SELAMAT DATANG Dr. JEFRI SITORUS, M.Kes semoga sukses memimpin KKP Kelas I Medan------------------------ Kami Mengabdikan diri Bagi Nusa dan Bangsa untuk memutus mata rantai penularan penyakit Antar Negara di Pintu Masuk Negara (Pelabuhan Laut, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat=PLBD) ------

Disease Outbreak News

Friday, March 14, 2008

Awas! Virus Flu Burung Tunjukkan Tanda-tanda Mutasi

11/03/2008 14:16 WIB

Awas! Virus Flu Burung Tunjukkan Tanda-tanda Mutasi

Rita Uli Hutapea - detikcom

Beijing - Waspadalah! Virus mematikan flu burung telah menunjukkan tanda-tanda mutasi. Karenanya, virus H5N1 itu bisa lebih mudah membunuh manusia jika pengobatan tidak diberikan secepatnya.

Demikian diungkapkan Zhong Nanshan, salah satu dokter terkemuka di Cina kepada para wartawan di Beijing seperti dilansir harian The Star, Selasa (11/3/2008).

Ditegaskan pakar penyakit pernafasan itu, kewaspadaan harus ditingkatkan, khususnya ketika kasus avian flu (flu burung) pada manusia muncul di saat musim influenza manusia mencapai puncaknya.

"Ketika avian flu ada dan flu manusia muncul, ini akan meningkatkan peluang avian flu menjadi flu manusia. Kita harus sangat waspada dan berhati-hati pada bulan Maret," kata Zhong seperti dikutip koran lokal Ming Pao.

"Orang-orang yang meninggal akibat flu burung tahun lalu dan tahun ini terlalu miskin untuk mencari pengobatan. Jika Anda kebetulan mengalami demam tinggi dan pneumonia, Anda harus diobati dengan cepat," imbuh Zhong.

Virus H5N1 baru menginfeksi sekitar 368 orang di seluruh dunia sejak tahun 2003. Namun angka kematian terbilang tinggi, yakni telah menewaskan 234 orang di antaranya.

Para pakar mengkhawatirkan timbulnya pandemi yang bisa membunuh jutaan orang jika virus flu burung bermutasi dan mudah menular antarmanusia.

( ita / nrl )

Sumber : http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/14/time/150755/idnews/908508/idkanal/10

I Am Stopping TB

"I Am Stopping TB"
Peringatan Hari TB Se-dunia

14 Mar 2008

Peringatan hari TB se-dunia jatuh pada tanggal 24 Maret setiap tahun. Peringatan ini dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa Tuberculosis masih menjadi epidemi pada banyak wilayah di dunia. Penyakit ini menyebabkan kematian jutaan orang tiap tahun, terutama di negara dunia ketiga.

Tanggal 24 Maret, lebih dari satu abad yang lalu pada tahun 1882, Dr. Robert Koch mengejutkan dunia dengan mengumumkan bahwa dia telah menemukan penyebab Tuberculosis. Tidak dapat dipungkiri lagi penemuan bersejarah tersebut telah membuka jalan menuju diagnosa dan penyembuhan penyakit yang menyebabkan kematian 1 dari 7 orang.

Peringatan hari TB se-dunia pada tahun ini mengangkat tema "I am stopping TB" yang tidak hanya sekedar slogan, namun merupakan awal dari kampanye 2 tahunan dari semua orang dimanapun berada yang sedang berperan menghentikan TB.

Sumber : http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3037

Berita terkait
Crude Death Rate(CDR) TB di Indonesia Tahun 2001-2006
Pemetaan CDR TB di Indonesia Tahun 2006

Thursday, March 13, 2008

REKOMENDASI VAKSIN YELLOW FEVER BAGI PENGUNJUNG NEGARA BRAZIL

untuk selengkapnya silahkan klik link berikut ini :

http://www.kespel.net/images/berita/FIL2008313_12523.pdf

http://www.kespel.net/images/berita/FIL2008313_12618.pdf

Terjadi peningkatan kasus yang gejalanya mirip flu di Hongkong

13-March-2008
HK schools close amid flu fears

Di Hongkong telah terjadi peningkatan kasus yang gejalanya mirip flu, 3 anak usia sekolah telah meninggal dan 200 kasus suspek yang telah dilaporkan. info lengkap dapat dibaca di berita ini All kindergartens and junior schools in Hong Kong have closed early for their Easter holiday, after a flu-like illness killed three children.

Sumber : www.bbc.co.uk

All kindergartens and junior schools in Hong Kong have closed early for their Easter holiday, after a flu-like illness killed three children.

The Education Bureau described the move as a "precautionary measure".

More than 30 students from one school have showed flu-like symptoms and three children have died from apparently similar illnesses in recent weeks.

Experts are investigating a link to either bird flu or Sars, a respiratory disease that hit Hong Kong in 2003.

The kindergartens and junior schools will be closed for two weeks, affecting more than half a million children.

Almost 200 cases of suspected flu have been reported so far.

Hong Kong's health chief, York Chow, said the decision to close the schools was made as the high rate of flu-like infections was expected to continue for weeks.

"We hope such precautionary measures will help reduce the cross-infection of the flu virus in schools and the community," the official Xinhua news agency quoted him as saying.

Expert team

Over the weekend seven-year-old Law Ho-ming was admitted to hospital in a semi-conscious state, suffering from fever and flu.

He died on Tuesday from encephalitis - swelling of the brain.

Five of his fellow students from the Ho Yat Tung Primary School remain in hospital, and more than 30 others are displaying flu-like symptoms.

Concerns have also been raised about two other recent child deaths.

A two-year-old boy died in February and a three-year-old girl died on 1 March from what appeared to be a variant of bird flu.

The school closure is the first caused by illness since 2003, when almost 300 people died from Sars.

Official records show that people in 25 other schools, a hospital ward and a disabled residential home are suffering from outbreaks of flu.

The government has set up an expert team led by a University of Hong Kong microbiologist to identify the illnesses in question and assess the risk.

Experts say there is no reason yet to fear a major flu outbreak, but admit they do not yet know what caused the deaths.

info berita

http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/7291169.stm

info video dari www.cnn.com linknya http://edition.cnn.com/video/#/video/health/2008/03/12/health.minute.kidney.cnn

Tuesday, March 4, 2008

Flu Burung Penuh Misteri

WASPADA Online

Terhitung sejak Kamis, 16 Juni 2005, Indonesia menambah panjang daftar negara Asia yang warganya terjangkit flu burung. Ini makin meyakinkan badan kesehatan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) bahwa virus ini bisa merebak ke manusia dan mengancam jutaan jiwa.

Seiring dengan perjalanan waktu, kasus flu terus menyebar ke daerah-daerah lain termasuk di Sumatera Utara. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa kasus flu burung yang menewaskan tujuh orang dalam satu keluarga di Kabupaten Karo, merupakan cluster terbesar di dunia.

Yang membuat masyarakat bertanya-tanya, sampai saat ini sumber penularan flu burung pada manusia di Kabupaten Karo tidak diketahui. Akibatnya, isu santet sempat merebak menyusul meninggalnya warga Kabupaten Karo tersebut.

Konsultan penyakit tropik dan infeksi dr. Umar Zein, DTM&H, SpPD-KPTI memprediksi penyakit flu burung akan terus berjangkit di beberapa daerah di Indonesia termasuk Sumatera Utara dan Medan. Hal ini disebabkan flu burung tergolong penyakit yang misterius.

Menurut Umar Zein, kasus flu burung yang terjadi di Indonesia erat kaitannya antara kepadatan unggas dengan kepadatan penduduk. Artinya, jika suatu daerah memiliki kepadatan unggas dan kepadatan penduduk yang cukup tinggi maka akan berpeluang terhadap berjangkitnya flu burung. Kondisi ini bisa terjadi karena virus flu burung menular melalui udara.

Selain itu, lanjut Umar Zein, penyakit flu burung tergolong misterius karena sejumlah kasus yang terjadi pada manusia, tidak ditemukan sumber penularannya. Akibatnya, tidak diketahui jenis unggas yang menularkan virus dan lokasi penularan virus flu burung.

Contohnya, kasus flu burung di Kabupaten Karo yang menyebabkan enam orang dalam satu keluarga meninggal. Dalam kasus tersebut, tercatat ada tujuh orang yang dinyatakan positif terjangkit flu burung dan seorang di antaranya berhasil disembuhkan.

"Yang paling mengejutkan yakni enam penderita flu burung tersebut meninggal dunia meski telah diberikan obat tamiflu secara teratur. Sebaliknya, seorang penderita lagi yang menolak diberikan obat tamiflu, ternyata bisa sembuh," ujar Umar Zein dengan nada heran.

Fakta lain yang mendukung bahwa flu burung tergolong penyakit misterius adalah tidak ditemukannya sumber penularan flu burung pada manusia di Kabupaten Karo.

"Lihat saja, kendati ada tujuh warga Kabupaten Karo yang dinyatakan positif terjangkit flu burung, namun tidak ada satu pun unggas di daerah tersebut yang ditemukan terjangkit virus flu burung. Sedangkan di Medan dan beberapa daerah lain ditemukan adanya unggas yang positif terjangkit flu burung, namun tidak ditemukan kasus flu burung pada manusia," tambahnya.

Kondisi yang misterius tersebut memunculkan berbagai dugaan di antaranya, warga Kabupaten Karo tersebut terjangkit flu burung saat mengunjungi daerah lain atau kasus flu burung di Kabupaten Karo bersumber dari unggas liar.

"Soal seorang penderita flu burung yang enggan minum obat tamiflu namun tetap bisa bertahan hidup, kemungkinan daya tahan tubuhnya lebih kuat dibanding enam penderita flu burung lainnya," kata Umar Zein.

Sementara itu, sebanyak 52 kasus suspect flu burung terjadi di Sumatera Utara (Sumut) dari mulai tahun 2005-2008. Dari jumlah tersebut delapan diantaranya positif terinfeksi H5N1 (flu burung) setelah diperiksa di Balitbangkes Jakarta, sementara 44 lainnya negative. Sedangkan korban meninggal akibat flu burung tercatat sebanyak tujuh orang.

Sedangkan Asia Tenggara telah dinyatakan dalam status waspada pandemi flu burung. Hal ini disebabkan sejak akhir Desember 2004 hingga September 2005 WHO mencatat ada 115 kasus flu burung yang menginfeksi manusia. "59 di antaranya meninggal," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. (m26) (ags)

Sumber : http://www.waspada.co.id/Serba-Serbi/Kesehatan/Flu-Burung-Penuh-Misteri.html

Berikut ini adalah tabel tentang Asumsi skenario Pandemi Propinsi Sumatera Utara dengan menggunakan pengalaman Pandemi Spanish Flu 1918 dan Asian Flu tahun 1957 serta  Hongkong Flu tahun 1968.


Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/(H5N1)

Sunday, March 2, 2008

Bapak dan Anak di Solo Diduga Terkena Flu Burung

Minggu, 2 Maret 2008 | 02:01 WIB

Solo, Kompas - S (38) dan anaknya, IFH (9), warga Dusun Kedungampel, Desa Kedungampel, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dinyatakan terduga (suspect) flu burung. Sejak Sabtu (1/3), mereka dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Dr Moewardi, Solo, Jateng.

Ketua Tim Medik Penanganan Flu Burung RSUD Dr Moewardi, dr Reviono SpP, mengungkapkan, S dan IFH merupakan pasien rujukan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten. Dari hasil pemeriksaan, saturasi oksigen mereka masih bagus, 99-100 persen, dan kadar leukosit normal.

Meski demikian, mereka tetap dinyatakan terduga flu burung karena ada riwayat kontak dengan unggas mati mendadak. Hasil rontgen pun menunjukkan adanya pneumonia, meskipun minimal. ”Menurut informasi dari Klaten, hasil tes unggas mati, positif flu burung,” katanya.

Kamis lalu, di Dusun Krajan, Desa Banding, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jateng, juga ditemukan kasus flu burung, menyusul mati mendadaknya sejumlah ayam milik warga. Karena itu, kemarin, sebanyak 542 ayam dan 379 butir telur ayam milik warga Dusun Krajan dimusnahkan secara massal oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang.

Koordinator Tim Pengendali Flu Burung Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang, Rovinus Goa, mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan penyebab penyebaran virus flu burung di Krajan. ”Saat musim hujan, temuan unggas yang terkena virus ini biasanya memang meningkat,” ujarnya.

Wakil Bupati Semarang Siti Ambar Fathonah menyatakan, pemilik ayam yang ayamnya dimusnahkan secara massal itu akan diberi ganti rugi. ”Warga pasti akan mendapat ganti rugi. Tapi membutuhkan waktu karena perlu proses administrasi,” katanya.

Tanggal 23 Februari lalu, di Tegal, Jateng, juga ditemukan kasus serupa. Saat itu, ayam kampung milik warga juga mati mendadak. Setelah dilakukan uji cepat diketahui ayam yang mati itu terjangkit flu burung.

Kontak

Istri S, Sugiyatmi, menuturkan, dua dari tiga ayam peliharaannya mati mendadak sekitar lima hari lalu. Di sekitar tempat tinggal mereka, sejak sepekan lalu, terjadi kematian ayam mendadak. ”Suami saya kemudian batuk pilek dan panas sekitar tiga hari lalu. Sempat ke mantri hari Jumat. Anak saya kemarin ikut panas. Saya kira cuma masuk angin, karena yang batuk pilek lebih dulu sebenarnya saya,” ungkap Sugiyatmi, yang menunggui kedua pasien tersebut di rumah sakit.

Awal Februari, Alif Tri Anggoro Putro (17), pasien flu burung asal Kedungringin, Soko, Miri, Sragen, Jateng, juga dinyatakan positif flu burung. Alif meninggal 10 Februari di RS Dr Moewardi setelah dirawat satu hari. (eki/gal)

Sumber berita : http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.02.02011588&channel=2&mn=154&idx=154

Tim RS Persahabatan Kembali Berhasil Mengobati 2 Pasien Flu Burung Hingga Sembuh

Jakarta, 01 Mar 2008.

Tim dokter RS Persahabatan kembali berhasil merawat dan mengobati hingga sembuh Sania dan anaknya (Dewi Nurmiati) dari penyakit Flu Burung. Kedua pasien ibu dan anak tersebut dirawat selama kurang lebih satu bulan. Kemarin, tanggal 28 Februari 2008, dinyatakan telah sembuh total dan mereka diijinkan pulang setelah hasil pemeriksaan laboratorium 3 hari berturut-turut negatif H5N1. Selama dalam perawatan di ruang isolasi flu burung, kedua pasien dirawat dan dimonitor dengan ketat. Semua biaya pengobatan pasien Flu Burung, ditanggung pemerintah (Depkes).
Ini merupakan keberhasilan kali ke empat dan kelima pasien positif Flu Burung yang dirawat dan diobati sampai sembuh di RS itu, setelah sebelumnya M. Arif warga Tangerang dan Indah warga Menteng Jakarta, juga dinyatakan sembuh.
Kepulangan Sania dan anaknya diantar langsung oleh Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung RS Persahabatan dr. Mukhtar Ikhsan, MARS ke rumahnya Jl. Peta Barat No. 3 Kampung Godang, Kalideres, Jakarta Barat menggunakan mobil dinas RS Persahabatan, kendati pihak keluarga dan rombongan pengajiannya sudah berada di RS itu untuk menjemputnya.
Maksud Tim RS Persahabatan mengantarkan pasien positif Flu Burung yang telah sembuh ke rumahnya adalah untuk memberikan penjelasan sekaligus penyuluhan kepada keluarga dan masyarakat sekitar bahwa virus Fu Burung ini tidak menular dari manusia ke menusia. Sampai saat ini penularannya masih dari unggas ke manusia. Selain itu penyakit Flu Burung dapat dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.
dr. Mukhtar Ikhsan, MARS, menyatakan pencegahan penyakit Flu burung yang paling murah dan efektif adalah menjaga pola hidup sehat seperti sering mencuci tangan dengan sabun/deterjen setelah melakukan aktifitas, memasak makanan yang berasal dari ayam/unggas sampai matang. Hal ini penting karena virus flu burung akan mati dengan air sabun/deterjen dan/atau dipanasi sampai mendidih (dengan suhu 100° C). Selain itu masyarakat diminta tidak memelihara unggas/ayam di pemukiman. Masyarakat juga dminta menjaga daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi dan menjaga kebersihan rumah.
Sementara di rumah Sania, telah berkumpul sanak saudara, tetangga dengan perasaan suka cita. Bahkan pada malam harinya diadakan acara syukuran. Juga hadir di rumah Sania, staf Dinas Kesehatan Jakarta Barat, dokter Puskesmas dan Lurah Kalideres.
Kepada staf Pusat Komunikasi Publik Depkes, Lurah Kalideres, Dadang Sugiarto, SE, menyatakan bahwa pihak Kelurahan Kalideres telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar unggas tidak boleh ada di pemukiman. Unggas yang masih ada diminta untuk dijual. Selain itu setiap hari Jumat dilakukan sweeping unggas di pemukiman penduduk di wilayah kerjanya.
Rumah Sania merupakan pemukiman yang sangat padat penduduk dengan kondisi lingkungan yang buruk, cahaya matahari kurang, serta sirkulasi udara yang buruk. Di samping padat, di perumahan itu juga banyak warga yang memelihara ayam terlihat dari banyaknya kandang ayam yang kosong karena telah dimusnahkan. Begitu juga rumah orangtua Sania di Kampung Cagak, Tangerang, bertetangga dengan pengepul entog dan banyak kandang ayam yang sudah dimusnahkan. Sebelum sakit, Sania (ibu rumah tangga, 38 th) diketahui berkunjung ke rumah orangtuanya di Kampung Cagak, Semanan, Tangerang. Ia mulai sakit tanggal 24 Januari dengan gejala batuk, demam, pilek dan sakit tenggorokan. Keluhan yang juga dirasakan adalah nyeri saat menelan dan nyeri sendi. Sania tanggal 26 Januari berobat ke RS HM Husni Thamrin Tangerang dan tanggal 29 Januari dirujuk ke RS Usada Insani. Tanggal 1 Februari dirujuk ke RS Persahabatan, Jakarta karena sakitnya makin berat. Kemudian langsung dirawat di ruang isolasi flu burung dengan pemberian oksigen sungkup. Kondisi semakin memburuk dan pada tanggal 2 Februari jam 06.00 WIB diputuskan dipasang ventilator (alat bantu pernapasan). Hasil pemeriksaan PCR H5N1 positif. Tanggal 7 Februari jam 13.45 WIB keadaannya membaik dan ventilator dilepas, diganti dengan oksigen sungkup. Tanggal 15 Februari kondisinya semakin membaik dengan hasil PCR H5N1 negatif selama 3 hari berturut-turut dan kemudian pasien dipindah ke ruang rawat biasa. Tanggal 28 Februari 2008, pasien diantarkan pulang.
Sedangkan anaknya (Dewi Nurmiati, 14th) mulai mengeluh sakit dan batuk tanggal 2 Februari 2008. Pada tanggal 8 Februari jam 12.00 WIB tiba di RS Persahabatan. Pada pemeriksaan fisis saat masuk rumah sakit, Dewi berada dalam keadaan sakit berat. Pasien langsung dirawat di ruang isolasi flu burung dengan pemberian oksigen sungkup, kondisi semakin memburuk pada tanggal 10 Februari jam 10.30 WIB diputuskan untuk dipasang ventilator. Hasil PCR H5N1 positif. Tanggal 18 Februari jam 14.30 WIB keadaanya membaik dan ventilator dilepas, diganti dengan oksigen sungkup. Hasil PCR H5N1 negatif selama 3 hari berturut-turut, dan kemudian pasien dipindah ke ruang rawat biasa. Tanggal 28 Februari 2008, pasien diantar pulang.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-522 3002, 5296 0661 atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Sumber : http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3004

Monday, February 18, 2008

Lagi-lagi Tertular Flu Burung


Jauhkan Anak-Anak Dari Sumber Penularan Flu Burung
18 Feb 2008
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2997

Jauhkan anak-anak dari sumber penularan Flu Burung. Sampai saat ini sumber penularan virus H5N1 masih dari unggas ke manusia. Kali ini, Han (L, 3 th), Balita warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan yang terjangkit. Dari hasil penyelidikan Tim Gerak Cepat Depkes diketahui bahwa di sekitar tempat tinggalnya terdapat 5 – 6 tempat pengepul dan pemotongan ayam yang sumbernya berasal dari berbagai daerah seperti Bekasi, Tangerang, Ciamis, Karawang, dan Tasik.


Han (L, 3 tahun) mulai sakit tanggal 5 Februari 2008 dengan gejala demam, batuk, dan sesak napas. Tanggal 6 Februari Han dibawa orang tuanya berobat ke RS Fatmawati. Empat hari kemudian ia dibawa ke RS Muhammadiyah. Karena panas tidak turun-turun, batuk dan sesak, maka kemudian dirujuk ke RS Husada Insani tanggal 15 Februari. Setelah dirawat selama 2 jam di ruang ICU RS Husada Insani, Han dirujuk ke RS Persahabatan namun jiwanya tidak tertolong.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel usap tenggorok dan darah Han, Badan Litbangkes dan Lembaga Eijkman Jakarta, kemarin (17/03/08) dinyatakan positif terinfeksi Flu Burung. Tim investigasi dari Departemen Peternakan dan Departemen Kesehatan telah melakukan investigasi ke lapangan.

APP Positif Flu Burung Setelah Kontak Unggas Mati
15 Feb 2008
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2995

APP dinyatakan positif flu burung berdasarkan pemeriksaan laboratorium Badan Litbangkes dan Lembaga Eijkman Jakarta. APP (L, 16 tahun) warga Kedung Ringin, Sragen, Jawa Tengah mulai sakit tanggal 3 Februari 2008 dengan gejala demam, sesak napas, batuk dan berobat ke Bidan Desa Soka. Tanggal 7 Februari berobat ke RS Brayat Minulyo Solo, kemudian dirujuk ke RS dr. Moewardi Solo tanggal 9 Februari. APP meninggal tanggal 10 Februari 2008.


Sebelum sakit, 5 ekor ayam APP dan tetangganya mati dan APP sempat menyembelih sisa ayam yang sakit.

Sumber penularan Flu Burung masih berasal dari unggas. Oleh karenanya, masyarakat sebaiknya tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak. Masyarakat harus membiasakan hidup bersih dan sehat agar terhindar dari virus Flu Burung.

Friday, February 15, 2008

Flu Burung Terus Berjangkit

Kamis, 14 Pebruari 2008 23:49 WIB

Flu Burung Terus Berjangkit


Medan, WASPADA Online

Penyakit flu burung diperkirakan akan terus berjangkit di beberapa daerah di Indonesia. Termasuk Sumatera Utara dan Medan. Hal ini disebabkan flu burung tergolong penyakit yang misterius.

Demikian pendapat konsultan penyakit tropik dan infeksi yang juga Kadis Kesehatan Kota Medan dr. Umar Zein, DTM&H, SpPD-KPTI, Rabu (13/2) malam, menanggapi munculnya kasus suspect flu burung pada manusia di Tebing Tinggi.

Menurut Umar Zein, kasus flu burung yang terjadi di Indonesia erat kaitannya antara kepadatan unggas dengan kepadatan penduduk.

Artinya, jika suatu daerah memiliki kepadatan unggas dan kepadatan penduduk yang cukup tinggi maka akan berpeluang terhadap berjangkitnya flu burung. Kondisi ini bisa terjadi karena virus flu burung menular melalui udara.

Selain itu, lanjutnya, penyakit flu burung tergolong misterius karena sejumlah kasus terjadi pada manusia, tidak ditemukan sumber penularannya. Akibatnya, tidak diketahui jenis unggas yang menularkan virus dan lokasi penularan virus flu burung.

Contohnya, kasus flu burung di Kabupaten Karo menyebabkan enam orang dalam satu keluarga meninggal. Dalam kasus tersebut, tercatat ada tujuh orang yang dinyatakan positif terjangkit flu burung dan seorang di antaranya berhasil disembuhkan.

"Yang paling mengejutkan yakni enam penderita flu burung tersebut meninggal dunia meski
telah diberikan obat tamiflu secara teratur. Sebaliknya, seorang penderita lagi yang menolak diberikan obat tamiflu, ternyata bisa sembuh," ujarnya.

Fakta lain yang mendukung flu burung tergolong penyakit misterius tidak ditemukannya sumber penularan flu burung pada manusia di Kabupaten Karo.

"Lihat saja, kendati ada tujuh warga Kabupaten Karo yang dinyatakan positif terjangkit flu burung, namun tidak ada satu pun unggas di daerah ditemukan terjangkit virus flu burung," ujarnya.

Sedangkan di Medan dan beberapa daerah lain ditemukan adanya unggas yang positif terjangkit flu burung, namun tidak ditemukan kasus flu burung pada manusia.

Kondisi misterius ini memunculkan berbagai dugaan diantaranya warga Kabupaten Karo terjangkit flu burung saat mengunjungi daerah lain atau kasus flu burung di Kabupaten Karo bersumber dari unggas liar.

Soal seorang penderita flu burung yang enggan minum obat tamiflu namun tetap bisa bertahan hidup, kemungkinan daya tahan tubuhnya lebih kuat dibanding enam penderita flu burung lainnya, kata Umar Zein. (m26) (ags)

Sumber : http://www.waspada.co.id/Berita/Medan/Flu-Burung-Terus-Berjangkit.html

Thursday, February 14, 2008

DN Positif Flu Burung

Depkes OL, 13 Feb 2008

DN dinyatalakan positif flu burung berdasarkan pemeriksaan laboratorium Badan Litbangkes dan Lembaga Eijkman Jakarta. DN (P, 14 tahun) warga Jln. Peta Barat Kp. Gondang Kec. Kalideres, Jakarta Barat mulai mengeluh sakit dan batuk tanggal 2 Februari 2008. Tanggal 8 Februari dibawa ke RS Cengkareng, kemudian dirujuk ke RS Persahabatan dan sampai saat ini masih dirawat.


Faktor resiko sebelum sakit DN pergi ke rumah neneknya pengepul unggas di Semanan dan ada entok mati.

Sumber penularan Flu Burung masih berasal dari unggas. Oleh karenanya, masyarakat sebaiknya tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak. Masyarakat harus membiasakan hidup bersih dan sehat agar terhindar dari virus Flu Burung.

Langkah-langkah antisipasi menghindari terjangkit virus Flu Burung dapat dilakukan dengan tidak menyentuh ayam, bebek, dan unggas lain yang sakit atau mati. Biasakan mencuci pakai sabun tangan dan peralatan masak, pisahkan unggas dari manusia. Bila ada gejala flu dan demam setelah berdekatan dengan unggas, segera periksakan ke Puskesmas.

Gunakan sarung tangan, penutup mulut dan hidung saat memegang unggas, jangan memakan unggas yang sakit atau mati, sembelih, bakar, kubur unggas yang sakit atau mati, dan jangan biarkan anak-anak bermain dengan unggas. Jika demam tampak atau dirasa setelah berhubungan dengan unggas segera periksa ke dokter atau RS.

Dengan demikian sampai dengan tanggal 11 Februari 2008, jumlah kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 127 kasus, 103 diantaranya meninggal. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) kasus Flu Burung mencapai 81,10%.

Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 12 Februari 2008.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2993



Tuesday, February 12, 2008

RSUP Adam Malik Medan Rawat Bocah Suspect Flu Burung

12/02/2008 16:28 WIB
RSUP Adam Malik Medan Rawat Bocah Suspect Flu Burung
Khairul Ikhwan - detikcom


Medan - Kasus flu burung terjadi lagi di Sumatera Utara (Sumut). Seorang anak berusia 10 tahun terpaksa dirawat di Rumah Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Medan karena diduga suspect flu burung.

Khairul, 10 tahun, penduduk Jl. Abdul Hamid, Desa Sungai Sigiling, Kec. Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, saat ini dirawat intensif di ruang khusus suspect flu burung RS. Adam Malik Medan, Jl. Bungalaw, Medan.

Humas RS. Adam Malik Medan Sinar Ginting mengatakan, sejak di bawa ke RS Adam Malik, Senin (11/2/2008) pagi, kondisi putra pasangan Enden dan Ani ini mulai membaik.

"Secara umum kesehatan pasien semakin membaik. Kita telah memeriksa sampel darah, semuanya normal," kata Ginting, Selasa (12/2/2008).

Namun menurut Ginting, untuk memastikan darah Khairul, pihaknya RS Adam Malik telah mengirim sampel darah ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Puslitbangkes) Departemen Kesehatan di Jakarta.

"Kita masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan hasil sampel darah pasien. Bila hasil laboratorium menunjukkan sampel darah baik, pasien akan diperbolehkan pulang," kata Ginting.

Sementara ibu Khairul, Ani mengatakan, anaknya mengalami demam tinggi setelah kontak dengan empat ekor ayam mereka yang mati secara tiba-tiba pada Sabtu lalu (9/2/2008).

"Saya sempat memberinya obat demam beli dari kios. Tapi demamnya tetap tinggi," kata Ani.

Karena menduga demam biasa, Ani membolehkan Khairul pergi ke sekolah pada Senin kamarin. Namun menjelang siang, Khairul pulang diantar oleh gurunya karena demam tinggi. Kemudian Ani melapor ke Kepala Desa
setempat dan Luruh. Pihak Dinas Kesehatan Kecamatan Padang Hilir kemudian datang dan memeriksa sample ayam dan menyatakan ayam tersebut positif terjangkit flu burung.
( rul / djo )

Sumber : http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/12/time/160232/idnews/892751/idkanal/10


Friday, February 8, 2008

Yellow fever in Brazil

WHO OL, 5 February 2008

As of 1 February, the Ministry of Health, Brazil has reported a total of 48 cases of yellow fever including 13 deaths. Twenty three of these cases have been laboratory confirmed. The laboratory confirmed cases were reported from the three states of Goias, Distrito Federal and Mato Grosso do Sol. The first confirmed case was on 17 Dec 2007. Twenty one confirmed cases had never been vaccinated for yellow fever and the other 2 were last vaccinated over 20 years ago.
This outbreak of yellow fever follows an epizootic outbreak in monkeys that started in April 2007 and has since spread to 80 municipalities. An increase in the number of epizootic events was observed between December 2007 and January 2008, reaching more than 23 new municipalities in that period.
Brazil has suspended exports of yellow fever vaccine from Bio-Manguinhos, one of three WHO pre-qualified manufacturers of yellow fever vaccine, based in Brazil, in order to meet the needs of the country to respond to this outbreak.
On 18 January, the Brazilian Ministry of Health submitted a request to borrow an additional 4 million doses of vaccine from the global emergency stockpile managed by the International Coordinating Group on Vaccine Provision for Yellow Fever Control (YF-ICG), in order to complete the required levels of yellow fever vaccines stocks held nationally to enable an emergency vaccination campaign.
The campaign which targets approx 7 million people, in the most affected states will be carried out in early February. Due to the coordinated efforts between the ICG and United Nations Children's Fund (UNICEF) Supply Division, the 4 millions doses arrived in Brazil in early February.
The yellow fever emergency stockpile is financed by the GAVI Alliance and managed by the YF-ICG. The YF-ICG is composed of representatives from UNICEF, Médecins sans Frontières (MSF), the International Federation of Red Cross (IFRC), and the World Health Organization, who acts as its secretariat.

http://www.who.int/csr/don/2008_02_07/en/index.html


TURUT BERDUKA CITA

KELUARGA BESAR KANTOR KESEHATAN PELABUHAN Kelas II Medan TURUT BERDUKA CITA ATAS BERPULANGNYA OMPUNG TOTA ASI DOLI
Orang tua dari Dr. Tunggul Sihombing, MHA
(Kabag PI Ditjen PP & PL Depkes RI)

Thursday, January 31, 2008

Kasus Flu Burung di Indonesia Sampai Dengan 3 Februari 2008


Masyarakat Perlu Waspada Flu Burung.

Depkes OL, 04 Feb 2008
Sumber penularan Flu Burung masih berasal dari unggas. Oleh karenanya, masyarakat sebaiknya tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak. Masyarakat harus membiasakan hidup bersih dan sehat agar terhindar dari virus Flu Burung.
Langkah-langkah antisipasi menghindari terjangkit virus Flu Burung dapat dilakukan dengan tidak menyentuh ayam, bebek, dan unggas lain yang sakit atau mati. Biasakan mencuci pakai sabun tangan dan peralatan masak, pisahkan unggas dari manusia. Bila ada gejala flu dan demam setelah berdekatan dengan unggas, segera periksakan ke Puskesmas. Gunakan sarung tangan, penutup mulut dan hidung saat memegang unggas, jangan memakan unggas yang sakit atau mati, sembelih, bakar, kubur unggas yang sakit atau mati, dan jangan biarkan anak-anak bermain dengan unggas. Jika demam tampak atau dirasa setelah berhubungan dengan unggas segera periksa ke dokter atau RS.
Dua kasus terakhir adalah Su dari Kota Tangerang, Propinsi Banten dan Sa dari Jakarta Barat, Propinsi DKI Jakarta. Keduanya dinyatakan positif terinfeksi H5N1 berdasarkan pemeriksaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.
Su (P, 29 th) ibu rumah tangga warga Kel. Gondrong, Kec. Cipondoh, Kota Tangerang mulai sakit tanggal 22 Januari dengan gejala batuk, demam dan sesak napas. Tanggal 28 Januari 2008 masuk RS Usada Insani dan sehari kemudian (29/1) dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta Timur. Pasien meninggal dunia tanggal 2 Februari 2008 pukul 19.30 WIB. Tetangga di sekitar tempat tinggal Su ditemukan memelihara ayam namun belum diketahui apakah ayam tersebut terinfeksi H5N1.
Kasus berikutnya, Sa (P, 38 th), asal Kampung Gondang, Kel. Kali Deres, Jakarta Barat, mulai sakit tanggal 24 Januari 2008 dengan gejala batuk, demam, pilek dan sakit tenggorokan. Tanggl 26 Januari, masuk RS MH. Thamrin Tangerang dan tanggal 29 Januari mulai dirawat di RS Usada Insani. Tanggal 1 Februari 2008 Sa dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta dan masih dirawat dengan menggunakan ventilator. Satu 1 minggu sebelumnya, ia berkunjung ke rumah orang tuanya di Kampung Cagak yang bertetangga dengan pengumpul entog. Sampai dengan tanggal 3 Februari 2008, jumlah kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 126 kasus, 103 diantaranya meninggal. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) kasus Flu Burung mencapai 81,7%.

Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 4 Februari 2008. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.


Data Kasus Flu Burung pada Manusia di Indonesia 30 Januari 2008


NAS, Pasien Flu Burung di Banten Meninggal Dunia

Depkes OL, 31 Jan 2008
Nas (L, 32 th), warga Perumahan Medistrania, Desa Sukamulya, Kec. Cikupa, Kab. Tangerang, Banten, korban positif Flu Burung, meninggal dunia, Selasa, 29 Januari 2008. Nas dinyatakan positif terinfeksi virus H5N1 berdasarkan pemeriksaan Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta, tanggal 28 Januari 2008. Dengan meninggalnya Nas, jumlah korban meninggal akibat Flu Burung mencapai 101 orang dari 124 kasus. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 81,4%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 30 Januari 2008.
Nas (L, 32 th) yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang pecel ayam, mulai sakit tanggal 17 Januari 2008 dengan gejala sakit kepala, nyeri perut, sesak napas dan demam. Tanggal 24 Januari, Nas masuk RS Bakti Asih Tangerang, lalu dua hari kemudian (26/01) dirujuk ke RS Persahabatan. Salah satu tetangga yang tinggal sejauh 500 meter dari rumah Nas memelihara 12 ekor burung dara.
Banten merupakan propinsi ketiga terbanyak dalam kasus Flu Burung, setelah Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Wednesday, January 30, 2008

Flu Burung Hingga Akhir Januari 2008, 124 Kasus Positif dengan 100 kematian


Memasuki pekan terakhir bulan Januari 2008, korban positif Flu Burung bertambah 4 kasus, berdasarkan pemeriksaan RT – PCR (Real Time Polimerase Chain Reaction) Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Keempat korban tersebut adalah Nas dari Kab. Tangerang Propinsi Banten, MIY dari Depok Propinsi Jawa Barat, serta Res dan Vir dari Jakarta Timur, Propinsi DKI Jakarta.
Sejak ditemukan kasus pertama pada pertengahan bulan Juli 2005, jumlah kasus Flu Burung di Indonesia hingga tanggal 28 Januari 2008 mencapai 124 orang, 100 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 80.6%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 28 Januari 2008.
Nas (L, 32 th), pedagang pecel ayam warga Perumahan Medistrania, Desa Sukamulya, Kec. Cikupa, Kab. Tangerang, Banten mulai sakit tanggal 17 Januari 2008 dengan gejala sakit kepala, nyeri perut, sesak napas dan demam. Tanggal 24 Januari, Nas masuk RS Bakti Asih Tangerang, lalu dua hari kemudian (26/01) dirujuk ke RS Persahabatan. Kini Nas masih dirawat di ruang ICU. Salah satu tetangga yang tinggal sejauh 500 meter dari rumah Nas memlihara 12 ekor burung dara.
MIY (L, 9,5 th), pelajar warga Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat mulai sakit tanggal 16 Januari 2008 dengan gejala sakit berat, sesak nafas berat, dan panas sampai 37,80C. Setelah berobat ke RS Sentra Medika Cimanggis, tanggal 23 Januari 2008 dirujuk ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPISS) tanggal 27 Januari 2008. Hingga saat ini faktor penyebab penularan masih dalam penyelidikan.
Res (P, 31 th), warga Duren Sawit, Jakarta Timur, mulai demam tanggal 18 Januari 2008. Masuk RS Harum tanggal 22 Januari 2008 dengan keluhan batuk. Empat hari kemudian (26/1/2008) ia dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta Timur dengan keluhan panas, batuk serta sakit kepala. Hingga kini RF masih dirawat dengan menggunakan ventilator. Berdasarkan penyelidikan ditemukan beberapa hal yang mungkin merupakan sumber penularan (faktor risiko), yaitu adanya tempat pemeliharaan ayam 100 meter dari rumahnya dan tempat penyembelihan ayam 500 meter dari rumahnya. Selain itu, pada tanggal 15 Januari 2008, RF pernah pergi ke pasar unggas.
Vir (P, 23 th), warga Pulogebang Jakarta Timur mulai sakit tanggal 19 Januari 2008 dengan keluhan demam dan sesak nafas. Tanggal 24 Januari ia dirawat di RS Ananda Bekasi dan dirujuk ke RSPI-SS dua hari kemudian (26/01), meninggal tanggal 27 Januari 2008. Hingga saat ini kemungkinan sumber penularan Vir masih dalam penyelidikan.Sumber penularan Flu Burung masih berasal dari unggas. Oleh karenanya, masyarakat sebaiknya tetap waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tuesday, January 22, 2008

Kasus Flu Burung Positif ke-120


GR, Pasien Flu Burung Asal Banten Meninggal Dunia

Depkes Online, 25 Jan 2008
GR (L, 30 TH), warga Tangerang, Propinsi Banten yang dinyatakan positif terinfeksi virus Flu Burung (H5N1), berdasarkan pemeriksaan RT-PCR (Real Time Polymerase Chain Reaction) Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta (22/01/08), akhirnya meninggal dunia tanggal 24 Januari 2008 pukul 06.30 WIB di RS Persahabatan Jakarta. Dengan demikian, secara kumulatif total kasus positif Flu Burung di Indonesia mencapai 120 orang, 98 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) 81,6%.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 24 Januari 2008.
Dengan bertambahnya kasus Flu Burung pada manusia, Pemerintah Daerah perlu lebih tanggap terhadap unggas-unggas yang sakit dan mati mendadak dan segera melakukan tindak lanjut pengendalian dan pencegahan penularan. Penelitian atau investigasi harus juga disosialisasikan untuk mendapat kerja sama masyarakat.



Kasus Flu Burung Positif ke-119

S (L, 8 th), warga Jl. Petir Utama I/64 Rt.003/05 Kel. Petir, Cipondoh, Tangerang, Propinsi Banten, dinyatakan positif terinfeksi virus Flu Burung, H5N1, berdasarkan pemeriksaan RT – PCR (Real Time Polimerase Chain Reaction) Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, tanggal 18 Januari 2008. Dengan demikian, total jumlah kasus positif Flu Burung di Indonesia mencapai 119 orang, 97 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) 81.5 %.
Demikian laporan yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Posko Flu Burung, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, 18 Januari 2008.
S (L, 8 th) warga Tangerang, Provinsi Banten, mulai sakit tanggal 7 Januari 2008 dengan gejala panas, batuk, sesak nafas, dan sakit tenggorokan. Masuk Rumah Sakit Umum Cengkareng tanggal 16 Januari 2008 dan tanggal 17 Januari 2008 dirujuk ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso Jakarta. S (L, 8 th) meninggal dunia di RSPI Sulianti Saroso tanggal 18 Januari 2008 pukul 04.00 WIB. Mengenai faktor risiko, tetangganya memiliki tempat usaha pemotongan ayam.

Tuesday, January 15, 2008

LAPORAN PENGAMANAN KESEHATAN HAJI MES 2007

Ibadah haji merupakan Rukun Islam yang ke 5 (lima), dengan demikian merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah yang mampu (istitho’ah). Ibadah haji mempunyai kekhususan dibandingkan dengan ibadah lainnya, karena haji hanya dapat dilakukan pada waktu dan tempat tertentu yaitu ditanah suci Makkah, Madinah, Arafah, Mina ( Arab Saudi ).
KKP Kelas II Medan dalam melaksanakan salah satu TUPOKSI nya, setiap penyelenggaraan haji selalu berperan aktif untuk mengamankan kesehatan para jamaah yang akan diberangkatkan. untuk lebih jelasnya, silahkan klik :

pengamanan-kesehatan-haji-2007.pdf

Kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 116 orang




Hingga Berakhirnya tahun 2007, Secara kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 116 orang, 94 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematiannya (Case Fatality Rate = CFR) 81%.Demikian data terbaru yang diperoleh Pusat Komunikasi Publik dari Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI, 25 Desember 2007.


http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2953


Travel Notices - CDC Travelers' Health

MANTAN-MANTAN KEPALA KKP MEDAN