SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Wednesday, June 18, 2008

Data Perkuat Perlunya Program Imunisasi Nasional untuk Penyakit Gangguan Saluran Pernafasan di Asia

Data memastikan beban tinggi penyakit gangguan saluran pernafasan di kawasan Asia Pasifik

JAKARTA, 17 Juni (ANTARA/Medianet International-AsiaNet)

Data yang dipresentasikan kemarin dalam simposium internasional ke enam mengenai gangguan penyakit tenggorokan & saluran pernafasan (ISPPS) di Reykjavik, Islandia, telah membuktikan bahwa penggunaan vaksin konjugasi penyakit gangguan saluran pernafasan untuk mencegah infeksi merupakan pendekatan yang lebih efektif yang dapat mengurangi beban penyakit ini daripada opsi pengobatan mana pun. [1]

Ini merupakan temuan penting mengingat bahwa beban penyakit gangguan pernafasan (PD) tinggi di kawasan Asia.

Vaksin konjugasi penyakit gangguan pernafasan (PCV7) adalah satu-satunya vaksin konjugasi penyakit gangguan saluran pernafasan yang berlisensi dan juga bagian dari jadwal imunisasi nasional terhadap anak-anak di banyak negara di dunia[2].

Selain fakta bahwa di seluruh dunia, penyakit gangguan pernafasan juga merupakan penyebab utama kematian pada anak balita, di kawasan Asia Pasifik, baru Australia dan Selandia Baru yang memasukkan vaksin PCV7 sebagai bagian dari program imunisasi nasionalnya.

"Sementara adanya lembaga yang mencoba mencari pembuktian dampak ekonomi dan kesehatan publik atas pemakaian vaksin PCV7 terhadap anak-anak di sejumlah negara, kami sekarang sudah memiliki data dari Asia bahwa dukungan untuk memakai vaksin ini ternyata sudah memberikan kemaslahatan terhadap kesehatan masyarakat secara regional," ujar Kenneth K.C. Lee, Ph.D., Profesor dan juga direktur Urusan Internal Sekolah Farmasi, Fakultas Kedokteran Universitas Hong Kong, China.

"Dengan memberikan vaksin secara rutin kepada anak-anak untuk penyakit gangguan saluran pernafasan ini, kami mampu membantu memproteksi masyarakat dalam skala besar" terutama anak-anak, orang tua dan kakek-nenek yang belum pernah diberi vaksinasi -- dengan bukti bahwa melakukan vaksinasi secara rutin merupakan investasi ekonomi yang baik dan karena itu tidak ada alasan untuk menunda-nunda melakukan cara ini agar dapat menyelamatakan nyawa," ujarnya.

Dengan adanya keampuhan vaksin terhadap penyakit gangguan saluran pernafasan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan agar diberikan proritas terhadap pemakaian vaksin PCV7 dalam program immunisasi nasional terhadap anak-anak di dunia ini.[3]

Secara spesifik, data dari Proyek Hong Kong dan Singapura menunjukkan bahwa dalam masa 10 tahun ada sekitar 524 kasus dan 290 kasus lainnya dari penyakit gangguan saluran pernafasan dapat dicegah dari kematian dengan memakai vaksin PCV7 ini. Di Hong Kong sendiri, kasus yang berkaitan dengan penyakit ini yang dapat diatasi ada sekitar 2.500 dan sekaligus juga menghemat pengeluaran untuk biaya pengobatan sekitar 53 juta dollar Hong Kong atau sama dengan 4,5 juta dolar Amerika.[4]

Selain itu, data lain juga menyarankan perlunya dilakukan pemakaian vaksin secara rutin terhadap anak muda yang sekaligus dapat membantu mencegah kemungkinan terjangkitnya kembali penyakit ini untuk kedua kalinya sebagaimana ada kasus yang berkaitan IPD terhadap orang dewasa yang belum pernah mendapat vaksin ini (di Hong Kong tercatat sekitar 919 kasus dan 653 kasus lainnya di Singapura), suatu gejala dikenal sebagai efek tidak langsung dari kekebalan "herd" [4],[5].

Yang penting kedua studi ini menyimpulkan bahwa pemakaian vaksin PCV7 secara rutin dapat membantu mengurangi beban ekonomi pada sistem perawatan kesehatan [4],[5].

Data lainnya yang disampaikan pada symposium ISPPD tersebut juga menjelaskan bahwa beban penyakit gangguan saluran pencernaan sangat tinggi di negara-negara yang ada di kawasan Asia, dengan kejadian kebanyakan menyerang anak-anak yang berumur di bawah lima tahun dengan 30,9 kasus per 100.000 anak di Jepang sampai 276 kasus per 100,000 anak di Bangladesh [4]. Yang terpenting, data ini menyoroti bahwa intervensi yang dilakukan dengan menggunakan vaksin ini bisa membantu mencegah 57 persen sampai 91 persen kasus IPD pada anak anak kecil yang masih muda di Asia [1].

[1] Garcia C, Center K dan Herrera G. Beban Penyakit Gangguan Saluran Pernafasan (PD) di kawasan Asia-Pasifik: Pentingan dimasukan vaksin konjugasi untuk penyakit gangguan saluran pernafasan (PCV) menjadi program immunisasi nasional (NIP). Hasilnya dipresentasi dalam Simposium Internasional mengenai Penyakit Gangguan Tenggorokan & Saluran Pernafasan ke enam (ISPPD).

[2] Data di arsip, Perusahaan Wyeth Pharmaceuticals Inc.

[3] Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Vaksin Konjugasi untuk Penyakit Gangguan Saluran Pernafasan untuk immunisasi anak-anak, Maret 2007- Buletin WHO. Wkly Epidemiol Record 2007;12: 93-104.

[4] Lee K, Rinaldi F, Lee V, dsb. Evaluasi ekonomi terhadap vaksinasi pada anak kecil dengan vaksin 7vPCV di Hong Kong. Kesimpulan yang disampaikan pada symposium internasional ke enam mengenai penyakit ganggunan tenggorokan & saluran pernafasan (ISPPD).

[5] Rinaldi F dan Chong C. Dampak yang sudah dapat diprediksi dari program vaksinasi 7vPCV terhadap bayi di Singapura. Kesimpulan ini juga disampaikan pada simposium internasional ke enam mengenai penyakit gangguan tenggorokan dan saluran pernafasan (ISPPD).

Kontak Media:
Wendy Qin
+62 2 8424 8522
+62 404 101 742

SUMBER: Wyeth dalam Antara OL

Sunday, June 15, 2008

54 Produk Obat Tradisional Mengandung Bahan Kimia Obat

Depkes OL, 13 Jun 2008

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengeluarkan peringatan publik (KH.00.01.43.2773) tentang obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat. Berdasarkan penelitian dan pengujian laboratorium Badan POM RI tahun 2007, ditemukan 54 produk obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat keras yang berbahaya bagi kesehatan. Produk-produk tersebut telah ditarik dari pasaran. 54 produk obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat tersebut, bukanlah produk-produk perusahaan obat tradisional ternama Indonesia.

Masyarakat diimbau agar tidak mengkonsumsi obat tradisional yang mengandung bahan kimia seperti Sibutramin Hidroklorida, Sildenafil Sitrat, Asam Mefenamat, Siproheptadin, Fenilbutason, Prednison, Metampiron, Teofilin dan Parasetamol. Efek samping yang ditimbulkan antara lain, Sibutramin Hidroklorida dapat menimbulkan hipertensi dan sulit tidur, Sildenafil Sitrat menyebabkan sakit kepala, mual, nyeri dada, dan gangguan penglihatan, Asam Mefenamat dapat menyebabkan mengantuk, diare, kejang, ruam kulit, dan ginjal, Prednison menyebabkan gangguan cerna, depresi, osteoporosis, gangguan haid, dan gangguan keseimbangan cairan, Metampiron dapat menyebabkan telinga berdenging, gangguan pembentukan sel darah, gangguan sistem saraf, syok, dan kematian, sedangkan Teofilin menimbulkan Palpitasi, sakit kepala, dan insomnia, untuk Parasetamol yang dikonsumsi jangka panjang menyebabkan kerusakan hati.

Daftar nama produk-produk berbahaya tersebut, dapat dilihat di situs www.pom.go.id/public/peringatan_publik atau dapat menghubungi unit layanan pengaduan konsumen Badan POM RI (nomor telepon 021- 426 3333) dan seluruh Balai Besar POM di Indonesia.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Informasi Penanggulangan Flu Burung Januari-Mei 2008

Depkes OL, 12 Jun 2008

Berdasarkan pemeriksaan virologis dengan metode penguraian genetik (genetic sequencing) oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Jakarta, hingga saat ini virus Flu Burung yang menyerang manusia masih tetap H5N1. Dengan demikian, penularan virus Flu Burung di Indonesia masih dari unggas ke manusia.

Karana itu, masyarakat diimbau untuk menghindari kontak dengan unggas yang sakit atau mati mendadak dan lingkungan yang tercemar kotoran unggas. Tidak memelihara unggas di lingkungan pemukiman. Jika ada unggas yang sakit atau mati di lingkungan sekitar, segera dilaporkan kepada Ketua RT/RW setempat.

Masyarakat juga diminta selalu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga kebersihan lingkungan serta mewaspadai gejala Flu, karena sering kali terlambatnya pasien mencari pelayanan medis memperbesar risiko kematian. Hal itu disampaikan dr. I Nyoman Kandun, MPH, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes berkaitan dengan perkembangan penanggulangan Flu Burung.

Menurut dr. Nyoman Kandun, dalam penanggulangan Flu Burung pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian. Diantaranya menyiapkan rumah sakit rujukan Flu Burung dari semula 44 RS menjadi 100 RS di seluruh Indonesia berikut perawatan secara gratis bagi pasien yang diduga (suspek) Flu Burung hingga hasil pemeriksaan selesai dilakukan Badan Litbang dan Eijkman.

Sedangkan untuk mempercepat pemeriksaan sampel dilakukan penguatan laboratorium rujukan nasional dan 8 laboratorium regional. Pemeriksaan sampel yang semula dilakukan di laboratorium rujukan WHO di Hongkong dan CDC Atlanta Amerika (sejak 2005 sampai awal Agustus 2006) maka mulai 8 Agustus 2006 penentuan konfirmasi kasus Flu burung dapat dilakukan di dalam negeri yaitu laboratorium Badan Litbangkes dan Lembaga Eijkman. Pada saat bersamaan, Menkes RI juga menetapkan bahwa data virus Flu Burung dimasukkan dalam Genebank sehingga dapat diakses oleh para ilmuan internasional.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan obat Oseltamivir di sarana pelayanan kesehatan pemerintah seperti Puskesmas dan RS rujukan. Sedangkan untuk meningkatkan kemampuan petugas, telah dilakukan berbagai pelatihan penanggulangan Flu Burung bagi petugas medis dan paramedis serta Tim Gerak Cepat Flu Burung, kata dr. Nyoman Kandun.

Untuk meningkatkan kemampuan dalam mengantisipasi kemungkinan pandemi influenza, telah diselenggarakan simulasi penanggulangan pandemi influenza di Jembrana, Bali tanggal 25-27 April 2008 yang melibatkan Puskesmas, RS, desa wilayah penanggulangan, Bandara dan jejaring kesehatan lainnya. Ini adalah simulasi penanggulangan komprehensif pertama di dunia, dihadiri pengamat dari dalam dan luar negeri, tambah dr. Nyoman Kandun.

Dalam periode Januari - Mei tahun 2008 Depkes telah melakukan pemeriksaan suspek Flu Burung berturut-turut terhadap 198 kasus dan 483 spesimen. Pada periode yang sama tahun 2007, telah dilakukan pemeriksaan suspek terhadap 479 kasus dan 1.025 spesimen. Sementara pada periode yang sama tahun 2006, telah dilakukan pemeriksaan suspek flu burung berturut-turut 302 kasus dan 714 spesimen. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan lab kontak, penyelidikan kasus konfirm Flu Burung, pengamatan kontak kasus konfirm, dan penyuluhan pada masyarakat melalui berbagai saluran informasi yang tersedia.

Pada bulan Mei 2008, kasus positif Flu Burung menunjukkan penurunan 50% dibanding kasus Flu Burung pada bulan Mei 2007 serta penurunan yang tajam yaitu 88,8% dibanding kasus Flu Burung pada bulan Mei 2006. Puncak tertinggi kasus Flu Burung terdapat pada bulan Mei 2007 karena adanya klaster Flu Burung terbesar di Kabupaten Karo.

Dari 12 provinsi yang terinfeksi Flu Burung, terdapat 5 provinsi yang tidak ditemukan lagi kasus Flu Burung yaitu :

  1. Provinsi Lampung : Infeksi tahun 2005, 2 tahun 5 bulan lebih tidak ditemukan kasus
  2. Provinsi Sulsel : Infeksi tahun 2006, 17 bulan lebih tidak ditemukan kasus
  3. Provinsi Sumsel : infeksi tahun 2007, 5 bulan lebih tak ada lagi kasus
  4. Provinsi Riau : Infekksi tahun -2007, 5 bulan tak ada kasus
  5. Provinsi Bali : Infeksi bln November 2007, 6 bulan tak ada kasus.

Informasi perkembangan penanggulangan dan kasus Flu Burung, akan disampaikan secara berkala sebulan sekali. Dengan demikian masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dapat mengetahui upaya-upaya menyeluruh yang telah dilakukan dalam periode tersebut. Informasi akan disampaikan melalui situs www.depkes.go.id.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks:021-5223002 dan 52960661, atau e-mail puskom.depkes@gmail.com dan puskom.publik@yahoo.co.id.

Wednesday, June 11, 2008

Para Ahli Kesehatan Himbau Pemimpin Global Jamin Akses ke Vaksin Penyakit Saluran Pernafasan

Antara OL, 10/06/08 16:26

Sebagai Penyelamat Nyawa

REYKJAVIK, 10 Juni (ANTARA/PRNewswire-AsiaNet) -- Hampir 1000 ahli terkemuka dalam bidang penyakit menular dan vaksin di dunia akan bertemu dalam symposium internasional ke 6 mengenai penyakit tenggorokan pernafasan (pneumococci) dan saluran pernafasan (pneumococcal) yang disebabkan karena bakteri (ISPPD-6) minggu ini yang akan menghibau pemerintah melakukan tindakan untuk melindungi warga negaranya dari gangguan pernafasan ini yaitu sejenis penyakit pernafasan pembunuh bagi anak anak dan orang dewasa di dunia.

Infeksi bacteria sebagai penyebab penyakit pernafasan (pneumonia), meningitis, sepsis dan penyakit lain juga dapat mengancam hidup dan penyakit saluran pernafasan (pneumococcal) ini telah membunuh 1,6 juta orang termasuk lebih dari 800,000 anak di bawah umur. Prakiraan sementara menunjukkan bahwa apabila dilakukan secara global, vaksin penyakit saluran pernafasan (pneumococcal) dapat menyelamatkan 5,5 juta nyawa manusia di tahun 2030.

"Vaksin efektif dan penyelamat yang dapat mencegah penyakit saluran pernafasan sudah tersedia dan meningkatnya kesehatan seseorang sangat diharapkan agar dapat menjadi kenyataan di tahun 2009," ujar Dr. Orin Levin, direktur eksekutif Perusahaan PneumoADIP GAVI dan juga wakil ketua Dewan Kesadaran Para Ahli Kesehatan terhadap penyakit saluran pernafasan (PACE). "Kami punya pengetahuan ilmiah dan sumber keuangan. Apa yang kami butuh sekarang hanyalah keinginan politik sebab harga yang harus dibayar atas sikap pasif dan tidak berbuat apa-apa akan dapat ditentukan karena banyaknya nyawa yang hilang sia-sia begitu saja.

Para ahli kesehatan terkemuka berkumpul untuk membicarakan penyakit tenggorokan pernafasan dan saluran penafasan yang disebabkan oleh bakteri dalam symposium (ISPPD-6) yang dipimpin langsung oleh Dewan Ahli Yang Sadar terhadap penyakit saluran pernafasan ini menghimbau kepada Pemerintah agar dilakukan tindakan serta langkah-langkah yang diperlukan untuk menyediakan dana agar vaksin untuk jenis penyakit ini dapat dibuat.

Dengan mengikutsertakan LSM, para ilmuwan, pembuat keputusan bidang industri, kesehatan dan keuangan, satu negara akan dapat menentukan tindakan pencegahan terhadap penyakit sebagai proritas, sehingga tujuan kita hanya lebih terarah pada usaha menyelamatkan jutaan nyawa manusia dari serangan penyakit ini, ujar Dr Ciro de Quadros, wakil presiden eksekutif Institut Vaksin Sabin dan juga wakil ketua PACE. "Kita akan mendorong semua pihak agar mau terlibat membuat komitmen yang sangat penting untuk pencegahan penularan penyakit saluran pernafasan yang dapat berakibat pada kematian.

Kenya, satu-satunya negara yang wakilnya hadir dalam symposium ini bekerja untuk meliputi acara universal ini melalui program vaksinasi. "Di Kenya sendiri, Kami sudah kehilangan lebih dari 20,000 anak-anak di bawah umur lima tahun (balita) setiap tahun hanya karena penyakit saluran penafasan ini," ujar Dr Fred Were, Ketua Asosiasi Paediatric dan juga anggota PACE. Vaksin sekarang dan yang akan datang dapat mencegah sekitar 50 sampai 80 persen kematian dari penyakit yang membunuh ini. Saya bangga bahwa Kenya sudah membuat keputusan memperkenalkan vaksin ini dan melindungi nyawa serta kesehatan anak-anak di Kenya."

Vaksin untuk penyakit ini sudah ada sejak tahun 2000 dan dapat menyelamatkan dan melindungi anak-anak serta orang dewasa terhadap infeksi penyakit saluran pernafasan secara effektif. Vaksin konjugasi valent 7 untuk penyakit yang mematikan sekarang ini sudah digunakan di sekitar 70 negara lebih dan pengembangan vaksin ini sekarang sedang berjalan yang diharapkan dapat diberi lisensi pada tahun 2009.

SUMBER : Panitia Pelaksana ISPPD-6

Saturday, June 7, 2008

Pakar Kesehatan Terkemuka Dunia Desak Semua Negara Gunakan Data Baru

ISTANBUL, 5 Juni (ANTARA/PRNewswire-AsiaNet) -- Lebih dari 350 pakar ilmiah terkemuka dunia, pembuat kebijakan dan profesional bidang kesehatan masyarakat terkemuka dari 67 negara hari ini bertemu pada Simposium Rotavirus Internasional ke-8 di Istanbul, Turki, untuk memaparkan data baru tentang rotavirus -- penyakit yang menyebabkan diare akut dan seringkali mengakibatkan kematian di antara anak-anak kecil. Selengkapnya

Friday, June 6, 2008

Depkes Gelar Kampanye Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit

Depkes OL, 04 Jun 2008

Untuk menjamin keamanan dan keselamatan pasien di rumah sakit, Departemen Kesehatan RI bekerja sama dengan PT MRK Diagnostic meluncurkan program NICE (No Infektion Campaign and Education) sekaligus menyelenggarakan seminar yang diikuti sekitar 150 orang dari utusan Depkes, berbagai rumah sakit dan laboratorium klinik di Jakarta. Program ini dirancang untuk mengubah perilaku petugas kesehatan di 100 rumah sakit selama Juni 2008 – Oktober 2009. Peluncuran dan seminar dibuka oleh dr. Farid W. Husain, Dirjen Bina Pelayanan Medik Depkes di Jakarta, 4 Juni 2008.

Dalam sambutannya Dr. Farid W. Husain, menyatakan Departemen Kesehatan telah memiliki program “Patient Safety”. Salah satu pilar menuju patient safety adalah merevitalisasi program pencegahan dan pengendalian Infeksi di RS (PPI RS). Melalui program ini, diharapkan infeksi nosokomial (infeksi yang didapat dan atau timbul pada waktu pasien dirawat di rumah sakit) dapat ditekan serendah mungkin, sehingga masyarakat dapat menerima pelayanan kesehatan secara optimal.
Menurut dr. Farid Husain, infeksi di rumah sakit (sekarang Health-care Associated Infection = HAIs), merupakan persoalan serius yang menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Walaupun beberapa kejadian infeksi nosokomial tidak menyebabkan kematian pasien, namun menyebabkan pasien dirawat lebih lama. Akibatnya pasien harus membayar lebih mahal, ujar Farid Husain.

dr. Farid W. Husain menyebutkan, pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu pasien merupakan kelompok yang berisiko mendapatkan infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial dapat terjadi melalui penularan dari pasien kepada petugas, dari pasien ke pasien yang lain, dari pasien kepada pengunjung atau keluarga maupun dari petugas kepada pasien. Saat ini infeksi nosokomial di rumah sakit mencapai 9% (variasi 3 – 21 %) atau lebih 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit seluruh dunia.

“Infeksi rumah sakit terus meningkat (AI Varado 2000). Tingkat infeksi nosokomial berkisar dari 1% di beberapa negara Eropa dan Amerika sampai 40% di Asia, Amerika Latin dan Afrika Sub-Sahara (Lync dkk 1997)”, ujar dr. Farid Husain.

Menurut dr. Farid Husain, Departemen Kesehatan telah memiliki kebijakan nasional dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Kesehatan No. 270/Menkes/III/2007 mengenai pedoman Manajerial PPI di rumah sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya dan Keputusan Menkes No. 381/Menkes/III/2007 mengenai Pedoman PPI di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya. Hal itu menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah untuk memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat agar setiap rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dapat menjalankan program pencegahan dan pengendalian infeksi.

Depkes juga telah menetapkan 5 rumah sakit sebagai pusat pelatihan regional pencegahan dan pengendalian infeksi yaitu RSUP H. Adam Malik Medan, RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, RSUP Sanglah, Denpasar. Selain itu, pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan salah satu unsur dari Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang selanjutnya akan dimasukkan dalam persyaratan akreditasi tingkat dasar enam pelayanan rumah sakit, tutur dr. Farid Husain.

dr. Farid Husain, menyambut baik program NICE yang bertujuan memberikan informasi dan kesadaran bagi seluruh staf di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya mengenai bahaya dan risiko HAIs sekaligus untuk memperoleh data kejadian HAIs di rumah sakit.

Kampanye dan pelatihan NICE terselenggara berkat kerja sama Departemen Kesehatan dengan PT MRK Diagnostics dan GTZ (The Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit). Program ini diselenggarakan sejak tahun 2007.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Setjen Depkes. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui telepon/faks: 021-52960661, atau e-mail puskom.depkes@gmail.com dan puskom.publik@yahoo.co.id.

Monday, June 2, 2008

Kasus AIDS : Sumut Peringkat 4



MEDAN - Provinsi Sumatera Utara berada di peringkat ke empat dalam daftar daerah yang memiliki jumlah kasus HIV/AIDS terbanyak di Indonesia setelah Papua, DKI Jakarta dan Jawa Timur. Hingga April 2008 tercatat sebanyak 1.238 penderita HIV/AIDS di Sumut terdiri dari 503 HIV dan 735 AIDS.

Demikian dikatakan Kadis Kesehatan Sumut Dr. Candra Syafei, SpOG ketika membuka Seminar Narkoba, Seks Bebas dan Hubungannya dengan HIV/AIDS yang diselenggarakan Forum Wartawan Kesehatan (Forwakes) di gedung Dharma Wanita Dinas Kesehatan Kota Medan, Sabtu (31/5).

Menurut Candra, jumlah penderita HIV/AIDS didominasi laki-laki berusia 20-30 tahun dengan faktor risiko penularan terdiri dari narkoba/jarum suntik, hubungan seks tidak aman dan berganti-ganti pasangan serta transfusi darah.

"Perkembangan HIV/AIDS ini bagai fenomena gunung es, dimana jumlah yang terdeteksi lebih kecil dibanding kasus yang sebenarnya. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp500 juta untuk pemberian obat secara gratis dan mensosialisasikan peningkatan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan," ujar Candra.

Sementara, Kadis Kesehatan Kota Medan Dr. Umar Zein, DTM&H, SpPD-KPTI yang tampil sebagai pembicara pertama pada seminar itu mengatakan, penularan HIV/AIDS tertinggi berasal dari pengguna narkotik suntik dan hubungan seks baik heteroseks maupun homoseks. Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks yang dilakukan dengan Wanita Pekerja Seks (WPS) mencapai 11 persen dan waria sebesar 33
persen.

"Berdasarkan estimasi, diperkirakan ada sekitar 11 ribu pengidap HIV/AIDS di Sumut. Penularan HIV/AIDS terbesar melalui penggunaan jarum suntik tidak steril di kalangan pecandu narkoba yang mencapai 60 persen. Setelah itu, penularan melalui hubungan seks, penularan dari ibu ke anak," ujarnya.

Tingginya kasus HIV/AIDS tersebut mendorong Dinas Kesehatan Kota Medan tetap mensosialisasikan penggunaan kondom, meski hal tersebut ditentang kalangan tokoh agama. "Kebanyakan mereka menganggap kami mendorong seks bebas, padahal yang kami lakukan bukan itu, tetapi mencegah agar penyebaran penyakit tersebut tidak semakin meluas. Kan kami tidak bisa menghentikan aktivitas seksual seseorang," tambah Umar Zein.

Sedangkan ahli kandungan RSU Dr Pirngadi Medan Dr. Christofel Tobing, SpOG(K) mengungkapkan sekitar 6 bayi telah tertular HIV/AIDS dari ibu yang melahirkannya. Sedangkan ibu tersebut telah tertular HIV/AIDS dari sang suami.

Saat ini, lanjut Christofel, dari 24.000 wanita yang mengandung di Indonesia, diperkirakan sekitar 30 persen berpotensi tertular HIV/AIDS dari sang suami yang suka "jajan" di luar. Dampaknya, bayi yang di dalam kandungan tersebut berpotensi tertular HIV/AIDS.

Sebelumnya, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Parlindungan Purba,SH mengatakan, hasil survei di lapangan diperkirakan 6,5 juta wanita telah mengidap HIV/AIDS dengan faktor risiko prilaku seks bebas. Karenanya, diperlukan peran orangtua dalam keluarga untuk membimbing anak-anaknya yang telah beranjak remaja.

Menurut Parlindungan, para orangtua harus menjalin hubungan lebih dekat dengan anak-anaknya dan memberikan informasi tentang pendidikan seks. "Selain agama yang menjadi pondasi keluarga, komunikasi dan keakraban juga sangat dibutuhkan agar orangtua dapat mengawasi pergaulan anak-anaknya sehingga tidak terpengaruhi oleh informasi-informasi yang salah tentang seks," ujarnya.

Seminar yang diikuti kalangan pelajar dan mahasiswa itu juga dihadiri Direktur RSU Dr. Pirngadi Medan Dr. H. Sjahrial R. Anas, MHA, Kasubdin Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit serta Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Sumut Dr. Surya Dharma, Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Sukarni, SKM, Gubernur LIRA Sumut Drs. H. Halomoan Sitompul, MM dan lainnya.

DAVID SWAYANA WASPADA ONLINE
(ags)

http://www.waspada.co.id/Berita/Medan/Sumut-Peringkat-4-Kasus-AIDS.html

Study shows hybrids of bird flu and human flu viruses fit well, could occur

HELEN BRANSWELL, MEDICAL REPORTER

June 01, 2008 06:43

TORONTO - An experiment mating H5N1 avian flu viruses and a strain of human flu in a laboratory produced a surprising number of hybrid viruses that were biologically fit, a new study reveals.

And while none of the offspring viruses was as virulent as the original H5N1, about one in five were lethal to mice at low doses, showing they retained at least a portion of the power of their dangerous parent.

The work suggests that under the right circumstances - and no one is clear what all of those are - the two types of flu viruses could swap genes in a way that might allow the H5N1 virus to acquire the capacity to trigger a pandemic. That process is called reassortment.

"This study is just showing exactly that: There is a risk this virus can successfully reassort with a human virus," said Richard Webby, director of the World Health Organization's collaborating centre for influenza research at St. Jude Hospital in Memphis, Tenn.

"The problem is we don't know at this stage whether there's a benefit to these H5N1 viruses in doing that."

Nor can anyone say why, if the viruses swapped genes so readily in the laboratory, that hasn't seemed to have happened in the parts of the world where H5N1 has been circulating for years.

"This is the million dollar question," says senior author Dr. Ruben Donis, of the U.S. Centers for Disease Control's influenza division.

Reassortment is one of two ways in which a pandemic virus can evolve. The other is for a bird virus to acquire a number of mutations that allow it to more easily infect people and transmit among them.

The latter, called adaptive mutation, is thought to be the way the 1918 Spanish flu virus emerged. The viruses responsible for the milder pandemics of 1957 and 1968 arose through the mixing of human and avian flu virus genes.

This work, done at the CDC, was conducted to study the reassortment potential of H5N1 and H3N2 viruses. H3N2 is one of two human influenza A viruses that cause disease during flu season.

The study was published in PLoS Pathogens, one of the Public Library of Science journals.

Reassortment studies can be done one of two ways. One involves simultaneously infecting cells with the two viruses and seeing what nature produces. The other involves making viruses by piecing together combinations of synthesized human and avian genes.

"It's like Lego," Donis, head of the molecular virology and vaccines branch, says of this approach, which was the one used for this study.

But this is a game of Lego where it's not clear from looking at the pieces which will go together into a structure that will hold. "We really don't understand the rules of engagement for playing the Legos. We don't know what makes these things connect well or not connect well," he admits.

The researchers created 63 viruses representing the various potential combinations of human and avian internal genes, using an H5N1 virus that circulated in Thailand in 2004 and an H3N2 virus recovered in Wyoming in 2003.

All but one of the hybrids carried the hemagglutinin and neuraminidase genes - the H and N in a flu virus's name of H5N1. The remaining one used the neuraminidase from the human virus, creating an H5N2 virus that grew virtually as well as the H5N1 virus and was almost as lethal in mice.

Once the viruses were made they were placed in a medium to see if and how well they grew. Viruses were then harvested to use to infect mice, to test for virulence.

While 13 of the hybrid viruses either didn't grow or barely grew, the other 50 grew to some degree. And 28 replicated nearly as well as the original H5N1. Donis admits he was surprised by how well the avian and human gene combinations performed.

"I was expecting more incompatibility," he says.

By studying the combinations that succeeded and failed, the scientists were able to start to see patterns of which gene combinations are critical for an H5N1 virus to thrive.

When the most viable viruses were tested in mice, none was as nasty as H5N1. "That's the good news," Donis says, alluding to the fact that if reassortment turns H5N1 into a pandemic strain, the resulting virus could be less virulent than the current version.

Since late 2003 there have been 383 confirmed human cases of H5N1 infection and 241, or 63 per cent, of those people have died.

The virus that most closely matched H5N1 for virulence was one with three avian genes, the hemagglutinin and neuraminidase, plus the PB1 gene combined with five genes from the human virus.

Both the viruses from the 1957 and 1968 pandemics carried an avian PB1 gene. The authors suggest that picking up an avian PB1 gene may be a critical step in a potential pandemic virus arising through reassortment.

But just because the viruses mated successfully in a laboratory doesn't mean those viruses could go on to trigger a pandemic. In order to have that potential, a virus would have to be able to transmit from person to person - a skill that has so far eluded H5N1.

"The bottom line is it comes back down to transmission really being the key," Webby says. "But to say that we understand what are the factors involved in transmission is certainly an overstatement."

Earlier work at the CDC on some H5N1-H3N2 reassortant viruses showed they failed to transmit from infected to uninfected ferrets, an animal often used in flu research.

Donis says his team hopes to test its reassortant viruses in ferrets as well, but is still going through the approvals process.

News from ©The Canadian Press, 2008

Pandemic flu vaccine program needs help

Pandemic flu vaccine program needs help

By NED FEDER

June 01, 2008

A government document — never released — presents a troubling picture of a vaccine shortage during an influenza pandemic: Overall, about 2 percent of Americans with influenza illness die. Hospitals are overwhelmed. People riot at some vaccination clinics as they are turned away or supplies run out. Trucks transporting vaccine are hijacked. Public anxiety heightens mistrust of government. Mortuaries and funeral homes are overwhelmed. The majority of people still have not been vaccinated when a second wave of influenza begins.

These descriptions come from an October 2006 New York Times article by Gardiner Harris, who obtained the government document. The document was never released to the public as originally planned. Its portrayal of public chaos and a heightened mistrust of government is a reminder of past blunders — and this may have hit too close to home.

Are these scenes an accurate forecast of a disaster that lies ahead? Or, instead, will the federal government be ready with enough vaccine when a pandemic strikes? The government has announced its plans, and they are not reassuring. The official word is that it will be several years before government-funded vaccine manufacturers are fully ready to produce vaccine. Even then, there won’t be enough vaccine for everyone until six months after the start of a pandemic.

The government’s pandemic flu vaccine program is a fairly good one, with scientists who are among the best in vaccine research and production. But the program has an obvious and easily corrected weakness: lack of transparency.

The sheer quantity of information on the government’s pandemic flu Web site, www.pandemicflu.gov, with its hundreds of documents and thousands of pages, is impressive. But much important information is missing, raising the question: Why not disclose it?

There are striking gaps in the information posted online:

• The government’s multimillion-dollar contracts with vaccine manufacturers are not posted. The contracts should be out in the open, along with evaluations of contractors’ performance, updated periodically.

• Vaccine production is based on two methods: one using chicken eggs devised more than a half-century ago, and the other a cell-based method about a decade old. Promising new methods are just now being considered for the manufacture of vaccine — methods that can produce large amounts of vaccine quickly after the start of a pandemic. However, the government’s investment in these novel approaches may be too small and too slow. The timetable, budget and other plans for large-scale implementation of the new methods should be available online for examination and comment by nongovernment experts.

• When a pandemic strikes, foreign sources of materials needed for U.S. vaccine production will probably be blocked. If any part, even a small part, of the manufacturing process in the U.S. depends on foreign sources, this fact should be disclosed publicly, along with plans for full self-sufficiency of U.S. manufacturers.

• Some nongovernment experts have indicated that the pandemic flu vaccine program is dangerously underfunded. Detailed plans and justifications of future budgets should be posted online.

A recent Project on Government Oversight report, “Pandemic Flu: Lack of Leadership and Disclosure Plague Vaccine Program,” has a fuller discussion of the points raised above. The report — under the publication library link at www.pogo.org — also covers other information that should be disclosed online.

The argument is strong for posting more information. If public health and vaccine experts outside government have ready access, they can then examine the facts more easily and comment on current plans. The same is true for investigative reporters. The government’s goal should be the greatest possible transparency — disclosure of weaknesses along with strengths.

The nation’s top health official, Secretary of Health and Human Services Michael Leavitt, should make sure that the documents and information missing from the government’s pandemic flu Web site are posted — or explain why this information can’t be disclosed.

Ned Feder, staff scientist for the Project on Government Oversight, previously was a scientist at the National Institutes of Health.

Saturday, May 31, 2008

Gerakan Non Blok Dukung Indonesia Soal Mekanisme Baru Pengiriman Virus Flu Burung

Jakarta, Depkes OL : 30 May 2008

Pada Sidang World Health Assembly (WHA = Sidang Tahunan Organisasi Kesehatan Dunia) ke-61, usulan Indonesia tentang mekanisme baru pengiriman dan pembagian keuntungan dari penggunaan sample virus flu burung mendapat dukungan politik dari 112 negara-negara anggota Gerakan Non Blok (GNB) dalam pertemuan Menkes GNB pertama yang diselenggarakan 21 Mei 2008.

Pada pertemuan tersebut, para Menkes GNB sepakat mendukung Deklarasi yang diajukan Indonesia yaitu “Responsible Virus Sharing and Benefits Sharing ”. Deklarasi tersebut akan dibahas lebih lanjut pada pertemuan Perwakilan Tetap (Watap) GNB di Jenewa 30 Juni 2008 sebagai posisi dan sikap bersama negara-negara anggota GNB menghadapi sidang lanjutan Inter-Goverrnmental Meeting on Pandemic Influenza Preparedness pada November 2008. Dengan menguatnya dukungan itu diharapkan dapat menggoalkan mekanisme baru virus sharing and benefit sharing flu burung yang adil, transparan dan setara bagi negara-negara berkembang.

Hal itu disampaikan Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) kepada para wartawan di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang tanggal 24 Mei 2008 setibanya di tanah air seusai menghadiri Sidang WHA ke-61 tanggal 19-24 Mei 2008 di Markas WHO Jenewa, Swiss.

Menkes menegaskan, dukungan politik itu datang dari negara-negara anggota Gerakan Non Blok pada pertemuan menteri kesehatan GNB yang pertama kali diadakan di sela-sela Sidang WHA tanggal 21 Mei lalu. ”Selama ini belum ada pertemuan menteri kesehatan GNB dalam Sidang WHA. Baru kali ini pertemuan Menkes diadakan dan mereka menyatakan dukungannya sebagai bentuk solidaritas”, kata dr. Siti Fadilah.

Pada Sidang WHA ke-61 yang bertema “Health Related to the Development Goals (MDGs)”, delegasi Indonesia dipimpin Menkes Dr. Siti Fadilah Supari beranggotakan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) dr. Husniah Thamrin Akib, Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat dr. Budihardja, MPH, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dr. Nyoman Kandun, MPH, Staf Khusus Menkes Bidang Kesehatan Publik Dr. Widjaja Lukito, Ph.D dan pejabat senior Deplu sekaligus konsultan hubungan internasional Depkes Dr. Makarim Wibisono.

Dr. Makarim Wibisono yang menyertai Menkes memberikan keterangan pers menyatakan, dukungan Menteri Kesehatan Gerakan Non Blok dalam Sidang WHA ke-61 itu dituangkan dalam Resolusi NAM (Non Aligned Movement = GNB) yang akan dibahas secara mendalam di Jenewa 30 Juni mendatang. Resolusi itu disiapkan untuk menghadapi sidang lanjutan Pertemuan Antarnegara mengenai Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza pada November 2008.

Menkes menambahkan, GISN (Global Influenza Surveilance Network) yang sudah eksis selama 60 tahun juga gagal memenuhi kesiapan global menghadapi ancaman pandemi influenza manakala kemampuan produksi vaksin global hanya mencukupi 5% penduduk dunia. Di lain pihak negara-negara berkembang tidak mendapatkan akses dan alih teknologi untuk membuat vaksin tersebut. Justru karena itu, Menkes minta GISN segera diganti dengan sistem baru yang transparan, adil dan setara.

Menurut Menkes, dalam pertemuan bilateral Indonesia mendapatkan dukungan moral dari beberapa negara seperti Inggris, Rusia dan Australia. Selain itu, dukungan politik secara langsung juga disampaikan pada pertemuan bilateral dengan Kuba, Iran, Malaysia dan Brunei Darussalam. Sementara India telah memberikan pernyataan dukungan tertulis, ujar Dr. Siti Fadilah.

“Dalam pertemuan bilateral dengan Rusia, ditawarkan kerja sama bidang kesehatan seperti perpindahan dan pelatihan tenaga medis, obat-obatan dan pembuatan vaksin flu burung dari strain Indonesia ”, ujar Dr. Siti Fadilah Supari.

Menurut Menkes, Rusia juga merupakan negara produsen terkemuka di bidang obat-obatan dan pembuatan vaksin. Bedanya dengan produsen vaksin lainnya, Rusia menawarkan pembuatan vaksin dengan sistem spray, paparnya.

Pada pertemuan bilateral dengan Amerika Serikat, disepakati pertemuan tingkat pejabat tinggi (SOM = Senior Official Meeting) kedua negara dengan agenda membahas Material Transfer Agreement (MTA), nama dan mekanisme baru dan paket benefit sharing virus flu burung. Pihak AS pada prinsipnya sudah menyetujui MTA, karena itu detil teknis masih akan dibahas dalam pertemuan lebih lanjut pada Juni 2008, kata Dr. Siti Fadilah Supari.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang kerja sama dengan Namru-2, Menkes menjelaskan bahwa pihak AS telah mengirimkan proposal baru perpanjangan kerja sama namun saat ini sedang dibahas di Departemen Luar Negeri.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks:021-5223002 dan 52960661.

Thursday, May 29, 2008

Cumulative Number of Avian influenza and Situation in Bangladesh


28 May 2008 -- The Ministry of Health, Bangladesh has confirmed its first case of human infection with H5N1 avian influenza. The case was identified retrospectively as part of seasonal surveillance activities run by the International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh (ICDDRB).

The case is a 16-month-old male from Komalapur, Dhaka. He developed symptoms on 27th January 2008 and subsequently recovered. The case was confirmed as being infected with A(H5N1) by the WHO H5 Reference Laboratory, US Centers for Disease Control and Prevention (CDC). The case was exposed to live and slaughtered chickens at his home. Specimens have been collected from his family members and neighbours. All remain healthy to date.



WHO Online

Tuesday, May 27, 2008

Yellow fever in the Central African Republic

The Ministry of Health (MoH) of the Central African Republic has reported 2 laboratory confirmed cases of Yellow fever from the Bozoum sub-prefecture, Ouham-Pendé Prefecture. The MoH has conducted an epidemiological investigation.


In response to the outbreak the MoH has made a request for 64,391 doses of Yellow fever vaccine from the GAVI funded Global Emergency Stockpile for Yellow fever vaccine, managed by the International Coordinating Group on Vaccine Provision for Yellow Fever Control (YF-ICG).
The target population was estimated to be 55,035 people. The MoH plans to vaccinate the sub prefecture of Bozoum starting on 26 May 2008 for three days.

WHO

H5N1 avian influenza : Timeline of Major Events in Indonesia (Part 2)

38. 13 Nov 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 73rd human case in a 35-year-old woman from Banten (onset date 7 November 2006) and its 74th human case, in a 30 month old boy from West Java (onset date 10 November 2006).

39. 8 Jan 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 75th human case, in a 14-year-old boy from West Jakarta (onset date 31 December 2006).

40. 9 Jan 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 76th human case, in a 37-year-old woman from Banten (onset date 1 January 2007).

41. 12 Jan 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 77th human case, in a 22-year-old woman from Banten (onset date 3 January 2007).

42. 15 Jan 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 78th human case, in a 27-year-old woman from South Jakarta (onset date 6 January 2007) and its 79th human case, in a 18-year-old boy from Banten (onset date 10 January 2007) (son of the 76th case).

43. 22 Jan 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 80th human case, in a 32-year-old woman from West Java (onset date 8 January 2007).

44. 25 Jan 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 81st human case, in a 6-year-old girl from Central Java (onset date 8 January 2007).

45. 28 Jan 2007 : Events in Animals : In an effort to curb virus spread, Indonesia institutes a poultry ban for the entire island of Java, and bans backyard poultry in 9 provinces.

46. 27 Mar 2007 : Events in Humans : During high level talks in Jakarta, Indonesia announces that it will resume sharing H5N1 AI virus with the international community.

47. 2 Apr 2007 : Events in Humans : According to the Ministry of Health in Indonesia, cases of H5N1 infection in humans continue to occur.

48. 16 May 2007 : Events in Humans : WHO retrospectively confirms 15 human cases and 13 deaths in Indonesia, bringing the total confirmed human cases to 96, with 76 deaths. Cases had onset dates between 25 January and 3 May 2007, and had been initially confirmed by the Indonesian Ministry of Health.

49. 24 May 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 97th human case, in a 5-year-old girl from Central Java (onset date 8 May 2007).

50. 31 May 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 98th human case, in a 45-year-old man from Central Java (onset date 17 May 2007).

51. 6 Jun 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 99th human case, in a 16- year-old girl from Central Java (onset date 21 May 2007).

52. 15 Jun 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 100th human case, in a 27- year-old man from Riau (onset date 3 June 2007).

53. 25 June 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 101st human case, in a 3- year-old girl from Riau (onset date 18 June 2007).

54. 11 Jul 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 102nd human case, in a 6-year-old girl from Banten (onset date 23 June 2007).

55. 14 Aug 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 103rd human case, in a 29-year-old woman from Bali (onset date 3 August 2007).

56. 15 Aug 2007 : Events in Humans : Research25 A study describing the epidemiology of 54 human cases of H5N1 infection in Indonesia is published. Conclusions included that 76% of cases were associated with poultry contact, and the source of infection was not identified in 24% of cases.

57. 16 Aug 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 104th human case, in a 17-year-old woman from Banten (onset date 9 August 2007).

58. 23 Aug 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 105th human case, in a 28-year-old woman from Bali (onset date 14 August 2007).

59. 10 Sept 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 106th human case, in a 33-year-old man from Riau (onset date 25 August 2007).

60. 2 Oct 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 107th human case, in a 21-year-old man from Jakarta (onset date 18 September 2007).

61. 8 Oct 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 108th human case, in a 44-year-old woman from Riau (onset date 1 October 2007).

62. 12 Oct 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 109th human case, in a 12-year-old boy from Banten (onset date 30 September 2007).

63. 15 Oct 2007 : Events in Animals : According to FAO26, H5N1 has caused recent outbreaks in poultry in 19 districts in Bangladesh and 4 districts in Indonesia, and in commercial poultry in Ogun, Nigeria (in September).

64. 25 Oct 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 110th human case, in a 5-year-old girl from Banten (onset date 14 October 2007).

65. 31 Oct 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 111th human case, in a 3-year-old boy from Banten. Both this case and the 110th case became ill on 14 October, but no epidemiological link between them has been identified.

66. 5 Nov 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 112th human case, in a 30-year-old woman from Banten (onset date 23 October 2007).

67. 12 Nov 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 113th human case, in a 31-year-old man from Riau (onset date 31 October 2007).

68. 12 Dec 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 114th human case, in a 28-year-old woman from Banten (onset date 1 December 2007).

69. 13 Dec 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 115th human case, in a 47-year-old man from Banten (onset date 2 December 2007).

70. 17 Dec 2007 : Events in Animals : According to FAO27, H5N1has continued to cause outbreaks in poultry in areas of Indonesia (Bali, Java, Sulawesi, Sumatra) and Viet Nam (Tra Vinh, Cao Bang, Quang Tri) in November and December.

71. 26 Dec 2007 : Events in Humans : Indonesia confirms its 116th human case, in a 24-year-old woman from Jakarta (onset date 14 December 2007).

72. 11 Jan 2008 : Events in Humans : Indonesia confirms its 117th human case, in a 16-year-old girl from West Java (onset date 30 December 2008)

73. 15 Jan 2008: Events in Humans : Indonesia confirms its 118th human case, in a 32-year-old woman from Banten (onset date 3 January 2008)

74. 21 Jan 2008 : Events in Humans : Indonesia confirms its 119th human case, in an 8-year-old boy from Banten (onset date 7 January 2008).

75. 23 Jan 2008 : Events in Humans : Indonesia confirms its 120th human case, in a 30-year-old man from Banten (onset date 13 January 2008).

76. 29 Jan 2008 : Events in Humans : Indonesia confirms its 12 1st human case in a 31-year-old woman from Jakarta (onset date 18 January 2008), its 122nd human case in a 9-year-old boy from West Java (onset date 16 January 2008), 123rd human case in a 32-year-old man from Banten (onset date 17 January 2008), and its 124th human case in a 23- year-old woman from Jakarta (onset date 19 January 2008).

77. 5 Feb 2008 : Events in Humans : Indonesia confirms its 125th human case in a 29-year-old woman from Banten (onset date 22 January 2008), and its 126th human case in a 38-year-old woman from Jakarta (onset date 24 January 2008)

78. 11 Feb 2008 : Events in Animals : According to FAO28, Indonesia continues to experience outbreaks of H5N1 in poultry.

79. 12 Feb 2008 : Events in Humans : Indonesia confirms its 127th human case in a 15-year-old girl from Jakarta (onset date 2 February 2008)

80. 21 Feb 2008 : Events in Humans : Indonesia confirms its 128th human case in a 16-year-old man from Central Java (onset date 3 February 2008), and its 129th human case in a 3-year-old boy from Jakarta (onset date 3 February 2008).

81. 16 Mar 2008 : Events in Animals : China reports H5N1 in poultry at a live animal market in Guangdong According to FAO, HPAI is still being detected in poultry on three islands of Indonesia, Bali, Java, and Sumatra. 29

82. 2 Apr 2008 : Events in Humans : Indonesia confirms its 130th human case, in a 15-year-old boy from West Java (onset date 19 March 2008), its 131st human case in a 11-year-old girl from West Java (onset date 19 March 2008) and its 132nd human case in a 21-month old girl from West Sumatra (onset date 17 March 2008). There has been no epidemiological link identified among the cases.

83. 30 April 2008 : Events in Humans : Indonesia confirms its 133rd human case in a 3-year-old boy from Central Java (onset date 14 April), and 108th Fatality.


Source : WHO

H5N1 avian influenza : Timeline of Major Events in Indonesia (Part 1)

1. 2 Feb 2004 : Events in Animals : Indonesia first reports H5N1 in poultry in 11 provinces. Outbreaks continue to be reported. Vaccination is allowed.

2. Jun/Jul 2004 : Events in Animals : China reports recurrence of H5N1 in poultry. Outbreaks continue to be reported in Indonesia, Viet Nam and Thailand.

3. Dec 2004 : Events in Animals : Poultry outbreaks continue in Indonesia, Thailand, and Viet Nam and possibly also in Cambodia and Lao PDR. Reported outbreaks continue more or less continuously in Indonesia through August 2006, in Thailand through November 2005, and in Viet Nam though December 2005.

4. 21 Jul 2005 : Events in Humans : Indonesia confirms its first human case. Infection in two other family members is considered likely, but cannot be laboratory confirmed. Subsequent investigation is unable to determine the source of infection. Virus has been circulating in poultry in Indonesia since February 2004.

5. 2 Aug 2005 : Events in Animals : Indonesia reports H5N1 in poultry and pigs during surveillance in the region where the recent human cases lived (Tangerang district, Banten province, West Java).

6. 16 Sep 2005 : Events in Humans : Indonesia confirms its 2nd case.

7. 22 Sep 2005 : Events in Humans : Indonesia confirms its 3rd case.

8. 29 Sep 2005 : Events in Humans : Indonesia confirms its 4th case. Research13 Research describes the clinical features of H5N1 infection and reviews recommendations for the management of cases.

9. 10 Oct 2005 : Events in Humans : Indonesia confirms its 5th human case.

10. 24 Oct 2005 : Events in Humans : Indonesia confirms its 6th and 7th human cases.

11. Jan 2006 : Events in Humans : By the end of 2005, Indonesia has confirmed a total of 20 cases in humans.

12. 13 Feb 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 25th case and 18th fatality.

13. 12 Apr 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 31st human case in a 23-year-old man from West Java (onset date 20 March 2006).

14. 19 Apr 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 32nd human case in a 24-year-old man from Banten (onset date 29 March 2006).

15. 8 May 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 33rd human case in a 30-year-old man from Jakarta (onset date 17 April 2006)

16. 18 May 2006 : Events in Humans : Indonesia reports the largest family cluster in any country to date, with 7 confirmed cases (the 34th through 39th and the 42nd) from 4 households in the Karo district of North Sumatra. The index case (unconfirmed) develops symptoms on 24 Apr, the last case dies on 22 May. Cases include the index case's 2 sons, (aged 15 and 17 years), her 10-year-old nephew, her 2 brothers (aged 25 and 32 years), her 28-year-old sister, and this sister's 18-month-old daughter. Disease does not spread beyond the extended family. Limited human to human transmission can not be ruled out. Viruses do not show any significant genetic mutations or reassortment.

17. 18 May 2006 : Events in Humans : Indonesia also confirms its 40th human case, in a 38-year-old woman from East Java (onset date 2 May 2006).

18. 19 May 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 41st human case in a 12-year-old boy from East Jakarta (onset date 7 May 2006).

19. 29 May 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 43rd - 48th human cases in an 18-year-old man from East Java (onset date 6 May 2006), a 10-year¬old girl and her 18-year--old brother from West Java (both with onset date 16 May 2006), a 39-year-old man from Jakarta (onset date 9 May 2006), a 43-year-old man from Jakarta (onset date 6 May 2006), and a 15-year-old girl from West Sumatra (onset date 17 May 2006). All 6 cases are unrelated to the family cluster in Karo, North Sumatra.

20. 6 Jun 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 49th human case in a 15-year-old boy from West Java (onset date 26 May 2006).

21. 15 Jun 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 50th human case in a 7-year-old girl from Banten (onset date 26 May 2006).

22. 20 Jun 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 51st human case in a 13-year-old boy from Jakarta (onset date 9 June 2006).

23. 4 Jul 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 52nd human case in a 5-year-old boy from East Java (onset date 8 June 2006).

24. 14 Jul 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 53rd human case in a 3-year-old girl from Jakarta (onset date 23 June 2006).

25. 20 Jul 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 54th human case in a 44-year-old man from Jakarta (onset date 24 June 2006).

26. 8 Aug 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 55th human case in a 16-year-old boy from West Java (onset date 26 July 2006), and becomes the country with the most human deaths (n=43) from H5N1 HPAI infection, surpassing Viet Nam. A system for unified H5N1 nomenclature, developed by the WHO/OIE/FAO Evolution Working Group, is posted on the WHO website and the OFFLU website (www.offlu.net).

27. 9 Aug 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 56th human case in an 17-year-old girl from Jakarta (onset date 28 July 2006).

28. 14 Aug 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 57th human case in an 17-year-old boy from West Java (Cikelet/Garut Cluster) (onset date 26 July 2006).

29. 17 Aug 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 58th human case in an 9-year-old girl from West Java (Cikelet/Garut Cluster) (onset date 1 August 2006).

30. 21 Aug 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 59th human case in an 35-year-old woman from West Java (Cikelet/Garut Cluster) (onset date 8 August 2006). In this cluster, there was no evidence of human to human transmission, poultry deaths were possibly linked with live chickens returning to village from live animal market, and there were possible additional human cases that were not confirmed.

31. 23 Aug 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 60th human case in an 6-year-old girl from West Java (onset date 6 August 2006).

32. 8 Sep 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 61st human case in an 14-year-old girl from South Sulawesi (onset date 18 June 2006). Due to revisions to the WHO case definition, two cases are retrospectively confirmed in Indonesia: The 62nd in an 8-year-old girl from Banten (onset date 24 June 2005) and the 63rd in a 45-year¬old man from central Java (onset date 25 November 2005).

33. 14 Sep 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 64th human case in a 5-year-old boy from West Java (onset date 4 March 2006)and (through follow up testing) its 65th human case in a 27-year-old male from West Sumatra (onset date 28 May 2006) (brother of 15- year-old girl; was possible human to human transmission).

34. 25 Sep 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 66th human case in an 11-year-old boy from East Java (onset date 16 September 2006)and its 67th human case in a 9-year-old boy from Jakarta (onset date 13 September 2006).

35. 27 Sep 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 68th human case in a 20-year-old man from West Java (onset date 17 September 2006).

36. 3 Oct 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 69th human case in a 21-year-old woman from East Java (onset date 19 September 2006) (the sister of the 66th case).

37. 16 Oct 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 70th human case in a 67-year-old woman from West Java (onset date 3 October 2006), its 71st human case in a 11-year-old boy from Jakarta (onset date 2 October 2006), and its 72nd human case in a 27-year-old woman from Central Java (onset date 8 October 2006).

38. 13 Nov 2006 : Events in Humans : Indonesia confirms its 73rd human case in a 35-year-old woman from Banten (onset date 7 November 2006) and its 74th human case, in a 30 month old boy from West Java (onset date 10 November 2006).

Monday, May 26, 2008

Stop Penjajahan Di Bidang Kesehatan

Fikriyyah Mustaniirah
DPP Hizbut Tahrir Indonesia

Saat ini kita dihadapkan pada realitas yang mengerikan, para ahli kesehatan mengkhawatirkan terjadinya apa yang disebut dengan loss generation pada bangsa ini. Bagaimana tidak. Menurut data Departemen Kesehatan (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar 3,5 juta anak menderita gizi kurang, dan 1,5 juta anak menderita gizi buruk,1 serta menurut WFP 150.000 di antaranya marasmus-kwashiorkor.2

Sementara itu, TBC (tuberkulosis) terus menjadi ancaman serius dengan jumlah penderita 5,8 juta orang, dengan 582 kasus baru setiap tahun.3 Malaria mengancam 107.785.000 jiwa.4 Penderita HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency Syndrom) meningkat sangat pesat, yaitu sekitar 130.000 jiwa tertular, dan 19 juta jiwa yang rawan tertular.5,6 Penderita ISPA di Jakarta tahun 1999 tercatat 1.023.801 jiwa.7 Kembali terjadi kejadian luar biasa (KLB) polio.8 KLB demam berdarah dengue (DBD) 9 diare dan korban muntaber terus berjatuhan,10 Tiga orang dari 10 penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa.11 Penyakit degeneratif tidak terbendung.12

Menuai Dolar, Menyebar Penyakit
Berbagai penyakit yang terus menjangkiti masyarakat sesungguhnya merupakan akumulasi efek (cummulative effect) dominasi (baca: penjajahan) Kapitalisme yang menghancurkan sendi-sendi kesehatan masyarakat. Inilah buktinya. Sekularisme yang menjadi jiwa Kapitalisme membuat ratusan juta anak manusia menderita krisis spiritual (baca: krisis akidah Islam). Akhirnya, manusia kehilangan daya kelola stress dan daya adaptif (coping mechanism) positif yang penting untuk mempertahankan daya imunitas. Tubuh pun menjadi rentan dijangkiti berbagai penyakit seperti kanker, hipertensi dan infark miokard.15 Krisis spiritual juga meningkatkan penyalahgunaan NAZA,16 angka bunuh diri, kekerasan dan berbagai bentuk depresi.17

Bisnis fast food (baca: junk food) dan berbagai soft drink yang dikuasai oleh Multi National Coorporations turut bertanggung jawab terhadap persoalan kesehatan seperti kanker, obesitas, diabetes dan gangguan sistem percernaan.18 Revolusi seks bebas yang bertanggung jawab sebagai sumber penularan utama berbagai penyakit menular seksual6 juga tak lepas dari penjajahan Kapitalisme global, yaitu melalui berbagai bentuk bisnis yang berbalut syahwat. Hal ini mengakibatkan penderita penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS, infeksi HPV (Human Papillomo Virus) meningkat pesat.19 Bisnis syahwat ini pula yang menjerat ratusan ribu wanita dalam jaringan perdagangan manusia internasional.20 Mereka dalam tekanan fisik dan mental, putus asa dan rawan tertular berbagai penyakit menular seksual.

Kapitalisme global jelas bertanggung jawab atas pemiskinan di negeri zamrud khatulistiwa ini. Pemiskinan terkait erat dengan masalah kurang gizi, yang pada Ibu hamil mengakibatkan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah bahkan cacat. Selain kehilangan kecerdasan, anak penderita kurang gizi juga rentan terinfeksi, menderita berbagai gangguan fisiologis, bahkan bisa berujung pada kematian.21 Kemiskinan juga mengakibatkan hampir separuh penduduk Indonesia tidak mampu mengakses air bersih dan sanitasi yang layak (UNDP, 2006). Menurut catatan Depkes tahun 2002, hanya 64,89% masyarakat yang memiliki rumah sehat dan hanya 78,45% masyarakat yang memiliki tempat-tempat umum sehat.22

Indusrialisasi yang bersifat kapitalistik juga bertanggung jawab atas pencemaran lingkungan oleh berbagai limbah berbahaya yang mengakibatkan gangguan berbagai fungsi organ;23 juga atas kerusakan berbagai ekosistem, hilangnya paru-paru dunia serta munculnya berbagai polutan yang berperan dalam pemanasan global dan perubahan iklim global.24 Akibatnya adalah terjadi banjir, kekeringan dan serangan topan dan gagal panen, yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat. Menurut Prof. Umar Fachmi, perubahan iklim global telah mengakibatkan malaria kembali mewabah di beberapa daerah.

Lembaga Internasional: Alat Penjajahan
Setelah membebani masyarakat dengan berbagai macam penyakit, kekuatan Kapitalisme global melalui lembaga-lembaga internasional, seperti IMF (International Monetery Fund) dan WTO (World Trade Organization) terus melucuti dan memandulkan fungsi sosial negara, termasuk kewajiban negara memberikan jaminan pelayanan kesehatan berkualitas bagi semua warga negara.

Bersamaan dengan itu, MNC (Multi National Coorporate) dan TNC (Trans Nasional Coorporation) terus mengokohkan keberadaan lembaga-lembaga kesehatan internasional seperti WHO (World Heath Organization), CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan FDA (Food and Drug Administration) sebagai kendaraan Kapitalisme global. Terbongkarnya bisnis fantastis (Rp 5,220 triliun) di atas mayat penderita avian infuleanza baru-baru ini bukanlah bukti yang pertama WHO sebagai kacung Kapitalisme. Sebab, ternyata GISN (Global Infuleanza Surveilance Network) WHO telah melakukan hal serupa terhadap berbagai seed virus influenza selama 50 tahun.25

Kasus vaksin rotavirus yang menghebohkan masyarakat AS pada tahun 1999 adalah bukti lain tentang keterlibatan lembaga bergengsi CDC dan FDA dalam kepentingan Kapitalisme global. Vaksin yang membahayakan nyawa puluhan sampai ratusan bayi itu ternyata tetap lolos ke pasaran lebih karena pengambil keputusan di CDC dan FDA ditentukan oleh para pemilik saham di perusahaan pembuat vaksin, antara lain adalah John Modlin, yang juga memiliki saham senilai $26.000 di Merck; Paul Offit, M.D., anggota penasihat CDC yang memegang hak paten untuk vaksin rotarovirus.26

Dolar kembali menunjukkan kekuasaannya pada kasus kadar aman merkuri di dalam vaksin, yaitu memilih kompromi antara AAP, yaitu asosiasi ahli bedah Amerika, CDC dan FDA (Juli 1999).26 Meskipun kehadiran vaksin penuh dengan polemik, sungguh “menakjubkan” MNC mampu memandulkan daya nalar, tak terkecuali insan kesehatan, yaitu mengubah paradigma preventif yang bersifat alamiah-konvensional—seperti mengkonsumsi gizi seimbang dan meningkatkan daya kelola stres—menjadi paradigma “preventif” dengan vaksinasi. Semua ini tidak terlepas dari keuntungan fantastis yang bisa diperoleh dari bisnis vaksin. Contoh, untuk program vaksinasi HPV perorang dibutuhkan biaya sekitar Rp 3.000.000.27

Cukup mudah menemukan tulisan tentang pembenaran harm reduction, yaitu pengurangan bahaya penularan HIV bagi pengguna narkoba dengan subsitusi metadon dan pembagian jarum suntik steril. Namun, jika ditimbang secara rasional terdapat beberapa kejanggalan atas upaya ini, dan semakin mencurigakan, ketika WHO mengalokasikan dana secara irasional untuk pencegahan HIV/AIDS, yaitu 15 kali lebih besar daripada untuk pencegahan penyakit TBC. Padahal HIV/AIDS hanya pembunuh nomor empat dunia, setelah TBC, malaria dan busung lapar (Majalah Time, 2006).

Peran lembaga-lembaga kesehatan internasional sebagai kendaraan Kapitalisme global juga terlihat nyata ketika WHO bergandengan tangan dengan raksasa-raksasa farmasi internasional seperti Bayer, Pfizer dan Aventis melalui World Economic Forum untuk menyediakan obat pada masyarakat miskin Dunia Ketiga. Banyak pihak yang meyakini rekanan ini lebih untuk kepentingan para coorporate raksasa itu.29

Penjajahan Melalui UU
Undang-undang adalah cara “sopan dan intelek” Kapitalisme global dalam meraih berbagai kepentingannya. Kenyataannya, dengan meratifikasi berbagai perjanjian (yang tentunya telah dipersiapkan dengan sangat licik), kita semakin berada dalam cengkeraman sang penjajah yang haus dolar dan darah.

Salah satu contohnya adalah akibat Indonesia meratifikasi GATS (General Agreement on Trade Services), yaitu salah satu perjanjian yang diterapkan WTO (World Trade Organization), pada Putaran Uruguay, awal Januari 1995. Terkait dengan layanan kesehatan, yang perlu digarisbawahi dari penjanjian ini adalah perubahan jasa kesehatan dari social goods menjadi comercial goods. Sebagaimana kebanyakan perjanjian perdagangan multilateral lainnya, perjanjiian ini juga ditujukan agar negara-negara Dunia Ketiga, juga Indonesia, takluk di bawah kekuasan MNC. Perlu pula dicatat, WHO turut berupaya agar GATS diterima di berbagai negara.30
Sejak kesepakatan ini diratifikasi, para koorporat berusaha menguasai pasar dunia kesehatan, yaitu dengan berbagai teknologi terkini kesehatan seperti telemedicine, telediagnose, telehealtheducation. Selain itu, para koorporat menguasai bisnis jasa pelayanan kesehatan dengan memberikan kemudahan bagi masyarakat (yang berduit) mengakses jasa kesehatan miliknya, yang menjanjikan segala yang serba ‘wah’; juga kemudahan para koorporat melakukan investasi pada jasa pelayanan kesehatan. Ini bisa dilihat dari berdirinya RSI (Rumah Sakit Internasional) di beberapa kota besar di Indonesia. Disinyalir kuat GATS menjadi jalan mulus bagi masuknya tenaga kesehatan asing ke Indonesia.31
Pada saat praktik dibatasinya hanya pada tiga tempat, sementara itu ada tawaran gaji yang jauh lebih besar, beserta peralatan kedokteran yang serba cangih pada jasa layanan kesehatan milik para korporat, para dokter lebih memilih sebagai pekerja para kapitalis daripada sebagai dosen atau membuka praktik di klinik-klinik gurem. Akibatnya, klinik-klinik kecil terancam gulung tikar. Rakyat miskin semakin sulit mendapatkan layanan kesehatan berkualitas. Inilah akibat yang dirasakan dengan disahkannya RUUPK (Rancangan Undang-Undang Praktik Kedokteran) tahun 2005.
Berdalih agar pengguna narkoba suntik tidak tertular HIV, KPAN (Komisi Penangulangan Aids Nasional) berupaya mengamandemen UU Psikotropika. Ini karena UU Psikotropika mengkategorikan pemegang alat suntik narkoba sebagai pelaku kriminal.32 Sementara itu, untuk melegalkan praktik aborsi, meskipun tanpa indikasi medis, dengan dalih menekan angka kematian ibu, Ford Foundation telah mengucurkan dana tidak sedikit agar UU Kesehatan No 23 tahun 1992—yang melarang aborsi kecuali dengan indikasi medis—diamandemen.33
Pada berbagai proses amandemen itu, peran penting LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) terlihat jelas, seperti pada kasus amandemen UU Kesehatan. Keberadaan LSM sebagai wadah aktivitas dan para pelacur ilmu sebagai motor perpanjangan tangan Kapitalisme global tidak perlu diragukan lagi. 34 Semua itu semakin menambah berat penyakit yang diderita masyarakat.
Stop Penjajahan!
Berdasarkan uraian di atas, satu-satunya langkah rasional untuk meyembuhkan segala penyakit yang membebani masyarakat hanyalah dengan menghilangkan sumber penyakitnya, yaitu menghentikan penjajahan Kapitalisme global. Hanya saja penjajahan Kapitalisme global itu tidak akan berhenti, kecuali dengan cara menata ulang ruang kehidupan yang menjadi sarang penjajahan tersebut. Dengan begitu, tidak ada lagi ruang bagi sang penjajah untuk bernafas. Satu-satunya tatanan kehidupan yang bersifat demikian adalah sistem kehidupan Islam. Itulah Khilafah Islam yang menerapkan syariah Islam yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Allah Swt. mewajibkan kita mewujudkan sistem kehidupan ini agar manusia terbebas dari segala bentuk penjajahan, yang menjadi sumber beban penyakit yang diderita masyarakat. Allah Swt. berfirman:Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta. (QS al-Anbiya’ [21]: 107)
Tentu tidak hanya orang Islam yang akan merasakan rahmat Allah yang dihasilkan dari penerapan sistem kehidupan Islam, tetapi juga non-Muslim, bahkan seluruh alam.
Tatanan kehidupan Islam yang bersumber dari Allah Swt, Pencipta segala sesuatu dalam kesetimbangan/keserasian yang menakjubkan, tidak saja menjaga keseimbangan dinamis tubuh kita, tetapi juga menjamin terwujudnya keseimbangan dan keharmonisan antara host (manusia), agent (berbagai kuman dan zat kimia) serta lingkungan fisik dan biologi, yang merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya kesehatan bagi semua. Allahu a‘lam. (wns)

Sumber : WASPADA ONLINE

Saturday, May 24, 2008

HIV/AIDS : 15 Perempuan Hamil Terdeteksi Positif

Sabtu, 24 Mei 2008 | 00:36 WIB

Surabaya, Kompas - Kasus HIV/AIDS pada bayi dan anak diperkirakan akan terus meningkat. Tidak adanya sistem deteksi dini menyebabkan pencegahan kerap terlambat.


Saat ini Rumah Sakit Umum dr Soetomo merawat 15 perempuan hamil yang dideteksi positif HIV/AIDS.

Mereka adalah pasien rujukan dari sejumlah puskesmas dan klinik yang dikelola lembaga swadaya masyarakat. ”Tak satu pun dari mereka sengaja ikut tes HIV/AIDS,” kata Siti Fatimah, Kepala Seksi Keperawatan Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi (UPIPI) RSU dr Soetomo di Surabaya, Jumat (23/5).

Potensi penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak dapat ditekan hingga 25 persen jika pengobatan pencegahan dengan obat antiretroviral (ARV) diberikan sejak masa kehamilan. Tanpa itu, potensi penularan mencapai 70 persen.


Menurut data Dinas Kesehatan Kota Surabaya tahun 2007, kasus HIV/AIDS pada bayi usia 0-4 tahun ada 11 orang. Pada 2006 belum ada kasus tercatat.

RSU dr Soetomo Surabaya dalam tiga bulan terakhir menerima 40 kasus baru HIV/AIDS pada bayi dan anak—total sejak Januari 2008 ada 64 jiwa—hampir tiga kali lipat dari tahun 2007 (26).

Sekitar 30 anak berobat jalan secara rutin, sedangkan seorang anak berusia satu tahun terpaksa ”menetap” di rumah sakit karena ditinggalkan orangtuanya.


Menurut Esthi Susanti, Direktur Eksekutif Hotline, LSM bidang kesehatan perempuan, saat ini penularan HIV/AIDS, 25 tahun sejak kasus pertama, telah merambah ke populasi umum, yaitu anggota masyarakat yang semula dinilai tak berisiko tertular. Sekitar 25 persen orang dengan HIV/AIDS di Indonesia adalah ibu rumah tangga dan anak. (A10)

Sumber : Kompas-Humaniora

Friday, May 23, 2008

Enterovirus 71, Benarkah Mematikan Manusia?

Jumat, 23 Mei 2008 | 01:16 WIB

Amin SOEBANDRIO

Dunia kesehatan kembali gempar ketika beberapa minggu lalu China melaporkan 28 anak meninggal karena terserang penyakit tangan, kaki, dan mulut. Sementara sebanyak 15.799 orang dilaporkan terserang penyakit tersebut.

Penyakit ini, sesuai dengan namanya, penyakit tangan, kaki, dan mulut (hand, foot, mouth disease/HFMD) adalah penyakit yang memiliki tanda utama adanya bercak kemerahan dan lepuh pada lidah, gusi, dan bagian dalam pipi, serta telapak tangan dan kaki, kadang-kadang di daerah bokong dan lipat paha.

Dengan gejala yang mirip penyakit ”flu”, yaitu demam, nyeri tenggorok, sakit kepala, lesu, dan hilangnya nafsu makan, penyakit ini lebih banyak menyerang anak-anak, terutama usia di bawah sepuluh tahun.

Munculnya HFMD disebabkan beberapa jenis virus. Virus yang paling sering adalah coxsackievirus A16; tetapi juga dapat disebabkan oleh enterovirus 71 (EV71), atau coxsackieviruses A5, A9, A10, B2, dan B5.

Penyakit ini berbeda dengan penyakit mulut dan kuku yang menyerang beberapa jenis ternak, virus penyebabnya berbeda. Virus jenis EV71 pertama kali diisolasi di California tahun 1969 dan tahun 1974 dipastikan merupakan suatu serotype baru dari genus Enterovirus, anggota dari keluarga Picornaviridae.

Setahun setelah pertama kali diisolasi, EV71 menyebabkan wabah di Amerika Serikat, Australia, Swedia, dan Jepang. Tahun 1975 EV71 menarik perhatian dunia setelah menyebabkan wabah di Bulgaria, terjadi kelumpuhan pada 705 orang—93 persen adalah anak-anak balita—dan kematian pada 44 orang.

Wabah serupa juga terjadi di Hongaria pada tahun 1978. Sejak itu wabah EV71 terus terjadi di seluruh belahan dunia. Wabah yang terjadi di Taiwan tahun 1998 merupakan yang terbesar, tercatat 100.000 orang terinfeksi, 400 anak dirawat inap karena gangguan saraf pusat, dan 78 anak meninggal karena infeksi jaringan otak. Kejadian luar biasa HFMD di China saat ini diduga kuat disebabkan EV71.

Bisa sembuh sendiri

Serangan HFMD yang disebabkan Coxsackievirus A16 biasanya tidak serius dan sembuh sendiri dalam 7-10 hari. Sementara HFMD yang disebabkan EV71 dapat mengakibatkan meningitis (radang selaput otak), dan pada beberapa kasus berat dapat menjadi ensefalitis (radang otak), atau menyebabkan kelumpuhan mirip poliomyelitis. Ensefalitis karena EV71 dapat berakibat fatal.

Perbedaan mencolok pada gejala awal antara HFMD oleh Coxsackievirus A16 dan EV71 adalah pada infeksi EV71 suhu dapat mencapai 39 derajat Celsius selama tiga hari berturut-turut.

Sampai saat ini tidak ada obat yang secara spesifik digunakan untuk membunuh virus penyebab HFMD. Upaya yang dilakukan adalah simtomatik, yaitu menghilangkan gejala demam dan sakit kepala, mencegah terjadinya kehilangan cairan (dehidrasi), terutama pada anak kecil, dan mencegah terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri, jamur, ataupun virus lain. Pada kasus-kasus berat tentunya perlu dilakukan penanganan medis sesuai dengan gangguan yang dialami.

Virus penyebab HFMD dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung dengan cairan hidung, air liur, cairan lepuh, cairan dari ruam, atau tinja dari orang yang terinfeksi. Potensi penularan terbesar adalah pada minggu pertama sakit. Semua orang dapat tertular, tetapi anak-anak di bawah lima tahun biasanya lebih rentan. Virus penyebab HFMD tidak ditularkan melalui serangga atau hewan lain.

Vaksin belum ada

Sampai saat ini tidak ada vaksin yang digunakan untuk meningkatkan kekebalan terhadap virus EV71 ataupun Coxsackievirus A16. Tindakan utama untuk mencegah penularan adalah higiene dan sanitasi perorangan.

Hindari kontak dengan cairan tubuh penderita, segera cuci tangan dengan sabun jika diduga terjadi kontak. Hindari penggunaan bersama peralatan makan, minum, dan pakaian dengan penderita.

Peralatan yang tercemar dapat direndam selama 15 menit dalam cairan hipoklorit 0,5 persen yang dapat disiapkan dengan mencampur cairan pemutih pakaian dengan air bersih dengan perbandingan 1 : 9, sebelum dicuci seperti biasa.

Anak-anak yang terinfeksi tidak dibenarkan mengunjungi tempat umum yang ramai, seperti sekolah, taman bermain, pusat belanja, dan angkutan umum, untuk mencegah penularan kepada orang yang lain, selain berguna untuk mencegah timbulnya komplikasi pada dirinya.

Pada pertengahan tahun 2006 Departemen Kesehatan RI telah meminta kewaspadaan masyarakat umum dan petugas kesehatan akan kemungkinan munculnya kasus HFMD di Indonesia, setelah merebaknya penyakit tersebut di Serawak dan Kuching, Malaysia.

Pada periode yang sama juga dilaporkan ditemukan kasus serupa di Singapura. Di beberapa rumah sakit secara sporadis juga dilaporkan adanya beberapa anak yang dirawat karena menunjukkan gejala dan tanda yang serupa dengan HFMD.

Walaupun konfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan, dari gejala dan tanda klinisnya dapat diduga kuat bahwa HFMD sudah terdapat di Indonesia. Satu hal yang perlu disyukuri adalah sampai saat ini belum pernah dilaporkan adanya kejadian luar biasa HFMD.

Jumlah kasus terduga HFMD di Indonesia memang masih relatif sangat kecil dan tidak ada laporan kematian akibat penyakit ini, tetapi hal ini tidak boleh menyebabkan kita lengah.

Tindakan pencegahan harus dilakukan secara proaktif oleh segenap lapisan masyarakat dengan senantiasa menjaga kesehatan dan kebersihan perorangan dan lingkungan. Jika terdapat anggota keluarga yang menunjukkan tanda dan gejala yang mencurigakan (mirip gejala di atas), hendaknya ia segera dijauhkan dari aktivitas di luar rumah serta dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat kepastian diagnosis dan penanganan segera.

AMIN SOEBANDRIO Kementerian Negara Riset dan Teknologi

Sumber : Kompas

Thursday, May 22, 2008

Menkes Tagih Janji WHO Berbagi Virus Flu Burung

22/05/2008 09:52 WIB


Jakarta - Menkes Siti Fadilah Supari kembali menagih janji WHO untuk menciptakan sistem pembagian virus flu burung yang adil (virus sharing). Dia mengingatkan sistem yang ada sekarang perlu disempurnakan.

Hal ini dikatakan Menkes ketika berpidato pada Sidang ke-61 World Health Assembly (WHA) di Jenewa, Swiss, 20 Mei 2008. Pada pertemuan tahun lalu, Menkes membuat gebrakan dengan menentang sistem pembagian virus yang tidak adil.

"Negara-negara anggota telah menyetujui usul Indonesia agar mekanisme virus sharing konsisten dengan hukum dan peraturan nasional masing-masing negara," kata Menkes dalam rilis Perutusan Tetap Republik Indonesia di Jenewa kepada detikcom, Kamis (22/5/2008).

Menurut Menkes, sistem Global Initiative Surveillance Network (GISN) yang berlangsung selama 60 tahun tidak akan pernah adil dan transparan kecuali mempertimbangkan kedaulatan negara pengirim virus. Oleh karena itu, GISN harus diganti dengan mekanisme baru.

"WHO diminta tidak mengesampingkan kepentingan negara berkembang, tetapi harus memberikan pelayanan kepada seluruh negara anggota," jelas Menkes.

Menkes tidak setuju pendapat salah satu negara yang mengatakan GISN selama 60 tahun berhasil mewujudkan kesehatan global. "Mereka tidak melihat banyak fakta yang justru merugikan negara-negara berkembang," tegasnya.

Menkes menjelaskan, kemampuan produksi vaksin yang kurang dari 5 persen jumlah penduduk dunia saat ini adalah suatu kegagalan besar. Akses dan transfer teknologi belum diperoleh negara-negara berkembang.

"Program penyediaan stok obat gagal memenuhi tantangan kesiapsiagaan dunia menghadapi pandemi influenza," kata dia.

Menkes lebih lanjut mengatakan Indonesia tidak takut mengemban tanggung jawab dalam virus sharing asalkan sistem itu adil dan menguntungkan negara berkembang.

"Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam kesehatan masyarakat dunia," pungkasnya. ( fay / nrl )

Fitraya Ramadhanny - detikcom

Wednesday, May 21, 2008

Indonesia Tuan Rumah Konferensi Dunia Limbah Berbahaya

21/05/2008 15:52 WIB


Jakarta - Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi internasional masalah limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya). Konferensi ini penting diselenggarakan mengingat limbah B3 dari negara-negara asing masih masuk ke Indonesia.

"Indonesia masih rentan terhadap masuknya limbah B3 dari negara lain. Karena negara kita negara kepulauan. Oleh karena itu konferensi ini sangat penting bagai negara kita," ujar Menneg LH Rahmat Witoelar di Kantor Kementerian LH di Jl DI Panjaitan, Jakarta, Rabu (21/5/2008).

Rahmat mengatakan, biasanya limbah-limbah tersebut masuk ke Indonesia dengan menggunakan dokumen palsu. Karena itulah, diperlukan kerjasama dengan negara-negara lain untuk mengatasinya.

"Kita pernah beberapa kali mendapatkan bantuan informasi bahwa ada kapal yang mengangkut limbah berbahaya yang akan masuk ke Indonesia. Bantuan informasi seperti inilah yang kita butuhkan. Karena itu kita menjalin kerjasama dengan negara-negara lain," kata Rahmat.

Rahmat mengingatkan, Indonesia pernah mendapatkan limbah B3 yang didatangkan dari Singapura. Masalah ini menimbulkan perbedaan pendapat antarkedua negara tersebut.

Permasalahan inilah, menurut Rahmat yang akhirnya bisa diselesaikan melalui konvensi yang akan belangsung pada 23-27 Juni di Bali ini.

Lebih dari 1000 peserta dari 170 negara akan hadir dalam konvensi ini. 170 Negara tersebut telah meratifikasi Konvensi Basel. Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut sejak 1993.

Dua masalah besar yang akan dibahas yakni pelintasan bahan beracun berbahaya lintas negara, serta penanganan limbah B3 di negara masing-masing. ( anw / mar )

Nala Edwin - detikcom

Dua ABK Indonesia Dibunuh di Taiwan


Rabu, 21 Mei 2008 | 01:24 WIB

Jakarta, Kompas - Dua warga Indonesia, yakni Rusdin (27) dan Driyanto (40), yang bekerja sebagai anak buah kapal atau ABK di Taiwan, dilaporkan dibunuh kaptennya, Cai Zhi Zang. Dua ABK lainnya, yakni Jaenal Abidin (28) dan Roid (30), masing-masing menderita luka tusuk di paha kanan dan Roid dibuang ke tengah laut dan hingga kini belum diketahui nasibnya.

”Pembunuhan sebenarnya sudah terjadi pada 27 April 2008, tetapi kami baru menerima informasi itu pada 13 Mei lalu. Saat ini kami sedang menyelidikinya,” kata Kepala Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Tanjung Priok Teddy Soediro, Selasa (20/5).

Kasus itu terungkap setelah Lin, petugas Coast Guard Police (CGP) Kao Hsiung, Taiwan, melapor ke Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei pada 28 April. Isi laporannya adalah dua dari tujuh ABK Indonesia yang bekerja di kapal ikan CT 41885 Hao Wan Yi Chuen dibunuh Cai Zhi Zang.

KDEI menugaskan dua stafnya, Pangkuh Rubiyono dan Ervan Rianto, untuk menemui petugas CGP, Xiao, pada 29 April sekitar pukul 08.45 waktu setempat. Xiao kemudian mempertemukan mereka dengan empat ABK yang selamat, yakni Muhtadi, Sayori Sem, Kamarudin, dan Jaenal Abidin.

Menurut cerita Jaenal kepada Pangkuh Rubiyono dan Ervan Rianto, dirinya ditusuk Cai Zhi Zang dan mengenai paha bagian kanan. Saat Cai Zhi Zang akan menikamkan pisau tersebut ke dada Jaenal, Jaenal berhasil menepisnya sehingga tangannya terluka. Pisau itu pula yang akhirnya menewaskan Rusdin dan Driyanto.

Menurut Jaenal, peristiwa pembunuhan itu terjadi pada 27 April 2008. Saat itu, Rusdin, Driyanto, dan Jaenal menanyakan nasib Roib yang dibuang ke laut oleh Cai Zhi Zang. ”Mereka menanyakan mengapa Roib dibuang ke laut,” kata Teddy mengutip laporan itu. Cai Zhi Zang diduga kesal karena ditanyai soal keberadaan Roib.

Kasus Roib, menurut keterangan Jaenal, Muhtadi, Sayori Sem, dan Kamarudin kepada Pangkuh dan Ervan terjadi pada 20 April. Tidak jelas apa yang menjadi penyebab kekesalan Cai Zhi Zang kepada Roib. Perilaku itulah yang membuat kapten kapal marah dan menyuruh Roib turun di tengah laut, setelah dilengkapi dengan pelampung dan makanan.

Berlebihan

Namun, kata Teddy, tindakan yang dilakukan Cai Zhi Zang itu sudah berlebihan. Tujuh ABK kapal ikan itu berangkat ke Taiwan dikirim oleh PT Genta Ardia, Jakarta Barat. Sampai kini petugas masih melacak alamat lengkap perusahaan tersebut.

Dari hasil penelusuran sementara diketahui bahwa Rusdin adalah pemilik paspor nomor P 519635 terbitan Kanim Kelas I Tanjung Priok, dan Driyanto pemilik paspor nomor A 123368 yang diterbitkan oleh Kanim Pemalang, Jawa Tengah.

”Kami berharap agar semua TKI, termasuk ABK yang hendak bekerja di luar negeri, harus memberikan identitas dan alamatnya di Indonesia sejelas-jelasnya. Kelengkapan data itu diperlukan untuk memudahkan pengecekan,” kata Teddy.

Menurut Teddy, laporan atas pembunuhan terhadap dua anak buah kapal itu disampaikan KDEI Taipei kepada Direktur Perlindungan dan Advokasi Kawasan Asia Pasifik dan Amerika, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI di Jakarta pada 13 Mei lalu. (CAL)

Sumber : Kompas.com

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN