SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Friday, June 10, 2011

Sudah 30 Orang Tewas Akibat Wabah Bakteri E. Coli di Jerman

Berlin - Korban jiwa akibat wabah bakteri E. coli yang melanda Jerman dan negara-negara lain terus bertambah. Sejauh ini sudah 30 orang yang meninggal akibat bakteri pembunuh tersebut.


Korban jiwa terbaru adalah seorang pria berumur 57 tahun di Frankfurt, Jerman. Bulan lalu pria itu bepergian dengan istrinya ke Kota Hamburg, Jerman utara, yang menjadi pusat wabah bakteri mematikan E. coli.


Demikian disampaikan pejabat-pejabat Jerman seperti diberitakan AFP, Jumat (10/6/2011).


Kematian seorang pria berusia 68 tahun dan seorang wanita berumur 20 tahun juga dilaporkan di negara bagian Lower Saxony, Jerman. Berarti hingga kini setidaknya 30 orang tewas termasuk seorang wanita di Swedia yang baru saja kembali dari Jerman.


Lebih dari 2.800 orang di setidaknya 14 negara jatuh sakit akibat bakteri enterohaemorrhagic E. coli (EHEC) tersebut. Dalam kasus yang parah, bakteri tersebut bisa menyebabkan gagal ginjal. Menteri Kesehatan Jerman Daniel Bahr sebelumnya telah menyatakan bahwa kemungkinan wabah ini telah melewati puncaknya. Sebab jumlah penderita baru telah menurun.


Hingga kini sumber pasti wabah bakteri mematikan tersebut masih misterius. Awalnya, otoritas Hamburg menuding timun impor asal Spanyol sebagai sumber wabah. Namun kemudian hal itu tak terbukti. Setelah itu, tauge organik yang ditanam di Jerman utara diduga sebagai sumber wabah. Namun setelah dilakukan sejumlah tes, hasilnya negatif.


Sumber : Rita Uli Hutapea; detiknews

Tuesday, June 7, 2011

Strain bakteri E. coli Eropa tidak ada di Indonesia

JAKARTA. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih meminta masyarakat tidak risau perihal wabah bakteri Escherichia coli (E. coli) yang tengah melanda di negara-negara Eropa. Lantaran sampai detik ini belum ditemukan strain bakteri E. coli yang serupa dengan di Eropa.


Endang mengatakan, bakteri E.coli di Eropa berbeda dengan yang ada di Indonesia. Apalagi, Endang mengatakan, tidak ada produk pertanian yang diimpor dari Eropa. Namun, sebagai antisipasinya, dia meminta masyarakat membiasakan hidup sehat dan bersih. Salah satu contohnya adalah dengan mencuci sayuran atau buah-buah sebelum dikonsumsi.


Menurutnya, langkah ini sudah cukup untuk menghilangkan bakteri E. coli. "Atau kita sebelum makan mencuci tangan terlebih dulu," paparnya. Makanya Endang menyebutkan jika ada desakan untuk dilakukan kontrol khusus terhadap sayuran dan buahan impor adalah suatu yang berlebihan."Mengkupas buah atau mencuci sebelum mengkonsumsi itu semua sudah cukup," katanya.


Beberapa negara Eropa kini terjangkiti bakteri E. coli. Pasalnya bakteri ini dapat menimbulkan penyakit berbahaya dan mematikan. Penderita dapat berlanjut menjadi parah dalam kondisi yang disebut haemolytic uraemic syndrome (HUS).


Menurut data Kementrian Kesehatan, wabah penyakit ini sebenarnya mulai terjadi di Jerman pada pertengahan Mei 2011. Sampai 2 Juni 2011, Jerman menemukan 520 kasus haemolytic uraemic syndrome (HUS) dengan 11 kematian. Terdapat 1.213 kasus enterohaemorrhagic Escherichia coli (EHEC), 6 diantaranya meninggal. Artinya, di Jerman terdapat 1.733 kasus dan 17 kematian.


Selain Jerman, ada 11 negara lain yang menemukan kasus yang sama yaitu Austria, Republic Ceko, Denmark, Francis, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Swiss, Inggris dan Amerika Serikat.


Gejala penyakit ini berupa sakit perut seperti kram dan diare. Pada sebagian kasus, bahkan dapat mengeluarkan diare berdarah (haemorrhagic colitis). Juga dapat timbul demam dan muntah.


Sumber : nasional.kontan.co.id

Monday, June 6, 2011

Wabah E. Coli, Makanan Eropa Belum Dilarang

VIVAnews - Serangan bakteri Escherichia Coli (E.Coli) menjangkiti ribuan orang dan menewaskan puluhan lainnya di negara-negara Eropa. Bakteri ini diduga berasal dari tanaman tauge di Jerman. Namun, saat ini, belum ada penghentian produk-produk dan makanan asal Eropa.


Kementerian Kesehatan RI sudah mengimbau masyarakat agar waspada terhadap penyakit akibat bakteri E.Coli itu. Lalu, bagaimana dengan antisipasi bakteri ini melalui perdagangan makanan?


Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, masalah E.Coli harus dibahas bersama dengan Menteri Kesehatan serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pemerintah Indonesia juga masih menunggu hasil investigasi yang dilakukan negara Eropa.


"Itu penyebabnya dari mana. Baru kami bisa melakukan pencegahan atau monitoring," ujar Mari di Kementerian Perekonomian, Jakarta, Senin 6 Juni 2011.Menurut dia, ada dua hal yang harus diawasi yaitu pertama, masalah makanan dan manusia. Kedua, masalah manusiawi karena penyakit ini menular.


Mari menjelaskan, Kementerian Kesehatan telah mengumumkan perlu adanya pegecekan terhadap penumpang dari Eropa. Jika nantinya ditemukan tanda-tanda sakit atau diare, perlu dipantau seperti yang dilakukan saat menghadapi wabah flu burung dan SARS beberapa waktu lalu.


"Ini perlu pengamanan serta di-check Kemenkes dan pintu masuknya pada akhirnya di bandara," kata Mari.


Ia mengakui, pemerintah belum membahas mengenai wabah E.Coli, namun dalam waktu dekat akan terus dilakukan.


"Kami kan belum tahu penyebabnya dari mana. Jadi, ini tentunya perlu dipahami. Ini lebih kepada wewenang Badan POM dan Kemenkes apa yang harus diperiksa. Kami harus tentukan dulu," tegas Mari.


Wabah bakteri mematikan E.Coli menimpa beberapa wilayah di Jerman sejak pekan lalu yang hingga kini menewaskan 16 orang dan menjangkiti 1.150 orang di delapan negara Eropa. Diduga, wabah berasal dari sayuran atau buah-buahan. Namun, belum ditemukan sumber pasti dari mana bakteri berasal.


Sumber : VIVAnews.com

Sunday, June 5, 2011

Kemenkes Perintahkan Pelabuhan Cermati Penumpang dari Eropa yang Diare

Jakarta - Wabah Entero Hemoragic E.Coli (EHEC) yang terjadi di sejumlah negara Eropa telah menginfeksi lebih 1.836 orang. Kemenkes RI mencoba mengantisipasi penyebaran wabah itu dengan mencermati orang yang baru bepergian dari Eropa.


Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof dr Tjandra Yoga Aditama menuturkan, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran pada otoritas terkait untuk mencermati setiap kasus dengan gejala diare terutama yang disertai dengan gejala perdarahan.


"Khusus kepada kepala Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) diseluruh Indonesia, agar mencermati setiap penumpang khususnya dari negara-negara Eropa yang mengalami gejala tersebut di atas (diare, utamanya yang berdarah) dan segera mengkoordinasikan dengan imigrasi dan pengelola bandara serta melaporkan kepada Dirjen PP dan PL," kata Tjandra dalam siaran pers, Minggu (5/6/2011).


Tjandra menuturkan, surat edaran guna mengantisipasi masalah infeksi E.coli di Eropa yang antara lain menyebabkan HUS (haemolytic uraemic syndrome), ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi seluruh Indonesia dan seluruh Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Dalam surat edaran itu, diharapkan aparat Kesehatan setempat dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut :


1. Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat luas tentang pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

2. Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat untuk membiasakan selalu mencuci tangan dengan sabunsetelah buang air besar/kecil dan sebelum menyentuhmakanan/minuman.

3. Mencuci sayuran dan buah buahan dengan air sampai benar-benar bersih, terutama sayuran dan buah-buahan yang dikonsumsi secara segar (tidak dimasak).

4. Mencermati setiap kasus dengan gejala diarrhea terutama yang disertai dengan gejala perdarahan.

5. Khusus kepada kepala Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) diseluruh Indonesia, agar mencermati setiap penumpang khususnya dari negara-negara Eropa yang mengalami gejala tersebut diatas dan segera mengkoordinasikan dengan imigrasi dan pengelola bandara serta melaporkan kepada Dirjen PP dan PL.


Sementara itu, menurut World Health Organization (WHO) langkah pencegahan EHEC dan HUS di Eropa kini adalah sebagai berikut:


a. Melaksanakan pola hidup bersih sehat, dengan selalu mencuci tangan setelah menggunakan toilet dan sebelum memegang makanan.

b. Pengamatan terhadap kasus diare berdarah yang disertai sakit perut, yang kasus itu ada riwayat perjalanan / atau kontak dengan orang yang datang dari Jerman Utara. Kasus ini harus segera berobat kesarana kesehatan.


Selanjutnya WHO merekomendasikan "WHO 5 key to safer food" -lima kunci untuk penanganan makanan yang aman- sebagai cara mengelola makanan dengan baik untuk menghindari infeksi saluran cerna termasuk EHEC ini, yaitu sebagai berikut:

a. Menjaga kebersihan bahan makanan

b. Memisahkan makanan mentah dengan makanan matang

c.Memasak hingga benar-benar matang

d. Menyimpan makanan pada suhu yang aman

e. Mencuci bahan baku makanan dengan air bersih


Sumber : detiknews.com

Kolom Pak Dirjen P2PL : Bakteri E. coli Sebagian Besar Tak Berbahaya

Media massa di hari- hari ini memuat berita penyakit akibat bakteri Escherichia coli (E. coli). Bakteri ini dapat ditemui di usus manusia dan binatang berdarah panas. Sebagian besar strainnya tidaklah berbahaya, tetapi strain tertentu "enterohaemorrhagic E. coli (EHEC)" akan dapat menimbulkan penyakit berbahaya dan mematikan, seperti yang terjadi di Eropa sekarang ini.

Gejala yang timbul dapat berupa sakit perut seperti keram dan diare yang pada sebagian kasus bahkan dapat mengeluarkan diare berdarah (haemorrhagic colitis). Juga dapat timbul demam dan muntah.

Masa inkubasi berkisar antara tiga sampai delapan hari, rata-rata empat hari. Sebagian besar pasien dapat sembuh dalam 10 hari, tapi pada keadaan khusus ( yang kini juga terjadi pada sebagiab kasus di Eropa) maka penyakit dapat berlanjut menjadi gawat dan berat, seperti keadaan yang disebut dengan haemolytic uraemic syndrome (HUS).

HUS ini ditandai dengan kegalalan ginjal akut, anemia dan kekurangan trombosit ( acute renal failure, haemolytic anaemia and thrombocytopenia ) dan juga gangguan neurologis sampai stroke dan koma. Diperkirakan sampai sekitar 10 % pasien yang terinfeksi EHEC akan berlanjut menjadi HUS yang angka kematiannya berkisar antara 3 - 5 persen.

Peningkatan kasus mulai terjadi di Jerman pada pertengahan Mei 2011. Sampai 2 Juni 2011 Jerman menemukan 520 kasus haemolytic uraemic syndrome (HUS) (11 fatal) dan 1213 kasus "enterohaemorrhagic Escherichia coli" (EHEC) (6 fatal), artinya di Jerman totalnya ada 1733 kasus dan 17 kematian . Selain Jerman maka ada 11 negara lain (jadi total 12 negara) yang menemukan kasus ini dinegara mereka, yaitu Austria (HUS 0, EHEC 2), Czech Republic (0, 1), Denmark (7, 10), France (0, 6), Netherlands (4, 4), Norway (0, 1), Spain (1, 0), Sweden (15, 28), Switzerland (0, 2), United Kingdom (3, 4) dan United States of America (2, 0).

Direktorat Jenderal P2PL Kementerian Kesehatan RI terus memantau perkembangan yang ada di Eropa ini bersama WHO dan menyampaikan informasi dan kewaspadaan ke jajaran kesehatan di tanah air.

Sumber : sehatnews.com.kolom-pak-dirjen-p2pl

Saturday, June 4, 2011

Infeksi E Coli Juga Ditemukan di AS

KOMPAS.com — Kasus infeksi akibat strain bakteri E coli mematikan juga ditemukan di Amerika Serikat. Sebanyak tiga orang dilaporkan mengidap penyakit yang disebabkan bakteri yang menewaskan 18 orang di Eropa tersebut.

Keterangan dari pejabat Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan, ketiga pasien yang terserang strain E coli tersebut belum lama ini bepergian ke Jerman. Mereka saat ini sedang dirawat di rumah sakit akibat mengidap hemolytic uremic syndrome (HUS), gangguan ginjal mematikan akibat komplikasi bakteri E coli. Sampel darah ketiga pasien itu masih dalam pemeriksaan di laboratorium CDC Atlanta, Georgia.

"Kami mempertimbangkan mereka kemungkinan menjadi bagian dari wabah yang berkembang di Eropa," ungkap Dr Robert Tauxe, Deputi Direktur Division of Foodborne, Bacterial and Mycotic Diseases CDC.

Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejauh ini tercatat ada 499 kasus HUS akibat merebaknya wabah E coli di Eropa. Angka kejadian HUS ini adalah yang tertinggi yang pernah terjadi di dunia, menurut Centers for Disease Control and Prevention.

"Sebagai perbandingan, ada 120 kasus HUS dalam kejadian terbesar wabah E coli di Jepang pada 1996," lanjut Tauxe.

Hingga kini para ahli belum dapat menjelaskan mengapa banyak kasus HUS bermunculan akibat strain bakteri yang diperkirakan CDC adalah strain O104:H4. Tauxe memperkirakan, strain ini memproduksi lebih banyak toksin ketimbang jenis lainnya.

Para dokter di Eropa dan Amerika Serikat tidak pernah lagi memberikan antibiotika kepada pasien yang terinfeksi E coli, sejak sejumlah penelitian menunjukkan bahwa langkah itu justru memperburuk kondisi pasien.

"Tampaknya antibiotika membuat bakteri meledak, dan racun yang berada di dalamnya keluar dan menimbulkan kerusakan," kata Dr Buddy Creech, asisten profesor penyakit menular di Vanderbilt University School of Medicine.

Menurutnya, hingga kini belum ada pengobatan khusus untuk mengatasi keganasan bakteri tersebut.

"Yang bisa kita lakukan adalah memberikan pasien obat mengatasi rasa sakit atau menempatkan mereka pada ventilator atau dialisis jika mereka membutuhkannya. Kita tidak bisa menangani masalah yang sebenarnya. Kita hanya bisa menunggu tubuh pulih dengan sendirinya. Yang bisa dilakukan hanya memonitor pasien dan berharap yang terbaik," ujar Dr Robert Steele, dokter anak dari St John’s Children’s Hospital di Springfield, Missouri.

Sumber : health.kompas.com

Eropa Diserang Bakteri E Coli Mematikan

BERLIN - Bakteri E Coli saat ini terus mewabah di Eropa. Lebih dari 1.600 orang dikabarkan terinfeksi oleh bakteri ini, sebelumnya 18 dikabarkan tewas akibat bakteri ini. Jerman dianggap sebagai pusat dari bakteri ini.

Meskipun ada perkiraan ribuan orangterinfeksi bakteri ini, namun belum ada jumlah pasti orang yang terkena bakteri tersebut. Bakteri ini diperkirakan berasal dari timun yang diimpor dari Spanyol.

Sekira 1.624 warga dikabarkan saat ini terinfeksi oleh bakteri tersebar di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Segera setelah pengumuman adanya wabah ini, kepanikan pun tampak di Eropa dan AS.

Sementara korban tewas dilaporkan terus bertambah saat Jerman mengkalkulasi ulang jumlah korban tewas. Para ahli pun memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah di Jerman.

Warga terus terinfeksi bakteri ini seperti di Austria, Denmark, Prancis, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, dan Swiss, termasuk pula di Inggris dan Amerika Serikat. "Semua korban tewas umumnya berasal dari warga yang mengunjungi Jerman utara atau berhubungan dengan warga di wilayah tersebut," pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seperti dikutip Reuters, Jumat (3/6/2011).

Sementara menurut pihak Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, kemungkinan wabah ini merupakan yang paling mematikan dan dialami manusia. Ini didasarkan atas jumlah korban tewas yang dilaporkan saat ini.

Sumber :international.okezone.com

Friday, June 3, 2011

Uni Eropa Cabut Peringatan Bahaya Ketimun Spanyol

Madrid - Komisi Uni Eropa (UE) telah mencabut larangan atau warning atas ketimun dari pertanian Spanyol. Ketimun Spanyol sebelumnya disangka menjadi penyebab merebaknya bakteri E.coli.

"Komisi Eropa telah mencabut peringatan kesehatan terhadap ketimun Spanyol yang berasal dari Almeria yang telah diberlakukan Kamis pekan lalu," ujar Menteri Kesehatan Spanyol, Leire Pajin, seperti dikutip AFP, Kamis (2/6/2011).

Leire mengatakan, ia menerima informasi tersebut dari Komisioner Kesehatan UE, John Dalli, melalui sambungan telepon. Keputusan tersebut merupakan langkah penting untuk segera memulihkan pertanian Spanyol.

Otoritas kesehatan Hamburg, Jerman, pun mengakui bahwa pengujian terhadap dua ketimun yang diduga menjadi pembawa bakteri tersebut tidak terbukti. Ketimun Spayol sebelumnya diduga menjadi penyebab tewasnya 16 warga Jerman dan seorang warga Swedia.

"Pemerintah Spanyol melakukan segala upaya terhadap beberapa pihak untuk menghilangkan kecurigaan terhadap sayuran dari Spayol. Pada saat yang sama Spanyol juga melakukan penelitian sendiri di laboratorium Lugo (di Galicia), dan hasilnya membuktikan bahwa tidak adan kaitan antara konsumsi ketimun dari Almeria dengan wabah E.coli," imbuhnya.

Meski demikian, otoritas kota Hamburg masih akan terus menyelidiki asal muasal wabah tersebut.

Krisis ketimun maut tersebut dimulai lebih dari dua pekan lalu saat kasus pertama dilaporkan di Jerman utara. Hingga kini jumlah kasus yang dikonfirmasi dan diduga telah mencapai 1.200.

Pekan lalu otoritas Jerman mengingatkan masyarakat untuk tidak memakan sayuran mentah. Peringatan itu dikeluarkan setelah ditemukannya bakteri pada ketimun organik yang diimpor dari Spanyol.

Sumber : detiknews.com

Wednesday, June 1, 2011

WHO: Radiasi Ponsel Sebabkan Kanker Otak

Jakarta - Hasil penelitian terbaru mengungkapkan radiasi ponsel dapat menyebabkan kanker otak. Radiasi ponsel dikategorikan sama dengan zat karsinogenik berbahaya seperti timbal, asap knalpot, dan kloroform.


Hal tersebut diumumkan oleh organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), seperti dikutip detikcom dari CNN, Rabu (1/6/2011).


Penelitian dilakukan oleh tim yang terdiri dari 31 ilmuwan dari 14 negara, termasuk Amerika Serikat. Keputusan dibuat setelah dilakukan peninjauan lebih mendalam tentang keamanan menggunakan ponsel. Tim menemukan cukup bukti untuk mengkategorikan radiasi ponsel sebagai sejenis zat berbahaya bagi manusia.


Tim menemukan bukti peningkatan glioma dan peningkatan resiko kanker otak akustik neuroma bagi pengguna ponsel. Namun belum dapat menarik kesimpulan untuk jenis kanker lainnya.


Saat ini Badan Lingkungan Eropa telah mendorong untuk studi lebih lanjut. Badan independen ini mengungkap ponsel bisa menimbulkan resiko yang sama besarnya dengan merokok, asbes dan bensin bertimbal.


Kepala sebuah lembaga penelitian kanker terkemuka di University of Pittsburgh mengirim memo kepada seluruh karyawan mendesak mereka untuk membatasi penggunaan telepon seluler karena kemungkinan resiko kanker.


Sumber : detiknews.com

Wabah Bakteri E.Coli, Sudah 16 Orang Tewas di Jerman

Jerman dilanda krisis timun beracun yang sejauh ini telah menewaskan 16 orang. Timun-timun impor asal Spanyol awalnya diduga sebagai penyebab wabah bakteri mematikan enterohamorrhagic E. coli (EHEC) yang telah merenggut nyawa tersebut.


Namun kini otoritas Jerman meragukan bahwa timun Spanyol merupakan biang keladi penyebaran bakteri E. coli tersebut.Menurut otoritas di Kota Hamburg, Jerman utara, hasil tes terbaru menunjukkan bahwa timun-timun yang diimpor dari Spanyol itu kemungkinan bukan penyebab krisis yang juga telah membuat ratusan orang jatuh sakit.


Hasil tes pada dua timun membuktikan bahwa timun-timun itu memang mengandung bakteri berbahaya E. coli, namun bukan dari strain E. coli yang telah menyebabkan kematian 15 orang di Jerman dan 1 orang di Swedia.


"Sumbernya masih tetap belum teridentifikasi," kata pejabat kesehatan Hamburg, Cornelia Pruefer-Storcks pada konferensi pers."Dari empat timun yang telah bisa kami pastikan keberadaan patogen EHEC, kami telah menemukan -- dua di antaranya -- bahwa timun-timun itu mengandung patogen EHEC, namun bukan strain yang bertanggung jawab atas perkembangan sulit saat ini," ujarnya seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (1/6/2011). Diimbuhkannya, dua jenis timun lainnya saat ini masih dianalisa.


Sebelumnya Menteri Kesehatan Jerman Daniel Bahr mengindikasikan sumber infeksi masih aktif. Kepada media, Bahr mengatakan sedang mengupayakan cara mengatasi kasus ini. Pusat pengendalian penyakit Nasional Jerman, Robert Koch Institute menyarankan tidak mengkonsumsi timun mentah, tomat dan selada. "Terutama jika sayuran ini dibeli dari Jerman bagian utara," ujarnya.


Sumber :detik.com

Sunday, May 22, 2011

SIDANG WHA BAHAS ENAM BELAS TOPIK

Sidang Majelis Kesehatan Dunia atau World Health Assembly (WHA) digelar tanggal 15 -20 Mei 2011 di Kantor Pusat Organisasi Kesehatan Dunia, Jenewa, Swiss. Acara ini merupakan perhelatan besar/sidang tahunan membahas 16 topik yang selanjutnya akan diputuskan sebagai Deklarasi yang mengikat semua negara untuk melaksanakannya. Hal itu disampaikan drg. Murti Utami, MPH, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan yang juga anggota delegasi RI dalam sidang WHA ke-64.

Ke-enambelas topik tersebut yang pertama adalah Pandemic influenza preparedness: sharing of influenza viruses and access to vaccines and other benefits. Topik ini sangat penting bagi Indonesia sebagai pemrakarsa dan salah satu leading country dalam isu ini.

Topik selanjutnya adalah Implementation of the International Health Regulations (IHR 2005) yang akan berlaku penuh tahun 2012. Topik ini membahas Report of the Review Committee on the Functioning of the International Health Regulations (2005) in relation to Pandemic (H1N1) 2009. Indonesia merupakan salah satu dari 29 member Review Committee yang menilai laporan WHO dalam mengatasi pandemi H1N1 2009 dan IHR.

Topik ke-tiga adalah Health-related Millennium Development Goals. Dalam topik ini dibahas dua isu utama yaitu Neglected Tropical Diseases dan Pneumonia.

Topik ke-empat yang dibahas adalah Health system strengthening yaitu penguatan sistem kesehatan terkait dengan rencana operasional, program, dan agenda politik.

Ke-lima membahas Global immunization vision and strategy yaitu visi dan strategi imunisasi global. Dalam kaitan ini, China, India, Indonesia dan Nigeria memulai dengan vaksin HIB serta menegaskan kembali bahwa imunisasi sebagai komponen utama pelayanan kesehatan dasar dan program Decades of Vaccine 2011 – 2020.

Ke-enam, Draft strategi WHO tentang HIV 2011 – 2015 dengan empat sasaran yaitu mengurangi infeksi baru, kasus anak, kematian dan TB HIV. Empat strategi tersebut adalah meningkatkan program, integrasi program lain, jaminan keberlanjutan dan hilangkan hambatan akses.

Ke-tujuh, pengendalian obat palsu dan obat sub standar.

Ke-delapan, eradikasi cacar air (smallpox eradication) pemusnahan stok virus cacar (variola) yang terdapat di USA dan Rusia.

Ke-sembilan, mekanisme pengendalian dan pencegahan kolera.

Ke-sepuluh, pengendalian malaria dengan meningkatkan program, mulai pengendalian vektor, diagnosis, masalah resistensi obat dan kemungkinan penggunaan vaksin malaria

Ke-sebelas, membahas eradikasi penyakit dracunculiasis bersama penyakit polio yang akan dieradikasi dari muka bumi.

Ke-duabelas, membahas pengendalian dan pencegahan penyakit tidak menular melalui berbagai pertemuan internasional di Jakarta, Moskow, dan lain-lain.


Ke-tigabelas, membahas rencana implementasi gizi pada bayi, anak dan ibu.

Ke-empatbelas, membahas pencegahan kecelakaan pada anak. Di dunia setiap tahunnya terdapat 830.000 anak meninggal karena kecelakaan, artinya di dunia sekitar 2.000 keluarga kehilangan anaknya setiap hari.

Ke-limabelas, membahas strategi manajemen keamamanan air minum untuk konsumsi manusia.

Ke-enambelas, membahas risiko kesehatan anak muda karena di dunia terdapat 1,822 milyar anak muda usia 10 sampai 24 tahun, dan dari jumlah itu 2,6 juta anak muda meninggal setiap tahun.

Pada sidang WHA ke-64 tahun ini delegasi RI dipimpin oleh Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH dengan anggota Kepala Perwakilan Tetap RI untuk PBB di Jenewa/Duta Besar Dian Triansyah Djani; Direktur Jenderal P2PL, Prof. Tjandra Yoga Aditama; Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, dr.Supriyantoro; Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Hubungan Kerjasama Internasional dan Kelembagaan, Drs. Bambang Guritno, MIA; Deputi Badan POM Dra.Lucky Slamet; Direktur Penanggulangan Penyakit Tidak Menular dr.Azimal; Kepala Pusat Kerjasama Luar Negeri, Dra. Niniek K. Naryatie; dan Direktur Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Drs.Bahdar J.Hamid.

Sumber : http://www.depkes.go.id

Thursday, April 7, 2011

Pandemi Resistensi Antibiotik Mengancam Dunia

Jakarta, Penggunaan antibiotik yang tidak rasional bisa menyebabkan terjadinya resistensi. Jika tidak segera dikendalikan maka dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi pandemi resistensi antibiotik.

"Pandemi ini akan nyata, karena kecepatan resistensi lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan pengembangan antibiotik," ujar Prof Iwan Dwi Prahasto dalam acara jumpa pers seminar 'Antimicrobial Resistance-Containment and Prevention' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (7/4/2011).

Prof Iwan menuturkan hal ini karena sejak tahun 2007 tidak ada satu jenis pun antibiotik pun yang dikembangkan, sedangkan pada tahun 2000-2007 hanya didapatkan 2 jenis antibiotik. Tapi sayangnya antibiotik tersebut tidak mengganti antibiotik yang sudah ada sebelumnya.

"Bayangkan saja dalam kurun waktu 7 tahun hanya ada 2 antibiotik dan jenisnya sama seperti yang lain. Jadi kalau antibiotik yang lain sudah resisten, maka antibitoik ini juga akan resisten," ungkap Prof Iwan yang merupakan Guru Besar Farmakologi Fakultas Kedokteran UGM.

Beberapa hal diketahui menjadi penyebab lambatnya pengembangan antibiotik. Salah satunya adalah penelitian ini dianggap tidak menarik. Para peneliti lebih memilih mengembangkan obat kardiovaskuler yang nantinya dapat dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Sedangkan antibiotik umumnya hanya dapat digunakan untuk penyakit infeksi saja yang sebagian besar terjadi di negara-negara berkembang dan miskin, sehingga harga dari obat ini nantinya tidak akan mahal.

"Untuk itu harus dilakukan pengendalian, karena kalau tidak pandemi ini bisa segera terjadi. Selain itu dilakukan pembatasan penggunaan misalnya antibiotik hanya boleh diresepkan di rumah sakit tertentu oleh dokter subspesialis," tutur Prof Iwan.

Sementara itu Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH menuturkan antibiotik merupakan salah satu penemuan yang unggul, tapi kini bisa dilihat jika penggunaannya tidak tepat bisa menimbulkan masalah di masa depan.

"Masalah resistensi ini terjadi akibat rendahnya rasionalitas penggunaan antimikroba yang sudah menjadi masalah dunia," ungkap Menkes.

Menkes menuturkan untuk itu diperlukan penanganan yang kompleks dan upaya bersama serta bekerjasama dengan beberapa stakeholder yang meliputi dokter anak, dokter spesialis, apoteker, pembuat obat dan juga lintas sektor.

Resistensi antibiotik terjadi jika bakteri yang semula hanya peka berubah menjadi kebal melalui adanya perubahan genetik di dalam selnya. Padahal antibiotik ini berfungsi membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang peka.

Sumber : http://health.detik.com/

Tuesday, March 29, 2011

SESJEN KEMENKES BUKA “SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI” UNIT UTAMA KEMENTERIAN KESEHATAN

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, dr. Ratna Rosita MPHM membuka “Sosialisasi Program Pengendalian Gratifikasi” yang diikuti pejabat eselon II, III, dan IV unit utama Kementerian Kesehatan 15 Maret 2011 di Jakarta.

Sesjen mengatakan Kementerian Kesehatan mempunyai nilai-nilai yang menjadi latar belakang pelaksanaan kegiatan di lingkungan Kementerian Kesehatan dalam mencapai tujuan program kesehatan 2009 – 2014 yaitu Pro rakyat, Inklusif, Responsif, Efisien dan Effektif serta Bersih. Nilai nilai ini dimaksudkan tidak hanya untuk mendorong tercapainya tujuan program kesehatan tetapi juga bagaimana tujuan program dapat tercapai melalui pelaksanaan kegiatan yang baik, benar dan bersih.



Dalam mencapai terwujudnya tata kelola pemerintah yang baik dan bersih, sepanjang tahun 2010 Kementerian Kesehatan telah melalukan berbagai upaya antara lain pengelolaan pengadaan barang dan jasa melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang menghemat keuangan negara sebesar 176 miliar sehingga mendapat penghargaan dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sebagai Kementerian yang pengelolaan barang dan jasanya terbaik melalui LPSE.

Kemenkes melakukan kerja sama dengan BPKP dalam hal pelaksanaan pembinaan dan pengawasan kegiatan serta pendampingan dalam pembuatan laporan keuangan kementerian;

Di samping itu di Kemenkes dibentuk Unit Pelayanan Terpadu, yang memberikan pelayanan Perijinan Sarana Produksi dan Distribusi Alkes, Registrasi Alkes dan PKRT, Rekomendasi Sekolah Kesehatan, Ethical Clearance Peneliti Kesehatan, Informasi Registrasi Dokter/Dokter Gigi, Rekomendasi Pengobatan Tradisional Asing, Perijinan dan Akreditasi Rumah Sakit, dan Pengaduan Masyarakat melalui Hot Line Service dan Email (Pusat Tanggap dan Respon Cepat).
Selain itu, registrasi on line bagi seleksi CPNS Kementerian Kesehatan telah dilakukan sejak tahun 2007, manajemen kepegawaian menuju akreditasi ISO, dibentuknya Unit Pengelola Gratifikasi, dan dibentuknya Inspektorat Investigasi pada Inspektorat Jenderal yang melakukan tugas khusus dan penyelesaian pengaduan masyarakat.

Sesjen menambahkan, Survey Integritas Pelayanan Publik yang dilakukan oleh KPK, telah memberikan nilai cukup baik terhadap kegiatan bidang perizinan, terutama perizinan penyalur alat kesehatan serta izin prinsip dan izin tetap industri obat tradisional.

Disamping itu, pada tanggal 15 Desember 2010 yang baru lalu 3 Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan telah mendapat penghargaan Citra Pelayanan Prima tahun 2010 yang disampaikan oleh Bapak Wakil Presiden RI. Rumah Sakit Kanker Dharmais mendapat Piala Citra, sementara Balai Besar Lab Kes Surabaya dan Balai Besar Penelitian Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawang Mangu mendapat Piagam Citra Pratama.

Pada akhir sambutan, Sesjen berpesan kepada seluruh pejabat di lingkungan Sekertariat Jenderal untuk segera membuat rencana tindak lanjut dari pertemuan yang berguna bagi penyelenggara negara ini untuk kemudian disosialiasikan dan diimplementasikan.

Pembicara pada sosialisasi tersebut yaitu Sugiarto dari Direktorat Gratifikasi KPK dan Rika Krisdianawati dari Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK.

Mengutip UU No.20 tahun 2001 pasal 12B ayat 1, Sugiarto menjelaskan gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya. Gratifikasi bisa diterima di dalam maupun di luar negeri, dan dilakukan dengan menggunakan elektronik atau tanpa saran elektronik.

Sedangkan LHKPN, menurut Rika merupakan bentuk transparansi yang dimaksudkan untuk menilai kejujuran pejabat negara terkait dengan kekayaan yang dimiliki dalam rangka pencegahan terhadap tindakan korupsi, bukan untuk menelanjangi harta pejabat negara, terlebih untuk dihakimi masyarakat. LHKPN bertujuan untuk mewujudkan pejabat negara yang bersih yakni yang menaati asas-asas umum penyelenggaraan negara dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id

Wednesday, March 23, 2011

Avian influenza – situation in Indonesia - update

The Ministry of Health of Indonesia has announced 2 new but unrelated confirmed cases of human infection with avian influenza A (H5N1) virus.

The first case is a 2 year old male from Depok City, West Java Province. He developed symptoms on 3 February, was admitted to a private clinic on 5 February and referred to a hospital on 6 February. He died on 6 February. Prior to his illness, sick and dead poultry were reported in the his neighborhood.

The second case is a 31 year old female from Bekasi City, West Java Province. She developed symptoms on 23 February, was admitted to a private clinic on 25 February and referred to a hospital on 28 February, where she received oseltamivir treatment. She died on 1 March. Initial investigations indicate the case visited a traditional market where live poultry were sold.

Laboratory tests have confirmed infection with the H5N1 avian influenza virus.

Of the 174 cases confirmed to date in Indonesia, 144 have been fatal.

Source : http://www.who.int/csr/don/2011_03_14/en/index.html

Tuesday, March 8, 2011

5 Kabupaten/Kota di Sumbar Terjangkit Flu Burung

8/3/2011 17:13 WIB

Musthofa - Padang, Sebanyak 5 dari 19 kabupaten dan kota yang ada di Propinsi Sumatera Barat mulai dijangkiti virus H5N1 atau virus flu burung.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sumbar, Edwardi kepada ELSHINTA, Selasa (8/3).

Kelima kabupaten dan kota yang mulai terjangkit virus flu burung tersebut adalah di Kota Padang, Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Dari lima daerah tersebut, kasus terparah terjadi di Kota Padang, sementara di daerah lain sudah berkurang.

Di Kota Padang, kasus virus H5N1 mulai terjadi sejak awal Februari lalu dan terdapat pada 15 titik. Sejak kasus tersebut muncul, setidaknya sudah ada sebanyak 2.000 ekor unggas milik warga yang mati mendadak.

Sedangkan di Kota Solok, penyebaran virus flu burung terdapat di dua titik, dengan sebanyak 190 ekor unggas warga sudah dimusnahkan.

Di Kabupaten Solok terdapat di satu titik penyebaran virus flu burung, dengan sebanyak 15 ekor unggas warga yang dimusnahkan.

Sementara itu, di Kabupaten Dharmasraya terdapat 20 ekor unggas yang sudah dimusnahkan karena terjangkit virus flu burung dan di Kabupaten Pesisir Selatan terdapat pada dua titik di Kecamatan Bayang, dengan 150 ekor ayam milik warga telah dimusnahkan. (der)

Sumber : Elsinta Online

Monday, March 7, 2011

Diduga Terjangkit Flu Burung, Remaja Asal NAD Dirawat di RSUP Adam Malik

Medan - Muhammad Hidayat (15), warga Desa Kuta Cepu, Simpang Kere, Kabupaten Babussalam, Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terpaksa mendapat perawatan intensif di ruang instalasi khusus Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan karena mengalami demam tinggi. Kuat dugaan, Hidayat terjangkit flu burung.


Setelah mendapat perawatan sejak Minggu (6/3) malam, panas tubuh Hidayat mulai menurun sekitar 36 derajat celsius, Senin (7/3/2011) sore. Sebelumnya, panas tubuh Hidayat tercatat mencapai 40 derajat celsius.

Ayah pasien, Ajman mengatakan, Hidayat mengalami demam tinggi setelah ayam tetangga mati mendadak dengan mulut berbuih.

"Ayam tetangga banyak yang mati secara tiba-tiba. Hari berikutnya Hidayat demam tinggi dan sempat sesak nafas. Oleh rumah sakit di Singkil, Hidayat kemudian dirujuk ke Adam Malik," kata Ajman.

Sementara Humas RSUP Haji Adam Malik Medan, Sari Saragih mengatakan, untuk memastikan Hidayat terserang flu burung, tim medis mengambil sampel darah untuk diteliti di laboratorium.

"Hasil pemeriksaan laboratorium akan diperoleh sekitar empat hari. Untuk sementara, pasien ditempatkan di instalasi suspect flu burung di bagian belakang gedung rumah sakit," kata Saragih.

(rul/her)

Thursday, March 3, 2011

Tiga Ancaman Penyakit akibat Perubahan Iklim

Penelitian baru-baru ini menyebutkan bahwa pemanasan global dapat mempengaruhi kesehatan. Berbagai penyakit bermunculan, sebagian besar disebabkan oleh mikroba, bakteri, dan ganggang. Ilmuwan telah memperkirakan akan bertambahnya tingkat kematian karena gelombang panas, bencana alam, dan malaria.

Beberapa ilmuwan yang dibiayai oleh The Ocean and Human Health Initiative dari The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) akan mengidentifikasi risiko penyakit karena pemanasan global. Hasilnya seperti berikut ini.

1. Kontaminasi makanan laut oleh ganggang beracun

Ganggang merah yang menyebabkan zona mati di laut berkembang dengan pesat seiring dengan pemanasan global, khususnya di utara Amerika. Hal ini diungkapkan oleh Stephanie Moore dari NOAA. Ganggang Alexandrium catenella yang memproduksi racun dapat mengontaminasi makanan yang berasal dari laut dan mengakibatkan kelumpuhan—bahkan kematian, meskipun langka—pada manusia.

Dengan menghitung suhu air dan peningkatan suhu global, Moore dan rekannya di Universitas Washington menggambarkan bagaimana ganggang dapat berkembang pesat. “Musim mekar ganggang beracun bertambah panjang dan jumlah ganggang yang mekar tiap musim pun bertambah,” ungkap Moore. “Sekarang, musim mekar ganggang tersebut selama dua bulan, tetapi pada tahun yang akan datang, jangka waktu mekar pun akan bertambah menjadi tiga bulan,” tambahnya.

2. Ledakan bakteri berbahaya

Perubahan iklim menyebabkan wilayah yang lembab akan menjadi lebih lembab, sedangkan wilayah kering semakin kering. Fenomena ini akan mengakibatkan debu-debu beterbangan dan biasanya akan berakhir di lautan. Debu-debu mempercepat perkembangan bakteri yang membahayakan dan bakteri tersebut berakhir di makanan laut.

Erin Lipp dan Jason Westrich dari Universitas Georgia telah menemukan bahwa Gurun Maroko dapat mempercepat perkembangbiakan Vibrio, sejenis bakteri laut. Uji coba dilakukan dengan memasukkan debu dari Maroko ke air laut di Florida. Hasilnya, pertumbuhan Vibrio meningkat sebanyak 10 hingga 1.000 kali lipat. Ilmuwan menemukan bahwa zat besi yang terkandung di dalam debu-debu itulah yang mengakibatkan perkembangbiakan.

3. Sistem pembuangan mencemari air minum

Sandra McLellan dari Universitas Wisconsin-Milwaukee telah meneliti bahwa peningkatan curah hujan memengaruhi sistem pipa pembuangan di sekitar Great Lakes. Di Wisconsin, pertumbuhan penduduk memaksa penambahan pada kapasitas sistem pipa pembuangan yang ada. Pada saat terjadi badai, air di pembuangan akan melimpah dan membanjiri danau. Tentu saja air pembuangan ini mengandung bakteri dan virus.

Hanya dengan 4,3 cm curah hujan, air langsung melimpah dan membanjiri sungai. McLellan mengatakan, setengah abad mendatang, volume curah hujan akan meningkat sampai 20 persen. “Bukanlah perubahan iklim yang mengakibatkan masalah baru. Kita sudah bermasalah dengan hal ini. Namun, saat kita ingin mencegah hal skenario buruk itu terjadi. Kita sudah terdahului oleh pemanasan global dan pertumbuhan penduduk,” tambah McLellan. (Arief Sujatmoko, National Geographic News)

Sumber : http://health.kompas.com/

Wednesday, March 2, 2011

IMUNISASI MENINGITIS JEMAAH UMRAH DILAKUKAN KANTOR KESEHATAN PELABUHAN

Sehubungan dimulainya ibadah umrah pada Maret 2011, pelayanan imunisasi meningitis meningokokus ACW135Y dapat diperoleh di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) seluruh Indonesia. Setelah memperoleh vaksinasi meningitis meningokokus, calon jemaah umrah diberikan kartu ICV (International Certificate of Vaccination) sebagai syarat memperoleh visa. Apabila vaksinasi meningitis meningokokus dilakukan diluar KKP, maka untuk mendapatkan kartu ICV calon jemaah umrah harus menyerahkan surat keterangan suntik dengan menyertakan vial yang telah digunakan ke KKP setempat.

Vaksin yang digunakan adalah vaksin meningitis meningokokus Menveo ACW 135Y yang telah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) dan dinyatakan halal berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Imunisasi meningitis merupakan persyaratan wajib untuk mendapatan visa sesuai ketentuan yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi bagi semua calon jemaah haji dan umrah. Untuk efektivitas vaksin, imunisasi diberikan sekurang-kurangnya dua minggu sebelum keberangkatan.

Tujuan imunisasi adalah untuk melindungi jamaah umrah dari penularan penyakit meningitis selama 3 tahun. Selain itu untuk mencegah penularan antar jamaah umrah dari seluruh dunia serta mencegah penularan meningitis kepada keluarga di tanah air.

Meningitis meningokokus ditularkan langsung melalui percikan cairan hidung dan tenggorokan pada saat batuk/bersin dari penderita. Penyakit ini menyerang selaput otak (meningen) dan dapat menimbulkan cacat bahkan kematian.

Jadwal pemanggilan untuk vaksinasi meningitis meningokokus bagi jemaah umrah akan difasilitasi oleh pihak penyelenggara atau biro perjalanan umrah atas kerja sama dengan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah (AMPHURI).

Sumber : www.depkes.go.id

Monday, February 28, 2011

Kembangkan Ecohealth, Jegal Penyakit Zoonotik

YOGYAKARTA--MICOM: Ecohealth perlu dikembangkan untuk menanggulangi penyakit menular dari hewan ke manusia (zoonotik) seperti antraks, leptospirosis, rabies, dan flu burung, kata peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Wayan Tunas Artama.

"Ecohealth adalah disiplin ilmu baru yang mempelajari bagaimana perubahan dalam ekosistem bumi dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Pengembangan disiplin ilmu itu dengan cara menyatukan berbagai pakar," katanya di Yogyakarta, Minggu (27/2).

Menurut dia, pakar yang perlu disatukan untuk menanggulangi penyakit menular dari hewan ke manusia atau zoonotik itu di antaranya dokter, dokter hewan, ahli konservasi, ahli ekologi, ahli ekonomi, ahli sosial, dan ahli perencana.

"Mereka secara komprehensif mempelajari dan memahami bagaimana perubahan ekosistem secara negatif berdampak pada kesehatan manusia dan hewan," katanya.

Ia mengatakan, penanggulangan penyakit zoonotik tidak hanya dari aspek kesehatan manusia, tapi juga perlu memperhatikan faktor dari hewan dan lingkungan. Hal itu penting karena penularan penyakit zoonotik selain kontak langsung dengan hewan, juga disebabkan faktor ekologi, yakni perubahan cuaca, iklim, dan lingkungan.

"Berbagai penyakit zoonotik yang berasal dari hewan itu juga dipengaruhi oleh perubahan cuaca, iklim, dan lingkungan. Kondisi lingkungan tertentu bisa menyebabkan penyebarannya semakin bertambah, yang dapat berdampak terhadap kesehatan manusia," katanya.

Menurut dia, ecohealth mengkaji perubahan lingkungan biologik, fisik, sosial, dan ekonomi, dan menghubungkan perubahan tersebut dengan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

"Di beberapa negara, ecohealth telah dikembangkan dengan melibatkan kerja sama antaruniversitas dengan berbagai bidang disiplin ilmu," katanya. (Ant/OL-2)

Sumber : www.mediaindonesia.com

Tuesday, February 8, 2011

Virus Nipah di Bangladesh, 15 Tewas

REPUBLIKA.CO.ID,DHAKA--Sedikitnya 15 orang tewas akibat wabah virus Nipah di sebuah kota terpencil di Bangladesh utara ketika penyakit mematikan itu kembali menyebar di negara tersebut, kata seorang pejabat, Sabtu. Nipah memiliki gejala seperti flu yang sering menyebabkan radang otak dan koma, serta mengakibatkan kematian setidaknya 70 persen angka kematian di Bangladesh.

Wabah terakhir dikonfirmasi pada Jumat di Hatibandha di distrik Lalmonirhat. "Sejauh ini, telah 24 orang terkena virus Nipah di Hatibandha," kata Mahmudur Rahman, seorang pejabat kesehatan senior. "Dari jumlah itu, 15 diantaranya meninggal dan beberapa orang berada dalam kondisi kritis," katanya.

Setidaknya 113 orang, termasuk korban terakhir, telah meninggal karena virus tersebut di Bangladesh sejak wabah itu pertama kali menyebar pada tahun 2001. Pemerintah di Dhaka telah membangun sebuah laboratorium deteksi untuk mempercepat pengujian untuk wabah apapun.

Pada tahun 2004, hampir 40 orang meninggal di dua distrik di pusat, dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat dipanggil untuk membantu memerangi penyakit ini. Virus itu, dinamai berdasarkan nama sebuah desa di Malaysia di mana virus itu pertama kali terdeteksi, melompati penghalang spesies dari kelelawar buah ke babi dan kemudian ke manusia di Oktober 1998.

Hal itu diyakini terjadi melalui kontak langsung dengan babi. Pada tahun 1999, 256 orang di Malaysia jatuh sakit dengan penyakit yang sama, dan empat dari 10 pasien meninggal. Lebih dari satu juta babi dimusnahkan untuk membantu menekan menyebar.

Sumber : Republika Online

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN