah bisa pulang," kata Khalid Saleh yang juga  direktur umum dan operasional RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar saat ditemui di Rumah Sakit.

Khalid juga menambahkan, selama penanganan pasien flu burung belum ditemukan kendala. Baik dari sisi persediaan obat-obatan maupun peralatan.  "Peralatan untuk penanganan pasien flu burung lengkap yang didrop langsung dari Departemen Kesehatan ke rumah sakit ini. Antara lain alat-alat pelindung diri, tempat tidur, alat monitor dan fentilator,"  jelasnya.

Sementara itu, dua warga Kelurahan Sudiang lainnya yakni Iqbal, 6, dan Karmila, 4 juga sempat dilarikan ke RS Wahidin Sudirohusodo, Selasa (18/11) karena menderita demam tinggi. "Setelah dirawat beberapa hari dokter memvonis Karmila terserang gejala demam berdarah dan Iqbal hanya terserang flu biasa karena perubahan cuaca. Kami langsung bawa ke rumah sakit karena petugas di Puskesmas langsung beri rujukan tanpa memeriksa terlebih dahulu setelah tahu ada ayam mati. Tapi hari ini sudah bisa pulang," tutur Nurtati, 27, ibu dari Iqbal. (LN/OL-03)

Tuesday, November 18, 2008

BPOM Targetkan Bersihkan Obat Berbahaya Sebulan

Senin, 17 2008 11:34 WIB

Setelah merazia dan menarik 22 item obat tradisional dan suplemen obat kuat berbahan kimia obat keras, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menargetkan dalam satu bulan ke depan semua produk itu harus bersih dari pasaran.

"BPOM tidak akan berhenti dan terus-menerus melakukan razia obat ini di pasaran. Kita tarik dan nanti kita akan lakukan pemusnahan," kata Ketua BOPM, Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakarta, Senin (17/11).

Husniah mengungkapkan, razia akan digelar kembali setelah BPOM menginstruksikan menarik 22 obat kuat pada Jumat 14 November lalu, karena obat tradisional dan suplemen tersebut mengandung bahan kimia obat keras.

"Ini untuk melindungi masyarakat agar tidak membeli obat yang tidak terdaftar di BPOM maupun dengan resep dokter. Kita tidak mau disalahkan kembali seperti kasus susu formula bayi beberapa bulan yang lalu," ujarnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen BPOM Ruslan Aspan mengatakan, razia ini akan dilaksanakan di seluruh Indonesia, karena obat tradisional maupun suplemen lebih banyak beredar di toko obat, walaupun apotek juga ada yang menjual obat kuat itu.

"Kita harapkan dalam waktu satu bulan, produk yang tercantum dalam Public Warning No.KH.00.01.43.5847 tanggal 14 November 2008, bersih di pasaran. Kita mengharapkan masyarakat tidak mengkonsumsi lagi, kalau ragu bisa menghubungi BPOM," lanjutnya.

Ruslan mengatakan, pihaknya akan segera menarik produk-produk itu, seperti yang sudah banyak beredar di pasaran yaitu, tripoten mengandung Tadalafil serta Maca Gold yang mengandung Sildenafil Sitrat yang dapat menyebabkan kematian. (Ant/OL-01)

Sumber : MIOL http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDQ0NjE=

Sunday, November 16, 2008

Dugaan Cluster Flu Burung Terjadi di Makassar

Penulis : Cornelius Eko (Media Indonesia)
Berdasarkan kumpulan sejumlah data yang masuk, untuk sementara waktu pihak Departemen Kesehatan menyimpulkan kecil kemungkinan 17 pasien suspect flu burung (Avian Influenza/AI) yang kini dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Regional Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan terindikasi positif menderita flu burung.

"Data yang masuk memang masih sepotong-potong. Tapi dapat disimpulkan pasien tidak mengalami leukopeni (penurunan jumlah sel darah putih), terang Plh. Direktur Jenderal Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Tjandra Yoga Aditama pada Media Indonesia, Kamis (13/11).

Menurut Tjandra, 70% pasien positif flu burung mempunyai ciri-ciri terkena leukopeni. Umumnya penderita positif flu burung kandungan jumlah sel darah putih drop hingga berada dibawah kisaran 5000 ml akibat terinfeksi virus H5N1.

Disamping leukopeni, gejala klinis yang umumnya ada pada pasien positif adalah gejala panas, sesak nafas, thrombositopeni (penurunan jumlah sel darah dalam darah) dan pneumonia (infeksi paru-paru yang menimbulkan masalah respirasi).

Kendati demikian Tjandra tidak menampik terdapat faktor resiko berupa matinya sejumlah unggas pada lingkungan korban. "Faktor risiko (dekat dengan unggas mati) memang ada. Tapi belum ada laporan unggas yang mati terpapar H5N1 atau tidak," imbuhnya.

Namun secara keseluruhan, Tjandra mengaku informasi yang diterima Depkes masih samar. Imbasnya, sulit bagi instansi ini menentukan status korban. Hingga saat ini, sample dari 17 penderita belum bisa dikirim ke laboratorium pusat rujukan flu burung di Lembaga Eijkman dan laboratorium Badan Litbangkes Depkes di Jakarta. "Baru siang tadi tim diterjunkan ke sana," tuturnya.

Berdasarkan kesepakatan, status pasien positif flu burung hanya bisa diumumkan secara resmi setelah melewati pemeriksaan pemeriksaan RT-PCR ke-dua laboratorium itu. Seandainya ke-17 orang tersebut positif flu burung, maka bisa dipastikan ini merupakan kasus cluster (flu burung berkelompok) terbesar di dunia. Sebelumnya kasus cluster terbanyak terjadi di Karo, Sumatra Utara yang terjadi pada 9 orang yang berdekatan. Semakin banyak kejadian cluster, maka dapat diindikasikan kasus flu burung antarmanusia makin dekat. (Tlc/OL-03)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDM3NTA=

Tuesday, November 4, 2008

CALHAJ EMBARKASI MEDAN DIANGKUT SAUDI ARABIA AIRLINE

CALHAJ EMBARKASI MEDAN DIANGKUT SAUDI ARABIA AIRLINE

Untuk pertama kalinya pada musim haji 1429 H/2008 M ini, jemaah calhaj Embarkasi Medan akan diangkut pesawat B 747 seri 300/400 berkapasitas 450 calhaj, milik Saudi Arabia Airlines.

Dalam laporannya kepada Gubsu Syamsul Arifin dan tamu undangan lainnya di ruang Pusat Informasi Haji Ahmed, senin Sore, 3 Nopember 2008, Kakanwil Depagsu Drs. H. Syaiful Mahyar Bandar, MAP selaku ketua PPIH Embarkasi Medan mengungkapkan penerbangan calhaj sebanyak 8.185 orang (jemaah 8.095 orang, petugas 90 orang) dibagi dalam 18 kloter, sedangkan sebanyak 81 orang calhaj lagi akan bergabung dengan calhaj Embarkasi lain, kemungkinan dengan calhaj kloter 14 Batam.

Dilaporkan minat masyarakat Sumut menunaikan ibadah haji sangat meningkat terbukti waiting list calhaj Sumut sampai senin sore, 3 Nopember 2008 berjumlah 26.477 orang, sehingga ada yang akan berangkat haji tahun 2012. Waiting list terbanyak adalah Medan 7.902 orang, Labuhan Batu 4.405 orang, Tapsel 2.725 orang, dll.

Mengenai pembinaan jemaah di tingkat kecamatan dilaksanakan 10 kali pertemuan, di Kab/Kota 4 kali pertemuan. Ini di luar pembinaan oleh KBIH dan Majelis Taklim, dll.

Pembentukan dan pemantapan tugas Ketua Regu/Ketua Rombongan dilaksanakan di Kab/Kota pada bulan September s/d Oktober 2008 dengan jumlah ketua regu 720 orang, Ketua Rombongan 182 orang. Pemantapan lanjutan akan dilaksanakan lagi saat di Embarkasi.

Jam bertamu tahun ini hanya di peruntukkan bagi kloter 1 s/d 9 sedangkan kloter 10 s/d 18 ditiadakan karena jadwal penerbangan sangat berfluktuasi. Dalam jam bertamu, tegas Syariful Mayha tidak diperkenankan kepada keluarga jemaah dan pengunjung lainnya membawa makanan olahan.

Sumber : PPIH Emb.Mes

KUNJUNGAN GUBSU KE EMBARKASI HAJI MEDAN

PERSIAPAN PENYELENGGARAAN HAJI EMBARKASI MEDAN CUKUP BAIK

Gubsu H. Syamsul Arifin, SE menilai persiapan penyelenggaraan ibadah haji Embarkasi Medan tahun ini cukup baik.
Hal ini dikemukakan Syamsul Arifin ketika meninjau langsung persiapan penyelenggaraan Ibadah Haji Embarkasi Medan tahun 1429 H/2008 M di Asrama Haji Medan, Senin sore 3 Nopember 2008.
Acara dihadiri unsur Muspida Sumut DPRD Sumut dan Kakanwil Depagsu Drs. H. Syaiful Mahya Bandar, MAP, Ketua MUI Sumut Prof. DR. H. Abdullah Syah, MA, Pejabat walikota Medan Afifuddin Lubis, Ketua DPRD Medan Drs. H. Syahdan Syahputra dan sejumlah pers media cetak dan elektronik.
"Persiapan penyelenggaraan haji tahun ini masih tetap baik, dan seandainya anda merasa puas atas pelayanan yang diberikan para petugas haji, beritahu kepada teman-teman tapi kalau tidak puas, beritahukan kepada Panitia Penyelanggara Haji agar diperbaiki", kata Syamsul di depan pers.
Dalam kaitan itu Syamsul menghimbau kepada para calhaj agar lebih banyak bersabar dalam melaksanakan ibadah haji baik ketika ditanah air maupun ditanah suci.
Kepada para petugas diharapkan agar menunjukkan prestasinya dalam bertugas melayani jemaah haji sehingga “terpuji” dan “teruji” kemampuannya didepan calon jemaah haji.


Sumber : PPIH Emb.MES

Saturday, November 1, 2008

Info Susu Bermelamin : 2.390 Bayi di China Masih Dirawat di RS

Kamis, 30 Oktober 2008 09:18 WIB

BEIJING--MI: Kementerian Kesehatan China, Rabu, menyatakan bahwa 2.390 bayi di seluruh negeri itu masih mendapat perawatan di rumah sakit karena sakit ginjal akibat susu bubuk yang tercemar.

Salah seorang bayi berada dalam kondisi serius, kata Kementerian tersebut.

Jumlah bayi yang menjadi pasien di rumah sakit turun sebesar sepertiga dari satu pekan sebelumnya, ketika lebih dari 3.600 bayi masih dirawat di rumah sakit.

Sebanyak 48.514 anak kecil, katanya, telah pulih dan meninggalkan rumah sakit sejak susu bubuk yang diproduksi oleh Sanlu Group didapati berisi bahan kimia terlarang melamin pada pertengahan September.

Pada Rabu saja, 90 anak kecil menjalani perawatan baru di rumah sakit dan 218 telah sembuh, kata Kementerian itu.

Lebih dari 4.500 lembaga medis di seluruh China telah melakukan pengobatan gratis dan pemeriksaan anak kecil yang dikhawatirkan keracunan dalam skandal tersebut. (Xinhua/Ant/OL-01)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDAzMDM=

Info Flu Burung : Ada 3 Pasien Terduga Flu Burung di Bandar Lampung

Sabtu, 1 November 2008 | 00:49 WIB

Kompas - RSUD Abdul Moeloek kembali menerima tiga pasien terduga flu burung, Kamis (30/10) sore. Dari uji klinis diketahui dua pasien positif berstatus terduga flu burung dan satu pasien berstatus negatif.

Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung Lampung, yang juga dokter spesialis paru RSUD Abdul Moeloek, Pad Dilangga, Jumat (31/10), mengatakan, ketiga pasien itu: Sutarjo (45) dan anaknya, Fendi Prenata (11 bulan), serta anak tetangga Sutarjo, Joko Prabowo (9). Mereka warga Desa Watu Agung, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah.

Ketiganya dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek oleh RS Ponco Warno, Lampung Tengah, pada Kamis (30/10) pukul 17.00 dengan gejala, di antaranya, panas tinggi, batuk-batuk, sesak napas.

Menurut Pad, ketiganya sudah diberi tamiflu—obat khusus bagi terduga penderita flu burung. Didukung uji klinis, tim penanggulangan memastikan dua pasien, yaitu Joko dan Fendi, positif berstatus terduga flu burung, sedangkan Sutarjo negatif. Sudah diambil contoh darah dan cairan mukosa atau cairan hidung untuk uji laboratorium.

Serangan berawal dari kematian 12 ayam kampung di rumah Sutarjo dua hari sebelumnya. Ayam itu kemudian dinyatakan mati akibat flu burung.


Semarang endemik

Kabupaten Semarang masih menjadi wilayah endemik virus avian influenza atau H5N1 pada unggas sehingga harus mengantisipasi saat musim hujan yang bisa meningkatkan kerentanan berjangkitnya H5N1. Di wilayah ini sekitar 1,4 juta ayam dipelihara secara tradisional.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang drh Bambang Sutrisno, di Ungaran, Semarang, Jateng, mengatakan, beberapa tahun terakhir, kasus unggas terpapar virus H5N1 ditemukan di 19 kecamatan dan 1.000 lebih unggas dimusnahkan.

Idealnya jumlah vaksin yang tersedia minimal sepertiga jumlah populasi unggas. Saat ini tersedia sekitar 100.000 vaksin siap edar. (GAL/HLN)


Sumber http://cetak.kompas.com

Friday, October 31, 2008

Download Dokumen Pendukung Sertifikat Hapus Serangga di Pesawat Udara

Kegiatan Pengamanan Bidang Kesehatan Haji di Embarkasi Polonia Medan

  1. PROTAP PEMERIKSAAN AKHIR CJH DI EMBARKASI MEDAN
  2. ALUR LAYANAN CJH PADA PROSES PEMERIKSAAN KESEHATAN DI EMBARKASI POLONIA MEDAN
  3. proses-embarkasi-mes-1428-h-dalam-foto-1428.pdf


Download Dokumen Pendukung Sertifikat Hapus Serangga di Pesawat Udara
01-se-sertifikat-desinseksi-pesawat-dan-formulir-pendukung.pdf
02-tanggapan-adbandara-polonia-medan-thd-desinseksi.pdf
03tanggapan-dirjen-departemen-perhubungan-ri-thd-des.pdf
04-jawaban-dirjen-pp-pl-depkes-ri-ttg-hapus-serangga-pesawat.pdf

05-Contoh sertifikat disesuaikan dengan contoh yang ada dalam kepdirjen PP & PL
06-surat-permintaan-penawaran-harga-pelaksanaan-desinseksi.pdf
07-surat-pemberitahuan-akan-berakhir-sertifikat-hapus-serangga.pdf

Kepdirjen PP & PL ttg PETUNJUK TEKNIS HAPUS SERANGGA (DISINSEKSI) KAPAL LAUT DAN PESAWAT UDARA (Kepdirjen PP & PL No. 2659 Tahun 2007)


Pola Tarif Disinseksi Pesawat Pengangkut Calon Jamaah Haji

Demi keseragaman pola pelayanan Disinseksi Pesawat Pengangkut Calon Jamaah Haji (CJH) pada seluruh Embarkasi Polonia Medan, berikut ini link tentang Pola Tarif Badan Usaha mitra kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan di Embarkasi/ Debarkasi Polonia Medan.

Terimakasih atas kerjasama yang baik

SIMULASI PENANGGULANGAN KEGAWAT DARURATAN DI BANDARA POLONIA MEDAN.


Pukul 09.05 Kapten Pilot melaporkan kepada petugas Air Traffic Controler (ATC) di Approach
Control Unit Bandara-Polonia Medan bahwa pesawatnya mengalami gangguan berupa landing gear problem (left gear unlocked). Supervisor ATC kemudian
melaporkan keadaan ini. Security bandara segera mengamankan akses di dan ke bandara Polonia Medan, menyiagakan personil dilokasi TKP, Rendezvous point, staging area dan menghubungi pospol Bandara.

Setelah mengetahui keadaan ini Airport Duty Manager mengadakan koordinasi dengan instansi terkait untuk menurunkan tim meminimalisasi jatuhnya korban dan kerugian lainnya. Mengetahui adanya pesawat yang memerlukan bantuan maka petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP Kelas I Medan)/Wilker Polonia melakukan stand by position dengan mengirimkan Tim dokter dan paramedis.

Beberapa saat kemudian pilot melaporkan 5 menit lagi pesawat akan landing dan meminta kepada petugas ATC untuk melakukan fly pass di atas runway untuk check landing gear dan membutuhkan bantuan (PKP-PK) pada saat mendarat.

Pukul 09.21 Pesawat mendarat di bandara Polonia Medan dengan menggunakan landasan pacu 05. Saat roda pendaratan menyentuh landasan tiba-tiba ban pada main wheel sebelah kiri pecah, pesawat kehilangan kendali dan keluar dari landasan pacu masuk ke shoulder sekitar 25 m, terdengar suara ledakan yang sangat keras, mesin pesawat sebelah kiri lepas, sayap patah serta pesawat terbakar.

Tim dariseluruh instansi terkait segera melakukan tindakan cepat menuju TKP, diawali oleh Tim Pemadam kebakaran, keamanan, Basarnas, PMI, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan/Wilker Polonia , Imigrasi dan Bea Cukai.

Dalam waktu kurang 15 menit api berhasil dipadamkan selanjutnya korban dievakuasi Tim Basarnas, PMI Medan dan AURI ke collecting Area untuk diberi label sesuai keadaan korban. Korban yang membutuhkan stabilisasi medis segera diberi label merah, korban yang memerlukan pengawasan ketat (perawatan dapat ditunda sementara) diberi label Kuning, penumpang yang tidak memerlukan pengobatan (pengobatan dapat ditunda) diberi label Hijau sedangkan korban meninggal diberi label Hitam.

Selanjutnya korban diangkut ke Triage Area. Di Triage area petugas medis lapangan sudah stand by dengan petugas yaitu : Adam, Laura, Mesdiana Dr. Ramlan Sitompul (KKP Kelas I Medan/Wilker Polonia) serta dibantu petugas medis lainnya. Dilakukan pertolongan medis secukupnya untuk memperbaiki keadaan umum pasien. Diutamakan pertolongan pasien dengan label Merah dan Kuning.

Dr. Ramlan Sitompul (KKP Kelas I Medan/Wilker polonia) yang bertugas sebagai Koordinator Triage Area memerintahkan kepada seluruh ambulance dan Tim bantuan medis dari Rumah Sakit se-kota Medan untuk mengevakusi korban berdasarkan skala prioritas sambil melakukan monitoring dan pendataan. Selanjutnya seluruh korban label merah dan kuning dievakusi ke rumah sakit, kemudian korban dengan label hijau diangkut dengan menggunakan bus yang disediakan bandara Polonia Medan. Sedangkan yang meninggal diangkut dengan menggunakan mobil jenazah.

Akhirnya diperoleh data korban yaitu : luka bakar sebanyak 7 orang (Merah 4, Hijau 3), korban patah tuang 8 orang (Merah 5, Hijau 3), luka ringan 35 orang, pingsan/shock 15 orang, tidak ada luka 70 orang, meninggal dunia 5 orang.

Demikianlah simulasi penanggulangan Gawat Darurat penerbangan di Bandara Udara Internasional Polonia Medan pada hari : Rabu, tanggal : 29 september 2008. Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan Dr. Syahril Aritonang, MHA yang memberi dukungan moril bagi Tim KKP. Suatu kehormatan bagi KKP Kelas I Medan/Wilker Polonia yang dipercaya sebagai koordinator Tim Medis di Triage Area.

Di kursi undangan terlihat hadir pejabat Sipil dan Militer Tingkat Sumatera Utara didampingi para kepala instansi yang bertugas di Bandara Polonia Medan.

Yellow fever in the Central African Republic

30 October 2008 -- On 22 August the Ministry of Health (MoH) of the Central African Republic reported a laboratory confirmed case of yellow fever. This is the second Yellow fever event reported by the Central African Republic in 2008. The case has been laboratory confirmed for Yellow fever by the Institut Pasteur, Dakar.

The initial case is a 32-year old male from Ngotto village, sub-prefecture of Boda, Prefecture of La Lobaye, who presented with symptoms of fever and jaundice. He is alive and continues to recover from his illness. The case was detected by the national Yellow fever surveillance system.

The outbreak investigation team evaluated 34 contacts in Boda sub-prefecture. Four presented with symptoms of fever or jaundice and the other 30 were asymptomatic.

On the basis of the assessment of the outbreak situation, it was decided to vaccinate 183,992 people against Yellow fever in the four sub-prefectures of the Prefecture of La Lobaye (Mbaiki, Mongoumba, Boda and Bogonda) and part of the neighbouring Prefecture of La Sangha (sub-prefecture of Bambio).

The Prefecture of La Lobaye is not an endemic area for Yellow fever. In March 2008, the Central African Republic reported some Yellow fever cases in the North West of the country and a mass vaccination campaign against Yellow fever was conducted successfully in the region.

In response to the outbreak, the MoH has made a request for yellow fever vaccines and operational costs for the preventative mass vaccination campaign from the GAVI funded Global Emergency Stockpile for Yellow fever vaccine, managed by the International Coordinating Group on Vaccine Provision for Yellow Fever Control (YF-ICG).

Wednesday, October 29, 2008

HIV /AIDS : Dibutuhkan Sebuah Skema Baru Pendanaan ARV

Rabu, 29 Oktober 2008 | 01:32 WIB

Jakarta, Kompas - Krisis ketersediaan obat antiretroviral atau ARV di berbagai daerah di Tanah Air terus berlanjut. Beberapa jenis obat ARV bahkan telah kosong persediaannya. Agar orang dengan HIV/AIDS atau ODHA tidak putus berobat, kalangan swasta dan lembaga donor diminta ikut membantu menyediakan obat tersebut.

Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia Prof Samsuridjal Djauzi dalam diskusi yang diprakarsai Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Selasa (28/10) di Jakarta, menyatakan, persediaan obat ARV di sejumlah rumah sakit hanya cukup untuk 2 minggu sampai sebulan ke depan.

Saling meminjam

Salah seorang ODHA yang aktif dalam Jaringan Orang Terinfeksi HIV (JOTHI) menyatakan, saat ini banyak ODHA di berbagai daerah terancam putus berobat.

Mereka harus saling meminjam persediaan obat ARV antar-ODHA, bahkan sampai mencari ke rumah sakit di provinsi lain. "Beberapa jenis obat ARV telah kosong," ujarnya.

"Saya baru ditelepon rumah sakit agar segera mengambil obat ARV. Saya hanya mendapat jatah satu minggu," kata Santi, aktivis peduli AIDS.

Menurut dia, kondisi ini menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah dalam menjamin ketersediaan obat ARV sebagai hak para ODHA dalam mengakses layanan kesehatan.

Prof Zubairi Djoerban dari PB IDI menyatakan, di sejumlah negara, cakupan ODHA yang mengakses layanan ARV jauh lebih tinggi dibanding Indonesia. Pemerintah Brasil, misalnya, menyediakan obat ARV secara gratis untuk 170.000 orang.

Hal ini bisa menghemat anggaran pengobatan infeksi oportunistik dan para ODHA tetap bisa produktif.

Terobosan

Menurut Samsuridjal, terganggunya kesinambungan obat ARV yang disubsidi penuh pemerintah menimbulkan potensi resistensi. Padahal obat ARV bisa mempertahankan hidup ODHA.

Saat ini ketersediaan obat ARV terhambat oleh terbatasnya dana, anggaran terlambat turun, berbelitnya proses tender, dan dana Global Fund yang hanya bisa digunakan untuk obat impor.

Untuk mengatasi krisis ketersediaan ARV perlu ada terobosan agar obat ARV bisa tersedia secepat mungkin sehingga para ODHA tidak putus berobat.

"Dana utama dari pemerintah pusat sebaiknya digunakan untuk obat lini pertama. Pemerintah daerah hendaknya menyediakan obat cadangan," ujarnya.

Lembaga donor juga diharapkan ikut membantu menyediakan ARV.

"Pemerintah harus segera menggalang kalangan swasta dan lembaga donor untuk ikut membantu pendanaan obat ARV sesegera mungkin, tidak hanya menunggu ada lembaga donor datang," kata Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI dr Pandu Riono.

Pembagian kewenangan

Kejelasan pembagian wewenang antara Depkes dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional juga harus diperjelas.

Jadi, kalau ada krisis ketersediaan obat ARV, ada pihak yang bertanggung jawab. "Pendanaan obat ARV seharusnya tidak hanya dari dana publik, tapi juga ada skema pendanaan dari asuransi dan swasta," ujarnya. (evy)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/29/01322592/dibutuhkan.sebuah.skema.baru.pendanaan.arv

Wednesday, October 15, 2008

Diare Renggut 160.000 Nyawa Anak Setiap Tahun

Diare merenggut nyawa 160.000 anak di dunia setiap tahun, terutama karena kelalaian dalam mencuci tangan pakai sabun guna mematikan kuman penyebab diare yang melekat pada tangan.


 

Kepala Sub-Dinas Penyuluhan dan Peran Serta Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Benny Latuperisa, di Kupang, Selasa (14/10) mengatakan, untuk menekan angka diare di dunia, maka pemerintah di 20 negara mencanangkan tanggal 15 Oktober sebagai hari cuci tangan pakai sabun.


 

Untuk tingkat Provinsi NTT, pencanangan hari cuci tangan pakai sabun itu akan dilakukan di SD I Inpres Naikotan I Kupang pada Rabu 15 Oktober, oleh Gubernur Drs. Frans Lebu Raya, dengan dihadiri sekitar 500 murid utusan berbagai SD di Kota Kupang.


 

Letuperisa mengatakan, cuci tangan bukanlah hal baru bagi masyarakat, namun mencuci tangan pakai sabun cenderung mulai ditinggalkan masyarakat. Padahal, dengan mencuci tangan pakai sabun bisa mencegah 44 persen timbulnya penyakit diare dan 23 persen kemungkinan timbulnya infeksi saluran pernapasan.


 

"Besok (Kamis 15 Oktober) cuci tangan pakai sabun mulai dicanangkan dan dilakukan serentak di 22 negara," kata Latuperisa dan menambahkan, anak-anak sekolah dan tenaga pendidik menjadi sasaran program ini. Sasaran atas anak dan pendidik ini, menurutnya, karena anak mudah terkena diare, juga anak bisa menjadi agen perubahan dan guru bisa memberikan teladan untuk kemudian disebarkan ke masyarakat yang lebih luas. Selain murid dan pendidik, sasaran lainnya adalah pers, organsasi profesi, pembuat kebijakan publik, selebritis, tokoh agama, akademisi dan masyarakat luas.


 

Dia mengatakan, cuci tangan pakai sabun harus menjadi sebuah gerakan sosial agar semua lapisan masyarakat dan semua usia merasa wajib mencuci tangan pakai sabun sesudah ke jamban dan sebelum menjamah makanan, memasak atau menyajikan makanan.


 

Pencanangan hari cuci tangan pakai sabun ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat, mendorong advokasi di tingkat pengambil keputusan, apalagi dilakukan dengan sangat mudah dan murah.


 

Untuk sejumlah wilayah di NTT yang sulit medapatkan air bersih, Kepala Seksi Penyuluhan Program Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan NTT, drg Iin Adriani mengatakan, pihaknya telah melakukan uji coba teknologi sederhana yang terbuat dari jeriken berisi air lima liter yang dilubangi. Air lima liter itu, ternyata bisa untuk mencuci tangan 40 orang dalam ujicoba di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang selalu menjadi langganan kejadian luar biasa (KLB) diare setiap tahun. (Ant/OL-02)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzY0NDQ=


 

Tuesday, October 14, 2008

New virus from Arenaviridae family in South Africa and Zambia

13 October 2008 -- The results of tests conducted at the Special Pathogens Unit, National Institute for Communicable Diseases (NICD) of the National Health Laboratory Service in Johannesburg, and at the Special Pathogens and Infectious Disease Pathology branches of the Centers for Disease Control in Atlanta, USA, provide preliminary evidence that the causative agent of the disease which has resulted in the recent deaths of 3 people from Zambia and South Africa, is a virus from the Arenaviridae family.

Analysis continues at the NICD and CDC in order to characterize this virus more fully. CDC and NICD are technical partners in the Global Outbreak Alert and Response Network (GOARN).

Meanwhile, a new case has been confirmed by PCR in South Africa. A nurse who had close contact with an earlier case has become ill, and has been admitted to hospital. Contacts have been identified and are being followed-up.

WHO and its GOARN partners continue to support the Ministries of Health of the two countries in various facets of the outbreak investigation, including laboratory diagnosis, investigations, active case finding and follow-up of contacts.

Source : http://www.who.int/csr/don/2008_10_13/en/index.html

Pencegahan HIV/AIDS Gagal

KPA Minta Aturan No Condom No Sex


 

Jakarta - Pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia dinilai gagal. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) meminta pemerintah tegas mengeluarkan aturan 'no condom no sex'.

"Upaya pencegahan kita gagal, terutama kalau masalah pencegahan HIV/AIDS. Pengobatan itu mahal sekali, sedangkan anggaran pengobatan dari pemerintah hanya Rp 70 miliar," kata Ketua KPA Nafsiah Mboi.

Hal itu dikatakannya dalam diskusi peluncuran diseminasi Survei Terpadu Biologis Perilaku (STBP) di Gedung Departemen Kesehatan (Depkes), Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Senin (13/10/2008).

Menurut Nafsiah, cara yang paling efektif untuk menanggulangi HIV/AIDS adalah dengan melakukan pencegahan. Begitu pentingnya pencegahan itu sehingga dia menekankannya berkali-kali.

"Harus ada upaya dorongan pada pencegahan, pencegahan, dan pencegahan," tegasnya.

Upaya pencegahan itu, imbuh Nafsiah, perlu dibarengi dengan perubahan konstruksi sosial di dalam masyarakat menyangkut arti kejantanan. Kejantanan harus diidentikkan dengan kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, termasuk dari bahaya HIV/AIDS.

"Harus ada perubahan, laki-laki jantan itu kayak apa sih? Laki-laki jantan itu yang bisa melindungi dirinya dan orang lain, melindungi kesehatan dirinya dan orang lain," tukasnya.

Mengingat hubungan seksual adalah salah satu penyebar utama virus HIV/AIDS, lanjut Nafsiah, pemerintah perlu membuat kebijakan terkait dengan penggunaan kondom. Pemerintah harus membuat kebijakan wajib pakai kondom bagi pelaku hubungan seksual yang bebas.
"Pemerintah harus bisa membuat kebijakan wajib makai kondom atau tidak (seks) sama sekali, no kondom no sex," tandas dia.(sho/nwk)

Sumber : Taufiqqurahman – detikNews

http://www.detiknews.com/read/2008/10/14/014033/1019534/10/pencegahan-hiv/aids-gagal,-kpa-minta-aturan-no-condom-no-sex

Saturday, October 11, 2008

Unknown disease in South Africa and Zambia

10 October 2008 -- On 12 September, an office employee at a safari tour company living and working in Zambia underwent medical evacuation to South Africa with an as-yet unknown disease. The patient died in a Johannesburg hospital on 14 September.

On 27 September, the paramedic who cared for the index case during her evacuation to South Africa was admitted to hospital in Johannesburg where he died on 2 October. In addition, a nurse who cared for the index case in South Africa died on 5 October in Johannesburg.

Laboratory analysis has been conducted in South Africa at the Special Pathogens Unit, National Institute for Communicable Diseases (NICD) of the National Health Laboratory Service. Samples have, so far, tested negative for a series of viral haemorrhagic fevers and other common infectious disease pathogens. Tests to identify the pathogen continue at the NICD in South Africa and further testing will be performed at the Special Pathogens and Infectious Disease Pathology branches of the Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Atlanta, United States. CDC and NICD are technical partners in the Global Outbreak Alert and Response Network (GOARN ).

Clinical features common to the three patients initially include fever, headache, diarrhoea and myalgia developing into rash and hepatic dysfunction, followed by rapid deterioration and death. Bleeding was not a marked clinical feature (NICD report (.pdf)).

There are no further known symptomatic cases, either in Zambia or in South Africa. 121 known contacts of the fatal cases are being traced in South Africa and 23 in Zambia.

WHO and its partners are actively supporting the investigation at provincial and national levels. Epidemiologists from the WHO African Regional Office have arrived to assist both countries, and personal protective equipment (PPE) and sampling equipment are en route to Lusaka. WHO is also providing support to the Ministries of Health of the two countries with epidemiological investigations, active case finding and follow-up of contacts.

While the investigations and follow-up of contacts continue, there have been no new cases since the last death on 4 October. There is no indication at this point of the need for any restriction of travel to or from Zambia or South Africa and no special measures are required for passengers arriving from these countries.

WHO African Regional Office is providing updated information to the WHO Country Offices in the neighbouring countries.

Monday, October 6, 2008

Info OMKA : Pembiaran Komunikasi Ragu dan 'Lelet' Ala BPOM

Informasi tentang keamanan pangan dan obat merupakan hal yang mutlak diperoleh publik tanpa terkecuali dari penyelenggara negara, dalam hal ini adalah Departemen Kesehatan serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Berbagai kasus ketidakamanan pangan dalam lima tahun terakhir terus menerus mengusik publik tanpa kepastian yang jelas. Produk pangan menjadi sangat sensitif bagi semua orang karena jika pangan yang kita telan tidak aman, dapat berefek buruk terhadap kesehatan atau bahkan kematian.

Terkait dengan masalah keamanan pangan, publik dengan keterbatasan pada akses ke teknologi, pengetahuan dan kemampuannya sulit untuk dapat mengetahui apakah suatu produk pangan berbahaya atau tidak jika tidak ada informasi resmi dan dapat dipertanggungjawabkan. Baik informasi dari industri dan tentunya Pemerintah sebagai pemberi izin dan pengawas. Dalam hal ini BPOM dan kemungkinan juga Departemen Kesehatan sebagai regulator.

Dasar dari semua informasi untuk publik hanya berdasarkan dua Undang-Undang, yaitu UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan dan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, beserta aturan pelaksanaannya.

Banyaknya kasus keamanan pangan dalam 5 tahun terakhir sangat meresahkan publik dan patut diduga muncul sebagai akibat 'lelet'-nya komunikasi Pemerintah dalam hal ini BPOM. Kasus bakso mengandung borax, makanan berformalin, susu mengandung bakteri enterobacter sakazakii dan yang terakhir kasus melamine dalam susu produk China telah menimbulkan keresahan publik yang dasyat akibat 'lelet'-nya kerja BPOM.

Tidak jarang langkah BPOM bukannya menyelesaikan masalah tetapi menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan semakin meresahkan publik, contohnya susu yang mengandung enterobacter sakazakii yang sampai digugat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat oleh seorang pengacara.

Contoh lainnya pada kasus terkini, yaitu kasus melamine pada pangan produk China yang menggunakan susu bermelamine lamban diantisipasi BPOM karena konon saat kasus mulai merebak para petinggi BPOM sedang berada di luar negeri sehingga para bawahan kesulitan mengambil keputusan. Tidak saja konsumen pangan yang menunggu-nunggu keputusan atau langkah-langkah BPOM tetapi juga pedagang/pengecer dan industri di seluruh Indonesia cemas.

Apakah harus menunggu sampai jatuh korban, baru Negara bertindak? Pembiaran semacam ini tentunya tidak boleh dibiarkan karena kepentingan konsumen dilindungi UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 4 huruf c yang menyatakan bahwa Hak konsumen adalah hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.

Langkah "Lelet" dan Ragu BPOM

Langkah dan tindakan BPOM terhadap ketidakberesan produksi, iklan, label dan distribusi pangan, obat serta kosmetika seharusnya dapat diambil secara tegas dan cepat karena secara legal kewenangan BPOM sudah ditetapkan dalam Surat Keputusan Bersama antara Menteri Kesehatan dan Menteri Pendayaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor 264 A/Menkes/SKB/VII/2003 dan Nomor 02/SKB/M.PAN/7/2003 tentang Tugas, Fungsi, dan Kewenangan di Bidang Pengawasan Obat dan Makanan.

Selain itu Keppres No. 103 Tahun 2001, yang kemudian diubah menjadi Keppres No. 46 Tahun 2002 tentang organisasi Lembaga Pemerintah Non-Departemen (LPND) dan Peraturan Pemerintah No 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan, BPOM juga memberikan mandat kepada BPOM sebagai penyelia, melakukan supervisi, pelatihan dan menyusun standar keamanan pangan.

Pada kasus susu yang mengandung enterobacter sakazakii, Kepala BPOM, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Menteri Kesehatan dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena tidak menginformasikan merek susu yang tercemar enterobacter sakazakii. Begitu pula pada kasus melamine pada susu China, BPOM tidak menginformasikan dengan jelas dan tegas kepada publik serta tidak memberikan teguran langsung ke industri seperti PT Kraft Food Indonesia (Oreo Wafer) dan Mars (M&M's dan Snickers). Namun teguran BPOM diajukan melalui Asosiasi Peretail Indonesia (Aprindo). Ada apa? Patut diduga ada yang disembunyikan oleh BPOM.

Masalahnya di pasar Indonesia saat ini banyak beredar produk sejenis yang dilarang, seperti Oreo, M&M's, Snickers dan lain-lain yang tidak menggunakan campuran susu dari China. Apakah produk tersebut juga harus ditarik? Informasinya serba tidak jelas dan membuat publik bertanya-tanya. Selain itu banyak pula produk impor ilegal sejenis (Oreo, M&M's, Snickers dll) yg menggunakan label non bahasa Indonesia beredar atau dijual di pasar swalayan besar tanpa ada tindakan dari BPOM.

Dugaan saya BPOM memang ragu dalam memberikan informasi ke publik. BPOM juga ragu menindak dan patut diduga memang melakukan pembiaran masuknya produk pangan ilegal ke pasar Indonesia. Tidak percaya? Coba anda berkunjung ke pasar swalayan/modern, seperti Food Hall, Ranch Market, dan lain-lain. Ada biskuit Oreo, coklat bar Snickers, coklat Pocky, biscuit Ritz buah dalam keleng produk Malaysia dan berbagai produk pangan impor ilegal lain yang tidak terdaftar di BPOM dipajang diberbagai sudut ruangan tanpa khawatir akan ada razia atau penyitaan yang dilakukan oleh BPOM.

Sesuai dengan UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, Pasal 37 huruf c yang menyatakan: "Terhadap pangan yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, Pemerintah dapat menetapkan persyaratan bahwa pangan terlebih dahulu diuji dan atau diperiksa di Indonesia dari segi keamanan, mutu, dan atau gizi sebelum peredarannya".

Jadi jelas tanpa ada tanda uji dari BPOM (kode MD untuk produk lokal dan ML untuk produk impor diikuti 12 digit angka), produk pangan tersebut ilegal dan harus disita oleh BPOM bukan dibiarkan seperti saat ini.

Bagi industri atau distributor produk ilegal sanksinya jelas diatur pada UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan Pasal 58 huruf b dan c yang menyatakan "Barang siapa memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia dan atau mengedarkan di dalam wilayah Indonesia pangan yang tidak memenuhi ketentuan Undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2); menghambat kelancaran proses pemeriksaan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53; dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp360.000.000,00 (tiga ratus enam puluh juta rupiah)".

Jadi jika sampai Kepala BPOM "lelet" dan ragu dalam memberikan informasi kepada konsumen, industri dan distributor tentang adanya kandungan melamine dalam susu dari China serta tidak menarik produk ilegal dari pasar, maka secara hukum patut diduga Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan Menteri Kesehatan telah melakukan pembiaran terjadinya pelanggaran hukum.

Bagaimana Sikap Masyarakat?

Publik sebagai pihak yang akan, sedang dan sudah mengkonsumsi produk pangan tentunya tetap harus kritis. Hak publik untuk kritis dalam hal kualitas pangan dilindungi oleh UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan seperti yang tertera pada Pasal 51: "Masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan seluas-luasnya dalam mewujudkan perlindungan bagi orang perseorangan yang mengkonsumsi pangan, sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya serta peraturan perundang-undangan lain yang berlaku".

Jadi dengan lambannya BPOM dalam menangani berbagai kasus produk pangan berbahaya, masyarakat harus dengan sadar segera mengingatkan Kepala BPOM. Jika Kepala BPOM tetap mengabaikan koreksi publik, maka saya menganjurkan agar publik segera mendaftarkan pembiaran yang dilakukan oleh Kepala BPOM dan Menteri Kesehatan ke Pengadilan Negeri setempat. Publik terpaksa harus meminjam palu hakim untuk mengingatkan Kepala BPOM agar taat hukum.

Ingat! Jika anda juga membiarkan komunikasi ragu dan 'lelet' ala BPOM tanpa melakukan koreksi, artinya anda semua ikut berperan dalam pelanggaran hukum yang patut diduga akan menelan korban cukup besar. Jadi sebagai konsumen tetaplah kritis dan waspada. (nrl/nrl)

Sumber : Agus Pambagio – detikNews

http://www.detiknews.com/read/2008/10/06/100908/1015829/103/pembiaran-komunikasi-ragu-dan-lelet-ala-bpom

Agus Pambagio (Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen)

Friday, September 26, 2008

Sosialisasi Flu Burung Sebagai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Jakarta, 24 Sep 2008

Penyakit flu burung (FB), masih menular dari unggas ke manusia. Padahal di banyak negara Asia, Eropa dan Afrika, sudah terjadi pandemi FB pada unggas. Dengan semakin seringnya menginfeksi manusia, dikhawatirkan virus FB yang Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI-H5N1) bermutasi menjadi virus yang menular antar manusia. Bila ini terjadi, maka bencana besar tidak bisa dielakkan dengan jumlah kematian dan kesakitan yang banyak serta kekacauan sosial ekonomi, kesedihan serta kesengsaraan umat manusia. Karena itu, semua pihak termasuk perusahaan multi nasional diminta memiliki strategi penanggulangan FB dan Pandemi Influenza. Selain itu sosialisasi pengendalian FB kepada karyawan dan lingkungannya menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau Corparate Social Responsibility (CSR).

Demikian pernyataan Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) dihadapan 100 pemilik perusahaan (CEO) dari berbagai jenis bidang usaha, ketika membuka "Sosialisasi Pengendalian FB dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza di lingkungan perusahaan/industri" di Jakarta tanggal 23 September 2008.

Kekhawatiran Menkes itu dilandasi pengalaman masa lalu ketika terjadi pandemi flu Spanyol tahun 1918 yang menimbulkan kematian 40-50 juta orang di seluruh dunia dalam waktu yang relatif singkat.

Menurut Menkes, pemerintah sangat serius dalam pengendalian FB di Indonesia. Melalui Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2006 telah membentuk Komisi Nasional Pengendalian FB dan Kesiapsiagaan Mengdadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) guna mengkoordinasikan upaya pengendalian FB secara nasional. Presiden juga telah mengeluarkan Inpres No. 1 Tahun 2007 tentang Penanganan dan Pengendalian virus FB, untuk menekan jumlah penderita FB pada manusia.

"Karena itu, tidak bijaksana bila kita tidak bersiapsiaga mengantisipasi ancaman pandemi influenza yang akan datang. Pencegahan timbulnya pandemi influenza di masa yang akan datang secara global sedang diupayakan. Jika upaya ini nanti ternyata tidak berhasil, maka dampak pandemi itu harus dapat ditekan sekecil mungkin dengan kesiapsiagaan yang terencana dan teruji rapi", ujar Dr. Siti Fadilah.

Pengendalian FB dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza di lingkungan perusa-haan/industri merupakan bagian integral dari kesiapsiagaan nasional maupun global, harus direncanakan dan diujicoba secara rapi dan teliti. Kalau hal ini tidak dilakukan, sulit dampak pandemi itu dibuat sekecil mungkin di lingkungan perusahaan/industri. Hal ini berarti dampaknya terhadap masyarakat luas akan tetap besar sekali dan tidak terkendali. Padahal, episenter pandemi ini mungkin saja mulai terjadi di bagian tertentu di dunia, kata Menkes.

Virus H5N1 pertama kali dideteksi pada ternak unggas pada bulan Agustus 2003 dan infeksi subtipe H5N1 pada manusia pertama kali dikonfirmasi di Indonesia Juli 2005. Tantangan FB semakin meningkat baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat regional dan global. Kasus flu burung pada manusia sudah dideteksi di banyak negara yaitu Azerbaijan, Bangladesh, Cambodia, China, Djibouti, Mesir, Indonesia, Iraq, Laos, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Thailand, Turkey dan Viet Nam. Pada tingkat nasional, jumlah provinsi endemik flu burung pada unggas sudah sangat meningkat sehingga hanya dua provinsi saja yang masih bebas FB yaitu Gorontalo dan Maluku Utara. Kejadian Luar Biasa (KLB) FB pada unggas masih terjadi secara sporadik di berbagai daerah, tambah Menkes.

Menkes menyatakan, FB merupakan penyakit yang relatif baru. Karena itu masih memerlukan kajian dan penelitian dari berbagai ahli seperti epidemiologi, klinis, diagnostik, imunologi dan virologi. Contohnya, deteksi dini dan pengobatan awal FB di Puskesmas diperlukan suatu kit diagnostik cepat (rapid test) dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Begitu pula dalam aspek pencegahan, vaksin FB untuk manusia masih dalam proses penelitian produsen vaksin dan para ahli. Oleh karena itu, Departemen Kesehatan sedang berupaya mengembangkan vaksin FB manusia dan kit diagnostik cepat.

Menkes mengakui, keberadaan unggas bagi masyarakat luas sangatlah penting dari segi ekonomi dan sosial. Investasi total dalam peternakan unggas mencapai 35 Milyar dollar Amerika dengan peredaran uang mencapai US$30 Milyar per tahun. Industri peternakan jugai menyerap 10 juta tenaga kerja. Sedangkan total ternak unggas mencapai 1,3 Milyar ekor, dimana 20% diantaranya merupakan peliharaan dibelakang rumah (backyard farm) oleh 30 juta rumah tangga di Indonesia.

Dengan demikian, penanggulangan masalah FB di Indonesia tidak boleh dilakukan secara sem-barangan, tetapi harus terencana dan terlaksana secara teliti serta rapi. Seperti dalam pepatah "seperti menarik rambut dari tepung; tepung jangan terserak dan rambut jangan sampai putus", ujar Menkes.

Menkes menegaskan, Indonesia sudah mempunyai Rencana Stratejik Nasional untuk pengendalian FB dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza (National Strategic Plan for Avian Influenza Control and Pandemic Influenza Preparedness) 2006-2008. Beberapa kegiatan yang sedang ditingkatkan, antara lain:

  1. Mengembangkan 8 laboratorium diagnostik regional dan laboratorium Badan Litbangkes menjadi BSL-3 (Bio Safety Level 3), untuk memeriksa virus hidup.
  2. Meneruskan sosialisasi kebijakan dan intensifikasi penatalaksanaan kasus serta kecepatan rujukan kasus.
  3. Memperkuat Early Warning System (deteksi dini) dan Surveilans.
  4. Melengkapi alat-alat perawatan intensif di 100 rumah sakit rujukan.
  5. Mengintensifkan komunikasi risiko dalam membangun kesadaran lapisan masyarakat.
  6. Mengembangkan desa siaga di bidang kesehatan termasuk pencegahan dan penanggulangan FB.
  7. Mengembangkan "Pilot Project" pencegahan dan penanggulangan FB di Tangerang sebagai model, bekerja sama dengan pemerintah Singapura.
  8. Memperkuat koordinasi lintas sektor terutama dengan Departemen Pertanian yang kompeten dalam penanganan sumber infeksi pada unggas.
  9. Penelitian epidemiologi, klinis, lingkungan dan virologis.
  10. Memproduksi Oseltamivir dalam negeri dan mengembangkan vaksin berbasis strain H5N1 Indonesia dan rapid test untuk mendeteksi virus FB pada manusia, bekerjasama dengan luar negeri.

Selain itu, juga telah memiliki Rencana Kontijensi Pandemi Influenza. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 17.000 pulau, maka perlu sesegera mungkin mensosialisasikan ke daerah-daerah pedoman tentang penanggulangan FB termasuk pedoman tentang penatalak-sanaannya sehingga kesiapsiagaan seluruh tanah air dapat ditingkatkan.

Sumber : Depkes Online

Thursday, September 25, 2008

Cholera in Guinea Bissau

Since the beginning of May 2008, Guinea-Bissau has been facing a large cholera outbreak. As of 21 September, 7 166 cases had been reported throughout the country, among whom 133 people had died. The overall case-fatality rate stands at 1.9%, and decreases below 1% for hospitalized cases. However, the case-fatality rate reaches 9% in remote areas, indicating that rural populations affected by cholera do not have access to treatment rapidly enough to save lives. The fact that Bissau, the capital, accounts for more than 70% of all cases but only 31% of deaths also illustrates this issue. The areas with the highest attack rates are Bissau, Biombo, Bijagos and Oio. Cholera epidemics regularly resurge in Guinea-Bissau. In 2005-2006, cholera affected 25 111 people and killed 399.

Numerous national and international partners are supporting the Ministry of Health. Médecins sans Frontières (MSF-Spain) took charge of cholera treatment centres by building local capacity, and improving early detection and treatment of cases through systematic patient home visits. UNICEF is providing technical expertise and material in the area of water and sanitation; WHO is deploying an epidemiologist. A team from The US Centers for Disease Control (CDC) - Brazil team - have also arrived in the country to support the outbreak investigation. In addition, efforts are being made to strengthen community mobilization, health and hygiene education, and to de-stigmatize cholera among potentially-affected populations.

Cholera is mainly transmitted through contaminated water and food and is closely linked to inadequate environmental management. In many areas of Guinea-Bissau, basic infrastructures appear to be largely inefficient. The overall quality of water and sanitation remains very poor, therefore facilitating cholera transmission. Long-term prevention of cholera depends on access to safe water and adequate sanitation to prevent exposure and interrupt transmission. In addition, corpses of deceased cholera patients should be handled with extreme caution and correctly disinfected before proceeding with the burial ceremony to avoid further contamination.

WHO does not recommend any restrictions to travel or trade to or from affected areas as a means to control the spread of cholera.

Source : WHO

Wednesday, September 24, 2008

Waspadai Produk Makanan China

Masuk RI Lewat Jalan Cincai

Jakarta - Produk makanan olahan dari China sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Makanan seperti manisan, dodol dan permen misalnya. Produk-produk itu telah masuk di Indonesia sejak ratusan tahun lalu

Karena hubungan dagang yang cukup lama antara Indonesia dan China, tak heran bila produk asal negeri tirai bambu tersebut membanjiri pasar ritel Indonesia. "Dibanding negara-negara lain, China yang paling banyak memasok produk ritelnya ke Indonesia,"kata pengamat Ritel Indonesia Handaka Santosa.
Malah belakangan, produk ritel asal China itu mulai mendesak produk ritel asal Indonesia. Pasalnya, produk-produk asal China lebih variatif dan inovatif. Di samping itu, harga produk-produk dari China harganya relatif lebih murah.
Handaka, yang merupakan bekas Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menuturkan, masyarakat banyak menggandrungi produk asal China karena harganya lebih murah dan variatif. Akhirnya, banyak produk-produk ritel dalam negeri yang kalah bersaing.
Murahnya produk-produk dari China lantaran di negeri itu, pembiayaan pabriknya lebih murah dibanding Indonesia. Untuk produk ekspornya, pengusaha China juga mendapat kredit dengan bunga yang lebih rendah.
Tapi ada faktor lain yang membuat harganya jauh lebih murah dibanding produk lokal. Penyebabnya, banyak produk China yang tidak terkena biaya. Caranya, dengan memasukan barang dengan cara selundupan. Ada juga yang masuk karena ada cincai dengan petugas.
Hasilnya, banyak produk-produk China yang tidak terdaftar di Departemen Perindustrian dan Perdagangan beredar bebas di pasaran. "Produk-produk ritel asal China banyak yang tidak terdaftar. Sehingga sangat rentan dampaknya bagi masyarakat. Karena tidak terpantau," ujar Handoko.
Selain itu, banjirnya produk ilegal ini lantaran sikap apatis aparat di seluruh pelabuhan dan bandara di Indonesia. Sebab banyak penumpang yang membawa beberapa produk dari China, dalam skala kecil, dan kemudian dijual di Indonesia. Barang-barang tentengan semacam ini banyak beredar di masyarakat tanpa melalui proses uji laboratorium.
"Harusnya petugas bandara melarang barang-barang itu masuk. Di Australia atau Singapura, kalau kedapatan membawa barang tentengan dalam jumlah besar dari luar negeri langsung dibuang dan dimusnahkan. Sehingga tidak bisa masuk ke dalam negerinya," jelasnya.
Langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah Australia dan Singapura ini dilakukan untuk menjaga masyarakatnya dari barang-barang yang mungkin bisa membahayakan masyarakatnya.
Sedangkan di Indonesia, sejumlah produk ritel dari China banyak yang tidak terdaftar banyak beredar luas di masyarakat. Ketika produk makanan yang beredar itu disebut-sebut bisa mengganggu kesehatan, intansi terkait seperti Badan Pengawasan Obat dan makanan (BPOM) baru melakukan operasi. Padahal makanan-makanan itu sudah dikonsumsi masyarakat.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan, juga mengakui kalau banyak produk ritel asal China yang tidak terdaftar. Namun dia menolak memberikan komentar lebih jauh kenapa hal itu bisa terjadi.
"Sekarang yang jadi persoalan masalah susu yang mengandung melamine. Dan itu tidak ada di Indonesia. Jangan melebar ke masalah lain," jelas Darmawan.
Masalah lain yang dikatakan oleh Darmawan tersebut maksudnya adalah makanan-minuman olahan dari China. Alasannya, dengan mengait-ngaitkan makanan dan minuman asal China dengan susu bermelamine dampaknya akan merugikan perdagangan di Indonesia.
Saat sejumlah produk asal China yang diduga mengandung formalin dilarang edar 2007, lalu, pemerintah China China kemudian melakukan langkah balasan dengan melarang produk Indonesia terutama, produk Sea Foodnya. Sebab ikan-ikan laut dari Indonesia disebut punya kadar mercury.(ddg/iy)
Sumber : Deden Gunawan
- detikNews

Tuesday, September 23, 2008

Flu Burung Bikin RI Rugi Rp 5 Triliun


 

Virus H5N1 tipe A atau yang lebih dikenal dengan flu burung tidak hanya menimbulkan korban manusia. Sejak pertama kali mewabah, dampak kerugian virus ini pada perekonomian Indonesia diperkirakan mencapai Rp 5 triliun.

"Dampak kerugian flu burung atau avian influenza pada perekonomian di Indonesia sebesar Rp 5 triliun," kata Deputi III Menko Kesra bidang Koordinasi Kependudukan Kesehatan dan Lingkungan Hidup Emil Agustiono di acara 'Sosialisasi Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Avian Influenza di Lingkungan Perusahaan/Industri' yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (23/9).

Untuk dampak langsung terhadap ekonomi Indonesia, Emil menyebutkan hal itu meliputi biaya mencegah wabah flu burung pada unggas dan manusia, pemusnahan unggas dan biaya kompensasi bagi pemilik unggas, biaya perawatan dan pengobatan.

"Sedangkan dampak tidak langsung yakni adanya penurunan produksi dan konsumsi unggas dan telur," ujarnya.

Emil menyebutkan, secara global dampak kerugian ekonomi akibat pandemi flu burung mencapai US$ 2

triliun yang untuk biaya respon medik dan biaya respon non kesehatan. "Dampak tidak langsungnya pada kelumpuhan industri," terangnya.

Pemerintah, lanjut Emil telah melakukan langkah-langkah untuk melindungi sektor perekonomin dari dampak pandemi flu burung. Beberapa diantaranya adalah melakukan sosialisasi ancaman pandemi flu burung kepada semua pelaku bisnis, advokasi terhadap semua pelaku bisnis, serta melaksanakan simulasi penanganan pandemi influenza di lingkungan pelaku bisnis (sektor perbankan, industri, telekomunikasi, transportasi, energi dan UKM).

"Koordinasi dan komunikasi antar pelaku bisnis merupakan kata kunci untuk memahami ancaman pandemi," pungkasnya.[L6]

Sumber : Samsul Hidayat INILAH.COM

Melamine-contaminated powdered infant formula in China


 

Over 6240 cases of kidney stones in infants with three deaths have been reported from across China as of 17 September. Kidney stones in infants are very rare.

The Ministry of Health of China has confirmed that these cases are related to melamine-contaminated powdered infant formula consumed by the infants. While the exact onset date of illness resulting from contamination is unknown, a manufacturer received a complaint of illness in March 2008.

Following inspections conducted by China's national inspection agency, at least 22 dairy manufacturers across the country were found to have melamine in some of their products (levels varied between 0.09mg/kg and 2.560 mg/kg). Two companies exported their products to Bangladesh, Burundi, Myanmar, Gabon and Yemen. While contamination in those exported products remains unconfirmed, a recall has been ordered from China.

A recall is also ongoing for all contaminated products in China.

The World Health Organization (WHO) is in close communication with the Ministry of Health of China to monitor the situation. WHO has also been disseminating information on the situation to WHO Member States through the International Food Safety Authorities Network (INFOSAN). INFOSAN has also specifically alerted the five countries importing potentially contaminated products from China.

WHO recommends breastfeeding as the ideal way of providing young infants with the nutrients they need for healthy growth and development. Exclusive breastfeeding is recommended up to six months of age.

Melamine-contaminated powdered infant formula in China - update

22 September 2008 -- China's Ministry of Health reported over the weekend that nearly 40,000 children have sought medical treatment related to the consumption of melamine-contaminated powdered infant formula. Almost 12,900 are currently hospitalized.

Three deaths have been confirmed as being related to contamination of infant formula. One is under further investigation.

Authorities of Singapore and Hong Kong SAR reported finding melamine in dairy products manufactured in China. A three-year old girl received treatment in Hong Kong due to consumption of the contaminated milk.

WHO will continue to share information through its International Food Safety Authorities Network (INFOSAN) to help national authorities to be better informed and enable them to better target their monitoring.

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN