SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Tuesday, March 24, 2009

Cholera in Zimbabwe

23 March 2009 -- In Zimbabwe, the situation with the current cholera outbreak is improving. In the week ending 14 March 2009, 2 076 cases were reported. While this number is still high, it compares to 3 812 cases in the immediately-preceding week and over 8000 cases per week at the beginning of February. The weekly Case Fatality Rate has also decreased from its peak of near 6% in January and, while still too high, stood at 2.3% for the week ending 14 March. While data collection and verification remain a challenge throughout the country with the effect that weekly statistics are not always accurate or complete, the overall trend over the last 2 months is of a decreasing number of cases and deaths.

Moreover, the Case Fatality Rate in Cholera Treatment facilities has decreased to 0.8% in the week of 1-7 March, the last week for which accurate statistics of this measure exist. This is below the acceptable level of 1%. The percentage of deaths occurring in the community, outside of Cholera Treatment facilities, remains high but has declined to 33% from 62%.

As of 17 March, 91 164 cases with 4 037 deaths had been reported since the beginning of the current outbreak in August 2008.

Cases have decreased in all provinces. On the other hand, cases reported are increasing again in and around the capital, Harare. The risk of the outbreak restarting in those areas of the country is real. The need to remain vigilant and to continue and reinforce the control measures already in place is paramount.

The World Health Organization and its Global Outbreak Alert and Response Network (GOARN) partners have a sizeable team working out of the national Cholera Command and Control Centre ("C4") in Harare. The objective of the cholera control measures in the coming days is to extend the operations of the C4 to Regional and District level. GOARN partners working with the Ministry of Health of the Government of Zimbabwe and WHO include the International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh; Burnet Institute in Australia; the London School of Hygiene and Tropical Medicine and Health Protection Agency in the UK; US Centers for Disease Control and Prevention; and the National Board of Health and Welfare, Sweden. Nongovernmental organizations such as Médecins sans Frontières, the Red Cross and others have been key in treating patients across the country at a time when many health facilities were not fully functional.

Sorce : http://www.who.int/csr/don/2009_03_23/en/index.html

Monday, March 23, 2009

Menkes : Imunisasi Hanya 4

Oleh : Aprizal Rahmatullah - detikNews


 

Jakarta - Banyaknya jenis vaksinasi bagi balita (bayi lima tahun) membuat masyarakat bingung. Untuk mengatasi hal ini, Departemen Kesehatan telah menentukan hanya ada empat imunisasi dasar yang wajib dilakukan.


 

"Yaitu BCG, Polio, DPT, dan Campak," kata Menteri Kesehatan Fadillah Supari usai acara Revitalisasi Program Bantuan Alat Kesehatan Balloon dan Stent Bagi Masyarakat, di RS Harapan Kita, Jl S. Parman, Slipi, Jakarta Barat, Senin (23/3/2009).


 

Siti menjelaskan, keempat vaksinasi tersebut sudah teruji dari segi ilmu pengetahuan sehingga dibutuhkan bagi setiap manusia. Sedangkan vaksin jenis lainnya belum bisa dikategorikan suatu kebutuhan/keharusan.


 

"Kalau yang lain belum ada eviden casenya. Jadi tergantung apakah perlu diberikan, harus diteliti dulu," terangnya.


 

Siti berjanji akan meninjau lebih lanjut mengenai jenis-jenis Imunisasi yang dibutuhkan. Menurut informasi yang dihimpun detikcom, terdapat belasan jenis vaksin yang beredar dilapangan. Selain keempat vaksin yang disebut pemerintah ada juga vaksin hepatitis B, pnemonia, vaksin infeksi telinga. (ape/aan)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/03/23/142703/1103757/10/menkes-:-imunisasi-hanya-4

Waspada Flu Burung

Flu Burung

A. PENGERTIAN

Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit ini antara lain avian influenza.

B. DEFINISI KASUS

1. Kasus Suspek

Kasus suspek adalah seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (temp > 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau ber-ingus serta dengan salah satu keadaan;

  • seminggu terakhir mengunjungi petemakan yang sedang berjangkit klb flu burung
  • kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan
  • bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung

2. Kasus "Probable"

Kasus "probable" adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan;

  • bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1), misal : Test HI yang menggunakan antigen H5N1
  • dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonialgagal pernafasan/ meninggal
  • terbukti tidak terdapat penyebab lain

3. Kasus Konfirmasi

Kasus konfirmasi adalah kasus suspek atau "probable" didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium;

  • Kultur virus influenza H5N1 positip
  • PCR influenza (H5) positip
  • Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali
C. GEJALA KLINIS

Gejala klinis yang ditemui seperti gejala flu pada umumnya, yaitu; demam, sakit tenggorokan. batuk, ber-ingus, nyeri otot, sakit kepala, lemas. Dalam waktu singkat penyakit ini dapat menjadi lebih berat berupa peradangan di paru-paru (pneumonia), dan apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik dapat menyebabkan kematian.

D. ETIOLOGI DAN SIFAT

Etiologi penyakit ini adalah virus influenza. Adapun sifat virus ini, yaitu; dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C.

Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit.

Dikenal beberapa tipe Virus influenza, yaitu; tipe A, tipe B dan tipe C. Virus Inluenza tipe A terdiri dari beberapa strain, yaitu; H1N 1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2 dan lain-lain.

Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Viru, strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hal ini terlihat dari basil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus Influenza A (H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu Burung tidak menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia.

E. MASA INKUBASI

Masa inkubasi virus influenza bervariasi antara 1 – 7 hari.

F. SUMBER DAN CARA PENULARAN

Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi diantara populasi unggas satu pertenakan, bahkan dapat menyebar dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Sedangkan penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang Flu Burung. Adapun orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas.

Hal lain, belum ada bukti terjadi penularan dari manusia ke manusia. Disamping itu, belum bukti adanya penularan pada manusia melalui daging unggas yang dikonsumsi.

G. UPAYA PENCEGAHAN

Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan tindakan sebagai berikut :

  • Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata renang)
  • Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus ditatalaksana dengan baik ( ditanam / dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya.
  • Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan
  • Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan
  • Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu 80°C selama 1 menit, sedangkan telur unggas perlu dipanaskan pada suhu 64°C selama 5 menit.
  • Melaksanakan kebersihan lingkungan.
  • Melakukan kebersihan diri.

Sumber : http://www.pppl.depkes.go.id/Wc8858268df7e2.htm

Saturday, March 21, 2009

Flu Burung Berjangkit Kembali

Sabtu, 21 Maret 2009 | 04:07 WIB

Pekanbaru, Kompas - Setelah sempat mereda pada tahun 2008, kasus flu burung kembali muncul di Provinsi Riau. Kali ini di Desa Dundangan, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Riau, ditemukan sampel ayam yang dinyatakan positif tertular virus flu burung.

"Berdasarkan laporan masyarakat, ada ayam yang mati mendadak bersamaan sebanyak 21 ekor pada tanggal 17 Maret kemarin. Petugas kami langsung ke lapangan dan mengambil sampel dua ekor ayam yang mati. Berdasarkan analisis di laboratorium Pekanbaru, ayam yang mati itu positif tertular virus flu burung," ujar HM Zubir Umar, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan, yang dihubungi hari Jumat (20/3).

Zubir mengatakan, sejak penemuan kasus itu, pihaknya lewat tim Participation Disease Surveilance Respon (tim reaksi cepat untuk merespons laporan masyarakat) yang dipimpin oleh drh Mukhlis langsung memberitahukan masyarakat setempat untuk mengambil tindakan terhadap ayam-ayam di daerah itu. Mulai hari Jumat ini masyarakat sudah bersedia untuk memusnahkan unggas peliharaannya sendiri.

"Di Desa Dundangan, ayam masyarakat tidak dipelihara di kandang. Ayam-ayam bebas berkeliaran di mana saja. Kalau hari telah gelap, ayam-ayam itu tidur di pohon-pohon. Kami agak kesulitan melakukan pemusnahan sendiri tanpa bantuan masyarakat. Kami meminta agar unggas yang berada dalam radius 100 meter dari temuan ayam mati kemarin dapat dimusnahkan. Untungnya masyarakat setempat sadar dengan bahaya penyakit flu burung yang dapat menyebabkan kematian pada manusia," ujar Zubir.

Penemuan virus flu burung di Pelalawan pada kuartal pertama tahun 2009 ini, menurut Zubir, adalah yang pertama. Pada tahun 2008, Pelalawan relatif bersih dari flu burung.

Pada 2007 kasus flu burung ditemukan di Kecamatan Bandar Seikijang dan Pangkalan Kuras. Ketika itu sempat ditemukan demam pada seseorang yang diduga tertular virus flu burung, tetapi ketika dites di rumah sakit hasilnya negatif. (SAH)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/21/04072647/flu.burung.berjangkit.kembali.

Tuesday, March 17, 2009

Petunjuk Teknis Tata Naskah Dinas dan Tata Kearsipan Dinamis Dirjen PP & PL Depkes RI

Bahwa untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pokok Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dalam bidang pengelolaan naskah dinas dan kearsipan diperlukan suatu acuan yang dapat dipergunakan oleh seluruh aparatur di Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Berikut ini adalah Petunjuk Teknis Tata Naskah Dinas dan Tata Kearsipan Dinamis Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan.

Download Tata Naskah Dinas

Monday, March 16, 2009

Migrasi Unggas Liar Picu Penyebaran H5N1

Flu Burung Juga Ditemukan di Jerman


 

Jakarta, Kompas - Senin, 16 Maret 2009 | 04:01 WIB

Penularan flu burung pada unggas liar di sejumlah negara di dunia terus merebak. Penyebaran virus itu diduga melalui perpindahan tempat atau migrasi burung-burung liar lintas negara. Untuk itu, surveilans aktif mengenai pola migrasi unggas liar perlu digalakkan.

Pemerintah Jerman baru-baru ini menginformasikan kepada Komisi Uni Eropa (UE) mengenai terjadinya outbreak virus flu burung (H5N1). Ini merupakan kasus pertama penularan flu burung pada unggas di UE tahun ini. Outbreak ini ditemukan pada bebek liar yang berada dekat daerah Starnberg di negara bagian Bavaria, Jerman.

"Kasus penularan flu burung pada unggas liar telah beberapa kali terjadi di Eropa," kata Ketua Panel Ahli Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Prof Amien Soebandrio, Sabtu (14/3) di Jakarta. Migrasi burung liar dari kutub utara ke Eropa diduga memicu penyebaran virus itu ke sejumlah negara di Eropa.

Penanganan baik

Temuan tersebut disebabkan negara-negara di Eropa telah menerapkan surveilans aktif secara berkala pada unggas liar maupun unggas di peternakan. Jadi, surveilans tersebut tidak hanya dilakukan setelah ditemukan kasus unggas positif terinfeksi flu burung. "Dengan penanganan yang baik, sampai kini belum ada laporan penularan flu burung dari unggas ke manusia di Eropa," ujar Amien menambahkan.

Dalam pedoman internasional Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang merupakan hasil kesepakatan para pakar dunia bidang veteriner antara lain diatur pencegahan kontak unggas liar dengan unggas di peternakan.

"Bila unggas liar menulari flu burung ke unggas di peternakan, kemungkinan penularan virus itu ke manusia makin tinggi, baik di peternakan maupun di pasar unggas," ujarnya.

Indonesia saat ini terlibat dalam survei global untuk mempelajari pola-pola migrasi unggas liar. Dengan mengetahui pola migrasi itu, asal virus bisa diketahui bila terjadi penularan flu burung pada unggas dan manusia.

"Galur virus di tiap negara berbeda-beda. Jadi, vaksin yang digunakan akan sesuai dengan strain virus sehingga lebih efektif," kata Amien.

Pemantauan aktif

Temuan bebek liar yang terinfeksi flu burung di Jerman merupakan bagian dari program pemantauan atau surveilans aktif UE terhadap penyebaran flu burung di antara burung-burung liar. Jadi, bukan merupakan penyebaran virus. Pemegang otoritas kesehatan hewan Jerman memperkirakan tidak terjadi peningkatan ancaman dari flu burung seiring temuan kasus itu.

"Ini merupakan temuan individual di antara burung-burung liar yang dihitung secara berkala," kata juru bicara The Friedrich Loeffler Institute, lembaga nasional Pemerintah Jerman yang menangani penyakit pada hewan, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters. Sejauh ini, lembaga itu menilai secara keseluruhan ancaman penularan flu burung dari burung liar masih pada level rendah.

Keterlibatan burung terhadap penyebaran virus tersebut hanya pada level kecil dan itu diketahui setelah diuji oleh The Friedrich Loeffler Institute sebagai bagian dari program pemeriksaan nasional pada 5 Maret lalu. Meski burung liar terinfeksi virus, burung itu tidak menunjukkan gejala sakit sehingga dianggap sebagai pembawa virus.

Infeksi virus itu tidak terlihat secara aktif sehingga hewan-hewan yang terinfeksi tidak menjadi sakit. Temuan kasus bebek liar yang terinfeksi flu burung baru- baru ini itu tidak mengubah penilaian risiko secara keseluruhan.

Zona karantina

Kasus outbreak terakhir flu burung pada unggas di UE dideteksi pada Oktober 2008 di negara bagian Saxony, Jerman bagian timur. Dalam kasus temuan flu burung pada bebek liar di Starnberg tahun ini, otoritas setempat memutuskan tidak menerapkan zona karantina di sekeliling wilayah di mana burung yang terinfeksi flu burung.

Tindakan tersebut disetujui Komisi UE karena Jerman dinilai menerapkan upaya perlindungan untuk memastikan virus itu tidak menyebar. Menurut pejabat UE, berdasarkan hasil penilaian risiko, Jerman terus melakukan surveilans aktif di area terkontrol dan di sekeliling tempat ditemukan kasus positif flu burung. Tindakan ini dilakukan untuk menghitung burung liar yang bermigrasi pada Januari 2009.

Ditemukan di Hongkong

Secara terpisah, otoritas Hongkong menemukan kasus ayam yang mati karena terinfeksi virus flu burung.

Pemerintah Hongkong menyatakan, hasil tes laboratorium telah mengonfirmasikan bahwa ayam yang ditemukan membusuk dan mengambang di laut selama sekitar 10 hari ternyata positif terinfeksi virus mematikan H5N1.

Otoritas Hongkong juga mengumumkan pada 6 Maret 2008 seekor bangkai ayam yang ditemukan di lokasi yang sama juga terinfeksi H5N1.

Padahal, tidak ada peternakan ayam dalam batas 3 kilometer dari lokasi ditemukannya ayam mati itu. Para peternak sudah diperingatkan agar meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap kemungkinan penyebaran virus flu burung tersebut.

Hongkong dilaporkan sebagai tempat pertama kali ditemukannya kasus flu burung di dunia yang menjangkiti manusia pada 1997 ketika enam orang meninggal dunia. Bersamaan dengan itu, sejumlah unggas dari berbagai wilayah di Hongkong setelah dites ternyata positif H5N1.

Pada Desember 2008 Otoritas Hongkong menemukan virus H5N1 pada seekor ayam di sebuah peternakan di Hongkong dan segera memusnahkan lebih dari 90.000 unggas. (EVY/AFP/LOK)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/16/04013374/migrasi.unggas.liar.picu.penyebaran.h5n1

Thursday, March 5, 2009

Meningococcal disease in Nigeria - update

4 March 2009 -- The Ministry of Health of the Federal Republic of Nigeria has reported 5 323 suspected cases of meningococcal disease including 333 deaths (case-fatality rate: 6.3%) from 1 January to 22 February 2009. Suspected cases have been reported from 22 of 37 states. So far 89 Local Government Area's (LGA) across 12 states have crossed the alert or the epidemic threshold. In the last week alone, 1 817 suspected cases including 105 deaths (case-fatality rate: 5.8%) have been reported, with 28 LGAS crossing the epidemic threshold, and 29 the alert threshold.

Cerebrospinal fluid specimens collected from Gombe, Jigawa, Kano and Katsina states have tested positive for Neisseria meningitidis serogroup A by latex test and/or culture. The International Coordinating Group (ICG) on Vaccine Provision for Epidemic Meningitis Control has approved the release of 1,010,000 doses of polysaccharide vaccine for mass vaccination campaigns in affected LGAs of Jigawa and Katsina states. Immunization campaigns will be implemented by Federal and National Ministry of Health with the support of WHO and partners, including the European Commission Humanitarian Aid Department (ECHO), Médecins sans Frontières and UNICEF.

Given the large population at risk, the early start of epidemics, and current moderate global vaccine levels, a sound vaccination strategy is of particular importance. WHO is supporting the Federal and National Ministry of Health in the assessment of vaccine needs. WHO is also providing technical and material support to the Ministry of Health to strengthen epidemiological and laboratory surveillance, including provision of laboratory confirmation supplies.

http://www.who.int/csr/don/2009_03_04/en/index.html

Batam Diincar untuk Pembuangan Limbah

Kamis, 5 Maret 2009 | 05:18 WIB

Batam, Kompas - Wali Kota Batam Ahmad Dahlan mengungkapkan, Batam telah menjadi salah satu tempat incaran untuk pembuangan limbah. Oleh karena itu, ia meminta investor dan pejabat pemerintah daerah di Batam tidak ikut mendukung upaya pembuangan limbah, khususnya limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3.

"Banyak individu atau pengusaha yang mengincar Batam untuk membuang limbah," kata Ahmad Dahlan di sela-sela Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kota Batam di Batam, Rabu (4/3).

Menurut Dahlan, tahun 2004 limbah B3 yang diimpor PT Apel dalam jumlah yang besar juga pernah masuk ke Batam. "Kita mempunyai pengalaman buruk pada waktu PT Apel memasukkan limbah," katanya.

Seperti diberitakan, majelis hakim Pengadilan Negeri Batam menjatuhkan hukuman enam bulan penjara kepada Rudi Alfonso, Direktur PT Asia Pasific Eco Lestari, terdakwa perkara impor 1.149 ton limbah bahan berbahaya dan beracun dari Singapura (Kompas, 9/6/2006).

Menurut Ahmad Dahlan, peluang memasukkan limbah ke wilayah Pemerintah Kota Batam sangat besar mengingat di Batam terdapat pulau-pulau kecil.

"Limbah dimasukkan sesuai prosedur. Namun, prosedurnya bisa legal dan bisa juga tidak legal," katanya.

Ahmad Dahlan menegaskan, pihaknya juga akan memeriksa staf Kantor Bapedal Kota Batam, Muhammad Raden, yang diundang PT Jace Octavia Mandiri (PT JOM) ke Korea Selatan untuk mengimpor pasir besi (ferro sand) sebanyak 3.800 ton ke Batam. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, pasir besi itu dinyatakan sebagai limbah B3.

"Saya akan mengecek lagi apakah betul staf Bapedal ikut ke Korea atau tidak," kata Ahmad Dahlan. Jika betul, Ahmad Dahlan mempertanyakan apakah kepergian itu atas tugas atau perintah atasan atau tidak.

"Kedua, apakah staf itu memiliki kewenangan untuk memastikan limbah atau tidak," katanya.

Kepala Bapedal Kota Batam Dendi Purnomo mengungkapkan, tim penyidik dari Kantor Menneg Lingkungan Hidup telah meminta penetapan Pengadilan Negeri Batam untuk menyita pasir besi yang diduga limbah B3 dan diimpor PT JOM. (FER)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/05/05183663/batam.diincar.untuk.pembuangan.limbah


 

Tuesday, March 3, 2009

4 Indonesians die from bird flu, death toll climbs 119

Tuesday, 03 March 2009 09:25

Four Indonesians died from bird flu in February, bringing the country's total death toll from the disease to 119, officials said

Four Indonesians died from bird flu in February, bringing the country's total death toll from the disease to 119, officials at the national bird flu commission said on Tuesday.

"There were four cases and all four died in February," said Bayu Krisnamurthi, head of the national bird flu commission.

Indonesian newspaper Republika also reported on Tuesday that two more deaths from the disease occurred at the weekend near the capital Jakarta -- a 5-year-old girl from Depok, and an 8-year-old boy from Bekasi.

The national commission said that samples were being tested in Jakarta to verify the cause of death in both cases.

Indonesia, which has stopped publishing updates of bird flu deaths immediately after they occur, has the highest toll from the disease of any nation.

Experts fear that the virus might mutate into a form easily passed from human to human, sparking a pandemic which could kill millions.

Source : Reuters

Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/(H5N1) Reported to WHO

Wednesday, February 25, 2009

Mengintip Peluang Asas Cabotage

By Jagad Ananda

INILAH.COM, Jakarta - Mulai 1 Januari 2010, pengangkutan batubara dan migas di dalam negeri hanya diperkenankan memakai kapal berbendera Indonesia. Ini merupakan peluang bagi maskapai dalam negeri.

Soalnya, armada yang dibutuhkan untuk menggantikan peran kapal-kapal asing selama ini, cukup banyak. Untuk mengangkut minyak dan gas saja misalnya, saat ini, Pertamina masih memakai 56 kapal asing sewaan.

Untuk membeli kapal pengganti sebanyak itu, jelas, bukan perkara mudah dan murah,. Jika sebuah kapal tanker berusia 10 tahun harganya sekitar US$ 40 juta saja, berarti dibutuhkan dana sebesar US$ 2,240 miliar.

Itu sebabnya, untuk mendukung pengadaan kapal pengangkut yang memadai, manajemen Pertamina pimpinan Galaila Karen Kardinah berjanji akan memberikan kontrak pengangkujtan jangka panjang.

Jika selama ini, Pertamina menyewa kapal dengan periode tiga bulanan, kelak akan diperpanjang menjadi lima tahun. Tujuannya, dengan adanya jaminan kontrak, perusahaan pelayaran nasional bisa lebih mudah memperoleh dana pembiayaan dari perbankan.

Kalau Pertamina sudah punya rencana pengadaan armada yang jelas, entah apa yang akan dilakukan perusahaan pertambangan batubara. Sebab, kebutuhan sarana angkutan di industri ini juga sangat besar dan sebagian masih memakai kapal-kapal berbendera asing.

Menurut perhitungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, hingga 2010 Indonesia sedikitnya membutuhkan 390 kapal baru/bekas untuk mengangkut batubara di dalam negeri.

Maklum, produksi hasil tambang ini, setiap tahunnya terus meningkat dengan signifikan. Jika di 2009 ini produksi batubara diprediksi mencapai 75 juta ton, maka tahun depan diperkirakan bakal mencapai 90 juta ton. [E1]

Sumber : http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2009/02/25/86441/mengintip-peluang-asas-cabotage/

Tuesday, February 24, 2009

Outbreak Update

Most recent news items

20 February 2009
Cholera in Zimbabwe - update 2

19 February 2009
Meningococcal disease in Nigeria

18 February 2009
Avian influenza – situation in Viet Nam - update 2

17 February 2009
End of Ebola outbreak in the Democratic Republic of the Congo

Saturday, February 21, 2009

Susahnya Menjinakkan Anjing Gila

Penularan penyakit rabies atau penyakit anjing gila kian merebak. Bali yang selama puluhan tahun bebas rabies tak luput dari serangan virus mematikan ini.

Pemerintah Kabupaten Badung telah memvaksin 20.000 anjing peliharaan dan mengeliminasi sedikitnya 1.300 anjing liar di seluruh Badung. Vaksinasi tahap kedua akan digelar mulai awal Maret mendatang.

Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Badung I Made Badra,di Denpasar, Jumat (20/2), mengungkapkan, aparat bersama masyarakat terus menyisir desa di kawasan Badung, terutama di Kecamatan Kuta Selatan dan Kuta, memastikan jumlah anjing liar mendekati nol.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengakui, Indonesia belum berhasil mengeradikasi penyakit yang sumber penularannya dari binatang (zoonosis) itu.

Dalam lima tahun terakhir, rata-rata jumlah penduduk yang digigit anjing lebih dari 15.000 orang di 24 provinsi di Tanah Air. Jumlah penderita rabies ratusan orang per tahun dan sebagian besar meninggal dunia.

Tahun 2008, jumlah kasus gigitan anjing 14.106 orang, 9.565 orang mendapat vaksin serta obat-obatan, penderita rabies 85 orang. "Di Bali, lebih dari 1.700 kasus orang digigit anjing beberapa bulan ini," kata Tjandra.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor I Wayan T Wibawan memaparkan, meluasnya rabies ini disebabkan tidak terkendalinya populasi anjing liar.

"Ini terjadi karena lemahnya sistem deteksi dini dan evaluasi periodik," kata Wibawan. Di Indonesia mayoritas kasus rabies ditularkan oleh anjing. Rabies juga dapat ditularkan kucing, kelelawar, musang, dan kera.

"Survei serologi untuk mengetahui antibodi pada hewan yang menjadi sumber penularan seharusnya dilakukan periodik. Sayang ini tidak dilakukan karena belum prioritas pemerintah," ujarnya.

Pengamat masalah kesehatan hewan, Mangku Sitepu, menilai ada beberapa faktor yang mendorong meluasnya penyebaran rabies di Indonesia. Salah satunya adalah lemahnya pengendalian sumber penularan.

Di Bali, misalnya, penyebaran rabies terjadi karena masuknya anjing-anjing ras ke sana. Mobilitas penduduk ikut mendorong penyebaran rabies misalnya kedatangan nelayan dari Nusa Tenggara Timur yang endemik rabies ke Bali dengan membawa anjing.

Menurut Mangku, belakangan ini Bali makin terbuka terhadap migrasi anjing-anjing dari berbagai tempat. "Dulu anjing- anjing ras tidak boleh masuk. Sekarang penyelundupan anjing ras banyak," katanya.

Ia mengatakan, seharusnya semua anjing di daerah endemik divaksinasi antirabies. Anjing yang habis menggigit orang harus segera dibawa ke dokter hewan, diperiksa apakah terjangkit rabies atau tidak. Petugas perlu memantau anjing itu karena hewan yang rabies biasanya sakit dan mati dalam dua pekan setelah terinfeksi.

Sulit diobati

Pada manusia, rabies mengancam keselamatan jiwa penderita. Sebagian besar yang terinfeksi meninggal dunia. Angkanya 90 persen. Demikian kata Prof Herdiman Pohan, Staf Divisi Penyakit Infeksi dan Tropik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Penyakit ini disebabkan virus rabies yang akibatkan gangguan pada susunan saraf pusat. Masa inkubasi dari satu hari sampai satu tahun. Bila luka gigitan berada di leher dan kepala, serangan kian akut. Gejalanya, demam tinggi, kejang-kejang otot, mulut berbusa, fotopobia atau takut cahaya, tingkat kesadaran menurun, dan berteriak-teriak.

Cara efektif mencegah penularan adalah menghindari gigitan anjing. Selain itu, ada vaksin untuk membentuk antibodi terhadap virus itu. Masalahnya, vaksin itu juga bisa menimbulkan efek samping berupa meningitis dan gejala seperti rabies.

Bila terkena gigitan anjing, seseorang dianjurkan segera ke rumah sakit. Luka bekas gigitan dibersihkan dengan sabun. Pemberian obat merah atau yodium tincture tak bermanfaat karena virus telah masuk dalam darah.

Jika baru terkena gigitan, pemberian vaksin antirabies diharapkan bisa membentuk antibodi yang bisa mengalahkan virus agar tidak menyebar ke saraf otak. Bila sudah parah, vaksinasi mempercepat perburukan pada pasien.

Penderita harus diisolasi karena bisa menularkan. "Belum ada obat yang bisa membunuh virus itu. Yang bisa dilakukan, mengobati gejalanya misal, memberi obat antikejang, obat mengatasi infeksi sekunder, dan obat penenang," kata Herdiman. (EVY/BEN)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/21/00354189/susahnya.menjinakkan.anjing.gila

Friday, February 20, 2009

Rabies Menyebar Lagi

Ditemukan Kasus di 24 Provinsi, 14.106 Orang Digigit Anjing

Jumat, 20 Februari 2009 | 00:47 WIB

Jakarta, Kompas - Penyebaran rabies atau dikenal sebagai penyakit anjing gila terus meluas. Saat ini ditemukan kasus rabies di 24 provinsi dan hanya sembilan provinsi di Tanah Air yang dinyatakan bebas penyakit rabies.

Bila tidak segera ditangani, penularan penyakit rabies bisa berakibat fatal bagi penderitanya, bahkan menyebabkan kematian.

"Karena penularannya melalui gigitan anjing, pengendalian penyakit ini dilakukan Departemen Pertanian bersama dengan Departemen Kesehatan," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama saat dihubungi Kamis (19/2) di Jakarta.

Depkes menyebutkan, sembilan provinsi yang tidak ditemukan kasus rabies atau bebas rabies yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat. "Sebelum ada kasus, Bali termasuk bebas rabies," ujarnya.

Dalam lima tahun terakhir, kasus rabies di Indonesia muncul di sejumlah provinsi. Pada tahun 2008 ada 14.106 orang digigit anjing, 9.565 orang mendapat vaksin dan pengobatan, serta 85 orang positif terkena rabies.

Di Provinsi Bali, sejak Mei 2008 sampai kini jumlah penduduk yang digigit anjing lebih dari 1.700 orang, sebanyak 1.613 orang diberi vaksin dan obat, sedangkan satu orang menderita rabies.

Ditularkan anjing

Penyakit ini disebabkan virus rabies yang mengakibatkan gangguan pada susunan saraf pusat (SSP). Gejalanya antara lain demam dan kejang-kejang otot. Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah anjing dan binatang-binatang liar seperti kera dan kelelawar.

"Di Indonesia, sekitar 98 persen kasus rabies ditularkan oleh anjing," kata Tjandra.

Dari Kabupaten Garut, Jawa Barat dilaporkan, sebanyak 270 ekor anjing liar telah dieliminasi serta 215 ekor anjing peliharaan divaksinasi di empat desa di Kecamatan Mekarmukti. Langkah tersebut dilakukan menyusul munculnya kasus gigitan seekor anjing terhadap tujuh warga setempat pada bulan Januari 2009.

Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Garut Hermanto mengatakan, dalam dua bulan terakhir terjadi dua kasus gigitan anjing terhadap manusia. Kasus pertama di Kecamatan Mekarmukti pada Januari 2009 seekor anjing berumur satu tahun menggigit tujuh orang. Kasus kedua terjadi di Kecamatan Karangpawitan seekor anjing menggigit 11 orang. (EVY/ADH)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/20/00472773/rabies.menyebar.lagi

Indonesia Termasuk Negara Endemik Hepatitis B


 

Penulis : Eriez M Rizal

BANDUNG--MI: Indonesia termasuk negara endemik hepatitis B dengan jumlah yang terjangkit antara 2,5% hingga 36,17% dari total jumlah penduduk.

Mahalnya vaksin menjadi pemicu bertambahnya jumlah warga yang terjangkit virus tersebut.

Direktur Utama PT Bio Farma Isa Mansyur, Kamis (12/2), mengatakan langkah awal untuk mengantisipasi merebaknya virus tersebut pihaknya akan melakukan vaksinasi gratis kepada pelajar tidak mampu.

"Setidaknya dengan kegiatan ini (vaksinasi gratis), penyebaran hepatitis B di Indonesia bisa diminimalisasi," katanya pada acara Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) yang melibatkan tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertajuk PKBL Jawa Barat Peduli Kesehatan di Gedung Serbaguna Kantor PT Bio Farma, Badung.

Ke-7 BUMN yang turut serta dalam pencanangan tersebut yaitu PT Bio Farma, PTPN VIII, PT Jamsostek, Perum Jasa Tirta II, PT Angkasa Pura II, dan Industri Sandang Nusantara dan Bank BRI.

Ia mengatakan, sekarang kesadaran orang tua dalam memberikan vaksin kepada anak cukup tinggi. Namun yang menjadi kendala masih mahalnya harga vaksin, sehingga mereka membiarkan anaknya terkena virus tersebut. "Padahal, pemberian vaksin bisa mencegah terjadinya penularan hepatitis B," jelasnya.

Vaksin Hepatitis B gratis rencananya akan diberikan pada 5.000 siswa sekolah menengah atas (SMA) dengan alokasi dana sekitar Rp1 miliar. Untuk tahap awal vaksinasi Hepatitis B diberikan secara gratis pada 780 siswa dari 16 SMA dengan nilai Rp156 juta. (EM/OL-01)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NjA0NTk=

Tuesday, February 10, 2009

Sunday, February 8, 2009

PELANTIKAN ESELON III DAN IV KKP KELAS I MEDAN

Setelah menunggu beberapa lama, Pelantikan eselon III dan IV di lingkungan Depkes RI dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 4 Feruari 2009 bertempat d Balai Kartini Jl. Gatot Subroto. Pelantikan dilaksanakan oleh Sekretaris Jenderal Depkes RI Dr. H. Sjafii Ahmad, MPH dan dihadiri oleh seluruh pejabat eselon I, para sesdit, pejabat eselon II dan para Eselon II Kepala UPT di lingkungan Depkes RI.

Jumlah Pejabat yang diundang mengikuti acara pelantikan sekitar 830 orang yang berasal dari Unit Utama DEPKES dan Unit Pelaksana Teknis DEPKES di Daerah.

Pejabat yang dilantik Pada KKP Kelas I Medan terdiri dari:

Pejabat Eselon III

  1. Dr. H. Masrip Sarumpaet, M.Kes : sebagai Kepala Bidang Pengendalian Karantina dan SE
  2. Musa Tarigan : sebagai Kepala Bidang Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah
  3. Nuryanto, SKM., MARS : sebagai Kepala Bidang Pengendalian Risiko Lingkungan

Pejabat Eselon IV

  1. Drs. Eddyzar Syah : sebagai Kepala Subbagian Keuangan dan Umum
  2. Drs. Syarifuddin Saragih : sebagai Kepala Subbagian Program dan Laporan
  3. Ismail Bakhri, S.Si : sebagai Kepala Seksi Pengendalian Karantina
  4. Nurul Azman, SKM : sebagai Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi
  5. Dr. Ziad Batubara : sebagai Kepala Seksi Kesehatan Matra dan Lintas Wilayah
  6. Dr. Aryanti : sebagai Kepala Seksi Pencegahan dan Pelayanan Kesehatan
  7. Masdar Ginting, SKM., M.Kes : sebagai Kepala Seksi Sanitasi dan Dampak Risiko Lingkungan
  8. Friska Erlina Simamora, SKM : sebagai Kepala Seksi Pengendalian Vektor dan Binatang Penular Penyakit

Para pejabat yang dilantik Pada KKP Kelas I Medan terdiri dari : 1 (satu) orang berasal dari UPT Dinas Kesehatan Provinsi SUMUT, 6 (enam) orang berasal dari pejabat fungsional, 2 (dua) orang koordinator wilker, 3 (tiga) orang adalah pejabat eselon IV KKP Kelas II Medan yang mendapat promosi menjadi Eselon III yaitu Kasi KARSE, Kasi UKP dan Kasi PRL.

Kasi PRL KKP Kelas II Medan mendapat promosi menjadi kepala kantor dan menempati pos baru di KKP Dumai, sedangkan Pejabat Kasubbag Tata Usaha KKP Kelas II Medan menempati pos baru sebagai Kasubbag Keuangan dan Umum KKP Kelas I Medan)

Selamat berkarya untuk bangsa dan negara.

Foto bersama usai makan siang : dari kiri kanan Ismail Bakri, Kostan Sidauruk, Nurul Azman, Nuryanto, Masrip Sarumpaet, Masdar Ginting, Friska Erlina Simamora dan Syarifuddin Saragih

Thursday, January 29, 2009

Korban Meninggal Akibat Kolera di Zimbabwe Tembus 3.000 Jiwa

Wabah kolera benar-benar menggila di Zimbabwe. Data terakhir dari World Health Organization (WHO) menyebutkan lebih dari 3.000 warga Zimbabwe meninggal akibat terserang wabah tersebut.

WHO juga melansir wabah kolera telah menginfeksi 57.000 penduduk lainnya di negara tersebut. Ini merupakan kejadian terburuk di benua Afrika dalam 15 tahun terakhir.

Seperti dikutip dari reuters, Rabu (28/1/2008), wabah kolera menyebar saat negara tersebut dilanda pertikaian antarpartai politik. Pemimpin setempat memutuskan pemerintah Zimbabwe bersatu harus dibentuk bulan depan untuk menanggulangi krisis itu.

WHO menunjukkan, terjadi peningkatan angka kematian sebesar 57 jiwa pada Selasa 27 Januari. Jumlah penderita kolera juga bertambah sebanyak 1.579 pasien pada hari itu.

Pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai mengatakan setuju untuk bersatu dengan pemerintahan Presiden Robert Mugabe, meskipun dia melalui Movement for Democratic Change (MDC) kecewa dengan hasil pertemuan.

Kendati demikian, pengurus MDC berharap adanya pembahasan lebih lanjut bagaimana proses penanganan wabah kolera yang mengganas di Zimbabwe.

"Ini adalah keputusan bersejarah yang kami buat," kata Tsvangirai di Harare.

(irw/lrn)

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/01/29/053153/1075909/10/korban-meninggal-akibat-kolera-di-zimbabwe-tembus-3.000-jiwa

Thursday, January 15, 2009

Negara-Negara Maju Setujui Benefit Sharing Flu Burung

JAKARTA--MI: Negara-negara maju akhirnya menyetujui benefit sharing dalam rangka mekanisme baru virus sharing flu burung dalam sidang antarpemerintah tentang penanganan flu burung yang berlangsung di Jenewa.

Sidang ini juga dihadiri Menteri Kesehatan Sisti Fadillah Supari yang didampingi penasehat hubungan internasional Depkes Makarim Wibisono. Pertemuan internasional ini diselenggarakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan dalam siaran persnya, Sabtu (10/1), menyebutkan pertemuan ini telah menghasilkan kemajuan-kemajuan yang penting atau signifikan. Wakil Ketua Delegasi Indonesia dr Widjaja Lukito mengatakan kemajuan ini antara lain mencakup masalah transfer virus .

"Pencapaian utama yang diraih dalam The Intergovernmental Meeting on Pandemic Influenza Preparedness atau IGM-PIP adalah disetujuinya penggunaan Standard Material Transfer Agreement (SMTA) dalam sistem virus. SMTA adalah dokumen yang akan mengatur semua transfer virus yang berbentuk standar universal dan mempunyai kekuatan hukum ," kata Widjaja Lukito.

Sementara itu, penasehat hubungan internasional Depkes Makarim Wibisono menyatakan bahwa sekalipun naskah persetujuan belum sepenuhnya disetujui dan masih menyisakan sejumlah masalah untuk dipecahkan namun terobosan yang penting telah tercapai. (Ant/OL-01)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTUyODk=

Sunday, January 4, 2009

Ebola haemorrhagic fever in the Democratic Republic of the Congo - update

2 January 2009 -- The Ministry of Health of the Democratic Republic of the Congo (DRC) is continuing to respond to the ongoing outbreak of Ebola haemorrhagic fever in the Mweka health zone, Province of Kasai Occidental with the support of a wide range of international partners.

As of 31st December there has been a total of 3 laboratory-confirmed cases of Ebola haemorrhagic fever. WHO is aware of 36 additional suspected cases including 12 deaths associated with this outbreak. A further 184 contacts have been identified and are being followed up.

Laboratory analysis was undertaken at the the Institut National de Recherches Biomédicales (INRB) in Kinshasa , DRC , the Centre International de Recherches Médicales de Franceville (CIRMF), Gabon, and the National Institute for Communicable Diseases (NICD), South Africa.

The WHO Country Office, Regional Office and Headquarters are supporting the MoH in Kinshasa, in Kananga and in the field at the location of the outbreak. WHO has deployed five vehicles to the field and has sent outbreak response equipment and medical supplies. The local health authorities in the affected area are working closely with social mobilization experts to develop key information messages for the local communities.

The international response to the outbreak includes partners from Caritas (Belgium), the Congolese Red Cross (DRC) , Médecins Sans Frontières (Belgium), UNICEF, the United Nations Organization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUC), and the World Food Programme (WFP) .

http://www.who.int/csr/don/2009_01_02/en/index.html


 

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN