Dua Bahan Kimia yang Paling Berbahaya
Sumber : www.detikhealth.com Nurul Ulfah -
di
15:55
Diposkan oleh
IBS
di
16:27
Diposkan oleh
IBS
| Warta - Medan |
| WASPADA ONLINE MEDAN - Sepanjang tahun 2009, terdapat 528 kasus HIV/AIDS di Klinik Pusyansus VCT (Voluntary Counselling Test) RSUP H Adam Malik. Dibanding tahun 2008 yang berjumlah 403 kasus, tahun 2009 ini jauh lebih tinggi kasus HIV/AIDS ditemukan. Berdasarkan data yang diperoleh Waspada di Klinik VCT RSUP HAM, jumlah pria lebih tinggi angka penderita HIV/AIDS-nya yang mencapai 407 orang, dibandingkan wanita yang hanya berkisar 121 orang. Koordinator Pusyansus VCT RSUP HAM, Rahmat Nur Kurniawan, tadi malam, memperkirakan jumlah kasus baru HIV/AIDS setiap tahunnya akan meningkat. Banyak terkuaknya kasus HIV/AIDS sekarang ini muncul, katanya, karena keberhasilan klinik-klinik VCT menemukan kasus HIV. “Karena VCT didirikan agar bisa menemukan kasus HIV sebanyak mungkin, sehingga kesadaran masyarakat resiko tinggi untuk memeriksakan diri sejak dini meningkat. Karena ada klinik-klinik VCT inilah kasus HIV banyak ditemukan, Tapi, jumlah estimasi masih jauh lebih besar daripada jumlah kasus HIV yang ditemukan,” ujarnya. Dituturkan, bahwa pihak klinik VCT masih mengalami hambatan-hambatan dalam menangani pasien HIV/AIDS yang terutama diluar kota. Hal ini disebabkan oleh jarak dan ekonomi si pasien. “Banyak pasien kita orang miskin, jadi setelah keluar dari ruang rawat inap di RS ini, mereka tak mengontrol lagi. Disinilah sebenarnya peran LSM mendampingi para ODHA agar mau terus berhubungan dengan tim VCT. Untuk para lay support harus meningkatkan kuantitas dan kualitasnya, dan selalu berkoordinasi dengan tim VCT,” katanya. Menanggapi meningkatnya kasus HIV/AIDS itu, anggota DPD RI asal Sumut, Parlindungan Purba, mengatakan, meningkatnya kasus HIV/AIDS ini merupakan pertanda bencana kemanusiaan. Sebab, semua orang bisa tertular HIV/AIDS tanpa memandang usia dan ekonomi. Meningkatnya kasus ini, lanjutnya, juga karena belum antusiasnya pihak-pihak terkait membahas masalah ini. ”Klinik-klinik VCT yang berdiri di RS pemerintah itu hanya melakukan pemeriksaan, tapi upaya pencegahan tak banyak dilakukan di sana. Untuk itu kuncinya ada pada lingkungan keluarga. Memberikan informasi tentang bahaya HIV/AIDS serta penyebab-penyebabnya kepada anggota keluarga. Ulama dan pendeta juga berperan dalam membentuk mentalnya. Jadi tak hanya peran pemerintah,” katanya. (dat04/waspada) |
di
08:39
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
di
15:12
Diposkan oleh
IBS
di
10:36
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
di
08:48
Diposkan oleh
IBS
di
08:26
Diposkan oleh
IBS
di
08:16
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
"At this time we believe it is still too early to say that the pandemic is over. We are monitoring the situation carefully," said Dr Keiji Fukuda, the WHO's special adviser on pandemic influenza.
Addressing a telephone press conference, Fukuda said high levels of pandemic activity or infections were still continuing in many different countries, including France, Switzerland, Russia and Kazakstan.
He said the pandemic activity had clearly peaked and was on the way down in North America and some parts of Europe, but the peaking had occurred "extraordinarily early".
It remained unknown whether a new wave of infections would occur in the later winter or early spring months, he said.
"The pandemic is really a global event. The WHO will continue to monitor the situation in all parts of the world," Fukuda said.
He added that the WHO would continue to provide all possible support to countries that were particularly vulnerable in the face of pandemic infections.
di
08:35
Diposkan oleh
IBS
Jenis Kelamin | Berdasarkan Usia | Penyebab Kematian | |||||||||||||||||||||||||||||||||
Laki-2 : 140 Wanita : 111 | <> 40 – 49 : 25 50 – 59 : 50 > 60 : 174
|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
di
08:37
Diposkan oleh
IBS
di
10:28
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
di
11:43
Diposkan oleh
IBS
KOMPAS.com — Sudah jelas tembakau bukan sahabat kita. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pernyataannya, Rabu(09/12/2009), menyatakan, setiap tahunnya 5 juta orang meninggal akibat rokok. Angka ini akan terus bertambah bila pemimpin negara belum punya kemauan melindungi rakyatnya dari bahaya rokok.
Dalam laporan terbaru mengenai penggunaan dan pengendalian tembakau, PBB mengatakan, hampir 95 persen dari populasi global tidak terlindungi oleh Undang-Undang Pelarangan Rokok. WHO juga menyebutkan, lebih dari 600.000 perokok pasif meninggal tiap tahunnya.
Laporan tersebut menyebutkan berbagai strategi yang bisa diambil oleh pembuat kebijakan di tiap negara untuk menekan jumlah perokok, misalnya meregulasi produksi, promosi, dan pemasaran rokok serta meningkatkan pajak produk rokok. Langkah-langkah itu termasuk dalam enam paket strategi yang dikeluarkan WHO tahun lalu, tetapi kurang dari 10 persen dari populasi dunia yang terlindungi dari bahaya rokok.
"Masyarakat butuh tindakan lebih, bukan hanya diberi tahu bahwa rokok berbahaya untuk kesehatan. Mereka butuh implentasi nyata dari WHO Framework Convention yang dilakukan oleh pemerintahnya masing-masing," kata Douglas Bettcher, Direktur WHO Tobacco-Free Initiative.
Saat ini tembakau adalah penyebab utama kematian yang dapat dicegah di dunia. WHO memperkirakan bila masih banyak negara yang tidak mengambil tindakan drastis, 8 miliar orang akan mati karena penyakit-penyakit yang berkaitan dengan tembakau pada 2030, terutama penduduk dari negara berkembang.
di
11:37
Diposkan oleh
IBS
KOMPAS.com - Akumulasi logam berat dalam tubuh manusia akan menimbulkan berbagai dampak yang membahayakan kesehatan, salah satunya adalah depresi dan serangan panik (panic disorder).
Para ahli menganalisa informasi dari hasil survei National Health and Nutrition Examination, Amerika Serikat tahun 1997-2004, yang melibatkan 1.987 orang dewasa berusia 20-39 tahun. Dari seluruh responden, 6,7 persen menderita depresi mayor, sebanyak 2,2 persen memiliki gejala serangan panik, dan 2,4 persen mengalami gejala kecemasan. Setelah diteliti, jumlah logam berat dalam darah mereka mencapai 1,61 mikrogram per desiliter.
Sebanyak 20 persen dari responden yang memiliki kadar timbal atau logam berat cukup tinggi (2,11 mikrogram per desiliter) risikonya mengalami depresi dua kali lebih tinggi. Mereka juga lima kali berisiko menderita serangan panik dibanding dengan responden yang kadar timbalnya lebih rendah (0,7 mikrogram per desiliter).
"Pencemaran logam berat mungkin berkontribusi pada terjadinya gangguan mental, bahkan meski kadar pencemarannya masih tergolong rendah atau tidak berisiko," kata Maryse F.Bouchard peneliti dari Universitas Monteral dan Harvard School of Public Health. Para ahli menduga, logam berat mungkin menimbulkan gangguan pada otak yang menimbulkan gangguan mental.
Sebelumnya berbagai penelitian telah mengingatkan bahaya logam berat bagi kesehatan, di antaranya adalah kerapuhan tulang, rusaknya kelenjar reproduksi, kanker, kerusakan otak, serta keracunan akut pada sistem saraf pusat.
Udara yang tercemar juga akan menyebabkan penyakit saluran pernapasan akut, hipertensi, terganggunya fungsi ginjal, menurunnya kecerdasan anak, serta risiko keguguran pada ibu hamil.
di
08:09
Diposkan oleh
IBS
A total of 74 deaths were reported in the week from Nov. 23 to 29, said a notice issued on the ministry's website Wednesday. Reported deaths in the previous two weeks were 28 and 51 respectively.
About 91 percent of all the flu cases reported last week were of the A/H1N1 strain, compared with 89.8 percent in the previous week, the notice said.
The ministry advised the public to keep warm in the cold weather, wash hands frequently and keep rooms ventilated.
As of Monday, more than 27 million people nationwide had been inoculated with China-made A/H1N1 vaccine, according to the ministry.
Four deaths had been reported after vaccination and three had been confirmed irrelevant to the vaccines, while cause of the other is not clear yet, the ministry said.
di
11:31
Diposkan oleh
IBS
di
09:41
Diposkan oleh
IBS
di
08:20
Diposkan oleh
IBS
di
11:10
Diposkan oleh
IBS
GENEVA, KOMPAS.com — Hingga saat ini, setidaknya 60 juta orang terinfeksi HIV dan 25 juta meninggal akibat kasus yang berkaitan dengan virus mematikan ini, demikian disampaikan UNAIDS dalam paparan data terbarunya, Selasa kemarin, (24/11).
Ketika program pencegahan telah membantu menekan tingkat infeksi sebesar 17 persen selama lebih dari delapan tahun, total penderita HIV terus bertambah pada 2008. Pada akhir 2008, sebanyak 33,4 juta jiwa atau lebih dari 20 persen orang menderita penyakit ini jika dibandingkan dengan tahun 2000.
"Penambahan populasi penderita HIV yang terus meningkat menggambarkan efek kombinasi dari tingginya infeksi HIV baru dan dampak dari terapi ARV," ujar UNAIDS dalam laporan tahunannya.
Sub-Sahara Afrika tetap merupakan daerah yang paling terpengaruh karena menjadi rumah bagi 67 persen atau 22,4 juta dari yang saat ini hidup dengan virus HIV. Sementara itu, di Asia Selatan dan Tenggara, ada 3,8 juta orang sudah terinfeksi, tambah UNAIDS. Angka perbandingan Eropa Timur dan Asia Tengah adalah 1,5 juta.
UNAIDS mencermati, di wilayah-wilayah ini epidemi sedang mengalami "transisi yang signifikan". Walau epidemi di Asia masih terkonsentrasi di antara kelompok berisiko tinggi, seperti pekerja seks, pengguna narkoba, dan kaum homoseks, kini mulai berekspansi ke kelompok populasi risiko rendah.
Di Eropa Timur dan Asia Tengah, epidemi ditandai terutama oleh penularan melalui pengguna narkoba. Namun, kini mulai bergeser ke penularan lewat hubungan seksual yang signifikan.
Sumber : Kompas.com Online
di
11:04
Diposkan oleh
IBS
di
11:01
Diposkan oleh
IBS
di
17:41
Diposkan oleh
IBS
di
13:25
Diposkan oleh
IBS
di
16:07
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet
di
16:06
Diposkan oleh
IBS
Pada acara peluncuran, Rektor Unair Prof Fasich menyerahkan bakal vaksin (
Menurut Iskandar, bakal vaksin H1N1 akan diuji klinis (
Karena jumlah produksi terbatas, kata Endang, vaksin diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap
Vaksin H5N1 akan diproduksi sesuai kebijakan pemerintah. Jika terjadi pandemi dan pemerintah meminta produksi vaksin H5N1, PT Bio Farma akan memproduksi karena teknologi untuk produksi kedua vaksin itu sama.
Kepala Laboratorium Avian Influenza Tropical Disease Center (TDC) Unair Chaerul Anwar Nidom menjelaskan, jika terjadi mutasi virus H1N1 atau H5N1,
Iskandar mengatakan, nilai proyek pengembangan laboratorium dan fasilitas produksi vaksin H1N1 dan H5N1 di Kampus C Unair, Mulyorejo, Surabaya, sekitar Rp 1,3 triliun. Fasilitas produksi berkapasitas 20 juta vaksin per tahun. Proyek dilaksanakan empat tahun, 2008-2011.
Nidom menambahkan, penelitian virus H5N1 untuk dijadikan vaksin sudah dilakukan sejak 2006. Untuk uji tantang (pengujian calon vaksin pada hewan) H5N1 menunggu sampel virus dari Departemen Kesehatan sampai 13 Agustus 2009. Saat itu TDC Unair mendapat enam tipe virus H5N1.
Penelitian H1N1 lebih mudah karena TDC Unair bisa mendapat banyak sampel virus dari klinik. Setelah diuji tantang, bakal vaksin siap diuji klinis dan mulai diproduksi massal.
Penelitian virus AI dan bakal vaksinnya dilakukan di laboratorium seluas 224 meter persegi bernama Avian Influenza Research Centre Bio Safety Level-3 (BSL-3). Selain terbesar di Asia, kata Nidom, laboratorium ini unik karena ada ruang uji coba pada 30 monyet (
Peluncuran bakal vaksin ini, menurut Boediono, adalah wujud kemandirian Indonesia. Sebagai warga dunia, Indonesia harus aktif menangani serangan penyakit menular yang sangat cepat menyebar. Apalagi, sebagai negara tropis, Indonesia sangat rentan sebagai tempat berbiak
Karena di garis depan peperangan melawan penyakit menular, lanjutnya, Indonesia punya kesempatan menguasai teknologinya. Karena itu, Indonesia sebaiknya tak menggantungkan diri pada laboratorium di luar negeri. ”Indonesia juga berkewajiban membagi pengetahuan kepada dunia sebab wabah penyakit menular adalah masalah dunia, tetapi dalam kerangka saling menguntungkan,” katanya.
Sumber : http//www.compas.com/
di
08:26
Diposkan oleh
IBS
di
10:56
Diposkan oleh
IBS
di
08:41
Diposkan oleh
IBS
12 Nov 2009
Menteri Kesehatan RI dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH. mengajak seluruh jajaran kesehatan, masyarakat, sektor usaha dan komponen bangsa untuk saling bersinergi dalam meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan. Hal ini disampaikan Menkes dalam pidatonya di hadapan seluruh jajaran Departemen Kesehatan pada apel Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45 (12/11), yang pada tahun ini mengusung tema ”Lingkungan Sehat Rakyat Sehat”.
di
14:43
Diposkan oleh
ike a
di
09:26
Diposkan oleh
ike a
di
12:18
Diposkan oleh
IBS
JAKARTA, KOMPAS.com
Penanganan HIV/AIDS bagian dari program 100 hari Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih untuk pengendalian penyakit menular, yang dipaparkan dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR yang berlangsung 9 dan 10 November 2009.
Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan penurunan daya tahan tubuh seseorang yang disebabkan human immuno deficiency virus (HIV). Rasio penderita antara laki-laki dan perempuan adalah tiga berbanding satu. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang mengakibatkan menurunnya, bahkan, hilangnya daya tahan tubuh.
Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang mengalami epidemi HIV/AIDS dengan prevalensi meningkat tajam. Sejumlah upaya dilakukan, tetapi belum menunjukkan penurunan. Proporsi kasus tertinggi pada kelompok umur produktif 20-29 tahun (50,07 persen) dan 30-39 tahun. Kasus AIDS terbanyak di Jawa Barat, DKI Jakarta, Papua, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Kepulauan Riau.
Menkes Endang mengatakan, penanggulangan HIV/AIDS memerhatikan nilai-nilai agama dan budaya serta norma kemasyarakatan. Selain itu, terdapat upaya terpadu peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan perawatan berdasarkan fakta ilmiah, serta dukungan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Selain itu, disiapkan
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Adhitama mengatakan bahwa kesulitan menahan laju peningkatan penularan HIV/AIDS, antara lain, karena terkait berbagai faktor, seperti perilaku, keyakinan, norma, budaya, dan masalah sosial. Untuk menahan laju penularan, dibutuhkan peran masyarakat secara luas.
Dalam paparan di DPR, disebutkan upaya pencegahan yang efektif memutuskan rantai penularan HIV pada kelompok berisiko tertentu, antara lain, dengan promosi alat atau jarum suntik steril serta terapi rumatan metadon. Lainnya ialah promosi kondom terutama di lokalisasi.
”Untuk persoalan di hilir atau bagi orang dengan HIV/AIDS dengan penyediaan ARV,” ujar Tjandra. Untuk ODHA, telah ada penyediaan antiretroviral (ARV) secara berkesinambungan. Dalam program 100 hari, disediakan ARV untuk 16.000 ODHA.
Sementara itu, di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebanyak 34 kasus HIV/AIDS ditemukan selama dua tahun terakhir. Dua di antaranya balita berusia dua tahun dan dua bulan. Kedua balita tersebut positif mengidap HIV karena tertular ibunya.
Berdasarkan data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Tegal, dari 34 pengidap HIV/AIDS, 13 orang meninggal dunia, sementara tujuh lain hingga saat ini masih mendapatkan terapi ARV.
Petugas Penyuluh HIV/AIDS PKBI Kabupaten Tegal, Panji Adi, mengatakan, kasus-kasus HIV/AIDS tersebut ditemukan dari hasil
Sumber : Kompas OL
di
08:55
Diposkan oleh
IBS
di
08:41
Diposkan oleh
IBS
di
15:31
Diposkan oleh
IBS
di
10:15
Diposkan oleh
IBS
JAKARTA, KOMPAS.com —
di
09:10
Diposkan oleh
IBS
di
14:35
Diposkan oleh
IBS
(ANTARA/Ahmad Subaidi) Washington (ANTARA News) -
di
12:06
Diposkan oleh
IBS
di
16:23
Diposkan oleh
IBS