SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Saturday, September 13, 2008

80.000 Paspor Ditemukan Ganda

Data Imigrasi Akan Bisa Dilihat di Satu Titik

Sabtu, 13 September 2008 | 00:15 WIB

Direktorat Jenderal Imigrasi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia menemukan sekitar 80.000 paspor terduplikasi selama penerapan sistem biometric single print atau BSP sidik jari. Paspor itu ditemukan tersebar di seluruh Kantor Wilayah Imigrasi di Indonesia.

Direktur Jenderal Imigrasi Dephuk dan HAM Basir Achmad Barmawi di Medan, Jumat (12/9), mengatakan, sejak awal tahun lalu sistem lama itu diberbaiki menggunakan sistem baru yang sudah mulai beroperasi sejak Juli 2008. Sistem baru itu tak hanya mengenali sidik jari seseorang, tetapi juga wajah seseorang sekaligus.

”Sistem baru ini membuat kami bisa memberi masukan ke negara selama 2 Agustus hingga 31 Agustus lalu sebanyak Rp 8,6 miliar. Sebelumnya, pemasukan negara harus dibagi dengan vendor,” tutur Achmad. Vendor, dalam hal ini PT Mustika Duta Mas, juga memiliki otoritas terhadap data imigrasi.

Penggunaan alat teknologi biometrik merupakan bagian dari proses autentikasi. Selama ini para ahli keamanan, terutama dari pengusaha pembuat produk biometrik sidik jari, mengatakan, untuk mengakali alat tersebut merupakan hal yang mustahil.

Alasannya, sidik jari merupakan hal unik. Sidik jari tiap orang berbeda dan tidak mungkin sama persis.

Biometrik merupakan teknik autentikasi yang mengambil karakteristik fisik seseorang. Ada beberapa teknik yang sering digunakan dalam autentikasi biometrik, seperti pengenalan sidik jari.

Pengenalan sidik jari dapat dikembangkan lebih lanjut untuk pengenalan telapak tangan.

Pengenalan suara merupakan teknik lain. Teknik ini harus di perhalus untuk keperluan autentikasi, untuk keperluan nonautentikasi sudah dikenal dalam dunia telekomunikasi untuk otomatisasi layanan pelanggan berdasarkan perintah suara.

Pengenalan muka merupakan teknik autentikasi lainnya yang akan mengenal muka seseorang dari hasil pengindraan kamera digital.

Verifikasi tanda tangan dapat juga dilakukan secara otomatis menggunakan teknik pengenalan citra digital.

Dirjen Imigrasi juga tengah menenderkan sistem border control management (BCM) yang memungkinkan semua data imigrasi di seluruh Indonesia bisa dilihat dari satu titik. Dengan sistem itu, data berapa orang asing yang masuk ke Indonesia dan sudah berapa lama mereka tinggal akan terlihat.

Selama ini, lama tinggal orang asing tidak bisa terdeteksi dengan baik.

”Kasus yang kami temukan bahkan ada yang sudah tinggal di Indonesia selama delapan tahun tanpa izin,” kata Achmad.

Sementara itu, penerapan e-pasport dan disaster recovery center atau sistem pertahanan data dari bencana akan dilakukan tahun 2009. Sistem pertahanan data dari bencana akan dibangun di daerah yang minim terkena bencana di seputar Kalimantan.

Ditanya sistem pelayanan di imigrasi, Achmad mengakui masih banyak calo yang ada di imigrasi.

”Di Jawa Timur, ada pegawai bahkan yang dipukul calo. Ada pula calo yang marah-marah karena lama pengurusannya karena harus antre,” kata Achmad.

”Namun, pengurusan paspor di Indonesia relatif cepat dan murah. Di Australia dan Malaysia sampai sebulan, di sini cuma lima hari dan hanya Rp 270.000. Namun kalau kasih lebih silakan,” kata Achmad.

Ia mengatakan, pegawai Imigrasi yang berjumlah 5.339 orang di seluruh Indonesia hingga saat ini masih kurang. Banyak pegawai yang bekerja berlebih tetapi bergaji rendah. ”Kami masih menghitung berapa besar kebutuhan pegawai kami,” kata Achmad. (WSI/*)

Sumber : Kompas

Thursday, September 11, 2008

Laporan Data Kasus Flu Burung pada Unggas di Indonesia tidak Transparan


Indonesia dinilai tidak transparan dalam mengirimkan data kejadian kasus flu burung pada unggas ke dunia. Imbasnya, laporan kasus flu burung dari Indonesia tidak pernah dicantumkan dalam laporan periodik Food and Agriculture (FAO) unit Avian Influenza Control Programme yang ditujukan ke berbagai negara.

"Jumlah kasus outbreak flu burung pada unggas yang dilaporkan ke dunia hanya 15% jumlahnya dari total kejadian yang sebenarnya terjadi, tandas Ketua Panel Ahli Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Amin Soebandrio di Jakarta, Kamis (4/9).

Kata Amin, total kasus outbreak-kejadian luar biasa--Flu Burung-yang dilaporkan hingga tahun ini ke FAO hanya berjumlah 200 hingga 300 kejadian outbreak pada unggas. Jumlah ini dinilai di luar nalar. Pasalnya, Vietnam dengan luas wilayah dan unggas yang jumlahnya lebih kecil dari Indonesia melaporkan 2000 lebih kasus outbreak pada FAO.

"Panel ahli memperkirakan terdapat 2000 hingga 3000 kasus kejadian luar biasa pada unggas di Tanah Air," seru Amin.

Terdapat berbagai faktor yang menjadi penyebab laporan kejadian luar biasa flu burung pada unggas di Indonesia tidak realistis. Umumnya daerah malas melaporkan kejadian luar biasa flu burung pada unggas ke pemerintah daerah.

Amin mensinyalir, mereka takut, unggas sekitarnya akan turut dimusnahkan. Imbasnya, laporan dari provinsi ke pemerintah pusat pun tidak utuh.

Paneh ahli juga mengungkapkan, lembaga kesehatan dunia, WHO juga tidak lagi membuat laporan kejadian flu burung pada manusia secara periodik. Pasalnya, sejumlah negara tidak lagi memberikan laporan kejadian flu burung secara per kasus. Contohnya adalah Indonesia. Dengan alasan keamanan, pemerintah memutuskan tidak langsung melaporkan kejadian kasus flu burung pada manusia ke WHO.

Menurut Amin, Indonesia tetap berkomitmen mengirimkan kasus flu burung ke WHO, tetapi dengan mekanisme berbeda. "Bentuk laporan diberikan secara periodik. Misalnya setelah beberapa kasus terjadi atau dalam jangka waktu tertentu. Tidak lagi per kejadian, kemudian dilaporkan," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pelaksana Harian Harian Komnas FBPI Bayu Krisnamurti memaparkan, memasuki tahun 2008, tren kasus kejadian flu burung pada manusia cenderung menurun. "Pada manusia, per bulan rata-rata hanya 1 kasus. Jumlah ini jauh lebih rendah dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya," sergah Bayu.

Terkait fenomena ini, Amin mempunyai pendapat berbeda. "Pemerintah harus tetap waspada, " pesan Amin.

Pada 2007, dalam semester pertama, tidak ditemukan kasus flu burung pada manusia. Dengan sangat percaya diri, berdasar fenomena tersebut, pemerintah mendeklerasikan zero kasus flu burung di tahun 2007. Namun jelang akhir tahun, ketika musim hujan tiba, kasus flu burung pun marak.

Indonesia termasuk negara dnegan kejadian AI pada manusia tertinggi di dunia. Data terakhir WHO pada 19 Juni 2008 menunjukan sudah 112 jiwa meninggal dari total 135 kasus positif flu burung.
(Tlc/OL-03)


Penyebaran HIV/AIDS di Provinsi Sumatera Utara Mengkhawatirkan

Penyebaran HIV dan AIDS di Sumatra Utara (Sumut) makin mengkhawatirkan. Data per Juni 2008, terdapat 1.315 kasus HIV/AIDS di 22 kabupaten/kota yang ada. Dari jumlah tersebut 771 merupakan kasus HIV dan 545 kasus AIDS.

Ketua Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan AIDS Sumatra Utara dr Linda T Maas, MPH, Rabu (3/9) mengungkapkan kasus HIV/AIDS di Medan termasuk yang terbesar di Sumut, yakni 969 kasus yang terdiri dari HIV 621 dan AIDS 348. Tingginya angka ini disebabkan adanya penderita dari luar Medan yang datang berobat ke kota ini.

Sementara di Kabupaten Deli Serdang terdapat 108 kasus HIV/AIDS dan Kabupaten Toba Samosir 53 kasus. Dari segi usia, Linda mengatakan penderita HIV/AIDS yang paling banyak pada usia produktif yakni antara 20-40 tahun yaitu 1.080 kasus.

Berbagai upaya yang telah dilaksanakan KPA Sumut dalam penanggulangan HIV/AIDS membuat buku pedoman penanggulangan AIDS, pengembangan sistem informasi agar kabupaten/kota di Sumut memiliki sistim yang sama, meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit bekerja sama dengan dinas kesehatan, pemberdayaan KPA di provinsi dan kabupaten kota dan pengembangan program penanggulangan di tempat kerja serta lembaga pemasyarakatan.

Untuk memerangi peredaran ini, Linda menjelaskan KPA Sumut telah dan akan terus melakukan kerjasama dengan departemen agama, departemen pendidikan, departemen tenaga kerja, Depkum HAM dan lapas.

Diharapkan semua pihak peduli terhadap penyakit yang sangat berbahaya ini, karena jika tidak ada program intervensi , maka jumlah kasus HIV/AIDS sampai tahun 2012 akan mencapai 157829. Hal yang sama jumlah kasus bayi HIV/AIDS akan mencapai 7928. (BS/OL-06)
Sumber : MIOL Penulis : Bantors Toruan

Tuesday, September 2, 2008

24 Pelabuhan Indonesia Lolos Standar ISPS Code

Selasa, 02 September 2008 17:26 WIB


Sebanyak 24 fasilitas pelabuhan di Indonesia dinyatakan telah menerapkan standar International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code secara penuh.

Artinya, fasilitas ke-24 pelabuhan tersebut telah sesuai dengan standar keselamatan dan keamanan yang dikeluarkan oleh International Maritime Organization (IMO).

Hal itu berdasarkan penilaian United State Coast Guard (USCG) Juni 2008 lalu terhadap 25 pelabuhan di Indonesia. Dengan lolosnya ke 24 pelabuhan itu, maka kapal-kapal yang berangkat dari pelabuhan tersebut diizinkan untuk langsung menyinggahi pelabuhan-pelabuhan di Amerika Serikat.

Sedangkan kapal-kapal yang berangkat dari pelabuhan yang belum lolos ISPS Code, level pengamannya akan lebih diperketat sehingga menimbulkan biaya operasional lebih tinggi.

"Baru 24 yang lolos ISPS code, tinggal satu lagi yaitu fasilitas Pelabuhan Semarang Convention Cruises," papar Kepala Bagian Hukum & Humas Ditjen Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Umar Aris di Jakarta, Selasa (2/9).

Fasilitas pelabuhan yang telah lolos ISPS Code adalah Pelabuhan Banjarmasin, Belawan International Container Terminal, Belawan Multipurpose Terminal, British Petroleum Arco Ardjuna, Caltex Oil Terminal Dumai, Chevron Santan Marine Terminal, DUKS PT Semen Padang, Jakarta International Container Terminal, Dermaga Jamrud Pelindo III Tanjung Perak, dan Newmont Nusa Tenggara.

Selain itu, Pelindo II Conventional Terminal Jakarta, Pertamina Unit Pengolahan II Dumai, PErtamina Unit Pengolahan V Balikpapan, PT Badak Bontang Natural Gas Liquefaction, PT Indomico Mandiri Bontang, PT Multimas Nabati Asaha, PT Pelindo I Cabang Dumai, PT Pelindo II Cabang Padang, PT Pertamina Unit Pemasaran III Jakarta, PT Pupuk Kaltim Bontang, PT Terminal Petikemas Surabaya, Semarang International Container Terminal, Senipah Terminal Total Indonesia Balikpapan, dan Terminal Petikemas Koja.

Adapun pelabuhan Semarang Convention Cruises, belum dilakukan penilaian oleh USCG karena pada saat penilaian, pelabuhan itu sedang melakukan revitalisasi sistem dan tidak ada kapal yang tengah berlabuh.

Standar keamanan yang dinilai USCG meliputi kepastian bahwa di setiap pintu masuk ke kapal dijaga oleh para penjaga, adanya deklarasi keamanan, dan penjaga keamanan swasta yang diterima oleh Kapten USCG di pelabuhan ketika berada di perairan Indonesia.

Saat ini pelabuhan umum di Indonesia berjumlah 725 pelabuhan, terdiri dari 111 pelabuhan yang diselenggarakan PT Pelabuhan Indonesia, dan 614 pelabuhan yang diselenggarakan UPT Pemerintah.

Terkait pengurangan jumlah pelabuhan terbuka dari total 141 pelabuhan menjadi 25 pelabuhan, Umar mengatakan jumlah hasil penciutan bisa saja berubah. "Sekarang masih dalam tahap&tahap proses pengkajian dengan instansi terkait, seperti Departemen Perdagangan dan pemerintah daerah masing-masing, belum ada legitimasinya," jelasnya.

Proses pengurangan pelabuhan terbuka, imbuh dia, perlu ada kesiapan dan koordinasi antara Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, dan pelabuhan yang memiliki kewenangan masing-masing.

Pengurangan pelabuhan terbuka bagi perdagangan luar negeri dilakukan untuk mencapai efisiensi, kelancaran arus barang, kemudahan pengawasan, serta pemberdayaan armada nasional sesuai azas Cabotage.

Adapun mengenai masalah pelayanan di pelabuhan, selain Ditjen Perhubungan Laut terdapat instansi lain yang juga memiliki kewenangan baik dari sisi pelayanan, seperti kelancaran arus barang dan akses jalan. (Slv/OL-2)



Saturday, August 23, 2008

HIV/AIDS : Indonesia Gagal Tangani HIV/AIDS


Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) mengakui gagal dalam menanggulangi masalah penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Terhitung sejak krisis moneter terjadi di Tanah Air pada tahun 1998 berbeda dengan sejumlah negara berkembang lain, penderita HIV/AIDS di Indonesia malah terus bertambah dari tahun ke tahun hingga kini.

Mengutip data Departemen Kesehatan terbaru. KPAN melaporkan, sampai akhir Juni 2008 terdapat penambahan kasus AIDS sejumlah 2947 orang pada tahun 2007. Dan terdapat 1546 kasus pada 4 bulan pertama tahun 2008.

Sekretaris KPAN Dr Nafsiah Mboy, SpA memaparkan, hingga kini, situasi kumulatif jumlah kasus AIDS di Tanah Air sudah mencapai 12.686 orang. Informasi jumlah ini dihimpun dari 32 propinsi dari 15 kabupaten/kota.

Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Papua, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatra utara, Sulawesi Selatan dan Kepulauan Riau. "Secara global kasus HIV/AIDS sudah menunjukan tanda-tanda stabil, namun di Indonesia epidemik masih terus berlangsung. Bahkan dewasa ini tercatat sebagai negara dengan laju epidemik tercepat di Asia," tandas Nafsiah, pada acara Peluncuran laporan Epidemi AIDS Global tahun 2008 di Jakarta, Rabu (13/8).

Menurut hasil survei terpadu HIV dan perilaku tahun 2007, prevalensi di kalangan populasi kunci yang berisiko ketularan telah mencapai 9,5% di kalangan wanita penjaja seks (WPS). Sebanyak 5,2% di kalangan lelaki yang berhubungan seks dnegan sesama lelaki, dan 52,4% pada pengguna Napza suntik.

Di Papua, tambah Nafsiah, prevalensi HIV di masyarakat umum (dewasa) mencapai 2,4%. "Proyeksi KPAN dan Depkes, infeksi HIV baru di masa datang akan lebih benyak terjadi melalui transmisi seksual," ujarnya. Nafsiah menambahkan, dengan situasi seperti ini, kasus HIV/AIDS di Tanah Air akan terus meningkat hingga tahun 2020, dengan rata-rata per tambahan 5% penderita baru per tahun.

Salah satu kendala utama dalam penganannan HIV/AIDS di Tanah Air adalah resistensi masyarakat terhadap sosialisasi kondom, terapi ruwatan matadon dan beberapa program lainya yang dinilai bertentangan dengan nilai kultur ketimuran.

Terkait kontinuitas penggunaan kondom pada wanita penjaja seks, Nafsiah mengakui, pihaknya gagal dalam mempromosikan upaya ini. Jumlah WSP yang menggunakan kondom selama 3 bulan pada tahun 2004, jumlahnya masih sama pada tahun 2007, yakni hanya 36%.

Namun penggunaan kondom pada kaum laki-laki berisiko seperti pelaut, pengemudi truk, sopir taksi, dan ojek serta pekerja pelabuhan mengalami peningkatan. Jumlah klinik yang melayani terapi metadon pun bertambah.

Sumber : MIOL (Tlc/OL-03)

Kesling : 47,5 Persen Air Minum Rumah Tangga Tercemar Bakteri E.Coli

Departemen Kesehatan menyatakan, 99,20% atau hampir semua rumah tangga di Indonesia memasak air sendiri untuk minum. Namun akibat tidak dikelola dengan baik, sekitar 47,5% air yang diminum tetap terkontaminasi bakteri e.coli penyebab diare.


Hal itu dikemukakan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL)Depkes I Nyoman Kandun, berdasarkan kutipan hasil studi Basic Human Service pada tahun 2007.

Kandun mengakui, kejadian diare di Tanah air memang masih tinggi. Hal ini tergambar dari angka kejadian diare nasional tahun 2006 yang rata-rata mencapai 423 per 1000 penduduk pada semua umur. (Hasil survei Ditjen P2PL). Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001 menyebutkan angka kematian diare pada balita sebesar 75,3 per 100 ribu balita. Sementara angka kematian diare untuk semua umur sebesar 23,2 per 100 ribu penduduk.

Hasil studi tahun 2007 juga menunjukan, behwa dengan meningkatkan perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga, kejadian diare akan menurun sebesar 39%. Menurut Kandun, selama ini pemerintah telah mengenalkan metode pengelolaan layak minum seperti klorinisasi, filtrasi dan solar water disisnfectant.

"Air layak minum adalah hak setiap warga negara. Dari laporan capaian MDGs sampai tahun 2006, baru sekitar 52,1% penduduk Indonesia mendapat akses air minum," tandas Kandun Jakarta, Rabu (20/8).

Tingginya kejadian diare, disamping dipicu oleh pengelolaan air yang buruk juga disebabkan faktor perilaku hidup sehat masyarakat yang rendah. "Contohnya, sabun memang sudah tersebar di hampir setiap rumah di Indonesia. Namun hanya sekitar 3% yang menggunakan sabun untuk cuci tangan," tuturnya.

Survei Health Service Program tahun 2006 tentang persepsi dan perilaku masyarakat mengungkapkan, Perilaku responden pada lima waktu kritis cuci tangan, tercatat 12% setelah buang air besar(BAB), 9% setelah membantu BAB bayi, 14% sebelum makan, 7% sebelum memberi makan bayi dan 6% sebelum menyiapkan makanan.

Kandun menambahkan, berdasarkan hasil studi WHO 2007, kejadian diare dapat diturunkan melalui beberapa cara. Yaitu, 32% melalui peningkatan akses sanitasi dasar, 45% melalui mencuci tangan pakai sabun, 39% melalui perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga. Sedangkan dengan mengintergasikan ketiga perilaku tersebut, kejadian diare dapat menurun sebesar 94%. (Tlc/OL-2)

Sumber : MIOL

Thursday, August 14, 2008

Yellow fever in Côte d'Ivoire

August 2008 -- The Ministry of Health of Côte d'Ivoire has declared a yellow fever outbreak in the capital, Abidjan. The outbreak was laboratory confirmed at the beginning of May 2008.

In June 2008, WHO deployed a GOARN mission (the Global Outbreak Alert and Response Network) of two experts in order to assess the epidemiological and entomological situation and to investigate the risk of a full scale urban yellow fever outbreak.

After clinical, epidemiological and laboratory investigation, the GOARN mission confirmed two yellow fever cases. The cases were reported in different health districts of the capital, Abidjan. One case is a 48 year old female from Cocody, who was vaccinated against yellow fever in 1997, and the second is a 20 year old male from the urban area of Treichville, who has never been vaccinated against yellow fever.

The following conclusions were drawn by the GOARN mission:

  1. Tthe epidemiological situation is that of a temporal cluster of yellow fever cases without geographic focus and without continuation at present;
  2. Although a mass vaccination campaign was conducted in 2001, the actual yellow fever vaccination coverage is likely to be around or below 60%;
  3. Vectors capable of transmitting yellow fever are present in Abidjan; and
  4. The entomological risk indices (Breteau index and Container index) were over the threshold in all localities investigated, indicating a high risk of yellow fever transmission.

As a result, the mission recommends that the surveillance system to detect new yellow fever cases is strengthened and that vector control measures are implemented.

Subsequent to the mission, in July 2008, a further three laboratory confirmed cases were reported by the Ministry of Health. In addition to the standard IgM tests, more specific tests were used for all cases at the regional reference laboratory, Institut Pasteur in Dakar, Senegal, to determine the presence of the yellow fever virus and to exclude the presence of any other haemorrhagic fevers.

To date, the Ministry of Health has reported a total of nine suspected cases of yellow fever, including the five confirmed cases.

On the basis of these results, the Ministry of Health has decided to carry out a mass vaccination campaign in Abidjan, in August 2008, targeting 1 938 161 people. The campaign will be conducted with the technical assistance of WHO and the support of the GAVI alliance (the Global Alliance for Vaccines and Immunization). The previous mass vaccination campaign in Abidjan took place in 2001, during which 2.6 million doses were administered.

Source : WHO

Saturday, August 9, 2008

12 Warga Dusun IV Air Batu Asahan Negatif Flu Burung

Jakarta, 09 Aug 2008

Hasil pemeriksaan laboratorium Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) Badan Litbangkes Depkes menyatakan 12 orang warga di Afdeling 5 Damuli Dusun IV Air Batu, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara negatif Flu Burung. Kedua belas warga tersebut saat ini masih dirawat di RSUD Kisaran dan RSU H. Adam Malik, Medan. Kondisi pasien yang dirawat di RS H.Adam Malik, Medan (rumah sakit rujukan flu burung) yaitu FH (P, 7 th) dan MSM (L, 8 th) sudah stabil dan membaik. Sedangkan pasien lainnya dirawat di RSUD Kisaran.

Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung Depkes tanggal 9 Agustus 2008.

Kasus suspek Flu Burung tersebut ditemukan berdasarkan kegiatan surveilans aktif sejak tanggal 5 – 7 Agustus 2008 oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dan Dinkes Kabupaten Asahan. Terhadap hasil temuan tersebut telah dilakukan upaya perawatan secara gratis di RS, pengobatan dengan oseltamivir, pengambilan dan pengiriman specimen ke Badan Litbangkes Depkes, pengamatan kasus suspek, surveilans kontak, serta penyuluhan kesehatan.

Hingga saat ini, tim dari Depkes masih melakukan surveilans aktif di masyarakat untuk mencari kasus baru. Selain itu juga dilakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) masalah Flu Burung.

Berdasarakan pemeriksaan Rapid Test oleh Dinas Peternakan Kab. Asahan dan pemeriksaan Laboratorium Veterinar Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Utara, terhadap 15 ekor unggas (ayam dan bebek) yang mati mendadak tanggal 28 Juli 2008 di Afdeling 5 Damuli Dusun IV Air Batu, Kabupaten Asahan, tersebut positif Flu Burung.

Seperti diketahui pada sebagian besar masyarakat Afdeling 5 Damuli Dusun IV Air Batu rata-rata beternak ayam, itik, dan bebek baik untuk dikonsumsi maupun dijual. Umumnya kandang ternak mereka menempel dengan rumah bahkan ada juga ternak yang tidak dikandangkan. Anak-anak Dusun IV Air Batu umumnya tidak menggunakan alas kaki saat bermain padahal banyak unggas berkeliaran disekitar tempat tinggal mereka. Sementara sanitasi lingkungan di Desa Air Batu secara umum kurang memenuhi syarat kesehatan. Keadaan seperti ini tentunya menjadi faktor risiko khususnya di daerah yang sudah terinfeksi Flu Burung pada unggas.

Untuk menghindari Flu Burung, masyarakat diminta tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak. Masyarakat harus membiasakan hidup bersih dan sehat agar terhindar dari virus Flu Burung, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Jangan sentuh ayam, bebek, dan unggas lain, apalagi yang sakit atau mati,
  2. Cuci pakai sabun, tangan dan peralatan masak anda,
  3. Pisahkan unggas dari manusia,
  4. Periksakan ke Puskesmas jika ada gejala flu & demam setelah berdekatan dengan unggas,
  5. Gunakan sarung tangan, penutup mulut dan hidung saat memegang unggas,
  6. Jangan memakan unggas yang sakit atau mati,
  7. Sembelih, bakar, kubur unggas yang sakit atau mati,
  8. Jangan biarkan anak-anak bermain dengan unggas.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

KLB Diare-Kolera Di Papua : Korban Meninggal 105 Orang Sejak April 2008

Jakarta, 09 Aug 2008

Pemerintah Serius Tangani Diare-Kolera Di Papua


Pemerintah serius tangani kejadian luar biasa (KLB) Diare-Kolera di Papua. Tim penanggulangan KLB telah diturunkan untuk melakukan investigasi epidemiologi dan surveilans, memberikan pelayanan kesehatan di Puskesmas, mengambil sampel untuk pemeriksaan laboratorium, mengirimkan logostik, serta melakukan penyuluhan kepada masyarakat.

Secara kumulatif korban meninggal akibat Diare-Kolera sejak April – awal Agustus 2008 berjumlah 105 orang. Sebelumnya korban meninggal dilaporkan sebanyak 94 orang. Tambahan 11 kasus hari ini (10 kasus lama tetapi terlambat dilaporkan dan 1 kasus baru) merupakan update terbaru tanggal 9 Agustus 2008 yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP &PL) Depkes.

Sejak April hingga Juli 2008 telah terjadi KLB Diare-Kolera di 2 kabupaten, yaitu di Kab. Nabire Distrik Kammu dan Distrik Kammu Utara serta di Kab. Paniai Distrik Obano dan Distrik Yatamo, Provinsi Papua.

KLB Diare-Kolera di Kabupaten Nabire mengakibatkan 666 sakit, 97 orang diantaranya meninggal dunia. Korban meninggal paling banyak di Distrik Kammu, yaitu mencapai 66 orang. Sampai tanggal 28 Juli 2008, KLB masih berlangsung, terutama menyerang Desa Igebutu dan Desa Boobutu di Distrik Kammu.

Sementara di Kabupaten Paniai berjumlah 52 kasus, 8 orang diantaranya meninggal. Kasus terbanyak ditemukan di Distrik Obano, yaitu mencapai 46 kasus. Kasus terakhir ditemukan tanggal 13 Juli 2008 dan tidak ditemukan lagi kasus baru hingga kini.

Pengambilan sampel usap dubur (rectal swab) yang dilakukan baik dari penderita maupun keluarga yang kontak dengan penderita, menunjukkan positif terinfeksi vibrio cholera tipe Ogawa.

Tingginya angka kematian ini disebabkan keterlambatan saat berobat karena masyarakat beranggapan jika masih bisa beraktifitas maka dianggap belum sakit. Selain itu juga terlambat mencapai sarana kesehatan karena jauhnya jarak tempuh dan hanya dapat dicapai dengan jalan kaki selama 4 jam. Penyebab lain adalah terlambat penangaan karena Puskesmas Pembantu dan bidan desa tidak dapat melakukan infus.

Sementara itu, berdasarkan hasil pengamatan, Tim Penanggulangan KLB juga mengidentifikasi faktor risiko di masyarakat setempat yaitu masih rendahnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Kebisaaan minum air mentah, tidak biasa mencuci tangan sebelum makan, jarang mandi dan berganti pakaian, biasa buang air besar di kebun, serta memiliki kebiasaan mencium penderita yang meninggal.

Untuk memantau situasi Dinkes Kab. Nabire, Dinkes Propinsi Papua dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes masih melakaukan pemantauan dan pengamatan. Upaya lain yang dilakukan adalah memberikan pelayanan kesehatan, melakukan pengobatan massal yang berpusat di Desa Ekamadina, menempatkan tenaga dokter di Desa Bomomani dan Modio. Selain itu tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga mengupayakan pembatasan sementara waktu bagi warga setempat yang akan mengunjungi Nabire terutama ke Distrik Monemani.

Sumber : Depkes OL


Thursday, August 7, 2008

Suspect Flu Burung : 11 warga Kecamatan Airbatu, Kabupaten Asahan Sumatera Utara

MEDAN - Sebelas warga Kec.Airbatu, Kab. Asahan diduga suspect flu burung. Dua di antaranya dirujuk ke RSUP H Adam Malik Medan. Sedangkan 9 warga lainnya masih menjalani observasi di RSU H Abdul Manan S Kisaran di Asahan.

Kepala Humas RSUP H Adam Malik Medan, Sinar Ginting SE kepada wartawan membenarkan hal tersebut.

‘'Dua bocah laki-laki dan perempuan yakni Muhammad Sani Mufli berusia 8 bulan dan Fadilah Hanum berusia 7 tahun asal Dusun 4, Desa Airbatu,39, Pondok Damuli Afdeling,5, Kec. Airbatu, Kab. Asahan tiba di RSUP H Adam Malik Rabu (6/8) pukul 02.00 dinihari,'' ujarnya.

Ginting mengatakan kedua pasien tersebut telah ditangani dan diperiksa secara intensif di gedung khusus Flu Burung RSUP H Adam Malik Medan. ‘'Tiba di rumah sakit ini kedua pasien tersebut panasnya sangat tinggi mencapai 30-40 derajat celcius, namun secara berangsur suhu badan mulai menurun,'' tuturnya.

Pasien, menurutnya telah diberi Tamiflu pada pertolongan awal dan dilakukan uji sample pada tenggorokan, hidung dan darah. ‘'Sampel langsung kita kirim ke laboratorium Puslitbang Kes di Jakarta. Hasilnya secepatnya diketahui, positif flu burung atau negatif,'' kata Ginting.

Sementara dari RSU Kisaran dilaporkan,9 warga yang masih menjalani observasi dan opname yakni Darsiyem,32, Misniah,35, Ujang,38, Sudira,39, Indah Purnama Sari,6, Rindi,8, Dwi Yanti,5, Rama Agus Setiana,2, dan Retno Ayu Pratiwi. ''Kondisi pasien kini sudah membaik dengan suhu badan mulai normal dan beberapa sudah dibenarkan kembali pulang,'' sebut Direktur RSU Kisaran, dr H Bambang Wahyudi kepada Waspada, Kamis (7/8).

Demam tinggi
Bertepatan dengan masuknya 11 warga ke RSU Kisaran karena diduga flu burung,3 warga di desa yang sama dikabarkan meninggal dunia yakni Misnan,45, Rizki Gunawan,5, dan Igo,6. Belum diketahui ketiga warga terserang penyakit flu burung atau tidak. Namun ketiga korban meninggal dengan gejala demam panas, sesak nafas dan lambung bengkak

Darsiem salah seorang pasien mengatakan anaknya Rizki Gunawan,5, meninggal dunia Jumat (1/8) dengan gejalah demam selanjutnya disusul Igo,6, anak tetangganya satu desa.

Sebelumnya yang meninggal lebih awal yakni Misnan,45. Apakah kejadian ini ada hubungannya dengan matinya ternak peliharaan warga di sana, tidak diketahui pasti.

‘'Setahu kita ternak peliharaan warga yang mati mendadak lokasinya agak jauh dari tempat tinggal kami dan tidak berjumlah besar,'' ujarnya Darsiem yang masih diinfus di ruang 10 RSU Kisaran.

Hal senada dikatakan Selamat Riyadi yang mendampingi anaknya Muhammad Sani Mufli berusia 8 bulan yang dirawat di RSUP H Adam Malik Medan. ‘'Semua warga yang dirawat ini merupakan satu kampung. Waktu itu banyak ternak ayam yang mati mendadak di desa kami,'' tuturnya.

[win/h03/a11/a10]

Sumber : Waspada OL

Sunday, August 3, 2008

Flu burung : Angka Kematian Mencapai 81 Persen

Minggu, 3 Agustus 2008 | 01:10 WIB

Hingga Juli 2008, case fatality rate atau angka kematian akibat penyakit flu burung atau avian influenza di Indonesia meningkat menjadi 81 persen. Dari angka kumulatif kasus flu burung yang mencapai 116 orang, sebanyak 94 orang di antaranya meninggal dunia.

Demikian diutarakan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam ”Workshop Pembangunan Desa Siaga di Sumsel”, Sabtu (2/8) di Universitas Muhammadiyah Palembang. Sebagai upaya untuk menekan kasus flu burung di Indonesia, pemerintah menerapkan sistem desa siaga di seluruh wilayah Nusantara.

Fadilah menunjuk sejumlah kasus flu burung yang menonjol, yakni di Provinsi DKI dengan 27 kasus dan 24 orang di antaranya meninggal dunia. Di Provinsi Banten ada 20 kasus dan 17 orang di antaranya meninggal dunia.

Siti mengingatkan bahwa pendirian desa siaga bukan hanya bertujuan untuk penanggulangan flu burung saja, tetapi juga untuk penyakit menular dan tak menular lainnya yang tergolong serius seperti chikungunya, gizi buruk, filariasis, polio, TBC, malaria, dan HIV/AIDS.

Untuk menekan kasus flu burung, pemerintah mengalami kendala internal dan eksternal. Mengenai kendala eksternal, Fadilah menuding dan menggugat peran sejumlah organisasi kesehatan internasional yang saat ini justru kontraproduktif dalam hal penuntasan kasus flu burung.

”Jelas-jelas ada sejumlah organisasi kesehatan internasional yang menjadikan kesehatan sebagai alat untuk berdagang atas nama teknologi. Inilah sulitnya memberantas flu burung,” katanya.

Secara internal, Fadilah akan menekankan fungsi pencegahan penyakit menular dan nonmenular melalui pendirian desa siaga tersebut.

Dengan adanya desa siaga tersebut, ada kader kesehatan yang selalu siaga untuk memberi penyadaran tentang pentingnya bidang kesehatan, mulai dari perilaku sampai jangkauan layanan kesehatan. (ONI)

Sumber : Kompas

Saturday, August 2, 2008

Permasalahan Kesehatan Akibat KLB Diare di Papua

Jakarta, 01 Aug 2008

Pada periode bulan April hingga Juli 2008 terjadi KLB Diare di 2 kabupaten, yaitu di Lembah Kammu Kab. Nabire Distrik Kammu dan Distrik Ikrar serta di Kab. Paniai Distrik Obano. Tipe KLB adalah diduga propagated source yang ditularkan melalui feco-oral, yaitu budaya duka di daerah pegunungan tengah, yaitu memeluk dan mencium orang yang meninggal, termasuk korban yang meninggal akibat diare. Berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan rectal swab menunjukkan positif Vibrio Cholera.

Demikian informasi yang diperoleh dari Dinkes Prov. Papua sampai dengan tanggal 29 Juli 2008 pukul 20.00 WIB.

Selama periode Bulan April hingga Juli 2008, KLB tersebut menyebabkan korban meninggal dunia sebanyak 87 orang dengan rincian :

1. Sebanyak 81 orang meninggal dari 552 kasus di Lembah Kammu Kab. Nabire Distrik Kammu dan Distrik Ikrar.

2. Sementara di Kabupaten Paniai Distrik Obano dan sekitarnya 6 orang meninggal dari 23 kasus .

Beberapa upaya yang telah dilakukan :

  • Melakukan inverstigasi epidemiologi dan surveilans ketat untuk memastikan jumlah kasus dan kematian hingga KLB benar-benar selesai.
  • Memberikan pelayan kesehatan di Puskesmas
  • Melakukan pengambilan sampel dari penderita untuk kepentingan pemeriksaan laboraturium.
  • Melakukan kegiatan pengobatan massal yang dipusatkan di Desa Ekamadina.
  • Menempatkan tenaga dokter di Desa Bomomani dan Modio
  • Melakukan koordinasi dengan para kepala distrik, kepolisisan , dan LSM yang turut membantu penanganan KLB tersebut.
  • Melakukan kordinasi dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat untuk mengupayakan pembatasan sementara waktu bagi warga setempat yang akan mengunjungi wilayah Nabire terutama ke Distrik Moanemani.
  • Melakukan penyuluhan kepada seluruh masyarakat.

Permasalahan kesehatan saat ini dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Pemantauan dilakukan oleh Dinkes Kabupaten Nabire, Dinkes Prov. Papua dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes.

Sumber : Depkes OL


Thursday, July 31, 2008

TUGAS POKOK DAN FUNGSI KANTOR KESEHATAN PELABUHAN

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.

Dalam melaksanakan tugas dimaksud, KKP menyelenggarakan fungsi :

  1. Pelaksanaan kekarantinaan;
  2. Pelaksanaan pelayanan kesehatan;
  3. Pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
  4. Pelaksanaan pengamatan penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit baru, dan penyakit yang muncul kembali;
  5. Pelaksanaan pengamanan radiasi pengion dan non pengion, biologi, dan kimia;
  6. Pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveilans epidemiologi sesuai penyakit yang berkaitan dengan lalu lintas nasional, regional, dan internasional;
  7. Pelaksanaan, fasilitasi dan advokasi kesiapsiagaan dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana bidang kesehatan, serta kesehatan matra termasuk penyelenggaraan kesehatan haji dan perpindahan penduduk;
  8. Pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesehatan kerja di lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
  9. Pelaksanaan pemberian sertifikat kesehatan obat, makanan, kosmetika dan alat kesehatan serta bahan adiktif (OMKABA) ekspor dan mengawasi persyaratan dokumen kesehatan OMKABA impor;
  10. Pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan muatannya;
  11. Pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
  12. Pelaksanaan jejaring informasi dan teknologi bidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
  13. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kesehatan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
  14. Pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian risiko lingkungan, dan surveilans kesehatan pelabuhan;
  15. Pelaksanaan pelatihan teknis

Sebelumnya, Fungsi KKP sesuai Kepmenkes 265 tahun 2004

PERMENKES RI NO. 356/MENKES/PER/IV/2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR KESEHATAN PELABUHAN

Dengan semakin meningkatnya aktifitas di bandara, pelabuhan dan lintas batas darat negara berkaitan dengan transmisi penyakit potensial wabah serta penyakit lainnya yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan yang meresahkan dunia, sudah selayaknya dilakukan penataan kembali organisasi dan tata kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).


Pada 14 Apri 2008 yang lalu Menteri Kesehatan telah menanda tangani PERMENKES RI NO. 356/MENKES/PER/IV/2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR KESEHATAN PELABUHAN.

KKP mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.

Perbedaan beban kerja pada Kantor Kesehatan Pelabuhan ditindaklanjuti dengan penetapan kriteria klasifikasi Kantor Kesehatan Pelabuhan. Dengan demikian sejak berlakunya Peraturan ini, maka di lingkungan Departemen Kesehatan terdapat 7 (tujuh) KKP Kelas I, 21 (dua puluh satu) KKP Kelas II, dan 20 (dua puluh) KKP Kelas III.


PERMENKES RI NO. 356/MENKES/PER/IV/2008


Bagan Struktur Organisasi KKP

KANTOR KESEHATAN PELABUHAN Kelas I
KANTOR KESEHATAN PELABUHAN Kelas II
KANTOR KESEHATAN PELABUHAN Kelas III


Tuesday, July 29, 2008

AIDS Kategori Bencana

Di Afrika, Harapan Hidup Tinggal 50 Persen

Selasa, 29 Juli 2008 | 01:25 WIB

Jakarta, Kompas - Situasi epidemi HIV/AIDS di seluruh dunia kian mengkhawatirkan. Hal ini ditandai pesatnya laju peningkatan kasus HIV, terbatasnya akses layanan kesehatan, dan adanya stigma bagi mereka yang terinfeksi. Karena itu, Laporan Bencana Dunia Tahun 2008 menyebutkan, HIV/AIDS sebagai bencana jangka panjang.

”Ini menunjukkan betapa seriusnya problem HIV/AIDS di berbagai negara di dunia, tidak terkecuali di Indonesia,” kata Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia (MPAI) Prof Zubairi Djoerban, Senin (28/7) di Jakarta.

”Dari perkiraan para ahli, jumlah pasien terinfeksi HIV lebih dari 193.000 orang. Namun, yang datang berobat baru sekitar 30.000 orang. Ini berarti ada sekitar 160.000 orang dengan HIV yang belum mendapat pengobatan karena belum tahu statusnya atau sulit mengakses layanan kesehatan. Padahal, obat antiretroviral (ARV) bisa diperoleh secara gratis,” kata Zubairi.

Laporan Bencana Dunia Tahun 2008 dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) baru-baru ini menyebutkan, HIV/AIDS sudah merupakan bencana jangka panjang pada banyak tingkatan dan kompleks.

Jika HIV/AIDS sebagai bencana, pemerintah negara dengan angka kasus HIV tinggi bisa memproduksi sendiri obat ARV tanpa terikat hukum internasional hak paten obat. Penerapan tes HIV atas inisiatif penyedia layanan kesehatan tanpa perlu konseling, perlu dipertimbangkan agar pasien bisa dideteksi sejak dini.

Harapan hidup

Negara-negara di kawasan sub-Sahara Afrika paling parah terkena dampak epidemi HIV/ AIDS. Prevalensi 20 persen dan angka harapan hidup penduduk tinggal setengahnya.

Di kalangan kelompok-kelompok marjinal, seperti pengguna narkoba lewat jarum suntik, pekerja seks, dan pria yang berhubungan sesama jenis, laju peningkatan HIV kian pesat. Golongan ini kerap menerima stigma, kasus kriminal, dan hanya mempunyai sedikit akses layanan pencegahan dan pengobatan.

”Untuk pertama kalinya, Laporan Bencana Dunia tahun ini terfokus pada isu HIV/AIDS dengan alasan bagus,” kata Sekretaris Jenderal Federasi Internasional Markku Niskala dalam sambutannya pada laporan di akhir masa tugasnya, Juni lalu.

Masyarakat internasional harus bangkit menghadapi tantangan HIV melalui kerja sama berbagai organisasi kemanusiaan dengan pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan skala dan jangkauan program pencegahan HIV, termasuk pengobatan dan perawatan penderita. Masalah HIV juga harus mendapat prioritas lebih tinggi dalam program penanganan bencana.

Mengutip data Badan PBB Penanganan HIV/AIDS (UNAIDS), hampir 7.000 orang terjangkit HIV setiap hari. Bila tidak ada perubahan besar dalam penanggulangannya, AIDS diperkirakan akan menulari jutaan manusia. Sejak 1981, lebih dari 25 juta orang meninggal akibat AIDS, sementara 33 juta lainnya hidup dengan HIV. (EVY)

Sumber : Kompas OL


Friday, July 25, 2008

Ucapan Selamat Atas Pelantikan

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan beserta Seluruh Staf Mengucapkan Selamat atas Pelantikan :

  1. Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan, Dr. H. Syahril Aritonang, MHA
  2. Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya, Dr. H. Azimal, M.Kes
  3. Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Jakarta, Dr. Firdaus Yusuf Rusdhy, MPH
  4. Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Denpasar, Dr. Nyoman Murtiyasa, M.Kes
  5. Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Batam, Dr. Femmy Bawole Kawangun, MM
  6. Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Makassar, Dr. H. Taufik Tjahjadi, Sp.S
  7. Kepala BBTKL & PPM Surabaya, Bambang Wahyudi SKM., MM

Semoga Sukses Selalu dalam mengemban Tugas sehari-hari.

Pelantikan Pejabat Eselon II Departemen Kesehatan


Medan, 25 Jul 2008

Menteri Kesehatan, DR. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) melantik sejumlah pejabat eselon II di lingkungan Departemen Kesehatan pada Kamis, 24 Juli 2008. Sebanyak 49 pejabat eselon II yang dilantik, diantaranya Pejabat Lingkungan Depkes yang bekerja di Provinsi Sumatera Utara.

  1. Dr. H. Syahril Aritonang, MHA sebagai Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan
  2. Dr. Djamaluddin Sambas sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
  3. Dr. Azwan Hakmi Lubis, Sp.A., M.Kes sebagai Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
  4. Dr. M. Nur Rasyid Lubis, Sp.B sebagai Direktur SDM dan Pendidikan Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
  5. Drs. Bastian, MM sebagai Direktur Keuangan Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
  6. Drg. Tinon Resphati, M.Kes sebagai Dirtektur Umum dan Operasional Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan

Sementara, Mantan Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan Drg. Arman P. Daulay, M.Kes dilantik sebagai Direktur Bina Pelayanan Penunjang Medik pada Direktorat Bina Pelayanan Medik Depkes RI di Jakarta.

Berikut ini Link informasi selengkapnya mengenai 49 pejabat yang dilantik


16 anak di Sumatera Utara terjangkit HIV/AIDS

MEDAN - Sebanyak 16 anak berusia 0-9 tahun di Sumatera Utara (Sumut) dinyatakan telah terjangkit HIV/AIDS. Namun, jumlah tersebut diperkirakan jauh lebih kecil dari fakta yang sesungguhnya. "Anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS tersebut berasal dari Medan, Deli Serdang, Karo dan Langkat," kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Candra Syafei SpOG kepada wartawan, Kamis (24/7), di Medan.

Menurut Candra, kasus ke 16 anak yang terjangkit HIV/AIDS tersebut berdasarkan laporan dari rumah sakit rujukan, dalam hal ini RSUP H Adam Malik periode 2005 - tahun 2008.

"Anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS tersebut terdiri dari usia 0-1 tahun 3 HIV dan 1 AIDS, usia 1-4 tahun 5 HIV dan 2 AIDS serta usia 5-9 tahun 5 HIV," katanya.

Jumlah yang dilaporkan tersebut hanya sebagian kecil dari estimasi kasus HIV/AIDS di Sumatera Utara. "Saat ini, diperkirakan ada sekitar 11.000 pengidap HIV/AIDS di Sumut termasuk kelompok anak-anak. Namun yang terdata hanya sekitar 1.238 orang," ujar Candra.

30% ketularan dari ibu hamil

Ibu hamil yang mengidap HIV positif bisa menularkan virusnya 15-30 persen kepada anak lewat persalinan normal. Untuk mengurangi tingkat penularan itu, Dinkes Sumut memiliki program Prevention Mother to Child Transmission (PMTCT).

Menurut Andi, Manager Program Global Fund di Medan, ada empat sasaran dari program ini, yakni mencegah penularan HIV kepada perempuan usia reproduksi, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif, mencegah penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya serta memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan lanjutan bagi ibu dan bayi serta keluarganya. Lebih lanjut dijelaskan, bagi seorang ibu hamil yang diketahui mengidap HIV positif akan terus dipantau perkembangannya melalui program PMTCT.

Di saat usia kehamilan lebih tujuh bulan, ibu diberikan profilaksis (pencegahan) anti retroviral (ARV). Tujuannya, untuk menekan virus yang ada di tubuh ibu. Sehingga, saat persalinan virus tersebut berkurang.

Selain itu, proses persalinannya tidak dilakukan secara normal melainkan dengan operasi caesar. "Sehingga, bayi semakin kecil persentase kemungkinan tertular virus dari ibunya," kata Andi.

Setelah lahir lanjutnya, masih dalam program PMTCT, maka bayi diberikan bantuan pengganti air susu ibu (PASI). Karena, walaupun tidak virus tidak menular melalui ASI, tapi dikhawatirkan saat bayi tumbuh gigi akan melukai puting susu ibunya.Sehingga, proses penularan lewat cairan darah dari ibu bisa terjadi.

Sedangkan untuk menunjang kesehatan ibu bayi, diberikan bantuan perbaikan gizi serta susu dan suplemen. "Disini, kita harapkan bantuan sumber dana dari pihak yang peduli untuk membantu khususnya bagi orang dalam HIV-AIDS (Odha)," ujarnya.

Setelah itu, proses tumbuh kembang bayi pun dipantau pertumbuhannya hingga usia minimal 18 bulan untuk pemeriksaan darah. "Saat itu akan ketahuan apakah bayi tersebut HIV positif atau tidak. Kalau positif, akan kita masukkan dalam program pendampingan," ungkapnya.

Dalam program pendampingan, para pasien HIV-AIDS positif akan dibantu berbagai layanan hukum, sosial dan psikologisnya. "Kita hanya berusaha membantu bukan menyelesaikan masalah mereka," jelas Andi.

Sejauh ini tambahnya, program PMTCT belum ada data pasti bayi yang tertular HIV positif dari ibunya. Karena, 12 orang bayi yang sudah lahir maupun masih dalam kandungan ibunya yang HIV positif masih belum diketahui tertular atau tidak.

"Karena, program PMTCT ini sendiri baru aktif akhir 2007. Jadi, belum ada bayi yang masuk dalam program ini," ungkapnya.

Begitupun, dari 12 ibu hamil yang mengidap HIV positif yang ditemukan di Sumut itu, sebagian di antaranya tidak mengikuti program PMTCT. "Mereka diketahui positif HIV, setelah ada persoalan saat kehamilannya. Ketika diperiksa ternyata positif HIV. Tapi, sebagian besar lagi sudah diketahui lewat program VCT yang sudah ada," ucap Andi.

Ditanya tentang prevalansi bayi tertular HIV di Sumut, Andi sendiri mengaku masih belum memiliki data resmi. Namun, lewat survei secara nasional paling tidak ada 5000 kelahiran pada 2010 nanti sudah tertular HIV.
(j01/ini/mt)

Sumber : WASPADA ONLINE

Saturday, July 19, 2008

Case of Marburg Haemorrhagic Fever imported in to the Netherlands from Uganda

July 2008

WHO has been notified by the Government of the Netherlands of a case of Marburg haemorrhagic fever (MHF) in a Dutch tourist who visited Uganda. Marburg virus infection has been demonstrated by laboratory tests performed by the Bernhard Nocht Institute in Hamburg, Germany.

The 40-year-old woman travelled in Uganda from 5-28 June, 2008, and entered caves on two occasions. The first cave was visited on 16 June at Fort Portal. No bats were seen in this cave. She was reportedly exposed to fruit bats during a visit to the “python cave” in the Maramagambo Forest between Queen Elisabeth Park and Kabale on 19 June. This cave is thought to harbour bat species that have been found to carry filoviruses in other locations in sub-Saharan Africa. Filoviruses cause two types of viral haemorrhagic fever: Marburg and Ebola. A large bat population was seen in the cave and the woman is reported to have had direct contact with one bat.

The woman returned to the Netherlands on 28 June in good health. The first symptoms (fever, chills) occurred on 2 July and she was admitted to hospital on 5 July. Rapid clinical deterioration with liver failure and severe haemorrhaging occurred on 7 July. The patient remains in a critical clinical condition.

Contact tracing and temperature monitoring have been initiated for unprotected contacts with a history of possible exposure to the case after 2 July. Although further epidemiological investigation is needed to exclude other possible sites of exposure to MHF virus, as a precaution Dutch authorities have alerted the tour operator to avoid visits to the caves until further information is available.

No citizens of other countries were involved in this trip except for a local tour guide, but the cave in the Maramagambo Forrest is known to be a tourist attraction. No measures were taken with respect to the passengers on the flight from Uganda as the flight occurred four days before the onset of symptoms in the patient.

WHO has informed the Ministry of Health Uganda which will take appropriate steps nationally to investigate these events, and WHO has recommended that the MoH advise all residents and travellers to avoid entering caves with bat populations.

For more information

Friday, July 11, 2008

Tewas karena 'Virus Kelelawar'

Leiden - Hati-hati bertamasya ke gua yang banyak kelelawarnya. Seorang turis Belanda tewas setelah terinfeksi virus Marburg, yang bersumber pada kelelawar.

Astrid Joosten nama turis itu, 40 tahun, dari Milheeze, pemkot Gemert-Bakel, provinsi Noord-Brabant (dekat Belgia, red), meninggal pada Jumat (11/7/2008) setelah 5 hari ditangani Rumah Sakit Akademik Leiden (LUMC), koran regional Eindhovens Dagblad memberitakan.

Joosten tertular virus Marburg saat melancong bersama rombongan ke dalam gua Python Cave, Uganda, yang terkenal banyak populasi kelelawarnya. Karyawan Philips Eindhoven bagian IT itu tidak digigit, tapi terkena cairan dari tubuh kelelawar saat mereka berhamburan terbang di atas para pelancong.

Virus Marburg segera menyebabkan demam tinggi, kadang disertai pendarahan, mirip dengan virus Ebola. "Peluang kematian antara 50% sampai 80%," ujar Roel Coutinho dari Institut Negara untuk Kesehatan dan Lingkungan.

Saat ini sekitar 100 orang yang pernah kontak fisik atau mengunjungi Joosten harus menjalani karantina. Tujuannya untuk mencegah penyebaran virus Marburg lebih lanjut dalam masyarakat.


Sumber : Detik.com (es/es)


Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN