SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Sunday, May 22, 2011

SIDANG WHA BAHAS ENAM BELAS TOPIK

Sidang Majelis Kesehatan Dunia atau World Health Assembly (WHA) digelar tanggal 15 -20 Mei 2011 di Kantor Pusat Organisasi Kesehatan Dunia, Jenewa, Swiss. Acara ini merupakan perhelatan besar/sidang tahunan membahas 16 topik yang selanjutnya akan diputuskan sebagai Deklarasi yang mengikat semua negara untuk melaksanakannya. Hal itu disampaikan drg. Murti Utami, MPH, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan yang juga anggota delegasi RI dalam sidang WHA ke-64.

Ke-enambelas topik tersebut yang pertama adalah Pandemic influenza preparedness: sharing of influenza viruses and access to vaccines and other benefits. Topik ini sangat penting bagi Indonesia sebagai pemrakarsa dan salah satu leading country dalam isu ini.

Topik selanjutnya adalah Implementation of the International Health Regulations (IHR 2005) yang akan berlaku penuh tahun 2012. Topik ini membahas Report of the Review Committee on the Functioning of the International Health Regulations (2005) in relation to Pandemic (H1N1) 2009. Indonesia merupakan salah satu dari 29 member Review Committee yang menilai laporan WHO dalam mengatasi pandemi H1N1 2009 dan IHR.

Topik ke-tiga adalah Health-related Millennium Development Goals. Dalam topik ini dibahas dua isu utama yaitu Neglected Tropical Diseases dan Pneumonia.

Topik ke-empat yang dibahas adalah Health system strengthening yaitu penguatan sistem kesehatan terkait dengan rencana operasional, program, dan agenda politik.

Ke-lima membahas Global immunization vision and strategy yaitu visi dan strategi imunisasi global. Dalam kaitan ini, China, India, Indonesia dan Nigeria memulai dengan vaksin HIB serta menegaskan kembali bahwa imunisasi sebagai komponen utama pelayanan kesehatan dasar dan program Decades of Vaccine 2011 – 2020.

Ke-enam, Draft strategi WHO tentang HIV 2011 – 2015 dengan empat sasaran yaitu mengurangi infeksi baru, kasus anak, kematian dan TB HIV. Empat strategi tersebut adalah meningkatkan program, integrasi program lain, jaminan keberlanjutan dan hilangkan hambatan akses.

Ke-tujuh, pengendalian obat palsu dan obat sub standar.

Ke-delapan, eradikasi cacar air (smallpox eradication) pemusnahan stok virus cacar (variola) yang terdapat di USA dan Rusia.

Ke-sembilan, mekanisme pengendalian dan pencegahan kolera.

Ke-sepuluh, pengendalian malaria dengan meningkatkan program, mulai pengendalian vektor, diagnosis, masalah resistensi obat dan kemungkinan penggunaan vaksin malaria

Ke-sebelas, membahas eradikasi penyakit dracunculiasis bersama penyakit polio yang akan dieradikasi dari muka bumi.

Ke-duabelas, membahas pengendalian dan pencegahan penyakit tidak menular melalui berbagai pertemuan internasional di Jakarta, Moskow, dan lain-lain.


Ke-tigabelas, membahas rencana implementasi gizi pada bayi, anak dan ibu.

Ke-empatbelas, membahas pencegahan kecelakaan pada anak. Di dunia setiap tahunnya terdapat 830.000 anak meninggal karena kecelakaan, artinya di dunia sekitar 2.000 keluarga kehilangan anaknya setiap hari.

Ke-limabelas, membahas strategi manajemen keamamanan air minum untuk konsumsi manusia.

Ke-enambelas, membahas risiko kesehatan anak muda karena di dunia terdapat 1,822 milyar anak muda usia 10 sampai 24 tahun, dan dari jumlah itu 2,6 juta anak muda meninggal setiap tahun.

Pada sidang WHA ke-64 tahun ini delegasi RI dipimpin oleh Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH dengan anggota Kepala Perwakilan Tetap RI untuk PBB di Jenewa/Duta Besar Dian Triansyah Djani; Direktur Jenderal P2PL, Prof. Tjandra Yoga Aditama; Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, dr.Supriyantoro; Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Hubungan Kerjasama Internasional dan Kelembagaan, Drs. Bambang Guritno, MIA; Deputi Badan POM Dra.Lucky Slamet; Direktur Penanggulangan Penyakit Tidak Menular dr.Azimal; Kepala Pusat Kerjasama Luar Negeri, Dra. Niniek K. Naryatie; dan Direktur Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Drs.Bahdar J.Hamid.

Sumber : http://www.depkes.go.id

Thursday, April 7, 2011

Pandemi Resistensi Antibiotik Mengancam Dunia

Jakarta, Penggunaan antibiotik yang tidak rasional bisa menyebabkan terjadinya resistensi. Jika tidak segera dikendalikan maka dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi pandemi resistensi antibiotik.

"Pandemi ini akan nyata, karena kecepatan resistensi lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan pengembangan antibiotik," ujar Prof Iwan Dwi Prahasto dalam acara jumpa pers seminar 'Antimicrobial Resistance-Containment and Prevention' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (7/4/2011).

Prof Iwan menuturkan hal ini karena sejak tahun 2007 tidak ada satu jenis pun antibiotik pun yang dikembangkan, sedangkan pada tahun 2000-2007 hanya didapatkan 2 jenis antibiotik. Tapi sayangnya antibiotik tersebut tidak mengganti antibiotik yang sudah ada sebelumnya.

"Bayangkan saja dalam kurun waktu 7 tahun hanya ada 2 antibiotik dan jenisnya sama seperti yang lain. Jadi kalau antibiotik yang lain sudah resisten, maka antibitoik ini juga akan resisten," ungkap Prof Iwan yang merupakan Guru Besar Farmakologi Fakultas Kedokteran UGM.

Beberapa hal diketahui menjadi penyebab lambatnya pengembangan antibiotik. Salah satunya adalah penelitian ini dianggap tidak menarik. Para peneliti lebih memilih mengembangkan obat kardiovaskuler yang nantinya dapat dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Sedangkan antibiotik umumnya hanya dapat digunakan untuk penyakit infeksi saja yang sebagian besar terjadi di negara-negara berkembang dan miskin, sehingga harga dari obat ini nantinya tidak akan mahal.

"Untuk itu harus dilakukan pengendalian, karena kalau tidak pandemi ini bisa segera terjadi. Selain itu dilakukan pembatasan penggunaan misalnya antibiotik hanya boleh diresepkan di rumah sakit tertentu oleh dokter subspesialis," tutur Prof Iwan.

Sementara itu Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH menuturkan antibiotik merupakan salah satu penemuan yang unggul, tapi kini bisa dilihat jika penggunaannya tidak tepat bisa menimbulkan masalah di masa depan.

"Masalah resistensi ini terjadi akibat rendahnya rasionalitas penggunaan antimikroba yang sudah menjadi masalah dunia," ungkap Menkes.

Menkes menuturkan untuk itu diperlukan penanganan yang kompleks dan upaya bersama serta bekerjasama dengan beberapa stakeholder yang meliputi dokter anak, dokter spesialis, apoteker, pembuat obat dan juga lintas sektor.

Resistensi antibiotik terjadi jika bakteri yang semula hanya peka berubah menjadi kebal melalui adanya perubahan genetik di dalam selnya. Padahal antibiotik ini berfungsi membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang peka.

Sumber : http://health.detik.com/

Tuesday, March 29, 2011

SESJEN KEMENKES BUKA “SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI” UNIT UTAMA KEMENTERIAN KESEHATAN

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, dr. Ratna Rosita MPHM membuka “Sosialisasi Program Pengendalian Gratifikasi” yang diikuti pejabat eselon II, III, dan IV unit utama Kementerian Kesehatan 15 Maret 2011 di Jakarta.

Sesjen mengatakan Kementerian Kesehatan mempunyai nilai-nilai yang menjadi latar belakang pelaksanaan kegiatan di lingkungan Kementerian Kesehatan dalam mencapai tujuan program kesehatan 2009 – 2014 yaitu Pro rakyat, Inklusif, Responsif, Efisien dan Effektif serta Bersih. Nilai nilai ini dimaksudkan tidak hanya untuk mendorong tercapainya tujuan program kesehatan tetapi juga bagaimana tujuan program dapat tercapai melalui pelaksanaan kegiatan yang baik, benar dan bersih.



Dalam mencapai terwujudnya tata kelola pemerintah yang baik dan bersih, sepanjang tahun 2010 Kementerian Kesehatan telah melalukan berbagai upaya antara lain pengelolaan pengadaan barang dan jasa melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang menghemat keuangan negara sebesar 176 miliar sehingga mendapat penghargaan dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sebagai Kementerian yang pengelolaan barang dan jasanya terbaik melalui LPSE.

Kemenkes melakukan kerja sama dengan BPKP dalam hal pelaksanaan pembinaan dan pengawasan kegiatan serta pendampingan dalam pembuatan laporan keuangan kementerian;

Di samping itu di Kemenkes dibentuk Unit Pelayanan Terpadu, yang memberikan pelayanan Perijinan Sarana Produksi dan Distribusi Alkes, Registrasi Alkes dan PKRT, Rekomendasi Sekolah Kesehatan, Ethical Clearance Peneliti Kesehatan, Informasi Registrasi Dokter/Dokter Gigi, Rekomendasi Pengobatan Tradisional Asing, Perijinan dan Akreditasi Rumah Sakit, dan Pengaduan Masyarakat melalui Hot Line Service dan Email (Pusat Tanggap dan Respon Cepat).
Selain itu, registrasi on line bagi seleksi CPNS Kementerian Kesehatan telah dilakukan sejak tahun 2007, manajemen kepegawaian menuju akreditasi ISO, dibentuknya Unit Pengelola Gratifikasi, dan dibentuknya Inspektorat Investigasi pada Inspektorat Jenderal yang melakukan tugas khusus dan penyelesaian pengaduan masyarakat.

Sesjen menambahkan, Survey Integritas Pelayanan Publik yang dilakukan oleh KPK, telah memberikan nilai cukup baik terhadap kegiatan bidang perizinan, terutama perizinan penyalur alat kesehatan serta izin prinsip dan izin tetap industri obat tradisional.

Disamping itu, pada tanggal 15 Desember 2010 yang baru lalu 3 Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan telah mendapat penghargaan Citra Pelayanan Prima tahun 2010 yang disampaikan oleh Bapak Wakil Presiden RI. Rumah Sakit Kanker Dharmais mendapat Piala Citra, sementara Balai Besar Lab Kes Surabaya dan Balai Besar Penelitian Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawang Mangu mendapat Piagam Citra Pratama.

Pada akhir sambutan, Sesjen berpesan kepada seluruh pejabat di lingkungan Sekertariat Jenderal untuk segera membuat rencana tindak lanjut dari pertemuan yang berguna bagi penyelenggara negara ini untuk kemudian disosialiasikan dan diimplementasikan.

Pembicara pada sosialisasi tersebut yaitu Sugiarto dari Direktorat Gratifikasi KPK dan Rika Krisdianawati dari Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK.

Mengutip UU No.20 tahun 2001 pasal 12B ayat 1, Sugiarto menjelaskan gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya. Gratifikasi bisa diterima di dalam maupun di luar negeri, dan dilakukan dengan menggunakan elektronik atau tanpa saran elektronik.

Sedangkan LHKPN, menurut Rika merupakan bentuk transparansi yang dimaksudkan untuk menilai kejujuran pejabat negara terkait dengan kekayaan yang dimiliki dalam rangka pencegahan terhadap tindakan korupsi, bukan untuk menelanjangi harta pejabat negara, terlebih untuk dihakimi masyarakat. LHKPN bertujuan untuk mewujudkan pejabat negara yang bersih yakni yang menaati asas-asas umum penyelenggaraan negara dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id

Wednesday, March 23, 2011

Avian influenza – situation in Indonesia - update

The Ministry of Health of Indonesia has announced 2 new but unrelated confirmed cases of human infection with avian influenza A (H5N1) virus.

The first case is a 2 year old male from Depok City, West Java Province. He developed symptoms on 3 February, was admitted to a private clinic on 5 February and referred to a hospital on 6 February. He died on 6 February. Prior to his illness, sick and dead poultry were reported in the his neighborhood.

The second case is a 31 year old female from Bekasi City, West Java Province. She developed symptoms on 23 February, was admitted to a private clinic on 25 February and referred to a hospital on 28 February, where she received oseltamivir treatment. She died on 1 March. Initial investigations indicate the case visited a traditional market where live poultry were sold.

Laboratory tests have confirmed infection with the H5N1 avian influenza virus.

Of the 174 cases confirmed to date in Indonesia, 144 have been fatal.

Source : http://www.who.int/csr/don/2011_03_14/en/index.html

Tuesday, March 8, 2011

5 Kabupaten/Kota di Sumbar Terjangkit Flu Burung

8/3/2011 17:13 WIB

Musthofa - Padang, Sebanyak 5 dari 19 kabupaten dan kota yang ada di Propinsi Sumatera Barat mulai dijangkiti virus H5N1 atau virus flu burung.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sumbar, Edwardi kepada ELSHINTA, Selasa (8/3).

Kelima kabupaten dan kota yang mulai terjangkit virus flu burung tersebut adalah di Kota Padang, Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Dari lima daerah tersebut, kasus terparah terjadi di Kota Padang, sementara di daerah lain sudah berkurang.

Di Kota Padang, kasus virus H5N1 mulai terjadi sejak awal Februari lalu dan terdapat pada 15 titik. Sejak kasus tersebut muncul, setidaknya sudah ada sebanyak 2.000 ekor unggas milik warga yang mati mendadak.

Sedangkan di Kota Solok, penyebaran virus flu burung terdapat di dua titik, dengan sebanyak 190 ekor unggas warga sudah dimusnahkan.

Di Kabupaten Solok terdapat di satu titik penyebaran virus flu burung, dengan sebanyak 15 ekor unggas warga yang dimusnahkan.

Sementara itu, di Kabupaten Dharmasraya terdapat 20 ekor unggas yang sudah dimusnahkan karena terjangkit virus flu burung dan di Kabupaten Pesisir Selatan terdapat pada dua titik di Kecamatan Bayang, dengan 150 ekor ayam milik warga telah dimusnahkan. (der)

Sumber : Elsinta Online

Monday, March 7, 2011

Diduga Terjangkit Flu Burung, Remaja Asal NAD Dirawat di RSUP Adam Malik

Medan - Muhammad Hidayat (15), warga Desa Kuta Cepu, Simpang Kere, Kabupaten Babussalam, Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terpaksa mendapat perawatan intensif di ruang instalasi khusus Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan karena mengalami demam tinggi. Kuat dugaan, Hidayat terjangkit flu burung.


Setelah mendapat perawatan sejak Minggu (6/3) malam, panas tubuh Hidayat mulai menurun sekitar 36 derajat celsius, Senin (7/3/2011) sore. Sebelumnya, panas tubuh Hidayat tercatat mencapai 40 derajat celsius.

Ayah pasien, Ajman mengatakan, Hidayat mengalami demam tinggi setelah ayam tetangga mati mendadak dengan mulut berbuih.

"Ayam tetangga banyak yang mati secara tiba-tiba. Hari berikutnya Hidayat demam tinggi dan sempat sesak nafas. Oleh rumah sakit di Singkil, Hidayat kemudian dirujuk ke Adam Malik," kata Ajman.

Sementara Humas RSUP Haji Adam Malik Medan, Sari Saragih mengatakan, untuk memastikan Hidayat terserang flu burung, tim medis mengambil sampel darah untuk diteliti di laboratorium.

"Hasil pemeriksaan laboratorium akan diperoleh sekitar empat hari. Untuk sementara, pasien ditempatkan di instalasi suspect flu burung di bagian belakang gedung rumah sakit," kata Saragih.

(rul/her)

Thursday, March 3, 2011

Tiga Ancaman Penyakit akibat Perubahan Iklim

Penelitian baru-baru ini menyebutkan bahwa pemanasan global dapat mempengaruhi kesehatan. Berbagai penyakit bermunculan, sebagian besar disebabkan oleh mikroba, bakteri, dan ganggang. Ilmuwan telah memperkirakan akan bertambahnya tingkat kematian karena gelombang panas, bencana alam, dan malaria.

Beberapa ilmuwan yang dibiayai oleh The Ocean and Human Health Initiative dari The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) akan mengidentifikasi risiko penyakit karena pemanasan global. Hasilnya seperti berikut ini.

1. Kontaminasi makanan laut oleh ganggang beracun

Ganggang merah yang menyebabkan zona mati di laut berkembang dengan pesat seiring dengan pemanasan global, khususnya di utara Amerika. Hal ini diungkapkan oleh Stephanie Moore dari NOAA. Ganggang Alexandrium catenella yang memproduksi racun dapat mengontaminasi makanan yang berasal dari laut dan mengakibatkan kelumpuhan—bahkan kematian, meskipun langka—pada manusia.

Dengan menghitung suhu air dan peningkatan suhu global, Moore dan rekannya di Universitas Washington menggambarkan bagaimana ganggang dapat berkembang pesat. “Musim mekar ganggang beracun bertambah panjang dan jumlah ganggang yang mekar tiap musim pun bertambah,” ungkap Moore. “Sekarang, musim mekar ganggang tersebut selama dua bulan, tetapi pada tahun yang akan datang, jangka waktu mekar pun akan bertambah menjadi tiga bulan,” tambahnya.

2. Ledakan bakteri berbahaya

Perubahan iklim menyebabkan wilayah yang lembab akan menjadi lebih lembab, sedangkan wilayah kering semakin kering. Fenomena ini akan mengakibatkan debu-debu beterbangan dan biasanya akan berakhir di lautan. Debu-debu mempercepat perkembangan bakteri yang membahayakan dan bakteri tersebut berakhir di makanan laut.

Erin Lipp dan Jason Westrich dari Universitas Georgia telah menemukan bahwa Gurun Maroko dapat mempercepat perkembangbiakan Vibrio, sejenis bakteri laut. Uji coba dilakukan dengan memasukkan debu dari Maroko ke air laut di Florida. Hasilnya, pertumbuhan Vibrio meningkat sebanyak 10 hingga 1.000 kali lipat. Ilmuwan menemukan bahwa zat besi yang terkandung di dalam debu-debu itulah yang mengakibatkan perkembangbiakan.

3. Sistem pembuangan mencemari air minum

Sandra McLellan dari Universitas Wisconsin-Milwaukee telah meneliti bahwa peningkatan curah hujan memengaruhi sistem pipa pembuangan di sekitar Great Lakes. Di Wisconsin, pertumbuhan penduduk memaksa penambahan pada kapasitas sistem pipa pembuangan yang ada. Pada saat terjadi badai, air di pembuangan akan melimpah dan membanjiri danau. Tentu saja air pembuangan ini mengandung bakteri dan virus.

Hanya dengan 4,3 cm curah hujan, air langsung melimpah dan membanjiri sungai. McLellan mengatakan, setengah abad mendatang, volume curah hujan akan meningkat sampai 20 persen. “Bukanlah perubahan iklim yang mengakibatkan masalah baru. Kita sudah bermasalah dengan hal ini. Namun, saat kita ingin mencegah hal skenario buruk itu terjadi. Kita sudah terdahului oleh pemanasan global dan pertumbuhan penduduk,” tambah McLellan. (Arief Sujatmoko, National Geographic News)

Sumber : http://health.kompas.com/

Wednesday, March 2, 2011

IMUNISASI MENINGITIS JEMAAH UMRAH DILAKUKAN KANTOR KESEHATAN PELABUHAN

Sehubungan dimulainya ibadah umrah pada Maret 2011, pelayanan imunisasi meningitis meningokokus ACW135Y dapat diperoleh di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) seluruh Indonesia. Setelah memperoleh vaksinasi meningitis meningokokus, calon jemaah umrah diberikan kartu ICV (International Certificate of Vaccination) sebagai syarat memperoleh visa. Apabila vaksinasi meningitis meningokokus dilakukan diluar KKP, maka untuk mendapatkan kartu ICV calon jemaah umrah harus menyerahkan surat keterangan suntik dengan menyertakan vial yang telah digunakan ke KKP setempat.

Vaksin yang digunakan adalah vaksin meningitis meningokokus Menveo ACW 135Y yang telah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) dan dinyatakan halal berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Imunisasi meningitis merupakan persyaratan wajib untuk mendapatan visa sesuai ketentuan yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi bagi semua calon jemaah haji dan umrah. Untuk efektivitas vaksin, imunisasi diberikan sekurang-kurangnya dua minggu sebelum keberangkatan.

Tujuan imunisasi adalah untuk melindungi jamaah umrah dari penularan penyakit meningitis selama 3 tahun. Selain itu untuk mencegah penularan antar jamaah umrah dari seluruh dunia serta mencegah penularan meningitis kepada keluarga di tanah air.

Meningitis meningokokus ditularkan langsung melalui percikan cairan hidung dan tenggorokan pada saat batuk/bersin dari penderita. Penyakit ini menyerang selaput otak (meningen) dan dapat menimbulkan cacat bahkan kematian.

Jadwal pemanggilan untuk vaksinasi meningitis meningokokus bagi jemaah umrah akan difasilitasi oleh pihak penyelenggara atau biro perjalanan umrah atas kerja sama dengan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah (AMPHURI).

Sumber : www.depkes.go.id

Monday, February 28, 2011

Kembangkan Ecohealth, Jegal Penyakit Zoonotik

YOGYAKARTA--MICOM: Ecohealth perlu dikembangkan untuk menanggulangi penyakit menular dari hewan ke manusia (zoonotik) seperti antraks, leptospirosis, rabies, dan flu burung, kata peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Wayan Tunas Artama.

"Ecohealth adalah disiplin ilmu baru yang mempelajari bagaimana perubahan dalam ekosistem bumi dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Pengembangan disiplin ilmu itu dengan cara menyatukan berbagai pakar," katanya di Yogyakarta, Minggu (27/2).

Menurut dia, pakar yang perlu disatukan untuk menanggulangi penyakit menular dari hewan ke manusia atau zoonotik itu di antaranya dokter, dokter hewan, ahli konservasi, ahli ekologi, ahli ekonomi, ahli sosial, dan ahli perencana.

"Mereka secara komprehensif mempelajari dan memahami bagaimana perubahan ekosistem secara negatif berdampak pada kesehatan manusia dan hewan," katanya.

Ia mengatakan, penanggulangan penyakit zoonotik tidak hanya dari aspek kesehatan manusia, tapi juga perlu memperhatikan faktor dari hewan dan lingkungan. Hal itu penting karena penularan penyakit zoonotik selain kontak langsung dengan hewan, juga disebabkan faktor ekologi, yakni perubahan cuaca, iklim, dan lingkungan.

"Berbagai penyakit zoonotik yang berasal dari hewan itu juga dipengaruhi oleh perubahan cuaca, iklim, dan lingkungan. Kondisi lingkungan tertentu bisa menyebabkan penyebarannya semakin bertambah, yang dapat berdampak terhadap kesehatan manusia," katanya.

Menurut dia, ecohealth mengkaji perubahan lingkungan biologik, fisik, sosial, dan ekonomi, dan menghubungkan perubahan tersebut dengan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

"Di beberapa negara, ecohealth telah dikembangkan dengan melibatkan kerja sama antaruniversitas dengan berbagai bidang disiplin ilmu," katanya. (Ant/OL-2)

Sumber : www.mediaindonesia.com

Tuesday, February 8, 2011

Virus Nipah di Bangladesh, 15 Tewas

REPUBLIKA.CO.ID,DHAKA--Sedikitnya 15 orang tewas akibat wabah virus Nipah di sebuah kota terpencil di Bangladesh utara ketika penyakit mematikan itu kembali menyebar di negara tersebut, kata seorang pejabat, Sabtu. Nipah memiliki gejala seperti flu yang sering menyebabkan radang otak dan koma, serta mengakibatkan kematian setidaknya 70 persen angka kematian di Bangladesh.

Wabah terakhir dikonfirmasi pada Jumat di Hatibandha di distrik Lalmonirhat. "Sejauh ini, telah 24 orang terkena virus Nipah di Hatibandha," kata Mahmudur Rahman, seorang pejabat kesehatan senior. "Dari jumlah itu, 15 diantaranya meninggal dan beberapa orang berada dalam kondisi kritis," katanya.

Setidaknya 113 orang, termasuk korban terakhir, telah meninggal karena virus tersebut di Bangladesh sejak wabah itu pertama kali menyebar pada tahun 2001. Pemerintah di Dhaka telah membangun sebuah laboratorium deteksi untuk mempercepat pengujian untuk wabah apapun.

Pada tahun 2004, hampir 40 orang meninggal di dua distrik di pusat, dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat dipanggil untuk membantu memerangi penyakit ini. Virus itu, dinamai berdasarkan nama sebuah desa di Malaysia di mana virus itu pertama kali terdeteksi, melompati penghalang spesies dari kelelawar buah ke babi dan kemudian ke manusia di Oktober 1998.

Hal itu diyakini terjadi melalui kontak langsung dengan babi. Pada tahun 1999, 256 orang di Malaysia jatuh sakit dengan penyakit yang sama, dan empat dari 10 pasien meninggal. Lebih dari satu juta babi dimusnahkan untuk membantu menekan menyebar.

Sumber : Republika Online

Friday, February 4, 2011

Menkes Fokus Tangani HIV/AIDS dan Dampak Rokok

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Kesehatan dalam tahun ini akan fokus pada penanganan penyakit mematikan HIV/AIDS dan penyakit-penyakit lain terkait rokok karena capaian dalam hal tersebut tahun lalu masih jauh dari harapan.

Penanganan kesehatan di tanah air penting untuk dapat mencapai sasaran pembangunan milenium atau Millenium Development Goals (MDGs) yang mayoritas targetnya di bidang kesehatan.

"Unsur kesehatan adalah unsur dominan dalam MDGs karena lima dari delapan agenda MDGs berkaitan langsung dengan kesehatan," kata Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa.

Lima agenda MDGs adalah Agenda ke-1 (Memberantas kemiskinan dan kelaparan), Agenda ke-4 (Menurunkan angka kematian anak), Agenda ke-5 (Meningkatkan kesehatan ibu), Agenda ke-6 (Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit lainnya), serta Agenda ke-7 (Melestarikan lingkungan hidup).

Sementara itu, jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya dengan proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok usia produktif (usia 20-29 tahun) sebanyak 49,07 persen.

Sedangkan prevalensi perokok secara nasional berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2010 sebesar 34,7 persen. "Ini berarti lebih dari sepertiga penduduk berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti kanker, penyakit jantung dan penyakit akibat gangguan pernapasan," ujar Menkes.

Prevalensi penduduk yang merokok pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 32,2 persen dan pada penduduk laki-laki umur 15 tahun ke atas sebanyak 54,1 persen.

Prevalensi tertinggi pertama kali merokok pada umur 15-19 tahun (43,3 persen) dan sebesar 1,7 persen penduduk bahkan mulai merokok pertama kali pada umur 5-9 tahun.

Menkes menghimbau para Gubernur untuk segera mengeluarkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di wilayah kerja masing-masing untuk bisa mengurangi jumlah perokok.

Dalam rangka pencapaian MDGs, pada tahun 2011 Kemenkes meluncurkan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang diberikan kepada seluruh Puskesmas di Indonesia yang jumlahnya berkisar antara Rp75 juta sampai Rp250 juta pertahun.

Mulai tahun 2011 ini juga mulai dilaksanakan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk memberikan jaminan persalinan bagi masyarakat yang belum mendapat jaminan kesehatan untuk persalinan dan mencakup pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan, pelayanan nifas, pelayanan Keluarga Berencana, pelayanan neonatus dan promosi ASI.

Mengenai penanganan HIV/AIDS, salah satu fokus program pengendalian HIV/AIDS 2010 dan 2011 adalah peningkatan jumlah orang yang berumur 15 tahun atau lebih yang menerima konseling dan testing HIV pada tahun 2010 sebanyak 300.000 orang dan tahun 2011 menjadi 400.000 orang.

PEningkatan juga diharapkan terjadi pada persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mendapatkan obat anti retroviral (ARV) dari 70 persen pada 2010 menjadi 75 persen pada 2011serta peningkatan presentase kabupaten/kota yang melaksanakan pencegahan penularan HIV sesuai pedoman dari 50 persen tahun 2010 menjadi 60 persen pada 2011.

Dalam rangka pencegahan penularan AIDS juga ditargetkan meningkatnya penggunaan kondom pada kelompok risiko tinggi di tahun 2011 yakni sebanyak 35 persen pada perempuan dan 20 persen pada laki-laki.

"Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, persentase penduduk umur diatas 15 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS hanya sebesar 11,4 persen sehingga penting untuk meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi terhadap kelompok ini," ujar Menkes.

Sumber : http://www.antaranews.com/

Friday, January 21, 2011

Dua Orang Terserang Flu Babi di Hong Kong Kritis

Hong Kong (ANTARA News) - Dua orang kini dalam kondisi kritis di satu rumah sakit Hong Kong karena menderita flu babi, menurut para pejabat kesehatan Jumat, satu setengah tahun setelah wabah tersebut menewaskan 80 orang di kota itu.

"Seorang wanita berumur 21 tahun kini dalam kondisi kritis setelah tertular flu babi," kata seorang juru bicara pada Queen Elizabeth Hospital Hong Kong kepada AFP.

Wanita itu, yang berasal dari China daratan, diterima di rumah sakit tersebut pada 11 Januari dan dipindahkan ke bagian unit perawatan intensif pada Selasa, kata juru bicara itu.

Dia menambahkan bahwa ia tidak membenarkan bahwa wanita itu tertular virus flu babi tersebut di kota itu.

Juga pada Selasa, seorang anak perempuan dua tahun ditempatkan di unit perawatan intensif di rumah sakit itu setelah dia sakit akibat tertular virus tersebut, kata juru bicara.

Hong Kong sangat cemas menghadapi penyakit menular tersebut setelah wabah virus SARS atau flu burung pada 2003, yang menewaskan 300 orang di kota pulau itu, serta lebih dari 500 orang di seluruh dunia.

Sumber : Antara Online

Legionella Mewabah di Bali?

JAKARTA--Kementerian Kesehatan menyatakan akan terus menyelidiki dugaan wabah legionella di Bali setelah dilaporkan ada beberapa turis Australia terkena serangan bakteri tersebut. Bakteri ini menyerang saluran pernafasan.

"Tadi pagi tim baru datang dari Bali dan akan memeriksa sampel di laboratorium kami di Yogyakarta. Mungkin hasilnya seminggu lagi baru ketahuan," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE di Jakarta, Rabu.

Selama melakukan penyelidikan mengenai kemungkinan adanya wabah tersebut, Dinas Kesehatan terkait disebut Tjandra telah melakukan desinfektan terhadap lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat penularan. "Ada dua daerah yang dilakukan desinfektan," katanya.

Tjandra mengungkapkan pihak Kementerian Kesehatan dari Australia telah menghubungi pihaknya mengenai kemungkinan adanya wabah lewat jaringan International Health Regulations (IHR) yang diikuti kedua negara. Adanya jaringan tersebut memang mewajibkan suatu negara untuk melaporkan adanya dugaan kasus wabah agar dapat ditangani dan untuk antisipasi penularan selanjutnya.

Sementara itu, sebanyak 10 orang turis asal Australia telah dipulangkan karena terjangkit penyakit legionella yang merupakan suatu penyakit infeksi disebabkan oleh bakteri Legionella dan menyerang saluran napas di paru-paru.

Sumber : Republika.co.id

Thursday, January 6, 2011

TBC Lebih Berisiko Terkena Kanker Paru

Taipei (ANTARA News) - Penderita Tubercolosis (TBC) memiliki kecenderungan 11 kali lebih besar menderita kanker paru-paru, demikian penelitian baru oleh sekelompok ilmuwan Taiwan.

Para ilmuwan telah meneliti lebih dari 700.000 orang yang terpilih secara acak selama enam tahun, termasuk 4.480 orang terdiagnosis dengan penyakit TBC, menurut pernyataan mereka, yang dikutip AFP, Rabu.

"Terbentuknya kanker paru-paru pada pasien TBC terhitung 11 kali lebih tinggi dibanding orang tanpa TBC," ujar salah seorang peneliti Chen Chih-yi dari Universitas Kedokteran China di pusat kota Taichung, Taiwan.

"Penelitian ini membuktikan pentingnya perhatian terhadap pencegahan kanker paru-paru melalui kampanye terhadap TBC," ujarnya.

Penemuan tersebut, diterbitkan dalam Journal of Thoracic Oncology edisi Januari, mendukung keterkaitan antara TBC dengan kanker paru-paru, yang sebelumnya sudah diperkirakan tetapi belum terbukti.

"TBC merupakan penyakit kronis paling umum di dunia. Orang di negara berkembang dan kurang maju paling terkena dampak penyakit tersebut," kata Chen.

"Kanker paru-paru juga umum dikenal berkaitan dengan merokok. Perhatian kurang difokuskan pada penderita TBC yang juga beresiko tinggi terkena kanker paru-paru," ujarnya.

Sumber :www.antaranews.com

Tuesday, December 28, 2010

22 Orang Tewas Akibat Infeksi Flu Babi di Sri Lanka

Kathmandu - Wabah flu Babi melanda Sri Lanka. Sebanyak 22 orang tewas akibat terinfeksi flu babi.

Flu Babi di Sri Lanka telah menewaskan 22 orang dari 300 yang terinfeksi virus flu babi selama ini. Data resmi menunjukkan bahwa 22 orang yang terinfeksi dengan virus H1N1/flu babi telah meninggal sejak 25 Oktober.

"Influenza mempengaruhi paru-paru masyarakat dan memicu sebuah ketegangan radang paru-paru. Hujan deras dan cuaca dingin membantu menyebarkan virus," kata pemerintah epidemiologi Sudath Peiris.

Seperti dikutip dari news.com.au, Selasa (28/12/2010), pemerintah setempat mendesak masyarakat untuk menghindari tempat-tempat keramaian dan memerintahkan mereka mengelola kamar telepon umum untuk mendisinfeksi, setidaknya delapan kali sehari.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyatakan bahwa pandemi flu babi terjadi setelah bulan Agustus, lebih dari setahun setelah penyebaran virus baru di seluruh dunia, memicu panik dan membunuh ribuan orang.

Sumber : http://www.detiknews.com/

Monday, December 27, 2010

Kasus Malaria Meluas

Jakarta, Kompas - Penyakit malaria masih menjadi ancaman serius di Indonesia dan kasusnya semakin meluas di masyarakat. Hal ini tecermin dari menurunnya persentase rumah tangga yang bebas dari penyakit malaria.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, 91,8 persen rumah tangga bebas malaria. Namun, berdasarkan Riskesdas 2010, rumah tangga bebas malaria turun menjadi

71,6 persen yang artinya malaria semakin meluas. Rumah tangga bebas malaria tertinggi menurut Riskesdas 2010 di Provinsi Yogyakarta (85,5 persen) dan terendah di Provinsi Papua Barat (22,8 persen).

”Yang banyak meningkat ialah pada rumah tangga dengan satu penderita malaria. Terjadi peningkatan sekitar 12 persen,” ujar Didik Budijanto, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Surabaya, pekan lalu, dalam acara Simposium Nasional VI Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan bertajuk ”Merajut Karya Ilmiah, Peduli Kesehatan Bangsa”.

Dia mengatakan, dengan tingkat analisis rumah tangga, bukan pada individu, dapat diketahui kesehatan sebuah rumah tangga yang sangat penting sebagai basis kesehatan masyarakat secara umum. ”Keberadaan penyakit, seperti malaria, menunjukkan rumah tangga dan lingkungan yang belum sesuai harapan,” ujarnya.

Tidak hanya malaria, terjadi juga penurunan rumah tangga bebas tuberkulosis paru dari 96,6 persen (tahun 2007) menjadi 90,4 persen pada 2010. Status malaria dan tuberkulosis termasuk penyakit yang menjadi indikator status kesehatan rumah tangga di Indonesia. Dalam mengatasi penyakit, termasuk malaria, tindakan pencegahan menjadi sangat penting.

Hal senada terungkap dalam penelitian yang dilakukan Made Asri Budisuari dan Astridya Paramita dari Puslitbang Sistem Kebijakan kesehatan, Badan Litbangkes, mengenai ”Analisis Hubungan Penyakit Malaria dan Pencegahan Malaria di Indonesia”. Penelitian itu merupakan analisis lanjut berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 guna mendapatkan gambaran perilaku pencegahan malaria yang meliputi karakteristik responden, keadaan wilayah, dan status sosial ekonomi. Salah satu sebab suburnya penyakit malaria di Indonesia ialah iklim dan lingkungan yang mendukung berkembangnya nyamuk Anopheles.

Dalam studi itu disimpulkan, penderita malaria paling banyak berusia 5-14 tahun, laki-laki, tinggal di pedesaan, berpendidikan tamat SD/MI, tidak bekerja atau bersekolah, dan memiliki tingkat pengeluaran per kapita rendah. Selain itu diperoleh fakta, mereka yang memiliki perilaku pencegahan baik ternyata lebih sedikit yang terkena malaria dibandingkan dengan mereka yang kurang baik perilaku pencegahannya.

Para peneliti tersebut menyarankan pengelolaan lingkungan yang sehat untuk mencegah perkembangbiakan vektor nyamuk. Selain itu, diperlukan pula pelayanan kesehatan, antara lain rapid diagnostic test (RDT) dan perilaku pencegahan, seperti pemakaian kelambu berinsektisida, penyemprotan, dan pemberantasan sarang nyamuk. Untuk memberantas malaria perlu dilakukan kerja sama lintas sektor.(INE)

http://health.kompas.com/

Monday, December 13, 2010

TBC Bisa Mewabah Lagi Karena Meningkatnya Kasus HIV

Jakarta, Jumlah penderita tuberculosis (TBC) di Indonesia sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir sehingga turun ke peringkat 5 dunia. Namun jumlahnya diperkirakan bisa meningkat lagi karena penyebaran infeksi HIV makin meningkat.

Sejak lebih dari 10 tahun lalu, jumlah penderita TBC di Indonesia merupakan yang terbanyak ke-3 setelah India dan China. Baru pada tahun 2010 ini peringkatnya turun ke posisi 5 dan menjadi salah satu milestone kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan.

Namun Direktur Eijkman Institute, Prof Sangkot Marzuki mengingatkan agar prestasi tersebut tidak membuat masyarakat menjadi lengah. Ia memperkirakan TBC masih akan menjadi ancaman penyakit re-emerging (bangkit kembali) jika tidak diwaspadai.

Salah satu faktor yang memungkinkan TBC kembali mewabah adalah makin meluasnya penyebaran infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Virus ini membuat sistem kekebalan tubuh melemah sehingga seseorang mudah terinfeksi HIV.

Jika penyebaran HIV tidak dikendalikan maka besar kemungkinannya penderita TBC akan meningkat. Seperti diketahui, infeksi TBC merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada pengidap HIV di beberapa negara endemik seperti Afrika Selatan, disusul pneumonia dan influenza.

"Sebenarnya lebih dari 90 persen manusia pernah terinfeksi TBC, namun sangat sedikit yang menjadi sakit. Artinya manusia pada dasarnya kebal TBC," ungkap Prof Sangkot saat ditemui di sela-sela pembukaan simposium "Human Genetics and Infection: Towards Better Management of Disease" di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (13/12/2010).

Ancaman lainnya jika jumlah penderita TBC kembali meningkat adalah masalah sulitnya pengobatan. Prof Sangkot mengatakan saat ini sebagian besar bakteri penyebab TBC telah bermutasi sehingga lebih kebal terhadap obat-obatan yang sudah ada.

"Sama dengan penyakit infeksi lainnya seperti malaria misalnya, resistensi kuman terhadap berbagai macam obat (multiple drug) merupakan ancaman global," ungkap Prof Sangkot.

Sumber : http://www.detikhealth.com/

Thursday, December 9, 2010

Virus Flu Makin Kebal Obat

Jakarta, Virus influenza yang beredar memang mudah sekali berubah. Studi terbaru memperingatkan bahwa strain virus influenza tertentu sedang berkembang dan memiliki kemampuan untuk menyebar yang lebih besar.

Peneliti dari Amerika dan Kanada menegaskan bahwa ada perlawanan terhadap dua kelas obat anti virus yang saat ini telah disetujui. Kondisi ini terjadi dalam beberapa cara dan resistensi (kekebalan) ganda telah meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Tim peneliti menganalisis 28 virus influenza H1N1 musiman yang ada di lima negara selama tahun 2008-2010 dan sudah resisten terhadap M2 blockers (adamantanes) dan penghambat neuraminidase (NAIs), termasuk oseltamivir and zanamivir.

Para peneliti menemukan bahwa resistensi virus berkembang dengan cepat. Padahal sebelumnya hanya disebabkan oleh satu penyebab saja (resisten tunggal) misalnya melalui mutasi, respons obat, atau bertukar gen dengan virus lain.

Studi ini juga menunjukkan proporsi virus yang diuji memiliki resisten ganda yang meningkat, yaitu sebesar 0,6 persen pada tahun 2007-2008 menjadi 1,5 persen pada tahun 2008-1009 dan kini sebesar 28 persen pada tahun 2009-2010.

Hasil ini telah dipublikasikan secara online pada 7 Desember 2010 dalam Journal of Infectious Diseases.

"Jika sirkulasi virus yang memiliki resistensi ganda ini meluas, maka pilihan pengobatan yang bisa diberikan akan menjadi sangat terbatas. Untuk itu agen antivirus dan strategi terapi baru kemungkinan besar diperlukan di masa mendatang," ujar penulis studi Dr Larisa Gubareva dari Pusat Pengontrol dan Pencegahan Penyakit AS, seperti dikutip dari HealthDay, Rabu (8/12/2010).

Para ahli mengungkapkan untuk mengatasi virus influenza yang tidak terduga dan virus influenza yang semakin resisten, maka perlu ada peningkatan pengawasan dan pencegahan yang kreatif terhadap pemilihan pengobatan.

Dr Frederick G. Hayden dari University of Virginia School of Medicine, dan Dr Menno de Jong D dari University of Amsterdam di Belanda menuturkan hal-hal yang bisa dilakukan adalah fokus pada efektivitas zanamivir, terapi kombinasi antivirus dan juga pengembangan terhadap jenis obat antivirus yang baru.

Sumber : http://www.detikhealth.com/

Wednesday, December 1, 2010

Cardiac Arrest dan Respiratory Failure Mendominasi Penyebab Wafat Jamaah Haji Indonesia

Jumlah Jamaah Haji Indonesia di Arab Saudi hingga 29 November pkl.15.48 sudah mencapai 322 jamaah wafat. Angka yang cukup besar ini bahkan melebihi angka kematian tahun 2009 yang hingga akhir masa penyelenggaraan jamaah haji tercatat 312 yang wafat. Angka 322 jamaah wafat ternyata didominasi oleh 2 penyakit terbesar yaitu Cardiac Arrest dan Respiratory Failure.

Ada 174 jamaah haji yang wafat karena Cardiac Arrest. penyakit yang disebabkan karena penyumbatan pada sekurang-kurangnya dua cabang arteri koroner ini membuat gangguan pada ritme jantung pada bilik jantung, yakni ventricles, berdenyut terlalu cepat dan tidak teratur, yakni 4 – 600 kali per menit. Sedangkan untuk kasus Respiratory Failure tercatat 65 jamaah haji yang wafat akibat penyakit ini. Kedua penyakit ini mendominasi penyebab kematian jamaah haji asal Indonesia. penyakit lain yang menyusul di belakangnya adalah Septic Shock, Shock Hypovolemic, dan Stroke Haemoragic. Ketiga penyakit ini menyebabkan kematian sebanyak 13, 8, dan 4 jamaah.

Sumber : http://www.siskohatkes.depkes.go.id

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN