Disease Outbreak News
Monday, November 14, 2011
Wednesday, October 26, 2011
Orang Gemuk Tak Mempan Divaksin Flu
Temuan ini memberikan bukti yang menjelaskan sebuah fenomena yang baru disadari pertama kali pada wabah flu H1N1 2009, yaitu obesitas berhubungan dengan terganggunya respon kekebalan tubuh terhadap vaksinasi influenza pada manusia.
Para peneliti mempelajari pasien yang telah diberi vaksinasi influenza yang dilemahkan pada akhir 2009 di sebuah klinik University of North Carolina. Vaksin yang diberikan adalah vaksin untuk flu musim gugur dan musim dingin biasa.
Meskipun semua pasien mengembangkan antibodi terhadap virus flu sejak bulan pertama setelah vaksinasi, tingkat antibodi dalam darah menurun lebih cepat pada orang obesitas dari waktu ke waktu.
Sekitar 50 persen peserta penelitian dengan obesitas mengalami penurunan kadar antibodi empat kali lipat selama 12 bulan sejak sebulan pertama vaksinasi. Sedangkan peserta dengan berat badan sehat jumlahnya tidak sampai 25 persen.
"Hasil ini menunjukkan bahwa orang yang mengalami obesitas akan lebih mungkin mengalami penyakit flu setelah terpapar virus flu dibandingkan orang dengan berat badan sehat," kata Melinda Beck, Ph.D., profesor dan ketua asosiasi gizi di University of North Carolina Gillings School of Global Public Health.
"Kajian sebelumnya telah menunjukkan kemungkinan obesitas dapat mengganggu kemampuan tubuh melawan virus flu. Penemuan baru ini tampaknya memberikan alasan mengapa orang obesitas lebih rentan terhadap penyakit influenza selama pandemi virus flu H1N1 dibandingkan orang dengan berat badan yang sehat," kata Beck.
Kajian yang dirilis di situs resmi University of North Carolina School of Medicine, Rabu (26/10/2011) ini melaporkan bahwa kadar antibodi vaksin influenza menurun secara signifikan pada orang obesitas dibandingkan pada individu dengan berat badan yang sehat.
Terlebih lagi, respon sel darah putih yang paling penting dalam sistem kekebalan tubuh atau dikenal dengan sebutan sel T + CD8 mengalami kerusakan pada orang yang obesitas.
"Ketika vaksinasi gagal mencegah infeksi flu, maka pasien harus bergantung pada sel T + CD8 nya untuk membatasi penyebaran dan keparahan infeksi. Jika kadar antibodi tidak dipertahankan dari waktu ke waktu dan fungsi sel T + CD8 terganggu, orang-orang dengan obesitas akan memiliki risiko lebih besar jatuh sakit karena influenza," kata Patricia Sheridan, PhD, asisten profesor gizi University of North Carolina School of Medicine.
Pada tahun 2005 lalu, Beck dan rekan-rekannya melaporkan bahwa obesitas pada tikus mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi virus dan meningkatkan resiko kematian dibandingkan dengan tikus ramping dengan infeksi yang sama. Tingkat kematian pada tikus obesitas lebih tinggi, yaitu sebesar 25%. Sedangkan pada tikus ramping, tidak ada yang mati.
Pada tahun 2010, Beck dan timnya menunjukkan bahwa obesitas tampaknya membatasi kemampuan tikus mengembangkan kekebalan terhadap influenza. Dia menyarankan bahwa vaksinasi agaknya tidak efektif untuk orang obesitas dan kelebihan berat badan.
Sumber : detikhealth.com
di
16:04
Diposkan oleh
IBS
Wednesday, August 10, 2011
GUILLAIN BARRE SINDROM ( GBS)
Suatu ketika di Puskesmas (terjadi 30 tahun yang lalu), datang seorang laki-laki usia 37 tahun dengan keluhan kedua tungkai lemah dan semakin susah dibawa berjalan, tidak ada kesemutan. Makin lama semakin memberat dan setelah itu mengenai kedua lengan atas. Penderita lumpuh seluruh anggota gerak. Sebelumnya mendapat influenza kira-kira 2 minggu dengan keluhan waktu itu demam disertai nyeri seluruh sendi. Akhirnya penderita dirujuk ke RS kabupaten untuk dirawat.
Kasus lain, seorang wanita usia dewasa muda telah dirawat di RS sehari yang lalu dengan kelumpuhan seluruh anggota gerak, selang beberapa lama sesudahnya mengalami sesak nafas. Sebelum itu penderita mendapat diare yang tak kunjung baik, selanjutnya dirawat di perawatan intensif untuk dilakukan bantuan nafas. Saat itu RS belum punya alat bantu nafas (respirator) untuk memperbaiki pernafasan penderita. Untungnya dua hari kemudian penderita merasa lebih baik, pernafasan mulai teratur dan akhirnya dapat pulang ke rumah setelah nafas membaik. Penderita mulai dapat berjalan, walaupun masih tertatih-tatih. Penderita tertolong.
Kasus-kasus di atas memperlihatkan pada kita kalau keluhan lumpuh layuh dapat tertolong dengan pengelolaan biasa, serta keluhan seperti ini bukan hanya dialami oleh pasien polio tetapi dapat juga disebabkan oleh Guillain Barre Sindrom. Berbeda dengan polio yang disertai demam saat sakit dengan kelumpuhan hanya satu tungkai, setelah sembuh mengalami gejala sisa setelah penderita baik, sedangkan Guillain Barre Sindrom dapat sembuh sempurna tanpa gejala sisa, walaupun kadang-kadang kasus tertentu ada yang tidak tertolong.
Apa itu Guillain Barre Sindrom (GBS) ?
Merupakan kumpulan gejala kelemahan pada anggota gerak dan kadang-kadang dengan sedikit kesemutan pada lengan atau tungkai, disertai menurunnya refleks. Selain itu kelumpuhan dapat juga terjadi di otot-otot penggerak bola mata sehingga penderita melihat satu objek menjadi dua yang dapat disertai gangguan koordinasi anggota gerak.
Penyakit GBS, sudah ada sejak 1859. Nama Guillain Barre diambil dari dua Ilmuwan Perancis, Guillain dan Barré yang menemukan dua orang prajurit perang di tahun 1916 yang mengidap kelumpuhan kemudian sembuh setelah menerima perawatan medis. GBS termasuk penyakit langka dan terjadi hanya 1 atau 2 kasus per 100.000 di dunia tiap tahunnya.
Apa penyebabnya ?
GBS ini tadinya dianggap sebagai neuroalergi yang menghasilkan berbagai bahan berbahaya. Terdapat perkiraan bahwa kumpulan gejala ini terjadi karena menurunnya daya kekebalan tubuh sendiri (auto imun), yang biasanya didahului oleh infeksi virus atau kuman-kuman yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas dan diare yang melemahkan daya tahan tubuh (kekebalan) sehingga mengalami keluhan seperti kasus-kasus di atas. Sel sistem kekebalan menyerang sarung saraf (mielin) yang mengelilingi serabut saraf di seluruh saraf tepi.
Dapatkah GBS diobati ?
Dapat, angka kesembuhan terjadi sempurna (75-90 %) dengan cara pengobatan dan fisioterapi. Bagi kasus2 tertentu dilakukan penggantian plasma dengan maksud menghilangkan efek menurunnya kekebalan (auto imun). Terapi ini akan dapat menyembuhkan penderita, selain itu dapat juga dilakukan infus imunoglobulin . Pada sebagian kasus tidak jarang penderita secara bertahap dapat pulang setelah dirawat beberapa lama. Sedangkan pada kasus-kasus tertentu, ada yang membutuhkan bantuan alat nafas (respirator) dan pada kasus yang sangat berat dengan gangguan nafas ada yang tidak tertolong. Penyembuhan dimulai 2-4 minggu setelah progresivitasnya berhenti. Pengobatan medis dan perawatan yang baik sangat mempengaruhi hasilnya. Pada kebanyakan kasus terjadi perbaikan spontan. Kadang-kadang pengelolaaan menjadi sangat rumit dan melelahkan. Pada manula penyembuhan umumnya lebih lambat dibandingkan anak anak. Edukasi penderita dengan menerangkan pada keluarga mengenai penyakit ini dan cara pengobatan serta fisioterapi menyeluruh harus dilakukan.
RS Cipto Mangunkusumo saat ini sedang menangangi 2 kasus GBS yang sebelumnya sempat dirawat dr RS St. Carolus Jakarta dan RS Azra Bogor.
Dapatkah GBS dicegah ?
Salah satu jalan untuk mencegah SGB adalah dengan mempertinggi daya tahan tubuh saat tidak sakit dengan cara mengonsumsi protein hewani dari daging dan ikan, nabati dari tempe dan tahu disertai sayur dan buah, sehingga diharapkan kita jarang sakit influenza, karena daya tahan tubuh tinggi. Selain itu perlu juga menjaga kebersihan tubuh dengan mandi dan cuci tangan bila mau makan untuk menghindari infeksi kuman, virus atau bakteri yang menyebabkan diare
Bila ada gejala-gejala GBS, apa yang harus dilakukan ?
Jangan kaget, segera kosultasi dokter di Puskesmas. Kita tidak mengenal awalnya orang terkena serangan, tapi bila mendapat gejala seperti kasus di atas segera bawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit, agar dapat dilakukan pengobatan segera dan dapat mewaspadai serangan yang lebih hebat. Ingat, keadaan lumpuh layuh ini dapat disebabkan oleh Polio atau Guillain Barre Sindrom.
Bila kena GBS, apakah harus mengeluarkan biaya mahal ?
Tidak selalu demikian, ada penderita yang baik setelah mendapat pengobatan biasa, malah ada yang sembuh spontan dalam jangka waktu pendek. Tetapi memang pada kasus tertentu yang berat disertai gangguan nafas memerlukan infus zat kekebalan (imunoglobulin) yang mahal dan atau penggantian plasma darah untuk mempercepat perbaikan. Tentu setiap RS telah membuat aturan kapan harus diberikan cara-cara penanganan khusus diatas.
Sumber: http://www.depkes.go.id/
di
13:12
Diposkan oleh
ike a
Tuesday, July 26, 2011
2 Miliar Penduduk Dunia Telah Terinfeksi Hepatitis B
Dr Unggul menyatakan 97 persen bayi yang tertular virus hepatitis B akan menjadi pengidap seumur hidup. Dan pada umumnya penderita hepatitis B yang ada adalah sudah tertular dari bayi."Untuk itu, vaksinasi hepatitis B wajib diberikan pada bayi pada hari pertama kelahirannya," jelas Dr Unggul.
Virus hepatitis B sangat mudah menular, bahkan 100 kali lebih mudah dibandingkan virus HIV dan virus ini dapat bertahan hidup selama 1 minggu hingga berbulan-bulan di luar tubuh, serta alat-alat medis dan alat pemeriksaan gigi.
Mual, muntah, nafsu makan turun dan panas
Warna air seni coklat seperti teh
Bagian putih mata tampak kuning
Kulit seluruh tubuh tampak kuning
Warna tinja kuning.
Sebagian besar tanpa gejala nyata. Tapi keluhan umum seperti lemas, lekas capek, ngantuk, gangguan pencernaan, kembung, mual dan kurang nafsu makan.
Sumber:http://www.detikhealth.com/read/2011/07/25/173452/1689108/763/2-miliar-penduduk-dunia-telah-terinfeksi-hepatitis-b?l991101755
di
08:22
Diposkan oleh
IBS
Friday, June 17, 2011
Enam Anak Terinfeksi E. Coli di Prancis
di
09:04
Diposkan oleh
IBS
Wednesday, June 15, 2011
Bakteri E. Coli Terus Merenggut Nyawa, Bocah 2 Tahun Tewas di Jerman
di
11:40
Diposkan oleh
IBS
Tuesday, June 14, 2011
Cara Mudah Menghindari Bakteri E Coli
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof dr Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa E.Coli hidup di suhu 7 derajat celcius dan mati di suhu 70 derajat celcius. "Jadi jika bahan pangan dimasak dengan benar, bakteri akan mati," katanya.
di
11:54
Diposkan oleh
IBS
Friday, June 10, 2011
Sudah 30 Orang Tewas Akibat Wabah Bakteri E. Coli di Jerman
di
13:50
Diposkan oleh
IBS
Tuesday, June 7, 2011
Strain bakteri E. coli Eropa tidak ada di Indonesia
di
14:43
Diposkan oleh
IBS
Monday, June 6, 2011
Wabah E. Coli, Makanan Eropa Belum Dilarang
"Itu penyebabnya dari mana. Baru kami bisa melakukan pencegahan atau monitoring," ujar Mari di Kementerian Perekonomian, Jakarta, Senin 6 Juni 2011.Menurut dia, ada dua hal yang harus diawasi yaitu pertama, masalah makanan dan manusia. Kedua, masalah manusiawi karena penyakit ini menular.
"Kami kan belum tahu penyebabnya dari mana. Jadi, ini tentunya perlu dipahami. Ini lebih kepada wewenang Badan POM dan Kemenkes apa yang harus diperiksa. Kami harus tentukan dulu," tegas Mari.
di
14:32
Diposkan oleh
IBS
Sunday, June 5, 2011
Kemenkes Perintahkan Pelabuhan Cermati Penumpang dari Eropa yang Diare
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof dr Tjandra Yoga Aditama menuturkan, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran pada otoritas terkait untuk mencermati setiap kasus dengan gejala diare terutama yang disertai dengan gejala perdarahan.
"Khusus kepada kepala Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) diseluruh Indonesia, agar mencermati setiap penumpang khususnya dari negara-negara Eropa yang mengalami gejala tersebut di atas (diare, utamanya yang berdarah) dan segera mengkoordinasikan dengan imigrasi dan pengelola bandara serta melaporkan kepada Dirjen PP dan PL," kata Tjandra dalam siaran pers, Minggu (5/6/2011).
Tjandra menuturkan, surat edaran guna mengantisipasi masalah infeksi E.coli di Eropa yang antara lain menyebabkan HUS (haemolytic uraemic syndrome), ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi seluruh Indonesia dan seluruh Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Dalam surat edaran itu, diharapkan aparat Kesehatan setempat dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1. Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat luas tentang pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
2. Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat untuk membiasakan selalu mencuci tangan dengan sabunsetelah buang air besar/kecil dan sebelum menyentuhmakanan/minuman.
3. Mencuci sayuran dan buah buahan dengan air sampai benar-benar bersih, terutama sayuran dan buah-buahan yang dikonsumsi secara segar (tidak dimasak).
4. Mencermati setiap kasus dengan gejala diarrhea terutama yang disertai dengan gejala perdarahan.
5. Khusus kepada kepala Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) diseluruh Indonesia, agar mencermati setiap penumpang khususnya dari negara-negara Eropa yang mengalami gejala tersebut diatas dan segera mengkoordinasikan dengan imigrasi dan pengelola bandara serta melaporkan kepada Dirjen PP dan PL.
Sementara itu, menurut World Health Organization (WHO) langkah pencegahan EHEC dan HUS di Eropa kini adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan pola hidup bersih sehat, dengan selalu mencuci tangan setelah menggunakan toilet dan sebelum memegang makanan.
b. Pengamatan terhadap kasus diare berdarah yang disertai sakit perut, yang kasus itu ada riwayat perjalanan / atau kontak dengan orang yang datang dari Jerman Utara. Kasus ini harus segera berobat kesarana kesehatan.
Selanjutnya WHO merekomendasikan "WHO 5 key to safer food" -lima kunci untuk penanganan makanan yang aman- sebagai cara mengelola makanan dengan baik untuk menghindari infeksi saluran cerna termasuk EHEC ini, yaitu sebagai berikut:
a. Menjaga kebersihan bahan makanan
b. Memisahkan makanan mentah dengan makanan matang
c.Memasak hingga benar-benar matang
d. Menyimpan makanan pada suhu yang aman
e. Mencuci bahan baku makanan dengan air bersih
Sumber : detiknews.com
di
14:40
Diposkan oleh
IBS
Kolom Pak Dirjen P2PL : Bakteri E. coli Sebagian Besar Tak Berbahaya
Media massa di hari- hari ini memuat berita penyakit akibat bakteri Escherichia coli (E. coli). Bakteri ini dapat ditemui di usus manusia dan binatang berdarah panas. Sebagian besar strainnya tidaklah berbahaya, tetapi strain tertentu "enterohaemorrhagic E. coli (EHEC)" akan dapat menimbulkan penyakit berbahaya dan mematikan, seperti yang terjadi di Eropa sekarang ini.
Gejala yang timbul dapat berupa sakit perut seperti keram dan diare yang pada sebagian kasus bahkan dapat mengeluarkan diare berdarah (haemorrhagic colitis). Juga dapat timbul demam dan muntah.
Masa inkubasi berkisar antara tiga sampai delapan hari, rata-rata empat hari. Sebagian besar pasien dapat sembuh dalam 10 hari, tapi pada keadaan khusus ( yang kini juga terjadi pada sebagiab kasus di Eropa) maka penyakit dapat berlanjut menjadi gawat dan berat, seperti keadaan yang disebut dengan haemolytic uraemic syndrome (HUS).
HUS ini ditandai dengan kegalalan ginjal akut, anemia dan kekurangan trombosit ( acute renal failure, haemolytic anaemia and thrombocytopenia ) dan juga gangguan neurologis sampai stroke dan koma. Diperkirakan sampai sekitar 10 % pasien yang terinfeksi EHEC akan berlanjut menjadi HUS yang angka kematiannya berkisar antara 3 - 5 persen.
Peningkatan kasus mulai terjadi di Jerman pada pertengahan Mei 2011. Sampai 2 Juni 2011 Jerman menemukan 520 kasus haemolytic uraemic syndrome (HUS) (11 fatal) dan 1213 kasus "enterohaemorrhagic Escherichia coli" (EHEC) (6 fatal), artinya di Jerman totalnya ada 1733 kasus dan 17 kematian . Selain Jerman maka ada 11 negara lain (jadi total 12 negara) yang menemukan kasus ini dinegara mereka, yaitu Austria (HUS 0, EHEC 2), Czech Republic (0, 1), Denmark (7, 10), France (0, 6), Netherlands (4, 4), Norway (0, 1), Spain (1, 0), Sweden (15, 28), Switzerland (0, 2), United Kingdom (3, 4) dan United States of America (2, 0).
Direktorat Jenderal P2PL Kementerian Kesehatan RI terus memantau perkembangan yang ada di Eropa ini bersama WHO dan menyampaikan informasi dan kewaspadaan ke jajaran kesehatan di tanah air.
Sumber : sehatnews.com.kolom-pak-dirjen-p2pl
di
09:27
Diposkan oleh
IBS
Saturday, June 4, 2011
Infeksi E Coli Juga Ditemukan di AS
KOMPAS.com — Kasus infeksi akibat strain bakteri E coli mematikan juga ditemukan di Amerika Serikat. Sebanyak tiga orang dilaporkan mengidap penyakit yang disebabkan bakteri yang menewaskan 18 orang di Eropa tersebut.
Keterangan dari pejabat Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan, ketiga pasien yang terserang strain E coli tersebut belum lama ini bepergian ke Jerman. Mereka saat ini sedang dirawat di rumah sakit akibat mengidap hemolytic uremic syndrome (HUS), gangguan ginjal mematikan akibat komplikasi bakteri E coli. Sampel darah ketiga pasien itu masih dalam pemeriksaan di laboratorium CDC Atlanta, Georgia.
"Kami mempertimbangkan mereka kemungkinan menjadi bagian dari wabah yang berkembang di Eropa," ungkap Dr Robert Tauxe, Deputi Direktur Division of Foodborne, Bacterial and Mycotic Diseases CDC.
Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejauh ini tercatat ada 499 kasus HUS akibat merebaknya wabah E coli di Eropa. Angka kejadian HUS ini adalah yang tertinggi yang pernah terjadi di dunia, menurut Centers for Disease Control and Prevention.
"Sebagai perbandingan, ada 120 kasus HUS dalam kejadian terbesar wabah E coli di Jepang pada 1996," lanjut Tauxe.
Hingga kini para ahli belum dapat menjelaskan mengapa banyak kasus HUS bermunculan akibat strain bakteri yang diperkirakan CDC adalah strain O104:H4. Tauxe memperkirakan, strain ini memproduksi lebih banyak toksin ketimbang jenis lainnya.
Para dokter di Eropa dan Amerika Serikat tidak pernah lagi memberikan antibiotika kepada pasien yang terinfeksi E coli, sejak sejumlah penelitian menunjukkan bahwa langkah itu justru memperburuk kondisi pasien.
"Tampaknya antibiotika membuat bakteri meledak, dan racun yang berada di dalamnya keluar dan menimbulkan kerusakan," kata Dr Buddy Creech, asisten profesor penyakit menular di Vanderbilt University School of Medicine.
Menurutnya, hingga kini belum ada pengobatan khusus untuk mengatasi keganasan bakteri tersebut.
"Yang bisa kita lakukan adalah memberikan pasien obat mengatasi rasa sakit atau menempatkan mereka pada ventilator atau dialisis jika mereka membutuhkannya. Kita tidak bisa menangani masalah yang sebenarnya. Kita hanya bisa menunggu tubuh pulih dengan sendirinya. Yang bisa dilakukan hanya memonitor pasien dan berharap yang terbaik," ujar Dr Robert Steele, dokter anak dari St John’s Children’s Hospital di Springfield, Missouri.
Sumber : health.kompas.com
di
09:21
Diposkan oleh
IBS
Eropa Diserang Bakteri E Coli Mematikan
BERLIN - Bakteri E Coli saat ini terus mewabah di Eropa. Lebih dari 1.600 orang dikabarkan terinfeksi oleh bakteri ini, sebelumnya 18 dikabarkan tewas akibat bakteri ini. Jerman dianggap sebagai pusat dari bakteri ini.
Sumber :international.okezone.com
di
08:26
Diposkan oleh
IBS
Friday, June 3, 2011
Uni Eropa Cabut Peringatan Bahaya Ketimun Spanyol
"Komisi Eropa telah mencabut peringatan kesehatan terhadap ketimun Spanyol yang berasal dari Almeria yang telah diberlakukan Kamis pekan lalu," ujar Menteri Kesehatan Spanyol, Leire Pajin, seperti dikutip AFP, Kamis (2/6/2011).
Leire mengatakan, ia menerima informasi tersebut dari Komisioner Kesehatan UE, John Dalli, melalui sambungan telepon. Keputusan tersebut merupakan langkah penting untuk segera memulihkan pertanian Spanyol.
Otoritas kesehatan Hamburg, Jerman, pun mengakui bahwa pengujian terhadap dua ketimun yang diduga menjadi pembawa bakteri tersebut tidak terbukti. Ketimun Spayol sebelumnya diduga menjadi penyebab tewasnya 16 warga Jerman dan seorang warga Swedia.
"Pemerintah Spanyol melakukan segala upaya terhadap beberapa pihak untuk menghilangkan kecurigaan terhadap sayuran dari Spayol. Pada saat yang sama Spanyol juga melakukan penelitian sendiri di laboratorium Lugo (di Galicia), dan hasilnya membuktikan bahwa tidak adan kaitan antara konsumsi ketimun dari Almeria dengan wabah E.coli," imbuhnya.
Meski demikian, otoritas kota Hamburg masih akan terus menyelidiki asal muasal wabah tersebut.
Krisis ketimun maut tersebut dimulai lebih dari dua pekan lalu saat kasus pertama dilaporkan di Jerman utara. Hingga kini jumlah kasus yang dikonfirmasi dan diduga telah mencapai 1.200.
Pekan lalu otoritas Jerman mengingatkan masyarakat untuk tidak memakan sayuran mentah. Peringatan itu dikeluarkan setelah ditemukannya bakteri pada ketimun organik yang diimpor dari Spanyol.
Sumber : detiknews.com
di
14:33
Diposkan oleh
IBS
Wednesday, June 1, 2011
WHO: Radiasi Ponsel Sebabkan Kanker Otak
di
11:56
Diposkan oleh
IBS
Wabah Bakteri E.Coli, Sudah 16 Orang Tewas di Jerman
di
11:30
Diposkan oleh
IBS
Sunday, May 22, 2011
SIDANG WHA BAHAS ENAM BELAS TOPIK
Ke-enambelas topik tersebut yang pertama adalah Pandemic influenza preparedness: sharing of influenza viruses and access to vaccines and other benefits. Topik ini sangat penting bagi Indonesia sebagai pemrakarsa dan salah satu leading country dalam isu ini.
Topik selanjutnya adalah Implementation of the International Health Regulations (IHR 2005) yang akan berlaku penuh tahun 2012. Topik ini membahas Report of the Review Committee on the Functioning of the International Health Regulations (2005) in relation to Pandemic (H1N1) 2009. Indonesia merupakan salah satu dari 29 member Review Committee yang menilai laporan WHO dalam mengatasi pandemi H1N1 2009 dan IHR.
Topik ke-tiga adalah Health-related Millennium Development Goals. Dalam topik ini dibahas dua isu utama yaitu Neglected Tropical Diseases dan Pneumonia.
Topik ke-empat yang dibahas adalah Health system strengthening yaitu penguatan sistem kesehatan terkait dengan rencana operasional, program, dan agenda politik.
Ke-lima membahas Global immunization vision and strategy yaitu visi dan strategi imunisasi global. Dalam kaitan ini, China, India, Indonesia dan Nigeria memulai dengan vaksin HIB serta menegaskan kembali bahwa imunisasi sebagai komponen utama pelayanan kesehatan dasar dan program Decades of Vaccine 2011 – 2020.
Ke-enam, Draft strategi WHO tentang HIV 2011 – 2015 dengan empat sasaran yaitu mengurangi infeksi baru, kasus anak, kematian dan TB HIV. Empat strategi tersebut adalah meningkatkan program, integrasi program lain, jaminan keberlanjutan dan hilangkan hambatan akses.
Ke-tujuh, pengendalian obat palsu dan obat sub standar.
Ke-delapan, eradikasi cacar air (smallpox eradication) pemusnahan stok virus cacar (variola) yang terdapat di USA dan Rusia.
Ke-sembilan, mekanisme pengendalian dan pencegahan kolera.
Ke-sepuluh, pengendalian malaria dengan meningkatkan program, mulai pengendalian vektor, diagnosis, masalah resistensi obat dan kemungkinan penggunaan vaksin malaria
Ke-sebelas, membahas eradikasi penyakit dracunculiasis bersama penyakit polio yang akan dieradikasi dari muka bumi.
Ke-duabelas, membahas pengendalian dan pencegahan penyakit tidak menular melalui berbagai pertemuan internasional di Jakarta, Moskow, dan lain-lain.
Ke-tigabelas, membahas rencana implementasi gizi pada bayi, anak dan ibu.
Ke-empatbelas, membahas pencegahan kecelakaan pada anak. Di dunia setiap tahunnya terdapat 830.000 anak meninggal karena kecelakaan, artinya di dunia sekitar 2.000 keluarga kehilangan anaknya setiap hari.
Ke-limabelas, membahas strategi manajemen keamamanan air minum untuk konsumsi manusia.
Ke-enambelas, membahas risiko kesehatan anak muda karena di dunia terdapat 1,822 milyar anak muda usia 10 sampai 24 tahun, dan dari jumlah itu 2,6 juta anak muda meninggal setiap tahun.
Pada sidang WHA ke-64 tahun ini delegasi RI dipimpin oleh Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH dengan anggota Kepala Perwakilan Tetap RI untuk PBB di Jenewa/Duta Besar Dian Triansyah Djani; Direktur Jenderal P2PL, Prof. Tjandra Yoga Aditama; Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, dr.Supriyantoro; Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Hubungan Kerjasama Internasional dan Kelembagaan, Drs. Bambang Guritno, MIA; Deputi Badan POM Dra.Lucky Slamet; Direktur Penanggulangan Penyakit Tidak Menular dr.Azimal; Kepala Pusat Kerjasama Luar Negeri, Dra. Niniek K. Naryatie; dan Direktur Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Drs.Bahdar J.Hamid.
Sumber : http://www.depkes.go.id
di
13:00
Diposkan oleh
IBS
Thursday, April 7, 2011
Pandemi Resistensi Antibiotik Mengancam Dunia
"Pandemi ini akan nyata, karena kecepatan resistensi lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan pengembangan antibiotik," ujar Prof Iwan Dwi Prahasto dalam acara jumpa pers seminar 'Antimicrobial Resistance-Containment and Prevention' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (7/4/2011).
Prof Iwan menuturkan hal ini karena sejak tahun 2007 tidak ada satu jenis pun antibiotik pun yang dikembangkan, sedangkan pada tahun 2000-2007 hanya didapatkan 2 jenis antibiotik. Tapi sayangnya antibiotik tersebut tidak mengganti antibiotik yang sudah ada sebelumnya.
"Bayangkan saja dalam kurun waktu 7 tahun hanya ada 2 antibiotik dan jenisnya sama seperti yang lain. Jadi kalau antibiotik yang lain sudah resisten, maka antibitoik ini juga akan resisten," ungkap Prof Iwan yang merupakan Guru Besar Farmakologi Fakultas Kedokteran UGM.
Beberapa hal diketahui menjadi penyebab lambatnya pengembangan antibiotik. Salah satunya adalah penelitian ini dianggap tidak menarik. Para peneliti lebih memilih mengembangkan obat kardiovaskuler yang nantinya dapat dijual dengan harga yang sangat tinggi.
Sedangkan antibiotik umumnya hanya dapat digunakan untuk penyakit infeksi saja yang sebagian besar terjadi di negara-negara berkembang dan miskin, sehingga harga dari obat ini nantinya tidak akan mahal.
"Untuk itu harus dilakukan pengendalian, karena kalau tidak pandemi ini bisa segera terjadi. Selain itu dilakukan pembatasan penggunaan misalnya antibiotik hanya boleh diresepkan di rumah sakit tertentu oleh dokter subspesialis," tutur Prof Iwan.
Sementara itu Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH menuturkan antibiotik merupakan salah satu penemuan yang unggul, tapi kini bisa dilihat jika penggunaannya tidak tepat bisa menimbulkan masalah di masa depan.
"Masalah resistensi ini terjadi akibat rendahnya rasionalitas penggunaan antimikroba yang sudah menjadi masalah dunia," ungkap Menkes.
Menkes menuturkan untuk itu diperlukan penanganan yang kompleks dan upaya bersama serta bekerjasama dengan beberapa stakeholder yang meliputi dokter anak, dokter spesialis, apoteker, pembuat obat dan juga lintas sektor.
Resistensi antibiotik terjadi jika bakteri yang semula hanya peka berubah menjadi kebal melalui adanya perubahan genetik di dalam selnya. Padahal antibiotik ini berfungsi membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang peka.
Sumber : http://health.detik.com/
di
18:28
Diposkan oleh
IBS
Tuesday, March 29, 2011
SESJEN KEMENKES BUKA “SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI” UNIT UTAMA KEMENTERIAN KESEHATAN
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, dr. Ratna Rosita MPHM membuka “Sosialisasi Program Pengendalian Gratifikasi” yang diikuti pejabat eselon II, III, dan IV unit utama Kementerian Kesehatan 15 Maret 2011 di Jakarta.
Dalam mencapai terwujudnya tata kelola pemerintah yang baik dan bersih, sepanjang tahun 2010 Kementerian Kesehatan telah melalukan berbagai upaya antara lain pengelolaan pengadaan barang dan jasa melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang menghemat keuangan negara sebesar 176 miliar sehingga mendapat penghargaan dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sebagai Kementerian yang pengelolaan barang dan jasanya terbaik melalui LPSE.
Kemenkes melakukan kerja sama dengan BPKP dalam hal pelaksanaan pembinaan dan pengawasan kegiatan serta pendampingan dalam pembuatan laporan keuangan kementerian;
Di samping itu di Kemenkes dibentuk Unit Pelayanan Terpadu, yang memberikan pelayanan Perijinan Sarana Produksi dan Distribusi Alkes, Registrasi Alkes dan PKRT, Rekomendasi Sekolah Kesehatan, Ethical Clearance Peneliti Kesehatan, Informasi Registrasi Dokter/Dokter Gigi, Rekomendasi Pengobatan Tradisional Asing, Perijinan dan Akreditasi Rumah Sakit, dan Pengaduan Masyarakat melalui Hot Line Service dan Email (Pusat Tanggap dan Respon Cepat).
Selain itu, registrasi on line bagi seleksi CPNS Kementerian Kesehatan telah dilakukan sejak tahun 2007, manajemen kepegawaian menuju akreditasi ISO, dibentuknya Unit Pengelola Gratifikasi, dan dibentuknya Inspektorat Investigasi pada Inspektorat Jenderal yang melakukan tugas khusus dan penyelesaian pengaduan masyarakat.
Sesjen menambahkan, Survey Integritas Pelayanan Publik yang dilakukan oleh KPK, telah memberikan nilai cukup baik terhadap kegiatan bidang perizinan, terutama perizinan penyalur alat kesehatan serta izin prinsip dan izin tetap industri obat tradisional.
Disamping itu, pada tanggal 15 Desember 2010 yang baru lalu 3 Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan telah mendapat penghargaan Citra Pelayanan Prima tahun 2010 yang disampaikan oleh Bapak Wakil Presiden RI. Rumah Sakit Kanker Dharmais mendapat Piala Citra, sementara Balai Besar Lab Kes Surabaya dan Balai Besar Penelitian Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawang Mangu mendapat Piagam Citra Pratama.
Pada akhir sambutan, Sesjen berpesan kepada seluruh pejabat di lingkungan Sekertariat Jenderal untuk segera membuat rencana tindak lanjut dari pertemuan yang berguna bagi penyelenggara negara ini untuk kemudian disosialiasikan dan diimplementasikan.
Pembicara pada sosialisasi tersebut yaitu Sugiarto dari Direktorat Gratifikasi KPK dan Rika Krisdianawati dari Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK.
Mengutip UU No.20 tahun 2001 pasal 12B ayat 1, Sugiarto menjelaskan gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya. Gratifikasi bisa diterima di dalam maupun di luar negeri, dan dilakukan dengan menggunakan elektronik atau tanpa saran elektronik.
Sedangkan LHKPN, menurut Rika merupakan bentuk transparansi yang dimaksudkan untuk menilai kejujuran pejabat negara terkait dengan kekayaan yang dimiliki dalam rangka pencegahan terhadap tindakan korupsi, bukan untuk menelanjangi harta pejabat negara, terlebih untuk dihakimi masyarakat. LHKPN bertujuan untuk mewujudkan pejabat negara yang bersih yakni yang menaati asas-asas umum penyelenggaraan negara dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id
di
08:28
Diposkan oleh
Masrip Sarumpaet