SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Sunday, September 13, 2009

Wabah Kolera Hajar Afghanistan

Kabul - Wabah penyakit kolera merebak sekurangnya di sepuluh provinsi di Afghanistan, Kementerian Kesehatan setempat mengumumkan hari ini (13/9/2009), dikutip detikcom dari Algemeen Dagblad dari ANP.

Tercatat sudah 650 kasus korban penyakit sangat menular itu, termasuk di ibukota Kabul, namun sejauh ini wabah kolera masih terkendali dan belum ada laporan korban tewas.

Pemerintah Afghanistan mengatakan bahwa saat ini sejumlah personel tambahan dan obat-obatan sudah dikirim ke wilayah-wilayah yang dilanda kolera.

Kolera akan muncul dan cepat menyebar jika higiene dan sanitasi sangat buruk. Wabah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae itu juga pernah melanda Indonesia di akhir 70-an, termasuk Jawa Tengah dan menelan banyak korban tewas.

Eddi Santosa - detikNews (es/es)

Thursday, September 10, 2009

At least 2,837 die from H1N1 flu: WHO

GENEVA, Sept. (Xinhua) -- The A/H1N1 pandemic has killed at least 2,837 people worldwide since the new flu virus first emerged in April, the World Health Organization (WHO) said Friday.

Of all the deaths, 2,234 occurred in the Americas, followed by the West Pacific region, with 279 deaths. The other four WHO regional offices, South-East Asia, Europe, East Mediterranean and Africa reported 188, 104, 21 and 11 deaths respectively.

The WHO's recorded number of lab confirmed A/H1N1 cases worldwide is more than 254,206, but it actually understates the real number of cases as countries are no longer required to test and report individual cases, the U.N. agency said.

The A/H1N1 virus continues to be the predominant circulating virus of influenza, both in the northern and southern hemisphere, but there are still no signs that the virus has mutated into a more virulent or lethal form, the agency said.

Although the virus can cause severe and fatal illness, also in young and healthy people, the number of such cases remains small, the WHO has said.

Thursday, September 3, 2009

Tambahan 14 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1, 2 orang meninggal

03 Sep 2009


Badan Litbangkes Depkes tanggal 2 September 2009 melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 14 kasus baru, 2 orang diantaranya meninggal dunia, seorang anak dari DKI Jakarta dan 1 orang perempuan dari Yogyakarta, keduanya mempunyai faktor risiko yang mendasari dan juga pneumonia, hasil laboratorium juga menunjukkan H1N1(+). Dengan demikian secara kumulatif, total kasus sampai saat ini 1.097 orang di 25 provinsi dan 10 kematian, kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Ditambahkan, “data kasus influenza A H1N1 di negara tetangga kita menunjukkan Thailand memiliki 14.976 kasus dengan 119 kematian, Singapura 16 kematian, Malaysia 64 kematian dan Australia ada 35.095 kasus dengan 155 kematian", ujar Prof. Tjandra Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.
Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.
Sumber : Depkes OL

Wednesday, September 2, 2009

Virus H1N1 Kalahkan Virus Flu Lain

Rabu, 2 September 2009 11:30 WIB

KOMPAS.com - Kekhawatiran akan terjadinya "koalisi" virus A-H1N1 dengan virus influenza strain lainnya ternyata tidak terbukti. Riset terkini membuktikan, bila virus H1N1 dimasukkan dalam ruangan yang berisi strain virus influenza lain, mereka tidak akan bergabung menjadi virus baru karena virus H1N1 akan mengambil alih dominasi.
Demikian hasil riset terbaru yang dilaporkan para peneliti dari Universitas Maryland, AS. Dalam penelitiannya para peneliti menginfeksi hewan sejenis musang dengan virus H1N1. Meski tidak terjadi koalisi virus, tapi hewan yang terinfeksi dua jenis virus flu tersebut mengalami gejala yang parah dan lebih mudah menularkan virus, atau yang oleh para peneliti disebut sebagai virus H1N1 2009.
Dari hasil penelitian ini, tak heran bila kini virus H1N1 menjadi strain virus influenza yang paling dominan di dunia. Para peneliti juga tak terlalu khawatir lagi virus yang bergabung dan bermutasi menjadi virus baru yang lebih ganas. Kini yang jadi perhatian para ahli adalah bagaimana virus H1N1 ini dengan cepatnya menyebar ke berbagai negara."Hasil studi ini menunjukkan bagaimana virus H1N1 2009 mengungguli virus influenza lainnya dan menjadi lebih mudah menular.
Meski penelitian ini masih awal, namun menegaskan perlunya vaksinasi virus flu segera," kata Dr Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease, AS.Meski tidak terbukti adanya koalisi virus influenza, namun Kepala Laboratorium Flu Burung Universitas Airlangga, Surabaya, CA Nidom, mengatakan yang perlu dikhawatirkan adalah koalisi antara virus flu A-H1N1 dengan virus H5N1. Bila terjadi koalisi dua virus itu, dikhawatirkan muncul virus baru yang sangat ganas dan mudah menular. Karena itu Nidom berpendapat pemerintah seharusnya mulai melakukan pemetaan daerah mana yang memungkinkan terjadi koalisi kedua virus itu (Kompas, 17 Juli 2009).
Sumber : Kompas OL

Penularan A-H1N1 pada Unggas

Selasa, 1 September 2009 13:44 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Penularan virus flu A-H1N1 dilaporkan terjadi pada unggas serta babi di beberapa negara di dunia. Penyebaran virus pada hewan ini dikhawatirkan akan menimbulkan koalisi virus sehingga menjadi lebih ganas dan tingkat penyebaran sangat cepat.
Menurut CA Nidom, peneliti senior Laboratorium Flu Burung Universitas Airlangga, di Surabaya, Jawa Timur, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (31/8), apabila hewan yang terjangkit H1N1 ternyata juga terinfeksi virus lain, bisa terjadi koalisi virus.Meski belum dilaporkan adanya penyebaran virus H1N1 pada unggas dan babi, di Indonesia berpotensi terjadi penularan virus itu pada hewan karena banyak peternakan berada di permukiman penduduk dan sanitasi buruk. Atas dasar itu, pemerintah perlu segera menerapkan surveillance total untuk semua jenis virus, baik H5N1 maupun H1N1, terhadap manusia ataupun unggas. ”Meski sudah sembuh, virus flu A-H1N1 masih berada di dalam tubuh pasien,” katanya.
Seperti diberitakan AFP, virus H1N1 baru-baru ini ditemukan pada kalkun di dua peternakan di dekat Pelabuhan Valparaiso, Cile. Penularan terjadi dari pekerja peternakan ke unggas. Atas dasar itu, PBB menyatakan, peternakan unggas di mana pun di seluruh penjuru dunia juga bisa terinfeksi virus itu. Sejauh ini belum ada kasus H5N1 pada unggas di Cile.Pejabat Cile menetapkan karantina dan membolehkan unggas terinfeksi disembuhkan. ”Unggas sakit telah pulih, aman diproduksi, proses bisa berlanjut,” kata Juan Lubroth, petugas veteriner dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).Kanada, Argentina, dan Australia juga melaporkan penyebaran virus influenza A-H1N1 dari pekerja peternakan ke babi.
”Di Asia Tenggara banyak virus H5N1 bersirkulasi di peternakan. Masuknya virus H1N1 pada populasi ini menjadi perhatian serius,” kata Dr Lubroth.Adapun produsen obat Sinovac akan menjual vaksin flu A-H1N1, yang bekerja hanya dengan satu dosis, 30 persen lebih sedikit dosisnya daripada vaksin produksi sejumlah perusahaan farmasi dari Barat. Hasil uji coba oleh Sinovac menunjukkan, dosis tunggal vaksin ini efektif melawan virus A-H1N1. ”Vaksin produksi perusahaan farmasi Barat akan dijual seharga 30 dollar AS, kami bisa menjual 30 persen lebih murah,” kata Direktur Sinovac Weidong Yin kepada harian bisnis elEconomista.
Sumber : Kompas OL

Monday, August 31, 2009

Tingkat Penyebaran A-H1N1 Sangat Cepat

Senin, 31 Agustus 2009 10:10 WIB
PARIS, KOMPAS.com — Penyebaran influenza A-H1N1 empat kali lebih cepat daripada virus-virus lain dan 40 persen kematian terjadi pada orang muda dan sehat.”Perjalanan virus ini tidak dapat dipercaya, hampir tak terdengar kecepatan penyebarannya,” kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Chan kepada France’s Le Monde Daily, Sabtu (29/8) di Paris, Perancis. ”Dalam enam pekan, virus itu menyebar ke berbagai tempat. Padahal, virus-virus lain butuh waktu 6 bulan untuk menjangkau jarak yang sama dengan virus influenza A-H1N1,” kata Chan.
”Sebanyak 60 persen kematian terjadi pada pasien yang sudah memiliki masalah kesehatan,” ujarnya. Hal ini berarti, 40 persen dari kematian terjadi pada kaum muda—dalam kondisi kesehatan bagus—yang meninggal karena demam akibat infeksi virus flu A-H1N1 dalam 5-7 hari.”Hal ini merupakan fakta yang paling mengkhawatirkan. Lebih dari 30 persen penduduk di negara dengan tingkat kepadatan tinggi berisiko terinfeksi virus flu A-H1N1,” katanya.
Virus pandemik flu A-H1N1 kini mendominasi strain flu pada sebagian besar bumi ini.
Pandemi akan tetap berlangsung dalam beberapa bulan ke depan pada populasi rentan terinfeksi. Meski demikian, alokasi sumber daya pelayanan gawat darurat dan perawatan bagi pasien kanker dan penyakit jantung sebaiknya tidak dialihkan.
”Semua negara harus menyiapkan kondisi terburuk menghadapi persoalan ini,” ujarnya. Data terakhir WHO menunjukkan, lebih dari 2.180 orang di dunia meninggal akibat virus itu sejak April.
Di Indonesia, hingga kemarin, Departemen Kesehatan mencatat jumlah kumulatif kasus flu A-H1N1 1.055 orang, 8 pasien meninggal. Sebagai pembanding, Thailand memiliki 13.019 kasus dengan 114 orang meninggal, di Malaysia 68 pasien meninggal.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Tjandra Yoga Aditama menyatakan, upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah. Upayanya antara lain menyiapkan rumah sakit rujukan, logistik, memperkuat pelacakan kontak, serta surveilans komunitas. (AFP/EVY)
Sumber : Kompas OL

Pengendalian Non Medis H1N1 Diintensifkan

Senin, 31 Agustus 2009 13:56 WIB


KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia mengintensifkan berbagai cara pengendalian, termasuk respons non medis terhadap penyebaran virus influenza baru H1N1 yang semakin meluas, baik di dunia maupun di Indonesia. "Penanganan non medis sama pentingnya dengan respons medis karena apabila pandemi semakin meluas, berbagai sektor pelayanan juga akan kena dampak, minimal dengan berkurangnya tenaga kerja karena sakit," kata koordinator bidang komunikasi Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI), Memed Zulkarnaen di Jakarta, Senin.
Komnas FBPI mengintensifkan berbagai kesiapsiagaan non medis, antara lain dengan melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah dan melaksanakan simulasi desktop (simulasi pemutusan kebijakan saat gawat darurat). Simulasi jenis ini melatih berbagai pejabat dinas yang menjalankan fungsi pelayanan masyarakat, badan penanggulangan bencana daerah, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, media lokal dan tokoh agama/masyarakat untuk berkoordinasi dalam merencanakan respons tanggap darurat dan mengambil keputusan apabila pandemi meluas dan virusnya semakin mematikan. Komnas FBPI, dengan bantuan berbagai departemen yang menjadi anggotanya, telah melaksanakan simulasi jenis ini di hampir seluruh provinsi di Indonesia bersama dengan UNICEF Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kanada melalui Canadian International Development Agency (CIDA). "UNICEF Indonesia membantu mengembangkan kapasitas non medis Pemerintah Indonesia dalam merespon pandemi, terutama di bidang komunikasi resiko," kata konsultan media UNICEF Indonesia yang menangani komunikasi flu burung dan pandemi, Arie Rukmantara.
"Pada akhirnya nanti, semua kerja dan tugas merespons pandemi oleh UNICEF maupun lembaga internasional lainnya akan diambil alih, ditangani oleh negara dalam rangka melindungi warga negaranya," ujar Memed. Memed juga menekankan bahwa mitra kerja seperti UNICEF dan Badan Kesehatan Dunia/ WHO tetap akan bekerja merespons pandemi selama Pemerintah Indonesia masih membutuhkan kontribusi mereka.
"Saat ini kita dalam situasi pandemi global, kami masih perlukan kerjasama dan dukungan semua pihak," tegasnya. Menanggapi pernyataan Memed, Arie juga menekankan bahwa pada akhirnya pemerintah dan masyarakat Indonesia lah yang akan memutuskan langkah terbaik merespons pandemi dan memitigasi dampak buruknya.
"Jadi, respons pandemi tidak diambil alih dari satu badan PBB ke badan PBB lainnya," ujarnya, sambil meluruskan berita yang beredar sebelumnya bahwa kerja UNICEF merespons pandemi akan diambilalih oleh WHO. Kedua badan PBB ini tetap akan mendukung pemerintah dalam merespon pandemi influenza H1N1-2009 ini.
Sumber : Kompas OL

Tambahan 22 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1

29 Aug 2009

Hari ini, Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 22 orang, 2 orang diantaranya meninggal dunia dari Jawa Timur, dengan gambaran klinik pneumonia serta hasil laboratorium menunjukkan H1N1 positif.

Dengan demikian secara kumulatif, total kasus sebanyak 1.055 orang tersebar di 24 provinsi dengan 8 kematian, kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.
Ditambahkan, data kasus influenza A H1N1 di negara tetangga kita yaitu Thailand memiliki 13.019 kasus dengan 114 kematian, Singapura 12 kematian, Malaysia 68 kematian dan Australia ada 33.511 kasus dengan 132 kematian.
Sumber : Depkes OL

Friday, August 28, 2009

Flu Babi Sudah Tulari Unggas

Jumat, 28 Agustus 2009 | 14:47 WIB

LONDON, KOMPAS.com -

Bukan main flu H1N1 alias flu babi ini! Soalnya, seturut temuan di Cile, flu babi bahkan sudah menulari unggas. Seturut catatan BBC pada Jumat (28/8), kekhawatiran makin merebak pasca kejadian itu. Soalnya, diduga, virus yang sudah menulari unggas tersebut malah makin berbahaya. Sebelumnya virus menular dari manusia ke babi. Meski demikian, flu babi tetap lebih berbahaya dari flu biasa.

Aman dimakan

Pemerintah Cile pertama kali melaporkan insiden penularan ini minggu lalu. Dua daerah peternakan unggas jenis kalkun tertular dekat kota pelabuhan Valparaiso.

Juan Lubroth, pejabat kepala kehewanan pada lembaga PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO), mengatakan, "Sekali unggas yang sakit pulih, produksi dan proses pengolahan unggas bisa dilanjutkan. Ini tidak mengancam penyediaan pasokan makanan."

Pemerintah Cile memberlakukan karantina sementara dan memutuskan membiarkan unggas yang terinfeksi pulih dengan sendirinya tapi tidak dimusnahkan. Muncul pendapat insiden ini menunjukkan adanya "tularan" dari pekerja peternakan yang sakit pada ayam kalkun tersebut.

Kanada, Argentina, dan Australia sebelumnya melaporkan meluasnya penyebaran virus H1N1 dari pekerja peternakan terhadap ternak babinya.

Jenis berbahaya

Munculnya situasi darurat akibat adanya jenis virus baru yang berbahaya sampai kini masih bersifat teoritis. Jenis virus yang berbeda bisa bercampur dalam sebuah proses yang disebut pemilahan atau rekombinasi genetis. Sejauh ini tidak ada kasus flu burung H5N1 pada unggas di Cile.

Meski demikian Lubroth mengatakan,"Di Asia Tenggara ada banyak jenis virus (H5N1) yang berada di sekeliling peternakan. Munculnya virus jenis H1N1 pada peternakan semacam ini akan menimbulkan kekhawatiran lebih dalam."

Colin Butter dari Institute Kesehatan Hewan Inggris berpendapat serupa. "Harapan kita, ini hanya merupakan kasus langka dan kita harus terus memonitor apa yang terjadi berikutnya."

Sumber :Kompas OL

Tambahan 28 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1

25 Aug 2009

Hari ini ( 25/08/09 ) Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 28 orang, 1 orang diantaranya meninggal dunia. Ia adalah seorang anak dari Jawa Timur meninggal dengan faktor risiko pneumonia dan hasil laboratorium menunjukkan H1N1 positif. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 1.033 orang, 6 orang diantaranya meninggal tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah. Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.
Sumber : Depkes OL

Tuesday, August 25, 2009

Flu Babi : Pasien Meninggal Mahasiswa Kedokteran Hewan Unair

Surabaya - Pasien positif flu babi berinisial IN (20) meninggal di RSU Soetomo Surabaya pagi tadi merupakan mahasiswa kedokteran hewan Universitas Airlangga angkatan 2007.

" Dia sedang KKL (Kuliah Kerja Lapangan) 1 bulan lalu di Bondowoso dan sempat dirawat di RS Tuban," kata Wakil Dekan I Bidang Akademik FKH Unair Anwar Makruf kepada wartawan saat dihubungi, Selasa (25/8/2009).

IN masuk ke RSU dr Soetomo 21 Agustus 2009 setelah mendapat rujukan dari RS di Tuban.

Sementara Wakil Direktur Pelayanan Medik RSU dr Soetomo Surabaya, dr Urip Murtedjo SpB-KL bahwa pasien datang dalam kondisi peneumonia bilateral berat atau dua paru-parunya sudah memutih.

"Sebenarnya angka kematian A-H1N1 rendah, hanya 0,4%. Tapi jika datang dalam kondisi berat, ya sulit diobati," tambahnya.

Penyakit ini tidak akan menjadi berat bila tidak memiliki penyakit lain yang diidap. Seperti kanker, diabetes, stroke, hipertensi, darah tinggi dan jantung.

(fat/fat) Imam Wahyudiyanta - detikSurabaya

Monday, August 24, 2009

Pasien Positif Influenza A H1N1 Tambah 57 Kasus

24 Aug 2009

Badan Litbangkes Depkes tanggal 23 Agustus 2009 melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 57 orang, 1 orang diantaranya meninggal dunia. Ia adalah seorang pria 21 tahun dari Jawa Barat meninggal dengan gangguan pernapasan berat dan hasil laboratorium menunjukkan H1N1 positif. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 1.005 orang tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.
Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra
Sumber : Depkes OL

Friday, August 21, 2009

Tambahan 18 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1

21 Aug 2009

Pada tanggal 20 Agustus 2009, Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 18 orang. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 948 orang tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.
selengkapnya...

Thursday, August 20, 2009

Pandemic (H1N1) 2009 - update 62

Laboratory-confirmed cases of pandemic (H1N1) 2009 as officially reported to WHO by States Parties to the IHR (2005) as of 13 August 2009

The countries and overseas territories/communities that have newly reported their first pandemic (H1N1) 2009 confirmed case(s) since the last web update (No. 61) as of 13 August 2009 are:

Ghana, Zambia, and Tuvalu

Map of affected countries and deaths as of 13 August 2009 [png 313kb]

*Given that countries are no longer required to test and report individual cases, the number of cases reported actually understates the real number of cases.

Qualitative indicators (Week 31: 27 July - 2 August 2009 and Week 32: 3 August - 9 August 2009)

The qualitative indicators monitor: the global geographic spread of influenza, trends in acute respiratory diseases, the intensity of respiratory disease activity, and the impact of the pandemic on health-care services.

Source: WHO

Kumulatif Kasus Positif Influenza A H1N1 930 Kasus


19 Aug 2009


Badan Litbangkes Depkes tanggal 18 Agustus 2009, melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 22 orang. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 930 orang, tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah. Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tetap sehat yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.
Sumber : Depkes OL

Tuesday, August 18, 2009

Malaysia : A(H1N1) National health emergency declared

SEBERANG PERAI (Aug 17, 2009): The federal government has declared a health emergency in Malaysia due to the A(H1N1) outbreak which has so far taken 64 lives, and a health curfew similar to the week-long shutdown of non-essential services and industries in Mexico has not been discounted.

Health Minister Datuk Seri Liow Tiong Lai however said any curfew can only be considered if the virus mortality rate of those infected breach 0.4%, and even then, it has to be decided by the National Security Council.

However, he said the character of the virus remained unchanged for now as it is still attacking the high-risk group.

Mexico, which was the first and hardest hit by the A(H1N1) pandemic had ordered a shutdown of businesses and public places, including dancing halls, bars, sports centre, arts centres, cinemas and parks, for a week from May 1 to contain the spread. Restaurants were allowed to open, but only serve take-away food.

"We are discussing in-depth the health curfew move that was taken in Mexico," said Liow, adding that the Health Ministry was monitoring the infection and mortality cases and the proliferation of the disease daily.

For now, the government wants the public to do their part to contain the outbreak by wearing masks if they have influenza-like illnesses (ILI) and to practice self-quarantine.

Those having ILI symptoms and found not wearing the mask in public can be charged under Section 12(1) the Prevention and Control of Infectious Diseases Act 1988, which carries a compound fine of RM10,000 or two-year jail term, Liow said.

In line with the declaration of health emergency, the Domestic Trade, Co-operatives And Consumerism Ministry will fix the ceiling prices for various types of masks and an announcement will be made soon.

Deputy Prime Minister Tan Sri Muhyiddin Yassin, who was wearing a face-mask at the Permatang Pasir state by-election nomination centre today, said the face mask can be listed as a controlled item under the Price Control Act on grounds of necessity and health for about a year.

He said this after Liow, who was also present, reported to him that the masks were being sold for as much as RM5 each by unscrupulous traders.

To date, the country has registered a total of 4,225 cases of people infected with A(H1N1) virus, most of whom have already been treated.

There have been 64 deaths, including a 7-month old boy who died on Aug 15 and a 74-year old woman who succumbed on Aug 12, he added.

Later, speaking to reporters after launching the Asia Healthcare 2009 Conference, Liow said the ministry has directed all private and government doctors to prescribe anti-viral drugs for patients who suffer from fever longer than two days and influenza-like illness with co-morbid condition.

He said this is because late anti-viral treatment was one of the reasons for a number of deaths and the ministry did not want patients to wait for test results before receiving the treatment.

Liow also disclosed that the government healthcare sector is facing a serious shortage of manpower.

He said as of June 30, there were 240,236 vacancies for doctors approved by the Public Services Department but only 13,902 (57.4%) positions were filled; 2,549 for dentists but only 1,442 (66.6%) filled; 4,030 for pharmacists but 2,086 (47.1%) filled; and 44,897 for staff nurses but 39,263 filled.

Source : thesundaily.com Himanshu Bhatt

Pertambahan Kasus-Kasus Positif Influenza H1N1 Indonesia

Kasus Positif Influenza A H1N1 Tambah Lagi 36 Orang

18 Aug 2009

Tanggal 17 Agustus 2009, Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 36 orang. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 908 orang, tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.
selengkapnya...
Secara Kumulatif Kasus Positif Influenza A H1N1 Mencapai 872 Orang

17 Aug 2009

Badan Litbangkes Depkes tanggal 16 Agustus 2009, melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 18 orang, 1 orang diantaranya meninggal, pasien ini memiliki gangguan kesehatan dan hasil laboratorium menunjukkan H1N1. Dengan tambahan kasus baru tersebut secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 872 orang, 4 orang diantaranya meninggal, kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.
selengkapnya...

Sunday, August 16, 2009

Secara kumulatif Kasus Positif Influenza A H1N1 Mencapai 854 Orang


Print E-mail
16 Aug 2009
Badan Litbangkes Depkes tanggal 14 Agustus 2009, melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 16 orang. Dengan tambahan kasus baru tersebut secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 854 orang, kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tetap sehat yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra. Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Sumber : Depkes RI

Dinkes Medan selidiki penyakit aneh


Warta - Warta Fokus
RIDIN
WASPADA ONLINE

MEDAN – Kepala Dinas Kesehatan (dinkes) Kota Medan, Edwin Effendy, mengatakan, pihaknya segera akan melakukan penyelidikan terhadap penyakit aneh yang menimpa masyarakat.

“Dari laporan 39 puskesmas dan 61 puskesmas pembantu di kota Medan, penyakit aneh itu diawali demam tinggi, 3 sampai 7 hari. Setelah mengkonsumsi obat penurun panas penyakit itupun sembuh,” katanya kepada Waspada Online, siang ini.

Anehnya, kata Edwin, penyakit itu diperkirakan dapat menular, sebab dari pasien yang datang memeriksakan diri didampingi keluarga, selalu anggota keluarga itu juga ikut terserang, bahkan para tetangga.

“Memang kita sudah menerima laporan dari tiap unit. Itu kita terima dari temuan dilapangan. Ada yang menyatakan sudah ada, ada yang menyatakan belum,” tuturnya.

Bila dilihat gejalanya dari beberapa pasien, sebut Edwin, mirip dengan gejala pada penderita Infeksi Saluran Penafasan Akut (ISPA), dan gejala pada pasien suspect flu babi. “Itu hanya baru sebatas asumsi, dan belum ada hasil diagnosis yang dapat mendukung dugaan itu,” ujarnya.

Edwin meyakini, wabah demam tinggi yang menyerang warga kota Medan, terjadi sebagai dampak negatif perubahan iklim. Ditambah lagi persoalan tingginya tingkat polusi yang timbul akibat kebakaran hutan, dan asap kendaraan bermotor.

Sebagai antisipasi, tambah Edwin, masyarakat disarankan untuk memperbanyak mengkonsumsi air putih, hidup teratur dan bersih, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

“Ini baru gejalannya. Kita belum dapat memastikan kejadian itu. Dan tidak bisa dikaitkan dengan flu babi,” tegasnya.

Berita terkait : Medan terserang penyakit aneh


(dat04/wol-mdn)

Thursday, August 13, 2009

Tambahan 15 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1

13 Aug 2009

Badan Litbangkes Depkes tanggal 12 Agustus 2009, melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 15 orang terdiri dari 4 laki-laki dan 11 perempuan, semuanya WNI. Satu orang mempunyai riwayat perjalanan ke Meksiko, sepuluh orang tidak ada riwayat perjalanan ke luar negeri dan empat orang lagi tidak jelas perjalanannya, kata Prof. dr. Agus Purwadianto, SH. Sp. FK, Kepala Badan Litbangkes Depkes.

Tambahan kasus baru berasal dari 5 provinsi yaitu : Banten (4 orang), DKI Jakarta (6 orang), Jawa Barat (3 orang), Kalimantan Selatan (1 orang) dan Sumatera Utara (1 orang)

Sementara itu Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes menambahkan, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 sampai 12 Agustus berjumlah 838 orang terdiri dari 463 laki-laki dan 375 perempuan ( 3 orang meninggal dunia ), tersebar di 23 provinsi.

Prof. Tjandra menjelaskan, sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO (11/06/2009), di seluruh dunia sampai 4 Agustus 2009 sudah 168 negara yang melaporkan kasus influenza A H1N1 dengan 162.380 kasus positif, 1.154 diantaranya meninggal dunia (CFR = 0.71%). Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tetap sehat yaitu makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Sumber: http://www.depkes.go.id

Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN