SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Friday, February 4, 2011

Menkes Fokus Tangani HIV/AIDS dan Dampak Rokok

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Kesehatan dalam tahun ini akan fokus pada penanganan penyakit mematikan HIV/AIDS dan penyakit-penyakit lain terkait rokok karena capaian dalam hal tersebut tahun lalu masih jauh dari harapan.

Penanganan kesehatan di tanah air penting untuk dapat mencapai sasaran pembangunan milenium atau Millenium Development Goals (MDGs) yang mayoritas targetnya di bidang kesehatan.

"Unsur kesehatan adalah unsur dominan dalam MDGs karena lima dari delapan agenda MDGs berkaitan langsung dengan kesehatan," kata Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa.

Lima agenda MDGs adalah Agenda ke-1 (Memberantas kemiskinan dan kelaparan), Agenda ke-4 (Menurunkan angka kematian anak), Agenda ke-5 (Meningkatkan kesehatan ibu), Agenda ke-6 (Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit lainnya), serta Agenda ke-7 (Melestarikan lingkungan hidup).

Sementara itu, jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya dengan proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok usia produktif (usia 20-29 tahun) sebanyak 49,07 persen.

Sedangkan prevalensi perokok secara nasional berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2010 sebesar 34,7 persen. "Ini berarti lebih dari sepertiga penduduk berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti kanker, penyakit jantung dan penyakit akibat gangguan pernapasan," ujar Menkes.

Prevalensi penduduk yang merokok pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 32,2 persen dan pada penduduk laki-laki umur 15 tahun ke atas sebanyak 54,1 persen.

Prevalensi tertinggi pertama kali merokok pada umur 15-19 tahun (43,3 persen) dan sebesar 1,7 persen penduduk bahkan mulai merokok pertama kali pada umur 5-9 tahun.

Menkes menghimbau para Gubernur untuk segera mengeluarkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di wilayah kerja masing-masing untuk bisa mengurangi jumlah perokok.

Dalam rangka pencapaian MDGs, pada tahun 2011 Kemenkes meluncurkan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang diberikan kepada seluruh Puskesmas di Indonesia yang jumlahnya berkisar antara Rp75 juta sampai Rp250 juta pertahun.

Mulai tahun 2011 ini juga mulai dilaksanakan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk memberikan jaminan persalinan bagi masyarakat yang belum mendapat jaminan kesehatan untuk persalinan dan mencakup pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan, pelayanan nifas, pelayanan Keluarga Berencana, pelayanan neonatus dan promosi ASI.

Mengenai penanganan HIV/AIDS, salah satu fokus program pengendalian HIV/AIDS 2010 dan 2011 adalah peningkatan jumlah orang yang berumur 15 tahun atau lebih yang menerima konseling dan testing HIV pada tahun 2010 sebanyak 300.000 orang dan tahun 2011 menjadi 400.000 orang.

PEningkatan juga diharapkan terjadi pada persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mendapatkan obat anti retroviral (ARV) dari 70 persen pada 2010 menjadi 75 persen pada 2011serta peningkatan presentase kabupaten/kota yang melaksanakan pencegahan penularan HIV sesuai pedoman dari 50 persen tahun 2010 menjadi 60 persen pada 2011.

Dalam rangka pencegahan penularan AIDS juga ditargetkan meningkatnya penggunaan kondom pada kelompok risiko tinggi di tahun 2011 yakni sebanyak 35 persen pada perempuan dan 20 persen pada laki-laki.

"Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, persentase penduduk umur diatas 15 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS hanya sebesar 11,4 persen sehingga penting untuk meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi terhadap kelompok ini," ujar Menkes.

Sumber : http://www.antaranews.com/

Friday, January 21, 2011

Dua Orang Terserang Flu Babi di Hong Kong Kritis

Hong Kong (ANTARA News) - Dua orang kini dalam kondisi kritis di satu rumah sakit Hong Kong karena menderita flu babi, menurut para pejabat kesehatan Jumat, satu setengah tahun setelah wabah tersebut menewaskan 80 orang di kota itu.

"Seorang wanita berumur 21 tahun kini dalam kondisi kritis setelah tertular flu babi," kata seorang juru bicara pada Queen Elizabeth Hospital Hong Kong kepada AFP.

Wanita itu, yang berasal dari China daratan, diterima di rumah sakit tersebut pada 11 Januari dan dipindahkan ke bagian unit perawatan intensif pada Selasa, kata juru bicara itu.

Dia menambahkan bahwa ia tidak membenarkan bahwa wanita itu tertular virus flu babi tersebut di kota itu.

Juga pada Selasa, seorang anak perempuan dua tahun ditempatkan di unit perawatan intensif di rumah sakit itu setelah dia sakit akibat tertular virus tersebut, kata juru bicara.

Hong Kong sangat cemas menghadapi penyakit menular tersebut setelah wabah virus SARS atau flu burung pada 2003, yang menewaskan 300 orang di kota pulau itu, serta lebih dari 500 orang di seluruh dunia.

Sumber : Antara Online

Legionella Mewabah di Bali?

JAKARTA--Kementerian Kesehatan menyatakan akan terus menyelidiki dugaan wabah legionella di Bali setelah dilaporkan ada beberapa turis Australia terkena serangan bakteri tersebut. Bakteri ini menyerang saluran pernafasan.

"Tadi pagi tim baru datang dari Bali dan akan memeriksa sampel di laboratorium kami di Yogyakarta. Mungkin hasilnya seminggu lagi baru ketahuan," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE di Jakarta, Rabu.

Selama melakukan penyelidikan mengenai kemungkinan adanya wabah tersebut, Dinas Kesehatan terkait disebut Tjandra telah melakukan desinfektan terhadap lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat penularan. "Ada dua daerah yang dilakukan desinfektan," katanya.

Tjandra mengungkapkan pihak Kementerian Kesehatan dari Australia telah menghubungi pihaknya mengenai kemungkinan adanya wabah lewat jaringan International Health Regulations (IHR) yang diikuti kedua negara. Adanya jaringan tersebut memang mewajibkan suatu negara untuk melaporkan adanya dugaan kasus wabah agar dapat ditangani dan untuk antisipasi penularan selanjutnya.

Sementara itu, sebanyak 10 orang turis asal Australia telah dipulangkan karena terjangkit penyakit legionella yang merupakan suatu penyakit infeksi disebabkan oleh bakteri Legionella dan menyerang saluran napas di paru-paru.

Sumber : Republika.co.id

Thursday, January 6, 2011

TBC Lebih Berisiko Terkena Kanker Paru

Taipei (ANTARA News) - Penderita Tubercolosis (TBC) memiliki kecenderungan 11 kali lebih besar menderita kanker paru-paru, demikian penelitian baru oleh sekelompok ilmuwan Taiwan.

Para ilmuwan telah meneliti lebih dari 700.000 orang yang terpilih secara acak selama enam tahun, termasuk 4.480 orang terdiagnosis dengan penyakit TBC, menurut pernyataan mereka, yang dikutip AFP, Rabu.

"Terbentuknya kanker paru-paru pada pasien TBC terhitung 11 kali lebih tinggi dibanding orang tanpa TBC," ujar salah seorang peneliti Chen Chih-yi dari Universitas Kedokteran China di pusat kota Taichung, Taiwan.

"Penelitian ini membuktikan pentingnya perhatian terhadap pencegahan kanker paru-paru melalui kampanye terhadap TBC," ujarnya.

Penemuan tersebut, diterbitkan dalam Journal of Thoracic Oncology edisi Januari, mendukung keterkaitan antara TBC dengan kanker paru-paru, yang sebelumnya sudah diperkirakan tetapi belum terbukti.

"TBC merupakan penyakit kronis paling umum di dunia. Orang di negara berkembang dan kurang maju paling terkena dampak penyakit tersebut," kata Chen.

"Kanker paru-paru juga umum dikenal berkaitan dengan merokok. Perhatian kurang difokuskan pada penderita TBC yang juga beresiko tinggi terkena kanker paru-paru," ujarnya.

Sumber :www.antaranews.com

Tuesday, December 28, 2010

22 Orang Tewas Akibat Infeksi Flu Babi di Sri Lanka

Kathmandu - Wabah flu Babi melanda Sri Lanka. Sebanyak 22 orang tewas akibat terinfeksi flu babi.

Flu Babi di Sri Lanka telah menewaskan 22 orang dari 300 yang terinfeksi virus flu babi selama ini. Data resmi menunjukkan bahwa 22 orang yang terinfeksi dengan virus H1N1/flu babi telah meninggal sejak 25 Oktober.

"Influenza mempengaruhi paru-paru masyarakat dan memicu sebuah ketegangan radang paru-paru. Hujan deras dan cuaca dingin membantu menyebarkan virus," kata pemerintah epidemiologi Sudath Peiris.

Seperti dikutip dari news.com.au, Selasa (28/12/2010), pemerintah setempat mendesak masyarakat untuk menghindari tempat-tempat keramaian dan memerintahkan mereka mengelola kamar telepon umum untuk mendisinfeksi, setidaknya delapan kali sehari.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyatakan bahwa pandemi flu babi terjadi setelah bulan Agustus, lebih dari setahun setelah penyebaran virus baru di seluruh dunia, memicu panik dan membunuh ribuan orang.

Sumber : http://www.detiknews.com/

Monday, December 27, 2010

Kasus Malaria Meluas

Jakarta, Kompas - Penyakit malaria masih menjadi ancaman serius di Indonesia dan kasusnya semakin meluas di masyarakat. Hal ini tecermin dari menurunnya persentase rumah tangga yang bebas dari penyakit malaria.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, 91,8 persen rumah tangga bebas malaria. Namun, berdasarkan Riskesdas 2010, rumah tangga bebas malaria turun menjadi

71,6 persen yang artinya malaria semakin meluas. Rumah tangga bebas malaria tertinggi menurut Riskesdas 2010 di Provinsi Yogyakarta (85,5 persen) dan terendah di Provinsi Papua Barat (22,8 persen).

”Yang banyak meningkat ialah pada rumah tangga dengan satu penderita malaria. Terjadi peningkatan sekitar 12 persen,” ujar Didik Budijanto, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Surabaya, pekan lalu, dalam acara Simposium Nasional VI Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan bertajuk ”Merajut Karya Ilmiah, Peduli Kesehatan Bangsa”.

Dia mengatakan, dengan tingkat analisis rumah tangga, bukan pada individu, dapat diketahui kesehatan sebuah rumah tangga yang sangat penting sebagai basis kesehatan masyarakat secara umum. ”Keberadaan penyakit, seperti malaria, menunjukkan rumah tangga dan lingkungan yang belum sesuai harapan,” ujarnya.

Tidak hanya malaria, terjadi juga penurunan rumah tangga bebas tuberkulosis paru dari 96,6 persen (tahun 2007) menjadi 90,4 persen pada 2010. Status malaria dan tuberkulosis termasuk penyakit yang menjadi indikator status kesehatan rumah tangga di Indonesia. Dalam mengatasi penyakit, termasuk malaria, tindakan pencegahan menjadi sangat penting.

Hal senada terungkap dalam penelitian yang dilakukan Made Asri Budisuari dan Astridya Paramita dari Puslitbang Sistem Kebijakan kesehatan, Badan Litbangkes, mengenai ”Analisis Hubungan Penyakit Malaria dan Pencegahan Malaria di Indonesia”. Penelitian itu merupakan analisis lanjut berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 guna mendapatkan gambaran perilaku pencegahan malaria yang meliputi karakteristik responden, keadaan wilayah, dan status sosial ekonomi. Salah satu sebab suburnya penyakit malaria di Indonesia ialah iklim dan lingkungan yang mendukung berkembangnya nyamuk Anopheles.

Dalam studi itu disimpulkan, penderita malaria paling banyak berusia 5-14 tahun, laki-laki, tinggal di pedesaan, berpendidikan tamat SD/MI, tidak bekerja atau bersekolah, dan memiliki tingkat pengeluaran per kapita rendah. Selain itu diperoleh fakta, mereka yang memiliki perilaku pencegahan baik ternyata lebih sedikit yang terkena malaria dibandingkan dengan mereka yang kurang baik perilaku pencegahannya.

Para peneliti tersebut menyarankan pengelolaan lingkungan yang sehat untuk mencegah perkembangbiakan vektor nyamuk. Selain itu, diperlukan pula pelayanan kesehatan, antara lain rapid diagnostic test (RDT) dan perilaku pencegahan, seperti pemakaian kelambu berinsektisida, penyemprotan, dan pemberantasan sarang nyamuk. Untuk memberantas malaria perlu dilakukan kerja sama lintas sektor.(INE)

http://health.kompas.com/

Monday, December 13, 2010

TBC Bisa Mewabah Lagi Karena Meningkatnya Kasus HIV

Jakarta, Jumlah penderita tuberculosis (TBC) di Indonesia sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir sehingga turun ke peringkat 5 dunia. Namun jumlahnya diperkirakan bisa meningkat lagi karena penyebaran infeksi HIV makin meningkat.

Sejak lebih dari 10 tahun lalu, jumlah penderita TBC di Indonesia merupakan yang terbanyak ke-3 setelah India dan China. Baru pada tahun 2010 ini peringkatnya turun ke posisi 5 dan menjadi salah satu milestone kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan.

Namun Direktur Eijkman Institute, Prof Sangkot Marzuki mengingatkan agar prestasi tersebut tidak membuat masyarakat menjadi lengah. Ia memperkirakan TBC masih akan menjadi ancaman penyakit re-emerging (bangkit kembali) jika tidak diwaspadai.

Salah satu faktor yang memungkinkan TBC kembali mewabah adalah makin meluasnya penyebaran infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Virus ini membuat sistem kekebalan tubuh melemah sehingga seseorang mudah terinfeksi HIV.

Jika penyebaran HIV tidak dikendalikan maka besar kemungkinannya penderita TBC akan meningkat. Seperti diketahui, infeksi TBC merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada pengidap HIV di beberapa negara endemik seperti Afrika Selatan, disusul pneumonia dan influenza.

"Sebenarnya lebih dari 90 persen manusia pernah terinfeksi TBC, namun sangat sedikit yang menjadi sakit. Artinya manusia pada dasarnya kebal TBC," ungkap Prof Sangkot saat ditemui di sela-sela pembukaan simposium "Human Genetics and Infection: Towards Better Management of Disease" di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (13/12/2010).

Ancaman lainnya jika jumlah penderita TBC kembali meningkat adalah masalah sulitnya pengobatan. Prof Sangkot mengatakan saat ini sebagian besar bakteri penyebab TBC telah bermutasi sehingga lebih kebal terhadap obat-obatan yang sudah ada.

"Sama dengan penyakit infeksi lainnya seperti malaria misalnya, resistensi kuman terhadap berbagai macam obat (multiple drug) merupakan ancaman global," ungkap Prof Sangkot.

Sumber : http://www.detikhealth.com/

Thursday, December 9, 2010

Virus Flu Makin Kebal Obat

Jakarta, Virus influenza yang beredar memang mudah sekali berubah. Studi terbaru memperingatkan bahwa strain virus influenza tertentu sedang berkembang dan memiliki kemampuan untuk menyebar yang lebih besar.

Peneliti dari Amerika dan Kanada menegaskan bahwa ada perlawanan terhadap dua kelas obat anti virus yang saat ini telah disetujui. Kondisi ini terjadi dalam beberapa cara dan resistensi (kekebalan) ganda telah meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Tim peneliti menganalisis 28 virus influenza H1N1 musiman yang ada di lima negara selama tahun 2008-2010 dan sudah resisten terhadap M2 blockers (adamantanes) dan penghambat neuraminidase (NAIs), termasuk oseltamivir and zanamivir.

Para peneliti menemukan bahwa resistensi virus berkembang dengan cepat. Padahal sebelumnya hanya disebabkan oleh satu penyebab saja (resisten tunggal) misalnya melalui mutasi, respons obat, atau bertukar gen dengan virus lain.

Studi ini juga menunjukkan proporsi virus yang diuji memiliki resisten ganda yang meningkat, yaitu sebesar 0,6 persen pada tahun 2007-2008 menjadi 1,5 persen pada tahun 2008-1009 dan kini sebesar 28 persen pada tahun 2009-2010.

Hasil ini telah dipublikasikan secara online pada 7 Desember 2010 dalam Journal of Infectious Diseases.

"Jika sirkulasi virus yang memiliki resistensi ganda ini meluas, maka pilihan pengobatan yang bisa diberikan akan menjadi sangat terbatas. Untuk itu agen antivirus dan strategi terapi baru kemungkinan besar diperlukan di masa mendatang," ujar penulis studi Dr Larisa Gubareva dari Pusat Pengontrol dan Pencegahan Penyakit AS, seperti dikutip dari HealthDay, Rabu (8/12/2010).

Para ahli mengungkapkan untuk mengatasi virus influenza yang tidak terduga dan virus influenza yang semakin resisten, maka perlu ada peningkatan pengawasan dan pencegahan yang kreatif terhadap pemilihan pengobatan.

Dr Frederick G. Hayden dari University of Virginia School of Medicine, dan Dr Menno de Jong D dari University of Amsterdam di Belanda menuturkan hal-hal yang bisa dilakukan adalah fokus pada efektivitas zanamivir, terapi kombinasi antivirus dan juga pengembangan terhadap jenis obat antivirus yang baru.

Sumber : http://www.detikhealth.com/

Wednesday, December 1, 2010

Cardiac Arrest dan Respiratory Failure Mendominasi Penyebab Wafat Jamaah Haji Indonesia

Jumlah Jamaah Haji Indonesia di Arab Saudi hingga 29 November pkl.15.48 sudah mencapai 322 jamaah wafat. Angka yang cukup besar ini bahkan melebihi angka kematian tahun 2009 yang hingga akhir masa penyelenggaraan jamaah haji tercatat 312 yang wafat. Angka 322 jamaah wafat ternyata didominasi oleh 2 penyakit terbesar yaitu Cardiac Arrest dan Respiratory Failure.

Ada 174 jamaah haji yang wafat karena Cardiac Arrest. penyakit yang disebabkan karena penyumbatan pada sekurang-kurangnya dua cabang arteri koroner ini membuat gangguan pada ritme jantung pada bilik jantung, yakni ventricles, berdenyut terlalu cepat dan tidak teratur, yakni 4 – 600 kali per menit. Sedangkan untuk kasus Respiratory Failure tercatat 65 jamaah haji yang wafat akibat penyakit ini. Kedua penyakit ini mendominasi penyebab kematian jamaah haji asal Indonesia. penyakit lain yang menyusul di belakangnya adalah Septic Shock, Shock Hypovolemic, dan Stroke Haemoragic. Ketiga penyakit ini menyebabkan kematian sebanyak 13, 8, dan 4 jamaah.

Sumber : http://www.siskohatkes.depkes.go.id

Monday, November 29, 2010

WHO: 600.000 Perokok Pasif Tewas Tiap Tahun

London (ANTARA News/Reuters) - Sekitar satu dari 100 penyebab kematian di dunia diakibatkan merokok pasif, yang diperkirakan menewaskan 600.000 orang per tahun, menurut temuan para peneliti Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat, 26/11/2010.

Dalam penelitian pertama untuk menaksir pengaruh dari merokok pasif, para pakar WHO menemukan anak-anak lebih terekspos pada asap rokok orang lain dibanding kelompok usia lainnya, dan akibatnya sekitar 165.000 diantaranya akan meninggal.

"Dua per tiga dari kematian tersebut terjadi di Afrika dan Asia selatan," kata para peneliti yang diketuai oleh Annette Pruss-Ustun dari WHO di Jenewa, yang menulis temuan itu.

Eksposur anak pada asap rokok seringnya terjadi di rumah, dan penyakit infeksi dan tembakau merupakan kombinasi mematikan bagi anak-anak, kata mereka.

Mengomentari penemuan yang ditulis pada jurnal Lancet, Heather Wipfli dan Jonathan Samet dari Universitas Southern California mengatakan banyak pengambil kebijakan mencoba memotivasi keluarga agar berhenti merokok di dalam rumah.

"Di beberapa negara, banyak rumah bebas rokok tetapi masih jauh dari umum," tulis mereka.

Para ilmuwan WHO menggunakan data dari 192 negara untuk penelitian mereka. Guna mendapat data komprehensif dari seluruh 192 negara itu, mereka harus kembali pada 2004.

Mereka menggunakan contoh matematis untuk memperkirakan kematian dan lamanya kematian dalam kesehatan baik.

Secara global, 40 persen anak-anak, 33 persen laki-laki non-perokok dan 35 persen perempuan non-perokok terekspos rokok pasif pada 2004, menurut temuan mereka.

Hasil eksposur ini diperkirakan menimbulkan 379.000 kematian akibat penyakit jantung, 165.000 infeksi pernapasan bawah, 36.900 dari asma dan 21.400 dari kanker paru-paru.

Untuk pengaruh penuh merokok, kematian ini dapat menambah dari estimasi 5,1 juta kematian per tahun pengguna aktif tembakau, kata kelompok peneliti itu.

Anak-anak

Meski kematian anak-anak umum terjadi di negara-negara miskin dan menengah, kematian pada orang dewasa tersebar di seluruh negara dengan berbagai tingkat pendapatan.

Negara-negara berpendapatan tinggi seperti Eropa, hanya 71 anak yang meninggal, sementara 35.388 kematian terjadi pada orang dewasa. Di Afrika, diperkirakan 43.375 kematian anak dibanding 9.514 kematian pada orang dewasa.

Pruss-Ustun mendesak banyak negara untuk memperkuat Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau milik WHO, seperti meninggikan pajak tembakau, membuat bungkus rokok yang polos dan pelarangan iklan produk tembakau.

"Pembuat kebijakan harus mengetahui bahwa menegakkan hukum bebas rokok kemungkinan akan banyak mengurangi angka kematian disebabkan dari eksposur rokok pasif dalam tahun pertama dari implementasinya, disertai dengan berkurangnya penyakit dalam sistem sosial dan kesehatan," tulisnya.

Hanya 7,4 persen penduduk dunia yang hidup dalam naungan hukum bebas rokok, dan hukum tersebut tidak selalu ditegakkan.

Tempat yang sudah diberlakukan peraturan bebas rokok, penelitian itu menunjukkan bahwa eksposur pada rokok pasif dalam tempat beresiko tinggi seperti bar dan restoran dapat dipotong hingga 90 persen, dan umumnya hingga 60 persen, kata para peneliti.

Penelitian tersebut juga menunjukkan peraturan membantu mengurangi angka rokok yang dibakar oleh perokok dan menghasilkan tingkat kesuksesan tinggi pada orang yang ingin berhenti merokok.

Sumber : http://m.antaranews.com

Thursday, November 25, 2010

Virus H1N1 jadi Wabah Musiman

LONDON--MICOM: Para ilmuwan yang mempelajari flu babi menemukan 70 anak meninggal dalam jangka waktu 9 bulan disebabkan virus H1N1.

Kasus ini termasuk angka kematian terburuk di Inggris yang melibatkan minoritas anak-anak dan orang yang bermasalah dengan kesehatan.

Liam Donaldson, Chief Medical Officer dari Inggris mengatakan di jurnal kesehatan Lancet, anak-anak dari Bangladesh dan Paskitan memiliki angka kematian lebih tinggi daripada anak-anak kulit putih di Inggris terkait penyakit serius dan kronis seperti penyakit neurologis celebral palsy.

"Mereka yang berisiko tinggi menjadi prioritas utama vaksinasi H1N1," jelas Donaldson.

Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan pandemik virus H1N1 sampai Agustus lalu menewaskan 18.450 orang di seluruh dunia, termasuk wanita hamil dan anak muda.

Setidaknya perlu setahun setelah pandemik berakhir, kemungkinan angka tersebut akan meningkat.

Kata para ahli, virus H1N1 menjadi wabah musiman. Oleh karena itu, otoritas kesehatan akan menjalankan kampanye tahunan mencakup vaksinasi rutin.

Tim Donaldson mengatakan bahwa temuan tingkat kematian di etnis minoritas konsisten dengan laporan kaum minoritas di Amerika Serikat yang menderita penyakit berat akibat pandemik H1N1.

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/

Friday, November 19, 2010

AS Pelajari Penyakit Menular, RI Dalami Penyakit Tidak Menular

Jakarta, Penyakit menular di Indonesia masih sangat banyak mulai dari demam berdarah, malaria, macam-macam flu, kaki gajah hingga TBC. Banyaknya penyakit menular di Indonesia membuat AS tertarik untuk mempelajarinya.

Pemerintah Indonesia dan AS telah melakukan penandatangan kerjasama saat kedatangan Presiden AS Barack Obama 9-10 November 2010.

Kerjasama ini sangat penting bagi Indonesia, terutama untuk mempelajari mengenai penyakit tidak menular yang banyak terdapat di negara adidaya tersebut sedangkan AS akan mempelajari penyakit menular di Indonesia.

"Di dalam Comprehensive Partnerships (CP) Indonesia-United State, ada penandatangan kerjasama di dalam bidang sains dan tekonologi. Bidang kesehatan adalah satu dari bagian kerjasama iptek tersebut," ujar Menteri Kesehatan RI, dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH, usai memimpin upacara Hari Kesehatan Nasional (HKN) di halaman Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (12/11/2010).

Menurut Menkes, beberapa hal yang sudah dibicarakan antara Indonesia dan AS dalam kerjasama tersebut, antara lain tentang sister hospital, yakni rumah sakit kedua negara akan tukar menukar tenaga ahli dan pengalaman.

Juga dibicarakan kemungkinan kerjasama laboratorium untuk melakukan penelitian bersama, misalnya dengan tujuan untuk menemukan sebuah vaksin, terutama untuk penyakit kronis.

"Bentuk kerjasama ini hanyalah sebagian dari kerjasama lain. Kerjasama secara nyatanya nanti disana, misalnya dengan bagian Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau sama dengan Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) di Indonesia, juga badan litbang AS," lanjut Menkes.

Menurut Menkes, tidak ada poin yang diprioritaskan, karena kerjasama ini tidak hanya dengan Kemenkes, tetapi juga lembaga lain seperti perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Menkes mengatakan, kerjasama ini sangat penting bagi Indonesia, terutama untuk mempelajari mengenai penyakit tidak menular yang banyak terdapat di negara adidaya Amerika dan sudah terlebih dahulu melakukan penanganan.

Sedangkan untuk AS, penting untuk mempelajari penyakit di Indonesia terutama yang menular, yang mana masih sedikit ditemukan di AS.

"Kita tukar menukar atau menambah pengetahuanlah. Untuk menindak lanjutinya, dibentuk semacam working group, tapi baru sebatas pembicaraan-pembicaraan. Mudah-mudahan tahun depan sudah direalisasikan," tutup Menkes.

Sumber : Merry Wahyuningsih - detikHealth

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN