SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Thursday, August 12, 2010

Hati-hati, Bakteri Super Mengancam Dunia

Kamis, 12 Agustus 2010

LONDON, KOMPAS.com — Hati-hati. Para ahli medis di Inggris mengingatkan, ada bakteri baru yang mengancam hidup manusia. Bakteri ini tergolong super karena tahan terhadap antibiotik paling ampuh sekalipun. Belakangan, bakteri ini sudah ditemukan di sejumlah rumah sakit di Inggris.
Seperti dilansir dari BBC, para ahli medis juga menjelaskan, bakteri yang dapat membuat enzim yang dinamakan NDM-1 itu dibawa oleh pasien NHS yang sebelumnya terbang ke luar negeri seperti India dan Pakistan untuk melakukan operasi kecantikan.
Meskipun saat ini baru ditemukan sekitar 50 kasus di Inggris, para ahli khawatir bakteri ini akan menyebar secara global. Untuk penanganannya, dibutuhkan pengawasan yang ketat serta obat-obatan baru.
Infeksi serupa juga sudah ditemukan di AS, Kanada, Australia, dan Belanda. Tak heran jika kemudian peneliti internasional mengatakan bahwa NDM-1 bisa menjadi ancaman utama kesehatan global. Saat ini, infeksi bakteri sudah menyebar dari satu pasien ke pasien lainnya di rumah sakit di Inggris.
Sumber : Kompas Online

Wednesday, August 11, 2010

WHO Cabut Status Pandemi Flu Babi

New York, Badan kesehatan dunia (WHO) mengumumkan status global pandemi flu babi (HINI) berakhir karena wabahnya terus menurun dibanding tahun lalu. Dunia beruntung virus H1N1 belum bermutasi.
Pernyataan pencabutan status pandemi flu babi itu disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan dalam pernyataannya 10 Agustus 2010 seperti dilansir dari Reuters, Rabu (11/8/2010).
Meski pandemi flu babi dinyatakan berakhir namun WHO mengingatkan agar dunia tetap selalu waspada. "Kita sekarang bergeser ke periode pasca-pandemi. Virus baru H1N1 sebagian besar sudah tertangani," kata Chan.
Chan membantah anggapan yang mengatakan WHO terlalu berlebihan menetapkan status pandemi karena korban flu babi kenyataannya tak sebanyak flu burung di Asia."Itu sudah keputusan yang benar," kata Chan yang membela keputusan status pandemi yang diumumkan Juni tahun lalu itu.
Menurut Chan, pencabutan status pandemi flu babi ini didasarkan pada rekomendasi oleh para ahli influenza setelah dilakukan pengkajian dan penelitian yang mendalam."Di beberapa negara ancaman global virus H1N1 sudah jauh lebih rendah dan berbeda dibanding setahun yang lalu," kata Keiji Fukuda, pakar Flu WHO.
Ahli kesehatan di Hong Kong juga mengatakan dunia telah beruntung virus H1N1 belum bermutasi menjadi virus yang lebih mematikan karena vaksin yang dibuat berjalan efektif terhadap virus itu.Namun tetap diingatkan virus flu babi masih akan terus bersirkulasi sebagai bagian dari flu musiman di tahun-tahun mendatang, sehingga tetap diperlukan kewaspadaan semua pihak. Kelompok yang berisiko tinggi terkena flu babi seperti ibu hamil disarankan tetap harus mendapatkan vaksinasi.Virus H1N1 yang mewabah itu pertama kali muncul di Meksiko dan Amerika pada tahun 2009 yang menyebarcepat dalam 6 minggu. Kondisi itu membuat WHO mengeluarkan status pandemi pada Juni 2009.
Pengumuman status pandemi itu membuat beberapa negara maju seperti Amerika dan Eropa menyetok vaksin flu yang berlebihan hingga terbuang percuma karena kedaluwarsa.Namun belakangan motivasi WHO yang mengumumkan pandemi flu babi dinilai berlebihan karena membuat banyak negara paranoid. Bahkan WHO terus mengumumkan status pandemi dan berbahaya untuk flu babi hingga Juni 2010, meski sudah banyak ditentang pakar kesehatan.
Para kritikus mempertanyakan motivasi dari beberapa penasihat WHO yang memiliki hubungan dengan industri farmasi, dengan menyatakan flu babi sebagai pandemi atau epidemi global.Puluhan perusahaan membuat vaksin flu seperti Sanofi-Aventis, GlaxoSmithKline, Novartis, AstraZeneca, CSL dan Roche yang membuat antivirus oseltamivir yang dipasarkan sebagai Tamiflu.
Kritikus menuding kecemasan yang ada terlalu dibesar-besarkan dan akhirnya banyak membuang uang. Padahal kenyataannya, flu burung dan SARS yang menyerang Asia lebih berbahaya.
Terbukti negara seperti Amerika harus membuang sekitar 40 juta dosis vaksin flu babi (HINI) senilai US$ 260 juta atau Rp 2,34 triliun, yang semula akan digunakan untuk melindungi masyarakat AS dari flu babi terbuang sia-sia karena kedaluwarsa.
Sumber : Detik.health Online

Friday, July 23, 2010

Kementerian Kesehatan Tahan Vaksin Meningitis yang Haram

JAKARTA--MI: Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih akan menarik vaksin meningitis produksi Glaxo Smith Kline asal Belgia yang masih dinilai haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Penarikan tersebut sebelum digunakan untuk jemaah haji Indonesia.

"Pokoknya kami pilih yang halal. Pokoknya kami tahan, tidak kami berikan," ujar Endang di kantor Presiden, Jakarta, Kamis (22/7).

Sebagaimana diketahui MUI menetapkan vaksin produksi Novartis, Italia, dan Zheiyiang Tianjuan, Cina, sebagai vaksin yang halal. Sementara vaksin produksi Glaxo Smith Kline asal Belgia diputuskan haram dipakai karena berkaitan dengan babi.

Menkes menyatakan vaksin tersebut tidak mungkin untuk dikembalikan. Jadi, pemerintah akan melakukan negosiasi ulang dengan GSK mengenai kemungkinan mengganti dengan produk lain.

Bila dinilai untung atau rugi, lanjut Endang, sudah pasti rugi. Pengadaan vaksin tersebut telah menelan biaya Rp20 miliar. "Tapi kalau kita pakai, itu lebih rugi lagi," tukasnya.

Endang juga memastikan untuk pendistribusian ke puskesmas dan kantor cabang pelabuhan tempat penyuntikan dilakukan akan dihentikan. "Kami berikan instruksi kepada KCP untuk tidak diberikan dan saya yakin mereka baca jadi tidak akan disitribusikan," tukasnya.

Untuk vaksin baru, Menkes memastikan vaksin itu akan tiba sebelum jemaah haji diberangkatkan ke Saudi Arbia.

Sumber : Media Indonesia Online

Tuesday, July 20, 2010

Yellow fever in the Democratic Republic of the Congo

19 July 2010 -- On 25 June 2010, Medecins sans Frontieres (MSF) reported a suspected case of Yellow fever in Titule, Base Ouele district of Orientale province (northern part of the country). Between March and June, 11 other suspected cases were reported, including two deaths.

The index case was identified as a 43 year-old male farmer who presented with clinical symptoms of fever, jaundice and haematuria (blood in urine). The onset date of his illness was 15 March 2010 and he died a few days later. He had no history of yellow fever vaccination. Laboratory tests conducted by the Institut National de Recherche Médicale (INRB) in Kinshasa showed IgM positive by ELISA test and was confirmed by the regional reference laboratory for yellow fever at the Institut Pasteur in Dakar, Senegal with more specific tests (plaque reduction neutralization test or PRNT).

Following identification of the index case (the 43 year old male), an investigation is being conducted in the town inhabited by some 17,000 people for the purpose of determining the scope of the outbreak response and prepare for emergency vaccination.

The Democratic Republic of Congo (DRC) is among Africa's yellow fever endemic countries and, in 2003, introduced yellow fever vaccine in the Expanded Programme on Immunization (EPI) for all children at 9 months of age. The DRC has not yet benefitted from preventive vaccination campaigns.

Source: WHO

MUI Tetapkan Dua Vaksin Meningitis Halal

Vaksin produksi Glaxo dari Belgia masih dinyatakan haram oleh MUI.

VIVAnews - Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Ikhwan Syam mengatakan MUI telah mengeluarkan fatwa yang menghalalkan vaksin meningitis. Namun, baru dua jenis yang sudah dihalalkan berdasarkan hasil penelitian MUI.

Kedua vaksi meningitis yang dinyatakan halal adalah vaksin produksi Novartis dari Italia dan Tian Yuan dari Cina. Sedangkan vaksin produksi Glaxo dari Belgia masih dinyatakan haram oleh MUI.

"Dua hari lalu MUI memutuskan bahwa vaksin meningitis yang digunakan untuk jamaah haji, yang selama ini haram, telah diputuskan dua vaksin halal," kata Ikhwan di Kantor Presiden, Senin 19 Juli 2010.

Saat melakukan pertemuan dengan MUI, Ikhwan melanjutkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat menanyakan fatwa tersebut. "Presiden menyambut baik keputusan fatwa MUI yang berkaitan, meskipun fatwa ini belum diumumkan oleh MUI. Tapi presiden sudah, dalam bahasa beliau, memperoleh bocorannya," ucap Ikhwan.

Sebelumnya, ada tiga perusahaan yang mengajukan fatwa halal MUI. Namun, vaksin meningitis produksi Glaxo dari Belgia masih dinyatakan haram karena mengandung babi. "Glaxo mengandung babi, setelah dilakukan pemeriksaan," lanjutnya.

Fatwa vaksin meningitis ini sendiri akan diterapkan pada pelaksanaan haji tahun 2010. Presiden pun mengatakan tidak akan menggunakan vaksin produksi Glaxo walaupun sudah dipesan pemerintah. "Itu bagian dari cost, tadi PreRata Penuhsiden mengatakan itu, dan pemerintah tidak akan menggunakan (Glaxo)," kata Ikhwan.

Sumber : VIVAnews

Friday, June 4, 2010

Vietnam Diserang Wabah Blue Ear

Son La, Vietnam, Penyakit Blue Ear atau yang dikenal dengan nama Porcine Reproductive & Respiratory Syndrome (PPRS) mewabah di 16 provinsi di Vietnam. Ratusan ternak babi mati akibat terkena Blue Ear. Warga mulai cemas penyakit ini menular ke manusia seperti halnya Flu Burung dan Flu Babi.
Seperti dilaporkan Departemen Kesehatan Hewan Vietnam yang dilansir dari xinhuanet, Kamis (3/6/2010) penyakit ini menyerang provinsi Hai Duong, Thai Binh, Thai Nguyen, Hung Yen, Bac Ninh, Hai Phong, Hanoi, Nam Dinh, Ha Nam, Lang Son, Nghe An, Quang Ninh, Bac Giang, Hoa Binh, Cao Bang dan yang terbaru provinsi Son La.Waktu penyebaran dari virus ini sangat cepat sekitar 4-5 bulan dan sedikitnya terdapat 90 persen ternak yang telah menjadi positif.
Virus PRRS ini bisa menginfeksi semua jenis ternak termasuk yang memiliki status kesehatan tinggi atau biasa saja dan menyerang ternak yang berada di dalam atau luar kandang.Namun masih belum dipastikan apakah virus ini juga bisa menginfeksi manusia atau tidak.
Seperti dikutip dari Thanh Nien Online, Dr Duong Van Sinh kepala ICU (Intensive Care Unit) Hue Central Hospital mengungkapkan ada sekitar 28 orang yang diduga (suspect) terinfeksi Streptococcus suis.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah kematian pasien laki-laki (37 tahun) dari Quang Ngai City yang diduga terinfeksi Streptococcus suis. Tapi direktur Hue Central Hospital Prof Bui Duc Phu menuturkan bahwa hasil kultur darah menunjukkan negatif terkena Streptococcus suis."Hasil negatif tidak berarti bahwa pasien tidak terinfeksi Streptococcus suis, karena ada kemungkinan hasil kultur darah ini sudah dipengaruhi kuat oleh antibiotik yang digunakan," ungkap Prof Phu.
Virus PRRS yang menyerang babi bisa meningkatkan kasus kejadian Streptococcus suis pada babi, tapi belum ada kasus yang dilaporkan adanya penularan virus ini dari hewan ke manusia.
Seperti dikutip dari Thepigsite.com, virus PRRS memiliki kemampuan untuk merusak macrophages (bagian dari sistem pertahanan tubuh) terutama yang berada di dalam paru-paru babi. Macrophages yang ada di dalam paru-paru disebut dengan alveolar macrophages yang berfungsi menyerang bakteri dan virus, tapi tidak berlaku pada virus PRRS ini.
Virus PRRS ini bisa berkembang biak di dalamnya dan memproduksi lebih banyak virus lagi sehingga mematikan fungsi macropharoges.Setelah itu virus akan bertahan disana dan tetap aktif selamanya. Kondisi ini menghilangkan bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh sehingga memungkinkan bakteri atau virus lain untuk berkembang biak dan menyebabkan kerusakan.

Wednesday, June 2, 2010

Kemkes Pastikan Vaksin Meningitis Bebas Unsur Babi

JAKARTA--MI: Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syarak (MPKS) Kementerian Kesehatan memastikan bahwa vaksin meningitis yang akan diberikan pada calon haji tidak mengandung unsur babi.

Kendati telah memastikan dan melaporkan hasil kajian ilmiah ini ke Menteri Kesehatan, untuk persoalan fatwa haram atau halal pada vaksin, MPKS menyerahkan kewenangan sepenuhnya pada Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua MPKS Achmad Sanusi Tambunan mengutarakan, kendati pembuatannya melibatkan melibatkan unsur babi (porcine) guna pembiakan bibit vaksin, namun berdasarkan kajian MPKS, setelah melalui proses pencucian berkali-kali maka ketika telah menjadi produk vaksin sudah tidak lagi ditemukan unsur babi sama sekali.

"Soal fatwa kita serahkan semua ke MUI. Kita tidak mengurusi soal itu. Yang jelas dari kajian ilmiah, tidak lagi ditemukan unsur babi pada vaksin," ujar Achmad, di Jakarta, Jumat (14/5).

Achmad menjelaskan, MPKS merupakan lembaga non struktural yang bertanggung jawab pada menteri kesehatan. Terdiri dari unsur medis dan ulama, MPKS bertugas memberikan pertimbangan dan kajian kebijakan bidang kesehatan ditinjau dar hukum syarak Agma Islam kepada menteri kesehatan. Sebelum MUI terbentuk, MPKS lah yang memberi masukan kebijakan kesehatan berdasarkan telaah agama.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Ratna Rosita Hendardji mengatakan, pemerintah harus menyediakan vaksin meningitis untuk memenuhi kebutuhan sekitar 210 ribu orang yang hendak menunaikan ibadah haji ke Arab Saudi pada 2010. Kementrian Kesehatan sendiri telah menyiapkan dana sekitar Rp 21 miliar untuk penyediaan vaksin pada penyediaan vaksin meningitis tahun ini.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama memastikan, vaksin meningitis yang akan digunakan bagi peserta umrah dan haji adalah jenis vaksin yang sama dengan jenis vaksin yang digunakan pada tahun lalu. Kendati vaksin itu oleh MUI sebelumnya dianggap haram, namun Tjandra menegaskan vaksin jenis ini juga digunakan oleh negara-negara berpenduduk Muslim yang lain termasuk Malaysia yang sebelumnya dianggap oleh MUI telah menggunakan jenis vaksin halal.

"Sampai saat ini, belum ada perusahaan atau negara yang bisa membuat vaksin meningitis tanpa melibatkan unsur porcine," tandasnya.

Perlu diketahui, pemerintah terpaksa memfasilitasi calon haji dan umrah yang harus melakukan vaksinasi meningitis karena melalui Nota Diplomatik Dubes Arab Saudi di Jakarta No. 211/94/71/577 tanggal 1 Juni 2006 pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap calon haji, tenaga kerja dan umrah mendapat imunisasi meningitis sebagai syarat untuk mendapatkan visa.

Vaksinasi meningitis diperlukan untuk melindungi jamaah dari ancaman penyakit meningitis yang endemis di Arab Saudi dan menghindari penularan penyakit itu dari haji lain dari kawasan Sabuk meningitis di Afrika.

Sebelumnya, MUI mengatakan produk vaksin disebut halal jika dibuat dari bahan yang halal dengan fasilitas produksi yang bebas dari kontaminasi silang bahan haram/najis.Namun dalam fatwanya MUI juga menyebutkan bahwa jika sampai pada waktu pengadaan vaksin meningitis tiba pemerintah belum bisa mendapatkan vaksin yang bebas dari unsur babi, MUI akan membuat fatwa baru atau menganjurkan pemerintah mengacu pada fatwa yang sebelumnya sudah dikeluarkan terkait vaksin meningitis ini, yakni bahwa vaksin meningitis yang ada boleh digunakan dengan alasan kedaruratan.

Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/14/142839/71/14/Kemkes-Pastikan-Vaksin-Meningitis-Bebas-Unsur-Babi

Tuesday, June 1, 2010

PENYAKIT YANG BARU MUNCUL ANCAMAN MASA MENDATANG

Penyakit menular yang baru muncul (PMBM) atau emerging infectious diseases (EID), mempunyai potensi menimbulkan wabah, kerugian ekonomi dan kekacauan sosial yang hebat. Ancaman tersebut sekitar 70% berasal dari penyakit hewan seperti SARS, NIPAH, Flu Burung dan lain-lain. Hal ini diperberat karena bangsa Indonesia, juga menghadapi penyakit menular bersumber binatang lainnya seperti Malaria, Demam berdarah, Filariasis (kaki gajah), Rabies dan penyakit menular langsung seperti Diare, Kecacingan, Kusta dll.

Hal itu disampaikan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH ketika membuka Rakernas Gerakan Nasional Peternak Sehat Ternak Sehat (PSTS) yang diselenggarakan Himpunan Masyarakat Peternak Unggas Lokal Indonesia ( HIMPULI), di Bogor (25/5). Raker diikuti sekitar 200 anggota HIMPULI dan dihadiri Menteri Pertanian, Ir. H. Suswono, MMA.


Menurut Menkes, Kesehatan merupakan hak azasi setiap insan Indonesia dan pemenuhannya merupakan tanggung jawab negara untuk mencapai masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan, yang pelaksanaannya dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh unsur masyarakat.

“Seluruh masyarakat termasuk peternak unggas, perlu dilindungi dari berbagai penyakit terutama penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pandemi. Demikian pula kecelakaan di tempat kerja yang dapat timbul akibat proses kerja, alat kerja, lingkungan kerja, cara kerja yang tidak aman dan gaya hidup yang tidak sehat”, ujar Menkes.

Oleh karena itu upaya pelayanan kesehatan masyarakat, upaya penyehatan lingkungan yang telah ada di masyarakat dan upaya kesehatan terhadap ternak masyarakat yang merupakan sumber pendapatan keluarga dan ketahanan keluarga perlu dipadukan dan didorong dengan pendekatan upaya pemberdayaan masyarakat (self reliance approach), kata dr. Endang Rahayu.

Menurut Menkes, pengembangan Desa Siaga dengan kegiatan “Peternak Sehat Ternak Sehat” merupakan model upaya strategis terobosan kegiatan keterpaduan kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan dan kesehatan ternak di Desa sesuai dengan kebutuhan masyakat melalui pendekatan pemberdayaan masyakat dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat dan bantuan pemerintah.

Berkaitan dengan hal itu, Menkes menyambut baik Gerakan Peternak Sehat Ternak Sehat (GPSTS) yang merupakan kerja sama antara Kementerian Kesehatan, Kemeterian Pertanian dan HIMPULI serta sektor lainnya. ”GPSTS merupakan terobosan baru yang harus terus diperluas cakupannya ke seluruh Indonesia. Gerakan ini juga merupakan pelaksanaan konsep Satu Kesehatan untuk Indonesia sebagai bagian dari One World One Health “, ujar Menkes.

Tujuan Gerakan Nasional Peternak Sehat Ternak Sehat yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatnya produktivitas ternak. Dengan tujuan khusus mewujudkan peternakan unggas yang sehat sesuai dengan cara beternak unggas yang baik (Good Farming Practices/GFP) dan memenuhi syarat kesehatan masyarakat. Juga mewujudkan lingkungan pemukiman yang sehat, serta terselenggaranya penanganan produk hewan yang higienis.

Menurut Menkes, PSTS merupakan gerakan promosi kesehatan, kebersihan perorangan dan PHBS; deteksi dini dan respon cepat pada penyakit yang dapat menimbulkan wabah; pemberdayaan masyarakat peternak di bidang kesehatan dan UKBM; penyehatan lingkungan serta penyelamatan aspek biologis (Biosafety) dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatnya produktivitas ternak.

Menkes menyebutkan, dari 231,83 juta jiwa penduduk Indonesia (BPS, 2009), 45.24% (104,87 juta jiwa) adalah pekerja. Sebagian besar bekerja di sektor pertanian (46%), perdagangan (19%), industri (12%) dan lain lain. Sektor pertanian terdiri dari petani, nelayan, peternak dan sebagainya. Pekerja yang bergerak disektor peternakan unggas (ayam, itik dan lain-lain) menca pai 5 juta terdiri dari peternak unggas formal dan non formal yang tersebar di desa-desa.

“Kita ketahui, unggas air termasuk itik/bebek merupakan “carrier” dan sumber penularan Flu Burung pada unggas dan manusia,” terang Menkes.

Menurut hasil penyelidikan epidemiologi, faktor risiko penularan flu burung kepada manusia 47,% disebabkan karena kontak langsung dengan unggas mati mendadak. 41% karena kontak dengan lingkungan tercemar. 2% disebabkan karena pupuk dan 10 % belum diketahui. Hal ini disebabkan karena kurang pengetahuan, kesadaran masyarakat dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), adanya pemeliharaan unggas yang dilepas dihalaman rumah (back yard farming) atau pengandangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti kandang di dalam rumah, menempel pada rumah atau dilingkungan pemukiman masyarakat.

Di dunia saat ini, selain beredar virus influenza musiman, bersirkulasi pula virus Influenza A Baru (H1N1) yang pernah menimbulkan pandemi tahun 2009 dan virus H5N1 yang terdapat di Mesir, China, Vietnam dan Indonesia.

“WHO dan masyarakat dunia mengkhawatirkan kemungkinan lahirnya virus influenza baru dari hasil perubahan genetik maupun melalui percampuran genetik dari 2 virus atau lebih (reassortment). Virus ini kemungkinan dapat menimbulkan wabah di banyak negara di dunia (pandemi),” papar Menkes.

Sumber : www.depkes.go.id

Friday, May 21, 2010

Ratusan Mikroba Tubuh Diidentifikasi

Kompas.com - Para ilmuwan berhasil melakukan pengkodean (decode) 178 jenis mikroba yang hidup di dalam tubuh manusia. Seperti diketahui, tubuh kita merupakan "rumah" bagi jutaan jenis mikroba. Dalam saluran cerna saja terdapat bakteri yang jumlahnya 100 kali lebih banyak di banding organisme di bagian tubuh lain.
Identifikasi terhadap mikoorganisme dalam tubuh merupakan langkah awal untuk mengetahui bagaimana populasi bakteri yang tinggal di kulit, mulut, pencernaan, bisa menyebabkan penyakit. Para ilmuwan berencana untuk mengidentifikasi genome 900 bakteri dan virus.
Hasil riset ini disebut sebagai "referensi perpustakaan" untuk mengurai berbagai hal yang belum terungkap, mengingat ada banyak flora dalam tubuh yang belum diidentifikasi. Sebagian jenis mikroba berperan penting untuk tubuh, seperti membantu proses pencernaan dan sistem imun. Namun, tak sedikit yang menyebabkan penyakit.
Proyek penelitian yang dilakukan selama lima tahun ini bertujuan memetakan jenis mikroba, gen, dan kerja mereka di tubuh. "Kami akan melanjutkan studi ini untuk mengetahui secara spesifik dampak mikroba terhadap penyakit," kata Dr.Karen Nelson, dari US Venter Institute, salah satu peneliti.
Para ahli menanggapi positif hasil riset ini. "Sel-sel mikroba ini jumlahnya melebih sel kita dengan perbandingan 10 banding 1, dan mereka memiliki jumlah gen 100 kali lebih banyak. Karena itu dengan memahami mikroba ini dalam level genetik, kita bisa mengumpulkan referensi karena mereka berpengaruh pada berbagai aspek kesehatan," kata Dr Julian Parkhil, peneliti dari Inggris.

Friday, May 14, 2010

WHO Ingatkan Hati-hati ke Afrika Selatan

Jenewa (ANTARA News) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu 12/5/2010, menyarankan para pelancong ke Afrika Selatan agar berhati-hati terhadap gigitan serangga dan kontak dengan daging mentah, setelah wabah demam Lembah Rift menewaskan 18 orang.
"WHO tak menyatakan pembatasan perjalanan internasional ke atau dari Afrika Selatan," kata lembaga itu di dalam satu pernyataan yang disiarkan di jejaringnya seperti dilaporkan AFP."Namun, WHO menyarankan pelancong ke Afrika Selatan, terutama mereka yang bermaksud mengunjungi pertanian dan/atau tempat pertandingan, menghindari kontak dengan darah atau jaringan hewan, menghindari meminum air yang belum dimasak atau memakan daging yang belum dimasak atau memakan daging mentah," katanya.
"Semua pelancong melalui udara mesti melakukan tindakan pencegahan terhadap gigitan nyamuk dan serangan lain penghisap darah," katanya.
Demam Lembah Rift (RVF) adalah penyakit virus pada hewan ternak seperti sapi, kambing dan unta, tapi juga dapat menyerang manusia melalui kontak langsung dan tak langsung dengan organ atau darah hewan yang tertular."Penularan pada manusia juga bisa disebabkan oleh gigitan nyamuk yang tertular," kata WHO.
Saran perjalanan tersebut disiarkan hanya beberapa pekan sebelum pertandingan sepak bola Piala Dunia, ketika ribuan pendukung klub sepak bola diperkirakan mengunjungi Afrika Selatan.
Kebanyakan kasus penyakit itu pada manusia, yang lazim terjadi di Afrika utara dan timur, ringan, demikian catatan WHO. Tetapi kasus tersebut telah mematikan pada rata-rata kurang dari satu persen kasus, dengan suatu bentuk pendarahan yang lebih parah.
Pernyataan tersebut mengatakan pemerintah Afrika Selatan telah mengkonfirmasi 186 kasus demam virus itu pada manusia sampai 10 Mei, termasuk 18 kematian, di lima provinsi: Free State, Eastern, Western dan Northern Cape, serta North West Province.
Belum ada penjelasan kapan wabah itu mulai terjadi.WHO menyatakan dugaan kasus pertama pada seorang wisatawan Jerman, yang jatuh sakit pada 7 April, setelah ia mengunjungi tempat pertaningan dan daerah pedesaan, telah dikesampingkan oleh pemeriksaan laboratorium.
"Profesional medis perjalanan dan layanan medis perjalanan mesti menyadari situasi RVF saat ini di Afrika Selatan agar dapat memberi saran dan perawatan yang sesuai," kata badan kesehatan PBB itu.
Sumber : http://m.antaranews.com

Tuesday, May 11, 2010

Harapan Baru Pengembangan Vaksin AIDS

Senin, 10 Mei 2010 10:42 WIB


NEWYORK, KOMPAS.com - Para ilmuwan di Amerika Serikat mengklaim bahwa mereka telah mulai memahami suatu mekanisme perlindungan alami yang dimiliki tubuh seseorang terhadap HIV. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini menjadi kabar baik, karena dapat memberi petunjuk baru bagi terciptanya sejenis vaksin AIDS yang efektif di masa depan.
Menurut hasil riset, ada beberapa individu yang tubuhnya menunjukkan respon sangat lambat ketika terinfeksi sehingga membuat sel-sel darah putihnya lebih tangguh dalah melawan virus. Temuan ini berkaitan dengan elite controller yakni sekelompok pasien yang terinfeksi HIV, tetapi perkembangan penyakitnya hingga menjadi AIDS sangat lambat, atau bahkan tidak mengidapnya sama sekali.
Pada akhir 1990-an, terungkap bahwa para pasien ini - sekitar satu dari 200 orang terinfeksi HIV - memiliki gen yang spesifik yang disebut HLA B57. Para ahli dipimpin oleh Professor Arup Chakraborty dan Professor Bruce Walker, menemukan bahwa gen ini menyebabkan tubuh menghasilkan sel-sel T potensial - sejenis sel darah putih yang dapat melawan infeksi.
Sel ini bukan hanya membantu pasien dalam menghambat perkembangan virus, tetapi juga membuat rentan terhadap penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh dapat menjadi aktif dengan sendirinya. Para peneliti dari MIT dan Harvard ini yakin, vaksin ini akan terwujud dalam satu satu dekade mendatang.

Monday, May 3, 2010

Virus Purba yang Terjebak Dalam Es

New York, Pernahkah terpikir kenapa pemanasan global membuat banyak penyakit kian bermunculan? Salah satu yang ditemukan peneliti adalah karena virus purba yang terjebak dalam es yang ada di kutub selama jutaan tahun mulai bergerak setelah es mencair.
Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Bowling Green State University, Syracuse University dan State University of New York yang dilakukan pada tahun 2004 memunculkan dugaan baru efek dari mencairnya es di kutub atau gletser.Seperti dilansir dari MedicalHypotheses, Minggu (2/5/2010) peneliti menduga virus yang terjebak di gunung-gunung es, kutub atau gletser selama jutaan tahun bisa mencair jika pemanasan global berlanjut.
Virus purba itu awet di dalam es karena proses pembekuan meningkatkan daya tahannya. Setidaknya ada seratus triliun mikroorganisme berupa bakteri, virus, jamur dan mikroba yang terperangkap di gunung-gunung es. Virus polio, influenza, cacar dan calcivirus (virus yang bikin diare) adalah virus-virus yan bisa bertahan lama dalam es.
Profesor William T Stamer yang merupakan salah satu tim peneliti dari Syracuse University mengatakan mikroorganisme bergerak melalui angin. Mikroba dapat keluar dari atmosfer atau masuk ke dalam kabut, hujan es atau salju yang kemudian bisa jatuh ke dalam danau, sungai, lautan, tanah atau gletser. Ketika mikroba itu masuk ke dalam lingkungan es seperti gletser atau daerah bersalju, mikroba mampu bertahan dalam pembekuan selama jutaan tahun.
Begitu terjadi lelehan es, virus purba ini akan terbebas dan bergerak mengikuti aliran air es tersebut. Yang ditakutkan peneliti, saat virus purba ini bertemu dengan virus yang hidup di zaman moderen akan mengalami mutasi atau genom daur ulang.
Seperti contoh virus influenza yang merebak beberapa tahun belakangan ternyata sudah ada sejak lama. Kasus merebaknya virus flu H1N1 (flu babi) ditemukan tahun 1918 yang mengakibatkan kematian hingga jutaan orang."Hilangnya virus influenza kemudian muncul lagi membuat dugaan virus itu bertahan hidup di dalam es yang menunggu pembebasan ketika es mencair lalu timbul lagi," kata Profesor William T Stamer.
Namun penelitian tersebut masih perlu pembuktian lebih lanjut. Seperti dikatakan ahli virus David Onions dari Glasgow University yang dilansir dari Independent. David ragu virus purba yang lama terkubur masih memiliki vitalitas atau kemampuan yang kuat dan berbahaya.
"Beberapa kelompok virus memang bisa bertahan lama dalam es, tapi apakah virus itu akan menular atau berbahaya itu pertanyaan lain," kata David.
Yang jelas peneliti mengingatkan dampak pemanasan global yang membuat es-es mencair memang menjadi ancaman bagi kehidupan manusia.

Friday, April 30, 2010

7TH INTERNATIONAL MINISTERIAL CONFERENCE DI HANOI BAHAS KESEHATAN MANUSIA, HEWAN DAN LINGKUNGAN

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama mewakili Menteri Kesehatan menghadiri pertemuan 7th International Ministerial Conference on “Animal and Pandemic Influenza: The Way Forward”, di Hanoi, Vietnam tanggal 20-21 April 2010. Pertemuan dibuka Deputi Perdana Menteri Vietnam. Dari Asean, selain dari Indonesia juga hadir Menteri Kesehatan Vietnam, Brunei, Laos dan Myanmar. Delegasi RI (Delri) terdiri dari Kementerian Kesehatan diwakili Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dirjen Peternakan dan Deputi 3 Menko Kesra.

Saat pra pertemuan teknis pejabat tinggi, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian menyampaikan presentasi mewakili delegasi RI. Pertemuan ini antara lain membahas pengalaman Indonesia dalam menanggulangi penyakit Flu Burung (H5N1) berguna bagi penanganan berbagai penyakit/ pandemic yang akan datang. Momentum ini perlu terus dijaga, demikian juga political commitment dan pendanaan. Juga pentingnya kerjasama intersektoral, keterlibatan sektor swasta dan kerjasama antar negara serta penggunaan istilah One Health sebagai pengganti One World One Health (OWOH) yang meliputi 3 sektor yaitu Human Health, Animal Health and Environmental Health.

Di sela-sela pertemuan, dr. Thandra Yoga Aditama melakukan pertemuan dengan CAREID –Canada untuk menjajagi kemungkinan kerjasama dalam bentuk pendampingan teknis dan pelatihan di bidang surveilans dan outbreak response, kesiapan menghadapi pandemic dan jejaring kerja laboratorium. Kegiatan ini dilakukan di lima Negara Asean yaitu Indonesia, Laos, Kamboja, Vietnam dan Filipina.

Menurut dr. Tjandra Yoga, pembicaran lebih lanjut dengan CAREID-Canada akan dilanjutkan di Kedutaan Besar Canada di Jakarta, meliputi aspek kerjasamadan materi yang mungkin dicakup oleh Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemkes RI.

Sumber : www.depkes.go.id

Wednesday, April 28, 2010

Setahun Epidemi H1N1 : Pelajaran Berharga dari Flu Babi

Setahun lalu, dunia dihebohkan dengan epidemi virus H1N1 atau yang lebih dikenal dengan flu babi. Setahun perjalanannya, apakah dunia mendapatkan pelajaran?

Setahun lalu, Kepala Pengawasan Flu di Pusat Kendali dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Lyn Finelli, mengumpulkan timnya dan mengatakan agar mereka bersiap menghadapi yang terburuk.

Finelly berkata, epidemi flu sedang terbentuk yang disebabkan oleh virus yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya. Ia menyebutkan, petugas kesehatan di Meksiko sudah mulai tertular.

“Kami semua ketakutan, karena mengetahui dengan pasti seperti apa dampak virus mematikan lainnya seperti SARS dan Ebola. Ketika petugas kesehatan juga jatuh sakit, maka kita akan tahu seperti apa penularan dan berbahanya sebuah virus,” paparnya, kemarin.

Setahun berlalu, sejak para ahli melacak keberadaan virus H1N1. Penyakit ini sudah mencapai titik tertingginya dan telah turun sejak itu. CDC dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengatasinya, sejak mulai menyebar dari Meksiko, ke Amerika dan bahkan menyebrang ke Eropa.

“Rencana dan persiapan memang sempurna, hingga virus memodifikasi dirinya dan beradaptasi dengan kondisi baru,” kata plt Direkrut CDC Richard Besser. Hal ini diamini Kepala Persiapan Flu CDC, Stephen Redd, yang mencontohkan penyebaran flu burung (H5N1).

Virus itu terbentuk pertama di Hong Kong pada 1997. Kemudian menyebar melalui burung ke Mesir, Indonesia dan Vietnam. Pandemi H1N1 berasal dari babi dan tak ada yang mengetahui secara persis bagaimana terbentuknya, serta secara cepat menyebar dari manusia ke manusia di Meksiko.

H1N1 sekian lama menyebar dari babi ke babi, namun berevolusi selama 10 tahun hingga akhirnya menjangkiti seorang yang dekat dengan peternakan babi di negara itu. Tak ada yang tahu bagaimana evolusi virus itu terjadi, maupun lokasinya.

WHO sempat menaikkan status kewaspadaan virus H1N1 ke level 5 atau setingkat di bawah level tertinggi (epidemi). Flu babi langsung menjadi sebuah berita besar.

Hingga Selasa (27/4), berdasarkan penghitungan situs flucount.org, terdapat 1.483.520 kasus H1N1 dengan 25.174 kematian. Negara yang paling banyak mencatatkan kasus flu babi adalah Jerman dengan 222.006 kasus. Kemudian Portugal, 166.922 kasus dan China, 120.940 kasus.

Lalu apakah dunia sudah belajar dari kasus H1N1 sepanjang tahun lalu? Ada beberapa yang bisa dipetik. Seperti penggunaan warning yang harus lebih diwaspadai lagi.

Jika tidak tepat sasaran, malah menebarkan kepanikan ke seluruh dunia yang sama sekali tak ada gunanya. Keputusan WHO bisa dibilang sedikit berlebihan, meski tujuannya untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Namun begitu, ada baiknya bereaksi berlebihan ketimbang kurang siaga. Seperti para ahli yang menyadari sifat virus yang sulit ditebak, mereka langsung mempersiapkan vaksin H1N1. Sehingga potensi mematikan pada virus itu berkurang.

Demikian pula sikap pemerintah yang agak sedikit pelit terhadap vaksin. Ketika rakyat yang panik menjerit minta vaksin kepada pemerintah, tak ada yang memperolehnya jika tak benar-benar terdesak. Hal ini sangat baik untuk manajemen stok dan mengendalikan rakyat.

Merebaknya flu babi juga membuat masyarakat waspada dengan perawatan binatang yang menjadi asal-usulnya. Manfaatnya terlihat, karena jumlah virus yang berkembang biak juga menurun.

Terpenting, semua menyadari bahwa pemerintah tak bisa melakukan ini sendiri. Peran serta rakyat sangat penting untuk mencegah terjadinya pandemi. Terutama di masa seperti ini, ketika musim panas tiba dan siklus flu segera dimulai. [mdr]

Sumber : INILAH.COM

Malaria Jadi Ancaman Terbesar Bagi Masyarakat Indonesia

Gorontalo (ANTARA News) - Penyakit malaria menjadi ancaman terbesar bagi masyarakat yang ada di negara-negara tropis termasuk Indonesia.
Dalam sambutannya yang disampaikan oleh Wali kota Gorontalo, Adhan Dambea, Menteri kesehatan mengatakan, ancaman malaria sangat berpengaruh pada tingginya angka kesakitan dan bahkan kematian bayi, anak balita, ibu hamil.
"Menurut laporan dari WHO, penderita malaria di dunia yang tercatat sampai dengan tahun 2007 berjumlah 500 juta, dan yang meninggal tercatat sebanyak 1 juta penduduk, data ini menunjukkan kepada kita bahwa malaria merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat," ujarnya, Selasa.
Dia menjelaskan, penyakit malaria adalah suatu penyakit menular yang banyak diderita oleh penduduk di daerah tropis dan subtropis. Penyakit tersebut semula banyak ditemukan di daerah rawa-rawa dan dikira disebabkan oleh udara rawa yang buruk.
"Penularan penyakit malaria dari orang yang sakit kepada orang sehat, sebagian besar melalui gigitan nyamuk. Bibit penyakit malaria dalam darah manusia dapat terhisap oleh nyamuk, berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, dan ditularkan kembali kepada orang sehat yang digigit nyamuk tersebut," jelasnya.
Dia menambahkan, pada tanggal 25 April 2007 silam, seluruh anggota WHO menyatakan komitmennya untuk memberantas malaria sampai titik eliminasi."Oleh karena itu, tanggal tersebut dijadikan tonggak sejarah, dan ditetapkan sebagai hari peringatan malaria sedunia," tambahnya.
Dia menghimbau kepada semua pelaku pembangunan harus mendukung dan berperan aktif. Serta peran masyarakat dalam peningkatan derajat kesehatan, merupakan unsur penting yang selalu harus dilibatkan dalam eliminasi malaria.
http://www.antaranews.com/berita/1272405005/malaria-jadi-ancaman-terbesar-bagi-masyarakat-indonesia

Benarkah Virus Demam Berdarah Bermutasi?

Jakarta, 27/4/2010

Belakangan ini muncul kabar-kabar lewat email dan SMS yang menyebutkan penyakit Demam berdarah dengue (DBD) mengalami mutasi yang ditandai dengan tidak munculnya gejala-gejala seperti biasa. Benarkah virus DBD bermutasi? Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengeu yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Virus dengeu memiliki empat serotype (klasifikasi virus), yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Keempat serotype dengue ditemukan di Indonesia, DENV-2 dan DENV-3 merupakan serotype yang dominan.
"Virus memang memiliki kemungkinan bermutasi, biasanya yang paling sering adalah virus influenza. Tapi untuk mengetahui mutasi virus dengeu, perlu juga dilihat dari genotype-nya," ujar Dr Tri Yunus Miko, M.Sc yang juga dosen epidemologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia saat dihubungi detikHealth, Selasa (27/4/2010).
Sayangnya, menurut Dr Tri, kurangnya penelitian mengenai genotype di Indonesia membuat publik kekurangan informasi dan belum bisa menentukan apakah virus itu benar-benar bermutasi.
Dr Tri sendiri hanya menanggapi enteng isu yang menyebutkan bahwa mutasi virus DBD tidak menampakkan gejala umum DB, yaitu tidak ada demam tinggi, tidak ada bintik-bintik merah, penderita hanya merasa sedikit meriang dan batuk-batuk, sehingga hampir tiap penderita menganggapnya sebagai flu biasa.
Menurutnya, gejala-gejala seperti itu adalah gejala yang disebabkan oleh virus dengeu DENV-1, dan bukan karena virus tersebut mengalami mutasi. Penderita DBD mengalami gejala seperti timbulnya bintik-bintik merah atau demam tinggi adalah karena orang tersebut terinfeksi ulang virus dengeu dengan seritype yang berbeda.
Komplikasi DBD;
Nah, untuk kasus-kasus tertentu, DBD bisa sangat mematikan bahkan dengan waktu yang sangat singkat. Misalnya DBD yang menyerang penderita diabetes atau ginjal."Pada kondisi tertentu demam berdarah bisa tidak tertolong lagi seperti mengalami pendarahan yang banyak, trombosit semakin turun serta mengalami shock (pembuluh darah yang mengempes)," ujar dr Kasim Rasjidi, SpPD-KKV, DTM&H, MCMT, MHA, SpJP, FIHA saat dihubungi detikHealth.
dr Kasim menuturkan jika pasien memiliki penyakit diabetes maka kondisinya bisa memburuk saat terkena DBD. Karena tubuh penderita diabetes sudah terinfeksi maka ketika terkena DBD akan memicu gula darah meningkat.Akibatnya cairan dalam tubuh bisa tertarik keluar sehingga tubuh semakin kekurangan cairan. Cairan dalam tubuh yang semakin menurun bisa mengakibatkan turunnya jumlah trombosit.
Maka itu dia menyarankan jika seseorang sudah merasa badannya tidak enak sebaiknya segera minum air putih yang banyak usahakan 2 liter air per hari yang harus dikonsumsi terpenuhi.Bagi orang yang memiliki riwayat penyakit diabetes atau ginjal, sebaiknya asupan air lebih banyak dibandingkan dengan orang yang normal. Karena jumlah cairan yang terpenuhi dapat mencegah terjadinya penurunan trombosit serta bisa dijadikan sebagai pertolongan pertama.
DBD yang menyerang penderita diabetes atau ginjal memang akan jauh lebih buruk dibandingkan dengan DBD yang menyerang orang normal. Hal inilah yang mungkin memicu adanya isu bahwa virus yang menyebab DBD telah mengalami mutasi, karena masa inkubasinya lebih cepat daripada DBD pada umumnya.

Tuesday, March 30, 2010

Hari Kesehatan Sedunia Bertema "Urbanisasi dan Kesehatan"

Jakarta (ANTARA News) - Hari Kesehatan Sedunia (HKS) yang diperingati setiap tanggal 7 April akan bertemakan "Urbanisasi dan Kesehatan" karena urbanisasi sangat besar pengaruhnya baik terhadap kesehatan global maupun kesehatan individu.
Siaran pers Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa, menyebutkan, di Indonesia tema ini akan disubtemakan menjadi "Kota Sehat, Warga Sehat" dengan slogan "1.000 Kota, 1.000 Kehidupan".
Sub Tema "Kota Sehat, Warga Sehat" dipilih karena kebijakan kota sehat telah berjalan di Indonesia, tetapi masih ditemukan kendala yaitu penyediaan air minum dan sanitasi lingkungan. Untuk mengatasinya, diperlukan komitmen dari semua pemangku kepentingan dan komponen masyarakat untuk mewujudkan kota sehat yang sekaligus berdampak pada peningkatan kesehatan warganya.
Slogan 1.000 Kota mempunyai makna suatu ajakan atau motivasi agar lebih dari 1.000 kota berikut pimpinan/penentu kebijakan berpartisipasi dalam kegiatan peringatan HKS ke-62. Sedangkan 1.000 Kehidupan mempunyai makna adanya penggerak/pahlawan yang melakukan aktivitas meningkatkan kesehatan di lingkungan kehidupannya.
Peringatan HKS ke-62 di Indonesia di tingkat Nasional, acara puncaknya akan diselenggarakan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, yang akan dihadiri antara lain oleh para menteri dan perwakilan WHO.
Sementara di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota peringatan HKS ke-62 diperingati dengan berbagai kegiatan, misalnya pemberlakuan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor di jalan-jalan utama, perluasan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah, pelayanan kesehatan, tempat kerja dan tempat umum lainnya seperti restoran dan tempat ibadah.

Pembentukan Komnas Zoonosis Disepakati

JAKARTA--MI: Dalam Rakor yang membahas tindak lanjut Komnas Flu Burung dan Pengendalian Influenza (FBPI), Selasa (23/3), Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono beserta peserta rapat lainnya menyetujui adanya pembentukan Komnas Zoonosis untuk memperluas kerja Komnas FBPI yang masa tugasnya berakhir beberapa waktu lalu.
"Saya setuju jika ini diteruskan, dan semua juga menyepakatinya. Penyakit-penyakit yang berasal dari binatang seperti unggas, tikus, dan kelelawar sangat berbahaya, apalagi jika sudah menyangkut manusia. Komnas Zoonosis menangani masalah yang berkaitan dengan penyakit-penyakit yang berasal dari binatang, baik antar binatang maupun dari binatang ke manusia," ujar Agung Laksono.
Komnas Zoonosis yang nantinya akan diketuai oleh Menko Kesra bertugas melakukan pengendalian yang bersifat kordinasi. Misalnya, ada bencana yang berkaitan dengan zoonosis, maka Komnas Zoonosis yang akan bergerak. Selain itu, Komnas Zoonosis juga bertugas untuk melakukan pencegahan, pengendalian dan promosi.
"Melalui promosi, kita bisa memberikan informasi mengenai bagaimana cara mencegah penyakit zoonosis, misalnya saja dengan mencuci tangan sebelum makan dan bagaimana cara hidup sehat," tambah Agung. Komnas Zoonosis penting dibentuk sebagai usaha untuk mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh zoonosis.
Hal ini juga diungkapkan oleh Ketua Pelaksana FBPI Bayu Krisna Mukti. "Kuncinya adalah pengendalian dan pencegahan. Untuk pencegahan, masyarakat harus memiliki pengetahuan yang cukup, paling tidak mereka tahu bagaimana cara menjaga kebersihan," kata Bayu.
Menurutnya, dampak dari penyakit yang berasal dari hewan unggas, tikus, dan kelelawar tidak hanya pada kesehatan dan kematian, tetapi juga pada perekonomian dan pertanian. "Seperti kasus rabies di Bali, itu memengaruhi jumlah wisatawan yang datang ke Bali," ujarnya.
Sumber :http://www.mediaindonesia.com/read/

TBC Tewaskan 1,3 Juta Jiwa per Tahun

JAKARTA--MI: Pemerintah Indonesia bersama US Agency for International Development (USAID) bergabung bersama mitra lokal dan internasional, Rabu (24/3), memperingati Hari TBC Sedunia.
Di seluruh dunia, menurut siaran pers Kedubes AS, di Jakarta, Rabu, kematian yang diakibatkan oleh penyakit tuberculosis (TBC) telah menurun sejak 1990. Tapi, penyakit ini masih terus menelan korban lebih dari 1,3 juta nyawa setiap tahunnya.
Tahun 2010, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) menjadikan inovasi sebagai tema global dalam memperingati Hari TBC Sedunia. Tema ini mengajak perlunya memanfaatkan ide-ide dan metode baru untuk melanjutkan perang melawan TBC secara efektif.
"Meskipun pengobatan telah hadir lebih dari setengah abad lalu, TBC tetap menjadi salah satu dari penyebab penderitaan manusia dan terus mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan puluhan ribu warga Indonesia," kata Direktur USAID Indonesia Walter North.
Indonesia berada di urutan ketiga di dunia dengan 535.000 kasus TBC. Sejak tahun 2000, program pengendalian TBC di Indonesia telah berhasil mencapai target global mengidentifikasi dan merawat setidaknya 70 persen dari jumlah kasus yang diperkirakan.
Pada saat itu, USAID telah memberikan bantuan sebesar US$1 miliar untuk program-progam TBC di seluruh dunia. Pemerintah AS berkomitmen untuk berkerja sama dengan Indonesia untuk memerangi penyakit menular ini.
Di Indonesia, USAID mendukung program TBCAP (Tuberculosis Control Assistance Program) yang memfokuskan diri untuk melakukan diagnosa, perawatan, serta peringatan tentang kasus-kasus TBC secara tepat dan dini sesuai dengan garis-garis besar nasional dan rekomendasi WHO.
Program tersebut memperkuat komitmen dalam pengendalian TBC dan menjamin pengoperasian lokal yang berkelanjutan dari program nasional tersebut dengan cara melibatkan penyedia-penyedia pelayanan kesehatan serta peningkatan pada pelayanan dari klinik-klinik dan laboratorium-laboratorium TBC.

Thursday, March 18, 2010

Peningkatan Suhu Udara Picu Sebaran Penyakit Tropis

YOGYAKARTA--MI: Peningkatan suhu udara dunia berperan dalam penyebaran penyakit tropis dan vektor penyakit seperti diare, kaki gajah (filaria), lepra, demam berdarah dengue, malaria, flu, tuberkulosis, hepatitis, dan penyakit jamur.
"Penyakit-penyakit itu dijumpai terutama di negara-negara miskin dan terpinggirkan," kata pakar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Abu Tholib di sela simposium Ilmu Kedokteran Molekuler Daerah Tropis di Yogyakarta, Rabu (17/3).
Ia mengatakan, tuberkulosis merupakan penyakit tropis yang masih tinggi angka kejadiannya di dalam negeri, bahkan tertinggi ketiga di dunia yang masih menjadi masalah bagi para pakar kesehatan. "Permasalahan itu di antaranya beberapa penyakit tuberkulosis resisten terhadap obat yang biasa digunakan selama ini. Tuberkulosis yang resisten itu muncul sudah cukup lama dan obatnya masih terbatas karena harganya cukup mahal," jelasnya.
Selain tuberkulosis, penyakit demam berdarah dengue juga masih menjadi ancaman kematian, karena dalam kurun 50 tahun terakhir belum ditemukan vaksinnya. Demam berdarah dengue cukup ruwet, semula menyerang anak-anak tetapi juga menyerang usia dewasa. "Demam berdarah dengue belum ada vaksin dan obatnya. Selama ini hanya diantisipasi shock-nya, sedangkan virusnya sendiri diatasi oleh tubuh pasien," katanya.
Ketua panitia simposium Tri Wibawa mengatakan, dalam 30 tahun terakhir tingkat kejadian kasus demam berdarah dengue meningkat hingga 50 kali lipat. Menurut dia, saat ini terdapat 1.400 macam obat yang terdaftar pada otoritas-otoritas obat dan kesehatan dunia. "Namun demikian, proporsi obat untuk penyakit tropis kurang dari satu persen dari jumlah seluruh obat yang ada di dunia," katanya.
Sumber: http://www.mediaindonesia.com

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN