SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Friday, April 17, 2009

FLU SINGAPURA - HFMD - KTM

"Flu Singapura" sebenarnya adalah penyakit yang didunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM )

Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil ), Genus Enterovirus ( non Polio ). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus.

Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. Berbagai enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit.

EPIDEMIOLOGI:

Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum/?biasa? pada kelompok masyarakat yang ?crowded? dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ).

Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur (oro-oro), tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (?carrier?) seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Masa Inkubasi 2 ? 5 hari.

GAMBARAN KLINIK :

Mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (pharingitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti ?flu? pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus di mulut seperti sariawan ( lidah, gusi, pipi sebelah dalam ) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan.

Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki.

Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini membaik sendiri dalam 7-10 hari.

Bila ada muntah, diare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat. Pada bayi/anak-anak muda yang timbul gejala berat , harus dirujuk kerumah sakit sebagai berikut :

o Hiperpireksia ( suhu lebih dari 39 der. C).

o Demam tidak turun-turun (?Prolonged Fever?)

o Tachicardia.

o Tachypneu

o Malas makan, muntah atau diare dengan dehidrasi.

o Lethargi

o Nyeri pada leher,lengan dan kaki.

o Serta kejang-kejang.

Komplikasi penyakit ini adalah :

o Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)

o Encephalitis ( bulbar )

o Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis

o Paralisis akut flaksid (?Polio-like illness? )

Satu kelompok dengan penyakit ini adalah :

1. Vesicular stomatitis dengan exanthem (KTM) - Cox A 16, EV 71 (Penyakit ini)

2. Vesicular Pharyngitis (Herpangina) - EV 70

3. Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10

LABORATORIUM :

Sampel ( Spesimen ) dapat diambil dari tinja, usap rektal, cairan serebrospinal dan usap/swab ulcus di mulut/tenggorokan, vesikel di kulit spesimen atau biopsi otak.

Spesimen dibawa dengan ?Hank?s Virus Transport?. Isolasi virus dencara biakan sel dengan suckling mouse inoculation.

Setelah dilakukan ?Tissue Culture?, kemudian dapat diidentifikasi strainnya dengan antisera tertentu / IPA, CT, PCR dll. Dapat dilakukan pemeriksaan antibodi untuk melihat peningkatan titer.

Diagnosa Laboratorium adalah sebagai berikut :

1. Deteksi Virus :

o Immuno histochemistry (in situ)

o Imunofluoresensi antibodi (indirek)

o Isolasi dan identifikasi virus.

Pada sel Vero ; RD ; L20B

Uji netralisasi terhadap intersekting pools

Antisera (SCHMIDT pools) atau EV-71 (Nagoya) antiserum.

2. Deteksi RNA :

RT-PCR

Primer : 5? CTACTTTGGGTGTCCGTGTT 3?

5? GGGAACTTCGATTACCATCC 3?

Partial DNA sekuensing (PCR Product)

3. Serodiagnosis :

Serokonversi paired sera dengan uji serum netralisasi terhadap virus EV-71 (BrCr, Nagoya) pada sel Vero.

Uji ELISA sedang dikembangkan.

Sebenarnya secara klinis sudah cukup untuk mendiagnosis KTM, hanya kita dapat mengatahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.

TATALAKSANA :

o Istirahat yang cukup

o Pengobatan spesifik tidak ada.

o Dapat diberikan :

Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus

Extracorporeal membrane oxygenation.

Pengobatan simptomatik :

Antiseptik didaerah mulut

Analgesik misal parasetamol

Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam

Pengobatan suportif lainnya ( gizi dll )

Penyakit ini adalah ?self limiting diseases? ( berobat jalan ) yang sembuh dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut diatas.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT:

Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit adalah dengan menghilangkan ?Overcrowding?, kebersihan (Higiene dan Sanitasi). Lingkungan dan perorangan misal cuci tangan, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi.

Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan.

Di Rumah sakit ? Universal Precaution? harus dilaksanakan.

Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (Imunisasi)

UPAYA PEMERINTAH DALAM HAL INI :

Meningkatkan survailans epidemiologi (perlu definisi klinik)

Memberikan penyuluhan tentang cara-cara penularan dan pencegahan KTM untuk memotong rantai penularan.

Memberikan penyuluhan tentang tamda-tanda dan gejala KTM

Menjaga kebersihan perorangan.

Bila anak tidak dirawat, harus istirahat di rumah karena :

o Daya tahan tubuh menurun.

o Tidak menularkan kebalita lainnya.

Menyiapkan sarana kesehatan tentang tatalaksana KTM termasuk pelaksanaan 'Universal Precaution' nya.


Hand-Foot-Mouth Disease (HFMD)


Etiologi : Coxsackievirus A 16

Cara Penularan : Droplets

Masa Inkubasi : 4 ? 6 Hari


Manifestasi Klinis :

Masa prodromal ditandai dengan panas subfebris, anoreksia, malaise dan nyeri tenggorokan yang timbul 1 ? 2 hari sebelum timbul enantem. Enantem adalah manifestasi yang paling sering pada HFMD. Lesi dimulai dengan vesikel yang cepat menjadi ulkus dengan dasar eritem, ukuran 4-8 mm yang kemudian menjadi krusta, terdapat pada mukosa bukal dan lidah serta dapat menyebar sampai palatum uvula dan pilar anterior tonsil. Eksantema tampak sebagai vesiko pustul berwarna putih keabu-abuan, berukuran 3-7 mm terdapat pada lengan dan kaki, pada permukaan dorsal atau lateral, pada anak sering juga terdapat di bokong. Lesi dapat berulang beberapa minggu setelah infeksi, jarang menjadibula dan biasanya asimptomatik, dapat terjadi rasa gatal atau nyeri pada lesi. Lesi menghilang tanpa bekas.

Diagnosis :

Manifestasi klinis dan isolasi virus dengan preparat Tzank.

Diagnosis Banding : Varisela, herpes

Terapi : Simptomatis

"Flu Singapura" sebenarnya adalah penyakit yang didunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM )

Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil ), Genus Enterovirus ( non Polio ). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus.

Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. Berbagai enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit.

EPIDEMIOLOGI:

Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum/?biasa? pada kelompok masyarakat yang ?crowded? dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ). Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur (oro-oro), tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (?carrier?) seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Masa Inkubasi 2 ? 5 hari.

GAMBARAN KLINIK :

Mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (pharingitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti ?flu? pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus dumulut seperti sariawan ( lidah, gusi, pipi sebelah dalam ) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan.

Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki.

Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini membaik sendiri dalam 7-10 hari.

Bila ada muntah, diare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat. Pada bayi/anak-anak muda yang timbul gejala berat , harus dirujuk kerumah sakit sebagai berikut :

o Hiperpireksia ( suhu lebih dari 39 der. C).

o Demam tidak turun-turun (?Prolonged Fever?)

o Tachicardia.

o Tachypneu

o Malas makan, muntah atau diare dengan dehidrasi.

o Lethargi

o Nyeri pada leher,lengan dan kaki.

o Serta kejang-kejang.

Komplikasi penyakit ini adalah :

o Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)

o Encephalitis ( bulbar )

o Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis

o Paralisis akut flaksid (?Polio-like illness? )

Satu kelompok dengan penyakit ini adalah :

1. Vesicular stomatitis dengan exanthem (KTM) - Cox A 16, EV 71 (Penyakit ini)

2. Vesicular Pharyngitis (Herpangina) - EV 70

3. Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10

LABORATORIUM :

Sampel ( Spesimen ) dapat diambil dari tinja, usap rektal, cairan serebrospinal dan usap/swab ulcus di mulut/tenggorokan, vesikel di kulit spesimen atau biopsi otak.

Spesimen dibawa dengan ?Hank?s Virus Transport?. Isolasi virus dencara biakan sel dengan suckling mouse inoculation.

Setelah dilakukan ?Tissue Culture?, kemudian dapat diidentifikasi strainnya dengan antisera tertentu / IPA, CT, PCR dll. Dapat dilakukan pemeriksaan antibodi untuk melihat peningkatan titer.

Diagnosa Laboratorium adalah sebagai berikut :

1. Deteksi Virus :

o Immuno histochemistry (in situ)

o Imunofluoresensi antibodi (indirek)

o Isolasi dan identifikasi virus.

Pada sel Vero ; RD ; L20B

Uji netralisasi terhadap intersekting pools

Antisera (SCHMIDT pools) atau EV-71 (Nagoya) antiserum.

2. Deteksi RNA :

RT-PCR

Primer : 5? CTACTTTGGGTGTCCGTGTT 3?

5? GGGAACTTCGATTACCATCC 3?

Partial DNA sekuensing (PCR Product)

3. Serodiagnosis :

Serokonversi paired sera dengan uji serum netralisasi terhadap virus EV-71 (BrCr, Nagoya) pada sel Vero.

Uji ELISA sedang dikembangkan.

Sebenarnya secara klinis sudah cukup untuk mendiagnosis KTM, hanya kita dapat mengatahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.

TATALAKSANA :

o Istirahat yang cukup

o Pengobatan spesifik tidak ada.

o Dapat diberikan :

Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus

Extracorporeal membrane oxygenation.

Pengobatan simptomatik :

Antiseptik didaerah mulut Analgesik misal parasetamol Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam Pengobatan suportif lainnya ( gizi dll )

Penyakit ini adalah ?self limiting diseases? ( berobat jalan ) yang sembuh dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut diatas.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT:

Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit adalah dengan menghilangkan ?Overcrowding?, kebersihan (Higiene dan Sanitasi). Lingkungan dan perorangan misal cuci tangan, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi.

Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan.

Di Rumah sakit ? Universal Precaution? harus dilaksanakan.

Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (Imunisasi)

UPAYA PEMERINTAH DALAM HAL INI :

Meningkatkan survailans epidemiologi (perlu definisi klinik)

Memberikan penyuluhan tentang cara-cara penularan dan pencegahan KTM untuk memotong rantai penularan.

Memberikan penyuluhan tentang tamda-tanda dan gejala KTM

Menjaga kebersihan perorangan.

Bila anak tidak dirawat, harus istirahat di rumah karena :

o Daya tahan tubuh menurun.

o Tidak menularkan kebalita lainnya.

Menyiapkan sarana kesehatan tentang tatalaksana KTM termasuk pelaksanaan ?Universal Precaution?nya.

Hand-Foot-Mouth Disease (HFMD)

Etiologi : Coxsackievirus A 16

Cara Penularan : Droplets

Masa Inkubasi : 4 ? 6 Hari

Manifestasi Klinis :

Masa prodromal ditandai dengan panas subfebris, anoreksia, malaise dan nyeri tenggorokan yang timbul 1 ? 2 hari sebelum timbul enantem. Enantem adalah manifestasi yang paling sering pada HFMD. Lesi dimulai dengan vesikel yang cepat menjadi ulkus dengan dasar eritem, ukuran 4-8 mm yang kemudian menjadi krusta, terdapat pada mukosa bukal dan lidah serta dapat menyebar sampai palatum uvula dan pilar anterior tonsil. Eksantema tampak sebagai vesiko pustul berwarna putih keabu-abuan, berukuran 3-7 mm terdapat pada lengan dan kaki, pada permukaan dorsal atau lateral, pada anak sering juga terdapat di bokong. Lesi dapat berulang beberapa minggu setelah infeksi, jarang menjadibula dan biasanya asimptomatik, dapat terjadi rasa gatal atau nyeri pada lesi. Lesi menghilang tanpa bekas.

Diagnosis :

Manifestasi klinis dan isolasi virus dengan preparat Tzank.

Diagnosis Banding : Varisela, herpes

Terapi : Simptomatis

Sumber Foto : Dr Widodo Judarwanto SpA

Sumber : http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=44

Thursday, April 16, 2009

New hope for anti-bird-flu drug

SCIENTISTS in Hong Kong and the United States have identified a synthetic compound that appears to be able to stop the replication of influenza viruses, including the deadly H5N1 bird flu virus.

The search for such new "inhibitors" has grown more urgent in recent years as drugs like oseltamivir have become largely ineffective against certain flu strains, including the H1N1 seasonal flu virus. Experts now question how well and how long the drug would stand up against the H5N1 strain should it unleash a pandemic.

Researchers in Hong Kong and the US screened some 230,000 compounds that were catalogued with the US National Cancer Institute and found 20 that could potentially restrict the proliferation of the H5N1 virus.

The experts told a news conference yesterday that one of the compounds, called compound 1, showed promise.

"We have found a compound that is different from oseltamivir but which acts in the same way," said Leo Poon, a microbiologist at the University of Hong Kong.

"An analogy would be like we have a door with a keyhole, but the hole has changed, and the key, in this case oseltamivir, can't lock the door anymore. But we have discovered another keyhole and another key which can lock the door."

Their finding was published in the latest issue of the Journal of Medicinal Chemistry.

In their experiment, the researchers infected separate batches of cultured human cells with seasonal flu virus and H5N1 and found that compound 1 prevented the replication of both types of viruses effectively.

Many advanced countries stock up on oseltamivir and zanamivir, two varieties of the same class of drugs that stops the H5N1 virus from multiplying.

But the US Centers for Disease Control and Prevention found that 98 percent of all flu samples from the H1N1 strain were resistant to oseltamivir, which is manufactured by Roche AG and marketed under the brand Tamiflu.

Source : http://birdflubreakingnews.com/templates/birdflu/window.php?url=http%3A%2F%2Fnews.google.com%2Fnews%2Furl%3Fsa%3DT%26ct%3Dus%2F0-0%26fd%3DR%26url%3Dhttp%253A%2F%2Fwww.shanghaidaily.com%2Fsp%2Farticle%2F2009%2F200904%2F20090416%2Farticle_397863.htm%26cid%3D1334165853%26ei%3DGmXmSfncPIqegwOMhaGQBw%26usg%3DAFQjCNFMGRyblsg6LTD5dF7vfcqgCMzTWA

Wednesday, April 15, 2009

Tularkan HIV pada Mantan Pacar, Bintang Pop Jerman Ditangkap


Benaissa (kiri) (Reuters)


Jakarta - Seorang bintang pop Jerman ditangkap polisi. Penyanyi terkenal Jerman itu dituduh menularkan virus HIV pada mantan kekasihnya.

Kepolisian Jerman menangkap Nadja Benaissa tepat sebelum dia tampil dalam sebuah konser di Frankfurt. Album-album wanita berusia 26 tahun itu telah terjual lebih dari lima juta copy.

Benaissa yang telah memiliki seorang anak itu, ditangkap setelah satu dari tiga pria yang pernah berhubungan seks dengannya pada 2004 dan 2006, dinyatakan positif HIV. Jika terbukti bersalah, Benaissa bisa diancam hukuman penjara maksimum 10 tahun.

Kepolisian menduga, pria tersebut terjangkit HIV sebagai akibat keterlibatan seksualnya dengan Benaissa. Harian Inggris, Daily Telegraph, Rabu (15/4/2009) memberitakan, penyanyi itu tidak mengatakan pada pria-pria yang telah berhubungan seks dengannya bahwa dia positif HIV. Hubungan seks itu juga terjadi tanpa menggunakan kondom.

Benaissa ditangkap pada Sabtu, 11 April lalu. Hakim memutuskan untuk terus menahannya di penjara sembari menunggu proses pengadilan. Sebab ada kemungkinan dia mengulangi lagi perbuatannya.

Benaissa mulai dikenal publik setelah mengikuti acara Popstars, ajang menjadi bintang di Jerman. Diyakini publik sebelum ini tidak mengetahui kalau dia mengidap HIV.

Menurur media Jerman, Deutsche Welle, Benaissa memiliki seorang anak perempuan yang lahir pada tahun 1999. Tidak jelas siapa ayah sang anak. (ita/iy) Rita Uli Hutapea - detikNews

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/04/15/105003/1115672/10/tularkan-hiv-pada-mantan-pacar,-bintang-pop-jerman-ditangkap

Wednesday, April 1, 2009

Ebola Reston in pigs and humans in the Philippines - update

31 March 2009 -- On 16 February 2009, the Government of Philippines announced that a slaughterhouse worker who has daily contact with pigs tested positive for antibodies against the Ebola Reston virus.

This brings to six, out of a total of 141 people, who have tested positive for Ebola Reston antibodies in the Philippines since testing began in December 2008. All six people who were antibody positive reported occupational exposure to pigs.

The Philippine Department of Health has said that all six people who tested positive appear to be in good health. Pig-to-human transmission is believed to be the most likely source of infection.

To date, since the first human to develop antibodies against Ebola Reston was reported in 1989, no significant human illness has been reported in association with Ebola Reston infection. However only a very small number of humans with Ebola Reston antibodies have ever been detected, and all were healthy adult males. The threat to human health is likely to be low for healthy adults but is unknown for all other population groups, such as immuno-compromised persons, persons with underlying medical conditions, pregnant women and children. More studies are needed to better understand the public health implications of Ebola Reston in humans and efforts should be made to reduce the risk of human infection.

Ebola Reston virus species belongs to the Ebola genus in the Filovirus family, a genus that comprises other Ebola species that are known to be highly pathogenic for humans. All members of the Filovirus family are only handled in laboratories with the highest level of biosecurity.

Recent cases in the Philippines mark the first time that Ebola Reston has been found in pigs, and the first time that suspected transmission from pigs to humans has occurred.

Source : http://www.who.int/csr/don/2009_03_31/en/index.html

Monday, March 30, 2009

TURUT BERDUKA CITA

Keluarga Besar KKP Kelas I Medan turut berduka cita atas meninggal Bapak Muhammad Supari (Suami Ibu Menteri Kesehatan RI, Ibu Dr. dr. Hj. Siti Fadillah Supari, Sp.JP(K), pada tgl 28 Maret 2009 (Tutup Usia 66 Tahun). Semoga amal ibadah Beliau diterima disisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan, Amin.

Sunday, March 29, 2009

Meningococcal Disease: situation in the African Meningitis Belt

During the first 11 weeks of 2009 (January 1- March 15), a total of 24 868 suspected cases, including 1 513 deaths (1), have been reported to WHO by countries of the meningitis belt. More than 85% of the cases have occurred in one epidemic foci, encompassing Northern Nigeria and Niger (see below) and are characterized by the predominance of Neisseria meningitidis (Nm) serogroup A.

Niger

The Ministry of Health of Niger has reported 4 513 suspected cases of meningococcal disease including 169 deaths (case-fatality rate of 3.7%) from January 1 to March 15 2009. So far 20 of Niger's 42 districts have crossed the alert or the epidemic threshold. In the last week alone, 1 071 suspected cases including 30 deaths (case-fatality rate of 2.8%) have been reported, with 10 districts crossing the epidemic threshold, and 10 the alert threshold.

Cerebrospinal fluid specimens tested by PCR and/or culture positive have confirmed the large predominance of Neisseria meningitidis serogroup A.

Nigeria

The Ministry of Health of Nigeria has reported 17 462 suspected cases of meningococcal disease, including 960 deaths, (case-fatality-rate of 5.5% from January 1 to March 15). In the last week alone, 4 164 suspected cases with 171 deaths were reported, with 66 Local Government Area's (LGAs) having crossed the epidemic threshold while 30 had crossed the alert threshold. Cases originate from 16 Northern states, with states of the North East (Bauchi, Gombe and Yobe) being the most affected in the final week of the period. As in the preceding weeks, Katsina and Jigawa states are seriously affected as well.

Cerebrospinal fluid specimens have tested positive for Neisseria meningitidis serogroup A by latex test and/or culture. Mass vaccination has been implemented by the Federal Ministry of the Health, with the support of Médecins sans Frontières, UNICEF and WHO. Although vaccination strategy across the states varies, WHO has made recommendations to standardize vaccine strategy and the rational use of vaccine.

WHO support

WHO is supporting the Nigerian Federal and National Ministry of Health to strengthen disease surveillance, laboratory diagnosis, case management and in defining adapted vaccination strategies. Technical experts from WHO have been supporting the Federal Ministry of Health in Nigeria since mid February 2009.

The International Coordinating Group on Vaccine Provision for Epidemic Meningitis Control (ICG) have released 2.3 million doses of polysaccharide vaccines to Nigeria and 1.9 million doses of vaccine to Niger. (ICG partners include WHO, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, United Nations Children Fund, Médecins sans Frontières). The stockpile of the ICG for this epidemic season was set at 12.97 million doses. The emergency stockpile has been established with the support of Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI) and EU Humanitarian Aid Office (ECHO). (1) Data for week 11 for Burkina Faso, Niger and Nigeria only. However other countries are reporting less than 50 cases a week so far.

(1) Data for week 11 for Burkina Faso, Niger and Nigeria only. However other countries are reporting less than 50 cases a week so far.

Source : http://www.who.int/csr/don/2009_03_25/en/index.html

Tuesday, March 24, 2009

Cholera in Zimbabwe

23 March 2009 -- In Zimbabwe, the situation with the current cholera outbreak is improving. In the week ending 14 March 2009, 2 076 cases were reported. While this number is still high, it compares to 3 812 cases in the immediately-preceding week and over 8000 cases per week at the beginning of February. The weekly Case Fatality Rate has also decreased from its peak of near 6% in January and, while still too high, stood at 2.3% for the week ending 14 March. While data collection and verification remain a challenge throughout the country with the effect that weekly statistics are not always accurate or complete, the overall trend over the last 2 months is of a decreasing number of cases and deaths.

Moreover, the Case Fatality Rate in Cholera Treatment facilities has decreased to 0.8% in the week of 1-7 March, the last week for which accurate statistics of this measure exist. This is below the acceptable level of 1%. The percentage of deaths occurring in the community, outside of Cholera Treatment facilities, remains high but has declined to 33% from 62%.

As of 17 March, 91 164 cases with 4 037 deaths had been reported since the beginning of the current outbreak in August 2008.

Cases have decreased in all provinces. On the other hand, cases reported are increasing again in and around the capital, Harare. The risk of the outbreak restarting in those areas of the country is real. The need to remain vigilant and to continue and reinforce the control measures already in place is paramount.

The World Health Organization and its Global Outbreak Alert and Response Network (GOARN) partners have a sizeable team working out of the national Cholera Command and Control Centre ("C4") in Harare. The objective of the cholera control measures in the coming days is to extend the operations of the C4 to Regional and District level. GOARN partners working with the Ministry of Health of the Government of Zimbabwe and WHO include the International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh; Burnet Institute in Australia; the London School of Hygiene and Tropical Medicine and Health Protection Agency in the UK; US Centers for Disease Control and Prevention; and the National Board of Health and Welfare, Sweden. Nongovernmental organizations such as Médecins sans Frontières, the Red Cross and others have been key in treating patients across the country at a time when many health facilities were not fully functional.

Sorce : http://www.who.int/csr/don/2009_03_23/en/index.html

Monday, March 23, 2009

Menkes : Imunisasi Hanya 4

Oleh : Aprizal Rahmatullah - detikNews


 

Jakarta - Banyaknya jenis vaksinasi bagi balita (bayi lima tahun) membuat masyarakat bingung. Untuk mengatasi hal ini, Departemen Kesehatan telah menentukan hanya ada empat imunisasi dasar yang wajib dilakukan.


 

"Yaitu BCG, Polio, DPT, dan Campak," kata Menteri Kesehatan Fadillah Supari usai acara Revitalisasi Program Bantuan Alat Kesehatan Balloon dan Stent Bagi Masyarakat, di RS Harapan Kita, Jl S. Parman, Slipi, Jakarta Barat, Senin (23/3/2009).


 

Siti menjelaskan, keempat vaksinasi tersebut sudah teruji dari segi ilmu pengetahuan sehingga dibutuhkan bagi setiap manusia. Sedangkan vaksin jenis lainnya belum bisa dikategorikan suatu kebutuhan/keharusan.


 

"Kalau yang lain belum ada eviden casenya. Jadi tergantung apakah perlu diberikan, harus diteliti dulu," terangnya.


 

Siti berjanji akan meninjau lebih lanjut mengenai jenis-jenis Imunisasi yang dibutuhkan. Menurut informasi yang dihimpun detikcom, terdapat belasan jenis vaksin yang beredar dilapangan. Selain keempat vaksin yang disebut pemerintah ada juga vaksin hepatitis B, pnemonia, vaksin infeksi telinga. (ape/aan)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/03/23/142703/1103757/10/menkes-:-imunisasi-hanya-4

Waspada Flu Burung

Flu Burung

A. PENGERTIAN

Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit ini antara lain avian influenza.

B. DEFINISI KASUS

1. Kasus Suspek

Kasus suspek adalah seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (temp > 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau ber-ingus serta dengan salah satu keadaan;

  • seminggu terakhir mengunjungi petemakan yang sedang berjangkit klb flu burung
  • kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan
  • bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung

2. Kasus "Probable"

Kasus "probable" adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan;

  • bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1), misal : Test HI yang menggunakan antigen H5N1
  • dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonialgagal pernafasan/ meninggal
  • terbukti tidak terdapat penyebab lain

3. Kasus Konfirmasi

Kasus konfirmasi adalah kasus suspek atau "probable" didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium;

  • Kultur virus influenza H5N1 positip
  • PCR influenza (H5) positip
  • Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali
C. GEJALA KLINIS

Gejala klinis yang ditemui seperti gejala flu pada umumnya, yaitu; demam, sakit tenggorokan. batuk, ber-ingus, nyeri otot, sakit kepala, lemas. Dalam waktu singkat penyakit ini dapat menjadi lebih berat berupa peradangan di paru-paru (pneumonia), dan apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik dapat menyebabkan kematian.

D. ETIOLOGI DAN SIFAT

Etiologi penyakit ini adalah virus influenza. Adapun sifat virus ini, yaitu; dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C.

Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit.

Dikenal beberapa tipe Virus influenza, yaitu; tipe A, tipe B dan tipe C. Virus Inluenza tipe A terdiri dari beberapa strain, yaitu; H1N 1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2 dan lain-lain.

Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Viru, strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hal ini terlihat dari basil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus Influenza A (H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu Burung tidak menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia.

E. MASA INKUBASI

Masa inkubasi virus influenza bervariasi antara 1 – 7 hari.

F. SUMBER DAN CARA PENULARAN

Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi diantara populasi unggas satu pertenakan, bahkan dapat menyebar dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Sedangkan penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang Flu Burung. Adapun orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas.

Hal lain, belum ada bukti terjadi penularan dari manusia ke manusia. Disamping itu, belum bukti adanya penularan pada manusia melalui daging unggas yang dikonsumsi.

G. UPAYA PENCEGAHAN

Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan tindakan sebagai berikut :

  • Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata renang)
  • Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus ditatalaksana dengan baik ( ditanam / dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya.
  • Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan
  • Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan
  • Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu 80°C selama 1 menit, sedangkan telur unggas perlu dipanaskan pada suhu 64°C selama 5 menit.
  • Melaksanakan kebersihan lingkungan.
  • Melakukan kebersihan diri.

Sumber : http://www.pppl.depkes.go.id/Wc8858268df7e2.htm

Saturday, March 21, 2009

Flu Burung Berjangkit Kembali

Sabtu, 21 Maret 2009 | 04:07 WIB

Pekanbaru, Kompas - Setelah sempat mereda pada tahun 2008, kasus flu burung kembali muncul di Provinsi Riau. Kali ini di Desa Dundangan, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Riau, ditemukan sampel ayam yang dinyatakan positif tertular virus flu burung.

"Berdasarkan laporan masyarakat, ada ayam yang mati mendadak bersamaan sebanyak 21 ekor pada tanggal 17 Maret kemarin. Petugas kami langsung ke lapangan dan mengambil sampel dua ekor ayam yang mati. Berdasarkan analisis di laboratorium Pekanbaru, ayam yang mati itu positif tertular virus flu burung," ujar HM Zubir Umar, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan, yang dihubungi hari Jumat (20/3).

Zubir mengatakan, sejak penemuan kasus itu, pihaknya lewat tim Participation Disease Surveilance Respon (tim reaksi cepat untuk merespons laporan masyarakat) yang dipimpin oleh drh Mukhlis langsung memberitahukan masyarakat setempat untuk mengambil tindakan terhadap ayam-ayam di daerah itu. Mulai hari Jumat ini masyarakat sudah bersedia untuk memusnahkan unggas peliharaannya sendiri.

"Di Desa Dundangan, ayam masyarakat tidak dipelihara di kandang. Ayam-ayam bebas berkeliaran di mana saja. Kalau hari telah gelap, ayam-ayam itu tidur di pohon-pohon. Kami agak kesulitan melakukan pemusnahan sendiri tanpa bantuan masyarakat. Kami meminta agar unggas yang berada dalam radius 100 meter dari temuan ayam mati kemarin dapat dimusnahkan. Untungnya masyarakat setempat sadar dengan bahaya penyakit flu burung yang dapat menyebabkan kematian pada manusia," ujar Zubir.

Penemuan virus flu burung di Pelalawan pada kuartal pertama tahun 2009 ini, menurut Zubir, adalah yang pertama. Pada tahun 2008, Pelalawan relatif bersih dari flu burung.

Pada 2007 kasus flu burung ditemukan di Kecamatan Bandar Seikijang dan Pangkalan Kuras. Ketika itu sempat ditemukan demam pada seseorang yang diduga tertular virus flu burung, tetapi ketika dites di rumah sakit hasilnya negatif. (SAH)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/21/04072647/flu.burung.berjangkit.kembali.

Tuesday, March 17, 2009

Petunjuk Teknis Tata Naskah Dinas dan Tata Kearsipan Dinamis Dirjen PP & PL Depkes RI

Bahwa untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pokok Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dalam bidang pengelolaan naskah dinas dan kearsipan diperlukan suatu acuan yang dapat dipergunakan oleh seluruh aparatur di Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Berikut ini adalah Petunjuk Teknis Tata Naskah Dinas dan Tata Kearsipan Dinamis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan.

Download Tata Naskah Dinas

Monday, March 16, 2009

Migrasi Unggas Liar Picu Penyebaran H5N1

Flu Burung Juga Ditemukan di Jerman


 

Jakarta, Kompas - Senin, 16 Maret 2009 | 04:01 WIB

Penularan flu burung pada unggas liar di sejumlah negara di dunia terus merebak. Penyebaran virus itu diduga melalui perpindahan tempat atau migrasi burung-burung liar lintas negara. Untuk itu, surveilans aktif mengenai pola migrasi unggas liar perlu digalakkan.

Pemerintah Jerman baru-baru ini menginformasikan kepada Komisi Uni Eropa (UE) mengenai terjadinya outbreak virus flu burung (H5N1). Ini merupakan kasus pertama penularan flu burung pada unggas di UE tahun ini. Outbreak ini ditemukan pada bebek liar yang berada dekat daerah Starnberg di negara bagian Bavaria, Jerman.

"Kasus penularan flu burung pada unggas liar telah beberapa kali terjadi di Eropa," kata Ketua Panel Ahli Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Prof Amien Soebandrio, Sabtu (14/3) di Jakarta. Migrasi burung liar dari kutub utara ke Eropa diduga memicu penyebaran virus itu ke sejumlah negara di Eropa.

Penanganan baik

Temuan tersebut disebabkan negara-negara di Eropa telah menerapkan surveilans aktif secara berkala pada unggas liar maupun unggas di peternakan. Jadi, surveilans tersebut tidak hanya dilakukan setelah ditemukan kasus unggas positif terinfeksi flu burung. "Dengan penanganan yang baik, sampai kini belum ada laporan penularan flu burung dari unggas ke manusia di Eropa," ujar Amien menambahkan.

Dalam pedoman internasional Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang merupakan hasil kesepakatan para pakar dunia bidang veteriner antara lain diatur pencegahan kontak unggas liar dengan unggas di peternakan.

"Bila unggas liar menulari flu burung ke unggas di peternakan, kemungkinan penularan virus itu ke manusia makin tinggi, baik di peternakan maupun di pasar unggas," ujarnya.

Indonesia saat ini terlibat dalam survei global untuk mempelajari pola-pola migrasi unggas liar. Dengan mengetahui pola migrasi itu, asal virus bisa diketahui bila terjadi penularan flu burung pada unggas dan manusia.

"Galur virus di tiap negara berbeda-beda. Jadi, vaksin yang digunakan akan sesuai dengan strain virus sehingga lebih efektif," kata Amien.

Pemantauan aktif

Temuan bebek liar yang terinfeksi flu burung di Jerman merupakan bagian dari program pemantauan atau surveilans aktif UE terhadap penyebaran flu burung di antara burung-burung liar. Jadi, bukan merupakan penyebaran virus. Pemegang otoritas kesehatan hewan Jerman memperkirakan tidak terjadi peningkatan ancaman dari flu burung seiring temuan kasus itu.

"Ini merupakan temuan individual di antara burung-burung liar yang dihitung secara berkala," kata juru bicara The Friedrich Loeffler Institute, lembaga nasional Pemerintah Jerman yang menangani penyakit pada hewan, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters. Sejauh ini, lembaga itu menilai secara keseluruhan ancaman penularan flu burung dari burung liar masih pada level rendah.

Keterlibatan burung terhadap penyebaran virus tersebut hanya pada level kecil dan itu diketahui setelah diuji oleh The Friedrich Loeffler Institute sebagai bagian dari program pemeriksaan nasional pada 5 Maret lalu. Meski burung liar terinfeksi virus, burung itu tidak menunjukkan gejala sakit sehingga dianggap sebagai pembawa virus.

Infeksi virus itu tidak terlihat secara aktif sehingga hewan-hewan yang terinfeksi tidak menjadi sakit. Temuan kasus bebek liar yang terinfeksi flu burung baru- baru ini itu tidak mengubah penilaian risiko secara keseluruhan.

Zona karantina

Kasus outbreak terakhir flu burung pada unggas di UE dideteksi pada Oktober 2008 di negara bagian Saxony, Jerman bagian timur. Dalam kasus temuan flu burung pada bebek liar di Starnberg tahun ini, otoritas setempat memutuskan tidak menerapkan zona karantina di sekeliling wilayah di mana burung yang terinfeksi flu burung.

Tindakan tersebut disetujui Komisi UE karena Jerman dinilai menerapkan upaya perlindungan untuk memastikan virus itu tidak menyebar. Menurut pejabat UE, berdasarkan hasil penilaian risiko, Jerman terus melakukan surveilans aktif di area terkontrol dan di sekeliling tempat ditemukan kasus positif flu burung. Tindakan ini dilakukan untuk menghitung burung liar yang bermigrasi pada Januari 2009.

Ditemukan di Hongkong

Secara terpisah, otoritas Hongkong menemukan kasus ayam yang mati karena terinfeksi virus flu burung.

Pemerintah Hongkong menyatakan, hasil tes laboratorium telah mengonfirmasikan bahwa ayam yang ditemukan membusuk dan mengambang di laut selama sekitar 10 hari ternyata positif terinfeksi virus mematikan H5N1.

Otoritas Hongkong juga mengumumkan pada 6 Maret 2008 seekor bangkai ayam yang ditemukan di lokasi yang sama juga terinfeksi H5N1.

Padahal, tidak ada peternakan ayam dalam batas 3 kilometer dari lokasi ditemukannya ayam mati itu. Para peternak sudah diperingatkan agar meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap kemungkinan penyebaran virus flu burung tersebut.

Hongkong dilaporkan sebagai tempat pertama kali ditemukannya kasus flu burung di dunia yang menjangkiti manusia pada 1997 ketika enam orang meninggal dunia. Bersamaan dengan itu, sejumlah unggas dari berbagai wilayah di Hongkong setelah dites ternyata positif H5N1.

Pada Desember 2008 Otoritas Hongkong menemukan virus H5N1 pada seekor ayam di sebuah peternakan di Hongkong dan segera memusnahkan lebih dari 90.000 unggas. (EVY/AFP/LOK)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/16/04013374/migrasi.unggas.liar.picu.penyebaran.h5n1

Thursday, March 5, 2009

Meningococcal disease in Nigeria - update

4 March 2009 -- The Ministry of Health of the Federal Republic of Nigeria has reported 5 323 suspected cases of meningococcal disease including 333 deaths (case-fatality rate: 6.3%) from 1 January to 22 February 2009. Suspected cases have been reported from 22 of 37 states. So far 89 Local Government Area's (LGA) across 12 states have crossed the alert or the epidemic threshold. In the last week alone, 1 817 suspected cases including 105 deaths (case-fatality rate: 5.8%) have been reported, with 28 LGAS crossing the epidemic threshold, and 29 the alert threshold.

Cerebrospinal fluid specimens collected from Gombe, Jigawa, Kano and Katsina states have tested positive for Neisseria meningitidis serogroup A by latex test and/or culture. The International Coordinating Group (ICG) on Vaccine Provision for Epidemic Meningitis Control has approved the release of 1,010,000 doses of polysaccharide vaccine for mass vaccination campaigns in affected LGAs of Jigawa and Katsina states. Immunization campaigns will be implemented by Federal and National Ministry of Health with the support of WHO and partners, including the European Commission Humanitarian Aid Department (ECHO), Médecins sans Frontières and UNICEF.

Given the large population at risk, the early start of epidemics, and current moderate global vaccine levels, a sound vaccination strategy is of particular importance. WHO is supporting the Federal and National Ministry of Health in the assessment of vaccine needs. WHO is also providing technical and material support to the Ministry of Health to strengthen epidemiological and laboratory surveillance, including provision of laboratory confirmation supplies.

http://www.who.int/csr/don/2009_03_04/en/index.html

Batam Diincar untuk Pembuangan Limbah

Kamis, 5 Maret 2009 | 05:18 WIB

Batam, Kompas - Wali Kota Batam Ahmad Dahlan mengungkapkan, Batam telah menjadi salah satu tempat incaran untuk pembuangan limbah. Oleh karena itu, ia meminta investor dan pejabat pemerintah daerah di Batam tidak ikut mendukung upaya pembuangan limbah, khususnya limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3.

"Banyak individu atau pengusaha yang mengincar Batam untuk membuang limbah," kata Ahmad Dahlan di sela-sela Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kota Batam di Batam, Rabu (4/3).

Menurut Dahlan, tahun 2004 limbah B3 yang diimpor PT Apel dalam jumlah yang besar juga pernah masuk ke Batam. "Kita mempunyai pengalaman buruk pada waktu PT Apel memasukkan limbah," katanya.

Seperti diberitakan, majelis hakim Pengadilan Negeri Batam menjatuhkan hukuman enam bulan penjara kepada Rudi Alfonso, Direktur PT Asia Pasific Eco Lestari, terdakwa perkara impor 1.149 ton limbah bahan berbahaya dan beracun dari Singapura (Kompas, 9/6/2006).

Menurut Ahmad Dahlan, peluang memasukkan limbah ke wilayah Pemerintah Kota Batam sangat besar mengingat di Batam terdapat pulau-pulau kecil.

"Limbah dimasukkan sesuai prosedur. Namun, prosedurnya bisa legal dan bisa juga tidak legal," katanya.

Ahmad Dahlan menegaskan, pihaknya juga akan memeriksa staf Kantor Bapedal Kota Batam, Muhammad Raden, yang diundang PT Jace Octavia Mandiri (PT JOM) ke Korea Selatan untuk mengimpor pasir besi (ferro sand) sebanyak 3.800 ton ke Batam. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, pasir besi itu dinyatakan sebagai limbah B3.

"Saya akan mengecek lagi apakah betul staf Bapedal ikut ke Korea atau tidak," kata Ahmad Dahlan. Jika betul, Ahmad Dahlan mempertanyakan apakah kepergian itu atas tugas atau perintah atasan atau tidak.

"Kedua, apakah staf itu memiliki kewenangan untuk memastikan limbah atau tidak," katanya.

Kepala Bapedal Kota Batam Dendi Purnomo mengungkapkan, tim penyidik dari Kantor Menneg Lingkungan Hidup telah meminta penetapan Pengadilan Negeri Batam untuk menyita pasir besi yang diduga limbah B3 dan diimpor PT JOM. (FER)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/05/05183663/batam.diincar.untuk.pembuangan.limbah


 

Tuesday, March 3, 2009

4 Indonesians die from bird flu, death toll climbs 119

Tuesday, 03 March 2009 09:25

Four Indonesians died from bird flu in February, bringing the country's total death toll from the disease to 119, officials said

Four Indonesians died from bird flu in February, bringing the country's total death toll from the disease to 119, officials at the national bird flu commission said on Tuesday.

"There were four cases and all four died in February," said Bayu Krisnamurthi, head of the national bird flu commission.

Indonesian newspaper Republika also reported on Tuesday that two more deaths from the disease occurred at the weekend near the capital Jakarta -- a 5-year-old girl from Depok, and an 8-year-old boy from Bekasi.

The national commission said that samples were being tested in Jakarta to verify the cause of death in both cases.

Indonesia, which has stopped publishing updates of bird flu deaths immediately after they occur, has the highest toll from the disease of any nation.

Experts fear that the virus might mutate into a form easily passed from human to human, sparking a pandemic which could kill millions.

Source : Reuters

Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/(H5N1) Reported to WHO

Wednesday, February 25, 2009

Mengintip Peluang Asas Cabotage

By Jagad Ananda

INILAH.COM, Jakarta - Mulai 1 Januari 2010, pengangkutan batubara dan migas di dalam negeri hanya diperkenankan memakai kapal berbendera Indonesia. Ini merupakan peluang bagi maskapai dalam negeri.

Soalnya, armada yang dibutuhkan untuk menggantikan peran kapal-kapal asing selama ini, cukup banyak. Untuk mengangkut minyak dan gas saja misalnya, saat ini, Pertamina masih memakai 56 kapal asing sewaan.

Untuk membeli kapal pengganti sebanyak itu, jelas, bukan perkara mudah dan murah,. Jika sebuah kapal tanker berusia 10 tahun harganya sekitar US$ 40 juta saja, berarti dibutuhkan dana sebesar US$ 2,240 miliar.

Itu sebabnya, untuk mendukung pengadaan kapal pengangkut yang memadai, manajemen Pertamina pimpinan Galaila Karen Kardinah berjanji akan memberikan kontrak pengangkujtan jangka panjang.

Jika selama ini, Pertamina menyewa kapal dengan periode tiga bulanan, kelak akan diperpanjang menjadi lima tahun. Tujuannya, dengan adanya jaminan kontrak, perusahaan pelayaran nasional bisa lebih mudah memperoleh dana pembiayaan dari perbankan.

Kalau Pertamina sudah punya rencana pengadaan armada yang jelas, entah apa yang akan dilakukan perusahaan pertambangan batubara. Sebab, kebutuhan sarana angkutan di industri ini juga sangat besar dan sebagian masih memakai kapal-kapal berbendera asing.

Menurut perhitungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, hingga 2010 Indonesia sedikitnya membutuhkan 390 kapal baru/bekas untuk mengangkut batubara di dalam negeri.

Maklum, produksi hasil tambang ini, setiap tahunnya terus meningkat dengan signifikan. Jika di 2009 ini produksi batubara diprediksi mencapai 75 juta ton, maka tahun depan diperkirakan bakal mencapai 90 juta ton. [E1]

Sumber : http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2009/02/25/86441/mengintip-peluang-asas-cabotage/

Tuesday, February 24, 2009

Outbreak Update

Most recent news items

20 February 2009
Cholera in Zimbabwe - update 2

19 February 2009
Meningococcal disease in Nigeria

18 February 2009
Avian influenza – situation in Viet Nam - update 2

17 February 2009
End of Ebola outbreak in the Democratic Republic of the Congo

Saturday, February 21, 2009

Susahnya Menjinakkan Anjing Gila

Penularan penyakit rabies atau penyakit anjing gila kian merebak. Bali yang selama puluhan tahun bebas rabies tak luput dari serangan virus mematikan ini.

Pemerintah Kabupaten Badung telah memvaksin 20.000 anjing peliharaan dan mengeliminasi sedikitnya 1.300 anjing liar di seluruh Badung. Vaksinasi tahap kedua akan digelar mulai awal Maret mendatang.

Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Badung I Made Badra,di Denpasar, Jumat (20/2), mengungkapkan, aparat bersama masyarakat terus menyisir desa di kawasan Badung, terutama di Kecamatan Kuta Selatan dan Kuta, memastikan jumlah anjing liar mendekati nol.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengakui, Indonesia belum berhasil mengeradikasi penyakit yang sumber penularannya dari binatang (zoonosis) itu.

Dalam lima tahun terakhir, rata-rata jumlah penduduk yang digigit anjing lebih dari 15.000 orang di 24 provinsi di Tanah Air. Jumlah penderita rabies ratusan orang per tahun dan sebagian besar meninggal dunia.

Tahun 2008, jumlah kasus gigitan anjing 14.106 orang, 9.565 orang mendapat vaksin serta obat-obatan, penderita rabies 85 orang. "Di Bali, lebih dari 1.700 kasus orang digigit anjing beberapa bulan ini," kata Tjandra.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor I Wayan T Wibawan memaparkan, meluasnya rabies ini disebabkan tidak terkendalinya populasi anjing liar.

"Ini terjadi karena lemahnya sistem deteksi dini dan evaluasi periodik," kata Wibawan. Di Indonesia mayoritas kasus rabies ditularkan oleh anjing. Rabies juga dapat ditularkan kucing, kelelawar, musang, dan kera.

"Survei serologi untuk mengetahui antibodi pada hewan yang menjadi sumber penularan seharusnya dilakukan periodik. Sayang ini tidak dilakukan karena belum prioritas pemerintah," ujarnya.

Pengamat masalah kesehatan hewan, Mangku Sitepu, menilai ada beberapa faktor yang mendorong meluasnya penyebaran rabies di Indonesia. Salah satunya adalah lemahnya pengendalian sumber penularan.

Di Bali, misalnya, penyebaran rabies terjadi karena masuknya anjing-anjing ras ke sana. Mobilitas penduduk ikut mendorong penyebaran rabies misalnya kedatangan nelayan dari Nusa Tenggara Timur yang endemik rabies ke Bali dengan membawa anjing.

Menurut Mangku, belakangan ini Bali makin terbuka terhadap migrasi anjing-anjing dari berbagai tempat. "Dulu anjing- anjing ras tidak boleh masuk. Sekarang penyelundupan anjing ras banyak," katanya.

Ia mengatakan, seharusnya semua anjing di daerah endemik divaksinasi antirabies. Anjing yang habis menggigit orang harus segera dibawa ke dokter hewan, diperiksa apakah terjangkit rabies atau tidak. Petugas perlu memantau anjing itu karena hewan yang rabies biasanya sakit dan mati dalam dua pekan setelah terinfeksi.

Sulit diobati

Pada manusia, rabies mengancam keselamatan jiwa penderita. Sebagian besar yang terinfeksi meninggal dunia. Angkanya 90 persen. Demikian kata Prof Herdiman Pohan, Staf Divisi Penyakit Infeksi dan Tropik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Penyakit ini disebabkan virus rabies yang akibatkan gangguan pada susunan saraf pusat. Masa inkubasi dari satu hari sampai satu tahun. Bila luka gigitan berada di leher dan kepala, serangan kian akut. Gejalanya, demam tinggi, kejang-kejang otot, mulut berbusa, fotopobia atau takut cahaya, tingkat kesadaran menurun, dan berteriak-teriak.

Cara efektif mencegah penularan adalah menghindari gigitan anjing. Selain itu, ada vaksin untuk membentuk antibodi terhadap virus itu. Masalahnya, vaksin itu juga bisa menimbulkan efek samping berupa meningitis dan gejala seperti rabies.

Bila terkena gigitan anjing, seseorang dianjurkan segera ke rumah sakit. Luka bekas gigitan dibersihkan dengan sabun. Pemberian obat merah atau yodium tincture tak bermanfaat karena virus telah masuk dalam darah.

Jika baru terkena gigitan, pemberian vaksin antirabies diharapkan bisa membentuk antibodi yang bisa mengalahkan virus agar tidak menyebar ke saraf otak. Bila sudah parah, vaksinasi mempercepat perburukan pada pasien.

Penderita harus diisolasi karena bisa menularkan. "Belum ada obat yang bisa membunuh virus itu. Yang bisa dilakukan, mengobati gejalanya misal, memberi obat antikejang, obat mengatasi infeksi sekunder, dan obat penenang," kata Herdiman. (EVY/BEN)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/21/00354189/susahnya.menjinakkan.anjing.gila

Friday, February 20, 2009

Rabies Menyebar Lagi

Ditemukan Kasus di 24 Provinsi, 14.106 Orang Digigit Anjing

Jumat, 20 Februari 2009 | 00:47 WIB

Jakarta, Kompas - Penyebaran rabies atau dikenal sebagai penyakit anjing gila terus meluas. Saat ini ditemukan kasus rabies di 24 provinsi dan hanya sembilan provinsi di Tanah Air yang dinyatakan bebas penyakit rabies.

Bila tidak segera ditangani, penularan penyakit rabies bisa berakibat fatal bagi penderitanya, bahkan menyebabkan kematian.

"Karena penularannya melalui gigitan anjing, pengendalian penyakit ini dilakukan Departemen Pertanian bersama dengan Departemen Kesehatan," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama saat dihubungi Kamis (19/2) di Jakarta.

Depkes menyebutkan, sembilan provinsi yang tidak ditemukan kasus rabies atau bebas rabies yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat. "Sebelum ada kasus, Bali termasuk bebas rabies," ujarnya.

Dalam lima tahun terakhir, kasus rabies di Indonesia muncul di sejumlah provinsi. Pada tahun 2008 ada 14.106 orang digigit anjing, 9.565 orang mendapat vaksin dan pengobatan, serta 85 orang positif terkena rabies.

Di Provinsi Bali, sejak Mei 2008 sampai kini jumlah penduduk yang digigit anjing lebih dari 1.700 orang, sebanyak 1.613 orang diberi vaksin dan obat, sedangkan satu orang menderita rabies.

Ditularkan anjing

Penyakit ini disebabkan virus rabies yang mengakibatkan gangguan pada susunan saraf pusat (SSP). Gejalanya antara lain demam dan kejang-kejang otot. Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah anjing dan binatang-binatang liar seperti kera dan kelelawar.

"Di Indonesia, sekitar 98 persen kasus rabies ditularkan oleh anjing," kata Tjandra.

Dari Kabupaten Garut, Jawa Barat dilaporkan, sebanyak 270 ekor anjing liar telah dieliminasi serta 215 ekor anjing peliharaan divaksinasi di empat desa di Kecamatan Mekarmukti. Langkah tersebut dilakukan menyusul munculnya kasus gigitan seekor anjing terhadap tujuh warga setempat pada bulan Januari 2009.

Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Garut Hermanto mengatakan, dalam dua bulan terakhir terjadi dua kasus gigitan anjing terhadap manusia. Kasus pertama di Kecamatan Mekarmukti pada Januari 2009 seekor anjing berumur satu tahun menggigit tujuh orang. Kasus kedua terjadi di Kecamatan Karangpawitan seekor anjing menggigit 11 orang. (EVY/ADH)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/20/00472773/rabies.menyebar.lagi

Indonesia Termasuk Negara Endemik Hepatitis B


 

Penulis : Eriez M Rizal

BANDUNG--MI: Indonesia termasuk negara endemik hepatitis B dengan jumlah yang terjangkit antara 2,5% hingga 36,17% dari total jumlah penduduk.

Mahalnya vaksin menjadi pemicu bertambahnya jumlah warga yang terjangkit virus tersebut.

Direktur Utama PT Bio Farma Isa Mansyur, Kamis (12/2), mengatakan langkah awal untuk mengantisipasi merebaknya virus tersebut pihaknya akan melakukan vaksinasi gratis kepada pelajar tidak mampu.

"Setidaknya dengan kegiatan ini (vaksinasi gratis), penyebaran hepatitis B di Indonesia bisa diminimalisasi," katanya pada acara Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) yang melibatkan tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertajuk PKBL Jawa Barat Peduli Kesehatan di Gedung Serbaguna Kantor PT Bio Farma, Badung.

Ke-7 BUMN yang turut serta dalam pencanangan tersebut yaitu PT Bio Farma, PTPN VIII, PT Jamsostek, Perum Jasa Tirta II, PT Angkasa Pura II, dan Industri Sandang Nusantara dan Bank BRI.

Ia mengatakan, sekarang kesadaran orang tua dalam memberikan vaksin kepada anak cukup tinggi. Namun yang menjadi kendala masih mahalnya harga vaksin, sehingga mereka membiarkan anaknya terkena virus tersebut. "Padahal, pemberian vaksin bisa mencegah terjadinya penularan hepatitis B," jelasnya.

Vaksin Hepatitis B gratis rencananya akan diberikan pada 5.000 siswa sekolah menengah atas (SMA) dengan alokasi dana sekitar Rp1 miliar. Untuk tahap awal vaksinasi Hepatitis B diberikan secara gratis pada 780 siswa dari 16 SMA dengan nilai Rp156 juta. (EM/OL-01)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NjA0NTk=

Tuesday, February 10, 2009

Sunday, February 8, 2009

PELANTIKAN ESELON III DAN IV KKP KELAS I MEDAN

Setelah menunggu beberapa lama, Pelantikan eselon III dan IV di lingkungan Depkes RI dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 4 Feruari 2009 bertempat d Balai Kartini Jl. Gatot Subroto. Pelantikan dilaksanakan oleh Sekretaris Jenderal Depkes RI Dr. H. Sjafii Ahmad, MPH dan dihadiri oleh seluruh pejabat eselon I, para sesdit, pejabat eselon II dan para Eselon II Kepala UPT di lingkungan Depkes RI.

Jumlah Pejabat yang diundang mengikuti acara pelantikan sekitar 830 orang yang berasal dari Unit Utama DEPKES dan Unit Pelaksana Teknis DEPKES di Daerah.

Pejabat yang dilantik Pada KKP Kelas I Medan terdiri dari:

Pejabat Eselon III

  1. Dr. H. Masrip Sarumpaet, M.Kes : sebagai Kepala Bidang Pengendalian Karantina dan SE
  2. Musa Tarigan : sebagai Kepala Bidang Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah
  3. Nuryanto, SKM., MARS : sebagai Kepala Bidang Pengendalian Risiko Lingkungan

Pejabat Eselon IV

  1. Drs. Eddyzar Syah : sebagai Kepala Subbagian Keuangan dan Umum
  2. Drs. Syarifuddin Saragih : sebagai Kepala Subbagian Program dan Laporan
  3. Ismail Bakhri, S.Si : sebagai Kepala Seksi Pengendalian Karantina
  4. Nurul Azman, SKM : sebagai Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi
  5. Dr. Ziad Batubara : sebagai Kepala Seksi Kesehatan Matra dan Lintas Wilayah
  6. Dr. Aryanti : sebagai Kepala Seksi Pencegahan dan Pelayanan Kesehatan
  7. Masdar Ginting, SKM., M.Kes : sebagai Kepala Seksi Sanitasi dan Dampak Risiko Lingkungan
  8. Friska Erlina Simamora, SKM : sebagai Kepala Seksi Pengendalian Vektor dan Binatang Penular Penyakit

Para pejabat yang dilantik Pada KKP Kelas I Medan terdiri dari : 1 (satu) orang berasal dari UPT Dinas Kesehatan Provinsi SUMUT, 6 (enam) orang berasal dari pejabat fungsional, 2 (dua) orang koordinator wilker, 3 (tiga) orang adalah pejabat eselon IV KKP Kelas II Medan yang mendapat promosi menjadi Eselon III yaitu Kasi KARSE, Kasi UKP dan Kasi PRL.

Kasi PRL KKP Kelas II Medan mendapat promosi menjadi kepala kantor dan menempati pos baru di KKP Dumai, sedangkan Pejabat Kasubbag Tata Usaha KKP Kelas II Medan menempati pos baru sebagai Kasubbag Keuangan dan Umum KKP Kelas I Medan)

Selamat berkarya untuk bangsa dan negara.

Foto bersama usai makan siang : dari kiri kanan Ismail Bakri, Kostan Sidauruk, Nurul Azman, Nuryanto, Masrip Sarumpaet, Masdar Ginting, Friska Erlina Simamora dan Syarifuddin Saragih

Thursday, January 29, 2009

Korban Meninggal Akibat Kolera di Zimbabwe Tembus 3.000 Jiwa

Wabah kolera benar-benar menggila di Zimbabwe. Data terakhir dari World Health Organization (WHO) menyebutkan lebih dari 3.000 warga Zimbabwe meninggal akibat terserang wabah tersebut.

WHO juga melansir wabah kolera telah menginfeksi 57.000 penduduk lainnya di negara tersebut. Ini merupakan kejadian terburuk di benua Afrika dalam 15 tahun terakhir.

Seperti dikutip dari reuters, Rabu (28/1/2008), wabah kolera menyebar saat negara tersebut dilanda pertikaian antarpartai politik. Pemimpin setempat memutuskan pemerintah Zimbabwe bersatu harus dibentuk bulan depan untuk menanggulangi krisis itu.

WHO menunjukkan, terjadi peningkatan angka kematian sebesar 57 jiwa pada Selasa 27 Januari. Jumlah penderita kolera juga bertambah sebanyak 1.579 pasien pada hari itu.

Pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai mengatakan setuju untuk bersatu dengan pemerintahan Presiden Robert Mugabe, meskipun dia melalui Movement for Democratic Change (MDC) kecewa dengan hasil pertemuan.

Kendati demikian, pengurus MDC berharap adanya pembahasan lebih lanjut bagaimana proses penanganan wabah kolera yang mengganas di Zimbabwe.

"Ini adalah keputusan bersejarah yang kami buat," kata Tsvangirai di Harare.

(irw/lrn)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/01/29/053153/1075909/10/korban-meninggal-akibat-kolera-di-zimbabwe-tembus-3.000-jiwa

Thursday, January 15, 2009

Negara-Negara Maju Setujui Benefit Sharing Flu Burung

JAKARTA--MI: Negara-negara maju akhirnya menyetujui benefit sharing dalam rangka mekanisme baru virus sharing flu burung dalam sidang antarpemerintah tentang penanganan flu burung yang berlangsung di Jenewa.

Sidang ini juga dihadiri Menteri Kesehatan Sisti Fadillah Supari yang didampingi penasehat hubungan internasional Depkes Makarim Wibisono. Pertemuan internasional ini diselenggarakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan dalam siaran persnya, Sabtu (10/1), menyebutkan pertemuan ini telah menghasilkan kemajuan-kemajuan yang penting atau signifikan. Wakil Ketua Delegasi Indonesia dr Widjaja Lukito mengatakan kemajuan ini antara lain mencakup masalah transfer virus .

"Pencapaian utama yang diraih dalam The Intergovernmental Meeting on Pandemic Influenza Preparedness atau IGM-PIP adalah disetujuinya penggunaan Standard Material Transfer Agreement (SMTA) dalam sistem virus. SMTA adalah dokumen yang akan mengatur semua transfer virus yang berbentuk standar universal dan mempunyai kekuatan hukum ," kata Widjaja Lukito.

Sementara itu, penasehat hubungan internasional Depkes Makarim Wibisono menyatakan bahwa sekalipun naskah persetujuan belum sepenuhnya disetujui dan masih menyisakan sejumlah masalah untuk dipecahkan namun terobosan yang penting telah tercapai. (Ant/OL-01)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTUyODk=

Sunday, January 4, 2009

Ebola haemorrhagic fever in the Democratic Republic of the Congo - update

2 January 2009 -- The Ministry of Health of the Democratic Republic of the Congo (DRC) is continuing to respond to the ongoing outbreak of Ebola haemorrhagic fever in the Mweka health zone, Province of Kasai Occidental with the support of a wide range of international partners.

As of 31st December there has been a total of 3 laboratory-confirmed cases of Ebola haemorrhagic fever. WHO is aware of 36 additional suspected cases including 12 deaths associated with this outbreak. A further 184 contacts have been identified and are being followed up.

Laboratory analysis was undertaken at the the Institut National de Recherches Biomédicales (INRB) in Kinshasa , DRC , the Centre International de Recherches Médicales de Franceville (CIRMF), Gabon, and the National Institute for Communicable Diseases (NICD), South Africa.

The WHO Country Office, Regional Office and Headquarters are supporting the MoH in Kinshasa, in Kananga and in the field at the location of the outbreak. WHO has deployed five vehicles to the field and has sent outbreak response equipment and medical supplies. The local health authorities in the affected area are working closely with social mobilization experts to develop key information messages for the local communities.

The international response to the outbreak includes partners from Caritas (Belgium), the Congolese Red Cross (DRC) , Médecins Sans Frontières (Belgium), UNICEF, the United Nations Organization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUC), and the World Food Programme (WFP) .

http://www.who.int/csr/don/2009_01_02/en/index.html


 

Wednesday, December 31, 2008

Ebola haemorrhagic fever in the Democratic Republic of the Congo

26 December 2008 -- The Ministry of Health (MoH) of the Democratic Republic of the Congo declared on 25 December an outbreak of Ebola haemorrhagic fever in Mweka District, Kasai Occidental province based on laboratory results from the Centre International de Recherches Médicales de Franceville (CIRMF) in Gabon. CIRMF confirmed the presence of Ebola virus in 2 samples from 2 of the patients in the outbreak by antigen detection. In addition, laboratory tests conducted by Institut National de Recherches Biologiques (INRB) in Kinshasa, also confirmed the presence of Shigella.

As of 26 December, WHO is aware of 34 suspected cases including 9 deaths (CFR 26%) associated with the ongoing event. Additional samples have been collected and are en route to INRB.

The WHO Country Office, Regional Office and Headquarters are supporting the MoH in Kinshasa and in the field at the location of the outbreak. In addition, the WHO Country Office is supporting the operational costs of the investigation and response teams and has deployed four vehicles to the field. Additional staff, outbreak response equipment and supplies, including Personal Protective Equipment (PPE), are also being sent to the area. An enhanced team of national and international experts is being mobilized to implement control strategies for Ebola haemorrhagic fever and to support outbreak field response in the province.

WHO is working together with laboratory partners to provide comprehensive laboratory services, and to support the MoH in the control and investigation of the outbreak.

WHO is unaware of any reports signaling the international spread of disease and advises against the application of any travel or trade restrictions upon the Democratic Republic of the Congo .

Cholera in Zimbabwe

As of 25 December 2008, a total of 26 497 cases, including 1 518 deaths, have been reported by the Ministry of Health in Zimbabwe. Cases are now being reported from all 10 of the country's provinces. Harare, particularly Budiriro suburb in the south west, accounts for the majority of cases, followed by Beitbridge in Matabeleland South and Mudzi in Mashonaland East. The current outbreak is the largest ever recorded in Zimbabwe and is not yet under control. In fact, the epidemiological week ending 20 December saw over 5 000 new cases - an increase in the number of weekly cases relative to previous weeks - and an increase in deaths outside treatment/health centres.

The overall Case Fatality Rate (CFR) has risen to 5.7% - far above the 1% which is normal in large outbreaks - and in some rural areas it has reached as high as 50%. Mortality outside of healthcare facilities remains very high. This is a clear indication that better case management and access to healthcare is needed - in particular an increased use of oral rehydration therapy with Oral Rehydration Salts in communities very early after onset of the disease.

The outbreak has taken on a subregional dimension with cases being reported from neighboring countries. In South Africa as of 26 December, 1 279 cumulative cases and 12 deaths (CFR of 0.9%) had been recorded, with the bulk of the cases (1 194) in the Limpopo area. Cases have also been reported in Botswana (Palm Tree).

The current situation is closely linked to the lack of safe drinking water, poor sanitation, declining health infrastructure, and reduced numbers of healthcare staff reporting to work. Other current risk factors include the commencement of the rainy season and the movement of people within the country, and possibly across borders, during the Christmas season. WHO, together with the Ministry of Health and partners from the health and Water and Sanitation clusters, has established a cholera outbreak response coordination unit in order to strengthen the reporting and early detection of cases, improve the response mechanism and access to healthcare and ensure proper case management. WHO has also deployed experts in public health, water and sanitation, logistics and social mobilization. In light of the extent and pace of expansion of the outbreak, reinforcing all control activities across the country is critical.

Given the current dynamic of the outbreak and the context of the collapsed health system, a cholera vaccination is not recommended. Moreover, the use of the internationally available WHO prequalified oral cholera vaccine is not recommended once an outbreak has started due to its 2-dose regimen and the time required to reach protective efficacy, high cost and the heavy logistics associated to its use. The use of the parenteral cholera vaccine has never been recommended by WHO due to its low protective efficacy and the occurrence of severe adverse events.

In controlling the spread of cholera WHO does not recommend any special restrictions to travel or trade to or from affected areas. However, neighboring countries are encouraged to reinforce their active surveillance and preparedness systems. Mass chemoprophylaxis is strongly discouraged, as it has no effect on the spread of cholera, can have adverse effects by increasing antimicrobial resistance and provides a false sense of security.

Source : WHO

Sunday, December 21, 2008

Operasional Pelayanan Kesehatan Jemaah Calon Haji Sampai dengan 6 Desember 2008


Penyelenggaraan Operasional Pelayanan Kesehatan Haji Indonesia Th.1429 H/2008 M telah melakukan pengamatan fisik dan dokumen kesehatan sebanyak 175.350 orang dari berbagai embarkasi, JKG (14.982 orang), MES (8.078 orang), SUB (31.632 orang), UPG (12.657 orang), BPN (5.955 orang), SOC (30.710 orang), BTJ (3.635 orang), JKS (36.300 orang), BTH (9.711 orang), BDJ (3.555 orang), MTR (4.911 orang), PDG (7.112 orang), PLM (6.023 orang), GTO (89 orang).

Tes kehamilan terhadap wanita usia subur sebanyak 20.619 orang. Dari hasil pemeriksaan, diketahui positif hamil 22 orang, Medan (1 orang), Surabaya (3 orang), Ujung Pandang (3 orang), Balik Papan (2 orang), Jakarta Bekasi (6 orang), Banda Aceh (2 orang), Banjarmasin (3 orang), Mataram (2 orang).

Demikian informasi yang diperoleh Pusat Komunikasi Publik dari Direktorat Surveilens, Epidemiologi, Imunisasi dan Kesehatan Matra Depkes berdasarkan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) 6 Desember 2008.

Jemaah calon haji yang berobat jalan di poliklinik asrama haji sebanyak 9.572 orang, JKG (182 orang), MES (543 orang), SUB (1.259), UPG (840 orang), BPN (256 orang), SOC (1.912 orang), BTJ (153 orang), JKS ( 1.840 orang), BDJ (226 orang), MTR (400 orang), PDG (1.321 orang), PLM (637 orang) dan GTO (3 orang).

Sedangkan jumlah kunjungan berobat jalan jemaah calon haji Indonesia yang dilaporkan dari Siskohatkes Arab Saudi sebanyak 375.546 orang, tertinggi di Makkah (333.401 orang), Madinah (28.140 orang) dan Jeddah (14.005 orang).

Pelayanan rawat inap pada jemaah calon haji, baik yang pernah dirujuk maupun yang di rawat di Rumah Sakit rujukan embarkasi haji tercatat 294 orang. Tertinggi di SOC (156 orang), SUB (89 orang), PLM (14 orang), JKG (12 orang), UPG (5 orang), BPN (5 orang), MES (4 orang), JKS, BDJ dan MTR (masing-masing 3 orang).

Sedangkan untuk jemaah calon haji Indonesia yang dirawat di Arab Saudi sebanyak 116 orang di Makkah, BPHI (61 orang), SUB BPHI (5 orang), dan RS Arab Saudi (50 orang).

Penyakit yang paling banyak diderita adalah penyakit sistem sirkulasi sebanyak 22,89%, penyakit sistem pernapasan (19,84%), penyakit sistem pencernaan (16,86%), penyakit sistem otot tulang dan jaringan penyambung (14,08%), penyakit Endokrin Nutris dan Metabolik (8,36%) serta penyakit sistem syaraf (1,49%) sedangkan yang terkecil adalah penyakit neoplasma 0,01%.

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3253

Avian influenza - situation in Egypt

The Ministry of Health and Population of Egypt has announced a new human case of avian influenza A(H5N1) virus infection. The case is a 16-year-old female from Assuit Governorate, Upper Egypt whose symptoms began on 8 December 2008. She was initially hospitalized at the district hospital on 11 December and then transferred to the Assuit University Hospital on 13 December where she died on 15 December. Infection with the H5N1 avian influenza virus was diagnosed by PCR at the Egyptian Central Public Health Laboratory and subsequently confirmed by the US Naval Medical Research Unit No. 3 (NAMRU-3) laboratories on 15 December 2008. Investigations into the source of her infection indicate a recent history of contact with sick and dead poultry.

Of the 51 cases confirmed to date in Egypt, 23 have been fatal.

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN