SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Saturday, March 21, 2009

Flu Burung Berjangkit Kembali

Sabtu, 21 Maret 2009 | 04:07 WIB

Pekanbaru, Kompas - Setelah sempat mereda pada tahun 2008, kasus flu burung kembali muncul di Provinsi Riau. Kali ini di Desa Dundangan, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Riau, ditemukan sampel ayam yang dinyatakan positif tertular virus flu burung.

"Berdasarkan laporan masyarakat, ada ayam yang mati mendadak bersamaan sebanyak 21 ekor pada tanggal 17 Maret kemarin. Petugas kami langsung ke lapangan dan mengambil sampel dua ekor ayam yang mati. Berdasarkan analisis di laboratorium Pekanbaru, ayam yang mati itu positif tertular virus flu burung," ujar HM Zubir Umar, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan, yang dihubungi hari Jumat (20/3).

Zubir mengatakan, sejak penemuan kasus itu, pihaknya lewat tim Participation Disease Surveilance Respon (tim reaksi cepat untuk merespons laporan masyarakat) yang dipimpin oleh drh Mukhlis langsung memberitahukan masyarakat setempat untuk mengambil tindakan terhadap ayam-ayam di daerah itu. Mulai hari Jumat ini masyarakat sudah bersedia untuk memusnahkan unggas peliharaannya sendiri.

"Di Desa Dundangan, ayam masyarakat tidak dipelihara di kandang. Ayam-ayam bebas berkeliaran di mana saja. Kalau hari telah gelap, ayam-ayam itu tidur di pohon-pohon. Kami agak kesulitan melakukan pemusnahan sendiri tanpa bantuan masyarakat. Kami meminta agar unggas yang berada dalam radius 100 meter dari temuan ayam mati kemarin dapat dimusnahkan. Untungnya masyarakat setempat sadar dengan bahaya penyakit flu burung yang dapat menyebabkan kematian pada manusia," ujar Zubir.

Penemuan virus flu burung di Pelalawan pada kuartal pertama tahun 2009 ini, menurut Zubir, adalah yang pertama. Pada tahun 2008, Pelalawan relatif bersih dari flu burung.

Pada 2007 kasus flu burung ditemukan di Kecamatan Bandar Seikijang dan Pangkalan Kuras. Ketika itu sempat ditemukan demam pada seseorang yang diduga tertular virus flu burung, tetapi ketika dites di rumah sakit hasilnya negatif. (SAH)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/21/04072647/flu.burung.berjangkit.kembali.

Tuesday, March 17, 2009

Petunjuk Teknis Tata Naskah Dinas dan Tata Kearsipan Dinamis Dirjen PP & PL Depkes RI

Bahwa untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pokok Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dalam bidang pengelolaan naskah dinas dan kearsipan diperlukan suatu acuan yang dapat dipergunakan oleh seluruh aparatur di Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Berikut ini adalah Petunjuk Teknis Tata Naskah Dinas dan Tata Kearsipan Dinamis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan.

Download Tata Naskah Dinas

Monday, March 16, 2009

Migrasi Unggas Liar Picu Penyebaran H5N1

Flu Burung Juga Ditemukan di Jerman


 

Jakarta, Kompas - Senin, 16 Maret 2009 | 04:01 WIB

Penularan flu burung pada unggas liar di sejumlah negara di dunia terus merebak. Penyebaran virus itu diduga melalui perpindahan tempat atau migrasi burung-burung liar lintas negara. Untuk itu, surveilans aktif mengenai pola migrasi unggas liar perlu digalakkan.

Pemerintah Jerman baru-baru ini menginformasikan kepada Komisi Uni Eropa (UE) mengenai terjadinya outbreak virus flu burung (H5N1). Ini merupakan kasus pertama penularan flu burung pada unggas di UE tahun ini. Outbreak ini ditemukan pada bebek liar yang berada dekat daerah Starnberg di negara bagian Bavaria, Jerman.

"Kasus penularan flu burung pada unggas liar telah beberapa kali terjadi di Eropa," kata Ketua Panel Ahli Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Prof Amien Soebandrio, Sabtu (14/3) di Jakarta. Migrasi burung liar dari kutub utara ke Eropa diduga memicu penyebaran virus itu ke sejumlah negara di Eropa.

Penanganan baik

Temuan tersebut disebabkan negara-negara di Eropa telah menerapkan surveilans aktif secara berkala pada unggas liar maupun unggas di peternakan. Jadi, surveilans tersebut tidak hanya dilakukan setelah ditemukan kasus unggas positif terinfeksi flu burung. "Dengan penanganan yang baik, sampai kini belum ada laporan penularan flu burung dari unggas ke manusia di Eropa," ujar Amien menambahkan.

Dalam pedoman internasional Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang merupakan hasil kesepakatan para pakar dunia bidang veteriner antara lain diatur pencegahan kontak unggas liar dengan unggas di peternakan.

"Bila unggas liar menulari flu burung ke unggas di peternakan, kemungkinan penularan virus itu ke manusia makin tinggi, baik di peternakan maupun di pasar unggas," ujarnya.

Indonesia saat ini terlibat dalam survei global untuk mempelajari pola-pola migrasi unggas liar. Dengan mengetahui pola migrasi itu, asal virus bisa diketahui bila terjadi penularan flu burung pada unggas dan manusia.

"Galur virus di tiap negara berbeda-beda. Jadi, vaksin yang digunakan akan sesuai dengan strain virus sehingga lebih efektif," kata Amien.

Pemantauan aktif

Temuan bebek liar yang terinfeksi flu burung di Jerman merupakan bagian dari program pemantauan atau surveilans aktif UE terhadap penyebaran flu burung di antara burung-burung liar. Jadi, bukan merupakan penyebaran virus. Pemegang otoritas kesehatan hewan Jerman memperkirakan tidak terjadi peningkatan ancaman dari flu burung seiring temuan kasus itu.

"Ini merupakan temuan individual di antara burung-burung liar yang dihitung secara berkala," kata juru bicara The Friedrich Loeffler Institute, lembaga nasional Pemerintah Jerman yang menangani penyakit pada hewan, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters. Sejauh ini, lembaga itu menilai secara keseluruhan ancaman penularan flu burung dari burung liar masih pada level rendah.

Keterlibatan burung terhadap penyebaran virus tersebut hanya pada level kecil dan itu diketahui setelah diuji oleh The Friedrich Loeffler Institute sebagai bagian dari program pemeriksaan nasional pada 5 Maret lalu. Meski burung liar terinfeksi virus, burung itu tidak menunjukkan gejala sakit sehingga dianggap sebagai pembawa virus.

Infeksi virus itu tidak terlihat secara aktif sehingga hewan-hewan yang terinfeksi tidak menjadi sakit. Temuan kasus bebek liar yang terinfeksi flu burung baru- baru ini itu tidak mengubah penilaian risiko secara keseluruhan.

Zona karantina

Kasus outbreak terakhir flu burung pada unggas di UE dideteksi pada Oktober 2008 di negara bagian Saxony, Jerman bagian timur. Dalam kasus temuan flu burung pada bebek liar di Starnberg tahun ini, otoritas setempat memutuskan tidak menerapkan zona karantina di sekeliling wilayah di mana burung yang terinfeksi flu burung.

Tindakan tersebut disetujui Komisi UE karena Jerman dinilai menerapkan upaya perlindungan untuk memastikan virus itu tidak menyebar. Menurut pejabat UE, berdasarkan hasil penilaian risiko, Jerman terus melakukan surveilans aktif di area terkontrol dan di sekeliling tempat ditemukan kasus positif flu burung. Tindakan ini dilakukan untuk menghitung burung liar yang bermigrasi pada Januari 2009.

Ditemukan di Hongkong

Secara terpisah, otoritas Hongkong menemukan kasus ayam yang mati karena terinfeksi virus flu burung.

Pemerintah Hongkong menyatakan, hasil tes laboratorium telah mengonfirmasikan bahwa ayam yang ditemukan membusuk dan mengambang di laut selama sekitar 10 hari ternyata positif terinfeksi virus mematikan H5N1.

Otoritas Hongkong juga mengumumkan pada 6 Maret 2008 seekor bangkai ayam yang ditemukan di lokasi yang sama juga terinfeksi H5N1.

Padahal, tidak ada peternakan ayam dalam batas 3 kilometer dari lokasi ditemukannya ayam mati itu. Para peternak sudah diperingatkan agar meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap kemungkinan penyebaran virus flu burung tersebut.

Hongkong dilaporkan sebagai tempat pertama kali ditemukannya kasus flu burung di dunia yang menjangkiti manusia pada 1997 ketika enam orang meninggal dunia. Bersamaan dengan itu, sejumlah unggas dari berbagai wilayah di Hongkong setelah dites ternyata positif H5N1.

Pada Desember 2008 Otoritas Hongkong menemukan virus H5N1 pada seekor ayam di sebuah peternakan di Hongkong dan segera memusnahkan lebih dari 90.000 unggas. (EVY/AFP/LOK)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/16/04013374/migrasi.unggas.liar.picu.penyebaran.h5n1

Thursday, March 5, 2009

Meningococcal disease in Nigeria - update

4 March 2009 -- The Ministry of Health of the Federal Republic of Nigeria has reported 5 323 suspected cases of meningococcal disease including 333 deaths (case-fatality rate: 6.3%) from 1 January to 22 February 2009. Suspected cases have been reported from 22 of 37 states. So far 89 Local Government Area's (LGA) across 12 states have crossed the alert or the epidemic threshold. In the last week alone, 1 817 suspected cases including 105 deaths (case-fatality rate: 5.8%) have been reported, with 28 LGAS crossing the epidemic threshold, and 29 the alert threshold.

Cerebrospinal fluid specimens collected from Gombe, Jigawa, Kano and Katsina states have tested positive for Neisseria meningitidis serogroup A by latex test and/or culture. The International Coordinating Group (ICG) on Vaccine Provision for Epidemic Meningitis Control has approved the release of 1,010,000 doses of polysaccharide vaccine for mass vaccination campaigns in affected LGAs of Jigawa and Katsina states. Immunization campaigns will be implemented by Federal and National Ministry of Health with the support of WHO and partners, including the European Commission Humanitarian Aid Department (ECHO), Médecins sans Frontières and UNICEF.

Given the large population at risk, the early start of epidemics, and current moderate global vaccine levels, a sound vaccination strategy is of particular importance. WHO is supporting the Federal and National Ministry of Health in the assessment of vaccine needs. WHO is also providing technical and material support to the Ministry of Health to strengthen epidemiological and laboratory surveillance, including provision of laboratory confirmation supplies.

http://www.who.int/csr/don/2009_03_04/en/index.html

Batam Diincar untuk Pembuangan Limbah

Kamis, 5 Maret 2009 | 05:18 WIB

Batam, Kompas - Wali Kota Batam Ahmad Dahlan mengungkapkan, Batam telah menjadi salah satu tempat incaran untuk pembuangan limbah. Oleh karena itu, ia meminta investor dan pejabat pemerintah daerah di Batam tidak ikut mendukung upaya pembuangan limbah, khususnya limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3.

"Banyak individu atau pengusaha yang mengincar Batam untuk membuang limbah," kata Ahmad Dahlan di sela-sela Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kota Batam di Batam, Rabu (4/3).

Menurut Dahlan, tahun 2004 limbah B3 yang diimpor PT Apel dalam jumlah yang besar juga pernah masuk ke Batam. "Kita mempunyai pengalaman buruk pada waktu PT Apel memasukkan limbah," katanya.

Seperti diberitakan, majelis hakim Pengadilan Negeri Batam menjatuhkan hukuman enam bulan penjara kepada Rudi Alfonso, Direktur PT Asia Pasific Eco Lestari, terdakwa perkara impor 1.149 ton limbah bahan berbahaya dan beracun dari Singapura (Kompas, 9/6/2006).

Menurut Ahmad Dahlan, peluang memasukkan limbah ke wilayah Pemerintah Kota Batam sangat besar mengingat di Batam terdapat pulau-pulau kecil.

"Limbah dimasukkan sesuai prosedur. Namun, prosedurnya bisa legal dan bisa juga tidak legal," katanya.

Ahmad Dahlan menegaskan, pihaknya juga akan memeriksa staf Kantor Bapedal Kota Batam, Muhammad Raden, yang diundang PT Jace Octavia Mandiri (PT JOM) ke Korea Selatan untuk mengimpor pasir besi (ferro sand) sebanyak 3.800 ton ke Batam. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, pasir besi itu dinyatakan sebagai limbah B3.

"Saya akan mengecek lagi apakah betul staf Bapedal ikut ke Korea atau tidak," kata Ahmad Dahlan. Jika betul, Ahmad Dahlan mempertanyakan apakah kepergian itu atas tugas atau perintah atasan atau tidak.

"Kedua, apakah staf itu memiliki kewenangan untuk memastikan limbah atau tidak," katanya.

Kepala Bapedal Kota Batam Dendi Purnomo mengungkapkan, tim penyidik dari Kantor Menneg Lingkungan Hidup telah meminta penetapan Pengadilan Negeri Batam untuk menyita pasir besi yang diduga limbah B3 dan diimpor PT JOM. (FER)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/05/05183663/batam.diincar.untuk.pembuangan.limbah


 

Tuesday, March 3, 2009

4 Indonesians die from bird flu, death toll climbs 119

Tuesday, 03 March 2009 09:25

Four Indonesians died from bird flu in February, bringing the country's total death toll from the disease to 119, officials said

Four Indonesians died from bird flu in February, bringing the country's total death toll from the disease to 119, officials at the national bird flu commission said on Tuesday.

"There were four cases and all four died in February," said Bayu Krisnamurthi, head of the national bird flu commission.

Indonesian newspaper Republika also reported on Tuesday that two more deaths from the disease occurred at the weekend near the capital Jakarta -- a 5-year-old girl from Depok, and an 8-year-old boy from Bekasi.

The national commission said that samples were being tested in Jakarta to verify the cause of death in both cases.

Indonesia, which has stopped publishing updates of bird flu deaths immediately after they occur, has the highest toll from the disease of any nation.

Experts fear that the virus might mutate into a form easily passed from human to human, sparking a pandemic which could kill millions.

Source : Reuters

Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/(H5N1) Reported to WHO

Wednesday, February 25, 2009

Mengintip Peluang Asas Cabotage

By Jagad Ananda

INILAH.COM, Jakarta - Mulai 1 Januari 2010, pengangkutan batubara dan migas di dalam negeri hanya diperkenankan memakai kapal berbendera Indonesia. Ini merupakan peluang bagi maskapai dalam negeri.

Soalnya, armada yang dibutuhkan untuk menggantikan peran kapal-kapal asing selama ini, cukup banyak. Untuk mengangkut minyak dan gas saja misalnya, saat ini, Pertamina masih memakai 56 kapal asing sewaan.

Untuk membeli kapal pengganti sebanyak itu, jelas, bukan perkara mudah dan murah,. Jika sebuah kapal tanker berusia 10 tahun harganya sekitar US$ 40 juta saja, berarti dibutuhkan dana sebesar US$ 2,240 miliar.

Itu sebabnya, untuk mendukung pengadaan kapal pengangkut yang memadai, manajemen Pertamina pimpinan Galaila Karen Kardinah berjanji akan memberikan kontrak pengangkujtan jangka panjang.

Jika selama ini, Pertamina menyewa kapal dengan periode tiga bulanan, kelak akan diperpanjang menjadi lima tahun. Tujuannya, dengan adanya jaminan kontrak, perusahaan pelayaran nasional bisa lebih mudah memperoleh dana pembiayaan dari perbankan.

Kalau Pertamina sudah punya rencana pengadaan armada yang jelas, entah apa yang akan dilakukan perusahaan pertambangan batubara. Sebab, kebutuhan sarana angkutan di industri ini juga sangat besar dan sebagian masih memakai kapal-kapal berbendera asing.

Menurut perhitungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, hingga 2010 Indonesia sedikitnya membutuhkan 390 kapal baru/bekas untuk mengangkut batubara di dalam negeri.

Maklum, produksi hasil tambang ini, setiap tahunnya terus meningkat dengan signifikan. Jika di 2009 ini produksi batubara diprediksi mencapai 75 juta ton, maka tahun depan diperkirakan bakal mencapai 90 juta ton. [E1]

Sumber : http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2009/02/25/86441/mengintip-peluang-asas-cabotage/

Tuesday, February 24, 2009

Outbreak Update

Most recent news items

20 February 2009
Cholera in Zimbabwe - update 2

19 February 2009
Meningococcal disease in Nigeria

18 February 2009
Avian influenza – situation in Viet Nam - update 2

17 February 2009
End of Ebola outbreak in the Democratic Republic of the Congo

Saturday, February 21, 2009

Susahnya Menjinakkan Anjing Gila

Penularan penyakit rabies atau penyakit anjing gila kian merebak. Bali yang selama puluhan tahun bebas rabies tak luput dari serangan virus mematikan ini.

Pemerintah Kabupaten Badung telah memvaksin 20.000 anjing peliharaan dan mengeliminasi sedikitnya 1.300 anjing liar di seluruh Badung. Vaksinasi tahap kedua akan digelar mulai awal Maret mendatang.

Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Badung I Made Badra,di Denpasar, Jumat (20/2), mengungkapkan, aparat bersama masyarakat terus menyisir desa di kawasan Badung, terutama di Kecamatan Kuta Selatan dan Kuta, memastikan jumlah anjing liar mendekati nol.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengakui, Indonesia belum berhasil mengeradikasi penyakit yang sumber penularannya dari binatang (zoonosis) itu.

Dalam lima tahun terakhir, rata-rata jumlah penduduk yang digigit anjing lebih dari 15.000 orang di 24 provinsi di Tanah Air. Jumlah penderita rabies ratusan orang per tahun dan sebagian besar meninggal dunia.

Tahun 2008, jumlah kasus gigitan anjing 14.106 orang, 9.565 orang mendapat vaksin serta obat-obatan, penderita rabies 85 orang. "Di Bali, lebih dari 1.700 kasus orang digigit anjing beberapa bulan ini," kata Tjandra.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor I Wayan T Wibawan memaparkan, meluasnya rabies ini disebabkan tidak terkendalinya populasi anjing liar.

"Ini terjadi karena lemahnya sistem deteksi dini dan evaluasi periodik," kata Wibawan. Di Indonesia mayoritas kasus rabies ditularkan oleh anjing. Rabies juga dapat ditularkan kucing, kelelawar, musang, dan kera.

"Survei serologi untuk mengetahui antibodi pada hewan yang menjadi sumber penularan seharusnya dilakukan periodik. Sayang ini tidak dilakukan karena belum prioritas pemerintah," ujarnya.

Pengamat masalah kesehatan hewan, Mangku Sitepu, menilai ada beberapa faktor yang mendorong meluasnya penyebaran rabies di Indonesia. Salah satunya adalah lemahnya pengendalian sumber penularan.

Di Bali, misalnya, penyebaran rabies terjadi karena masuknya anjing-anjing ras ke sana. Mobilitas penduduk ikut mendorong penyebaran rabies misalnya kedatangan nelayan dari Nusa Tenggara Timur yang endemik rabies ke Bali dengan membawa anjing.

Menurut Mangku, belakangan ini Bali makin terbuka terhadap migrasi anjing-anjing dari berbagai tempat. "Dulu anjing- anjing ras tidak boleh masuk. Sekarang penyelundupan anjing ras banyak," katanya.

Ia mengatakan, seharusnya semua anjing di daerah endemik divaksinasi antirabies. Anjing yang habis menggigit orang harus segera dibawa ke dokter hewan, diperiksa apakah terjangkit rabies atau tidak. Petugas perlu memantau anjing itu karena hewan yang rabies biasanya sakit dan mati dalam dua pekan setelah terinfeksi.

Sulit diobati

Pada manusia, rabies mengancam keselamatan jiwa penderita. Sebagian besar yang terinfeksi meninggal dunia. Angkanya 90 persen. Demikian kata Prof Herdiman Pohan, Staf Divisi Penyakit Infeksi dan Tropik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Penyakit ini disebabkan virus rabies yang akibatkan gangguan pada susunan saraf pusat. Masa inkubasi dari satu hari sampai satu tahun. Bila luka gigitan berada di leher dan kepala, serangan kian akut. Gejalanya, demam tinggi, kejang-kejang otot, mulut berbusa, fotopobia atau takut cahaya, tingkat kesadaran menurun, dan berteriak-teriak.

Cara efektif mencegah penularan adalah menghindari gigitan anjing. Selain itu, ada vaksin untuk membentuk antibodi terhadap virus itu. Masalahnya, vaksin itu juga bisa menimbulkan efek samping berupa meningitis dan gejala seperti rabies.

Bila terkena gigitan anjing, seseorang dianjurkan segera ke rumah sakit. Luka bekas gigitan dibersihkan dengan sabun. Pemberian obat merah atau yodium tincture tak bermanfaat karena virus telah masuk dalam darah.

Jika baru terkena gigitan, pemberian vaksin antirabies diharapkan bisa membentuk antibodi yang bisa mengalahkan virus agar tidak menyebar ke saraf otak. Bila sudah parah, vaksinasi mempercepat perburukan pada pasien.

Penderita harus diisolasi karena bisa menularkan. "Belum ada obat yang bisa membunuh virus itu. Yang bisa dilakukan, mengobati gejalanya misal, memberi obat antikejang, obat mengatasi infeksi sekunder, dan obat penenang," kata Herdiman. (EVY/BEN)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/21/00354189/susahnya.menjinakkan.anjing.gila

Friday, February 20, 2009

Rabies Menyebar Lagi

Ditemukan Kasus di 24 Provinsi, 14.106 Orang Digigit Anjing

Jumat, 20 Februari 2009 | 00:47 WIB

Jakarta, Kompas - Penyebaran rabies atau dikenal sebagai penyakit anjing gila terus meluas. Saat ini ditemukan kasus rabies di 24 provinsi dan hanya sembilan provinsi di Tanah Air yang dinyatakan bebas penyakit rabies.

Bila tidak segera ditangani, penularan penyakit rabies bisa berakibat fatal bagi penderitanya, bahkan menyebabkan kematian.

"Karena penularannya melalui gigitan anjing, pengendalian penyakit ini dilakukan Departemen Pertanian bersama dengan Departemen Kesehatan," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama saat dihubungi Kamis (19/2) di Jakarta.

Depkes menyebutkan, sembilan provinsi yang tidak ditemukan kasus rabies atau bebas rabies yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat. "Sebelum ada kasus, Bali termasuk bebas rabies," ujarnya.

Dalam lima tahun terakhir, kasus rabies di Indonesia muncul di sejumlah provinsi. Pada tahun 2008 ada 14.106 orang digigit anjing, 9.565 orang mendapat vaksin dan pengobatan, serta 85 orang positif terkena rabies.

Di Provinsi Bali, sejak Mei 2008 sampai kini jumlah penduduk yang digigit anjing lebih dari 1.700 orang, sebanyak 1.613 orang diberi vaksin dan obat, sedangkan satu orang menderita rabies.

Ditularkan anjing

Penyakit ini disebabkan virus rabies yang mengakibatkan gangguan pada susunan saraf pusat (SSP). Gejalanya antara lain demam dan kejang-kejang otot. Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah anjing dan binatang-binatang liar seperti kera dan kelelawar.

"Di Indonesia, sekitar 98 persen kasus rabies ditularkan oleh anjing," kata Tjandra.

Dari Kabupaten Garut, Jawa Barat dilaporkan, sebanyak 270 ekor anjing liar telah dieliminasi serta 215 ekor anjing peliharaan divaksinasi di empat desa di Kecamatan Mekarmukti. Langkah tersebut dilakukan menyusul munculnya kasus gigitan seekor anjing terhadap tujuh warga setempat pada bulan Januari 2009.

Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Garut Hermanto mengatakan, dalam dua bulan terakhir terjadi dua kasus gigitan anjing terhadap manusia. Kasus pertama di Kecamatan Mekarmukti pada Januari 2009 seekor anjing berumur satu tahun menggigit tujuh orang. Kasus kedua terjadi di Kecamatan Karangpawitan seekor anjing menggigit 11 orang. (EVY/ADH)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/20/00472773/rabies.menyebar.lagi

Indonesia Termasuk Negara Endemik Hepatitis B


 

Penulis : Eriez M Rizal

BANDUNG--MI: Indonesia termasuk negara endemik hepatitis B dengan jumlah yang terjangkit antara 2,5% hingga 36,17% dari total jumlah penduduk.

Mahalnya vaksin menjadi pemicu bertambahnya jumlah warga yang terjangkit virus tersebut.

Direktur Utama PT Bio Farma Isa Mansyur, Kamis (12/2), mengatakan langkah awal untuk mengantisipasi merebaknya virus tersebut pihaknya akan melakukan vaksinasi gratis kepada pelajar tidak mampu.

"Setidaknya dengan kegiatan ini (vaksinasi gratis), penyebaran hepatitis B di Indonesia bisa diminimalisasi," katanya pada acara Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) yang melibatkan tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertajuk PKBL Jawa Barat Peduli Kesehatan di Gedung Serbaguna Kantor PT Bio Farma, Badung.

Ke-7 BUMN yang turut serta dalam pencanangan tersebut yaitu PT Bio Farma, PTPN VIII, PT Jamsostek, Perum Jasa Tirta II, PT Angkasa Pura II, dan Industri Sandang Nusantara dan Bank BRI.

Ia mengatakan, sekarang kesadaran orang tua dalam memberikan vaksin kepada anak cukup tinggi. Namun yang menjadi kendala masih mahalnya harga vaksin, sehingga mereka membiarkan anaknya terkena virus tersebut. "Padahal, pemberian vaksin bisa mencegah terjadinya penularan hepatitis B," jelasnya.

Vaksin Hepatitis B gratis rencananya akan diberikan pada 5.000 siswa sekolah menengah atas (SMA) dengan alokasi dana sekitar Rp1 miliar. Untuk tahap awal vaksinasi Hepatitis B diberikan secara gratis pada 780 siswa dari 16 SMA dengan nilai Rp156 juta. (EM/OL-01)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NjA0NTk=

Tuesday, February 10, 2009

Sunday, February 8, 2009

PELANTIKAN ESELON III DAN IV KKP KELAS I MEDAN

Setelah menunggu beberapa lama, Pelantikan eselon III dan IV di lingkungan Depkes RI dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 4 Feruari 2009 bertempat d Balai Kartini Jl. Gatot Subroto. Pelantikan dilaksanakan oleh Sekretaris Jenderal Depkes RI Dr. H. Sjafii Ahmad, MPH dan dihadiri oleh seluruh pejabat eselon I, para sesdit, pejabat eselon II dan para Eselon II Kepala UPT di lingkungan Depkes RI.

Jumlah Pejabat yang diundang mengikuti acara pelantikan sekitar 830 orang yang berasal dari Unit Utama DEPKES dan Unit Pelaksana Teknis DEPKES di Daerah.

Pejabat yang dilantik Pada KKP Kelas I Medan terdiri dari:

Pejabat Eselon III

  1. Dr. H. Masrip Sarumpaet, M.Kes : sebagai Kepala Bidang Pengendalian Karantina dan SE
  2. Musa Tarigan : sebagai Kepala Bidang Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah
  3. Nuryanto, SKM., MARS : sebagai Kepala Bidang Pengendalian Risiko Lingkungan

Pejabat Eselon IV

  1. Drs. Eddyzar Syah : sebagai Kepala Subbagian Keuangan dan Umum
  2. Drs. Syarifuddin Saragih : sebagai Kepala Subbagian Program dan Laporan
  3. Ismail Bakhri, S.Si : sebagai Kepala Seksi Pengendalian Karantina
  4. Nurul Azman, SKM : sebagai Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi
  5. Dr. Ziad Batubara : sebagai Kepala Seksi Kesehatan Matra dan Lintas Wilayah
  6. Dr. Aryanti : sebagai Kepala Seksi Pencegahan dan Pelayanan Kesehatan
  7. Masdar Ginting, SKM., M.Kes : sebagai Kepala Seksi Sanitasi dan Dampak Risiko Lingkungan
  8. Friska Erlina Simamora, SKM : sebagai Kepala Seksi Pengendalian Vektor dan Binatang Penular Penyakit

Para pejabat yang dilantik Pada KKP Kelas I Medan terdiri dari : 1 (satu) orang berasal dari UPT Dinas Kesehatan Provinsi SUMUT, 6 (enam) orang berasal dari pejabat fungsional, 2 (dua) orang koordinator wilker, 3 (tiga) orang adalah pejabat eselon IV KKP Kelas II Medan yang mendapat promosi menjadi Eselon III yaitu Kasi KARSE, Kasi UKP dan Kasi PRL.

Kasi PRL KKP Kelas II Medan mendapat promosi menjadi kepala kantor dan menempati pos baru di KKP Dumai, sedangkan Pejabat Kasubbag Tata Usaha KKP Kelas II Medan menempati pos baru sebagai Kasubbag Keuangan dan Umum KKP Kelas I Medan)

Selamat berkarya untuk bangsa dan negara.

Foto bersama usai makan siang : dari kiri kanan Ismail Bakri, Kostan Sidauruk, Nurul Azman, Nuryanto, Masrip Sarumpaet, Masdar Ginting, Friska Erlina Simamora dan Syarifuddin Saragih

Thursday, January 29, 2009

Korban Meninggal Akibat Kolera di Zimbabwe Tembus 3.000 Jiwa

Wabah kolera benar-benar menggila di Zimbabwe. Data terakhir dari World Health Organization (WHO) menyebutkan lebih dari 3.000 warga Zimbabwe meninggal akibat terserang wabah tersebut.

WHO juga melansir wabah kolera telah menginfeksi 57.000 penduduk lainnya di negara tersebut. Ini merupakan kejadian terburuk di benua Afrika dalam 15 tahun terakhir.

Seperti dikutip dari reuters, Rabu (28/1/2008), wabah kolera menyebar saat negara tersebut dilanda pertikaian antarpartai politik. Pemimpin setempat memutuskan pemerintah Zimbabwe bersatu harus dibentuk bulan depan untuk menanggulangi krisis itu.

WHO menunjukkan, terjadi peningkatan angka kematian sebesar 57 jiwa pada Selasa 27 Januari. Jumlah penderita kolera juga bertambah sebanyak 1.579 pasien pada hari itu.

Pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai mengatakan setuju untuk bersatu dengan pemerintahan Presiden Robert Mugabe, meskipun dia melalui Movement for Democratic Change (MDC) kecewa dengan hasil pertemuan.

Kendati demikian, pengurus MDC berharap adanya pembahasan lebih lanjut bagaimana proses penanganan wabah kolera yang mengganas di Zimbabwe.

"Ini adalah keputusan bersejarah yang kami buat," kata Tsvangirai di Harare.

(irw/lrn)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/01/29/053153/1075909/10/korban-meninggal-akibat-kolera-di-zimbabwe-tembus-3.000-jiwa

Thursday, January 15, 2009

Negara-Negara Maju Setujui Benefit Sharing Flu Burung

JAKARTA--MI: Negara-negara maju akhirnya menyetujui benefit sharing dalam rangka mekanisme baru virus sharing flu burung dalam sidang antarpemerintah tentang penanganan flu burung yang berlangsung di Jenewa.

Sidang ini juga dihadiri Menteri Kesehatan Sisti Fadillah Supari yang didampingi penasehat hubungan internasional Depkes Makarim Wibisono. Pertemuan internasional ini diselenggarakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan dalam siaran persnya, Sabtu (10/1), menyebutkan pertemuan ini telah menghasilkan kemajuan-kemajuan yang penting atau signifikan. Wakil Ketua Delegasi Indonesia dr Widjaja Lukito mengatakan kemajuan ini antara lain mencakup masalah transfer virus .

"Pencapaian utama yang diraih dalam The Intergovernmental Meeting on Pandemic Influenza Preparedness atau IGM-PIP adalah disetujuinya penggunaan Standard Material Transfer Agreement (SMTA) dalam sistem virus. SMTA adalah dokumen yang akan mengatur semua transfer virus yang berbentuk standar universal dan mempunyai kekuatan hukum ," kata Widjaja Lukito.

Sementara itu, penasehat hubungan internasional Depkes Makarim Wibisono menyatakan bahwa sekalipun naskah persetujuan belum sepenuhnya disetujui dan masih menyisakan sejumlah masalah untuk dipecahkan namun terobosan yang penting telah tercapai. (Ant/OL-01)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTUyODk=

Sunday, January 4, 2009

Ebola haemorrhagic fever in the Democratic Republic of the Congo - update

2 January 2009 -- The Ministry of Health of the Democratic Republic of the Congo (DRC) is continuing to respond to the ongoing outbreak of Ebola haemorrhagic fever in the Mweka health zone, Province of Kasai Occidental with the support of a wide range of international partners.

As of 31st December there has been a total of 3 laboratory-confirmed cases of Ebola haemorrhagic fever. WHO is aware of 36 additional suspected cases including 12 deaths associated with this outbreak. A further 184 contacts have been identified and are being followed up.

Laboratory analysis was undertaken at the the Institut National de Recherches Biomédicales (INRB) in Kinshasa , DRC , the Centre International de Recherches Médicales de Franceville (CIRMF), Gabon, and the National Institute for Communicable Diseases (NICD), South Africa.

The WHO Country Office, Regional Office and Headquarters are supporting the MoH in Kinshasa, in Kananga and in the field at the location of the outbreak. WHO has deployed five vehicles to the field and has sent outbreak response equipment and medical supplies. The local health authorities in the affected area are working closely with social mobilization experts to develop key information messages for the local communities.

The international response to the outbreak includes partners from Caritas (Belgium), the Congolese Red Cross (DRC) , Médecins Sans Frontières (Belgium), UNICEF, the United Nations Organization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUC), and the World Food Programme (WFP) .

http://www.who.int/csr/don/2009_01_02/en/index.html


 

Wednesday, December 31, 2008

Ebola haemorrhagic fever in the Democratic Republic of the Congo

26 December 2008 -- The Ministry of Health (MoH) of the Democratic Republic of the Congo declared on 25 December an outbreak of Ebola haemorrhagic fever in Mweka District, Kasai Occidental province based on laboratory results from the Centre International de Recherches Médicales de Franceville (CIRMF) in Gabon. CIRMF confirmed the presence of Ebola virus in 2 samples from 2 of the patients in the outbreak by antigen detection. In addition, laboratory tests conducted by Institut National de Recherches Biologiques (INRB) in Kinshasa, also confirmed the presence of Shigella.

As of 26 December, WHO is aware of 34 suspected cases including 9 deaths (CFR 26%) associated with the ongoing event. Additional samples have been collected and are en route to INRB.

The WHO Country Office, Regional Office and Headquarters are supporting the MoH in Kinshasa and in the field at the location of the outbreak. In addition, the WHO Country Office is supporting the operational costs of the investigation and response teams and has deployed four vehicles to the field. Additional staff, outbreak response equipment and supplies, including Personal Protective Equipment (PPE), are also being sent to the area. An enhanced team of national and international experts is being mobilized to implement control strategies for Ebola haemorrhagic fever and to support outbreak field response in the province.

WHO is working together with laboratory partners to provide comprehensive laboratory services, and to support the MoH in the control and investigation of the outbreak.

WHO is unaware of any reports signaling the international spread of disease and advises against the application of any travel or trade restrictions upon the Democratic Republic of the Congo .

Cholera in Zimbabwe

As of 25 December 2008, a total of 26 497 cases, including 1 518 deaths, have been reported by the Ministry of Health in Zimbabwe. Cases are now being reported from all 10 of the country's provinces. Harare, particularly Budiriro suburb in the south west, accounts for the majority of cases, followed by Beitbridge in Matabeleland South and Mudzi in Mashonaland East. The current outbreak is the largest ever recorded in Zimbabwe and is not yet under control. In fact, the epidemiological week ending 20 December saw over 5 000 new cases - an increase in the number of weekly cases relative to previous weeks - and an increase in deaths outside treatment/health centres.

The overall Case Fatality Rate (CFR) has risen to 5.7% - far above the 1% which is normal in large outbreaks - and in some rural areas it has reached as high as 50%. Mortality outside of healthcare facilities remains very high. This is a clear indication that better case management and access to healthcare is needed - in particular an increased use of oral rehydration therapy with Oral Rehydration Salts in communities very early after onset of the disease.

The outbreak has taken on a subregional dimension with cases being reported from neighboring countries. In South Africa as of 26 December, 1 279 cumulative cases and 12 deaths (CFR of 0.9%) had been recorded, with the bulk of the cases (1 194) in the Limpopo area. Cases have also been reported in Botswana (Palm Tree).

The current situation is closely linked to the lack of safe drinking water, poor sanitation, declining health infrastructure, and reduced numbers of healthcare staff reporting to work. Other current risk factors include the commencement of the rainy season and the movement of people within the country, and possibly across borders, during the Christmas season. WHO, together with the Ministry of Health and partners from the health and Water and Sanitation clusters, has established a cholera outbreak response coordination unit in order to strengthen the reporting and early detection of cases, improve the response mechanism and access to healthcare and ensure proper case management. WHO has also deployed experts in public health, water and sanitation, logistics and social mobilization. In light of the extent and pace of expansion of the outbreak, reinforcing all control activities across the country is critical.

Given the current dynamic of the outbreak and the context of the collapsed health system, a cholera vaccination is not recommended. Moreover, the use of the internationally available WHO prequalified oral cholera vaccine is not recommended once an outbreak has started due to its 2-dose regimen and the time required to reach protective efficacy, high cost and the heavy logistics associated to its use. The use of the parenteral cholera vaccine has never been recommended by WHO due to its low protective efficacy and the occurrence of severe adverse events.

In controlling the spread of cholera WHO does not recommend any special restrictions to travel or trade to or from affected areas. However, neighboring countries are encouraged to reinforce their active surveillance and preparedness systems. Mass chemoprophylaxis is strongly discouraged, as it has no effect on the spread of cholera, can have adverse effects by increasing antimicrobial resistance and provides a false sense of security.

Source : WHO

Sunday, December 21, 2008

Operasional Pelayanan Kesehatan Jemaah Calon Haji Sampai dengan 6 Desember 2008


Penyelenggaraan Operasional Pelayanan Kesehatan Haji Indonesia Th.1429 H/2008 M telah melakukan pengamatan fisik dan dokumen kesehatan sebanyak 175.350 orang dari berbagai embarkasi, JKG (14.982 orang), MES (8.078 orang), SUB (31.632 orang), UPG (12.657 orang), BPN (5.955 orang), SOC (30.710 orang), BTJ (3.635 orang), JKS (36.300 orang), BTH (9.711 orang), BDJ (3.555 orang), MTR (4.911 orang), PDG (7.112 orang), PLM (6.023 orang), GTO (89 orang).

Tes kehamilan terhadap wanita usia subur sebanyak 20.619 orang. Dari hasil pemeriksaan, diketahui positif hamil 22 orang, Medan (1 orang), Surabaya (3 orang), Ujung Pandang (3 orang), Balik Papan (2 orang), Jakarta Bekasi (6 orang), Banda Aceh (2 orang), Banjarmasin (3 orang), Mataram (2 orang).

Demikian informasi yang diperoleh Pusat Komunikasi Publik dari Direktorat Surveilens, Epidemiologi, Imunisasi dan Kesehatan Matra Depkes berdasarkan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) 6 Desember 2008.

Jemaah calon haji yang berobat jalan di poliklinik asrama haji sebanyak 9.572 orang, JKG (182 orang), MES (543 orang), SUB (1.259), UPG (840 orang), BPN (256 orang), SOC (1.912 orang), BTJ (153 orang), JKS ( 1.840 orang), BDJ (226 orang), MTR (400 orang), PDG (1.321 orang), PLM (637 orang) dan GTO (3 orang).

Sedangkan jumlah kunjungan berobat jalan jemaah calon haji Indonesia yang dilaporkan dari Siskohatkes Arab Saudi sebanyak 375.546 orang, tertinggi di Makkah (333.401 orang), Madinah (28.140 orang) dan Jeddah (14.005 orang).

Pelayanan rawat inap pada jemaah calon haji, baik yang pernah dirujuk maupun yang di rawat di Rumah Sakit rujukan embarkasi haji tercatat 294 orang. Tertinggi di SOC (156 orang), SUB (89 orang), PLM (14 orang), JKG (12 orang), UPG (5 orang), BPN (5 orang), MES (4 orang), JKS, BDJ dan MTR (masing-masing 3 orang).

Sedangkan untuk jemaah calon haji Indonesia yang dirawat di Arab Saudi sebanyak 116 orang di Makkah, BPHI (61 orang), SUB BPHI (5 orang), dan RS Arab Saudi (50 orang).

Penyakit yang paling banyak diderita adalah penyakit sistem sirkulasi sebanyak 22,89%, penyakit sistem pernapasan (19,84%), penyakit sistem pencernaan (16,86%), penyakit sistem otot tulang dan jaringan penyambung (14,08%), penyakit Endokrin Nutris dan Metabolik (8,36%) serta penyakit sistem syaraf (1,49%) sedangkan yang terkecil adalah penyakit neoplasma 0,01%.

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3253

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN