SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Friday, November 13, 2009

WHO Akan Terima Jutaan Vaksin Flu Babi

PBB, New York (ANTARA News) - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi kesehatan dunia, WHO, akan menerima sumbangan 50 juta dosis vaksin flu babi (H1N1) dari GlaxoSmithKline, salah satu raksasa perusahaan obat-obatan.

Menurut keterangan yang dilansir Markas Besar PBB di New York, Selasa waktu setempat, vaksin sumbangan itu akan disebarkan ke 95 negara berkembang yang ada dalam daftar WHO.

Namun dalam keterangan itu tidak dicantumkan negara-negara mana saja yang masuk dalam daftar 95 negara yang bisa memperoleh vaksin sumbangan GlaxoSmithKline.

Berdasarkan perjanjian antara WHO dengan pihak GlaxoSmithKline, WHO akan menerima pengiriman pertama vaksin tersebut akhir November 2009.

WHO, menurut PBB, berupaya mengamankan cukup banyak vaksin guna memenuhi kebutuhan 10 persen populasi di negara-negara berkembang.

Pekan lalu, WHO memperingatkan bahwa dunia belum mengalami puncak musim flu, yang akan terjadi antara Januari dan Februari diman pada bulan-bulan ini kasus flu babi mungkin akan bertambah.

Badan dunia itu juga menekankan bahwa kendati ada kekhawatiran tentang efek samping, vaksin tersebut masih menjadi alat terbaik dan tersedia untuk memerangi virus flu babi.

Hingga 1 November, flu babi telah menewaskan 6.000 manusia di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, sudah lebih dari 482.000 kasus flu babi yang ditemukan dan dipastikan harus diperiksa laboratorium.

Sumber : Antara On line

Thursday, November 12, 2009

Peringati Hari Kesehatan Nasional ke-45, Menkes Serukan Sinergi untuk Menyehatkan Lingkungan

12 Nov 2009


Menteri Kesehatan RI dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH. mengajak seluruh jajaran kesehatan, masyarakat, sektor usaha dan komponen bangsa untuk saling bersinergi dalam meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan. Hal ini disampaikan Menkes dalam pidatonya di hadapan seluruh jajaran Departemen Kesehatan pada apel Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45 (12/11), yang pada tahun ini mengusung tema ”Lingkungan Sehat Rakyat Sehat”.

Menurut Menkes, kesehatan lingkungan yang ditandai dengan ketersediaan dan akses air bersih, akses sanitasi, pengendalian polusi udara dan perilaku hidup bersih dan sehat, masih menjadi tantangan yang cukup besar di bidang kesehatan. Padahal kesehatan lingkungan berkaitan erat dengan kesehatan ibu dan anak, status gizi masyarakat serta pencegahan penyakit menular, yang merupakan penentu status kesehatan masyarakat dan berdampak pada kualitas bangsa.

Mengutip hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 yang dilakukan Depkes, Menkes mengatakan bahwa 24,8% rumah tangga masih tidak menggunakan fasilitas buang air besar, dan 32,5% tidak memiliki saluran pembuangan air limbah. Sementara yang cukup positif adalah 57,7% rumah tangga di Indonesia memiliki akses air bersih dan 63,3% rumah tangga memiliki akses sanitasi yang baik.

”Dalam momentum peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45 tahun 2009 ini, kita harus berupaya secara terus-menerus untuk melakukan peningkatan dan perbaikan dalam meningkatkan lingkungan sehat seperti yang sudah ditargetkan dalam program 100 hari bidang kesehatan. Salah satu indikator kinerja Depkes yaitu pada Januari 2010 harus mencapai sarana air minum sebanyak 1.379 lokasi dan peningkatan sanitasi di 61 lokasi. Sedangkan indikator kinerja pada tahun 2014 bidang kesehatan lingkungan yaitu tercapainya program air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan peningkatan sanitasi dasar berkualitas baik untuk 75% penduduk. Dengan demikian, penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan karena lingkungan yang tidak sehat seperti diare, ISPA, TBC, malaria, frambusia, demam berdarah dan flu burung diharapkan akan menurun.” kata Menkes.

Menkes menambahkan, upaya peningkatan kualitas dan kesehatan lingkungan mencakup penyediaan kebutuhan akan ketersediaan air minum dan sanitasi; peningkatan perilaku higienis; pengembangan kabupaten/kota sehat; pengendalian bahan berbahaya dan logam berat; penanganan limbah rumah tangga, industri dan institusi pelayanan kesehatan, seperti Rumah Sakit dan Puskesmas serta penanganan kedaruratan lingkungan dalam situasi bencana. Upaya-upaya tersebut dan upaya membuat rakyat sehat, lanjut Menkes, tidak mungkin dilaksanakan oleh bidang kesehatan secara sendirian dan untuk itu memerlukan dukungan dan sinergi dari masyarakat, jajaran kesehatan, sektor swasta dan dunia usaha, serta berbagai komponen bangsa.

Bagi masyarakat luas, Menkes menyerukan pentingnya perilaku sehat. Menkes menyampaikan bahwa lingkungan sehat merupakan cermin perilaku sehat, yang menunjukkan kemandirian masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatannya, yang dengan dukungan pelayanan kesehatan yang bermutu dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal.

Bagi jajaran kesehatan, Menkes menghimbau agar setiap jajaran kesehatan di lapangan memiliki prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat. ”Kita perlu mengembangkan paradigma baru di jajaran kesehatan, jika masyarakat sebelumnya ditempatkan sebagai obyek pelayanan kesehatan, saat ini mereka harus didorong dan diberdayakan untuk mampu sebagai subyek dan mampu secara mandiri dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan kesehatan yang berkesinambungan. Jajaran kesehatan juga diharapkan dapat mengembangkan berbagai prakarsa dalam membangun lingkungan sehat dengan melibatkan masyarakat seperti kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan pengembangan wilayah/kawasan sehat.”

Bagi masyarakat, sektor swasta dan dunia usaha, Menkes menekankan perlunya kemitraan dalam mencegah dan menyelesaikan masalah kesehatan disamping keterlibatan provider kesehatan dan lintas sektor. Berbagai komponen bangsa diharapkan dapat membentuk aliansi-aliansi gerakan masyarakat sehat untuk berperan aktif dalam mencegah dan mengatasi berbagai masalah kesehatan, dan siap menjadi barisan terdepan sebagai modal kekuatan bangsa untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta menjadikan kualitas bangsa yang bermartabat.

Usai memimpin apel, Menkes meluncurkan Aksi Simpati Kebersihan Lingkungan di lima wilayah DKI Jakarta yang ditandai dengan pelepasan mobil pelayanan kesehatan. Selain itu, Hari Kesehatan Nasional ke-45 tahun 2009 dirayakan dengan berbagai acara hingga bulan Desember 2009 meliputi pemberian penghargaan atas pengabdian PNS di lingkungan Depkes RI, institus/perorangan yang berjasa di bidang kesehatan tingkat nasional, penyerahan secara simbolis Kartu Jamkesmas bagi Panti Jompo dan Panti Asuhan, penghargaan kompetisi jurnalistik, penghargaan lomba perpustakaan kesehatan, pameran foto, penyerahan mobil unit promosi kesehatan ke seluruh Indonesia, pameran pembangunan kesehatan, pemeriksaan kualitas air bagi masyarakat di 10 regional, dan berbagai acara yang dilaksanakan di tingkat daerah mulai dari provinsi hingga kabupaten/kota.

Sumber: http://www.depkes.go.id

Biofarma Bangun Pabrik Vaksin Flu

Kamis, 12 November 2009

BANDUNG, KOMPAS.com — Sebagai upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi pandemik flu burung dan influenza A-H1N1, Departemen Kesehatan menunjuk PT Biofarma (Persero) untuk memproduksi vaksin bagi kedua virus tersebut. Rencananya, pembangunan fasilitas fisik dalam proyek itu dimulai pada 16 November 2009.

Selain pembangunan pabrik vaksin, PT Biofarma juga akan membangun fasilitas peternakan ayam steril seluas 5.145 meter persegi di kawasan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Fasilitas tersebut akan menghasilkan telur steril sebagai media penanaman bibit virus flu burung yang akan dijadikan vaksin.

Presiden Direktur PT Biofarma Iskandar mengatakan, pemerintah menganggarkan Rp 1,3 triliun untuk pembangunan dua fasilitas fisik dan riset tersebut. Proyek yang dicanangkan tahun 2008 itu ditargetkan selesai dalam empat tahun.

”Untuk pembangunan fisiknya ditargetkan rampung November 2010,” katanya seusai bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Rabu (11/11) di Bandung.

Iskandar menjelaskan, pembangunan fasilitas produksi vaksin tersebut didasari atas kebutuhan vaksin flu di dunia yang saat ini masih tinggi. Kapasitas produksi vaksin flu di dunia masih sekitar 300 juta dosis per tahun dan terkonsentrasi di Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Jepang. Jika timbul pandemi, produksi vaksin hanya mampu mencukupi 10 persen kebutuhan dunia.

Hingga saat ini tidak ada satu pun produsen di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang memproduksi vaksin flu sendiri. Negara-negara di kawasan ini terancam tidak memiliki vaksin ketika timbul pandemi flu.

Padahal Indonesia termasuk rawan pandemik flu burung. Data Biofarma menyebutkan, sejak kasus flu burung di Indonesia dilaporkan pertama kali tahun 2005 hingga sekarang tercatat ada 141 kasus dengan angka kematian 115 kasus (81,6 persen).

Pembangunan pabrik vaksin flu di Indonesia diharapkan bisa memperbesar cadangan vaksin flu dunia. Kapasitas produksi vaksin flu Biofarma ditargetkan 20 juta dosis vaksin per tahun.

Gubernur Jawa Barat meminta PT Biofarma agar berkomitmen dengan mendahulukan cadangan vaksin flu bagi warga Jawa Barat. Sepanjang tahun 2009 di Jawa Barat tercatat ada 99 kasus influenza A-H1N1, yakni tertinggi nomor empat dari total 25 daerah di Indonesia yang terjangkiti flu tersebut.

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2009/11/12/07472617/Biofarma.Bangun.Pabrik.Vaksin.Flu


Wednesday, November 11, 2009

Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus Di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang

Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H saat membuka Seminar dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia 2009, 5 November 2009 di Jakarta.

Prof. Tjandra Yoga mengatakan berdasarkan hasil Riskesdas 2007 prevalensi nasional DM berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk usia >15 tahun diperkotaan 5,7%. Prevalensi nasional Obesitas umum pada penduduk usia ≥ 15 tahun sebesar 10.3% dan sebanyak 12 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional, prevalensi nasional Obesitas sentral pada penduduk Usia ≥ 15 tahun sebesar 18,8 % dan sebanyak 17 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional. Sedangkan prevalensi TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) pada penduduk usia >15 tahun di perkotaan adalah 10.2% dan sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi diatas prevalensi nasional. Prevalensi kurang makan buah dan sayur sebesar 93,6%, dan prevalensi kurang aktifitas fisik pada penduduk >10 tahun sebesar 48,2%. Disebutkan pula bahwa prevalensi merokok setiap hari pada penduduk >10 tahun sebesar 23,7% dan prevalensi minum beralkohol dalam satu bulan terakhir adalah 4,6%.

Dalam sambutannya Prof. Tjandra Yoga menjelaskan, Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin.Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini membutuhkan perhatian dan perawatan medis dalam waktu lama baik untuk mencegah komplikasi maupun perawatan sakit.

Diabetes Melitus terdiri dari dua tipe yaitu tipe pertama DM yang disebabkan keturunan dan tipe kedua disebabkan life style atau gaya hidup. Secara umum, hampir 80 % prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2. Ini berarti gaya hidup/life style yang tidak sehat menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi DM. Bila dicermati, penduduk dengan obes mempunyai risiko terkena DM lebih besar dari penduduk yang tidak obes.

WHO merekomendasikan bahwa strategi yang efektif perlu dilakukan secara terintegrasi, berbasis masyarakat melalui kerjasama lintas program dan lintas sektor termasuk swasta. Dengan demikian pengembangan kemitraan dengan berbagai unsur di masyarakat dan lintas sektor yang terkait dengan DM di setiap wilayah merupakan kegiatan yang penting dilakukan. Oleh karena itu, pemahaman faktor risiko DM sangat penting diketahui, dimengerti dan dapat dikendalikan oleh para pemegang program, pendidik, edukator maupun kader kesehatan di masyarakat sekitarnya.

Tujuan program pengendalian DM di Indonesia adalah terselenggaranya pengendalian faktor risiko untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan DM. Pengendalian DM lebih diprioritaskan pada pencegahan dini melalui upaya pencegahan faktor risiko DM yaitu upaya promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif, jelas Prof. Tjandra Yoga.

Prof. Tjandra Yoga menambahkan bahwa pada Sidang Umum Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dalam press release tanggal 20 Desember 2006 telah mengeluarkan Resolusi Nomor 61/225 yang mendeklarasikan bahwa epidemic Diabetes Melitus merupakan ancaman global dan serius sebagai salah satu penyakit tidak menular yang menitik-beratkan pada pencegahan dan pelayanan diabetes di seluruh dunia. Sidang ini juga menetapkan tanggal 14 Nopember sebagai Hari Diabetes Se-Dunia (World Diabetes Day) yang dimulai tahun 2007. .

Oleh karena itu, program Pengendalian Diabetes Melitus dilaksanakan dengan prioritas upaya preventif dan promotif, dengan tidak mengabaikan upaya kuratif. Serta dilaksanakan secara terintegrasi dan menyeluruh antara Pemerintah, Masyarakat dan Swasta (LP, LS, Profesi, LSM, Perguruan Tinggi).

Sedangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575 tahun 2005, telah dibentuk Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular yang mempunyai tugas pokok memandirikan masyarakat untuk hidup sehat melalui pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular, khususnya penyakit DM yang mempunyai faktor risiko bersama.

Sumber : Depkes RI On Line

Jumlah Kasus AIDS Menjadi 8 Kali Lipat dalam Kurun 5 Tahun

Rabu, 11 November 2009

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus AIDS meningkat selama lima tahun terakhir. Jumlah kasus menjadi delapan kali lipat, yakni dari 2.684 kasus pada tahun 2004 menjadi 17.699 kasus pada pertengahan 2009.

Penanganan HIV/AIDS bagian dari program 100 hari Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih untuk pengendalian penyakit menular, yang dipaparkan dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR yang berlangsung 9 dan 10 November 2009.

Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan penurunan daya tahan tubuh seseorang yang disebabkan human immuno deficiency virus (HIV). Rasio penderita antara laki-laki dan perempuan adalah tiga berbanding satu. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang mengakibatkan menurunnya, bahkan, hilangnya daya tahan tubuh.

Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang mengalami epidemi HIV/AIDS dengan prevalensi meningkat tajam. Sejumlah upaya dilakukan, tetapi belum menunjukkan penurunan. Proporsi kasus tertinggi pada kelompok umur produktif 20-29 tahun (50,07 persen) dan 30-39 tahun. Kasus AIDS terbanyak di Jawa Barat, DKI Jakarta, Papua, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Kepulauan Riau.

Menkes Endang mengatakan, penanggulangan HIV/AIDS memerhatikan nilai-nilai agama dan budaya serta norma kemasyarakatan. Selain itu, terdapat upaya terpadu peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan perawatan berdasarkan fakta ilmiah, serta dukungan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Selain itu, disiapkan reagent HIV untuk pengamanan darah (950.000 tes), surveilans (200.000 tes), dan diagnostik (1 juta tes). Saat ini jumlah layanan voluntary, counseling, and testing telah tersebar di 190 rumah sakit, 14 rumah sakit jiwa, 119 puskesmas, 115 lembaga swadaya masyarakat, dan 30 lembaga pemasyarakatan.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Adhitama mengatakan bahwa kesulitan menahan laju peningkatan penularan HIV/AIDS, antara lain, karena terkait berbagai faktor, seperti perilaku, keyakinan, norma, budaya, dan masalah sosial. Untuk menahan laju penularan, dibutuhkan peran masyarakat secara luas.

Dalam paparan di DPR, disebutkan upaya pencegahan yang efektif memutuskan rantai penularan HIV pada kelompok berisiko tertentu, antara lain, dengan promosi alat atau jarum suntik steril serta terapi rumatan metadon. Lainnya ialah promosi kondom terutama di lokalisasi.

”Untuk persoalan di hilir atau bagi orang dengan HIV/AIDS dengan penyediaan ARV,” ujar Tjandra. Untuk ODHA, telah ada penyediaan antiretroviral (ARV) secara berkesinambungan. Dalam program 100 hari, disediakan ARV untuk 16.000 ODHA.

Sementara itu, di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebanyak 34 kasus HIV/AIDS ditemukan selama dua tahun terakhir. Dua di antaranya balita berusia dua tahun dan dua bulan. Kedua balita tersebut positif mengidap HIV karena tertular ibunya.

Berdasarkan data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Tegal, dari 34 pengidap HIV/AIDS, 13 orang meninggal dunia, sementara tujuh lain hingga saat ini masih mendapatkan terapi ARV.

Petugas Penyuluh HIV/AIDS PKBI Kabupaten Tegal, Panji Adi, mengatakan, kasus-kasus HIV/AIDS tersebut ditemukan dari hasil voluntary, counseling, and testing.

Sumber : Kompas OL


Tuesday, November 10, 2009

Pemerintah Siapkan Rancangan Jaminan Kesehatan Semesta

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan rancangan sistem jaminan kesehatan semesta yang akan mencakup seluruh populasi.

"Kami sedang membuat `roadmap` Jaminan Kesehatan Semesta 2014," katanya saat melakukan rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin, yang dipimpin Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning Proletariati.

Dalam rapat dengar pendapat yang dihadiri 46 anggota komisi itu Endang mengatakan, penyusunan rancangan sistem jaminan kesehatan semesta ditargetkan selesai dalam 100 hari kerja pertamanya.

"Sekarang masih meminta masukan dari para ahli dari universitas dan organisasi profesi terkait untuk menyusun ini," katanya.

Dia sebelumnya mengatakan, Jamkesmas secara bertahap akan dikelola menggunakan sistem asuransi kesehatan.

Asuransi kesehatan, katanya, akan menjangkau seluruh populasi, tidak hanya masyarakat miskin saja.

"Premi masyarakat miskin tetap ditanggung pemerintah, yang bekerja (ditanggung) oleh perusahaan, yang mampu bayar sendiri," katanya.

Anggota Komisi IX dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Surya Chandra Surapaty mengatakan, pemerintah harus menyelenggarakan jaminan kesehatan dengan sistem yang sesuai dengan undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional.

Menurut undang-undang, ia menjelaskan, pengelolaan jaminan kesehatan nasional harus dilakukan oleh badan nirlaba. Lembaga yang dibentuk oleh pemerintah tersebut, kata dia, sekaligus berfungsi sebagai pengelola dana wali amanah.

Kerangka itu sebenarnya sudah diatur dalam undang-undang sistem jaminan sosial nasional, namun hingga kini belum bisa dilaksanakan karena Dewan Jaminan Sosial Nasional belum menyelesaikan pembuatan peraturan pendukungnya, yakni undang-undang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Peraturan lain yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan SJSN seperti peraturan pemerintah tentang penerima bantuan iuran dan peraturan pemerintah tentang jaminan kesehatan juga belum selesai.

Menurut undang-undang, semua peraturan pendukung pelaksanaan SJSN seharusnya selesai akhir Oktober 2009 dan SJSN sudah bisa dilaksanakan November 2009.

Sumber : Antara OL

Friday, November 6, 2009

Presiden Minta Paradigma Sektor Kesehatan Diubah

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, paradigma pelayanan kesehatan bagi masyarakat diubah dari upaya pengobatan menjadi pencegahan.

"Kita ingin ubah paradigma dari pengobatan gratis menjadi sehat gratis. Jadi peran Puskesmas, Posyandu, pekan imunisasi, KB dan pemberantasan penyakit akan ditingkatkan. Tidak menunggu jatuh sakit baru diobati, tapi meningkatkan kesehatan masyarakat," kata Presiden usai Sidang Kabinet di Kantor Presiden Jakarta, Kamis.

Meski perubahan paradigma tersebut dilakukan, Presiden mengatakan pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang sakit akan terus dilakukan termasuk bantuan bagi masyarakat miskin.

"Tentu ada kantong-kantong daerah rawan penyakit seperti demam berdarah, Tuberkolosis dan HIV yang tetap diperhatikan. Sehat itu gratis dalam arti bagi tidak mampu dan sangat miskin kita dorong agar sehat," katanya.

Di bidang pendidikan, Presiden menegaskan pada 100 hari mendatang akan dirumuskan mekanisme "link and match" antara dunia pendidikan dengan dunia kerja sehingga lulusan lembaga pendidikan formal siap kerja dan tidak kesulitan mendapatkan pekerjaan.

"Target 100 hari adalah cegah `missed match`, banyak di berbagai provinsi yang dihasilkan perguruan tinggi lulusannya tidak klop dengan pasar tenaga kerja. Ini tidak boleh terjadi, dalam 100 hari kita rumuskan mekanismenya," paparnya.

Sektor penanggulangan bencana, dalam 100 hari mendatang Presiden meminta agar telah dibentuk semacam pasukan atau tenaga yang siaga setiap waktu di kirim bila bencana terjadi.

Pasukan atau tim tersebut terdiri dari medis, PMI, ahli komunikasi, TNI dan Polri. Tim itu akan didukung oleh angkutan udara seperti Hercules dan jenis lainnya untuk segera melakukan langkah tanggap darurat segera setelah bencana terjadi.

"Saya ingin dalam 100 hari bukan hanya standard prosedur saja, bukan hanya siapa yang siaga tapi betul betul sudah berjalan. Satu di barat, di timur dan bahkan bencana sering di negeri kita mulai 2011 penambahan pesawat angkut Hercules dan sejenis serta helikopter untuk angkut logistik," kata Kepala Negara.

Sumber : Antara On Line

Wednesday, November 4, 2009

Pneumonia Pembunuh Anak Nomor Satu di Dunia

Bandung (ANTARA News) -
Pneumonia adalah pembunuh anak nomor satu yang terlupakan dan angka kematian anak umur dibawah lima tahun (balita) akibat penyakit itu lebih tinggi dibandingkan total kematian karena AIDS, malaria dan campak."WHO mencatat sekitar seperlima kematian balita disebabkan oleh pneumonia, penyakit ini ialah pembunuh anak nomor wahid yang dilupakan atau major forgotten killer of children," kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Lingkungan Depkes, Tjandra Yoga Aditaman pada Peringatan Hari Pneumonia Dunia di Gedung FK Unpad Bandung, Senin.
Hingga saat ini pneumonia atau radang paru akut merupakan penyabab kematian utama pada balita.Setiap tahunnya, kata Tjandra, lebih dari 2 juta balita meninggal dunia karena penyakit pneumonia dan ini merupakan seperlima bagian dari 9 juta anak balita yang meninggal dunia setiap tahunnya."Angka kematian karena pneumonia melebihi angka kematian akibat AIDS, campak, malaria atau gabungan ketiganya. Di WHO saja belum ada ruang khusus pneumonia. Makanya pneumonia disebut pembunuh anak no wahid yang dilupakan," katanya.
Oleh karena itu, terhitung mulai 2 November 2009 ini, Badan Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan hari ini sebagai World Pneumonia Day (Hari Pneumonia Dunia) di seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, kata Tjandra, peringatan Hari Pneumonia Dunia dilakukan dengan menggelar seminar nasional dengan tajuk "Figth Pneumonia-Save a Child", yang diperuntukkan bagi 340 tenaga kesehatan dari seluruh Indonesia.
Dalam acara tersebut, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Badriul Hegar SpAK, menyatakan, tujuan dari pencanangan Hari Pneunomia Sedunia ialah untuk menumbuhkan kesadaran semua pihak baik pemerintah dan masyarakat tentang pneumonia."Pneumonia, merupakan masalah kesehatan masyarakat, khususnya balita yang memerlukan perhatian bersama dari semua pihak supaya angka kesakitan dan kematiannya dapat menurun," kata Dr Badriul.
Menurutnya, perlu penanganan yang komprehensif untuk memberantas penyakit pneumonia yang meliputi aspek perlindungan, pencegahan dan terapi.Pneumonia ialah penyakit radang infeksi akut yang menganai paru. Pneumonia disebabkan oleh kuman (mikroba, jasad renik) yang masuk ke dalam baru, berbiak, dan menimbulkan kerusakan jaringan paru.
Sumber : Antara OL

Inilah Program 100 Hari Menkes

JAKARTA, KOMPAS.com —

Di sela-sela kunjungannya ke RS Hasan Sadikin dan RS Paru-paru HA Rotinsuli, Bandung, Senin (2/11), Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyebutkan empat program dalam program 100 harinya.
Keempat program itu adalah:1. Pemenuhan hak setiap individu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan program jaminan kesehatan masyarakat dan sebagainya.2. Peningkatan kesehatan masyarakat melalui percepatan dan pencapaian target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), yaitu mengurangi angka kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan, dan sebagainya.3. Pencegahan dan penularan menyakit menular dan akibat bencana.4. Pemerataan dan distribusi tenaga kesehatan di daerah terpencil, kepulauan, perbatasan, dan daerah tertinggal.
Mengenai program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Menkes mengatakan bahwa pihaknya akan berusaha memberikan jaminan kesehatan kepada orang-orang miskin yang tidak terdaftar, seperti gelandangan."Hal yang menjadi problem dalam Jamkesmas adalah orang-orang yang tidak terdaftar. Dalam 100 hari ke depan, akan dibagikan kartu kepada orang-orang gelandangan, orang-orang di panti, sehingga mereka dapat jaminan untuk berobat," katanya.Selain itu, Depkes juga akan berusaha membayarkan tunggakan pembayaran Jamkesmas.
"Untuk program MDGs juga ada program sweeping balita gizi buruk. Kita punya data dari Riset Kesehatan Dasar, daerah mana saja yang ada kasus gizi buruk dan kita akan fokuskan ke daerah tersebut, dan kemudian kita rujuk ke posyandu untuk mendapatkan makanan tambahan agar gizinya tercukupi," kata Menkes.
Menkes mengatakan, pihaknya akan membentuk sebuah komite yang akan menentukan kebijakan proteksi terhadap semua sampel spesimen dan strain suatu penyakit hasil penelitian di Indonesia. "Saya akan membentuk suatu komite atau komisi nasional yang terdiri dari pakar spesialis anak, pakar spesialis dalam, virulogi, serta pakar-pakar dari universitas dan dari Depkes," kata Endang.
"Komite itu akan menjadi semacam dewan pertimbangan untuk membahas dan memutuskan tawaran penelitian yang besar-besar, bermanfaat atau tidak untuk Indonesia, apa keuntungannya untuk Indonesia, apa saja yang boleh dilakukan oleh pihak asing," katanya.Depkes juga akan membentuk komite material transfer agreement (MTA) yang memutuskan, apakah spesimen atau strain virus/bakteri hasil suatu penelitian bisa keluar dari Indonesia atau tidak. "Selain itu, ada komite MTA. Jadi, penelitian yang sudah disetujui oleh komisi nasional tersebut, kita akan lihat, apa perlu spesimen itu keluar. Sedapat mungkin, spesimen tidak keluar dari Indonesia," kata Menkes.
Sumber: Kompas OL

Tuesday, November 3, 2009

2 Vaksin Belum Masuk Program Nasional

Selasa, 3 November 2009 07:53 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Dua vaksin bagi penderita radang paru-paru akut yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia agar diberikan kepada anak di negara berkembang belum dimasukkan dalam program nasional imunisasi di Indonesia. Kedua vaksin itu bisa mencegah kematian 1.075.000 anak per tahun akibat radang paru-paru akut.”Dua vaksin itu adalah Haemophilus Influenzae tipe b atau Hib dan Pneumococcus atau PCV,” kata Kepala Subbagian Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Cissy Kartasasmita dalam Simposium Hari Pneumonia Sedunia bertema ”Fight Pneumonia-Save a Child” di Fakultas Kedokteran Unpad, Bandung, Senin (2/11).
Cissy mengatakan, baru dua vaksin masuk program vaksinasi nasional Indonesia, yaitu campak dan pertusis. Padahal, radang paru-paru akut menyebabkan kematian 2 juta anak di dunia.Dikatakan, vaksin campak efektif meminimalkan terjadinya radang paru-paru akut, demikian juga vaksin pertusis. Menurunkan jumlah penderita campak dan pertusis berarti bisa meminimalkan kematian akibat radang paru-paru akut. Namun, tahun 2004 dilaporkan 30 juta-40 juta anak terserang campak dan 295.000-390.000 anak per tahun meninggal karena pertusis. Saat ini harga kedua vaksin itu, menurut Cissy, masih mahal.
Di negara berkembang, Hib menyelamatkan 2 juta-3 juta anak per tahun. Di negara maju, penggunaannya 92 persen, negara berkembang 42 persen, dan negara belum berkembang 8 persen.Penelitian di Gambia menyebutkan, pemberian PCV 9 menurunkan radang paru-paru akut hingga 35 persen dan jumlah kematian turun 16 persen.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan, radang paru-paru akut adalah salah satu penyakit yang kerap dilupakan karena tak menyebabkan banyak kematian seperti AIDS atau flu burung. Fenomena itu, menurut Yoga, sangat disayangkan karena akan menyebabkan radang paru-paru akut menjadi pembunuh utama bayi dan anak di dunia. (CHE)
Sumber : Kompas on line

Wednesday, October 21, 2009

Kasus Babi Terkena Flu H1N1 Ditemukan di AS

(ANTARA/Ahmad Subaidi) Washington (ANTARA News) -

Menteri Pertanian AS Tom Vilsack, Senin, mengumumkan National Veterinary Services Laboratories di U.S. Department of Agriculture (USDA) telah mengkonfirmasi keberadaan virus wabah influenza H1N1 pada sampel babi yang dikumpulkan di Minnesota State Fair dan diajukan oleh University of Minnesota.
"Kami sepenuhnya melibatkan mitra dagang kami guna mengingatkan mereka bahwa beberapa organisasi internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, telah menyatakan tak ada dasar ilmiah untuk membatasi perdagangan daging babi dan produk babi," kata Vilsack dalam satu pernyataan. "Orang tak dapat terinfeksi flu ini karena makan daging babi atau produk daging babi. Daging babi aman dimakan.
"Hasil sequens mengenai "hemagglutinin", "neuraminidase" dan "gen matriks" dari pengucilan virus tersebut cocok dengan wabah yang dilaporkan 2009 sequens virus flu babi H1N1.
Sampel yang dikumpulkan di Minnesota State Fair 2009 adalah bagian dari kesepakatan proyek penelitian kerja sama University of Iowa dan University of Minnesota, yang didanai oleh U.S. Centers for Disease Control and Prevention yang mendokumentasikan virus influenza di tempat manusia dan babi berinteraksi seperti pasar.
Infeksi babi di pasar tak menunjukkan infeksi ternak komersial karena tayangan memperlihatkan babi berada di bagian terpisah dari industri babi yang tak secara khusus menjadi tempat interaksi manusia atau hewan ternak.
USDA terus mengingatkan produsen babi di AS mengenai perlunya kesehatan yang baik, keamanan biologi dan tindakan lain yang akan menegah penularan dan penyebaran virus influenza pada ternak mereka serta mendorong mereka agar ikut dalam program pengawasan virus influenza babi oleh USDA.
Sumber : Antara OL

Monday, October 19, 2009

Penderita TB di Indonesia Peringkat Ketiga Dunia

Makassar 19/10/2009 (ANTARA News) -

Jumlah penderita Tuberculosis (TB) di Indonesia masih berada pada urutan tertinggi ketiga di dunia, yang pada umumnya disebabkan kurang diperhatikannya faktor kebersihan.

"Indonesia urutan ketiga setelah India dan China yang terbanyak angka penderita TB-nya. Penyebab utama tingginya penderita TB di Indonesia karena kebersihan kurang terjaga," kata Head of Corporate Research Novartis, Paul Herrling di Makassar, Minggu.

Menurut dia, dari hasil penelitian yang dilakukan mitra kerja Novartis di Indonesia diketahui, faktor kebersihan menjadi penyebab utama seseorang terjangkit bakteri penyebab TB.

"Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan, sempit, jorok dan kurang pencahayaan akan menjadi pemicu bakteri TB berkembang dan menjangkiti orang yang lemah kekebalan tubuhnya," katanya.

Selain faktor kebersihan yang dapat menyebabkan seseorang menderita TB, lanjutnya, gaya hidup juga dapat menjadi pemicu penyakit menular ini.

Sebagai gambaran, penderita TB juga banyak di Rusia, karena mayoritas penduduknya gemar meminum vodka, sehingga mempengaruhi berat badan dan pada akhirnya menjadi pemicu orang menderita TB.

Berkaitan dengan hal tersebut, lanjutnya, pihaknya memilih Indonesia sebagai lokasi lembaga penelitian TB yang dilaksanakan Novartis-Eijkman-Hasanuddin Clinical Research Initiative (NEHCRI) di Makassar.

"NEHCRI resmi beroperasi di Makassar pada 2007 lalu, karena sebelumnya kami sudah menimbang bahwa lokasi ini sangat representatif," ujar Herrling.

Alasannya, dalam Kawasan Tamalarena Makassar, selain terdapat kampus Universitas Hasanuddin, juga terdapat Rumah Sakit Regional Wahidin, sehingga sangat tepat jika di tengah kawasan itu dibangun lembaga penelitian yang dilengkapi dengan laboratorium yang canggih.

Sumber : ANTARA OL

Thursday, October 15, 2009

Hari Cuci Tangan Sedunia, Cuci Tangan Yuk!

Jakarta - Mungkin hanya segilintir orang yang tahu bahwa 15 Oktober yang jatuh hari ini, diperingati sebagai Hari Cuci Tangan Sedunia (HCTS). Ketidaktahuan dimaklumi, sebab pada 2009 ini HCTS baru diperingati untuk kedua kalinya.
HCTS, tentunya pakai sabun, adalah kampenye global yang dicanangkan oleh PBB dengan peserta lebih dari 70 negara di dunia sebagai upaya untuk menurunkan tingkat kematian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup manusia.
Serangkaian kegiatan pun digelar untuk memperingati HCTS. Antara lain seperti yang akan dilakukan Departemen Kesehatan (Depkes). Dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (15/10/2009) Dirjen PPPL Depkes secara resmi akan melepas sekitar 500 anak SD untuk kegiatan aksi 'Langit Cerah' dalam rangka sosialisasi cuci tangan pakai sabun.
Dalam peringatan HCTS kali ini, Depkes mengambil tema 'Cuci Tangan Pakai Sabun, Cegah Penyebaran Flu Baru H1N1'. Kampanye Depkes ini akan mangambil tempat di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakpus, pukul 07.30 WIB.
Sebuah perusahaan penghasil produk sabun cuci tangan pun tak mau melewatkan kesempatan ini. Perusahaan itu akan mengadakan aksi cuci tangan serentak di 9 Kota besar di Indonesia pada pukul 10.00 WIB. 9 Kota itu adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Banjarmasin, Ambon, dan Jayapura.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, seperti yang disampaikan USAID, menyatakan kematian balita dan anak-anak Indonesia terbesar adalah akibat diare dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Nah, menurut penelitian, perilaku kecil seperti mencuci tangan dengan sabun dapat berdampak besar mengurangi angka kematian yang terkait dengan penyakit diare hingga hampir 50 persen. Makanya sedari sekarang, biasakan cuci tangan. Cuci tangan yuk!(lrn/ddt)
Sumber : http://m.detik.com

Reducing childhood deaths from diarrhoea

14 OCTOBER 2009 NEW YORK GENEVA --

Global campaigns to fight diarrhoea - the second deadliest illness for children – must be re-energized to prevent the deaths of millions in the developing world, UNICEF and WHO said today as they released a new report on the disease.

“It is a tragedy that diarrhoea, which is little more than an inconvenience in the developed world, kills an estimated 1. 5 million children each year,” said UNICEF Executive Director, Ann M. Veneman. "Inexpensive and effective treatments for diarrhoea exist, but in developing countries only 39 per cent of children with diarrhoea receive the recommended treatment.”

The report, Diarrhoea: why children are still dying and what can be done, lays out a seven-point plan that includes a treatment package to reduce childhood diarrhoea deaths and a prevention strategy to ensure long-term results. The seven specific points are:
1. Fluid replacement to prevent dehydration;
2. Zinc treatment;
3. Rotavirus and measles vaccinations;
4. Promotion of early and exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation;
5. Promotion of hand washing with soap;
6. Improved water supply quantity and quality, including treatment and safe storage of
household water; and
7. Community-wide sanitation promotion.

Dr Margaret Chan, Director-General of WHO, said: "We know where children are dying of diarrhoea. We know what must be done to prevent those deaths. We must work with governments and partners to put this seven-point plan into action."
Source : www.who.int

Wednesday, October 14, 2009

Study: cell phone users at higher risk of brain tumor

BEIJING, Oct. 14 (Xinhuanet) --
Cell phone users might take more risks to come down with brain tumors, according to media reports Wednesday quoting latest research from U.S.

In earlier research, scientists did find a weak link between cell phone and brain tumors, whereas there was no clear indication of what risk the cell phone users were taking.

"We cannot make any definitive conclusions about this," said Dr. Deepa Subramaniam, director of the Brain Tumor Center at Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center in Washington, D.C.

"But this study, in addition to all the previous studies, continues to leave lingering doubt as to the potential for increased risk. So, one more time, after all these years, we don't have a clear-cut answer."

However, Joel Moskowitz, the study's senior author, said that "clearly there is risk." He's director of the Center for Family and Community Health at the University of California, Berkeley, School of Public Health.

"I would not allow children to use a cell phone, or I at least would require them to use a separate headset," Moskowitz said.

"It seems fairly derelict of us as a society or as a planet to just disseminate this technology to the extent that we have without doing a whole lot more research of the potential harms and how to protect against those harms. Clearly, we need to learn a whole lot more about this technology."

Researchers found that using a mobile phone for a decade or longer resulted in an 18 percent increased risk of brain tumor likely to appear on the side where the phone was used, Moskowitz said.

Moskowitz however believed that there's also potential harm to other areas of the body -- the genitals, for example -- when the phone is carried in a pocket.

With so many people worldwide using cell phones, even a small risk could translate into many illnesses and deaths, he stressed.

"We need to do a whole lot more research because the stakes are really high and there seems to be suggestive evidence that you better be careful about this, especially in children, who have developing tissue and smaller brain and skull sizes," Moskowitz warned.

Last year, the U.S. Food and Drug Administration appealed for more research into the risks posed by long-term cell phone use, rather than the more commonly studied short-term risks. It urged that such research focuses on the health of children, pregnant women and fetuses as well
as workers subject to high occupational exposure.
Source : www.chinaview.cn

Monday, October 12, 2009

Menkes: Indonesia berkomitmen turunkan angka kematian

MEDAN - 11/10/2009

Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari, mengatakan, Indonesia berkomitmen menurunkan angka kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara penyakit campak hingga 90 persen pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2000.
“Karenanya, dilaksanakan beberapa upaya meliputi imunisasi rutin campak pada bayi usia 9 bulan dan imunisasi campak dosis kedua pada anak SD serta melakukan imunisasi tambahan untuk menghilangkan akumulasi kelompok rentan,” katanya melalui Dirjen Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Chandra Yoga Aditama.
Disebutkan, cakupan imunisasi rutin secara nasional telah mencapai terget namun belum merata di seluruh wilayah Indonesia termasuk Sumut. Penyakit campak masih menjadi salah satu penyebab utama kematian bayi dan balita di Indonesia, untuk itu perlu upaya meningkatkan tingkat kekebalan terhadap penyakit campak melalui pemberian imunisasi campak tambahan pada balita.
Gubsu, Syamsul Arifin, atas nama Pemprovsu menyambut gembira atas bantuan yang diberikan oleh WHO dan UNICEF dalam rangka kampanye campak dan polio tambahan. Campak, kata Gubsu, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan mudah menular pada anak-anak yang rentan serta berpotensi menyebabkan kejadian luar biasa (wabah) sehingga dapat mengancam kesehatan bagi bayi dan balita.
“Penyakit campak dapat menular dengan cepat dari satu anak ke anak yang lain dan dapat mengakibatkan panas, batuk, sesak nafas, sariawan, diare dan bahkan dapat mengakibatkan kebutaan dan kematian,”ujarnya.
Kampanye imunisasi campak dan polio tambahan akan dilaksanakan di 33 kabupaten/kota di Sumut masing-masing di 417 kecamatan, 5.815 desa dan 16.585 Posyandu.
Sumber : waspada OL

A/H1N1 flu cases increase dramatically in Spain

MADRID, Oct. (Xinhua) --

The number of A/H1N1 flu cases in Spain rose sharply between Sept. 27 and Oct. 3 to an estimated 40,564 cases, the Spanish Ministry of Health announced.

This weekly figure was a dramatic increase of 9,242 from the previous week's 31,322 cases. Meanwhile, the infection rate had climbed sharply from the previous 77.88 cases per 100,000 inhabitants to 94.72 cases per 100,000 inhabitants, the ministry added.

There had been 43 deaths to date as a result of the A/H1N1 flu virus; the last victim was a 46 year-old woman in Malaga.

However, nearly all of those who died also had other health problems. The mortality rate stands at 0.17 per 1,000 cases.

Friday, October 9, 2009

Penyakit Aneh Serang Perempuan Zambia

Jumat, 9 Oktober 2009 | 11:36 WIB

LUSAKA, KOMPAS.com - Penyakit aneh yang hanya menyerang persendian kaum perempuan dan membuat mereka tak bisa berdiri tanpa bantuan dijumpai di Provinsi Luapula, Zambia

Penyakit aneh, yang disebut "dwarf", itu telah menyebar di daerah Chembe di Provinsi Luapula dan hanya menyerang perempuan dan anak perempuan, sehingga mereka tak bisa berdiri tanpa bantuan. Teleshi Lewando, seorang pegawai di Pusat Kesehatan setempat, mengatakan kepada anggota parlemen dari daerah tersebut, Mwansa Mbulakulima, yang sedang berkunjung, bahwa penyakit itu "tidak serius" dan semua pasien dapat disembuhkan setelah tiga hari.

Ia mengatakan penyakit tersebut pertama kali menyebar di sekolah menegah Kabunda. Sejumlah siswi di sekolah itu telah menderita penyakit tersebut. Semua orang yang terserang hanya diberikan obat Panadol.

Tetapi anggota parlemen itu mengatakan meskipun penyakit tersebut tidak serius, para ahli kesehatan perlu menyelidiki mengapa penyakit itu hanya menyerang anak perempuan dan kaum perempuan. "Ya, kita telah diberitahu bahwa penyakit ini -dwarf- tidak serius, tapi kemudian kita tak boleh terlena karena jaminan itu, malah kami mesti bekerja keras untuk menemukan kebenaran mengenai penyakit tersebut," kata Mbulakulima kepada para pekerja kesehatan.

Sumber : ANT http://m.kompas.com

Wednesday, October 7, 2009

Vaksin Influenza A-H1N1 Dinyatakan Aman

Rabu, 7 Oktober 2009 09:33 WIB

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (6/10), mengulang pernyataannya bahwa vaksin influenza A-H1N1 merupakan alat yang terbaik untuk menghadapi pandemi. Efek samping, seperti otot yang kram atau sakit kepala, memang terjadi pada beberapa kasus, tetapi sebaiknya setiap orang memiliki akses pada vaksin tersebut.
Kampanye massal vaksinasi mencegah influenza A-H1N1 saat ini berlangsung di China dan Australia, dan akan segera dimulai di AS dan sebagian negara di Eropa. Hal ini diungkapkan juru bicara WHO, Gregory Hartl. Tentang keengganan sejumlah orang untuk divaksinasi, Hartl hanya menegaskan, ”Saya berharap setiap orang yang berkesempatan mendapatkan vaksin tersebut benar-benar bisa mendapatkannya.”
Pihak PBB menyatakan bulan Juni lalu bahwa virus A-H1N1 menyebabkan pandemi influenza dan sejumlah perusahaan telah berkolaborasi membuat vaksin. GlaxoSmithKline mendapat pesanan vaksin dari 22 negara lagi pada dua bulan terakhir sehingga total dosis yang dipesan telah mencapai 440 juta dan nilainya sekitar 3,5 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 35 triliun. Perusahaan lain adalah Sanofi-Aventis, Novartis, Baxter, AstraZeneca, dan CSL.

Tuesday, October 6, 2009

Militer Korsel : Korut Miliki 13 Jenis Senjata Biologi

Seoul, (ANTARA News).

Korea Utara (Korut) diperkirakan memiliki 13 jenis virus dan kuman yang dapat digunakan untuk 5.000 ton senjata kimia, kata Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel), Senin (5/10/2009).

Dalam sebuah laporan kepada parlemen, kementerian itu mengatakan Korut, yang komunis, adalah salah satu negara yang memiliki cadangan terbesar senjata kimia dan biologi dunia, sebagaimana dikutip dari AFP.

Daftar penyakit yang dapat ditimbulkan senjata biologi itu meliputi kolera, sakit kuning, cacar, tipus, demam dan disentri.

Kementerian itu memperkirakan cadangan senjata kimia tetangganya itu berjumlah antara 2.500 dan 5.000 ton.

Pernyataan bahwa Korut memiliki senjata kimia dan biologi itu, selain senjata nuklir dan konvensionalnya, bukan hal baru. Tetapi laporan Senin itu memberikan lebih terperinci tentang apa yang disebut senjata biologi itu.

Kelompok Krisis Internasional dalam sebuah laporan Juni menyatakan kemampuan nuklir Pyongyang adalah ancaman paling besar, tetapi juga negara itu memiliki cadangan senjata kimia besar dan program senjata biologi.

Senjata kimia dapat disebarkan melalui bom meriam atau rudal yang dapat menimbulkan korban besar di Korsel, kata badan pemikir yang berpangkalan di Brussels.

Cadangan itu meliputi antara 2.500 dan 5.000 ton gas mostar, phosgene (gas beracun yang tidak berwarna), zat darah, sarin, tabun dan zat syaraf dan yang dapat disebarkan melalui artileri jarak jauh, rudal, pesawat terbang dan kapal angkatan laut, katanya.

Korut dan Korsel secara teknis masih dalam perang karena konflik mereka tahun 1953-1955 diakhiri hanya dengan gencatan senjata dan bukan dengan perjanjian perdamaian.

Militer Korsel, yang berkekuatan 655.000 personil dan didukung 28.500 tentara AS, menghadapi Angkatan Bersenjata Korut --yang memiliki 1,2 juta tentara.

Sumber : Antara OL

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN